Mengangkat Kembali Akar Budaya Empat Lawang


PENDOPO LINTANG(KORAN_ONLINE) : Berawal dari rasa risau melihat keadaan seni dan budaya daerah Lintang Empat Lawang yang mulai digerus zaman, dilalap postmodernisme, serta ditinggalkan generasi muda, tiga Putera Lintang: Abdul Madjid Abdullah (Lampung), Ismail Majid (Jakarta), dan Bestari Suud (Pendopo Lintang), membentuk Tim penyelamat kebudayaan Lintang Empat Lawang.
Meskipun ketiganya berdomisili di tempat yang berjauhan, namun kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi tetap bisa menyatukan mereka. Mereka berkomunikasi via internet dan sms, lalu terbentuklah tim itu.
Tim yang mereka beri nama Tim Penggali Seni, Budaya, dan Tradisi Kabupaten Empat Lawang itu, bertujuan mengangkat kembali akar budaya setempat agar menjadi tuan rumah di daerah sendiri.
Mereka akan bekerja secara marathon selama 12 bulan untuk mendata ragam kesenian dan tradisi lokal. Mendata orang-orang yang masih menguasai beragam kesenian dan tradisi tersebut. Misalnya, pemain gitar tunggal, orang yang menguasai geguritan, pantun bersahut, tari-tarian, seni beladiri tradisional alias kuntau.
Setelah semua terdata, Tim itu akan mengumpulkan para seniman dan pendekar mereka sesuai keahlian masing-masing, lalu menghimpun mereka untuk membentuk suatu wadah di tiap kecamatan. Misalnya pusat-pusat latihan kuntau, pusat latihan tari-tarian, dan pusat latihan gitar tunggal.
Setelah semuanya terbentuk, Tim akan membubarkan diri. Namun, sebelumnya mereka akan mendirikan satu yayasan yang mewadahi, mengurus dan memfasilitasi pusat-pusat latihan tersebut. Yayasan ini pula yang akan mencari dana untuk membiayai operasional pusat-pusat latihan seni dan beladiri tersebut.
“Tim Penggali Seni, Buda, dan Tradisi Kab. Empat Lawang ini boleh dikata sebagai bidan untuk kelahiran sanggar-sanggar seni dan perguruan beladiri tradisional Empat Lawang,” kata Ketua Tim Abdul Madjid Abdullah.
Tim ini sengaja dibentuk dengan struktur yang ramping agar lincah bergerak dan mengambil keputusan. “Tidak perlu banyak orang yang terlibat. Walaupun sedikit orang tapi banyak menghasilkan karsa, karya, dan kerja,” ungkap pengelola blog berita KORAN_ONLINE itu.
Bulan Oktober
Tim yang diketuai Abdul Madjid Abdullah, seorang wartawan yang berdomisili di Lampung ini, direncanakan akan memulai kegiatannya bulan Oktober 2007 mendatang. “Berjalan tidaknya Tim ini tergantung dana, yang diharapkan datang dari bantuan para donator dan Pemkab. Empat Lawang,” kata Abdul Madjid.
Ismail Majid, yang duduk sebagai sekretaris dalam Tim itu, merupakan salah seorang generasi muda Lintang Empat Lawang, yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian budaya setempat.
Ia memiliki pengetahuan tentang beragam seni dan budaya Lintang yang sudah lama ditinggalkan. Misalnya, ia bisa menuturkan secara detil tentang geguritan, bajidur, tradisi perkawinan adapt Lintang dll.
Sedangkan Bestari Suud, yang duduk sebagai Bendahara Tim Penggali Seni, Budaya, dan Tradisi Lintang Empat Lawang, juga memiliki kepedulian yang sama tentang kelestarian budaya Lintang Empat Lawang. Sebagai orang yang menetap di “Dusun”, ia sangat merasakan kegelisahan budaya tersebut. Ia menjadi saksi hidup melunturnya budaya lokal Lintang Empat Lawang lantaran merasuknya budaya Barat yang tidak mendidik.
“Anak-anak muda di Dusun lebih suka minum-minuman keras ketimbang bekerja. Mereka menggemari musik Barat yang bahasanya tidak dimengerti ketimbang mengembangkan memainkan Gitar Tunggal dan Berejung,” kata Bestari Suud.
Mengharap Dukungan
Dukungan dari semua pihak sangat diharapkan untuk kelancaran kerja Tim ini. Dukungan yang diharapkan adalah support, masukan-masukan ide, dan yang paling penting adalah dana.
“Tanpa dukungan dana, terus terang Tim ini tidak akan bisa berjalan. Oleh karena itu, para tokoh masyarakat Lintang Empat Lawang di perantauan dan Pemkab. Empat Lawang bersedia membantu dana,” kata Abdul Madjid, yang dibenarkan oleh Ismail Majid.

PT BMM Mulai Petik Hasil

SEMASA karyawan hidup sejahtera, pensiun tetap nyaman (setelah meninggal masuk surga). Barangkali sah-sah saja kita bermimpi seperti itu, karena bukan sesuatu hal yang mustahil. Paling tidak itulah hakikat pendirian Koperasi Gunung Madu, Dana Pensiun, dan PT Bumi Madu Mandiri.Kalau kita tengok ke belakang, KGM merupakan lembaga tertua yang ada di Gunung Madu. KGM merupakan hasil amal¬gamasi Koperasi Pertanian dan Kop¬kar Gunung Madu, yang tentu lebih awal berdiri. Pendirian lembaga ini muncul dari bawah, karena karyawan me¬rasa perlu untuk menghadapi berba¬gai kendala, yang intinya mening¬katkan kesejahteraan (bukan semata-mata dapat untung/SHU).Manfaat dari adanya KGM rasa-nya tidak perlu dijelaskan lagi. Mi-salnya kar¬yawan bisa memiliki saham kebun yang setiap tahun mengha-silkan. Kar¬yawan bisa punya rumah dan ta¬nah kavling dengan cara yang relatif ringan. Karyawan bisa berbe-lanja dengan harga yang kompetitif, dan lain-lain, termasuk SHU setiap tahun¬nya.Setelah itu lahir lagi lembaga Da¬na Pensiun, yang bertujuan memper¬siapkan finansial bagi karyawan ke¬tika memasuki masa pensiun. Me¬mang sempat terjadi perubahan sis¬tem, sehingga tahun 1997 dananya dibagikan, kemudian dimulai lagi ta¬hun 1998 dengan jenis iuran pasti.Karena Dana Pensiun fleksibili¬tas¬nya sangat ketat, dan ada pe¬luang, didirikanlah PT Bumi Madu Man¬diri tahun 2005. Dengan membeli sa¬ham, pada saatnya nanti karyawan bi¬sa memperoleh deviden. Saham ini bi¬sa dimiliki hingga karyawan pen¬siun nanti. Hak-haknya pun masih te¬tap sama, seperti karyawan biasa. Sejumlah lahan pun dibeli, lalu di¬garap. Ada yang ditanami sawit, ada pula yang ditanami tebu (termasuk menggarap lahan pihak lain dan mengelola kemitraan mandiri). Sete¬lah bersusah payah selama beberapa tahun dan mendapat hambatan dari sa¬na-sini, sekarang PT BMM boleh ber¬lega hati. Sawit yang ditanam di areal 150 hektare di Desa Lebuhda-lem, Tu¬langbawang, dipanen Agus-tus ini. Otomatis, selanjutnya tiap bulan kita panen sawit. Tahun depan, lahan yang 150 hektar sisanya pun panen juga. “Artinya, pada 2008 PT BMM akan memetik hasil sawit dari lahan seluas 300 hektare,” kata Manager PT BMM Ir. H. Afif Manaf. Kemudian tanaman tebunya se¬luas 200 ha yang tersebar di beberapa areal juga sudah dipanen tahun ini juga. Areal tebu yang sudah mem¬buah¬kan hasil itu berada di Kotanapal seluas 88 ha, Kotanegara 120 ha, dan di Gunungbatin Baru 54 hektare.Kabar gembira lainnya dari per¬usahaan yang saham mayoritasnya dikuasai karyawan PT Gunung Madu Plantations ini, sekarang tengah me¬mulai pengolahan lahan di areal 4.650 ha yang berada di Way Kanan. Lahan ini sekarang sudah ditanami seluas 200 ha. Insya Allah tahun depan bisa dipanen juga.Memang, sebagian besar lahan di areal 4650 (sebutan karyawan PT BMM untuk areal di Pakuanratu, Way Kanan, red), saat ini masih ada yang digarap warga setempat untuk menanam singkong. “Begitu mereka selesai panen singkong, lahannya lang¬sung kita bersihkan dan digarap un¬tuk menanam tebu,” kata Pak Afif.Itu adalah cara ampuh untuk men¬¬ce¬gah warga kembali menggarap lahan tersebut. Jika tidak segera di¬ambil oleh PT BMM saat usai panen, ada kemungkinan warga akan kem¬bali menanaminya dengan singkong.Terus BerjuangBicara PT BMM sekarang tidak ter¬lepas dari perjuangan para penge¬lo¬la¬nya. Berdirinya perusahaan ini bermula dari Ir.H. Gunamarwan, yang mencemaskan kehidupan para pen¬siunan PT Gunung Madu Plantations. “Saya cemas setelah melihat be¬berapa pendahulu kami yang hi¬dup¬nya memprihatinkan setelah pen¬siun,” kata Pak Guna.Pada mulanya BMM diproyeksi¬kan untuk mengembangkan perke¬bun¬an sawit. “Dulu kita berencana mengakuisisi lahan eks ADP yang HGU-nya 3.100 ha dan non-HGU 400 ha (sertifikat hak milik), yang lokasi¬nya di belakang Polres Tulangba¬wang membentang dari Desa Lebuh Dalem sampai Desa Gunung Agung,” ujar Pak Afif.Karena proses lelang lahan terse¬but sampai saat ini belum terlaksana, maka PT BMM baru bisa membeli lahan yang bukan HGU. Pada awal ta¬hun 2005 mulai ditanami sawit seluas 150 hektar.Tanam perdana itulah yang Agus¬tus ini akan dipanen. Selanjut¬nya terus tiap bulan PT BMM meme¬tik buah sawit. Tanaman sawit yang saat ini sudah mulai berbuah pasir dan tahun depan sudah bisa dipa¬nen seluas kurang lebih 320 hektar.Perluasan lahan pun terus berja¬lan. Perusahaan ini sudah membeli lagi lahan seluas 110 ha di Desa Bo¬jongdewa, 260 ha di Cempakajaya, Unit 8. Lahan yang paling luas terda¬pat di Kecamatan Blambangan Um¬pu, Kabupaten Way Kanan, yakni seluas 1.700 ha. Lahan PT BMM di Blam¬bangan Umpu sudah berhasil di¬tanami sawit seluas 650 ha. Sampai saat ini, PT BMM sudah me¬miliki kebun sawit total seluas ku¬rang lebih 1.300 Ha. Lokasinya ada di empat tempat: Lebuhdalem; Bo¬jong¬¬dewa; Cempakajaya, dan; Blam¬bangan Umpu.Selain sawit, BMM ju¬ga menge-lola ratusan hektare kebun te¬bu milik sendiri yang tahun ini juga sudah pa-nen. Di antaranya di Ko¬ta¬napal yang luas tanamannya 89 ha, Ko¬tanegara 134 ha (tahun ini akan di¬ta¬nam lagi 400 ha), Areal 54 Gu¬nungbatin Udik 30 ha (ditanami lagi 9 ha), dan Negeri Besar sekitar 200 hektare.Dari tanaman tebu ini, praktis ta¬hun ini BMM sudah bisa me¬ngantungi duit yang cukup lumayan. Dana ini bisa dipakai lagi untuk per¬luasan tanaman tebu, juga perawatan ta-naman sawit.Sedangkan lahan tebu milik pihak lain yang digarap PT BMM adalah Areal 600 Menggala (yang sudah panen 235 ha) dan Gunungbatin Udik sekitar 150 ha.Selain itu, BMM juga mengelola pe¬tani tebu mandiri, yang areal panen tahun ini mencapai 159 ha dan dalam proses penanaman sekitar 290 ha. Pe¬ta¬ni ini tersebar di Karta (Base Raden), Menggala (Mahyuddin), Banjaratu, Candirejo, Bandarputih, GBU Idialis, Gunung Menanti, Tejo Asri, GBU sarjono, dan Karangjawa.Panen tahun ini total milik masyarakat maupun milik BMM se¬luas 791 ha.Sekarang BMM juga sedang me¬ngembangkan kemitraan sekitar Gu¬nung Madu. Saat ini sudah tanam 250 ha. “Harapan kita untuk panen ta¬hun depan sudah mencapai 1.500 ha,” kata Pak Afif.Melihat perkembangan ini, PT BMM bukan lagi perusahaan kecil. Kar¬yawannya pun kini hampir men¬capai 100, terdiri dari 25 karyawan or¬ga¬nik dan 70 honorer. Hal ini meng¬ha¬pus berbagai stigma buruk ketika awal berdiri, misalnya PT Bumi Mo¬rat-Marit, PT Bumi Maju Mundur, dan lain-lain. Ya, PT BMM adalah PT Bu¬mi Madu Mandiri yang sesung¬guhnya.Selain menambah kesejahteraan karyawan dan pensiunan, PT BMM ju¬ga membuka lapangan kerja bagi nba¬nyak orang. Mudah-mudahan, PT BMM benar-benar membawa ber¬kah, amin.

Penghargaan Khusus untuk KGM

KETIKA didirikan melalui amalgamasi dua koperasi beberapa tahun lalu, belum ada bayangan bahwa Koperasi Gu¬nung Madu bakal sesukses seka¬rang. Pro-kontra tentu saja ada pada waktu itu. Kini ada senyum menghias wajah KGM. Penghargaan demi peng¬hargaan dari pemerintah silih beganti diterima koperasi karyawan PT GMP ini.Baru-baru ini KGM menerima Peng¬hargaan Khusus dari Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono. Sa¬tu-satunya penghargaan istimewa yang pernah diberikan pemerintah ke¬pada koperasi di Indonesia. Peng¬hargaan ini diberikan lantaran KGM memiliki perhatian dan komitmen terhadap dunia pendidikan dan para pensiunan PT GMP.Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono kepada Ketua Umum Koperasi Gunung Madu Ir.H. Parjono, di hotel Garuda Wisnu Ken¬cana, Denpasar, Bali, 12 Juli lalu.Berita gembira tentang pemberi¬an penghargaan tersebut telah me¬nyebar di site PT GMP ketika peng¬urus KGM masih berada di Bali. Ka¬bar itu tentu saja membuat hati selu¬ruh pengurus, anggota, dan pendiri KGM berbunga-bunga.Tak kurang dari Kepala Departe¬men SBF Ir.H. Gunamarwan, yang juga mantan ketua umum KGM (kini pembina KGM), menyambut gembira pemberian peng¬hargaan dari peme-rintah ter¬sebut. Pak Guna menilai ini suatu sur¬prise bagi KGM dan selu-ruh anggo¬ta¬nya, karena Pengharga-an Khusus ha¬nya diberikan kepada koperasi yang betul-betul memiliki reputasi khu¬sus pula.Penghargaan itu, kata Ketua Umum KGM Ir. Parjono, karena ke¬pedulian KGM terhadap dunia pen¬didikan, seperti memberikan bonus kepada siswa anak anggota yang berprestasi.“Yang menjadi perhatian khusus pemerintah sehingga memberikan Penghargaan Khusus, ini adalah kepedulian KGM terhadap para ca¬lon pensiunan dengan memberikan mereka pendidikan dan wawasan se¬bagai bekal pensiun,” ungkap Pak Par¬jono.Pemberian penghargaan itu pu¬nya arti sangat penting bari keber¬adaan KGM. “Meskipun koperasi ki¬ta berada di kampung atau kebun se¬perti ini, kita masih diperhatikan di tingkat nasional, “ kata Pak Parjono.KGM, yang didirikan tahun 1985, merupakan hasil amalgamasi dua ko¬perasi di Gunung Madu yang sama-sa¬ma punya badan hukum. Dalam per¬kembangannya, KGM tumbuh pe¬sat dan berhasil meraih berbagai penghargaan di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Aset KGM yang awalnya hanya Rp150 juta, pada tahun buku 2005 telah mencapai puluhan miliar saat ini.Bagi karyawan PT GMP, ujar Pak Parjono, adanya koperasi merupakan suatu kebutuhan. Sebab, tempat tinggal sekaligus tempat bekerja karyawan jauh dari kota, pasar, atau took, sehingga untuk mencari kebu¬tuhan sehari-hari cukup sulit. Karena itulah keberadaan KGM sangat membantu karyawan.Bukan hanya itu. KGM juga mem¬bantu anak-anak karyawan da¬lam menempuh pendidikan, yaitu de¬ngan menyediakan transportasi bus sekolah. Selain itu juga membantu beasiswa, mengelola kolam renang, menyelenggarakan berbagai kegiat¬an yang diikuti anak sekolah, dan se¬bagainya.Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, KGM juga membantu per¬siapan karyawan PT GMP memasuki masa purnakarya (pensiun). Di an¬taranya dengan mengadakan pela¬tihan, mengunjungi tempat-tempat yang bisa menambah ilmu untuk be¬kal pensiun, juga membuat peternak¬an ayam dan sapi sebagai tempat ber¬latih calon purnakarya.Kemudian KGM melakukan di¬versifikasi usaha ke komoditas sawit. Untuk itu pada tahun 2005 KGM be¬kerja sama dengan Ya¬yasan Pendidik¬an, dan sebuah per¬usa¬haan mitra, mem¬bentuk per¬usahaan bernama PT Bu¬mi Madu Man¬diri (BMM).Di perusahaan ini, KGM merupa¬kan pemegang saham mayoritas, yai¬tu 75 persen. Saham KGM sendiri ma¬yoritas dimiliki anggota (75 per¬sen), sebagian lagi milik badan dan Ya¬yasan Pendidikan Gunung Madu, se¬¬hingga pemegang saham mayori¬tas PT BMM adalah anggota koperasi.Operasional perusahaan ini telah dimulai dengan membeli lahan sekitar 450 ha di Kabupaten Tulangbawang, 350 ha di antaranya sudah ditanami sekitar 40.000 pohon sawit. Dari jum¬lah itu, 150 ha tanaman sawit akan di¬panen bulan Agustus ini.Penghargaan KGM Koperasi Fungsional Harapan Tk. Nasional, oleh Menteri Koperasi Bustanil Arifin, SH., 12 Juli 1990. Ko¬perasi Fungsional Terbaik II Tk. Na¬sional tahun 1992, oleh Menteri Ko¬perasi Bustanil Arifin, SH., tanggal 12 Juli 1992. Koperasi Fungsional Te¬la¬dan Tk. Nasional tahun 1993, oleh Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Subijakto Tjakra¬wer¬daya, 29 Juli 1993.Koperasi Perkotaan Jenis Konsu¬men Teladan Tahun II Tk. Nasioal 1994, oleh Menteri Koperasi dan Pem¬binaan Pengusaha Kecil, Subi¬jakto Tjakrawerdaya, tanggal 14 Juli 1994.Koperasi Karyawan Mandiri, oleh Menteri Koperasi dan Pembi¬naan Pengusaha Kecil Subijakto Tja¬krawerdaya, 8 Februari 1995. Kopera¬si Perkotaan Jenis Konsumen Teldan Tahun III Tk. Nasional 1995, oleh Men¬teri Koperasi dan Pembinaan Peng¬usaha Kecil Subijakto Tjakra¬werdaya, tanggal 12 Juli 1995.Koperasi Berprestasi Tahun 1999, oleh Menteri Koperasi, Peng¬usa¬ha Kecil dan Menengah RI, Adi Sa¬sono, tanggal 12 Juli 1999. Kope¬ra¬si Berprestasi Tahun 2005, oleh Men¬teri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah RI Suryadarma Ali, Ban¬dung 12 Juli 2005.

Agar Batang Tebu Bisa "Senam"


TULANGBAWANG (KORAN_ONLINE): Mobil Estrada merah berkabin dua itu merayap pelan menelusuri lorong-lorong kebun tebu. Sesekali berhenti di ujung lorong. Dari mobil itu keluar sosok lelaki tinggi berkulit sawo matang. Ia berjalan memasuki rimbunan rumpun tebu menemui seorang pekerja yang sedang memotong daun-daun kering dari batang tebu. Lelaki itu memberi petunjuk yang langsung diikuti si pekerja.Dia adalah Basaradin, pemilik kebun tebu seluas 58,6 hektar di Kampung Karta, Kecamatan Tulangbawang Udik, Tulangbawang. Setiap hari Ia memeriksa langsung perkebunan yang ia kelola sendiri itu.Basaradin, yang memiliki sapaan akrab Pak Raden, sejak tahun 2005 sudah bertekad menjadi petani tebu. Profesi sebagai juragan singkong di Kabupaten Tulangbawang ia tinggalkan. “Saya tidak mau tanggung-tanggung menekuni tebu,” katanya ketika ditemui Tawon di kebunnya suatu siang pertengahan Mei lalu.Siang itu dia ditemani keponakannya Mahyuddin membawa Tawon dan Waka Satpam Prayitno berkeliling areal kebun tebu miliknya di Kampung Karta, Tulangbawang Udik. Dengan bersemangat Pak Raden menunjukkan tanaman tebu yang tumbuh subur di kebunnya. Di kebun Pak Raden ini terdapat tiga varietas tebu unggul dari PT Gunung Madu Plantations, yakni GM-19, SS-57, dan F5. Tanaman tebu di sini tampak sangat terawat, daun kering tak terlihat menggelantung di batang. Dia mengupah pekerja khusus untuk mengkletek daun kering. “Saya borongkan Rp500 ribu per hektar,” katanya.Tebu sudah menjadi pilihan bagi Basaradin. Ia sudah mantap untuk saat ini tidak akan membiarkan lahannya terlantar. Tiap jengkal lahan miliknya kini Ia ditanami tebu. Tebu sudah menjadi primadona bagi Pak Raden. Dia sudah membayangkan keuntungan yang bakal diraupnya di akhir tebang giling nanti.Memiliki kebun tebu yang luas dan modal kuat tidak membuat Pak Raden berpangku tangan saja menunggu hasil panen. Setiap hari lelaki yang hanya lulusan sekolah dasar ini, memeriksa kebun tebunya. Tanah, batang tebu, dan daun kering ia teliti dengan seksama. Ia tidak segan menegur para pekerja jika ada yang salah mengkletek daun tebu yang kering. Tak jarang ia mengkletek sendiri daun tebu kering yang masih menggantung di batang.Daun-daun tebu kering yang sudah dikletek oleh Pak Raden dibiarkan menutupi tanah di lorong-lorong antara barisan rumpun tebu dengan barisan rumpun yang lain. “Daun kering ini nanti bakal jadi humus yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” katanya menjelaskan.Dia menanam tebu juga diatur sedemikian rupa, ada jarak yang membuat tiap rumpun tebu lega bernafas dan leluasa mendapatkan siraman sinar matahari. “Dengan cara ini batang tebu saya jadi sehat. Tiap batang bisa bebas “bersenam” dan mendapat sinar matahari yang cukup,” katanya dengan nada seorang ahli pertanian.Hal itu tidak berlebihan bagi Pak Raden. Selain menemukan teknik baru setelah melakukan riset beberapa tahun, Ia juga mendapat bimbingan dari Manager PT Bumi Madu Mandiri Ir.H. Afif Manaf. Dia juga punya seorang asisten sarjana pertanian. Sang asisten dengan setia mendampinginya setiap hari dan memberi beberapa saran.Pak Raden bukan petani biasa. Ia mengontrol kebun tebunya sambil mengendarai mobil Mitsubishi Estrada double kabin, kendaraan mahal yang sedang tren bagi kalangan penjelajah. Hal seperti itu tergolong langka di Lampung.Pak Raden bukan petani berdasi, tetapi petani sejati yang sukses. Dan, batang tebu akan membawanya bertambah sukses. Ia memperkirakan akhir tahun ini bakal mendapat uang Rp3 miliar dari hasil panen tebunya.Dia mengakui tebu memberinya lompatan penghasilan yang tinggi. Pada panen tebu tahun 2006 ia merasakan nikmatnya uang tebu. Ini pertama kali dia menerima uang hasil panen tebu. Padahal pada waktu itu dia tidak berniat menggiling tebu tanamannya. “Itu adalah tanaman ujicoba saya tahun 2005. Bobotnya belum memuaskan walaupun sudah melebihi hasil tahun sebelumnya,” kata Pak Raden. Ia tidak bersedia menyebutkan berapa uang yang diperolehnya waktu itu. Yang jelas hasilnya jauh melebihi tanam singkong. Lelaki asli Lampung dari Kampung Karta, Tulangbawang Udik itu sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai petani singkong sekaligus juragan singkong. Komoditas ini pula yang melambungkan namanya sebagai pedagang besar, yang menghubungkan petani dengan pabrik. Bagi Pak Raden pendidikan SD sudah cukup asal mampu menekuni bidang yang digeluti dengan serius, maka sukses pun bisa diraih. Dia membuktikannya dengan keberhasilannya saat ini.Kalaupun saat ini Pak Raden beralih dari singkong ke komoditas tebu, hal itu semata karena gejolak jiwanya yang tidak cepat puas. Tebu merupakan hal baru baginya, tetapi hal itu justru menjadi tantangan untuk ia tekuni.Petani sukses dari Kampung Karta ini telah dikaruniai 7 putra dan putrid dari hasil perkawinannya dengan perempuan bernama Lamsiana. Putra sulungnya Suhendra, kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung (UBL). Anak keduanya diberi nama Putri, calon dokter yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.Kemudian putra ketiga Sofyan, masih di bangku SMAN Dayamurni Tulangbawang, lalu Suryajaya, juga di SMAN Dayamurni. Anak kelima Mira, siswi SMP Karta, yang keenam Sugarman, SD, dan terakhir Resa masih duduk di bangku TK.(amd)

Dulu Juragan Singkong, Kini Bertani Tebu


TULANGBAWANG (KORAN_ONLINE): Mulanya hanya iseng-iseng, lalu jatuh cinta. Begitulah pengalaman Basaradin berkenalan dengan tanaman tebu. Ketika masih menjadi juragan singkong, ia sekaligus pemilik armada angkutan truk yang sering dikontrak PT PSMI, PG Bunga Mayang, dan PT Sweet Indo Lampung untuk mengangkut tebu. Saat itu ia sama sekali tidak tertarik untuk ikut membudidaya tanaman yang mengandung gula itu. Kini Ia menjadi boss tebu di Tulangbawang.Namun, karena penasaran melihat perusahaan-perusahaan dari luar Lampung menanam investasi di bidang perkebunan tebu, lelaki yang sehari-hari disapa Pak Raden itu, diam-diam “mencuri” beberapa batang bibit tebu. Pak Raden menanam bibit tebu itu di kebunnya. Tanaman itu pun tumbuh subur.Ketika tebu itu sudah mencapai usia panen, Pak Raden menebangnya seperti yang dilakukan di perusahaan-perusahaan perkebunan tebu yang ada di Lampung Tengah dan Tulangbawang. Saat itu dia tidak menebang untuk produksi, melainkan hanya ditimbang bobotnya per batang.“Saya hanya menanam sedikit hanya untuk ujicoba,” kata Pak Raden ketika ditemui Tawon di kebun tebunya di Kampung Karta, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang.Uji coba menanam tebu itu dilakoninya sejak tahun 1996. Untuk itu lelaki berpostur tinggi langsing itu menyediakan lahan seluas kurang lebih seperempat hektar. Tata cara bertanam tebu yang diterapkan di beberapa perkebunan tebu di Lampung dia tiru. Begitu pula jadwal tanam dan tebang Pak Raden mengikuti jadwal di perusahaan-perusahaan di sekelilingnya.Tetapi, ketika itu Pak Raden tidak membawa hasil panen tebunya ke pabrik gula, melainkan langsung ia buang dan sebagian ia jadikan bibit. “Kebun saya bongkar pasang setiap tahun,” katanya kepada Tawon.Ketika ditanya alasannya, mantan juragan ubi kayu itu mengaku belum puas dengan hasil yang didapat dari tanamannya. Bobot per batang tebunya sangat rendah. Ia mencoba berbagai varietas dan bermacam pola tanam. Saking seringnya mencoba berbagai cara itu, ia hafal semua ragam menanam tebu di perusahaan-perusahaan perkebunan di Tulangbawang dan Way Kanan. Begitu pula dengan varietasnya.Dari ujicoba yang dilakukannya bertahun-tahun itu, ia berhasil menemukan cara menanam tebu yang paling baik dan dengan produktivitas yang tinggi pada tahun 2005. Ia lalu mendaftarkan diri ikut kemitraan mandiri di PT Gunung Madu Plantations tahun 2006.Dia menamakan teknik tanamnya itu dengan sebutan “bentuk kotak”. Dalam satu kotak itu tebu yang tumbuh akan membentuk rumpun yang jumlah batangnya mencapai 40 batang lebih.Selain itu, dengan cara tanam Pak Raden ini, satu batang tebu bisa berbobot 3 kg-4 kg per batang dan jumlah ruasnya pun bisa mencapai 35.Pak Raden sudah menghitung perkiraan hasil panen kebun tebunya paling rendah 150 ton per hektar. Jumlah ini jauh melampaui target produksi konvensional di PT Gunung Madu Plantations yang sekitar 80 ton perhektar. Dengan luas lahan 54,8 hektar Pak Raden optimis bisa mengantongi keuntungan Rp3 miliar pada panen tahun ini.“Saya yakin hasil tanam tebu saya bisa mencapai 250 ton perhektar. Kalau 150 ton perkehtar itu bisa sambil tidur saja,” katanya penuh keyakinan.Diikuti PetaniBertani tebu di Lampung, khususnya Kabupaten Tulangbawang belum begitu diminati masyarakat. Padahal, keuntungan berkebun tanaman berbatang manis ini cukup menggiurkan.“Kalau saja petani singkong di Tulangbawang beralih ke tanaman tebu, kehidupannya bakal lebih makmur,” ujar Basaradin.Basaradin mulai bercocok tanam sejak tahun 2005. Sebelumnya, ia pun bertani singkong. Dan, ternyata hasil tebu lebih menguntungkan. Tanaman tebunya di kampong tersebut kini mencapai 54,8 hektar.Karena keberhasilannya, sejumlah petani di Menggala pun mulai mengikuti jejaknya. Salah satunya Mahyuddin, yagn mulai tahun 2006 menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami tebu.Saat ini, tebu milik Mahyuddin yang sudah berumur tujuh bulan mencapai 23,4 ha, sedangkan yagn sedang dalam proses penanaman mencapai 45 ha.Menurut Mahyuddin, menanam tebu ternyata jauh lebih mudah dan menguntungkan. Sebab, dalam satu hektar bisa menghasilkan tebu 150-280 ton atau 20-22 ton gula. Harga gula di pasaran juga tidak pernah turun apalagi sudah dikontrak, sementara pajak langsung dibayar pabrik. Saat ini saja harga gula di pabrik mencapai Rp5.800/kg. “Sangat menguntungkan bagi petani jika mau bertaham tebu,” ujarnya.Keberhasilan Basaradin bertani tebu harus diakui. Bahkan, hasil panen tebunya jauh melebihi produksi kebun tebu perusahaan. Namun, keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Pola tanam dan bibit unggul merupakan prioritaqs yagn dipilih Basaradin.Ada beberapa pola tanam dan beberapa varietas tebu yagn terus diuji coba untuk melihat bibit apa dan pola tanam bagaimana yang akan menghasilkan produksi tebu terbaik.Dengan berbagai uji coba tiga varietas bibit tebu: F-5, GM-19, dan SS-57, serta tiga pola tanam – segi empat, lajur lurus dan memotong – kini hasilnya sudah bisa dibuktikan.Produksi tebu yang sudah dipanen tahun lalu mencapai antara 150-280 ton/hectare yang menghasilkan 22 ton gula putih. Karena keberhasilannya, sejumlah perusahaan merasa penasaran dan sebagian melakukan survey ke lapangan seperti PTPN Surabaya sudah dua kali mengirim 30 karyawannya setiap kali melakuan penelitian di kebun tebu milik Basaradin.Kemudian, kata Basaradin, PG Cinta Manis dari Palembang dan PT GMP juga sudah pernah melakuan penelitian di kebunnya. Sementara PT GPM (Gula Putih Mataram) sudah menelepon akan masuk dan melihat kebun Basaradin. “Bahkan ada, ada perusahaan tebu dari Gorontalo yang menelepon mau survey ke sini,” katanya.Menurut dia, mulai tanam tahun 2005 sudah sekali panen dan hasilnya 280 ton tebu (22 ton gula putih) sudah dibuktikan, padahal perusahaan menargetkan 10 ton gula per hectare.Petani sukses itu pun tak ragu-ragu menjelaskan kiat suksesnya. Dengan mobil Estrada merah, ia pun mengajak wartawan berkeliling melihat tanaman tebunya yang berumur 5-8 bulan.Sesekali Basaradin berhenti sambil menunjuk tanaman tebu yang sudah mulai berumur yaitu antara 7-8 bulan, dan kemduian kembali melanjutkan perjalanan ke bagian kebun lainnya.(amd)

Penyair Bumi Empat Lawang

AIR keruh kembali keruh/ banjir sungai menjadi air mata/ gemuruh di hulu menyeret langkah/ menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/ malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/ meluapkan musibah banjir Galang.......... Itulah penggalan puisi berjudul "AIR KERUH KEMBALI KERUH" , yang dibaca SYAMSU INDRA USMAN dengan Hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten EMPAT LAWANG.Puisi ini ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai BETUNG, anak Sungai Musi, yang menghatam Desa GALANG tahun 1996, Banjir yang menerjang saat warga terlelap, pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan ratusan orang. Melalui tulisan kami coba untuk menampilkan sosok atau bisa dikatakan ASET Kabupaten EMPAT LAWANG, hamper semua warga Empat lawang belum begitu mengenal siapa Syamsu Indra Usman ini, beliau adalah sosok PENYAIR yang dimiliki daerah Lintang Empat Lawang, atau kalau mau jujur mungkin hanya satu satunya Penyair yang dimiliki daerah Lintang. Dilahirkan di Lahat pada Tanggal 12 Oktober 1956, dengan segala kekurangan yang dia miliki, tidak menjadikan dia patah semangat dalam meniti kehidupan ini, tinggal di desa Lubuk Puding ditengah perkampungan lama dekat hulu sungai Musi, menempati sebuah rumah panggung kayu. Untuk menuju kerumahnya, kita harus melewati 80 meter jembatan gantung yang dibuat pada zaman Belanda.Seperti kebanyakan warga dusun Lubuk Puding, Penyair ini menjalani hidup sebagai petani desa,tiap pagi dan petang dia mandi di sungai Musi dan disiang hari dia bergulat mengurus Enam Hektar kebon kopi dan tiga hektar Kebon kemiri, dari hasil kebon inilah dia menafkahi anak istrinya. Terlahir dengan kekurangan FISIK, memiliki tubuh yang mungil , hanya 100 Cm, tidak menjadikan Syamsu Indra mudah berputus asa.Banyak sudah Karya tangan yang dihasilkan, dan boleh dikatakan Syamsu Indra Usman termasuk penyair yang produktif, sudah sekitar 4.500 puisi dibuatnya.Sebagian puisi diterbitkan dalam tujuh antologi, antara lain Tembang Duka(1994), Sesembah Air Mata (2003) dan Mencari Ayat Ayat-MU (2003), disamping itu masih ada 109 Karya Tulis yang sudah dijilidkan dalam bundelan, ada 96 bundel kumpulan Puisi, 5 Novel dan 1 kumpulan Cerpen. Disamping itu juga Indra tekun mendokumentasikan budaya EMPAT LAWANG, yaitu kawasan Pemukiman di tepian Sungai, dan bahkan sempat menulis dua naskah lagu lagu daerah, menyusun satu kumpulan sastra tutur local yang di sebut REJUNG, kumpulan Petatah petitih, resep masakan daerah, adat istiadat, serta Kamus Bahasa Lintang Empat Lawang, yang memuat sekitar 5.000 entri kata.SYAMSU INDRA USMAN, adalah Tokoh Budayawan yang harus kita jaga dan pelihara serta kita Syiarkan ke penjuru Dunia karya karya nya......, dizaman saat ini sangatlah sulit untuk dapat kita menemukan Syamsu syamsu yang lain di BUMI LINTANG EMPAT LAWANG, dan beliau menjadi salah satu Tokoh Rujukan Budaya Empat Lawang. Atas pengabdian dan Prestasinya pada Tahun 2004 Gubernur Sumatra Selatan Menganugrahkan penghargaan SENI SASTRA. Semoga asset daerah kita yang satu ini, menjadi perhatian serius dari para Pejabat terutama Bupati Empat Lawang, dalam mengangkat Seni Budaya Daerah Lintang Empat Lawang. Disamping itu juga keikut sertaan Masyarakat Lintang Empat Lawang, dalam melestarikan Budaya Daerah kita, jangan sampai budaya Lintang hanya tinggal nama........... Semoga tulisan ini jadi cerminan kita dalam membangun daerah EMPAT LAWANG, untuk mengangkat Seni Budaya Lintang sebagai Aset Wisata Nasional.

Otonomi Kabupaten Empat Lawang

Tanggal 20 April 2007 lalu Kabupaten Empat Lawang di Sumatera Selatan resmi terbentuk. Peresmiannya membawa fase baru bagi derap pembangunan kawasan yang selama ini nyaris terabaikan oleh laju pembangunan. Kabupaten Empat Lawang, sekitar 400 kilometer arah barat Kota Palembang, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat. Kabupaten baru itu mempunyai luas 225.644 hektar atau 34 persen dari luas Kabupaten Lahat sebelum dimekarkan. Secara geografis, bagian utara wilayah Empat Lawang berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, bagian selatan dengan Kabupaten Lahat dan Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Di bagian timur juga berbatasan dengan Lahat, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahyang, juga di Provinsi Bengkulu. Wilayah Empat Lawang memiliki tujuh kecamatan, yaitu Muara Pinang, Pendopo, Ulu Musi, Tebing Tinggi, Lintang Kanan, Pasemah Air Keruh, dan Talang Padang. Ibu kota kabupatennya adalah Kecamatan Tebing Tinggi. Tidak banyak jejak pembangunan masa lalu yang tertoreh pada kecamatan-kecamatan itu. Kontur wilayah yang sebagian terdiri atas kawasan perbukitan yang berliku-liku dan terjal membuat daerah ini berpuluh-puluh tahun seperti tak tersentuh pembangunan. Hingga kini, satu-satunya akses penghubung antarkecamatan di wilayah itu hanyalah jalan provinsi, sedangkan akses jalan menuju ke ibu kota kabupaten berupa jalan negara. Itu pun kondisinya sangat memprihatinkan. Akses dari Lahat menuju ke Tebing Tinggi, misalnya, hanya bisa ditempuh melalui jalan lintas tengah (jalinteng) Sumatera. Ruas jalan negara sepanjang 76 kilometer itu sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak parah, berlubang-lubang, dan aspalnya terkelupas. Ruas jalan Lahat-Tebing Tinggi itu bahkan tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermuatan besar sejak ambruknya Jembatan Sungai Pangi di Desa Ulak Bandung, Kecamatan Kikim Barat, Lahat, Maret 2006. Jembatan darurat yang telah dibangun di samping jembatan yang roboh itu hanya bisa dilewati kendaraan berkapasitas maksimum lima ton. Pembangunan jembatan permanen yang menggantikan Jembatan Sungai Pangi sampai sekarang belum selesai dikerjakan. Akibatnya, truk-truk bermuatan besar dari Lubuk Linggau ke Palembang terpaksa memutar ke jalan lintas timur (jalintim) Sumatera melalui Sarolangun, Muara Bulian, Jambi, dan Bayung Lencir, dengan waktu tempuh jauh lebih lama. Pembangunan infrastruktur dan transportasi di kecamatan-kecamatan lainnya juga nyaris terabaikan. Di Ulu Musi (54 kilometer dari Tebing Tinggi), misalnya, hanya ada satu jalan utama yang juga merupakan akses penghubung ke Kabupaten Kepahyang. Sebagian ruas jalan provinsi itu juga rusak parah. Demikian pula di kawasan Pasemah Air Keruh, yang jaraknya paling jauh dari Tebing Tinggi (67 km), sangat jarang ditemukan angkutan umum. Fasilitas yang minim juga sangat terlihat pada bidang kesehatan. Di Kecamatan Ulu Musi, sebagian puskesmas dibiarkan tanpa dokter atau penjaga. Sarana yang serba terbatas menghambat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Sampai kini belum ada investor yang menanamkan modal dan mengolah sumber daya alam di wilayah itu. Padahal, kabupaten baru itu telah menargetkan realisasi pendapatan asli daerah (PAD) Rp 84 miliar per tahun, dengan sumbangan dari sektor ekonomi sebesar Rp 16,8 miliar. Menurut Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kemasyarakatan Pemkab Lahat Marwan Mansyur, yang juga Penjabat Penghubung Persiapan Pembentukan Empat Lawang, kabupaten baru ini memiliki kandungan tambang emas, pasir, dan batu yang potensial mendorong kemajuan pembangunan. Namun, potensi itu belum tergarap. Hampir seluruh wilayah Empat Lawang merupakan daerah berbukit-bukit dan dialiri anak-anak Sungai Musi. Sebanyak 229.552 jiwa penduduknya hanya mengandalkan penghasilan dari pertanian dan perkebunan rakyat. Pertanian yang digarap antara lain berupa sawah seluas 9.172 hektar (ha), ladang (592 ha), kedelai (327 ha), kacang hijau (49 ha), kacang tanah (116 ha), jagung (253 ha), ubi kayu (144 ha), dan ubi jalar (33 ha). Selain itu, perkebunan rakyat di antaranya karet (716.074 ha), kopi (59.760 ha), kemiri (939,5 ha), kelapa (693,75 ha), dan pinang (538,3 ha). Dalam sambutannya saat peresmian Empat Lawang, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri Kausar AS mengemukakan, pemekaran wilayah Lahat menjadi Empat Lawang diperlukan karena pembangunan di wilayah itu belum optimal. "Sebagian besar wilayah Lahat berupa alur dataran tinggi dan jajaran pegunungan bukit barisan. Hal itu menyebabkan pembangunan belum menjangkau seluruh wilayah. Maka, perlu memperpendek rentang pemerintahan Kabupaten Lahat dengan membentuk Empat Lawang," katanya. Semangat yang ditanamkan oleh para elite pusat dan daerah dalam perjuangan pemekaran wilayah adalah mendorong pembangunan, mendekatkan pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Janji itu membangkitkan secercah harapan, tetapi juga kekhawatiran bahwa Empat Lawang kelak bernasib sama dengan sejumlah daerah pemekaran lain yang sampai kini masih jalan di tempat. Bercermin pada sejumlah kabupaten/kota pemekaran yang terbentuk lebih dulu, semangat pembangunan daerah akhirnya menjadi jargon politik yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Pascapemekaran, potensi daerah tetap tak tergarap, pembangunan diabaikan, dan rakyat kembali ditinggalkan. Orientasi kekuasaan Pengamat politik dari Universitas Sriwijaya, Amzulian Rifai, mengatakan, hambatan terbesar pembangunan daerah adalah kepemimpinan yang hanya berorientasi kekuasaan dan memperkaya diri sendiri, seperti yang terlihat pada beberapa daerah pemekaran yang setelah beberapa tahun berdiri hanya menjadi beban keuangan negara. Karena itu, peran masyarakat untuk memilih kepala daerah sangat penting sebagai landasan awal pembangunan. Daerah pemekaran membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk merintis pembangunan dengan melakukan langkah-langkah terobosan. Tantangan bagi daerah hasil pemekaran adalah kemampuan untuk mendanai dan mengelola keuangan sendiri. Untuk itu, dalam waktu dua tahun, kabupaten/kota baru harus mampu melepaskan ketergantungan keuangan dari daerah induk dan provinsi. Kepala Pusat Penerangan Departemen Dalam Negeri Saut Situmorang yang hadir saat peresmian Empat Lawang, 20 April lalu, mengakui sebagian daerah pemekaran kinerjanya masih bermasalah. Depdagri sedang mengevaluasi 148 daerah pemekaran. Jika kinerja daerah itu tidak membaik dalam kurun 10 tahun, tidak tertutup kemungkinan daerah pemekaran akan digabung dengan daerah lain. Empat Lawang kini berada di persimpangan jalan yang membawanya menuju kemajuan, kemunduran, atau hanya jalan di tempat. Siapkah Kabupaten Empat Lawang berkembang, atau kelak hanya menjadi beban negara dan masyarakatnya? Hanya kesungguhan tekad pemerintah dan masyarakat yang akan menjawabnya.

Kandidat Bupati Empat Lawang Tebar Pesona

Kandidat Bupati Empat Lawang Tebar Pesona
PENDOPO LINTANG (KORAN_ONLINE) : Meskipun pemilihan bupati Empat Lawang belum lagi dijadwalkan, bahkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) pun belum terbentuk, para kandidat bakal calon bupati (balonbup) sudah berlomba-lomba menarik simpati rakyat.Koresponden KORAN_ONLINE di Pendopo Lintang Bestari Suud melaporkan, saat ini tercatat sudah ada lima yang bakal mencalonkan diri sebagai bupati Kabupaten Empat Lawang. Mereka adalah: Jauhari Hora (pengurus IKL4L di Jakarta), Fachrul Ruzam (anggota DPRD Lahat), Antoni, Noto (mantan wakil bupati Lahat, Abdul Subur (caretaker bupati Empat Lawang).Para kandidat calon bupati tersebut sudah saling berlomba menarik simpati rakyat. Noto misalnya gencar menyelenggarakan pertandingan sepakbola dan balap sepeda motor memperebutkan “Noto Cup”. Ia juga getol berceramah dari masjid ke masjid sekaligus memberikan sumbangan. Di bidang fisik Noto membangun jalan-jalan alternatif untuk ojek ke kawasan perkebunan.Sedangkan Antoni tidak banyak aksi, tetapi menebar tim sukses dimana-mana, tak ubahnya seperti nelayan menebar jaring.Lain lagi dengan Jauhari Hora. Sarjana teknik yang bermukim di Jakarta ini mendatangkan penceramah agama dari Jakarta untuk berceramah dari masjid-ke masjid. Dia juga menghamburkan uang untuk membeli bola yang disumbangkan kepada para pemuda desa.Trik memanfaatkan masjid sebagai ajang tebar pesona juga dipakai Fachrul Ruzam. Dia mendadak jadi da’I dan beranjangsana setiap Jumat ke masjid-masjid.Sementara Abdul Subur yang saat ini menjabat sebagai caretaker bupati Empat Lawang diam-diam juga menyusun kekuatan. Dengan posisi sebagai pejabat bupati dia berada di atas angina di segi dana dan kesempatan bersilaturrahmi.(amd)

IKL4L Batam Rayakan HUT ke-5

BATAM (KORAN_ONLINE) : Ikatan Keluarga Lintang IV Lawang (IKL4L) Kepulauan Batam, 17 Juni 2007 lalu, merayakan HUT ke-V. Acara berlangsung meriah dan penuh keakraban, dihadiri sekitar 200 warga IKL-4L setempat.Koresponden KORAN_ONLINE Wakjuro melaporkan dari Batam, meskipun diiringi hujan gerimis acara tetap berlangsung lancar dan meriah. Even tahunan keluarga Lintang IV Lawang ini penuh hiruk pikuk anak-anak dan para orangtua yang melepas rindu dengan kerabat, sahabat, dan teman yang lama tak berjumpa.Untuk menambah meriah ajang silaturahmi warga Lintang ini pihak Panitia mengelar lomba tarik tambang, makan kerupuk, lari sambil membawa kelereng, dan pertandingan sepak bola.Acara ini menjadi lebih penuh arti dengan kehadiran sesepuh IKL-4L Batam H. Mas’ud Mustofa.Ketua IKL-4L Batam Yahya Bustomi dalam sambutannya menghimbau warga Lintang IV Lawang yang menjadi pendatang baru di Batam agar segera melapor ke Pengurus agar dapat dibantu bila ada kesulitan.Ia juga meminta seluruh warga Lintang IV Lawang di Batam agar menghilangkan sifat gampang tersinggung dan mudah kecil hati. “Hendaknya sesama orang Lintang di rantau mau saling bertegur sapa dan saling mengenal,” kata Yahya Bustomi.Ketua IKL-4L Batam itu juga mengingatkan seluruh anggotanya untuk tidak mendekati segala hal yang melanggar hokum seperti mencuri, merampok, dan narkoba. “Bila ada warga IKL-4L Batam terlibat kasus tindak pidana jangan kecil hati kalau tidak diurus atau dibantu,” tegasnya.Ia juga minta kepada warga Lintang di Batam yang sudah punya kedudukan di pemerintahan atau perusahaan agar tidak segan-segan membantu saudaranya yang belum mempunyai pekerjaan.(*)

Kepala SMPN Pendopo Lintang Dilantik

PENDOPO LINTANG (KORAN_ONLINE): Bupati Empatlawang Drs. Abdul Subur,Jumat (8/6-07) melantik Salda Yusuf, SPd., sebagai Kepala SMPN V Pendopo Lintang, di gedung SMP setempat, Desa Gunung Meraksa Baru, Kecamatan Pendopo Lintang, Kabupaten Empatlawang.Abdul Subur mengharapkan keberadaan SMP tersebut dapat menjadi sarana pencerdasan generasi penerus di Lintang Empat Lawang. SMP ini juga diharapkan dapat menyerap lulusan SD di desa-desa sekitar seperti Gunung Meraksa Baru, Beruge Tengah, Batucawang, Manggilan, dan Gunung Meraksa Lama.Selain melantik kepala SMPN V, Bupati Empatlawang juga meresmikan beroperasinya Pondok Pesantren di Pendopo. Pondok pesantren ini didirikan atas prakarsa dan dana dari seorang tokoh Lintang Empatlawang yang berada di Jakarta, H.Effendi Sohar.Berdirinya pondok pesantren tersebut diharapkan bakal menjadi kawah candradimuka generasi muda muslim dalam menempa diri mereka di bidang keimanan, moral, dan pengetahuan.(amd)

Bersatu Menuju Kebaikan

Bersatu menuju kebaikan. Itulah motto yang tertanam kokoh pada sosok pria kelahiran Pendopo Lintang pada 15 Mei 1954 lalu dan diberi nama Abdul Shobur.
Dengan motto itu pula, putra pasangan H. Muhammad bin H. Kories dengan Hj. Zuhairiah, berhasil menorehkan berbagai prestasi dan jabatan, baik dalam organisasi maupun pemerintahan.
Semua yang diraih sekarang ini, adalah buah dari kerja keras dan budaya disiplin yang selalu diterapkan orang tua nya sejak kecil. Karena disiplin dan keuletannya dalam belajar, akhirnya Shobur yang menyelesaikan SMP tahun 1969 mendapat beasiswa dari SPMA Negeri Palembang.
Karena saat itu masih terlalu kecil untuk merantau, Shobur sempat ragu ragu menerima tawaran tersebut. Namun berkat dukungan penuh dari orang tuanya, akhirnya Shobur kecil sudah merantau ke Palembang.
Meskipun kota ini masih asing bagi Shobur, tapi dengan keuletan dan kemampuan yang dimiliki Jemo Dusun ini berhasil menamatkan SPMA Negeri, dan awal Pebruari 1973 Shobur diangkat menjadi PNS, yang kemudian ditempatkan di Kecamatan Ulumusi sampai tahun 1974, dan akhirnya pindah ke Pemerintahan Kota Palembang.
Di Pemkot Palembang, karir Shobur dimulai dari Kasubag Pengelolaan Perkotaan, kemudian menjadi Kepala Bidang Sosial Bapeda Pemkot Palembang, setelah itu karirnya langsung melonjak dratis dari Sekretaris Bapeda Pemkot Palembang, Sekretaris DPRD Sum Sel dan Kepala Catatan Sipil Palembang.
Pada tahun 1998 seiring dengan kenaikan menjadi esselon II, Abdul Shobur yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sum-Sel, dipercaya menjadi Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten OKU, Pit Walikota Administratif Baturaja tahun 2000 .
Seiring dengan terpilihnya Bupati OKU defenitif, Shobur kembali dipercaya menjadi Kepala Dinas Penerangan Sum-Sel, Kepala Biro Hukum dan Ortala Setda Pemprov Sum-Sel hingga tahun 2001.
Tidak hanya itu tahun 2001 hingga sekarang telah banyak posisi dan jabatan yang sudah diemban Putra Lintang IV Lawang ini, dengan jabatan esselon II, diantaranya Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sum-Sel, Sekretaris DPRD Sum-Sel bidang Ketataprajaan dan Kesra.
Sekarang Drs. H. Abdul Shobur SH.MM menjabat sebagai Kepala Disperindag Sum-Sel, sekaligus Pejabat Kabupaten Kabupaten Empat Lawang ( M.Iqbal - Info IV Lawang)

Penyair Empat Lawang

Air keruh kembali keruh/ banjir sungai menjadi air mata/ gemuruh di hulu menyeret langkah/ menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/ malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/ meluapkan musibah banjir Galang..........
Itulah penggalan puisi berjudul "AIR KERUH KEMBALI KERUH" , yang dibaca SYAMSU INDRA USMAN dengan Hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten EMPAT LAWANG.
Puisi ini ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai BETUNG, anak Sungai Musi, yang menghatam Desa GALANG tahun 1996, Banjir yang menerjang saat warga terlelap, pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan ratusan orang.
Melalui tulisan kami coba untuk menampilkan sosok atau bisa dikatakan ASET Kabupaten EMPAT LAWANG, hamper semua warga Empat lawang belum begitu mengenal siapa Syamsu Indra Usman ini, beliau adalah sosok PENYAIR yang dimiliki daerah Lintang Empat Lawang, atau kalau mau jujur mungkin hanya satu satunya Penyair yang dimiliki daerah Lintang.
Dilahirkan di Lahat pada Tanggal 12 Oktober 1956, dengan segala kekurangan yang dia miliki, tidak menjadikan dia patah semangat dalam meniti kehidupan ini, tinggal di desa Lubuk Puding ditengah perkampungan lama dekat hulu sungai Musi, menempati sebuah rumah panggung kayu.
Untuk menuju kerumahnya, kita harus melewati 80 meter jembatan gantung yang dibuat pada zaman Belanda.
Seperti kebanyakan warga dusun Lubuk Puding, Penyair ini menjalani hidup sebagai petani desa,tiap pagi dan petang dia mandi di sungai Musi dan disiang hari dia bergulat mengurus Enam Hektar kebon kopi dan tiga hektar Kebon kemiri, dari hasil kebon inilah dia menafkahi anak istrinya.
Terlahir dengan kekurangan FISIK, memiliki tubuh yang mungil , hanya 100 Cm, tidak menjadikan Syamsu Indra mudah berputus asa.
Banyak sudah Karya tangan yang dihasilkan, dan boleh dikatakan Syamsu Indra Usman termasuk penyair yang produktif, sudah sekitar 4.500 puisi dibuatnya.
Sebagian puisi diterbitkan dalam tujuh antologi, antara lain Tembang Duka(1994), Sesembah Air Mata (2003) dan Mencari Ayat Ayat-MU (2003), disamping itu masih ada 109 Karya Tulis yang sudah dijilidkan dalam bundelan, ada 96 bundel kumpulan Puisi, 5 Novel dan 1 kumpulan Cerpen.
Disamping itu juga Indra tekun mendokumentasikan budaya EMPAT LAWANG, yaitu kawasan Pemukiman di tepian Sungai, dan bahkan sempat menulis dua naskah lagu lagu daerah, menyusun satu kumpulan sastra tutur local yang di sebut REJUNG, kumpulan Petatah petitih, resep masakan daerah, adat istiadat, serta Kamus Bahasa Lintang Empat Lawang, yang memuat sekitar 5.000 entri kata.
SYAMSU INDRA USMAN, adalah Tokoh Budayawan yang harus kita jaga dan pelihara serta kita Syiarkan ke penjuru Dunia karya karya nya......, dizaman saat ini sangatlah sulit untuk dapat kita menemukan Syamsu syamsu yang lain di BUMI LINTANG EMPAT LAWANG, dan beliau menjadi salah satu Tokoh Rujukan Budaya Empat Lawang.
Atas pengabdian dan Prestasinya pada Tahun 2004 Gubernur Sumatra Selatan Menganugrahkan penghargaan SENI SASTRA.
Semoga asset daerah kita yang satu ini, menjadi perhatian serius dari para Pejabat terutama Bupati Empat Lawang, dalam mengangkat Seni Budaya Daerah Lintang Empat Lawang.
Disamping itu juga keikut sertaan Masyarakat Lintang Empat Lawang, dalam melestarikan Budaya Daerah kita, jangan sampai budaya Lintang hanya tinggal nama...........
Semoga tulisan ini jadi cerminan kita dalam membangun daerah EMPAT LAWANG, untuk mengangkat Seni Budaya Lintang sebagai Aset Wisata Nasional.