Sultan Ternate akan Jelaskan Kasus Aksi Massa
TERNATE (Berita Nasional/ANTARA News) - Sultan Ternate, Mudhafar Syah, akan menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjelaskan kasus aksi massa di Ternate, Maluku Utara (Malut), Rabu (22/8), yang dilakukan masyarakat adat Kesultanan Ternate."Presiden Yudhoyono telah menyatakan kesediaannya menerima Sultan Ternate di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Saya sudah diberitahu Jurubicara kepresidenan, Andi Malarangeng, mengenai kesedian Presiden menerima Sultan Ternate itu," kata permaisuri Sultan Ternate, Boni Nitha Susanti, di Ternate, Jumat.Namun Boni Nitha Susanti yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) itu, belum menyebutkan kapan Sultan Ternate akan diterima Presiden Yudhoyono di Cikeas, Bogor. Alasannya masih harus disesuaikan dengan jadwal acara Presiden Yudhoyono.Menurut dia, Sultan Ternate perlu menjelaskan langsung kasus aksi massa di Ternate tersebut kepada Presiden Yudhoyono, agar Kepala Negara mengetahui secara jelas dan lengkap mengenai latar belakang dan kronologis terjadinya aksi yang melibatkan masyarakat adat Kesultanan Ternate itu."Kalau Presiden hanya mendapatkan laporan dari pihak lain, dikhawatirkan tidak lengkap dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya," kata Boni Nitha Susanti yang mengaku juga akan menyertai Sultan dalam pertemuan dengan Presiden Yudhoyono nanti itu.Sebelumnya, Sultan Ternate, Mudhafar Syah, menjelaskan bahwa latar belakang terjadinya aksi massa bermula dari kekecewaan masyarakat adat Kesultanan Ternate terhadap keputusan KPUD Malut, terkait hasil verifikasi bakal calon (balon) gubenur/wakil gubernur Malut.KPUD Malut, kata Sultan, memutuskan bahwa dari lima pasangan balon gub/wagub Malut yang mendaftar di KPUD, hanya empat pasangan balon yang lolos, satunya yakni pasangan Mudhafar Syah/Rusdi Hanafi tidak lolos karena dianggap tidak mencukupi kuota suara 15 persen."Keputusan KPUD itu tidak diterima masyarakat adat Kesultanan Ternate karena mereka mengetahui bahwa parpol yang mendukung saya dan Rusdi Hanafi, suaranya mencapai 15,8 persen. Inilah yang membuat mereka spontanitas melakukan aksi," katanya.Sultan yang anggota DPR itu mengemukakan aksi tersebut berakhir dengan bentrok antara massa dari masyarakat adat Kesultanan Ternate dan polisi, karena dalam menangani aksi polisi tidak menggunakan cara persuasif, tapi cara represif. Wakil Ketua KPUD Malut, Muklis T, sebelumnya menjelaskan bahwa keputusan KPUD mengenai hasil verifikasi balon gub/wagub Malut tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, KPUD Malut siap mempertanggung-jawabkan keputusannya tersebut.KPUD Malut tidak meloloskan pasangan Mudhafar Syah/Rusdi Hanafi yang diusung koalisi PPP dan sejumlah parpol kecil itu, karena salah satu parpol yang mengusungnya, yakni PKPI, juga mengusung pasangan balon lainnya, sehingga jumlah suaranya tidak cukup lagi 15 persen. (*)
Amuk Massa di Lampung, 5 Tewas
PAKUONRATU (Berita Nasional) : Amuk massa kembali memakan korban jiwa. Kali ini terjadi di Kabupaten Way Kanan, Lampung dengan tiga korban jiwa. Ditambah kasus serupa di Kabupaten Lampung Selatan, dalam kurun waktu lima hari sudah lima orang tewas akibat aksi main hakim sendiri.
Peristiwa pertama hari Rabu (22/8-07) menimpa Saleh dan anaknya, Adman, warga Kampung Baru, Kecamatan Negarabatin, Kab. Way Kanan. Rasutan massa dari kampong lain mengeroyok, menembak, lalu membakar keduanya. Saat ditemukan pukul 17.00 WIB, mayat mereka tinggal tulang belulang.
Sehari sebelumnya, sekitar pukul 22.00, seorang pencuri bernama Rudianto juga tewas diamuk massa. Korban adalah warga Kampung Bumiagung, Kecamatan Bumiagung, Kab. Way Kanan.
Pada Sabtu (18/8-07) lalu, dua pencuri sapi di Desa Margoagung, Jatimulyo, Kab. Lampung Selatan, juga tewas diamuk massa. Mereka adalah Suharno (32), warga Desa Jatimulyo dan Tuhono (30), warga Dusun Negeria, Desa Waygalih, Tanjungbintang, Kab. Lampung Selatan.
Kapolsek Pakuonratu Iptu M.N. Yuliansyah, SH., mengatakan pihaknya masih menyelidiki motif di balik amuk massa yang menewaskan bapak dan anak di Kampung Baru, Negarabatin.
“Kejadiannya baru kami ketahui pukul 15.30. Ketika sampai di lokasi pukul 17.00, kedua korban sudah gosong, tinggal tulang belulang saja,” ujar Kapolsek yang wilayahnya meliputi tiga kecamatan: Pakuonratu, Negarabatin, dan Bumiagung.
Informasi sementara yagn ia peroleh, massa yang mengamuk berasal dari kampung lain. “Namun, apa motifnya dan kenapa sampai ada yang memegang senjata, masih kita selidiki,” paparnya.
Untuk peristiwa kedua, Kapolsek mengatakan, korban adalah pencuri di rumah Boiman bin Sunar, warga Kampung Pakuonratu, Kecamatan Pakuonratu, Kab. Way Kanan. Korban Rudianto dan tiga kawannya dipergoki warga. Mereka lari sampai ke perkebunan sawit yang terletak tak jauh dari kampong itu. Rudianto tertangkap massa, sementara tiga kawannya berhasil lolos.
Massa mengamuk dan menghajar Rudianto tanpa ampun. Berdasar catatan medis Puskesmas Pakuonratu, korban menderita patah kaki, luka bacok di kepala dan lengan kanan atas, serta memar di sekujur tubuh.
“Awalnya, warga melihat empat orang yang mencurigakan dengan dua sepeda motor. Yakni Yamaha L2 Super dan Suzuki TRS warna hitam. Mereka hanya berputar-putar di kampung itu,” papar Yuliansyah.
Pencurian yang kerap terjadi belakangan ini membuat warga waspada. Mereka mengintai gerak-gerik keempat orang tersebut. Kecurigaan mereka ternyata beralasan, karena melihat empat orang tadi hendak mendongkel jendela rumah Boiman. Warga pun menyerbu keempat orang mencurigakan tadi. Terjadilah amuk massa(*)
Peristiwa pertama hari Rabu (22/8-07) menimpa Saleh dan anaknya, Adman, warga Kampung Baru, Kecamatan Negarabatin, Kab. Way Kanan. Rasutan massa dari kampong lain mengeroyok, menembak, lalu membakar keduanya. Saat ditemukan pukul 17.00 WIB, mayat mereka tinggal tulang belulang.
Sehari sebelumnya, sekitar pukul 22.00, seorang pencuri bernama Rudianto juga tewas diamuk massa. Korban adalah warga Kampung Bumiagung, Kecamatan Bumiagung, Kab. Way Kanan.
Pada Sabtu (18/8-07) lalu, dua pencuri sapi di Desa Margoagung, Jatimulyo, Kab. Lampung Selatan, juga tewas diamuk massa. Mereka adalah Suharno (32), warga Desa Jatimulyo dan Tuhono (30), warga Dusun Negeria, Desa Waygalih, Tanjungbintang, Kab. Lampung Selatan.
Kapolsek Pakuonratu Iptu M.N. Yuliansyah, SH., mengatakan pihaknya masih menyelidiki motif di balik amuk massa yang menewaskan bapak dan anak di Kampung Baru, Negarabatin.
“Kejadiannya baru kami ketahui pukul 15.30. Ketika sampai di lokasi pukul 17.00, kedua korban sudah gosong, tinggal tulang belulang saja,” ujar Kapolsek yang wilayahnya meliputi tiga kecamatan: Pakuonratu, Negarabatin, dan Bumiagung.
Informasi sementara yagn ia peroleh, massa yang mengamuk berasal dari kampung lain. “Namun, apa motifnya dan kenapa sampai ada yang memegang senjata, masih kita selidiki,” paparnya.
Untuk peristiwa kedua, Kapolsek mengatakan, korban adalah pencuri di rumah Boiman bin Sunar, warga Kampung Pakuonratu, Kecamatan Pakuonratu, Kab. Way Kanan. Korban Rudianto dan tiga kawannya dipergoki warga. Mereka lari sampai ke perkebunan sawit yang terletak tak jauh dari kampong itu. Rudianto tertangkap massa, sementara tiga kawannya berhasil lolos.
Massa mengamuk dan menghajar Rudianto tanpa ampun. Berdasar catatan medis Puskesmas Pakuonratu, korban menderita patah kaki, luka bacok di kepala dan lengan kanan atas, serta memar di sekujur tubuh.
“Awalnya, warga melihat empat orang yang mencurigakan dengan dua sepeda motor. Yakni Yamaha L2 Super dan Suzuki TRS warna hitam. Mereka hanya berputar-putar di kampung itu,” papar Yuliansyah.
Pencurian yang kerap terjadi belakangan ini membuat warga waspada. Mereka mengintai gerak-gerik keempat orang tersebut. Kecurigaan mereka ternyata beralasan, karena melihat empat orang tadi hendak mendongkel jendela rumah Boiman. Warga pun menyerbu keempat orang mencurigakan tadi. Terjadilah amuk massa(*)