Jika Kosovo bisa, mengapa Palestina tidak?

Oleh John Whitbeck

John Whitbeck, pengacara internasional yang pernah mendampingi tim perunding Palestina, menulis bahwa inilah saatnya pemimpin Palestina yang ada di Ramallah untuk menguji komunitas internasional mengenai kemerdekaan Palestina.


Seperti telah diperkirakan, Kosovo menyatakan deklarasi kemerdekaan unilateralnya sementara Amerika Serikat dan sebagian besar negara Uni Eropa, yang mengkoordinasikan deklarasi ini, segera saja menyampaikan pengakuan diplomatik kepada “negara baru” ini. Siapa pun yang masih menghargai hukum internasional dan akal sehat akan memandang tindakan ini sebagai benar-benar di luar kendali.

Konsekuensi-konsekuensi potensial instabilitas dari preseden ini (yang tanpa penjelasan coba untuk tidak dilihat sebagai preseden oleh AS dan Uni Eropa) telah banyak dibahas dalam kaitan dengan negara-negara lain yang kedaulatan mereka diakui secara internasional tetapi juga yang di dalamnya terdapat gerakan-gerakan separatis yang kuat dan yang mempraktikkan pemerintahan sendiri secara efektif meski tidak stabil; seperti Abkhazia, Ossetia Selatan, Transniestria, Ngorno-Karabakh, Republik Srpska di Federasi Bosnia, Republik Turki di Siprus Utara, dan Kurdi, termasuk minoritas-minoritas yang tidak puas di tempat-tempat lain.

Satu konsekuensi potensial yang konstruktif dari preseden ini belum dibahas.

Ketidaksabaran Amerika dan Uni Eropa untuk mengamputasi satu bagian dari sebuah negara anggota PBB (yang secara universal diakui, bahkan oleh mereka sendiri), tampaknya karena 90 persen mereka yang hidup dalam bagian itu mendukung pemisahan. Namun, ini sangat kontras dengan kesabaran tanpa batas dari AS dan Uni Eropa ketika berhadapan dengan isu bagaimana mengakhiri 40 tahun pendudukan agresif Israel atas Tepi Barat dan Jalur Gaza (tidak ada kedaulatan Israel yang diakui oleh satu negara pun atas satu bagian dari kedua wilayah itu, dan Israel pun hanya menyatakan kedaulatannya atas sebuah bagian kecil, yakni Yerusalem Timur yang diduduki). Nyaris setiap penghuni sah Tepi Barat dan Jalur Gaza menuntut kemerdekaan, yang selama lebih daripada 40 tahun mereka perjuangkan. Namun karena berbuat demikian, mereka dihukum, dijatuhi sanksi, diblokade, dihinakan, dan hari demi hari, dibunuh oleh mereka yang mengklaim berdiri di atas tatanan moral yang tinggi.

Dalam pandangan Amerika dan Uni Eropa, deklarasi kemerdekaan Kosovo dari kedaulatan Serbia haruslah diakui, bahkan meski Serbia tidak sepakat. Namun demikian, perilaku mereka secara radikal berbeda ketika Palestina mendeklarasikan kemerdekaan dari pendudukan Israel pada 15 November 1988, saat itu AS dan negara-negara UE (yang dalam pandangan mereka sendiri membentuk “komunitas internasional”, dengan mengecualikan sebagian besar umat manusia) secara jelas tidak termasuk dalam lebih daripada 100 negara yang mengakui negara baru Palestina, dan karena mereka tidak mengakui, maka deklarasi kemerdekaan itu menjadi semata “simbolik”; sungguh suatu ketidakberuntungan bagi orang-orang Palestina.

Menurut AS dan UE, agar bisa diakui, maka kemerdekaan Palestina harus secara langsung dinegosiasikan di atas sebuah basis bilateral yang sangat tidak sederajat antara kekuatan pendudukan dan rakyat yang diduduki, dengan penekanan pada pencapaian kesepakatan final yang menguntungkan kekuatan pendudukan. Bagi AS dan UE, hak-hak dan hasrat dari rakyat Palestina yang lama menderita dan mengalami kebrutalan, serta hukum internasional, tidaklah relevan. Namun pada saat yang sama, AS dan EU memandang etnis Albania, yang menikmati sembilan tahun perlindungan NATO dan pemerintahan PBB, tidak boleh menunggu lebih lama lagi bagi kemerdekaan mereka, sementara orang-orang Palestina, yang telah mengalami pendudukan Israel selama 40 tahun, bisa menunggu untuk selamanya.

Dengan “proses Annapolis” yang tidak menghasilkan apa-apa—karena memang itulah maksud Israel dan Amerika sejak awal—preseden Kosovo memberikan kepada pemimpin Palestina yang berbasis di Ramallah—yang diterima oleh “komunitas internasional” karena dipandang mampu melayani kepentingan-kepentingan Israel dan Amerika—sebuah kesempatan emas mengambil inisiatif, mengatur ulang agenda, dan mengembalikan reputasi mereka yang sudah rusak di mata rakyat mereka sendiri. Jika para pemimpin ini benar-benar percaya, meskipun terdapat banyak bukti yang menyatakan sebaliknya, bahwa solusi “dua negara” masih mungkin, maka inilah momen ideal untuk menegaskan kembali eksistensi legal (bahkan meskipun harus berada di bawah pendudukan yang brutal) Negara Palestina, secara eksplisit di seluruh 22 persen wilayah Mandat Palestina yang tidak dijajah dan diduduki oleh negara Israel sebelum 1967, dan untuk menyerukan kepada negara-negara yang tidak menyampaikan pengakuan diplomatik kepada Negara Palestina pada 1988—lebih khusus AS dan negara-negara UE—untuk memberi pengakuan mereka sekarang.

Pemimpin Kosovo telah menjanjikan perlindungan kepada minoritas Serbia di Kosovo. Pemimpin Palestina bisa menjanjikan sebuah periode waktu yang cukup bagi para kolonis Israel yang tinggal secara ilegal di Negara Palestina, dan pasukan pendudukan Israel, untuk menarik mundur, dan juga mempertimbangkan sebuah kerja sama ekonomi dengan Israel, membukan perbatasan dan status tinggal permanen bagi para pemukim Yahudi ilegal yang berkeinginan untuk hidup secara damai di bawah pemerintahan orang-orang Palestina.

Tentu saja, untuk mencegah AS dan UE agar tidak menganggap inisiatif tersebut sebagai sebuah lelucon, akan ada sebuah konsekuensi signifikan dan eksplisit jika mereka melakukan hal itu. Konsekuensi itu akan berupa berakhirnya ilusi “dua negara”. Pemimpin Palestina harus menegaskan bahwa jika AS dan UE, yang telah mengakui negara kedua etnis Albania di atas wilayah berdaulat dari sebuah negara anggota PBB, kini tidak mengakui sebuah negara Palestina di atas bagian kecil dari tanah air Palestina yang diduduki, maka tindakan itu akan membubarkan Otoritas Palestina (yang semestinya secara legal sudah bubar pada 1999, akhir dari lima tahun “periode sementara” yang ditetapkan Kesepakatan Oslo) dan kemudian rakyat Palestina akan menuntut keadilan dan kemerdekaan melalui demokrasi dan perjuangan bagi hak kewarganegaraan secara penuh dalam sebuah negara tunggal di seluruh Israel/Palestina, bebas dari diskriminasi apa pun berdasarkan ras dan agama serta dengan hak-hak yang setara bagi semua yang hidup di sana.

Pemimpin Palestina sudah terlalu lama menoleransi kemunafikan dan rasisme Barat serta memainkan peran yang pandir. Inilah saatnya untuk membalikkan meja secara konstruktif, dan mengejutkan komunitas internasional agar memperhatikan fakta bahwa rakyat Palestina tidak akan menoleransi ketidakadilan dan kekerasan lebih lama lagi.

Jika tidak sekarang, kapan?

* penulis adalah pengacara internasional dan penulis buku The World According to Whitbeck.

72 Jenis Puaka Kaum Ibrani

Setiap bangsa memiliki kepercayaan terhadap hantu mengikut versi, budaya masing-masing. Jika masyarakat Melayu terkenal dengan jin yang menyerupai hantu seperti pontianak,hantu raya, pocong atau toyol; masyarakat Barat terutama kaum Ibrani kuno mengenali 72 jenis puaka atau jin yang wujud dalam kepercayaan mereka.

Pengkaji paranormal dari pasukan Penyiasatan Lokasi Paranormal (PSI), Jamie Surina Hisham, berkata mengikut kepercayaan masyarakat itu, 72 jin terbabit adalah ketua utama yang memerintah pasukan tentera syaitan untuk berkeliaran melakukan angkara
di muka bumi.

Beliau berkata, setiap puaka itu mempunyai kepakaran dan 'kesaktian' tertentu antaranya memukau, menyihir, menjelma membentuk sesiapa atau apa saja selain menggunakan pelbagai kekuatan magis untuk mempengaruhi pemikiran manusia seterusnya menyesatkan mereka daripada kebenaran.

"Mengikut mitos kaum terbabit, semua jin atau puaka ini pada asalnya dikurung Raja Solomon dalam tujuh bekas berasingan di sebuah kuil purba di Jerusalem pada ribuan tahun lalu. Akan tetapi apabila tentera Romania datang ke kuil itu, mereka menemui bekas terbabit lalu membukanya menyebabkan semua jin yang terperangkap itu akhirnya bebas sehingga kini," katanya.

Jamie berkata, berikutan jin terbabit memiliki kekuatan sihir dan magis, ada antara puaka terbabit yang dipuja pihak tertentu dalam ritual songsang selain diseru ahli sihir kononnya bagi mendapatkan bantuan makhluk ghaib terbabit. "Antaranya Aaron C Donahue, seorang ahli sihir yang mengaku memiliki kebolehan untuk melihat ke 'alam lain' malah dia juga mendakwa pernah menyeru kebanyakan puaka terbabit untuk muncul di hadapannya," katanya.

Beliau berkata, pihak PSI kini mengadakan kajian mengenai pengaruh budaya dalam sesuatu masyarakat sehingga wujudnya pelbagai tanggapan berlainan mengenai jenis hantu antara suatu kaum dengan kaum yang lain.
"Kajian kami mendapati terdapat 99 mitos hantu dalam masyarakat Melayu manakala bagi kaum Ibrani ini pula, terdapat 72 mitos hantu atau puaka yang dipercayai mereka; setiap bangsa memiliki hantu mengikut versi budaya masing-masing yang jelas berbeza
dengan hantu bangsa lain," katanya.

Kedua-dua kajian mengenai hantu itu iaitu 'Mitos 72 Jin Solomon' yang berdasarkan kepercayaan kaum Ibrani selain 'Kajian 99 Makhluk Halus' yang wujud di alam Melayu, bakal diterbitkan PSI tidak lama lagi. Jamie berkata, antara puaka yang dipercayai kaum Ibrani termasuk masyarakat Barat
ialah:

d Bael -
Bael adalah puaka yang tidak gemar bekerja di bawah sesiapa. Ahli sihir silam yang mendakwa kononnya Bael pernah muncul di hadapan mereka menggambarkan puaka itu memiliki tiga kepala iaitu manusia, kucing dan katak, berkaki labah-labah dan bersuara garau. Ia memiliki kuasa mengghaibkan dirinya dan pengikutnya. Bael adalah raja di timur dan menguasai 66 pasukan tentera syaitan.

d Agares -
Puaka ini dikatakan berkuasa menyebabkan gempa bumi, membekukan sesuatu yang sedang bergerak dan memukau seseorang sehingga menganggap manusia yang menjadi pengikutnya dipandang mulia dan memahami pelbagai bahasa. Ia menguasai 31 pasukan tentera syaitan dan digambarkan menjelma di hadapan ahli sihir sebagai seorang lelaki tua kurus yang memegang burung dan menunggang buaya.

d Vassago -
Digelar 'Raja Ramal' kerana kononnya berkuasa meramal masa hadapan, membantu pengikutnya mengesan harta karun dan mencungkil rahsia lampau. Vassago digambarkan memiliki perwatakan nakal, suka menukar rupa, bentuk dan menyakat sesiapa yang menyerunya.

d Marbas -
Berkebolehan mengubah rupa bentuk sesiapa yang berada di sekelilingnya seperti menukarkan manusia kepada serigala atau beruang, mengetahui rahsia terpendam, menyebabkan penyakit menular serta mampu mengubatinya. Apabila diseru, ia menjelma sebagai seekor kucing besar atau singa selain rupa seorang lelaki.

d Valefor -
Dikenali sebagai puaka yang amat jahat, memiliki sikap yang kurang disenangi dan penuh dengan muslihat. Menjelma sebagai singa berkepala keldai. Pakar dalam ilmu mencuri dan menjadi pendorong dan penghasut supaya seseorang mencuri.

d Amon -
Orang Mesir purba dikatakan menyembah Amon dan ia digambarkan sebagai lelaki berkepala burung selain serigala berekor ular. Bersifat licik dan gemar memanipulasi sehingga menyebabkan manusia menganggap ia sebagai 'tuhan'.

d Paimon -
dikatakan puaka yang amat berbahaya dan berkuasa di kalangan jin. Menguasai 200 pasukan tentera. Ahli sihir silam mengatakan Paimon adalah jin yang amat sukar untuk diseru. Ia menjelma sebagai manusia yang memakai mahkota dan diiringi tenteranya selain muzik tertentu akan berkumandang. Berkuasa menjadikan seseorang itu berpengaruh dan bermartabat.

d Gusion -
Menjelma sebagai lelaki bertubuh sasa dan memakai jubah kuning, bercakap dengan lembut dan tenang serta kelihatan baik. Berkebolehan menjawab segala persoalan lampau dan masa hadapan. Menguasai lebih 45 pasukan tentera.

d Sitri -
Berkuasa membangkitkan nafsu seks dan menghasut supaya manusia bertelanjang dan melakukan hubungan kelamin. Digambarkan menjelma sebagai makhluk berkepala harimau dan bersayap.

d Beleth -
Menguasai 85 pasukan tentera. Menjelma sebagai seorang kesatria yang menunggang kuda pucat dan diiringi muzik tertentu, mulutnya mengeluarkan api. Antara jin yang sukar diseru.

d Lerie -
Suka menghasut sehingga berlakunya perang dan menyebabkan kecederaan yang dialami sesiapa saja ketika perang tidak akan sembuh selagi Lerie tidak beredar. Cara terbaik adalah memotong bahagian yang cedera atau mati. Menguasai 30 pasukan tentera. Menjelma sebagai seorang pemanah kacak.

d Bathin -
Berkuasa memindahkan seseorang ke tempat atau ke negara lain. Menjelma sebagai lelaki gagah berekor ular yang menunggang kuda pucat. Menguasai 30 pasukan tentera.

d Ipos -
Digelar 'Putera Helah' dan menjelma sebagai jin yang memiliki kepala singa dan berkaki angsa. Seseorang yang dikuasai Ipos akan lebih gemar bergaduh daripada bercakap. Menguasai 36 pasukan tentera dan berkuasa menjadikan seseorang itu cerdas dan berani.

FAKTA: Makhluk ghaib

Puaka, syaitan dan hantu sebenarnya adalah jin yang jahat manakala ketuanya adalah Iblis. Selain puaka yang diterangkan, jin lain yang dipercayai kaum Ibrani adalah Samigina, Barbatos, Eligos, Zepar, Botis, Sallos, Purson, Morax, Aim, Naberius, Glasya-Labolas, Bune, Ronove, Berith, Astaroth, Forneus, Foras, Asmodeus, Gaap, Furfur, Marchosias, Stolas, Phenex, Halphas, Malphas, Raum, Focalor, Vepar, Sabnock, Shax, Vine, Bifrons, Uvall, Haagenti, Crocell, Furcas, Balam, Alloces, Caim, Murmur, Orobas, Gremory, Ose, Amy, Orias, Vapula, Zagan, Buer, Volac, Andras, Haures, Andrealphus, Cimejes, Amdusias, Belial, Decarabia, Seere, Dantalion, Andromalius

Sekali lagi “Laptop Kematian” (Laporan IAEA Februari 2008 tentang Program Nuklir Iran)

Pada 22 Februari 2008, IAEA merilis laporan terbarunya tentang program nuklir Iran. Berikut ringkasan substansi dari laporan tersebut beserta analisis singkatnya:

Paragraf 4-35: menunjukkan bahwa “isu-isu utama” (outstanding issues) terkait program nuklir Iran yang didaftarkan dalam kesepakatan Agustus 2007 (antara Iran-IAEA) dinyatakan “bersih” dari kemungkinan penyimpangan ke arah proliferasi senjata nuklir. Laporan sebelumnya pada November 2007 telah “menuntaskan” 9 isu utama dan laporan kali ini menuntaskan sisanya, termasuk perihal tambang uranium di Gchine, eksperimen polonium, dan metal uranium.

Karena kesepakatan Agustus 2007 menyatakan secara ekspilisit bahwa tidak ada lagi “isu utama” terkait program nuklir Iran di luar isu-isu yang telah didaftarkan, maka konsekuensinya laporan IAEA Februari 2008 telah menyatakan bahwa seluruh aktivitas masa lalu program nuklir Iran “tuntas” dan “bersih”.

Paragraf 35-42: membahas “dugaan tentang adanya studi-studi terkait roket ulang-alik (reentry vehicle) yang mungkin digunakan untuk membawa hulu ledak nuklir”. Dugaan ini diperoleh dari apa yang disebut para analis sebagai “Laptop Kematian” (Laptop of the Death).

Dengan paragraf-paragraf sebelumnya yang menunjukkan bahwa segala sesuatu terkait aktivitas masa lalu nuklir Iran “bersih” dari penyimpangan, maka satu-satunya pengecualian adalah “dugaan tentang adanya studi-studi ini”. “Dugaan” ini menuding Tehran menjalankan sesuatu yang dinamakan “Proyek Garam Hijau” (Green Salt Project) dan berhubungan dengan klaim-klaim bahwa Iran berupaya mengembangkan rancangan roket ulang-alik (reentry vehicle) yang mungkin digunakan untuk membawa hulu ledak nuklir, bukan rancangan hulu ledak nuklir (nuclear warhead) sebagaimana diklaim William J. Broad dan David E. Sanger dari the New York Times dan kemudian banyak dikutip media).

IAEA menyatakan keberadaan studi-studi itu sebagai semata “dugaan” karena semuanya hanya berdasarkan atas “informasi intelijen” yang diperoleh Amerika Serikat dari apa yang dinamakan “Laptop Kematian”, sebuah komputer jinjing yang dilaporkan diselundupkan keluar Iran oleh seorang pembangkang asal Iran.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun “dugaan” ini sudah lama disampaikan Amerika, informasinya baru diserahkan kepada IAEA pada 15 Februari 2008, tujuh hari sebelum laporan IAEA dirilis.

Julian Borger, editor diplomasi dari the Guardian, pernah mengulas tentang keraguan banyak kalangan akan kredibilitas “laptop” ini:

“Satu isu khusus yang kontroversial berkaitan dengan catatan tentang rencana untuk membangun sebuah hulu ledak nuklir, yang CIA katakan didapat dari sebuah komputer jinjing curian yang dipasok oleh seorang informan di Iran. Pada Juli 2005, pejabat-pejabat intelijen AS menunjukkan versi cetak dari materi tersebut kepada pejabat-pejabat IAEA. Para pejabat intelijen AS itu menilai hal ini cukup spesifik untuk menghadapi Iran.

Paling pertama, jika anda memiliki sebuah program rahasia, maka anda tidak akan menyimpannya di dalam laptop yang bisa saja hilang,’ kata seorang pejabat (IAEA). ‘Semua datanya dalam bahasa Inggris yang mungkin masuk akal karena beberapa alasan teknis, tetapi pada beberapa hal anda akan berpikir semestinya paling tidak ada beberapa catatan dalam bahasa Farsi. Jadi, ada beberapa keraguan mengenai kredibilitas komputer ini.’

Pejabat IAEA itu, seperti dikutip Borger, juga mengatakan bahwa sebagian besar ‘informasi rahasia’ yang diberikan AS kepada IAEA mengenai lokasi-lokasi rahasia senjata nuklir menemui jalan buntu ketika diinvestigasi oleh para pengawas IAEA.

Selain itu, Jeffrey Lewis dari Nuclear Strategy and Nonproleferation Initiative pada The New American Foundatioan (dalam Arm Control Wonk), David Albright dari Institute for Science and International Security, dan Paul Kerr dari Arm Control Association (dalam Arm Control Today), menyatakan bahwa informasi yang tersimpan dalam laptop tersebut bukanlah tentang “hulu ledak nuklir” tapi “roket ulang-alik bagi rudal yang mungkin digunakan untuk membawa hulu ledak nuklir”.

Untuk lebih jelasnya, David Albright menjelaskan:

“Pada 13 November 2005, artikel New York Times “Relying on Computer, US Seeks to Prove Iran’s Nuclear Aims” memiliki satu kesalahan yang dalam dan menyesatkan. William J. Broad dan David E. Sanger berulangkali menjelaskan bahwa file-file komputer berisikan informasi menganai sebuah hulu ledak nuklir padahal informasi yang sebenarnya menjelaskan perihal roket ulang-alik (reentry vehicle) bagi sebuah rudal. Perbedaannya tidaklah kecil, Broad seharusnya paham perbedaan di antara kedua objek tersebut, terutama ketika informasi itu sama sekali tidak berisikan kata-kata seperti nuklir atau hulu ledak nuklir. ‘Kotak hitam’ yang dibawa oleh roket ulang-alik itu mungkin tampak seperti sebuah hulu ledak nuklir, tetapi dokumen bersangkutan tidak menyatakan apa hulu ledaknya...

...pertanyaan penting yang disisihkan oleh penyesatan dari penggunaan frase hulu ledak nuklir dalam artikel tersebut adalah apakah Iran mampu membangun sebuah hulu ledak nuklir yang relatif kecil agar sesuai dengan ukuran roket ulang-aliknya yang terlihat dalam foro-foto uji coba rudal-rudalnya pada 2004. Berdasarkan foto-foto 2004 itu, hulu ledak nuklir Iran harus berdiameter sekitar 600 milimeter. Mencapai diameter seperti itu bukanlah hal mudah bagi Iran. Sebagai contoh, diamter hulu ledak dalam rancangan yang diberikan kepada Libya (dan mungkin Iran) oleh A.Q. Khan adalah sekitar 900 milimeter. Sebuah pertanyaan yang sah adalah apakah Iran mampu membangun sebuah hulu ledak nuklir yang demikian kecil tanpa bantuan pihak luar?”

Pendek kata, Albright ingin mengatakan dua hal.

Pertama, “Laptop Kematian” hanya berisikan informasi tentang rancangan roket ulang-alik (reentry vehicle) yang juga digunakan untuk senjata konvensional, dan bukan hanya hulu ledak nuklir. Alhasil, informasi dalam laptop itu tidak bisa secara langsung dikaitkan dengan persoalan senjata nuklir.

Kedua, rancangan hulu ledak nuklir oleh A.Q. Khan yang diberikan kepada Libya (dan mungkin juga kepada Iran) mensyaratkan diameter sekitar 900 milimeter sementara diameter rudal Shahab 3 (rudal terbaru Iran yang diuji coba pada 2004) tidak lebih daripada 600 milimeter.

Apakah Iran akan mampu menghasilkan hulu ledak berdiameter sekecil itu agar sesuai dengan rudalnya? Ketiga saintis senjata pemusnah massal di atas sama-sama menjawab, “hampir tidak mungkin”.

Lalu apa kata IAEA tentang “Laptop Kematian” ini. Dalam paragraf 54, IAEA menyatakan:

Namun demikian, harus dicatat bahwa agensi (IAEA) tidak mendeteksi penggunaan material nuklir dalam kaitan dengan “dugaan tentang studi-studi” tersebut, dan juga tidak memiliki informasi yang bisa dipercaya berkaitan dengan hal ini.”

Paragraf 43-49: menunjukkan bahwa aktivitas-aktivitas nuklir yang sedang berjalan tetap berada dalam pengawasan IAEA. Aktivitas-aktivitas pengayaan uranium dan reproses yang sedang dilakukan Iran berada dalam pengawasan dan pemeriksaan IAEA, dan bahkan beberapa di antaranya dilakukan secara mendadak atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Paragraf 50: dalam paragraf ini, IAEA meminta Iran untuk kembali menyediakan bagi IAEA informasi-informasi tambahan meskipun tidak ada kewajiban legal yang menuntut hal demikian. Sebelumnya, Iran pernah melampaui kewajiban-kewajiban legalnya dengan memberikan kepada IAEA waktu yang lebih awal terkait dengan rencana pembangunan fasilitas-fasilitas nuklir yang baru. Ini adalah tindakan sukarela yang dilakukan Iran untuk menunjukkan niat baiknya. Namun setelah negosiasi dengan Uni Eropa mengalami kegagalan karena Uni Eropa tidak memenuhi janji mereka dalam Kesepakatan Paris, Iran memutuskan untuk mengakhiri tindakan sukarela ini dan membatasi diri dengan memberikan informasi yang diwajibkan oleh IAEA saja.

Paragraf 51: mengatakan bahwa bahan bakar nuklir untuk reaktor di Bushehr yang diimpor dari Rusia berada dalam pengawasan IAEA, dan tidak ada yang mencurigakan terkait hal ini.

Paragraf 52: menyatakan bahwa Iran terus menaati kewajiban terkait traktat NPT. IAEA terus memverifikasi bahwa tidak ada material nuklir yang diselewengkan untuk penggunaan militer. Ini adalah sebuah pernyataan yang berimplikasi signifikan. Artinya, Iran tetap menaati traktat NPT. Tanpa adanya penyimpangan dari material nuklirnya, maka tidak ada pelanggaran oleh Iran terhadap NPT. Jika demikian, terkait dengan syarat-syarat dalam Pasal XII.C dari Statuta IAEA dan Pasal 19 Kesepakatan Pengawasan (safeguards agreement), maka tidak ada basis hukum yang sah untuk mengajukan program nuklir Iran kepada DK-PBB.

Paragraf 53: berisikan kesimpulan bahwa segala sesuatu terkait aktivitas-aktivitas masa lalu nuklir Iran adalah “bersih” dan program nuklir Iran yang sedang berjalan tetap berada dalam pengawasan IAEA, dengan tidak adanya bukti mengenai program senjata nuklir.

Paragraf 55, 57: seperti biasanya, IAEA meminta Iran untuk meratifikasi Protokol Tambahan sehingga IAEA bisa memastikan secara penuh bahwa program nuklir Iran berstatus damai. Ini karena IAEA hanya bisa memastikan “status damai” bagi negara-negara yang telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Tambahan (protokol ini bersifat sukarela dan tidak memaksa—AS dan Rusia sama-sama belum meratifikasi protokol ini).

Namun demikian, IAEA mencatat bahwa Iran secara sporadis telah memberikan informasi-informasi yang hanya diwajibkan dalam Protokol Tambahan. Artinya, meskipun tidak meratifikasi Protokol Tambahan, Iran telah menerapkan sebagian protokol tersebut walaupun secara sporadis.

Patut pula diperhatikan bahwa Iran secara sukarela telah menerapkan Protokol Tambahan pada masa lalu selama 2 tahun, yang selama itu pula tidak pernah ditemukan bukti tentang program senjata nuklir. Iran pun berjanji akan meratiifikasi Protokol Tambahan tepat ketika kasus program nuklirnya dikeluarkan dari DK-PBB (bandingkan dengan Mesir yang sepenuhnya menolak Protokol Tambahan).

Paragraf 56: memberikan informasi bahwa Iran melanjutkan aktivitas pengayaannya meskipun tiga resolusi DK-PBB menuntutnya untuk membekukan aktivitas itu. Aktivitas pengayaan ini adalah sah berdasarkan atas NPT yang belum pernah dilanggar Iran. Sementara resolusi-resolusi DK-PBB diragukan legalitasnya oleh banyak ahli hukum internasional karena melanggar hak absolut sebuah negara terkait NPT.

Rencana Baru Israel untuk Serang Lebanon

oleh Allan Nairn*

Minggu lalu, saya bertanya kepada seorang figur puncak Israel, seorang bekas perwira unit khusus IDF (Israel Defense Forces) dan orang dekat perdana menteri, apakah mungkin pembunuhan Imad Mughniyah dari Hizbullah telah dilakukan oleh satu kelompok Lebanon.

Dia menolak ide absurd tersebut. Cara ini "terlalu canggih,' katanya. "(Bom mobil) ini jelas dilakukan oleh sebuah operasi internasional," dan ini merupakan "kali yang ketiga atau keempat atau kelima dalam satu tahun Israel melakukan operasi militer di Suriah."

Ketika saya bertanya kepadanya untuk mengulangi bagian terakhir (dari pernyataannya tadi), ia menammbahkan kata "diduga".

Namun pesannya, atau setidaknya rasa bangganya, adalah jelas. Lalu, mengapa Israel melakukan hal ini?

Pria itu berkata tentang para koleganya, "Terdapat banyak personil militer dan kabinet Israel yang sangat mendambakan (perang) putaran kedua dengan Lebanon. Jika diberikan kesempatan, mereka akan mengambilnya," yakni menyerang Lebanon lagi, bukan meskipun "tetapi karena" persepsi bahwa serangan mereka pada 2006 mengalami kegagalan.

Meskipun IDF menghujani blok-blok dan desa-desa (Lebanon) dengan 4 juta bom kluster (beberapa di antaranya kini masih meledak), dan membunuh sekitar 200 pejuang Hizbullah dan 1000 warga sipil Lebanon (kira-kira 40 warga sipil Israel tewas akibat serangan balasan Hizbullah), mereka tampaknya meninggalkan Lebanon dengan perasaan politis yang tidak memuaskan.

Perasaan resmi (Israel) adalah bahwa mereka tidak cukup menghancurkan, atau tidak cukup menghancurkan orang-orang dan item-item yang tepat, untuk menghindari persepsi memalukan bahwa mereka telah kalah melawan Hizbullah.

Sebagai opsi untuk menyelesaikan problem ini, mereka tampaknya mengambil sebuah pembunuhan provokatif sebagai langkah untuk mengarahkan Hizbullah untuk melakukan pembalasan dan menyediakan bagi mereka dalih bagi penghancuran yang baru--sekaligus lebih baik--yang kali ini akan "berhasil", yakni demi mengobati sakit hati Israel.

Terdapat upaya-upaya untuk meletakkan hal ini dalam term-term strategis, sebagaimana yang disukai para pembunuh terdidik (atau orang-orang yang mempelajari mereka). 'Israel harus membuktikan nilai strategisnya kepada Amerika Serikat' (Apa? Washington hendak menyingkirkan Israel? "Kemenangan" Hizbullah memperkuat orang-orang Palestina, atau Lebanon, atau menempatkan eksistensi Israel dalam bahaya?) Atau, alternatifnya: 'Hizbullah harus dilenyapkan' (dimana setiap orang tahu ini tidak mungkin).

Pada kenyataanya, semakin dekat anda melihat, maka semakin tampak bahwa ini seperti psikoterapi darah para pemimpin (Israel). Dan hal yang sama berlaku bagi publik yang mengikuti mereka. Olmert berada dalam kesulitan politis. Jika dia tidak segera membunuh beberapa orang Arab (siapa dan di mana adalah hal sekunder), maka pemerintahan koalisinya mungkin akan bubar. Dan publik juga harus merasa senang.

Problemnya adalah bahwa institusi politik Israel kini menetapkan cara ini: bukan hanya menuntut pembunuhan rutin orang-orang Palestina, tetapi sebuah serangan periodik yang dramatis sehingga membiarkan mereka tampil sebagai pahlawan/korban.

Adalah satu hal bagi sebuah negara untuk membunuh dan/atau menindas yang lain ketika publik lokalnya tidak mengetahui hal tersebut (seperti kasus ketika Washington menghancurkan sebagian besar Amerika Tengah pada 1980-an), tetapi adalah hal yang berbeda ketika publik tahu dan bahkan mendukung ketidakadilan dan kejahatan (seperti kasus perbudakan kaum kulit putih AS, dan fase pertama dari perang Irak).

Dalam situasi yang pertama, kebijakan pembunuhan jelas lemah. Jika kata-kata muncul, maka publik akan marah. Namun dalam situasi yang kedua, ia lebih stabil, mematikan karena publik tahu dan bahkan meminta lebih.

Namun publik dan negara-negara tidak seluruhnya menulis sejarah mereka sendiri. Mereka biasanya berinteraksi dengan yang lain.

Dalam kasus Israel, interaksi kunci adalah dengan AS, penjamin militer/pendukung massa mereka, dan juga dengan Yahudi-Amerika.

Di sisi lain, orang-orang Palestina dan kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas harus berhenti membiarkan diri mereka digunakan sebagai sebuah tombol "provokasi-respon" yang bisa Israel tekan kapan pun ia menghendaki sebuah kejutan.


Alan Nairn adalah jurnalis investigatif AS yang memenangi beberapa penghargaan. Dia terkenal ketika dipenjarakan militer Indonesia ketika meliput Timor Timur.

Tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari buletin politik CounterPunch.

Bersihar Lubis Divonis Satu Bulan

JAKARTA (Berita Nasional) : Kolumnis Bersihar Lubis divonis hukuman satu bulan dengan masa percobaan tiga bulan tanpa harus menjalani masa tahanan. "Jika vonis tidak memuaskan terdakwa melalui kuasa hukum dapat mengajukan banding" ujar Suwidya, Ketua Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Depok hari ini.

Pembacaan vonis dilakukan secara bergantian oleh anggota majelis hakim, yakni Budi Prasetyo SH, Ronald SH dan diakhiri oleh Suwidya. Dalam vonis itu Bersihar disebut melanggar pasal 207 KUHP tentang penghinaan institusi Kejaksaan Agung melalui artikelnya berjudul "Kisah Interogator yang Dungu" yang dimuat oleh Koran TEMPO edisi Sabtu,17 maret 2007.

Menurut Suwidya, vonis itu dijatuhkan karena Bersihar menulis opini dan bukan berita. opini bukanlah berita yang menjadi tanggung jawab redaksi, namun sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. "Undang-undang pers yang sifatnya lex spesialis tidak dapat digunakan dalam kasus Bersihar" ujar Suwidya dalam persidangan itu.

Seusai vonis dibacakan, Abu Said Pelu, anggota tim kuasa Hukum terdakwa yang tergabung dalam Tim Pembela Kebebasan Berpendapat (PKB) menyatakan vonis itu merobek-robek rasa keadilan masyarakat dan mengancam kebebasan pers yang menjadi sendi demokrasi. "Kami mengajukan banding" ujar Hendrayana, anggota kuasa hukum lainnya.

Sidang itu diwarnai aksi demo oleh puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-R) Jakarta dan didukung oleh Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Depok. Mereka menuntut agar kebebasan berpendapat yang dijamin oleh UUD 45 pasal 28 tidak diancam oleh KUHP.

Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO Toriq Hadad yang hadir di PN Depok melebur bersama para demonstran. Dalam orasinya dia menyerukan, "Jangan sampai vonis hakim melanggar konstitusi."

Diwarnai Demo Wartawan

Depok - Sejam sebelum pembacaan vonis, puluhan wartawan demo meminta kolomnis Bersihar Lubis dibebaskan. 'Mega' dan 'JK' tidak ketinggalan ikut memberikan dukungan.

Sekitar 30 wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Reformasi, Kelompok Kerja Wartawan Depok menggelar unjuk rasa di halaman Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jalan Boulevard Kota Kembang, Depok, Jawa Barat, Rabu (20/2/2008) pukul 10.00 WIB.

Para wartawan meminta PN Depok memvonis bebas Bersihar. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan "Bebaskan Bersihar Lubis. Tolak kriminalisasi pers" dan poster-poster antara lain bertuliskan "Jangan bungkam kebebasan beropini", "Jangan adili kebebasan berpendapat", dan "Tulisan balas tulisan."

Aksi diisi orasi dari masing-masing perwakilan wartawan. "PN Depok jangan sampai tercatat sebagai salah satu pengadilan yang mengkriminalisasi wartawan," kata salah seorang orator.
Bersihar yang mengenakan jaket hitam dan celana hitam ini tampak bergabung dan berdiri di antara para wartawan. Tampak juga Megakarti dan Jarwo Kwat alias 'JK' -- pejabat Republik Mimpi -- pun ikut hadir.

Megakarti mengenakan blus hitam, celana panjang hitam dan rompi merah. Sedangkan 'JK' mengenakan kemeja putih bermotif kotak-kotak.

Pada pukul 11.00 WIB, Bersihar pun mendengarkan pembacaan vonis dan aksi wartawan pun berhenti.

Bersihar merupakan kolomnis yang membuat kuping Kejagung merah dengan tulisannya berjudul "Kisah Interogator yang Dungu" di koran Tempo edisi 17 Maret 2007. Bersihardituntut 8 bulan penjara oleh JPU. (tempointeraktif/detik.com)

Cuaca Buruk Akibatkan Kerugian Nelayan Lampung

BANDAR LAMPUNG (Berita Nasional): Cuaca buruk yang melanda perairan Lampung sepekan terakhir membuat ribuan nelayan tidak melaut. Kondisi ini berpotensi menghilangkan Rp50-an miliar pendapatan nelayan per hari.
Dalam catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, potensi kehilangan pendapatan nelayan di Lampung rata-rata Rp50-an miliar per hari jika mereka tidak melaut. Hitung-hitungan ini didapat dari hasil tangkapan nelayan per hari rata-rata 367,94 ton dengan harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung Untung Sugiatno, kemarin (19-2), produksi tangkapan laut nelayan di Lampung 134,5 ribu ton per tahun. Ini termasuk tangkapan bagan. Sedangkan hasil tangkapan perairan umum nonlaut 11,3 ribu ton per tahun.
Dinas Kelautan tidak bisa memastikan penurunan produksi sepekan terakhir karena laporan hasil tangkapan dari seluruh pelabuhan perikanan belum masuk.

Ribuan nelayan di Lempasing dan Ujung Bom, Telukbetung, menghentikan aktivitas sejak sepekan lalu karena cuaca buruk. Ratusan kapal nelayan sandar di kedua tempat pendaratan ikan itu.

Wardani (30), nelayan kapal Jati Ayu, saat ditemui di TPI Lempasing, mengatakan ombak besar dan angin kencang terjadi 200-an mil dari bibir pantai Teluk Lampung. Perubahan gelombang dan angin kencang itu biasanya terjadi sewaktu akan turun hujan.

Biasanya itu terjadi di laut lepas Labuhan Maringgai, Selat Sunda, sekitar Kalianda sampai Merak, dan sekitar Laut Tabuan sampai Laut Krui, Lampung Barat.

"Untungnya, nelayan Lempasing dan sekitar Teluk Lampung bisa membaca perubahan kondisi laut dan cuaca. Jadinya kami bisa memperkirakan kapal waktu melaut dan kapan masa-masa tidak aman," kata nakhoda kapal nelayan, Zainal Abidin (50).

Menurut Zainal, kalaupun nelayan tetap melaut, itu sudah diperhitungkan bahaya atau apesnya. "Tinggal yang dipikirkan untung ruginya," ujar nelayan yang memiliki anak buah 15 orang ini.
Hasil tangkapan kini berkurang karena kapal tidak bisa menjangkau laut lepas. "Biasanya kami yang punya kapal besar seperti ini melaut hingga beberapa hari. Hasil tangkapan bisa enam sampai delapan ton sekali bongkar. Tetapi, sekarang enggak bisa," kata Zainal.

Ombak dan gelombang tinggi juga membuat jadwal kedatangan kapal di Pelabuhan Panjang terlambat satu hingga dua hari. Manajer Pelayanan dan Jasa PT Pelindo Cabang Panjang, Abdul Muis, mengatakan kebanyakan kapal memilih berlindung di sekitar Pulau Karimun Jawa.

"Kalau kapal besar tidak pengaruh karena masih berani mengarungi laut dengan ketinggian ombak empat hingga lima meter. Artinya, arus ekspor impor dengan kapal besar tidak berpengaruh," kata Muis.(lampungpost)

Ada Jejak Kotor Australias di Timor Leste

Oleh A. Jafar M. Sidik

Greg Sheridan, editor meja sunting internasional The Australian, Kamis (14/2), menulis analisis peran seharusnya Australia di Timor Leste. Bagian paling sensasional dari tulisannya adalah rekomendasi Dewan Keamanan Nasional Australia (NSC) untuk membunuh Mayor Alfredo Reinado pada Februari 2007. Pada 4 Maret 2007, sebulan setelah NSC rapat menentukan nasib Alfredo, pasukan khusus Australia --Special Air Service (SAS)--dengan beberapa helikopter Black Hawk menyisir sebuah hutan dimana Alfredo bermarkas, tetapi meski berhasil membunuh empat pemberontak, si Mayor dan sebagian besar anak buahnya berhasil melarikan diri. Greg menggarisbawahi kegagalan itu sebagai buah dari sikap percaya diri berlebihan tentara Australia yang menganggap remeh Alfredo. Sikap ini sebenarnya adalah refleksi dari sikap umum Australia terhadap Timor Leste dalam segala hal.

Mengenai sikap angkuh dan suka main gertak dari Australia ini sudah menjadi cerita sehari-hari warga Timor Leste, bahkan anak Ramos Horta --Loro Horta-- yang sedang studi program doktor di Universitas Nanyang, Singapura, menyindir arogansi tentara Australia dalam satu tulisan berjudul “Aussies outstay their East Timor welcome” (‘Australia tinggal lebih lama dari yang diizinkan Timor Leste’).

Setelah digerebek SAS, Alfredo yang didikan akademi militer Australia itu berbalik memusuhi tuannya, sekaligus berpaling dari Xanana Gusmao yang dipujanya. Ia merasa, Perdana Menteri Xanana yang menguasakan penggerebekan itu sama berbahayanya dengan Fretelin yang juga ia musuhi. Orang yang kini diharapkannya mendengar adalah Ramos Horta. Presiden peraih Nobel
Perdamaian ini pula yang meminta Australia berhenti memburu Alfredo, sebaliknya membujuk si Mayor "bengal" untuk duduk berdiskusi menyelesaikan sengketa. Sampai kemudian terjadi upaya pembunuhan Presiden Ramos Horta dan PM Xanana, Senin (11/2), yang justru membuat Alfredo tewas menyisakan teka-teki yang menyeret rakyat Timor Leste ke kesalingcurigaan kembali. Seperti dikutip The Australian (15/2) ayah Alfredo, Vitor Alves mengatakan, "Ia turun gunung untuk menuntaskan sesuatu. Saya yakin seratus persen ia tak berencana membunuh Presiden (Ramos Horta)."

Tuduh menuduh pasca `Senin berdarah` itu pun terlontar menyesaki kepala seluruh rakyat Timor Leste yang sudah pening oleh kemelaratan. Xanana yang juga menjadi sasaran pemberontak termasuk yang dituduh terlibat dalam aksi Alfredo itu. Tawaran rekonsiliasi pada Alfredo kabarnya tak dikonsultasikan dengan Xanana karena itu inisiatif Ramos Horta yang dikenal anti kekerasan itu. Seseorang bernama Leidari, aktivis HAM di Bidau, Dili, dalam Timor Online (14/2) mengatakan, "Banyak hal yang telah dibicarakan bersama Ramos Horta dan Alfredo tanpa sepengetahuan Xanana." Rumor juga mengembuskan bahwa Reinado telah dibimbing masuk ke Dili oleh pihak ketiga yang menginginkan pemerintah Ramos-Xanana tumbang.

Sophia Cason, analis International Crisis Group di Dili menyatakan, Alfredo cs `dibeking` elemen-elemen terkuat elite politik Timor Leste. Seperti dikutip Australian Financial Review (14/2) Sophia mengatakan, "Siapa yang membelikan senjata, kendaraan militer, dan membayar tagihan telepon mereka?" Siapa yang dimaksud Sophia? "Hanya Fretelin yang diuntungkan jika Presiden dan PM Timor Leste terbunuh," kata The Australian seolah menjawabkan pertanyaan Sophia. Ironisnya, mantan PM Mari Alkatiri yang dedengkot Fretelin justru menuntut penjelasan pihak keamanan asing, "UNMIT (Misi Menyeluruh PBB untuk Timor Leste) dan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas keamanan negara kita saat ini. Kami menuntut keterangan bagaimana penyusupan keamanan bisa terjadi." Alkatiri tampak mengarahkan tuduhan ke Australia. Tak dinyana, Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste Brigadir Jenderal Taur Matan Ruak mengamini tuntutan itu.

Seperti dikutip Sidney Morning Herald (13/2), Matan Ruak mendesak diadakannya satu investigasi menyeluruh guna menjelaskan bagaimana para buron yang wajahnya dikenali baik seantero Timor Leste itu bisa sampai di rumah dua pejabat tinggi negara, padahal Dili dijaga rapat pasukan internasional, termasuk ISF pimpinan Australia. Lagi, kalimat berhenti di kata Australia.

Australia boleh mengelak, tetapi kehadirannya di Timor Leste sejak 1999 adalah kondisi yang membuatnya sulit disebut tidak berkepentingan dalam proses politik di negara termuda itu. Fakta bahwa Timor Leste tak kunjung stabil menuai asumsi bahwa Australia membiarkan kekacauan terjadi sehingga Timor Leste lupa membicarakan hal krusial seperti minyak Laut Timor. Sejumlah laporan malah mengungkap para pemimpin ke dua negara kerap bersitegang kalau sudah menyangkut minyak di Laut Timor. Itu tak hanya Alkatiri, tapi juga Xanana, bahkan Ramos Horta.

Celah Timor

Australia di bawah PM John Howard pernah jengkel setengah mati pada Alkatiri karena politisi senior keturunan Arab ini menuntut renegosiasi bagi hasil eksplorasi minyak sehingga mengancam keuntungan Australia. Konon, jatuhnya Alkatiri dari pemerintahan pada 2006 yang menjadi prolog untuk sebuah pemilu yang dipercepat, tak lepas dari skenario Australia. Tidak heran, sampai sekarang Fretelin dan Alkatiri masih dendam pada Australia. Mereka juga menganggap Xanana turut mengaransemen kejatuhan mereka sehingga pemerintahan sekarang dianggap tak lebih dari perpanjangan tangan asing. Keyakinan ini tertanam dalam-dalam pada rakyat Timor Leste yang memang gampang terprovokasi, bahkan Alfredo Reinado yang membenci setengah mati Fretelin pun berbalik memusuhi Xanana.

Australia juga tak menyukai Alkatiri dan Fretelin karena mereka kiri. Alasan kiri pula yang membuat Australia --juga Amerika Serikat--memprovokasi Indonesia untuk menginvasi Timor Timur pada 1975. Alasan sejatinya, Australia menyimpan cinta ke minyak Laut Timor tapi kandas terhalang penguasa kolonial Portugis yang kiri, terutama dalam menentukan batas di Laut Timor. Ketika Portugis keluar dari Timtim pada 1975 dan Indonesia mengintegrasikan wilayah itu sebagai provinsi ke-27, Dubes Australia di Jakarta Richard Woolcott mengirim telegram rahasia ke pemerintah pusat di Canberra. Seperti terungkap dalam Majalah Prancis, Le Monde Diplomatique, edisi Desember 2004 Richard mengatakan, "Soal batas laut yang tertunda itu akan lebih bisa dirundingkan dengan Indonesia ketimbang dengan Portugal atau Timor Portugis yang merdeka."

Hasrat Australia ke Laut Timor pun tersalurkan, namun tak seperti ke Timor Leste sekarang, Indonesia bukan mitra yang bisa dibodohi. Novelis, jurnalis dan pembuat film dokumenter, Andre Vltchek dalam artikel “East Timor: Australia's Shame” itu mengatakan, "Akan lebih gampang 'mengibuli` negara kecil yang lemah daripada berhadapan dengan negara besar berpenduduk keempat terbanyak di dunia (Indonesia)." Australia pun berusaha low profile dalam memeroleh konsesi di Celah Timur. Kasarnya, biar Indonesia yang belepotan darah dan berbusa-busa di panggung diplomasi, yang penting Australia mendapat kenikmatan di Celah Timor. Begitu Timtim merdeka, Australia membuka belangnya. Seolah takut didahului hantu, negeri itu buru-buru mengajak Timor Leste untuk menandatangani pakta eksplorasi minyak dan gas di Celah Timor. Ditetapkanlah 90 persen bagian dari total hasil pengusahaan tambang di "kawasan operasi bersama" di anjungan Bayu-Undan untuk Timor Leste, sedangkan 10 persen lagi untuk Australia.

Semua orang melihat, mulia sekali Australia. Tak tahunya, di balik `kemurahan` itu, ladang minyak dan gas yang jauh lebih besar yaitu Greater Sunrise dan Laminaria-Corallina, tidak dimasukkan dalam isi perjanjian. Keduanya dioperasikan penuh Australia, padahal menurut hukum internasional itu ada di teritori internasional dimana Timor Leste berhak memperoleh bagian. Yang mengenaskan adalah Australia sudah menikmati untung dari Greater Sunrise dan Laminaria-Corallina begitu Indonesia angkat kaki dari Timor Timur. Merasa ketimpangan kian menyolok, para pemimpin Timor Leste, yang paling keras adalah Mari Alkatiri, mendesak perundingan mengenai Celah Timor direvisi. Sementara Xanana Gusmao yang waktu itu Presiden berencana mengajukan batas landas kontinen baru ke arbitrase internasional.

James Ensor, Direktur Kebijakan Publik Oxfam, dalam The Sidney Morning Herald, 27 November 2003 mengatakan, "Berdasarkan hukum laut internasional, Timor Leste layak memperoleh bagian lebih besar dari penambangan minyak dan gas di Laut Timor. Caranya, tentukan lagi batas teritori laut nasional di bawah kerangka Konvensi PBB untuk Hukum Laut (UNCLOS) dengan menjadikan Mahkamah Internasional sebagai hakimnya." Sayang, Timor Leste baru memikirkan arbitrase pada 2006 padahal Australia sudah menghapus opsi penyelesaian lewat arbitrase internasional itu sejak 2002 ketika perjanjian lanjutan mengenai eksplorasi tambang di Laut Timor disepakati. Tampak, Australia sudah berniat lama menelikung Timor Leste dengan menyiapkan perangkap-perangkap politik dan hukum untuk menjebak Timor Leste, termasuk membuat ekonomi dan politik negara muda itu kacau balau sehingga tak percaya diri di meja perundingan. Tom Hylan, editor masalah internasional koran The Age, mengutip para pejabat PBB dan sejumlah politisi Timor Leste (The Age, 20 Mei 2002) mengatakan, "Australia telah mengambil keuntungan dari buruknya posisi ekonomi dan strategis Timor Leste."

Dicuri
Pada April 2004, di depan peserta konferensi negara-negara donor untuk Timor Leste, Presiden
Xanana Gusmao mengeluhkan keadaan negaranya ini sekaligus membuat Australia seolah disambar petir. Xanana dalam Le Monde Diplomatique edisi Desember 2004 mengatakan, "Jika tetangga kami yang lebih besar dan lebih kuat itu terus mencuri uang kami yang justru diperlukan untuk membayar utang-utang Timor Leste, maka kami akan terkubur utang. Kami akan menjadi salah satu negara terperangkap utang di dunia." Australia sewot, Menlu Alexander Downer menuduh Xanana memburukkan citra Australia dan seolah ingin menyebut Xanana sebagai `tak tahu diuntung` dengan menunjuk `kemurahan` Australia memberi Timor Leste porsi 90 persen royalti minyak di Bayu-Undan dan bantuan 170 juta dolar Australia.

Lucunya, ketika itu Australia menangguk untung satu miliar dolar Australia dari hasil eksplorasi minyak dan gas di Laminaria-Corallina yang tak masuk perjanjian eksplorasi bersama Laut Timor. Ketidakadilan pembagian hasil minyak inilah yang sering memicu pertengkaran politik dalam tubuh sistem kekuasaan Timor Leste. Kubu Xanana menuding Alkatiri cs gagal mengoptimalkan kemanfaatan minyak untuk kesejahteraaan rakyat sewaktu mereka berkuasa, sebaliknya Fretelin mendakwa Xanana cs menyerah pada kelicikan Australia di Celah Timor.

Alhasil, negara yang APBNnya sangat mengandalkan minyak dan gas Laut Timor itu tetap miskin. Minyak yang selama ini menjadi harapan, tak pernah bisa menyejahterakan rakyat karena tak tersalur adil atau habis untuk membayar cicilan utang dan gaji para kontraktor asing yang terlibat dalam rekonstruksi Timor Leste. Seperti dikutip BBC (19 Mei, 2004) James Ensor mengatakan, "Cadangan minyak dan gas yang luar biasa besar di Laut Timor adalah jendela bagi Timor Leste bagi kesejahteraan rakyat dan generasi berikutnya. Sayang, Australia tak beritikad baik dalam negosiasi dengan tetangga kita itu." Warga makin frustasi, mereka yang hidup di wilayah Barat yang dulu relatif dimanja Indonesia merasa disisihkan. Beberapa kalangan bertindak nekad mengorupsi apa yang ada, semata untuk bertahan hidup.

Pemerintah kemana-mana seperti menabrak dinding karena tak bisa optimal memperbaiki keadaan mengingat sumber dana APBN digantung Australia, belitan utang yang kian kronis, dan buruknya kualitas sumber daya manusia. Sikap temperamental dan sentimen kesukuan yang kental dari orang Timor Leste kian membelah rakyat ke dalam faksi-faksi. Geng-geng kriminal menyubur di Dili, barisan orang susah dan sakit hati terus memanjang dan kian gampang disulut untuk rusuh. Saling memojokkan terus terjadi, bahkan kematian perwira flamboyan Alfredo Reinado malah mengancam negeri itu masuk ke jurang perang saudara. Richard Tanter, Profesor Hubungan Internasional dari Institut Teknologi Melbourne (RMIT) dalam Open Democracy (12/2) mengatakan, "Ada tiga yang memperburuk krisis di Timor Leste. Satu, budaya senjata dalam berkuasa. Dua, kemelaratan dan korupsi. Ketiga, jatuhnya legitimasi kelompok elite utama politik."Ketiga masalah ini tak teratasi meski PBB dan Australia hadir sejak Timor Leste merdeka. Richard menambahkan, "Pemerintahan Timor Leste yang terpilih secara demokratis memang harus didukung, tapi tidak dengan penambahan bantuan militer." Maka itu, kunjungan PM baru Australia Kevin Rudd, Jumat ini(15/2) yang ingin memesankan dukungan Australia pada rezim Horta-Xanana, diantaranya dengan menambah pasukan Australia di negeri itu, ditanggapi sinis beberapa kalangan. Mane Kribas dari Timor Lorosae Nac`o dalam Timor Online (13/2) mengatakan, "Tidak, kami tak memerlukan militer Australia lebih banyak lagi di Timor Leste. Kami malah ingin dominasi Australia diakhiri dengan mendatangkan pasukan lain dari negara-negara yang lebih kompeten dan tak menjadikan kami kesetnya." Untuk Indonesia, Timor Leste mengajarkan satu pesan bahwa perbatasan-perbatasan nasional terluar yang kaya energi harus ketat dilindungi karena bagai gadis rupawan nan seksi, daerah-daerah itu diincar para tetangga dan pihak luar lainnya. Alasan boleh kemanusiaan, tapi dahaga energilah yang acap menjadi alasan sejati asing berada di belakang separatisme. Seperti di Timor Leste, saat nafsu ekonomi terpenuhi, maka urusan kesejahteraan negara baru menjadi urutan ke-100. (Antara)

Olmert: bunuh siapa pun di Gaza

Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, memberikan wewenang kepada militernya untuk menargetkan siapa pun di Gaza.Olmert menambahkan bahwa orang-orang Palestina yang tinggal di sana tidak akan bisa hidup normal selama roket-roket terus menghantam wilayah-wilayah Israel. Pernyataan ini disampaikannya bersamaan dengan terbunuhnya lima warga Palestina saat Pasukan Pendudukan Israel menyerang bagian selatan Jalur Gaza, dekat Rafah.

Dalam pernyataan yang disampaikannya di hadapan pemimpin Yahudi Amerika di Yerusalem, Olmert mengatakan:


"Kami benar-benar bebas untuk merespon, untuk memperluas (serangan), dan untuk menyerang siapa pun yang memiliki kaitan dengan Hamas. Ini berlaku bagi siapa pun, yang pertama dan terutama adalah Hamas."

Sementara itu, Deputi Menhan Israel, Matan Vilnai, tetap menolak pembicaraan dengan Hamas meskipun kelompok perlawanan Islam ini sudah mengajukan proposal gencatan senjata. "Mereka tidak mengakui eksistensi Israel (sebagai negara Yahudi). Jadi, tidak ada yang harus dibicarakan," katanya kepada Radio Militer Israel.

Israel gunakan bom vacum

Palestine Information Center (PIC), mengutip sumber-sumber keamanan Palestina di Gaza, melaporkan bahwa pesawat-pesawat tempur Israel, pada Jumat (15/02), telah menjatuhkan sebuah bom vacum di atas rumah Ayman Fayyed dari Jihad Islam. Ini pertama kalinya Israel menggunakan bom dengan daya rusak dahsyat tersebut.

Fayyed, istrinya, tiga anak mereka, dan tiga tetangga mereka terbunuh dalam insiden itu. Juga dilaporkan sedikitnya 7 rumah rata dengan tanah akibat bom vacum tersebut. Para korban bom vacum biasanya tidak menampakkan luka luar yang parah tetapi organ-organ dalam mereka hancur total.

Israel seringkali menjatuhkan bom di wilayah pemukiman yang padat, pada tengah malam di saat warga tertidur lelap. Aktivis-aktivis HAM mengecam tindakan ini sebagai "Genosida".

Sementara itu, utusan PBB untuk masalah Palestina, John Holmes, mengatakan bahwa roket-roket yang menghantam kota Sderot (Israel) tidak bisa dijadikan dalih oleh Israel untuk melakukan blokade terhadap Jalur Gaza dan membom wilayah itu.


Powered by Qumana


Lobi Israel vs. Gandhi

Arun Gandhi, salah seorang cucu tokoh besar pejuang kemerdekaan India Mahatma Gandhi, dituntut mundur dari jabatan sebagai Presiden M.K. Gandhi Institute of Non Violence di Universitas Rochester oleh kalangan-kalangan lobi pro-Israel. Cucu Gandhi itu dianggap bersikap “anti-Semit” setelah menulis di Washington Post bahwa, “identitas Yahudi tidak bisa lagi bergantung kepada kekerasan.”Dalam artikel tersebut, Arun Gandhi, di antaranya, menulis sebagai berikut[1]:
“Identitas keyahudian di masa lalu telah terkunci dalam pengalaman holocaust—sebuah beban bagi Jerman yang orang-orang Yahudi tidak mampu lepaskan. Ini merupakan suatu contoh yang sangat baik dari suatu komunitas yang dapat membesar-besarkan sebuah pengalaman sejarah hingga ke titik dimana ia mulai menolak sahabat-sahabatnya. Holocaust adalah hasil dari pikiran bias seseorang yang mampu mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan sesuatu yang mengerikan. Namun, tampak bagi saya bahwa bangsa Yahudi sekarang ini tidak hanya menghendaki orang-orang Jerman untuk terus merasa bersalah tetapi bahwa seluruh dunia harus menyesali apa yang telah terjadi terhadap bangsa Yahudi. Dunia telah menyesal atas peristiwa tersebut tetapi ketika seseorang atau suatu bangsa menolak untuk memaafkan dan terus melanjutkan (keinginan itu),maka penyesalan itu akan berubah menjadi kemarahan.

“Identitas Yahudi itu di masa depan akan tampak pucat. Setiap bangsa yang tertambat di masa lalu tidak akan pernah mampu bergerak ke depan, terutama bagi sebuah bangsa yang percaya bahwa eksistensinya hanya dapat dipastikan oleh senjata dan bom. Di Tel Aviv pada 2004, saya berkesempatan untuk berbicara di depan beberapa anggota parlemen dan para aktivis perdamaian (Israel), di antara mereka ada yang percaya bahwa tembok pemisah dan kekuatan militer diperlukan untuk melindungi bangsa dan orang-orang Yahudi. Dengan kata lain, saya bertanya, apakah anda percaya bahwa anda dapat menciptakan sebuah lubang ular—dengan banyak ular yang sudah mati di dalamnya—dan mengharapkan untuk hidup di dalam lubang itu dengan aman dan damai? Apa maksud anda? Dengan kedigdayaan senjata dan peralatan perang anda serta sikap anda terhadap tetangga anda, bukankah lebih tepat jika dikatakan bahwa anda sejatinya sedang menciptakan sebuah lubang ular? Bagaimana mungkin seseorang hidup dengan damai dalam sebuah atmosfer semacam itu? Bukankah lebih baik anda berteman dengan mereka yang membenci anda?”


Segera saja tulisan Arun itu memicul tuntutan mundur berikut tekanan dan intimidasi yang diorkestrakan oleh, antara lain, American Jewish Committee (AJC) dan Anti Defamation League (ADL).

Berkat intimidasi tersebut, Presiden Universitas Rochester, Joel Seligman, mengatakan bahwa pengunduran diri adalah tindakan yang pantas. Lantas, ia pun menambahkan, “Saya terkejut dan sangat menyesalkan pandangan Arun Gandhi itu. Saya percaya bahwa permintaan maafnya tidaklah cukup untuk menjelaskan pandangannya, yang secara mendasar tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar dari Universitas Rochester.”

Jelas Universitas menerima tekanan yang luar biasa. “Adalah memalukan bahwa sebuah institut perdamaian dipimpin oleh seorang ekstrimis,” kata Abraham H. Foxman, direktur nasional ADL, sebuah kelompok internasional yang giat menentang anti-Semitisme. “Seseorang pasti berharap bahwa cucu dari orang besar (seperti Gandhi) akan lebih sensitif kepada sejarah Yahudi,” tambah Foxman.

Tak cukup di situ, asosiasi Hindu Amerika juga ikut-ikut mengecam Arun (Mahatma Gandhi dibunuh oleh seorang nasionalis Hindu yang memandangnya terlalu toleran terhadap minoritas Muslim di India). Sebuah bukti betapa kuatnya pengaruh lobi Israel di negeri Paman Sam itu.

Setelah menyampaikan permintaan maaf, yang dipandang tidak cukup oleh kelompok-kelompok lobi Israel itu, Arun Gandhi akhirnya mengundurkan diri dari lembaga yang ia dirikan. Dalam pernyataan tertulisnya, dia menyatakan:
“Niat saya adalah untuk menghadirkan sebuah diskusi yang sehat tentang semakin menyebarnya kekerasan. Namun jelas, tujuan saya itu tidak tersampaikan. Sebaliknya, tanpa pernah disengaja, kata-kata saya itu menimbulkan kemarahan. Saya sangat menyesali konsekuensi-konsekuensi tersebut.

Saya ingin menjadi bagian dari proses penyembuhan. Prinsip-prinsip ‘tanpa kekerasan’ dibangun atas dasar cinta, saling menghormati, saling memahami, dan kasih sayang. Adalah harapan saya yang sejujurnya bahwa situasi ini akan mendorong saya dan juga yang lain untuk bekerja sama mengubah kemarahan serta emosi-emosi yang negatif itu menjadi perasaan saling menghormati dan memahami yang lebih dalam demi membangun komunitas-komunitas yang lebih harmonis.”


John Mearsheimer dan Stephen Walt yang baru-baru ini menulis tentang lobi Israel di Amerika Serikat, dan juga menerima kemarahan yang sama dengan Arun, mencoba bersimpati kepada Arun. Kedua penulis itu menyatakan bahwa Arun akan menghadapi banyak kesulitan dengan lobi Israel, bahkan jika ia telah memilih kata-katanya secara cermat, “karena ia telah memilih untuk mengkritik Israel dan para pendukungnya di Amerika, mereka yang merasakan kepedihan Israel seperti kepedihan mereka sendiri.”


Mahatma Gandhi tentang konflik Israel-Palestina


Enam puluh tahun sejak kematiannya, Mahatma Gandhi masih menjadi duri bagi Zionisme. Dalam pandangannya yang ditulis dalam harian Harijan pada 1938, Gandhi menyatakan sesuatu yang masih relevan hingga kini:

“Palestina adalah milik orang Palestina seperti halnya Inggris menjadi milik orang Inggris, atau Prancis milik orang Perancis. Adalah suatu kesalahan dan tidak manusiawi untuk memaksakan orang-orang Yahudi atas orang-orang Palestina. Apa yang terjadi di Palestina pada hari ini tidak dapat dijustifikasikan oleh hukum apa pun. Mandat (Inggris atas Palestina) tidaklah memiliki otoritas terkecuali perang yang terakhir (Perang Dunia I). Jelas akan menjadi kejahatan atas kemanusiaan untuk mengurangi orang-orang Palestina sehingga Palestina bisa dijadikan, baik sebagian maupun keseluruhan, sebagai tanah air bangsa Yahudi. Saya tidak memihak orang-orang Palestina. Saya ingin mereka memilih jalan ‘tanpa kekerasan’ dalam merebut apa yang menjadi hak mereka dan melawan kekerasan yang ditimpakan kepada negeri mereka. Menurut norma-norma salah dan benar, tidak ada yang dapat dikatakan untuk menentang resistensi orang-orang Palestina dalam menghadapi keganjilan yang luar biasa ini.”







[1] Arund Gandhi, “Jewish Identity Can’t Depend on Violence”, Washington Post, 7 Januari 2008. [http://newsweek.washingtonpost.com/onfaith/arun_gandhi/2008/01/jewish_identity_in_the_past.html ]






Powered by Qumana


Bursa minyak Iran akhirnya diluncurkan

Iran meluncurkan untuk pertama kalinya bursa untuk produk-produk minyak dan petrokimianya di zona perdagangan bebas di Teluk Persia, tepatnya di kepulauan Kish, demikian dinyatakan kementerian minyak negara itu sebagaimana dikutip oleh IRNA.

Pada hari pertama dilaporkan, diperdagangkan sekitar 100 ton polyethylene (sejenis produk polymer) di bursa tersebut, yang kini menjadi pusat bagi sekitar 100 perusahaan minyak, baik dari dalam maupun luar negeri.
Produk-produk minyak dan petrokimia akan dijual dalam rial Iran, atau mata uang-mata uang non-dolar lainnya, demikian disampaikan menteri perminyakan Iran Gholam Hossein Nozari yang menegaskan keinginan Republik Islam itu untuk mengurangi pengaruh Amerika dalam ekonominya.“Bursa ini akan memberikan sebuah kesempatan ekonomis, baik bagi Iran maupun pelanggan-pelanggan luar negeri,” kata Nozari.

Sementara sebagian besar pasar minyak dunia didominasi oleh dolar AS, Iran pertama kali memunculkan ide untuk mempedagangkan minyak dalam euro pada awal 2000-an selama periode Presiden Mohammad Khatami. Ide ini semakin dikembangkan setelah Presiden Mahmoud Ahmadinejad terpilih pada 2005.

Sebagai produsen minyak terbesar keempat di dunia, Iran mempunyai pengaruh terhadap pasar minyak internasional. Negara ini menjadi yang kedua dalam skala produksi di antara negara-negara OPEC, dan mengendalikan lebih daripada 5 persen suplai minyak global.
Iran juga mengendalikan sebagian wilayah perairan Selat Hormuz di Teluk Persia, yang merupakan pintu masuk dan keluar bagi suplai minyak dunia.

OPEC pertimbangkan untuk kesampingkan dolar

Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) berencana membahas proposal yang diajukan Iran dan Venezuela untuk memperdagangkan minyak dalam mata uang-mata uang non-dolar.Menteri-menteri keuangan OPEC, yang mensuplai 40 persen kebutuhan minyak global, akan bertemu untuk mempelajari proposal itu, demikian diungkapkan Presiden OPEC, Chakib Khelil.

Namun, Khalil tidak mengatakan kapan tepatnya forum menteri itu akan diadakan di tengah-tengah depresiasi dolar AS yang terus berlanjut.

Ide itu diusulkan Tehran dan Caracas sejak dolar jatuh hingga 16,2 persen terhadap mata uang-mata uang dunia lainnya.Iran, exportir kedua terbesar OPEC, bahkan telah memangkas semua hubungannya dengan dolar terkait dengan transaksi minyak.

Powered by Qumana

Suriah bantah kerja sama dengan Iran dalam investigasi pembunuhan Mughniyah

Suriah membantah klaim Iran bahwa kedua negara akan melakukan investigasi bersama terhadap pembunuhan komandan militer Hizbullah, Imad Mughniyah, demikian disampaikan kantor berita Suriah.

Imad Mughniyah yang merupakan orang paling dicari Amerika Serikat dan Israel pada Selasa malam, 12 Februari, usai menghadiri peringatan Revolusi Islam Iran di Damaskus, terbunuh oleh sebuah ledakan bom mobil.

Pada Jumat, 15 Februari, Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Ali Reza Sheikh Attar, menyampaikan hasil pertemuan menlu Iran dengan Suriah, yang salah satunya adalah pembentukan investigasi bersama atas kasus ini.

Namun, seorang pejabat Suriah yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan kepada kantor berita negaranya bahwa klaim itu sama sekali "tidak berdasar", dan bahwa Suriah akan melakukan investigasi itu sendiri.

Beberapa analis melihat bantahan Suriah ini, setelah sebelumnya banyak dilaporkan mengenai pembentukan tim investigasi bersama, merupakan indikasi adanya perpecahan di Damaskus dalam memandang kasus Mughniyah.


Powered by Qumana

TV Rusia Laporkan Indikasi Keterlibatan AS dalam Perdagangan Obat Bius dari Afghanistan

Channel One TV, televisi Rusia, menayangkan sebuah laporan yang berisi dugaan keterlibatan militer AS dalam perdagangan obat bius dari Afghanistan ke Eropa. Laporan itu juga menjelaskan problem penyalahgunaan obat bius di kalangan militer Inggris.

Saluran TV itu mengutip laporan PBB yang menyatakan bahwa jumlah opium yang diproduksi di Afghanistan meningkat dua kali lipat sejak kedatangan pasukan koalisi ke negeri iru.


Tayangan itu juga mengutip laporan BBC News (pada 14 Desember 2007) bahwa pasukan Inggris kehilangan satu batalion penuh setiap tahunnya akibat penyalahgunaan obat bius.


Dugaan keterlibatan militer AS dalam perdagangan obat bius datang dari Geydar Dzhemal, ketua Islamic Committee of Russia. “Tanpa kendali dan keterlibatan kekuatan-kekuatan khusus, hal-hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Sebagai contoh di Afghanistan, CIA dan pasukan-pasukan khusus lainnya sangat terang-terangan. Di bawah perlindungan militer Amerika, mereka menemui orang-orang yang dibutuhkan. Mereka mengumpulkan barang-barang itu, pergi ke pangkalan udara Bagram, dan mengirimkan sejumlah besar narkotik,” katanya.


Laporan itu mengatakan bahwa heroin sampai di Balkan melalui Turki, yang “merupakan anggota NATO sejak 1952 dan sekutu dekat AS di kawasan tersebut.” Dikatakan bahwa “suatu kebetulan lainnya adalah bahwa Kosovo merupakan pangkalan udara terbesar NATO di Eropa. Koresponden televisi itu menambahkan bahwa di Kosovo, terdapat sebuah pos rahasia Interpol yang berdekatan dengan pangkalan militer itu. “Di sini, mereka membicarakan secara amat terbuka mengenai heroin Afghan yang dimuat dalam pesawat-pesawat AS,” katanya.


Seorang yang bernama Marko Nicovic, petugas Interpol, menjelaskan bahwa 90 persen heroin itu disalurkan melalui mafia-mafia Albania, yang sekarang posisi mereka lebih kuat daripada mafia-mafia Sicilia. Petugas Interpol ini juga menduga bahwa mafia-mafia Albania itu telah menyuap parlemen-parlemen Eropa untuk mendukung kemerdekaan Kosovo.


Laporan itu juga mengaitkan meningkatnya angka kejahatan obat bius di Rusia dengan invasi AS atas Afghanistan. “Sejak Amerika melancarkan perang terhadap Taliban, laboratorium kejahatan di Rusia bekerja nyaris tanpa henti,” kata koresponden itu.


Aleksandr Mikhaylov, kepala departemen informasi pada Lembaga Pengawasan Obat Bius Rusia, mengatakan bahwa produksi narkotik di Afghanistan kini makin professional, dan bahwa narkoba-narkoba itu telah memonopoli ekonomi Afghan. “Situasinya hari ini adalah bahwa narkotik telah menjadi sesuatu yang digunakan dalam barter perdagangan di Afghanistan,” katanya.


Powered by Qumana

Iran-Suriah investigasi bersama pembunuhan Mughniyah

Harian Haaretz dari Israel melaporkan bahwa sebuah investigasi bersama Iran-Suriah-Hizbullah tengah dibentuk sementara beberapa tersangka telah ditahan di Damaskus.

Pembunuhan Mughniyah yang terjadi di Damaskus bukan hanya menjadi pukulan buat Hizbullah tetapi juga bagi sistem keamanan internal Suriah.Temuan terbaru investigasi adalah bahwa Mughniyah terbunuh oleh sebuah bom mobil yang diparkir dekat dengan mobilnya. Bom mobil itu dipicu dari jarak jauh ketika Mughniyah keluar hendak memasuki mobilnya.Laporan sebelumnya meyakini bahwa bom ditanam di mobil Mughniyah sendiri.


Menteri Luar Negeri Suriah, Walid Moallem, mengatakan mereka yang membunuh Mughniyah, hendak membunuh setiap upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian." Sebuah pernyataan yang merujuk kepada keterlibatan Israel.


Khalid Meshal, pemimpin politik Hamas di pengasingan, mengatakan di Damaskus bahwa gugurnya Mughniyah tidak akan menghentikan resistensi bangsa Palestina dalam menghadapi pendudukan Israel. "Kami menerima tantangan ini dan kami sama sekali tidak gentar," kata Meshal di Damaskus.


Sementara itu di Baghdad, pada salat Jumat, pesan pemimpin perlawanan Muslim Syiah, Muqtada Shadr, dibacakan: "Tangan-tangan kotor telah mengambil Mughniyah dan dia telah dikirim ke surga tempat di mana dia menjadi martir resistensi dunia Islam." Shadr menetapkan tiga hari berkabung bagi gugurnya Mughniyah.


Komentar: dalam setiap serangan bom selalu terdapat beberapa teori tentang sumber ledakan:


1. Teori bahwa serangan itu dilakukan oleh serangan rudal yang dipandu oleh satelit (biasanya dilakukan Israel atas bantuan AS). Dalam kasus Mughniyah, teori ini diabaikan karena bom diyakini di tanam pada sebuah mobil.


2. Teori bahwa bom ditanam pada mobil si korban atau mobil lain yang berdekatan dengan lokasi si korban. Pemicunya bisa dua kemungkinan; dipicu oleh si korban sendiri secara tidak sadar atau dipicu dari jarak jauh, baik lewat telepon seluler maupun satelit.


Semua teori di atas sama-sama mensyaratkan pengetahuan akan rutinitas atau rute perjalanan korban.


Powered by Qumana

Bombshell; Siapa yang sebenarnya membunuh Mughniyah—apakah hanya Mossad?

Berikut adalah analisis Wayne Madsen, mantan analis intelijen CIA yang kini aktif menulis sebagai kolumnis investigatif.

Teman paling aneh Bush di Suriah: di pusat kecurigaan terkait bom mobil yang membunuh pemimpin Hizbullah: Kepala Intelijen Militer Suriah, Assef Shawkat, bukanlah figur yang asing untuk bekerja sama dengan CIA. Sejak peristiwa 9/11, Suriah berfungsi sebagai salah satu tuan rumah “penahanan rahasia” yang mempraktikkan penyiksaan atas para tawanan yang diciduk CIA. Shawkat benar-benar berada dalam pusat program CIA.

Wayne Madsen Report (institusi yang dibidani Madsen—WMR) telah mempelajari dari berbagai sumber terpercaya bahwa bom mobil di Damaskus yang membunuh komandan militer Hizbullah, Imad Mughniyah, pada 12 Februari, dieksekusi oleh Shawkat dengan bantuan dan dorongan aktif dari Deputi Penasehat Keamanan Nasional AS, Elliott Abrams dan Mossad Israel. WMR pada masa lalu telah melaporkan bahwa Abrams merupakan koordinator di dalam pemerintahan Bush yang bertugas melakukan pembunuhan politik, khususnya bagi mereka di Timur Tengah, dan khususnya, pembunuhan-pembunuhan bermodus bom mobil yang terjadi di Lebanon. WMR juga telah melaporkan bahwa sebagian besar dari bom-bom mobil yang terjadi di Lebanon adalah hasil kerja koordinatif antara Israel, Amerika, dan operator-operator Suriah, termasuk elemen-elemen brutal di dalam intelijen Suriah dan Lebanon di bawah kendali Shawkat.

Kantor Perdana Menteri Israel membantah punya peran dalam pembunuhan atas Mughniyah. Namun demikian, pemerintah dan intelijen Israel tampaknya senang atas peristiwa itu.

Mobil Mughniyah meledak sekitar pukul 10.30 malam di bilangan Tantheem Kafer Souseh, di Damaskus. WMR mempelajari bahwa bom mobil Mughniyah coba disesuaikan dengan 9 Februari, hari ulang tahun mantan Presiden Ronald Reagen, sebuah isyarat dari Shawkat bagi orang-orang Amerika. Namun, kursi Mitsubishi yang dirancang khusus dengan bom di dalamnya terlambat untuk dipasang sehingga pembunuhannya baru terjadi pada 12 Februari.

Di Timur Tengah, persoalan tanggal, khusus perayaan-perayaan ulang tahun, sangatlah penting. Pembunuhan anggota parlemen Lebanon, Elie Hobeika, pada 24 Januari 2002, bersamaan dengan hari kelahiran Elliott Abrams, Direktur Timur Tengah untuk Dewan Keamanan Nasional AS saat itu. Bom mobil yang menewaskan Hobeika juga dieksekusi oleh operator-operator Shawkat, menurut sumber-sumber WMR di Timur Tengah. Pembunuhan atas Hobeika merupakan yang pertama dari serangkaian pembunuhan bom mobil lainnya yang dilakukan oleh CIA dan Mossad dengan bantuan operator-operator intelijen Shawkat di Lebanon.

Shawkat, dengan menghadiahkan pembunuhan “orang yang paling dicari Amerika”, Mughniyah, ingin memastikan bahwa dia kini akan menerima perlindungan Gedung Putih dari investigasi PBB terhadap serangkaian bom mobil di Lebanon, terutama yang menewaskan bekas perdana menteri Lebanon, Rafik Hariri.

Analisis ini ditulis dalam waynemadsenreport.com yang dikutip dari blog Palestinian Pundit.

Pemimpin militer Hizbullah gugur dalam ledakan bom di Damaskus

Imad Mughniyah, pemimpin militer puncak gerakan perlawanan Islam Syiah di Lebanon, Hizbullah, terbunuh dalam sebuah ledakan bom di Damaskus, Suriah, Selasa (12/02). Hizbullah menuduh Israel atas serangan bom tersebut.

“The Master of Terror”, demikian Israel dan AS menjuluki Mughniyah yang terkenal licin dan sulit terdeksi intelijen kedua negara itu. Lebih daripada 20 tahun, Israel dan AS memburu Mughniyah yang dituduh terlibat dalam berbagai aksi teror terhadap kepentingan mereka meskipun beberapa tuduhan itu secara demonstratif terbukti tidak berdasar. Sebagai contoh, pengaitan kasus bom Buenos Aires yang menghancurkan gedung kedutaan Israel pada 1992 dan AMIA, pusat kebudayaan Israel pada 1994, kepada Mughniyah sebagai otak kedua aksi teror itu kini menuai banyak keraguan[1].

Selain itu, Mughniyah juga dituduh terlibat dalam serangkaian aksi teror lainnya: serangan bom yang menghancurkan barak-barak pasukan AS dan Perancis di Beirut (1983); pembajakan pesawat TWA 847 (1984); dan penculikan kepala stasiun CIA di Beirut, William Buckley, yang kemudian ditemukan tewas (1984). Semuanya terjadi sebelum Hizbullah berdiri pada 1985.

Sementara itu, Victor Ostrovsky, mantan intelijen Mossad, dalam bukunya By Way of Deception, mengkonfirmasi bahwa informasi mengenai rencana aksi-aksi tersebut sebelumnya sudah beredar di kalangan intelijen Israel. Atas dasar inilah, Ostrovsky menduga bahwa Mossad-lah yang mengotaki semua itu dengan tujuan melibatkan Amerika dan Eropa lebih dalam ke dalam perang Israel di Lebanon[2].

Mughniyah juga dikait-kaitkan dengan Al-Qaeda oleh pemikir neokonservatif AS, Michel Leeden. Sebuah teori eksotik yang lebih banyak mengundang tertawaan ketimbang perhatian di kalangan para analis.

Terbunuhnya Mughniyah disinyalir akan meningkatkan rasa kepercayaan diri Israel dalam menghadapi Hizbullah setelah kekalahannya pada perang dua tahun silam. Bahkan, media Israel meyakini bahwa hilangnya Mughniyah akan berdampak besar bagi Hizbullah.

Namun demikian, adalah penting untuk mengingat bahwa Hizbullah memiliki struktur organisasi kolektif dan kompleks. Nyaris tidak ada posisi “tokoh kunci” di dalamnya. Dengan demikian secara struktural, jelas terbunuhnya Mughniyah hanya akan berdampak kecil bagi gerakan perlawanan itu. Lantas, apakah kehilangan Mughniyah akan berdampak terhadap moral para pejuang Hizbullah?

Jawabannya mungkin ada di dalam bagaimana Hizbullah mengumukan kematian Mughniyah:

Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

[Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)]

Dengan bangga dan rasa hormat, kami mengumumkan kesyahidan seorang pejuang perlawanan besar, yang telah bergabung dalam parade syuhada Perlawanan Islam. Setelah kehidupan penuh jihad, pengorbanan, dan pencapaian yang dijalani dengan penantian akan kesyahidan, pemimpin perlawanan Islam Imad Mughniyah telah dibunuh oleh tangan-tangan kriminal Israel.

Sang syahid, semoga jiwanya dipenuhi kedamaian, telah menjadi target Zionis lebih daripada 20 tahun. Allah Yang Mahakuasa telah memilihnya untuk menjadi seorang martir di tangan-tangan para pembunuh nabi-nabi-Nya, yang juga mengetahui bahwa kami memiliki perang yang panjang dengan mereka dan bahwa darah syuhada, terutama para pemimpin kami, selalu membawa resistensi kami menuju level yang lebih tinggi dan lebih kuat, sebagaimana ketika dua pemimpin besar kami, Syeikh Raghib Harb dan Sayid Abbas Musawi syahid.

Kami berjanji untuk meneruskan jalan sang syahid hingga mencapai kejayaan, Insya Allah.

Kami menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga syahid Mughniyah dan saudara-saudaranya seperjuangan. Kami mengucapkan selamat kepada semua pejuang perlawanan bagi kehormatan Ilahi.

Hamas dan Fron Pembebasan Rakyat Palestina kecam pembunuhan atas Mughniyah[3]

Gerakan perlawanan Islam Palestina Hamas menyatakan Israel berada di balik pembunuhan Mughniyah. “Ini adalah contoh baru dari gangsterisme Zionis,” kata jurubicara Hamas, Sami Abu Zuhri, seraya menyerukan kepada Muslim untuk bersatu menghadapi gurita jaringan Zionis yang kejahatannya telah melampaui wilayah Palestina hingga ke belahan dunia Islam lainnya.

Sementara itu, Fron Pembebasan Rakyat Palestina menyatakan intelijen Israel Mossad bertanggung jawab atas pembunuhan Mughniyah. “Imad Mughniyah dibunuh Zionis Mossad…yang sadar akan status penting sang martir dan peran istimewa yang diberikannya dalam perlawanan,” demikian tertulis dalam pernyataan resmi kelompok itu.

  1. http://www.thenation.com/docprint.mhtml?i=20080204&s=porter
  2. By Way of Deception, Victor Ostrovsky (pp. 322-5)
  3. http://english.hizbollah.org/essaydetails.php?eid=2349&cid=214