“War on Wikipedia”

Sebuah kelompok penekan pro-Israel tengah merencanakan sebuah kampanye rahasia dan berjangka panjang untuk menginfiltrasi ensiklopedia online terpopuler Wikipedia, dengan maksud menulis ulang sejarah Palestina, menciptakan impresi agar sebuah propaganda tampak sebagai fakta, dan bahkan mengambil-alih struktur administratif Wikipedia untuk memastikan berbagai perubahan itu berjalan tanpa terdeteksi dan tanpa tentangan.

Serangkaian surat elektronik yang ditulis oleh anggota dan patner kelompok penekan pro-Israel, CAMERA [Committee for Accuracy in Middle East Reporting in America], yang diperoleh oleh situs informasi Palestina Electronic Intifada [EI], mengindikasikan kelompok tersebut terlibat dalam apa yang diistilahkan oleh EI sebagai “War on Wikipedia”.

“Action Alert” bertanggal 13 Maret yang ditandatangani oleh Gilead Ini, analis senior CAMERA, menyerukan kepada para sukarelawan yang bisa bekerja sebagai ‘editor’ untuk memastikan agar artikel-artikel terkait Israel di Wikipedia “bebas dari bias dan kesalahan, dan memasukkan fakta-fakta dan konteks yang diperlukan.” Namun demikian, komunikasi berikutnya menunjukkan bahwa kelompok itu tidak hanya ingin merahasiakan upaya-upayanya dari media, publik, dan para administrator Wikipedia, tetapi juga bahwa bahan-bahan kunci yang ingin mereka masukkan meliputi klaim-klaim hinaan yang bisa merusak citra orang Palestina dan Muslim sekaligus menyembunyikan sejarah sebenarnya dari Israel.

Dengan lebih daripada 2 juta artikel dalam bahasa Inggris tentang berbagai topik yang bisa dibayangkan, Wikipedia memang muncul sebagai salah satu sumber rujukan utama bagi para pengguna internet di seluruh dunia dan menjadi model bagi sebuah proyek kolaboratif yang sukses. Keterbukaan dan kepercayaan adalah di antara prinsip-prinsip utama Wikipedia. Setiap orang di dunia ini bisa menulis dan mengedit setiap artikel, tetapi Wikipedia punya prosedur yang ketat demi akuntabilitas yang dimaksudkan untuk menjaga kendali atas kualitas dan mencegah vandalisme, plagiat, dan distorsi. Adalah karena prosedur ketat ini, maka artikel-artikel tentang elemen-elemen kunci dari konflik Palestina-Israel secara umum bisa menjadi rujukan yang baik, bermanfaat, dan objektif. Rencana CAMERA yang terpapar detail dalam surat-surat elektronik yang diperoleh EI, tampaknya ditujukan untuk memintas kendali-kendali tersebut.

Pada masa lalu, CAMERA terkenal karena agresivitasnya dalam menyerang siapa pun yang bagi mereka tidak sejalan dengan garis politik kelompok sayap kanan pro-Israel di Amerika. Kelompok ini bahkan pernah menyerang para editor dan reporter suratkabar Israel Haaretz sebagai melakukan “aktivitas radikal anti-Israel”. Jeffrey Dvorkin, mantan ombudsman pada National Public Radio [NPR], yang sering dikecam oleh CAMERA karena pandangannya yang dianggap pro-Palestina, menulis pada situs informasi Salon pada Februari 2008 bahwa, “sebagai sebuah konsekuensi dari kampanyenya melawan NPR, CAMERA bertindak layaknya orang-orang yang terganggung kepribadian mereka,” kata Dvorkin yang mengutip ancaman telepon yang ia terima beberapa kali selama masa “kampanye hitam” CAMERA.

Kebutuhan akan Kerahasiaan

Di dalam dokumen-dokumen yang diperoleh EI, para operator CAMERA menekankan kebutuhan akan kerahasiaan. Dalam email pertamanya, Gilead Ini meminta mereka yang merima email itu untuk “tidak mem-forward ke anggota-anggota media pemberitaan. Dalam email 17 Maret yang dikirimkan kepada para sukarelawan, Gilead menjelaskan bahwa ia ingin agar upaya terencana ini tampak sebagai sebuah kerja dari pribadi-pribadi yang sama sekali tidak berhubungan. Karenanya, ia memberi nasehat, “Tidak ada kebutuhan untuk mengiklankan fakta bahwa kita memiliki kelompok diskusi ini.”

Mengantisipasi kemungkinan adanya keberatan dan tentangan terhadap skema CAMERA ini, Gilead menyarankan agar para sukarelawan yang telah terdaftar sebagai editor Wikipedia untuk tidak langsung mengedit artikel-artikel terkait Israel selama beberapa periode. Strategi ini, menurutnya, diperlukan untuk menghindari kesan sebagai editor satu topik sehingga memancing kecurigaan. Ia juga menyarankan agar para sukarelawan tidak mengambil sebuah user name yang menandakan bahwa mereka pro-Israel. Lebih jauh Gilead menulis dalam emailnya, “Jangan lupa untuk selalu log in sebelum kalian melakukan editing. Jika kalian membuat perubahan tanpa log in terlebih dahulu, maka Wikipedia akan mencatat IP address dari komputer kalian.”

Seorang editor veteran Wikipedia, bernama Zeq, yang terlihat dari email berkolusi dengan CAMERA, juga memberikan nasehat kepada para sukarelawan bagaimana caranya untuk menyamarkan agenda mereka. Dalam email 20 Maret, Zeq menulis, “Kalian tidak ingin dipersepsikan sebagai pro-CAMERA di Wikipedia. Salah satu strategi untuk menghindari itu adalah dengan mengedit artikel secara acak, ciptakan sahabat bukan musuh—kita akan membutuhkan mereka suatu saat. Ini adalah maraton bukan sprint.”

Zeq juga mengidentifikasikan pada email 25 Maret editor lainnya di Wikipedia yang bernama “Jayjg”, yang ia lihat sebagai pembela Israel yang efektif dan independen. Zeq menginstruksikan agar para operator CAMERA agar bekerja sama dengan Jayjg dan belajar darinya. Namun, Zeq menyarankan agar jangan sesekali mengungkapkan rencana ini kepada Jayjg karena dia sangat setia kepada sistem Wikipedia dan mungkin keberatan dengan strtaegi bawah tanah CAMERA.

“Administrator yang Tidak Terlibat”

Penekanan akan kerahasiaan juga tidak hanya dimaksudkan untuk memastikan agar aksi editing tak terdeteksi, tetapi juga untuk memfasilitasi rencana CAMERA dalam mengambil-alih posisi-posisi kunci administrator di Wikipedia.

Bagi Zeq, tujuan utama rencana ini adalah menjadikan para operator CAMERA sebagai administrator—editor senior yang memiliki wewenang untuk mendominasi keputusan atas yang lain ketika terjadi kontroversi. Ketika terjadi perdebatan atas beberapa isu panas, seperti Israel dan Palestina, seringkali hanya seorang “administrator yang tak terlibat [uninvolved administrator]”—seseorang yang dianggap netral karena tidak menulis dan mengedit artikel mengenai topik bersangkutan—yang bisa memutuskan.

Karenanya, Zeq menulis dalam email 21 Maret bahwa, “Satu atau lebih dari kalian yang ingin menjalani rute ini harus menghindar dari artikel-artikel yang berkaitan dengan Israel selama sebulan hingga kalian bisa berinteraksi dengan 100 editor Wikipedia yang mana bisa digunakan untuk memilih kalian sebagai administrator.”

Ketika operator-operator CAMERA ini sudah berhasil menginfiltrasi Wikipedia sebagai editor-editor “netral”, maka mereka bisa mendayagunakan wewenang mereka untuk melaksanakan agenda politik mereka.

Memoles Propaganda Menjadi Fakta

Pada email 17 Maret, Gilead ini menyajikan saran spesifik bagaimana untuk memoles propaganda atau opini menjadi sebuah fakta seraya masih tetap berada pada prosedur Wikipedia:

“Sebagai contoh, anda akan memodifikasi kalimat problematik dalam sebuah artikel yang menyatakan, ‘Orang-orang Palestina melakukan bom bunuh diri untuk merespon kebijakan-kebijakan Israel yang menindas.’ Secara paralel, kalian harus meninggalkan sebuah komentar pada halaman diskusi artikel itu [baik setelah ataupun sebelum kalian mengedit]. Hindari upaya membela editan dengan mengatakan, ‘Kebijakan Israel bukanlah penindasan, mereka hanya defensif. Dan sebaliknya, orang-orang Palestina jelas melakukan bom bunuh diri karena alasan lain, seperti kebencian.’ Alih-alih mengatakan demikian, kalian harus menjelaskan bahwa kalimat tersebut melanggar kebijakan dan prosedur Wikipedia. Salah satu prinsip utama adalah bahwa suatu pernyataan harus melekat kepada sebuah Neutral Point of View, atau biasanya disingkat dengan NPOV [lawan NPOV adalah POV,Point of View, atau cara lain untuk mengatakan opini subjektif]. Jadi, adalah penting untuk menyatakan dalam halaman diskusi, bahwa kalimat itu melanggar kebijakan NPOV Wikipedia, karena penggambaran kebijakan Israel sebagai sebuah ‘penindasan’ adalah sebuah opini.”

Pada kenyataannya, terdapat sejumlah studi yang membongkar klaim-klaim tentang pendidikan orang Palestina yang menyebarkan kebencian kepada Israel, atau “pengagungan atas kesyahidan” sebagai faktor di balik aksi bom bunuh diri [salah satunya adalah buku Dying to Win karya ilmuwan politik Universitas Chicago, Robert Pape]. Namun, klaim-klaim itu tetap menjadi favorit gerombolan pro-Israel yang berupaya mengalihkan perhatian dari dampak-dampak pendudukan Israel dan berbagai pelanggaran Israel atas hak asasi manusia.

Zeq juga secara spesifik mengategorikan artikel-artikel yang menjadi sasaran tembak, yakni di antaranya Eksodus Palestina pada 1948, Sebab-sebab Eksodus Palestina pada 1948, Hamas, Hizbullah, warga Arab di Israel, anti-Zionisme, Nakba, rakyat Palestina, dan Hak Pulang bangsa Palestina.

Menariknya, para editor CAMERA juga menargetkan artikel tentang konsep Islam yang bernama Dhimmi, sebuah status perlindungan bagi non-Muslim yang secara historis mengizinkan Yahudi untuk tinggal di negeri-negeri Muslim ketika mereka dikejar-kejar kaum Kristen di Eropa. Para aktivis pro-Israel seringkali berupaya untuk memotret konsep Dhimmi sama dengan Hukum Nuremberg [hukum rasialis Nazi Jerman] demi mencoreng citra budaya Islam dan menjustifikasi klaim-klaim ahistoris Zionis, bahwa Yahudi tidak pernah bisa hidup aman di dalam negeri-negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Juga di antara email-email itu, terdapat sebuah diskusi bagaimana mengubah artikel tentang pembataian warga sipil Palestina di desa Deir Yassin oleh milisi-milisi Zionis pada 9 April 1948. Karena tidak mampu membongkar fakta pembantaian itu, para aktivis CAMERA melakukan perburuan kutipan-kutipan sejarawan yang meragukan terjadinya pembantaian itu.

Zeq juga telah membuat perubahan besar terhadap artikel tentang Rachel Corrie, aktivis perdamaian Amerika yang dibunuh tentara Israel di Jalur Gaza pada 2003. Akibantnya, Zeq menjadi figur kontroversial di antara para editor Wikipedia.

Rencana CAMERA ini, setelah diungkap oleh EI, akhirnya gagal setidaknya untuk sementara. Gilead Ini memberi tahu kepada para sukarelawan bahwa kelompok diskusi mereka untuk sementara waktu dihentikan. Ini dilakukan demi menghindari informasi tentang kontak-kontak pribadi terungkap ke publik.

Pada saat yang sama, Wikipedia menjatuhkan sanksi kepada Zeq. Ia dilarang untuk mengakses artikel-artikel yang berkaitan dengan Israel dan Palestina. Para administrator Wikipedia memandang Zeq telah melanggar prinsip-prinsip dasar ensiklopedia online itu. Namun, Zeq balik menuduh bahwa apa yang terjadi terhadapnya adalah konspirasi “The [email] Protocols of the Elder of the CAMERA.”[JG]

Sumber utama: http://electronicintifada.net/v2/article9474.shtml

“Al-Qaeda” atau “Al-CIAda”: Iran dan Teori Konspirasi 9/11

Believe or not! Sejumlah media Barat[1], pada sekitar 22 April 2008, melansir sebuah rekaman audio dimana “Al-Qaeda” No. 2, Ayman al-Zawahiri, mengecam Iran dan stasiun TV Al-Manar milik Hizbullah sebagai telah menyebarluaskan teori konspirasi 9/11, yang menunjuk Israel berada di balik serangan teror terhadap Amerika Serikat itu. Bagi Al-Zawahiri, apa yang dilakukan Iran dan Hizbullah adalah untuk menutupi “fakta” bahwa pernah ada kelompok Sunni yang pernah “melukai” Amerika.

Rekaman audio itu diklaim media-media Barat dilansir oleh situs-situs internet milik kelompok “militan Islam”, yang selama ini menjadi corong-corong para pemimpin “Al-Qaeda” untuk berbicara kepada dunia, atau secara khusus kepada para simpatisan mereka. Seperti biasa, rekaman suara itu tidak pernah bisa dikonfirmasi menjadi milik Al-Zawahiri sendiri, dan kerap ditautkan dengan potret lama Al-Zawahiri.

Dalam rekaman berdurasi dua jam tersebut, Al-Zawahiri menyalahkan Iran karena telah menyebarkan teori bahwa Israel berada di balik serangan 11 September 2001. Al- Zawahiri bersikeras menyatakan bahwa Al-Qaeda-lah yang melakukan serangan atas Amerika itu. Al-Zawahiri menuduh Iran dan Hizbullah sedang berusaha mengecilkan peran jaringan Osama bin Laden.

“Tujuan dari kebohongan ini adalah jelas, (yakni untuk mengatakan) bahwa tidak ada pahlawan di kalangan Sunni yang bisa “melukai” Amerika dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun dalam sejarah,” katanya yang menganggap teori konspirasi 9/11 dipelopori oleh stasiun TV Al-Manar.

Sumber Rekaman

Media-media Barat yang memuat rekaman audio itu, baik BBC News maupun AFP, tidak menyebutkan secara definitif situs-situs manakah yang dimaksud.

Terlepas dari latar belakang dan keberadaan misterius deputi Osama bin Laden itu[2], pernyataannya itu merupakan bagian dari jawaban atas lebih daripada 2000 pertanyaan yang diajukan publik, ketika, pada Desember tahun lalu, situs-situs yang diduga memilik koneksi kepada Al-Qaeda membuka forum pertanyaan kepada Al-Zawahiri. Anehnya, kabar akan rilisnya—yang juga dilaporkan mengalami penundaan hingga April 2008—jawaban Zawahiri itu justru datang dari IntelCenter[3], sebuah kelompok monitoring terorisme yang berbasis di Amerika Serikat, yang dulu pernah terungkap memasukkan rilis-rilis palsu “Al-Qaeda” lewat As-Sahab, sebuah media yang dianggap menjadi corong organisasi teroris.

Sedikit kembali ke belakang, pada 2006, seorang analis komputer meneliti sebuah video yang diduga dirilis Al-Qaeda. Video itu berlabelkan logo As-Sahab di bagian bawah dan logo IntelCenter pada bagian kanan atas.


Temuan Nael Krawetz, nama analis dan konsultan keamanan komputer itu, sangat menarik. Ia menemukan bahwa logo As-Sahab (yang diduga sebagai media Al-Qaeda) dan logo IntelCenter (yang mengklaim sebagai konsultan intelijen berbasis di AS) dilekatkan kepada video itu pada waktu yang sama[4].

Artinya ada dua kemungkinan: pertama, IntelCenter sendirilah yang membuat dan merekayasa video tersebut; atau kedua, “Al-Qaeda” berbaik hati mau videonya dilabeli oleh logo sebuah organisasi yang dijalankan oleh individu-individu yang mempunyai koneksi dengan Pentago. Silakan anda memilih mana kemungkinan yang paling mungkin!

IntelCenter, yang kerap menjadi “perantara” antara As-Sahab dengan pers, dijalankan oleh Ben Venzke, mantan direktur intelijen dalam sebuah perusahaan bernama IDEFENSE, sebuah perusahaan keamanan internet yang memonitor aktivitas intelijen cyber dari Timur Tengah. IDEFENSE digawangi oleh Jim Melnick yang pernah bertugas pada operasi-operasi psikologis dari Defense Intelligent Agency (DIA) selama 16 tahun. Pendek kata, IntelCenter, si perantara “Al-Qaeda” itu, jelas memiliki keterkaitan dengan bekas ahli perang psikologis militer AS[5].

Apakah rekaman audio Zawahiri tentang Iran dan teori konspirasi tersebut juga dirilis oleh As-Sahab dengan perantaraan IntelCenter? Meskipun, media-media Barat tidak secara gamblang menyebutkan sumber mereka, kuat kemungkinan rilis Zawahiri terakhir ini juga berasal dari IntelCenter, terlebih kelompok inilah yang terakhir kali melaporkan mengenai akan dirilisnya jawaban Zawahiri atas pertanyaan-pertanyaan publik.

Substansi dan Tujuan Rekaman

Siapa pun, yang memiliki pengetahuan superfisial tentang 9/11, tahu bahwa bukan Iran atau Hizbullah yang memunculkan teori konspirasi 9/11. Sejatinya teori konspirasi itu berasal dari sebagian ahli dalam Komite Investigasi 9/11 sendiri karena mereka menemukan indikasi-indikasi kejanggalan dalam peristiwa teror itu (bukan pada tempatnya di sini untuk mendaftarkan sejumlah kejanggalan tersebut) walaupun kesimpulan akhir mereka lebih mendukung cerita versi pemerintah Bush.

Sejumlah figur Amerika pun, seperti sebut saja Paul Craig Roberts (penasehat Presiden Ronald Reagan) dan sutradara Michael Moore, sudah lama mempublikasikan skeptisisme mereka atas kesimpulan Komisi 9/11. Mereka bahkan membentuk sebuah perlawanan dalam apa yang mereka namakan, “9/11 Truth Movement”.

Hingga saat ini pun, pemerintah Bush belum bisa menghadirkan bukti keras terkait tudingan mereka bahwa Al-Qaeda-lah dalam 9/11, terkecuali tentu saja pernyataan Osama bin Laden dalam video yang ternyata palsu, dan rekaman audio Ayman Zawahiri yang belum dapat dikonfirmasi keasliannya.

Kasus penghancuran tape-tape interogasi CIA juga diduga kalangan progresif Amerika bukan semata karena video itu merupakan bukti adanya penyiksaan tahanan tetapi juga bukti bahwa tidak pernah ada pengakuan dari para tahanan, bahwa mereka bagian dari Al-Qaeda.

Dan kini, nyaris setengah populasi (42%) rakyat Amerika percaya bahwa 9/11 adalah semacam konspirasi[6].

Dan Mahmoud Ahmadinejad, yang baru-baru ini menyatakan 9/11 sebagai “peristiwa meragukan” yang dimanipulasi sebagai dalih bagi AS untuk menyerang Irak dan Afghanistan[7], bukanlah pemimpin dunia pertama, atau satu-satunya, yang pernah mengajukan keraguan seperti itu.

Bekas Presiden Italia Francesco Cossiga, kepada suratkabar Corriere della Sera, mengatakan bahwa seluruh negara di Eropa dan Amerika, tahu benar bahwa serangan atas WTC itu direncanakan oleh CIA Amerika dan Mossad Israel dengan tujuan untuk membujuk negara-negara Barat agar ikut menginvasi Irak dan Afghanistan[8].

Bahkan, pernyataan pemimpin radikal Israel, Benyamin Netanyahu, terlihat justru “mendukung” skeptisisme Ahmadinejad dan Cossiga tentang 9/11. Dengan bangganya, Netanyahu menyatakan bahwa 9/11 adalah “baik bagi Israel”. Di depan sebuah konferensi di Bar-Illan University, Israel, Netanyahu berkata, “Kita mendapatkan keuntungan dari satu hal, dan itu adalah serangan atas Menara Kembar dan Pentagon, dan peperangan Amerika di Irak...[semua itu] mengubah opini publik Amerika sesuai dengan selera kita.”[9]

Tentu saja, akan lebih tepat jika memilih Ahmadinejad dan Iran, yang dilabeli “poros setan” oleh Bush dan anti-Semit oleh Zionis-Israel, daripada Cossiga dan Italia, dalam langkah guna mendeskreditkan 9/11 Truth Movement sebagai gerakan anti-Semit dan membungkam perdebatan tentang 9/11.

Dan di sini, “Al-Qaeda” benar-benar tersaji sebagai alat untuk mencapai tujuan itu. Tampaknya Al-Qaeda lebih pantas disebut Al-CIAda.[JG]


[1]Al-Qaeda accuses Iran of 9/11 lie”, BBC News, 22 April 2008. [http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/7361414.stm]

[2] Al-Zawahiri uniknya pernah dilaporkan ditangkap beberapa kali di sejumlah wilayah: di Iran pada Februari 2002 [http://www.prisonplanet.com/110903zawahiri.htm]; di dekat perbatasan Pakistan-Afghanista pada September 2004 [http://www.prisonplanet.com/articles/september2004/280904caughtinpak.htm]. Bahkan, konon bekas pemimpin Jihad Islam Mesir ini pernah diberikan status tinggal di AS oleh Immigration and Naturalization Service pada Januari 2000, sesuatu yang sulit didapatkan banyak imigran pada umumnya [http://www.williambowles.info/articles/brit_fascists.html].

[3] “Ask Zawahri” responses coming soon from Qaeda leader”, Reuter, 2 April 2008. [http://www.reuters.com/article/topNews/idUSN0241432020080402]

[4] Kim Zetter, “Researcher’s Analysis of Al Qaeda Images Reveals Suprises”, Wired Nwes, August 2, 2007. [http://blog.wired.com/27bstroke6/2007/08/researchers-ana.html]

[5] Paul Joseph Watson, “U.S. Government Caught Red-Handed Releasing Staged Al Qaeda Video”, Prison Planet, 5 October 2006. [http://www.prisonplanet.com/articles/october2006/051006redhanded.htm]

[6]9/11 Opnion Polls”, Wikipedia.org, diakses pada 25 April 2008.

[7]Ahmadinejad: 9/11 suspect event”, BBC News, 16 April 2008. [http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/7350830.stm]

[8] “Osama-Berlusconi?” Corriere de la Sera, 30 Novembre 2007. [http://www.corriere.it/politica/07_novembre_30/osama_berlusconi_cossiga_27f4ccee-9f55-11dc-8807-0003ba99c53b.shtml]

[9] “Report: Netanyahu says 9/11 terror attacks good for Israel”, Haaretz, 16 April 2008. [http://www.haaretz.com/hasen/spages/975574.html]

Petraeus atau “Betray-us”

Selasa, 8 April 2008, mungkin adalah hari paling membahagiakan bagi kandidat presiden AS dari Partai Republik, Senator John McCain. Pada hari itu, Komandan Multinational Force di Irak, Jenderal David Petraeus, bersaksi di hadapan Komisi Angkatan Besenjata Senat, bahwa—setelah milisi pro-Baath dan “al-Qaeda in Iraq”—kini Amerika punya musuh baru di negeri Seribu Satu Malam itu, “Kelompok-kelompok Khusus (Special Groups)” yang dilatih oleh Garda Revolusi Iran dan Hizbullah—dua entitas yang telah ditetapkan Amerika sebagai teroris. McCain kini punya alasan bagi argumennya bahwa pasukan AS bisa dipertahankan di Irak hingga 100 tahun ke depan.

Dalam pertunjukkan “dog and pony”-nya, duo pejabat Amerika di Irak, Petraeus dan Duta Besar Ryan Crocker, mencoba meyakinkan Senat tentang peran destruktif pemerintah Iran di Irak. Menurut keduanya, Iran telah “memicu berbagai kekerasan belakangan ini, dalam sebuah cara yang menghancurkan melalui dukungan mematikannya bagi kelompok-kelompok khusus.” Kelompok-kelompok khusus ini “didanai, dilatih, dipersenjatai, dan diarahkan oleh Pasukan Elit Iran al-Quds dengan bantuan dari Hizbullah. Kelompok-kelompok inilah yang meluncurkan roket-roket dan mortir-mortir Iran di sekitar Zona Hijau (markas Amerika di Irak)…menyebabkan kematian warga sipil yang tak berdosa dan ketakutan di ibukota (Baghdad),” kata Petraeus.

Senator hawkish Joe Lieberman bertanya seraya mencoba mengarahkan suatu kesimpulan, “Apakah fair untuk mengatakan bahwa kelompok-kelompok khusus yang didukung Iran di Irak bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan tentara Amerika dan ribuan tentara dan warga sipil Irak?”

Petraeus menjawab, “Itu pastinya…itu betul.”[1]

Sekali lagi, “America is under attack!” Namun, kali ini, bukan Gedung WTC yang menjadi setting lokasinya dan bukan pula al-Qaeda yang menjadi penjahatnya, tetapi Iran yang konon membunuhi pasukan Amerika di Irak. Sebuah dalih baru untuk menggelar kejahatan perang lainnya di teater Timur Tengah: Iran telah menyerang kepentingan Amerika meskipun kepentingan yang dimaksud terletak ribuan mil dari garis Pantai Florida. Dan, George W. Bush tahu benar akan hal itu ketika tampil di televisi dengan menyatakan:

Jenderal saya di Irak, David Petraeus, telah mengatakan kepada saya bahwa Iran, dengan sepengetahuan Presiden Ahmadinejad, telah menjadi tempat perlindungan istimewa bagi dua organisasi teroris—Hizbullah dan Pasukan al-Quds dari Garda Revolusi Iran—untuk melatih, mempersenjatai, dan mengarahkan serangan-serangan teroris terhadap pasukan-pasukan AS dan koalisi…maka saya telah memerintahkan angkatan udara dan laut AS untuk memulai serangan udara terhadap basis-basis teror tersebut[2].”

Dalih Baru: “Perang Proksi” di Irak

Menurut Gareth Porter, jurnalis dan sejarawan kawakan Amerika, tujuan utama kesaksian Petraeus dalam dengar pendapat Kongres adalah membela garis kebijakan sang bos, Bush, bahwa Amerika kini tengah memerangi “Perang Proksi” yang dilancarkan Iran di Irak dengan memunculkan istilah baru, “Special Groups”[3].

Dan “Special Groups”, yang dimunculkan sebagai musuh baru Amerika, dihubungkan dengan pemerintah Iran melalui Pasukan al-Quds dan Hizbullah. Sebutan “Special Groups” hanya muncul sekali dalam kesaksian Petraeus dan Crocker pada September tahun lalu—ketika al-Qaeda di Irak masih dipandang sebagai ancaman nomor satu—dan itu pun hanya rujukan selintas sang Jenderal kepada sebuah pertanyaan. Namun dalam kesaksian terakhir, istilah itu tercatat 16 kali disebutkan Petraeus dan Crocker[4]. “Special Groups” ditafsirkan oleh Petraeus sebagai para milisi yang split dari Tentara Mahdi-nya Muqtada Shadr karena pengaruh Iran.

Pada April 2007, pasukan AS menahan bekas juru bicara Shadr, Qais al-Khazali yang kemudian Petraeus tahbiskan sebagai “pemimpin jaringan sel rahasia, sel rahasia para ekstrimis.” Dan, sel itu pun sejak saat itu memiliki nama “the Khazali Network”. Juli 2007, kini giliran Brigadir Jenderal Kevin Bergner yang punya gawe. Bergner menyimpulkan bahwa “the Khazali Network” adalah “Special Groups” yang didanai, dilatih, dipersenjatai, dan dalam beberapa kasus bahkan “diarahkan” oleh Garda Revolusi Iran. Tak lupa, Jenderal berbintang satu itu juga mengatakan bahwa Iran menggunakan operator-operator Hizbullah dari Lebanon untuk mengorganisasi kelompok-kelompok itu.

Duta Besar Crocker juga tidak mau ketinggalan. Pada Maret 2008, ia menolak bahwa pasukan yang melakukan resistensi bersenjata terhadap pasukan koalisi di Basrah adalah tentara Mahdi pimpinan Shadr. “Apa yang kalian lihat di sana bukanlah sebuah pemberontakan oleh Jays al-Mahdi. Itu adalah pecahan dari Jays al-Mahdi, yang disebut ‘Special Groups,’” kata Crocker.

Namun, identifikasi siapakah “Special Groups” ini kerap membingungkan. Pada 30 Maret 2007, Mayor Jenderal Michael Barbero dari Staf Gabungan AS, dalam sebuah press briefing, menyatakan bahwa Khazali masih menjadi bagian dari organisasi yang dipimpin Shadr. Yang lebih signifikan, klaim tentang “the Khazali N etwork” sebagai “Special Groups” yang membelot dari Tentara Mahdi, kemudian malah dibantah ulama muda Syiah itu sendiri. Dalam wawancara dengan stasiun televisi al-Jazeera, Shadr menuntut pembebasan Qais Khazali yang disebutnya sebagai bagian dari Tentara Mahdi, dari penjara AS di Irak.

Hingga di sini, menurut Porter, jelas bahwa Khazali tidak pernah membelot dari Shadr, dan bahwa “Special Groups” yang didukung Iran tidak pernah ada.

Bagi Porter, selain bertujuan mendemonisasi Iran, pemunculan istilah “Special Groups” yang didukung Iran, juga diarahkan untuk memecah-belah Tentara Mahdi, yang posisinya di mata rakyat Iran semakin populer, dimana pemimpinnya, Muqtada Shadr, juga dianggap ancaman bagi operasi pendudukan Amerika di Irak. Analisis Porter didukung Bill Roggio, analis militer pro-perang yang mempunyai relasi dekat dengan para komandan Amerika di Irak. Menurut Roggio, garis utama kebijakan tentang “Special Groups” yang dikendalikan Tehran adalah untuk memfasilitasi strategi Petraeus dalam memecah-belah Tentara Mahdi. Cerita tentang elemen-elemen yang membelot membuat para pejuang dan komandan Tentara Mahdi harus memilih antara dua pilihan: melawan Amerika dan pemerintahan al-Maliki tetapi akan dipandang sebagai “kaki-tangan” orang Persia atau mundur dan tunduk kepada proses politik[5].

Invasi atas Iran

Tentu saja tujuan akhir dari kesaksian Petraeus dan Crocker adalah menyediakan basis argumen bagi rencana Bush, sang utusan Yesus, untuk menggebuk satu negara lagi, yang menurutnya menjadi bagian dari “poros setan”. Editor The New American Conservative yang juga bekas kandidat presiden Partai Republik, Patrick J. Buchanan, kini pemerintah Bush setidaknya punya dua sarana untuk memuaskan hasrat melakukan ekspansi ke Iran. Pertama, ditariknya sebuah resolusi yang akan mengingkari autoritas Bush menyerang Iran tanpa persetujuan Kongres oleh Pemimpin Mayoritas di Kongres, Nancy Pellocy. Kemurah-hatian Kongres ini memberi Bush sebuah cek kosong bagi perang terhadap Iran. Kedua, tentu saja adalah kesaksian Petraeus, komandan tertinggi militer AS di Irak, bahwa Iran “telah menyerang kepentingan Amerika” di Irak[6].

Tentang wewenang Bush menyerang Iran tanpa persetujuan Kongres, anggota Kongres dari Republik, yang juga kandidat presiden yang diusung kalangan progresif di Amerika, Ron Paul bertanya sengit kepada Petraeus:

“Menurut pandangan anda, apakah pemerintah (Bush) punya autoritas untuk membom Iran tanpa persetujuan lebih lanjut dari Kongres,” tanya Ron Paul kepada Petraeus.

“Uh, anggota Kongres, saya komandan di Irak, dan saya tidak tahu, uh, jawaban bagi pertanyaan itu, itu bukan dalam cakupan pemahaman saya,” jawab Petraeus; sebuah jawaban yang mengungkapkan betapa dirinya sama tidak kompetennya dengan Bush, dan pastinya sama berbahayanya.

Dan, Ron Paul dengan cerdas merespon, “Well, ini sangat jelas, di bawah konstitusi kita, dan begitulah cara kerjanya—bahwa kita diharapkan berdiskusi dengan Kongres. Dan (kebijakan) ini akan memperluas perang. Kita tahu…bagaimana perang meluas di Vietnam tanpa persetujuan Kongres, dan apa yang menyebabkannya. Jadi, ini tampak bagi saya bahwa…pemerintahan ini tidak mempunyai autoritas untuk membom negara lain tanpa terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Kongres. Jadi, sangatlah mengganggu bagi saya bahwa kita tidak mendapatkan jawaban ‘tidak’ yang jelas bagi pertanyaan ini[7].”

Tanda-tanda bahwa Bush akan mengisi cek kosong yang disediakan Kongres baginya mulai tampak dalam beberapa pekan terakhir. Allen R. Roland, kolumnis politik pada acara “TruthTalk” di radio nasional Conscioustalk, menulis bahwa panggung teater perang terhadap Iran tengah dipersiapkan dalam beberapa pekan terakhir. Roland menyimpulkan beberapa indikasi ke arah itu:

  1. Kesaksian Jenderal Petraeus di hadapan Kongres yang menyajikan dalih bagi perang dengan Iran. Kesaksian Petraeus akan semakin meningkatkan posisi McCain di kancah pemilihan presiden, sementara Barack Obama dan Hillary Clinton akhirnya tampak harus memperbaiki argumen mereka tentang Irak demi mempertahankan posisi.
  2. Retorika konfrontatif Bush dan Dick Cheney dalam berbagai kesempatan, meskipun mayoritas rakyat Amerika sudah merasa tidak puas dengan pemerintahan ini.
  3. Disingkirkannya Jenderal William “Fox” Fallon dari posisi Kepala Staf Gabungan militer AS. Fallon terkenal dengan oposisinya terhadap kebijakan ekspansi perang pemerintahan Bush.
  4. Merapatnya sejumlah kapal induk Angkatan Laut Amerika di posisi strtaegis di Teluk Persia dan perairan Lebanon.
  5. Berbagai upaya Israel mempersiapkan warganya bagi suatu perang yang lebih besar[8].

Mungkin ada yang berpikir bahwa dugaan Amerika akan menyerang Iran hanyalah hasil rekaan para pengusung teori konspirasi. Tidak juga. Anggota kongres, seperti Ron Paul atau John Conyers, Jr., percaya Bush-Cheney tengah mempersiapkan sebuah serangan atas Iran. Beberapa pekan yang lalu, sumber di Kementerian Luar Negeri dan Intelijen Rusia menyatakan bahwa pada pertemuan NATO di Rumania, para pejabat Amerika mempresentasikan kepada Presiden Putin detail sebuah rencana serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran. dalam ‘tawarannya’ kepada Putin, Amerika meminta Rusia tetap netral dalam konflik tersebut dengan imbalan bahwa NATO akan menolak keanggotaan Ukraina dan Georgia serta membatalkan rencana membangun sistem pertahanan rudal di Polandia dan Republik Ceko[9].

Sebuah sumber ternama di komunitas Yahudi Amerika juga percaya bahwa sebuah serangan militer terhadap Iran bukan semata pilihan terakhir, tetapi juga suatu kemungkinan besar. Kepada Newsmax, sumber itu mengatakan bahwa keyakinannya didasarkan pada sedikitnya tiga indikasi: [1] persiapan Israel dalam menghadapi konflik yang lebih besar; [2] kunjungan 9 hari Dick Cheney ke berbagai negara Teluk; dan [3] latihan perang terbesar yang pernah dilakukan Israel minggu lalu. “(Perang) ini akan menghancurkan bangsa Iran,” kata sumber itu.

Terlepas dari semua dugaan di atas, William Arkin dari Washington Post menganalisis bahwa dalam kalkulasi militer, Amerika hampir tidak mungkin melakukan invasi ke Iran. Terkonsentrasinya kekuatan pasukan AS di Irak dan Afghanistan serta terbatasnya logistik karena resesi membuat kebijakan ekspansi militer nyaris mustahil bagi Bush; sebuah analisis yang rasional meskipun, patut diingat, Bush kerap emoh terhadap segala yang rasional.

Petraeus atau “Betray-us”

Berbeda dengan Petraeus, baik Porter maupun Buchanan melihat bahwa Iran sama sekali bukan ancaman, bahkan dalam konteks Irak, Tehran justru memainkan peran yang lebih positif ketimbang Amerika sendiri.

Selain bantuan bagi besar rekonstruksi Irak, sebagaimana dilaporkan Leila Fadel, Kepala Biro Baghdad McClatchy Newspapers, Iran berperan besar dalam memediasi gencatan senjata antara Tentara Mahdi dan pemerintahan Al-Maliki untuk mengakhiri krisis Basrah; sesuatu yang sama sekali jauh dari gambaran “perang proksi” yang dipotret Amerika. Fadel melaporkan bahwa Brigjen Qassem Suleimani, komandan Brigade al-Quds Garda Revolusi Iran menjadi mediator gencatan senjata dengan Muqatada Shadr setelah pihak-pihak yang bertikai bertemu di Qum pada 29-30 Maret. Hasil pertemuan itulah yang mencorong Shadr mengumumkan maklumat gencatan senjata kepada para milisinya[10].

Kesaksian Petraeus berikut retorika konfrontatif Bush-Cheney, menurut editor antiwar.com Justin Raimondo, memperlihatkan bahwa Amerika tidak memiliki keinginan untuk melihat Iran muncul sebagai entitas yang independen dan kuat, yang bagaimanapun mensyaratkan hengkanya Amerika dari negeri Mesopotamia itu. Apa yang Amerika inginkan adalah sebuah negara yang serba hancur-hancuran: kepemimpinan yang lemah dan disintegrasi populasi Irak—semuanya benar-benar merasionalisasi kehadiran militer AS di sana dan menyajikan dalih bagi perang dengan Iran[11].

Dalam konteks demikian, dan di tengah tumbuhnya ketidakpuasan publik Paman Sam terhadap pemerintahan Bush dan tuntutan mereka agar Bush segera menarik mundur pasukan AS dari Iran, maka kesaksian Petraeus, dan kebijakan Bush—yang mendorong penambahan pasukan dan ekspansi operasi militer—jelas mengkhianati aspirasi publik Amerika. Tak salah kiranya jika para aktivis anti-perang mengolok-olok Petraeus dengan “Betray-us”.

[1] Dana Milbank, “Special Groups Pose Special Problems”, the Washington Post, 8 April 2008.

[2] Patrick J. Buchanan, “Petraeus Points to War with Iran”, http://www.antiwar.com/pat/?articleid=12673

[3] Gareth Porter, “Petraeus Testimony to Defend False ‘Proxy War’ Line”, http://www.antiwar.com/porter/?articleid=12649

[4] Dana Milbank, “Special Groups Pose Special Problems”, the Washington Post, 8 April 2008.

[5] Bill Roggio, “Dividing the Mahdi Army”, the Long War Journal, 27 February 2007.

[6] Patrick J. Buchanan, “Petraeus Points to War with Iran”, http://www.antiwar.com/pat/?articleid=12673

[7] Dan Alba, “Petraeus Self-demotion”, Libertarian, 11 April 2008.

[8] Allen R. Roland, “Countdown to Attack Iran Begins This Week”, OpEdnews, * April 2008.

[9] Lihat Paul Craig Roberts, “A Third American War Crime in the Making”, Information Clearing House, 31 Maret 2008.

[10] Leila Fadel, “Iranian General Played Key Role in Iraq Cease-fire”, McClatchy Newspapers, 30 Maret 2008.

[11] Justin Raimondo, “Endless Enemies”, http://www.antiwar.com/justin/?articleid=12663

Desi Anwar Bantah Tuduhan Ramos Horta

JAKARTA (Berita Nasional) - Jurnalis senior Metro TV Desi Anwar meminta perlindungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baik sebagai pribadi, jurnalis dan warga negara dari segala konsekuensi negatif yang dapat timbul atas tuduhan Presiden Timor Leste Ramos Horta yang telah disiarkan di media internasional. "Saya juga memohon kepada Presiden Yudhoyono untuk meminta penjelasan terhadap Presiden Ramos Horta atas tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar tersebut dan memulihkan nama baik saya dan Metro TV," katanya ketika mengadukan kasus tuduhan tak berdasar terhadap dirinya oleh Ramos Horta kepada Dewan Pers di Jakarta, Jumat.

Kepada jajaran pimpinan Dewan pers, Desi Anwar membantah keras tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh Presiden Ramos Horta di hadapan pers internasional pada tanggal 18 April di Dili. Dalam wawancara tersebut, Ramos menuduh Desi Anwar telah melanggar kode etik jurnalistik, melakukan berbagai kegiatan yang melanggar hukum dan yang memberi andil terhadap upaya pembunuhan kepada dirinya, serta diancam akan dilaporkan ke institusi pers internasional.

"Tuduhan-tuduhan tersebut adalah bohong, tidak bertanggungjawab dan menyakitkan," katanya yang didampingi sejumlah pimpinan Metro TV seperti Djafar Assegaf, Elman Saragih, dan Saur Hutabarat. Dari pihak Dewan Pers nampak hadir Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara, serta anggota Dewan Pers Wina Armada Sukardi, Abdullah Alamudi, serta Ikrama Abidin.

Desi menyatakan bahwa tuduhan Ramos Horta tersebut bohong karena tidak ada secuil kebenaran pun dalam pernyataannya.

"Saya tidak pernah pergi ke Atambua, tidak pernah memalsukan dokumen dan memfasilitasi perjalanan Mayor Alfredo Reinado. Tidak pernah melakukan kontak apapun baik langsung maupun tidak langsung, apalagi yang melanggar hukum dan memberi andil terhadap upaya pembunuhan kepada Presiden Ramos Horta," katanya. Desi menegaskan, selama hidupnya, tidak pernah mengenal, bertemu atau melakukan kontak apapun dengan Mayor Alfredo Reinado.

Menurut Desi, tuduhan tersebut tidak bertanggung jawab karena merupakan tuduhan yang sangat serius, yaitu membantu dalam upaya pembunuhan seorang Presiden, mencemarkan nama baik dan melecehkan dirinya sebagai jurnalis baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Ia menilai, tuduhan tersebut berbahaya karena dilontarkan oleh seorang Presiden sehingga dapat menimbulkan persepsi negatif serta konsekuensi yang sangat merugikan terhadap dirinya sebagai pribadi maupun professional, sehingga dikhawatirkan akan menyulitkannya melakukan tugas jurnalistik. "Tuduhan tersebut menyakitkan karena saya sebagai jurnalis mengenal Jose Ramos Horta, begitu pula Xanana Gusmao saat mereka masih dicap sebagai pemberontak terhadap negeri ini di masa silam, sehingga saya tidak paham mengapa tuduhan tersebut sekarang dialamatkan kepada diri saya. Apa maksud yang dituju," katanya.

Protes keras

Karena itu, Desi Anwar, memprotes keras tuduhan-tuduhan tidak mendasar tersebut dan meminta dengan segera agar Presiden Timor Leste Ramos Horta menarik kembali tuduhan-tuduhannya dan meminta maaf kepada dirinya dan Metro TV di depan publik internasional.
Selain itu, Desi juga meminta perlindungan kepada seluruh asosiasi jurnalistik dan kalangan pers, baik di Indonesia maupun internasional, serta melakukan protes resmi terhadap tuduhan-tuduhan yang telah melecehkan profesi jurnalistik itu.

"Sekali lagi, saya Desi Anwar jurnalis Metro TV, tidak terima dituduh tanpa dasar oleh seorang Presiden negara lain di hadapan khalayak internasional dan saya tidak akan diam hingga permintaan serta permohonan saya dipenuhi," tegasnya.(sumber: antara)

NAMRU

Rabu, 23 April . Siang tadi, Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan, tampak keluar pintu lift Kantor Sekretaris Negara, Jl. Veteran III, Jakarta Pusat. Ia baru saja bertemu dengan Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara.

Banyak wartawan yang menantinya. Ia lalu berujar, “Tak akan aku katakan. Tak akan aku katakan.” Dia tersenyum. Entah apa pula maksud kalimat tak akan aku katakan itu.

“Apa mengenai NAMRU?” Tanya seorang wartawan

“No Comment,” jawab Siti. Ia bergegas menuju Camry RI 30. Supir langsung tancap gas membawanya.

Nama NAMRU (Naval Medical Reasearch Unit), dalam sepekan terakhir ini menjadi ikon yang kian bunyi. Hal itu diawali dari pemberitaan singkat di beberapa media on line, bahwa, Menteri Kesehatan, tidak dibenarkan masuk ke dalam laboratorium, di mana ada beberapa warga negara Amerika Serikat sedang bekerja di dalam laboratotium Litbang, Departemen Kesehatan.
Ada lima belas menit lamanya Siti Fadilah menunggu. Bisa dibayangkan kekecewaannya, sebagai pejabat negara, di tanah airnya sendiri, di bawah naungan departemennya pula, ia diperlakukan demikian.

Aneh memang.

Kedutaan besar Amerika Serikat hari ini, mengeluarkan siaran pers. Isinya: Satu komplek dengan litbang Departemen Kesehatan RI, NAMRU tidak tersentuh hukum Indonesia. Laboratorium penelitian Angkatan laut AS itu, memang berada di wilayah hukum AS.
“NAMRU adalah bagian dari wilayah keduataan besar AS di Jakarta.”

Di dalam rilis itu Kedubes AS membantah bahwa NAMRU yang berkantor di Jl. Percetakan Negara, Rawasari, Jakarta Pusat, merupakan fasilitas rahasia, dan melakukan mata-mata. NAMRU terbuka bagi siapa saja yang berminat kepada penelitian. Misalnya untuk kalangan universitas, militer, peneliti dan ilmuwan.

Semua proyek NAMRU mereka klaim sudah atas persetujuan Badan Litbang Depkes RI. Dari 175 pegawainya, kebanyakan peneliti; dokter, dokter hewan, ahli teknologi. Staf administrasinya penduduk lokal. Dari 175 pegawai, hanya 19 orang saja yang berkewarganegaraan AS.
Begitu pokok-pokok rilis Kedubes AS.

Kian menjadi tanya, lokasi kantor NAMRU bukan di wilayah Kedutaan AS, yang di Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, itu. Lantas NAMRU otonom? Lalu ada 19 warga negara AS bekerja di sana, yang tidak tersentuh hukum Indonesia?

Menjadi kian unik memang NAMRU ini.

Negeri yang katanya zamrud di khatulistiwa ini, memang menjadi incaran banyak kepentingan. Bukan sesuatu yang baru, bila mendadak sontak isu adanya mata-mata di tumpah darah Indonesia ini berseliweran.

Laku mata-mata di negeri ini memang sudah terindikasi mencengkram, bahkan menelisik ke ranah departemen pemerintah, lembaga bergengsi macam di Kadin Indonesia, juga think-thank, yang sering dijuluki Mafia Berkeley, misalnya.

SETAHUN sebelum AS menyerang Irak. Seorang kawan saya redaktur sebuah majalah berita di Jakarta menceritakan pengalamannya. Sebut saja namanya Mohammad Dong. Ia bersama empat wartawan dari ASEAN diundang berkunjung ke Israel, dalam muhibah jurnalistik.

Keberangkatan itu diurus segalanya dari Singapura. Mendarat di Tel. Aviv, Israel, rombongan lima wartawan ASEAN itu dijemput oleh seorang kolonel polisi. Di sepanjang perjalanan, kolonel itu memberikan penjelasan tentang keberadaan kota, apa saja yang mereka lakukan, termasuk kesiagaan warga untuk selalu jaga-jaga jika negara dalam keadaan darurat diserang, siap sedia perang.

Tiba di semacam kantor dinas penerangan setempat, kolonel polisi tadi meminta rombongan wartawan itu menunggu di sebuah ruang rapat. Begitu kembali ke ruang rapat kolonel polisi tadi sudah berganti baju biasa, bukan lagi pakaian dinas. Ia menepuk bahu Mohammad Dong.
“Lagi musim duren di Jakarta?” tanya kolonel polisi dalam bahasa Indonesia fasih.

Mulut Mohammad Dong ternganga.

Belum habis keterkejutannya, pejabat dinas penerangan itu meneruskan kata
”Gue kan sebelas tahun tinggal di Ciputat. Punya gerobak roti 20.”

Alamak!

Sebelas tahun, punya usaha roti segala?

Mendengar kisah Mahammad Dong, saya menjadi tertawa. Kenapa tak tertawa? Gila benar polisi Israel bisa berbahasa Indonesia, tinggal sebelas tahun, punya usaha roti. Ketawa saya menjadi-jadi. Pakai visa apa dia ke Indonesia, bukankah antara Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik?

Saya mengkritisi cerita Mohammad Dong itu. Ia sosok yang pandai bertutur, dan acap kali mengeluarkan banyolan. Seringkali susah membedakan ia bercerita sungguhan atau sekadar menyampaikan joke.

Kala itu, ia memperlihatkan sebuah kartu nama pejabat Israel itu.

Ketika AS hendak menyerang Irak, email dan seluruh nomor kontak yang ada di kartu nama yang diperlihatkan kawan itu, sudah tidak bisa diakses. Bahkan alamat emailnya dikirimi surat seketika mental.

Begitulah sepenggal cerita Mohammad Dong, wartawan yang pernah diundang ke Israel.
Di satu sisi cerita tadi bisa jadi cuma “kejenakaan”. Tetapi di lain sisi, jika dicermati, begitulah adanya, bagaimana negeri ini memang seakan telanjang. Bangsa ini membutuhkan banyak kunjungan turis manca (banyak) negara. Hal hasil, mereka warga negara mana pun kita tampung saja - - termasuk tanpa kita pedulikan kedok paspor yang mereka pakai.

Mereka yang berkulit hitam dari Afrika, yang banyak datang untuk membeli barang pakaian jadi murah di Tanah Abang, Jakarta Pusat, telah pula terindikasi banyak memasukkan narkoba, berbisnis dolar palsu, dan melakukan penipuan pembuatan dolar hitam - - sebagaimana belum lama ini ditangkap oleh pihak Kepolisian RI.

Karena kesulitan ekonomi yang kini kian mendera, beberapa stasiun televisi sudah menyiarkan laku kawin kontrak wisatawan Timur Tengah - - termasuk satu dua dari Afrika - - dengan gadis-gadis di kawasan Puncak, Sukabumi, Cianjur, Jawa Barat. Dengan dalih eknomi, para pria yang membawa pundit-pundi uang itu, telah dengan gampang dan murah, hidup berbulan-bulan di lingkungan masyarakat kita. Mereka hidup di tengah-tengah kita. Bisa dibayangkan bila salah satu di antara mereka itu adalah pejabat negara asalnya, yang menyamar menjadi mata-mata, untuk mendapatkan masukan-masukan nyata tentang Indonesia terkini.

Akan tetapi menegur kaum perempuan yang melakukan perkawinan kontrak itu, juga sebuah dilemma. Mereka memang perlu untuk meningkatkan ekonomi, yang kian hari kini terasa kian sulit itu. Dengan hantaman sektor riil, pertanian, di daerah tidak tumbuh, laku kalangan pendatang dengan membawa pundit-pundi uang menjadi diperlukan.

Karena kepentingan dan dukungan uang serta keahlian pulalah logika NAMRU itu tampaknya diambil pemerintah Indonesia.

Tetapi adalah naïf tentu membandingkan NAMRU dengan pria Timur Tengah yang melakukan kawin kontrak. NAMRU sebuah lembaga riset, yang sangat strategis. Mereka memperlakukan Menteri Kesehatan RI, yang baru saja menulis Buku Saatnya Dunia Berubah, yang mengkritik kebijakan AS dan WHO, yang mengambil sampel virus flu burung untuk dibuat vaksin, lalu negara asal virus, di kemudian hari harus membayar mahal vaksin - - sebagai sebuah laku tak adil.

Munculnya makhluk bernama NAMRU, memang, tak terhindari sebagai satu lagi lakon mencurigakan yang dimainkan AS di negeri ini.

DINO Patti Djalal, kepada detik.com, hari ini membantah. “Janganlah berpikiran konspiratif. Apa-apa bawaannya curiga terus. Orang-orang yang membantu dari AS atau Inggris kita tolak, “ ujar Dino kepada detik.com. Menurutnya tidak ada yang salah kerjsama dengan NAMRU. Badan itu menurut Dino, memiliki jaringan, mempunyai teknologi yang bermanfaat bagi pemerintah Indonesia, untuk mengembangkan riset-riset medis.

Sebaliknya dengan Munarman, mantan Ketua YLBHI ini, yang hari ini melakukan konperesni pers di Mer-C (Medical Emergency Committee dan Annashar Institute), di kantornya di Jl. Kramat Lontar, Jakarta Pusat. Ia menilai bahwa laku beberapa orang AS di NAMRU, melakukan kegiatan intelijen.

Karenanya ia mencak-mencak, ketika ada dua orang dari kedubes AS, lalu membagikan rilis berkop surat Kedubes AS di Jakarta, yang isinya antara lain mengatakan bahwa NAMRU cuma lembaga penelitian, di saat MER-C sedang mengadakan konmperensi pers itu.

Munarman tampak sangat gusar di tengah acara yang dilakukannya itu dimanfaatkan oleh kedubes AS membagikan rilis. “Tamu tak diundang, lah kok membagi rilis di acara orang, di mana etikanya, “ Munarman, melanjutkan, “Makanya Amerika negara bangsat.” Kejengkelan Munarman itu lengkapnya bisa diklik di: http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/ index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/23/time/194020/ idnews/928471/idkanal/10.

Terlepas dari kontroversi soal NAMRU, saya menjadi teringat nama seorang kawan saya Amruh Kumandang, yang kini menjadi salah seorang pengusaha yang mensuplai kebutuhan buku-buku ke sekolah di berbagai daerah. Namanya mirip-mirp dengan NAMRU.

Amruh belum lama ini bercerita bagaimana banyak sekali peluang usaha di daerah yang belum tergarap. Ia baru saja berkeliling Sumatera. “Mencari permodalan di daerah susah,” katanya. Umumnya pengusaha sangat tergantung hanya pada proyek-proyek pemerintah. “Tidak ada yang namanya pengembangan usaha pertanian, seperti pembukaan lahan jagung baru, usaha pengeringan jagung yang dibiayai perbankan misalnya.”

Sudah banyak artikel yang memaparkan, bahwa kekuatan eknomi bangsa ini memang terindikasi “dilumpuhkan”. Pelakunya adalah konspirator lokal dengan agen-agen asing.

Menurut teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, dari delapan palka bahan tambang yang dikapalkan setiap hari di Freeport di Tembagapura, satu palkanya adalah emas. Anehnya, IMF melalui perjanjian yang ditandatangani Indonesia, mewajibkan melaporkan ekspor, impor, deposit emasnya kepada IMF. Juga tidak boleh mem-peg mata uang rupiah ke emas, sebaliknya ekspor emas Freeport tak ada datanya di kita - - toh izinnya menambang tembaga.

Banyak list yang bisa dijejerkan pula, seperti di pertambangan Migas, yang tidak proporsional pembagian keuntungannya bagi negara. Anehnya jika ada anak negeri yang kritis, sebagaimana Siti Fadilah Supari, seakan koor paduan suara pemerintah memojokkannya. Begitulah bila kekuasaan hanya untuk kekuasaan, tidak untuk kemaslahtan rakyat banyak.

Karenanya dari awal saya sudah mendukung langkah-langkah Sitri Fadilah Supari di bidang kesehatan, sebagaiman saya tulis di Tajuk Rakyat ini pada 22 Maret lalu: Revolusi Transparansi Siti. Semoga saja kalimat, “Tak akan kukatakan-tak akan kukatakan,” yang disampaikan Siti di Sekretariat Neghara hari ini, bisa kembali dia ungkap dalam tulisannya, demi menegakkan harkat dan martabat bangsa.

Saya yakin, dari melihat gaya Siti menulis di buku Saatnya Dunia Berubah itu, dia bukanlah tipikal pemimpin kebanyakan negeri ini: yang umumnya menghamba ke asing, demi mempertahankan kekuasaan. Saatnya, memang kita mengkritisi berbagai kepentingan asing di negeri sendiri.

Termasuk mengkritisi NAMRU, yang entah untuk apa itu?

Iwan Piliang, presstalk.info

Si Tanggang

Si Tanggang (ataupun "Si Tenggang") adalah sebuah cerita dongeng atau cerita lagenda masyarakat Melayu. Ia mengisahkan kehidupan seorang pemuda bernama Si Tanggang yang menderhaka kepada ibunya, dan akhirnya bertukar menjadi batu setelah disumpah oleh si ibu dengan izin Tuhan.

Dongeng ini dikenali juga dengan beberapa nama lain, antaranya Malin Kundang atau Malim Kundang (Minangkabau) dan Nakhoda Manis (Brunei). Masing-masing merupakan versi yang sedikit berbeza, tetapi memiliki isi cerita yang sama, iaitu balasan kepada manusia yang menderhakai ibunya.

Si Tanggang merupakan antara dongeng yang paling popular di kalangan masyarakat Melayu. Ia diceritakan melalui lisan secara turun-temurun. Golongan kanak-kanak sesuai didedahkan dengan cerita ini kerana dongeng ini mengandungi pengajaran penting yang merupakan salah satu pantang larang dalam adat Melayu juga perkara yang ditegah agama iaitu jangan derhaka kepada orang tua. Pengajaran ini juga selaras dengan ajaran Islam yang menghormati ibu bapa. Kanak-kanak yang tidak mahu menurut suruhan ibu atau bapa akan cepat-cepat diusik dengan panggilan "Si Tanggang" untuk mengingatinya mengenai kisah tersebut.

Beberapa tempat di Kepulauan Melayu dikaitkan dengan dongeng Si Tanggang. Antaranya ialah Jong Batu di Brunei, Batu Caves di Malaysia, dan Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Tempat-tempat ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, mengandungi bekas sejarah Si Tenggang menjadi batu.

Serba sedikit mengenai cerita ini... Si Talang dan Si Deruma merupakan bapa dan ibu kepada seorang anak lelaki yang bernama Si Tanggang. Mereka hidup sebagai keluarga nelayan di tepi pantai (dalam sesetengah versi: sungai). Kehidupan mereka amatlah miskin. Si Tanggang merupakan seorang kanak-kanak yang bercita-cita tinggi. Dia selalu berkhayal untuk menjadi kaya dan terkenal. Akan tetapi, keadaan hidupnya yang serba kekurangan dan ketiadaan peluang menjadi penghalang kepada cita-citanya.

Pada suatu hari, ketika sudah dewasa, Si Tanggang terlihat sebuah kapal besar berlabuh di muara sungai yang berhampiran dengan rumahnya. Si Tanggang pun pergi mencuba nasib, dia berjumpa dengan nakhoda kapal itu dan meminta untuk dijadikan anak kapalnya kerana itulah peluang yang ada untuk mencapai cita-citanya. Nakhoda kapal itu terus bersetuju kerana telah melihat kecekapan Si Tanggang bersampan dan bekerja.

Walaupun Si Talang dan Si Deruma amat keberatan untuk melepaskan Si Tanggang belayar mengikut kapal nakhoda itu, mereka terpaksa mengalah. Si Tanggang berjanji akan kembali ke kampung setelah menjadi kaya.

Si Tanggang melakukan apa sahaja kerja yang diperintahkan oleh Nakhoda. Nakhoda amat suka dengan Si Tanggang kerana dia sangat rajin bekerja. Lalu, Si Tanggang pun diambil sebagai anak angkatnya. Apabila Nakhoda menjadi uzur, maka Si Tanggang dilantik menjadi nakhoda baru. Dia dipanggil Nakhoda Tanggang.

Si Tanggang memiliki kecekapan dalam berniaga. Dia menjadi kaya raya dan namanya menjadi terkenal. Namanya sampai ke telinga Sultan dan dijemput ke istana. Sultan amat menyukai akan Si Tanggang kerana bakat dan kepintarannya. Tidak lama kemudian, Sultan mengahwini puterinya dengan Si Tanggang. Si Tanggang membawa isterinya berlayar ke banyak tempat di merata negeri.

Pada suatu hari, kapal Si Tanggang berlabuh di muara sungai kampung asal-usulnya. Orang kampung mengetahui nakhoda kapal itu Si Tanggang. Mereka pun memberitahu kepada orang tuanya.

Gembira dalam hati, Si Talang dan Si Deruma pun pergilah berkayuh sampan menuju ke kapal Nakhoda Tanggang. Apabila tiba di kapal, seorang anak kapal melarang mereka naik. Seketika kemudian, Si Tanggang muncul dengan isterinya. Si Tanggang malu melihat keadaan ibu dan bapanya yang daif lagi hina itu di hadapan isterinya. Si Talang dan Si Deruma memanggil-manggil Si Tanggang, akan tetapi dia berpura-pura tidak kenal mereka. Isterinya bertanya mengenai mereka, tetapi Si Tanggang telah berbohong mengatakan bahawa ibu dan bapanya sudah lama meninggal dunia, disebabkan terlalu malu untuk menjelaskan asal usul dirinya itu.

Si Tanggang menghalau ibunya dengan biadap dan dengan cara yang tidak sepatutnya seorang anak lakukan terhadap orang tua. Si Talang dan Si Deruma berdayung ke tepi dengan perasaan sedih dan kecewa. Apabila tiba di daratan, Si Deruma memandang ke langit dan memengangkat kedua-dua belah tangannya, kemudian berseru, "Oh, Tuhan! Tunjukkanlah kepada Si Tanggang bahawa akulah ibu kandungnya."

Tiba-tiba petir berdentum dan angin bertiup kencang. Kapal Si Tanggang terumbang-ambing akibat air yang bergelora. Ketika itulah, Si Tanggang berasa kesal. Dia sedar Tuhan telah memperkenankan doa ibunya. Dia akan menerima balasannya kerana telah menderhaka. Akhirnya, dia berteriak kepada ibunya supaya diampuni. Akan tetapi, penyesalannya itu sudah tidak berguna lagi. Segalanya sudah terlambat. Kapalnya pecah akibat dipukul oleh ombak yang kuat. Apabila ribut reda, Si Tanggang, isterinya, kapalnya, dan semua anak kapalnya telah bertukar menjadi batu.

Apakah pengajaran yang dapat kita ambil dari cerita Si Tanggang? Kedua orang tua kita seharusnya kita layan dengan baik. Walaupun mungkin mereka sudah tua dan miskin, janganlah kita memandang mereka dengan sebelah mata. Semasa kita masih bayi, kita telah dijaga dan dibelai dengan sepenuh kasih sayang sehingga kita dewasa. Tanpa mereka mana mungkin kita boleh melihat dunia yang serba indah ini. Doa yang dilafazkan dari mereka penuh dengan keberkatan. Sayangilah mereka sementara mereka masih ada dan jika mereka sudah tiada, hadiahkanlah pahala untuk mereka. Semoga anak-anak kita juga akan mencontohi apa yang kita lakukan itu.
Fatima



On May 13, 1917 a luminous Apparition of the Virgin Mary
appeared to three peasant children, Lucia, Jacinta and Francisco,
and delivered a prophecy that would change the world.


Fatima ialah sebuah desa kecil di distrik Leiria, kurang lebih 62 mil (100 km)
sebelah Utara Lisabon, ibu kota Portugis, yang sekarang merupakan salah sebuah
tempat berziarah yang ramai dikunjungi orang.
Asal mulanya ialah ketika di dalam tahun 1917 tiga orang anak penggembala domba
6 kali berturut-turut dengan selang tepat satu bulan, didatangi oleh seseorang
yang mendarat dari langit yang mereka anggap Bunda Maria.
Ketiga anak itu Lucia, Francisco, dan Jacinto Marto, yang pada waktu itu
berturut-turut berumur 10, 9 dan 7 tahun. Mereka pada mulanya tidak dipercaya,
bahkan sempat dijebloskan ke dalam penjara selama 3 hari atas tuduhan kemasukan
setan.
Namun perjumpaan dengan seseorang dari langit itu, yang diawali pada tanggal 13
Mei, kemudian pada tanggal yang sama selama 6 bulan berturut-turut terjadi
sehingga pada peristiwa-peristiwa berikutnya banyak saksi-saksinya. Bahkan pada
peristiwa terakhir tidak kurang dari 70.000 orang menyaksikannya, diantaranya
orang-orang yang percaya, yang tidak percaya, pendeta, wartawan Vikaris dari
Leiria, dan juga Profesor Almeida Garrett dari Universitas Coimbra.
Wahana yang dipergunakan oleh tamu dari langit itu dilukiskan sebagai "bola
bercahaya", "pesawat terbang dari cahaya", "seperti cakram dengan tepi yang
jelas, yang mempunyai permukaan yang mengkilau seperti mutiara".
Tamu dari langit itu dilukiskan sebagai wanita muda yang amat cantik, berwarna
putih dan bercahaya. Pakaiannya berwarna putih seperti salju, diikat pada
lehernya dengan sebuah sabuk emas dan menutupi seluruh tubuhnya.
Kepalanya tertutup sebuah jubah putih yang mempunyai tepi emas pula. Terlepas
dari tafsiran atau kepercayaan, peristiwa Fatima memecahkan rekor banyaknya
saksi. Demikian pula kemiripan dari deskripsi tentang wahana dan penumpangnya
dengan penyaksian-penyaksian UFO pada umumnya sangat menarik perhatian para
peneliti masa kini.
Urantia, Buku Misterius

Buku Urantia bagi penganutnya dipercaya bukan dibuat oleh manusia. Penulisnya
adalah sebuah tim gabungan terdiri dari beberapa puluh pribadi roh dan malaikat.
Tim ini dipimpin seorang Konselor Ilahi dari ibukota alam semesta super
manusia.


Tebal buku ini 2097 halaman dalam bahasa Inggris. Terdiri dari 196 paper atau
makalah. Ada pribadi roh yang menulis satu, dua, atau lebih paper.
Sepertiga buku ini, sekitar 770 halaman ditulis oleh satu tim makhluk-tengah (midwayers).
Di bahasa Indonesia sulit dicari padanan katanya.
Ketika menyebut midwayers sebagai jin, banyak yang protes, jadi digunakanistilah
makhluk-tengah (antara manusia dan malaikat). Tulisan para makhluk tengah ini
adalah catatan riwayat hidup Yesus ketika hidup di dunia, yang konon dianggap
jauh lebih lengkap dan urut daripada kitab Injil.
Sumber data utamanya adalah ingatan manusia yang menyaksikan, kemudian makhluk-tengah
yang juga menyaksikan, dan terakhir sebagian kecil adalah dari alam roh. Mereka
percaya bahwa pemerintahan alam semesta merekam setiap peristiwa, bahkan setiap
pikiran manusia bernilai kekekalan.
Urantia Book diwahyukan pada tahun 1934-1939 di Chicago, 533 Diversey Parkway,
USA. Penerimanyaadalah sebuah forum, sekelompok orang sekitar 30 orang
terpelajar, dan disampaikan dengan bantuan seorang makhluk-tengah. Paper demi
paper disampaikan sebagai jawaban atas pertanyaan Forum itu.
Teks aslinya masih disimpan, dan setelah diedit dan diketik, diterbitkan tahun
1955. Penulisan ini tidak lepas dari keberadaan seorang dokter ahli bedah dan
psikiatri yang bernama Dr. William S. Sadler (1875-1969) serta istrinya Dr. Lena
Sadler.
Mereka percaya bahwa Buku Urantia bukan ditulis oleh manusia, walaupun kemudian
diketik dan diterbitkan manusia.
Teks aslinya adalah tulisan tangan, masih utuh tersimpan di kantor pusat Urantia
Foundation di Diversey Parkway 533, Chicago.
Istilah atau nama Urantia adalah cara mereka menyebut nama planet bumi kita ini.
Menurut apa yang tertulis di dalam buku Urantia tersebut, ada banyak galaksi dan
planet yang didiami. Jumlah total planet didiami tidak kurang dari 7 Trilyun
planet.
Bahkan ada satu ras makhluk yang tidak bernafas (non breathers) yang tinggal
dekat sekali dengan Bumi (inhabits a sphere in close proximity to Urantia).
Diduga mereka berada di Bulan atau planet lain yang berdekatan dengan Bumi -
Mars atau Venus.
Selain itu, informasi teknologi yang disampaikan oleh makhluk roh lewat buku
Urantia itu menyebutkan bahwa ada partikel yang lebih kecil dari elektron, yaitu
ultimaton. Alam semesta berasal dari ledakan besar pertama yang dilakukan oleh
Master Force Organizers yang diutus Tuhan.
Mengenai asal usul Tata Surya, planet-planet terbentuk karena lewatnya sistem
dark-matter Angona dekat Matahari, yang menyebabkan tersedotnya sebagian massa
Matahari membentuk planet-planet yang jumlahnya 12.
Planet nomor 5 antara Mars dan Jupiter hancur akibat mengorbit terlalu dekat ke
Jupiter. Sementara bulan sebenarnya adalah sebuah planet yang ‘ditangkap’ oleh
Bumi.
Pada mulanya, Bumi setelah terbentuk dan memadat, diselimuti air, setelah itu
barulah muncul daratan tunggal, yang kemudian terpecah menjadi beberapa benua.
Manusia berevolusi dari tumbuhan primitif, hewan, dinosaurus, mammalia, monyet,
manusia purba. Tumbuhan pertama itu adalah rekayasa genetik buatan para Life
Carrier yang diutus dari pemerintah Local System.
Manusia hasil evolusi terdiri dari ras merah (indian), kuning (cina), biru (eropa),
indigo (negro), hijau, dan orange.
Belakangan ditambah oleh ras ungu (Adam) yang bukan asli Bumi. Ras ungu paling
banyak bercampur di Timur Tengah dan dengan ras biru (Eropa-Amerika) serta Cina
Utara.
Keturunan mereka paling unggul dari genetik : ketahanan fisik, keberanian,
kepandaian dan spiritual.
Lebih jauh lagi, diungkapkan bahwa manusia bisa menempuh perjalanan luar angkasa,
dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, menggunakan kendaraan malaikat
serafim (enseraphimed).
Dalam pelaksanaannya, manusia ‘dibungkus’ dan dibawa dalam kondisi tidur.
Paper 23, halaman 260 menyebutkan bahwa batas maksimum metode serafim ini adalah
558.840 mil per detik dan kecepatan rata-ratanya adalah 550.000 mil per detik.
Selain ituSolitary Messenger dan Gravity Messenger bisa melesat jauh lebih cepat
lagi.
Tunguska: Misteri Ledakan Siberia


Tanpa bermaksud untuk melebih-lebihkan , misteri ledakan mahadasyat yang terjadi
di kawasan Tunguska pada tahun 1908 silam , menjadi salah satu misteri dunia
yang sampai saat ini membuat saya mati penasaran!
Saya selalu ingin mencari tahu , sebenarnya fenomena apakah yang terjadi di
kawasan ini 99 tahun silam?
Banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dikerahkan untuk turut
mengungkap tabir gelap dari kejadian misterius ini. Namun sampai sekarang ,
sepertinya belum ada hasil dari ekspedisi yang benar-benar memuaskan. Maka tidak
heran jika misteri Tunguska ini masuk kedalam top 10 misteri dunia.
Kejadian ini bermula pada pagi hari tanggal 30 Juni 1908 , kafilah-kafilah di
gurun Gobi menyaksikan sebuah bola api menyala dan yang meluncur dengan cepat di
langit untuk akhirnya lenyap di sebelah utara tapal batas Mongolia. Beberapa
saat kemudian terjadilah ledakan maha dahsyat di dataran tinggi Siberia Tengah,
Rusia, didekat sungai Tunguska, yang tercatat pada seismograf-seismograf di
Irkutsk (880 kam ke selatan), Moskow (5000 km) ke barat, St. Petersburg, (Leningrad
sekarang) dan bahkan sejauh Washington dan Jakarta.
Penduduk di daerah itu yang sangat langka melaporkan timbulnya tiang api yang
menjulang setinggi langit, disusul oleh gelombang panas, serangkaian menggelegar,
gelombang-gelombang angin sekencang taufan dan turunnya hujan yang berwarna
hitam.


Baru 19 tahun kemudian dikirim ekspedisi ilmiah di bawah pimpinan Prof. L. Kulik,
yang diulangi lagi pada tahun-tahun 1928 dan 1929. Fakta-fakta yang dikumpulkan
mengagumkan dunia ilmu pengetahuan: daerah hutan yang berbentuk lonjong dengan
ukuran kurang lebih 25 x 15 km mengalami kehancuran total, sedang lingkaran luar
dengan ukuran kurang lebih 50 x 45 km mengalami kerusakan berat. Prof. Kulik
almarhum ialah seorang ahli meteorit dan sampai akhir hayatnya mencoba dengan
sia-sia untuk membuktikan adanya "Meteor Tunguska". Versi lain kemudian
menyangka adanya sekelompok meteor. Namun tidak berhasil ditemukan sisa-sisanya
seperti pada kepundan-kepundan meteor lainnya. Kemudian dilontarkan kemungkinan
adanya komet, namun hal itu tidak sesuai dengan laporan para saksi.
Setelah tibanya zaman atom baru disadari bahwa ledakan maha dahsyat di Tunguska
memperlihatkan ciri-ciri suatu ledakan nuklir! Ciri-ciri itu antara lain ialah
bahwa pohon-pohon di hutan sekitarnya yang selamat dari ledakan, memperlihatkan
lingkaran tahunan yang lebih gemuk untuk tahun 1908 daripada tahun-tahun lainnya.
Dari keadaan pohon-pohon yang hangus terbakar juga dapat disimpulkan, bahwa
ledakan yang memancarkan panas itu terjadi bukannya di permukaan bumi melainkan
di udara.
Demikian juga telah ditemukan butir-butir magnetit ukuran mikroskopis di samping
butir-butir silikat seperti kaca yang kadang-kadang mengandung partikel besi.
Bahan-bahan yang sama ditemukan sehabis percobaan-percobaan nuklir di Alamogordo,
Amerika Serikat, dan terbentuk oleh suhu sangat tinggi dari ledakan nuklir.
Menurut perkiraan, ledakan maha dahsyat di Siberia pada tahun 1908 itu
berkekuatan 30 megaton.





Dalam dua dasawarsa terakhir ini telah terungkap perspektif lain terhadap teka-teki
Tunguska dengan adanya penelitian oleh ahli-ahli aerodinamika dan ahli-ahli
peroketan, yang dipelopori oleh Dr. Felix Zigel. Analisa dari laporan para saksi,
bukti-bukti dari gelombang balistik dan bentuk daerah kerusakan menunjukkan
bahwa lintasan yang ditempuh oleh benda dari kosmos itu bukanlah lurus,
melainkan semula datang dari arah selatan, di atas desa Keshma membelok ke timur
dan diatas desa Preobrazhenka berubah arah ke barat. Tiba di sebelah utara desa
Vanavara terjadilah ledakan maha dahsyat itu.
Lintasan yang berbelok-belok itu tidak mungkin dilakukan oleh suatu benda
alamiah, melainkan hanya dapat dilakukan oleh suatu benda buatan, sehingga
timbullah dugaan bahwa penyebabnya ialah wahana antariksa yang datang dari
peradaban lain!
Hipotesa wahana antariksa dari luar bumi itu ada dua macam, meskipun kedua-duanya
berdasarkan anggapan bahwa telah terjadi suatu ketidakberesan teknis. Yang satu
mengira bahwa terjadi kerusakan pada sistem propulsinya sehingga terjadilah
ledakan maha dahsyat yang memusnahkan tamu dari luar bumi tadi. Hanya butiran
mikroskopis saja yang masih tertinggal yang merupakan sisa dari wahana antariksa
semula.
Hipotesa yang lain mengira, bahwa obyek dari kosmos itu mengalami kesulitan
dalam sistem pengemudian sehingga hampir membentur permukaan bumi. Maka dari itu
pada saat terakhir ia terpaksa melakukan koreksi arah dengan menyalakan motor
roket nuklirnya, sehingga ia berhasil meninggalkan bumi untuk selanjutnya
meneruskan perjalanannya ke arah Planet Venus.
Apa pun sebabnya, kita boleh merasa bersyukur bahwa ledakan maha dahsyat tadi
tidak terjadi di atas salah satu kota metropolitan, melainkan di daerah yang
jarang penduduknya. Namun, menurut Ian Ridpath (Messages from the Stars, Fontana/Collins,
Glasgow 1978), di dalam tahun 1977 para sarjana Uni Sovyet mengumumkan penemuan
bahan carbonaceous chonditer yang lazimnya terdapat di kepala komet.
Apakah dengan demikian teka teki Tunguska telah terjawab untuk penghabisan
kesekian kalinya?