Milik Siapakah Suara Mengancam itu?

Siaran radio mengancam yang terdengar pada akhir video versi Pentagon yang mempertunjukkan apa yang tampak sebagai manuver mengganggu kapal patroli Iran di Selat Hormuz akhir pekan lalu mungkin datang bukan dari kapal Iran, tetapi dari seorang pembuat onar lokal yang terkenal di kalangan nakhoda-nakhoda kapal sebagai “Monyet Filipina.”

Sementara ancaman itu— I am coming to you. You will explode in a few minutes”—yang diambil selama peristiwa itu, telah meningkatkan ketegangan, tidak ada bukti tentang asal-muasalnya.

Amerika Serikat pada Kamis lalu (10/1) mengajukan protes diplomatik resmi kepada Iran atas peristiwa hari Minggu itu, dimana perahu motor cepat Iran membayangi kapal perang AS di Teluk Persia.

Adm. William Fallon, komandan puncak militer AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa Iran mengambil risiko meletusnya satu konflik yang tidak disengaja jika perahu-perahunya terus mengganggu kapal perang AS di selat itu.

Seorang pejabat AL AS bahkan mengatakan bahwa USS Whidbey Island pernah melepaskan tembakan peringatan kepada sebuah perahu kecil Iran yang dengan cepat mendekatinya di Selat Hormuz pada 19 Desember tahun lalu.

Sejak peristiwa Minggu itu diumumkan kepada publik satu hari kemudian, AL AS mengatakan adalah belum jelas dari mana asal suara itu. Dalam siaran ulang teve dari video yang dirilis Pentagon, layar berubah gelap dan suara itu pun terdengar, jelas berjarak dari peristiwa aktual yang terjadi di laut.

“Kita tidak bisa mengetahui dengan pasti dari mana suara itu datang,” kata Cmdr. Lydia Robertson, jurubicara Armada Kelima di Bahrain. “Itu mungkin dari sebuah stasiun pantai.”

Pada kenyataanya, suara di dalam audio itu terdengar berbeda dari milik seorang militer Iran yang tampak berbicara kepada kapal penjelajah Port Royal lewat sebuah radio dari perahu kecil dalam video yang dirilis pemerintah Iran. Ditanya apakah para pejabat AS mempertimbangkan ancaman-ancaman itu datang dari seseorang yang bukan orang Iran ketika merilis video dan audio itu, Adm. Gary Roughead, Kepala Operasi AL berkata, “Alasan mengapa audio itu dilapiskan ke atas video tersebut adalah untuk memberi anda suatu gagasan yang lebih baik mengenai apa yang sedang terjadi.”

Dalam tahun-tahun terakhir, kapal-kapal perang Amerika yang beroperasi di Timur Tengah harus menghadapi sebuah suara misterius yang mengganggu, yang dikenal sebagai “Monyet Filipina”, mungkin lebih daripada satu orang, yang ikut menguping lalu lintas radio antarkapal lalu menyela, menghina, dan membentak-bentak. Para serdadu perempuan AL dikatakan kerap menerima kata-kata yang melecehkan.

Rick Hoffman, pensiunan kapten yang mengabdi selama 17 tahun di Teluk, mengatakan ia menjadi korban ejekan seorang pembicara di radio berulang-kali selama apa yang disebut dengan “Perang Kapal Tanker” pada 1980-an ketika Iran dan Irak terlibat dalam peperangan.

“Selama 25 tahun, terdapat orang yang misterius ini yang, jam demi jam, bersorak-sorak yang tidak senonoh dan ancam-mengancam,” katanya. “Ia bisa jadi berada di sisi dermaga di suatu tempat atau di kanal dari suatu kapal dagang.”

Lalu, mengapa harus Iran yang dijadikan tertuduh?

sumber: the seattle time

Konfrontasi Iran Gemakan Serangan Palsu Teluk Tonkin

Sebuah pameran kekuatan yang dramatis di laut. Isyarat-isyarat komunikasi silang. Kapal yang tampak tidak bersahabat. Dan intelijen kabur yang mendorong ke arah retorika.

Persamaan antara konfrontasi minggu ini antara kapal perang AS dan perahu motor cepat Iran dengan kejadian di lepas pantai Vietnam Utara 44 tahun lalu terlalu sulit untuk dilewatkan banyak analis, mendorong ke arah sebuah pertanyaan: adakah Selat Hormuz merupakan Teluk Tonkin-nya 2008?

Pada 2 dan 4 Agustus, 1964, USS Maddox dan USS Turner Joy, berpatroli di lepas pantai Vietnam Utara, sinyal-sinyal yang diinterupsi mengindikasikan mereka tengah diserang. Dalam beberapa hari, Konggres meloloskan Resolusi Teluk Tonkin, yang meratakan jalan bagi eskalasi Perang Vietnam. Namun demikian, serangan 2 Agustus terjadi setelah USS Maddox menembak terlebih dulu, menurut sebuah laporan National Security Agency (NSA) yang dirilis pada 1995.

Minggu ini laporan lain muncul dan mengkonfirmasi dugaan-dugaan bahwa serangan 4 Agustus tidak pernah terjadi.

Para peneliti yang menyingkap laporan penilaian NSA terbaru mengatakan kepada RAW STORY bahwa konfrontasi Selat Hormuz, dan propaganda pemerintahan Bush berikut sekutu-sekutunya, menunjukkan tingkatan di mana para pejabat harus berhati-hati tentang upaya mempolitisasi laporan intelijen yang kabur pada masa-masa perang.

“Paralelitas antara Tonkin dan Hormuz telah berbicara dengan sendirinya, tetapi apa yang keduanya katakan adalah bahwa bahkan asumsi-asumsi faktual paling mendasar sekalipun dapat menjadi tidak menentu [atau] dapat dibuktikan palsu adanya,” kata Steven Aftergood dari Federation of American Scientists. “Dengan demikian kehati-hatian yang ekstrim pantas untuk dilakukan sebelum menarik kesimpulan-kesimpulan ...yang mungkin akan berujung kepada konflik yang kejam. Sangat jelas bahwa saya merasa malu untuk mengatakan hal ini, tetapi ada sejarah salah tafsir terhadap insiden-insiden semacam ini yang seharusnya hendaknya mengajari kita kerendahan hati.”

Kerendahan hati dan kehati-hatian, tentu saja, tidak menjadi kata-kata yang paling populer dalam kamus Gedung Putih-nya Bush.

Ini suatu situasi yang berbahaya...menurut saya ini adalah aksi provokatif,” Bush memperingatkan dua hari setelah sekelompok kecil perahu motor cepat Iran membayangi armada kapal perang Angkatan Laut AS.

Kisah awal dari Pentagon mengenai konfrontasi 6 Januari itu mengatakan bahwa perahu-perahu Iran memberi perintah kepada kapal-kapal AS, menjatuh ke dalam air apa yang dianggap sebagai ranjau dan mengancam untuk membuat “ledakan-ledakan.” Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS tanpa nama mengatakan kepada Associated Press sehari setelah peristiwa itu bahwa ini adalah “provokasi paling serius” di Teluk, meskipun pejabat-pejabat Iran memandang peristiwa itu sebagai sebuah kesalahpahaman yang sederhana.

Tidak sampai Kamis, setelah Pentagon dan Iran merilis video versi mereka masing-masing, mengenai insiden itu, AS justru mengakui bahwa suara ancaman yang mereka asosiasikan dengan perahu motor cepat Iran sejak hari pertama bisa saja disiarkan dari mana pun.

I am coming to you .... You will explode after a few minutes,” sebuah suara berbicara dalam rekaman audio tetapi para penutur Farsi dan orang-orang Iran berkata suara itu tidak mirip dengan aksen orang Iran.

Aftergood mengatakan bahwa ia terkejut tentang ketidakpastian mengenai asal-muasal pesan itu, yang disiarkan dalam kanal komunikasi publik dan digabungkan ke dalam video Pentagon.

Seseorang mungkin berpikir bahwa mereka akan mampu menunjukkan dengan tepat, tetapi tampaknya tidak,” kata Aftergood, yang mengoperasikan Proyek FAS tentang Kerahasiaan Pemerintah. “Ini juga mengejutkan bahwa Presiden Bush diizinkan untuk terlibat sejauh itu mengenai isu ini, meskipun ketidakpastian-ketidakpastian penting belum tersingkap.”

Yang lain juga mempertanyakan ranjau yang diduga dijatuhkan dari perahu-perahu Iran.

“Perihal ‘kotak-kotak putih’ yang dijatuhkan ke dalam air tampaknya juga hampir sama meragukan,” tulis Glenn Greenwald. “Di dalam video versi militer AS maupun video versi pemerintah Iran tidak ada peristiwa seperti itu, sama sekali tidak pula terdapat rujukan mengenai hal itu di dalam rekaman audio.”

Aftergood mengatakan informasi itu harusnya terlebih dahulu secara penuh diselidiki sebelum Gedung Putih mulai memperingatkan Iran tentang “konsekuensi-konsekuensi serius” dari pamer kekuatan di masa depan.

“Apa yang anda dengar adalah anak kecil di taman sekolah, bukan seorang pemimpin bangsa yang tenang,” katanya.

Aftergood mencatat bahwa Amerika kurang diperlengkapi dengan baik untuk menghindari peristiwa-peristiwa internasional selama Perang Dingin.

Kredibilitas pemerintahan ini mengalami suatu pukulan karena cara bagaimana peristiwa ini ditangani,” Aftergood berkata, tetapi konfrontasi itu bisa memberikan peluang bagi Bush untuk belajar dari kekeliruan-kekeliruannya.

sumber: raw story

Selamat Datang di Teluk Persia

Oleh Daniel Pourkesali

Sebuah video yang dirilis Iran dan diambil pada Minggu pagi, 6 Januari, di Selat Hormuz, dengan jelas membuktikan ketidakbenaran publisitas yang luar biasa dari Pentagon, yang menggambarkan rutinitas operasi patroli Angkatan Laut (AL) Iran sebagai salah satu tindakan agresi yang tidak berdasar terhadap Amerika Serikat (AS).

Pemilihan waktu dari apa yang dinamakan insiden ‘provokasi’ di Teluk Persia ini tepat sebelum perjalanan Bush ke kawasan itu adalah juga sangat menyenangkan ketika ia terus mengingatkan dunia dan semua negara klien Arab-nya, selama konferensi pers di Israel kemarin, bahwa mereka harus takut terhadap “ancaman kepada perdamaian dunia” ini dan bersiap-siap menghadapi Iran bersama AS dan Israel.

Sebagian orang secara benar membandingkan ‘insiden’ di atas dengan ‘insiden’ lain yang sama mengerikannya di Teluk Tonkin pada 2 Agustus 1964 ketika dusta pemerintah AS yang lain memicu peperangan yang berujung pada tewasnya 50,000 tentara Amerika dan berjuta-juta warga Vietnam.

Tetapi beberapa kesalahan dan miskalkulasi yang dahsyat sungguh telah menghancurkan ramuan dusta terakhir ini. Pertama-tama, ini bukanlah tahun 1964 dan berkat internet, orang-orang tidak lagi harus bergantung kepada versi radio, televisi, dan surat kabar tentang kejadian itu, yang seringkali melaporkan klaim-klaim resmi seperti itu bagaikan kebenaran-kebenaran yang absolut.

Kedua, orang-orang Iran tidak seperti rekan-rekan mereka di Amerika sangat mengingat dan telah banyak mempelajari sejarah mereka dengan Amerika Serikat, terutama dalam kaitan dengan kudeta CIA pada 1953 yang mengakhiri cikal-bakal pemerintah demokratis mereka.

Video-audio gado-gado amatir yang dirilis Departemen Pertahanan Amerika untuk mendukung klaim-klaim AS justru kini menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan keraguan serta menunjukkan niat bermusuhan AS dibandingkan dengan penggambaran mereka sebagai korban kejahatan Iran. Menurut sebuah laporan the New York Times, pejabat-pejabat Pentagon yang tak ingin nama mereka disebutkan menyatakan bahwa suara mengancam yang terdengar di dalam klip audio yang direkam secara terpisah dari gambar-gambar video dan digabungkan kemudian oleh AL AS, “tidak dapat dilacak kepada militer Iran.”

Bahwa suara itu diucapkan dalam satu aksen yang tidak familiar adalah harga mati bagi banyak orang Iran, termasuk saya, bahwa video itu adalah dusta. Sebaliknya, video versi Iran muncul lebih realistis dengan audio dan video yang sangat sinkron dalam apa yang muncul sebagai telah diambil melalui sebuah camcorder yang digunakan kebanyakan kita. AL Iran berbicara dalam aksen yang sangat biasa sementara terus melakukan tugas patroli mereka dalam mengidentifikasikan kapal-kapal yang berlayar dekat wilayah perairan Iran.

Berikut ini adalah teks percakapan yang terjadi di antara kedua anggota AL Iran yang sedang berpatroli di atas perahu yang diterjemahkan dari bahasa Persia:

0:07 #1: "Announce its position"

0:30 (Patrolman #2 calls the other by name with a reference to need for safety procedures)

0:45 #1: "Slowly get a little closer… can't make out the ship number"

0:50 #2: "Did you get it?"

0:51 #1: "Yeah, it is not clear"

0:56 #1: "Wait just a moment"

0:57 #2: "It is better now"

1:16 #1: "Is it 73?" (Boat proceeds to pull a little closer)

1:32 #1: "I hear something being announced from its loudspeakers, what is it saying?"

1:50 #1: "I think they're talking to us"

2:35 #2: "Channel?" (Getting ready to establish radio communication)

2:36 #1: "16"

2:37 #2: "What was the ship number?"

2:38 #1: "73"

2:40 (Then patrolman #2 starts the radio communication in English)

Apakah U.S. Coast Guard akan melakukan hal yang sama apabila sebuah kapal perang Rusia atau Cina berlayar masuk ke Teluk Meksiko, hanya beberapa mil dari garis pantai Florida?

Pada akhir dari video berdurasi lima menit itu, salah satu petugas patroli Iran terdengar menyebutkan posisi kapal tersebut, “26 and 30 minutes north and 0 and 56 minutes east” dan kapal Amerika itu pun terlihat berlayar menuju Barat tanpa adanya insiden apa pun.

Selamat datang di Teluk Persia.

Sumber: CASMII

Pemborosan APBN Capai Rp232 Triliun

JAKARTA (Berita Nasional) : Belanja negara Rp771,1 triliun dalam APBN 2007 tidak tepat sasaran. Pasalnya, sekitar Rp232 triliun terindikasi pemborosan karena habis untuk kepentingan birokrasi.

Data Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mencatat indikasi pemborosan dalam belanja birokrasi yang dilakukan pemerintah pusat mencapai Rp102 triliun. Hal yang sama terjadi pada realisasi APBD tahun 2007.

Belanja birokrasi dalam APBD tahun 2007 di 467 daerah yang mencakup 33 provinsi dan 434 kabupaten/kota mencapai Rp130,4 triliun atau menyedot 39% total dana APBD.

Indikasi pemborosan tersebut, menurut Fitra, terlihat dari belanja birokrasi yang dialokasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana yang tidak perlu.

"APBN dan APBD tahun 2007 belum dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belanja negara akhirnya lebih banyak dialokasikan untuk membayar utang dan belanja birokrasi. Hampir seluruh departemen dan lembaga pemerintah menghabiskan 60%--70% anggarannya untuk kebutuhan birokrasi," kata Sekjen Fitra Arif Nur Alam di Jakarta, Minggu (13-1).

Buruknya kualitas belanja pemerintah terlihat dalam besarnya porsi belanja birokrasi daripada sektor utama yang seharusnya mendapat prioritas, seperti pendidikan dan kesehatan.

Arif menyebutkan kedua sektor tersebut hanya mendapat Rp66,6 triliun atau 8,9% dari total belanja negara dalam APBN 2007. "Dari Rp51,3 triliun (6,9%) anggaran pendidikan sebagian besar dihabiskan untuk birokrasi Rp29 triliun, gaji dan tunjangan Rp4,8 triliun, dan perkantoran Rp2,7 triliun. Hal seperti ini tidak hanya terjadi di Departemen Pendidikan Nasional," ujar Koordinator Analisis Fitra, Yeni Sucipto.

Pada umumnya belanja bantuan sosial dalam APBD didominasi kentalnya kepentingan politis kepala daerah.

"Belanja daerah Rp12,62 triliun atau 4% dari total belanja daerah Rp339,34 triliun, ternyata lebih banyak dikucurkan untuk tujuan politis kepala daerah terhadap para konstituennya," kata staf Fitra, Roy Salam.

Umumnya, bantuan politik berupa uang tunai dan barang yang dikemas dalam bentuk kegiatan sosial itu berupa bantuan pembangunan tempat ibadah dan pangan. Salah satu lembaga yang selama ini mendapat jatah dari dana bantuan sosial ini adalah partai politik.

Padahal, menurut Roy, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 jelas meminta pemda mengalokasikan bantuan sosial setelah urusan wajib terpenuhi.

Dari 467 daerah yang dipantau Fitra, porsi bantuan sosial terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai Rp1,05 triliun atau sekitar 6,13% dari total APBD-nya, yakni Rp17,23 triliun. Sedangkan porsi terkecil bantuan sosial ditemukan di Provinsi Bali yang hanya 1,07% atau Rp64,7 miliar dari total APBD-nya yang berjumlah Rp6,04 triliun.

Pada kesempatan meresmikan Silaturahmi Kerja Nasional ICMI di Pekanbaru, kemarin, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie mengungkapkan anggaran pengentasan kemiskinan tahun ini meningkat 50% dari tahun lalu atau menjadi Rp80 triliun. Pada tahun 2005, program tersebut dianggarkan Rp18 triliun, tahun 2006 Rp32 triliun, dan tahun 2007 Rp42 triliun.

Dia mengakui persoalan penanggulangan kemiskinan terkendala kurangnya koordinasi antarsesama instansi pemerintah. Sebelumnya Departemen Keuangan (Depkeu) menilai perkembangan kinerja APBN-P tahun 2007 memuaskan. Hal itu tercermin dari kualitas belanja APBD yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (*)

Nasib Warga Miskin Makin Tak Menentu

KOTAAGUNG (Berita Nasional) : Nasib ratusan rumah tangga miskin (RTM) di Kecamatan Kotaagung, Tanggamus, Lampung, akhir-akhir ini makin tak menentu.Setelah dibuat semaput dengan tingginya harga beras di pasaran yang mencapai Rp6.500 per kilogram, kini mereka kesulitan mendapatkan minyak tanah di tingkat pengecer.
Warga RT 08/03 Kelurahan Baros, Kecamatan Kotaagung, Ruminah (57), mengaku pasrah dan tidak bisa berpikir lagi menghadapi kenyataan hidup dari ke hari yang kian sulit.
Saat harga beras asalan Rp4.500 per kilogram saja, janda lima anak ini harus banting tulang dan memeras keringat agar bisa makan sehari dua kali tanpa lauk-pauk.

"Sekarang, harga beras paling murah Rp6.500/kg, membuat kepala saya mau pecah. Entah bagaimana nasib saya ke depan," kata Ruminah sembari menetap langit-langit rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong, Jumat (11-1).

Yang membuat Ruminah tambah stres menghadapi kenyataan, yaitu sulitnya mendapatkan minyak tanah walau hanya untuk mengisi kompor sekitar dua liter dan lampu sentir yang selama ini menjadi pelita (penerangan) di malam hari.

"Nyari minyak tanah selama hampir tiga bulan ini luar biasa susahnya. Harus antre atau lari-lari dari satu warung ke warung lain. Harganyanya juga sudah mencapai Rp3.000/liter," katanya.
Nasib serupa juga dialami ratusan rumah tangga miskin (RTM) lain yang berada di Kotaagung। Mereka umumnya berprofesi sebagai buruh kasar, tukang becak, tukang ojek, dan nelayan gurem.

Saat harga-harga semakin melambung tinggi, mereka hanya bisa mengeluh dan tidak bisa berbuat apa-apa.

"Harga raskin (beras untuk keluarga msikin) saja sekarang naik, dari Rp1,200/kg, dipatok Rp1.600/kg," kata Asnah, warga kelurahan Pasar Madang, Kotaagung, yang suaminya hanya bekerja sebagai buruh di Pasar Kotaagung.

Bagi ratusan RTM, bisa makan sehari dua kali dengan porsi yang dikurangi separonya saja sudah untung। Jangan mimpi jika makanan mereka itu mencukupi empat sehat lima sempurna. Makan dengan nasi putih, ditambah ikan asin atau sepotong tempe goreng, dan sayur bening bagi mereka sudah merupakan makanan istimewa dan mahal.

Minum susu dan makan buah-buahan bagi mereka seperti dalam angan-angan."Boro-boro mau minum susu dan makan buah-buahan dan daging. Untuk beli beras sekilo dan minyak tanah seliter saja saya harus kerja dari pagi sampai malam. Itu pun belum tentu dapat. Belum lagi mikirin biaya sekolah anak-anak, terus kalau ada yang sakit, tidak bisa dibayangkan lagi," kata Mardi, tukang ojek di Pasar Kotaagung.(*)

Israel Rencanakan Pembunuhan atas Haniyeh

Israel sedang merencanakan untuk membunuh pemimpin Hamas yang diasingkan, Khalid Mashaal, Perdana Menteri Otoritas Palestina (OP) yang dipecat, Ismail Haniyeh, dan mantan Menlu OP Mahmoud Zahar, tetapi menunggu untuk memberi izin atas operasi tersebut sampai Presiden AS George W.Bush meninggalkan kawasan, demikian dilaporkan suratkabar London berbahasa Arab, Al-Hayat pada Minggu (6/1).

Laporan itu mengutip sumber-sumber yang menjadi bagian dari pemerintah OP sebelumnya, yang merupakan koalisi antara Hamas dengan berbagai faksi lainnya. Sumber-sumber itu mengatakan bahwa orang-orang Eropa memberi tahu mereka bahwa Israel sedang membuat “daftar sasaran” yang di dalamnya muncul nama-nama dari ketiga pemimpin Hamas itu.

Sumber-sumber itu lebih jauh menyatakan bahwa organisasi perlawanan Islam itu memandang serius laporan itu, dan memperketat keamanan di sekitar pejabat-pejabat yang ditargetkan hingga pada level yang belum pernah terjadi.

Sementara itu, Hamas mengklaim bahwa pada Sabtu lalu (5/1) pasukan keamanannya telah menggagalkan satu upaya pembunuhan terhadap Haniyeh.

Ihab Ghissin, jurubicara Kementerian Dalam Negeri Hamas, mengatakan bahwa seorang pria yang membawa sebuah kantong berisi empat kilogram bahan peledak TNT ditangkap selama pawai yang dihadiri oleh Haniyeh dan para pemimpin Hamas lainnya.

Pawai itu diselenggarakan di Gaza City untuk menghormati jemaah haji Palestina yang kembali dari Mekkah, katanya.

Ketika Haniyeh sedang berbicara di hadapan massa, pasukan keamanan Hamas mendapati seorang pria yang mencurigakan dengan membawa sebuah kantong besar. Ketika menangkapnya, mereka dikejutkan ketika menemukan bahwa kantong itu berisi bahan peledak yang diduga akan diledakkan oleh pengendali jarak jauh.

“Orang-orang kami meledakkan bom itu dengan aman,” kata Ghissin. “Orang yang dicurigai itu kini sedang diinterogasi.”

Ghissin tidak mengungkapkan identitas orang yang dicurigai itu. Ia juga menolak untuk mengatakan apakah orang yang dicurigai itu berasal dari suatu faksi politik. Bagaimanapun, ia mengatakan bahwa orang yang dicurigai itu telah memberikan sejumlah nama yang terlibat dalam upaya pembunuhan ini kepada para penyidik.

“Kami tidak memiliki keraguan bahwa targetnya adalah Haniyeh,” kata seorang pejabat Hamas di Jalur Gaza. “Upaya pembunuhan ini adalah jelas berhubungan dengan kunjungan Presiden Bush ke kawasan.”

Sumber: jerusalem post

Ingkari Laporan Intel AS, Bush Berkata kepada Israel bahwa Laporan NIE tentang Iran, “Tidak Mencerminkan Pandangannya.”


Setelah National Intelligence Estimate (NIE) terbaru tentang Iran dirilis, Israel secara publik menantang konsensus intelijen Amerika bahwa Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya. “Menurut pendapat kami,” Menhan Israel Ehud Barak berkata, Iran “tampaknya telah melanjutkan program itu.”

Hanya beberapa hari setelah NIE dirilis, Bush cepat-cepat mengumumkan bahwa ia akan mengadakan kunjungan yang pertama kepada Israel dari masa kepresidenannya untuk menyatukan perbedaan-perbedaan mengenai Iran.

Dalam pertemuan-pertemuan privat dengan PM Israel Ehud Olmert minggu ini, Newsweek melaporkan bahwa Presiden Bush mengingkari penilaian-penilaian komunitas intelijen AS sendiri:

Tetapi dalam percakapan-percakapan privat dengan PM Israel Ehud Olmert minggu lalu, presiden pada dasarnya mengingkari dokumen itu (NIE), kata seorang pejabat senior pemerintahan yang menyertai Bush dalam kunjungan enam harinya kep negara-negara Timur Tengah. “Dia mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa ia tidak bisa mengendalikan apa yang komunitas intelijen katakan, hanya bahwa kesimpulan-kesimpulan NIE itu tidak mencerminkan pandangan-pandangannya” tentang program senjata nuklir Iran, kata pejabat itu, yang akan mendiskusikan hal-hal intelijen hanya dengan syarat tanpa disebutkan namanya.

Bush sebelumnya dilaporkan telah memberi pengarahan singkat kepada Olmert sekitar laporan NIE tentang Iran beberapa hari sebelum laporan itu dirilis kepada publik pada Nopember tahun lalu. Seymour Hersh dari the New Yorker mengatakan, “Orang-orang Israel sangat marah dengan laporan itu. Mereka berpikir kita naif, mereka tidak berpikir bahwa kita mengerti dengan jelas persoalannya. Dengan demikian, mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda.”

Tetapi setelah pertemuan-pertemuan pribadinya dengan Bush minggu ini, Olmert—yang ditanya apakah ia merasa tenang—menjawab, “Saya sangat bahagia.”


UPDATE: Berbicara di United Arab Emirates, Bush berkata bahwa Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Arab harus bekerja sama untuk menghadapi bahaya Iran “sebelum hal itu terlambat.”

Lebih jauh tentang NIE mengenai nuklir Iran, sila baca "Satu Propaganda Lagi dari Amerika".

Salam Doa Wartawan Tua

Oleh ROSIHAN ANWAR
BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008, terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa।

Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor.

Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya.

Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.

Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman, pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.

Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.

Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya, mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.

Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain. Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi pada mereka. Bantulah mereka.

Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.

Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your life, (4) Help others, (5) Stay positive.

Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup mengesankan justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***

*) Penulis, wartawan senior.

QUO VADIS UGM?

JURUSAN Komunikasi UGM serta Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI telah mengerjakan penelitian pesanan dari PT Asian Agri, anak perusahaan PT Raja Garuda Mas milik Soekanto Tanoto, pengusaha yang disebut majalah Forbes sebagai orang terkaya di Indonesia pada 2006 dan terkaya kedua 2007.

Penelitian itu menyatakan bahwa pemberitaan Tempo--mengenai indikasi penggelapan pajak senilai Rp 1,3 triliun yang dilakukan PT Asian Agri--tak menaati kaidah jurnalistik dan bersifat tendensius. Hasil penelitian itu telah dipaparkan dalam seminar publik "Menguak Misteri di Balik Berita Kasus Pajak Asian Agri": Pertaruhan Kredibilitas, Nama Baik dan Obyektivitas”, di Hotel Sultan, Jakarta, 18 Desember 2007.

Apa yang disampaikan Tempo bukan omong kosong. Temuan awal tim investigasi Dirjen Pajak Departemen Keuangan yang dipublikasikan pada 14 Mei 2007 menyebut, negara dirugikan sebesar Rp 786 miliar, jumlah penggelapan pajak terbesar dalam sejarah Republik!

Dengan bersedia mengerjakan proyek penelitian ini, Jurusan Komunikasi UGM telah bersikap partisan terhadap korporasi yang diduga kuat telah menilap uang negara. Fokus penelitian Jurusan Komunikasi UGM bisa dianggap sebagai bentuk pengalihan isu dari "korupsi pajak PT Asian Agri" ke arah "etika jurnalistik".

Penelitian itu boleh jadi "bisa dipertanggungjawabkan" secara akademik, tetapi siapa yang akan mempertanggungjawabkan implikasi dari penelitian itu? Kesimpulan penelitian ini merupakan pintu gerbang untuk menjerat media--dalam hal ini Tempo--dengan undang-undang yang dimaksudkan untuk melindunginya, yaitu UU Pokok Pers.

Kita pantas meragukan integritas Jurusan Komunikasi UGM sebagai institusi akademik. Karena itu, kami menyatakan:
1. Menuntut Jurusan Komunikasi UGM meminta maaf kepada publik dan insan media terkait dengan penelitian pesanan yang dilakukannya dan menyatakan mencabut hasil penelitian tadi untuk menghindari kemungkinan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang bisa merugikan kepentingan umum yang lebih besar.
2. Meminta Senat Akademik UGM memberikan peringatan keras kepada staf pengajar yang terlibat dalam penelitian pesananan PT Asian Agri.

3. Menuntut agar perguruan tinggi menjunjung tinggi etika kesarjanaan dan menegaskan keberpihakannya kepada gerakan pemberantasan korupsi dan kebebasan pers sebagai bagian dari agenda reformasi dan demokrasi sosial.

KOMUNIKE BERSAMA
Komunitas Kembang Merak B-21
BPPM Balairung UGM
Komunitas Malam Selokan Mataram
Lembaga Analisis Sosial dan Kajian Ekonomi Politik
LPM Ekspresi UNY
LPM Himmah UII
LPPM Sintesa Fisipol UGM
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan
Kota Yogyakarta
LPM Ekonomika FE UII
Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
LPM Arena UIN Sunan Kalijaga
LPM Natas USD
BPPM Equilibrium FEB UGM
(Sumber: Surat Pembaca Tempo, 7-13 Januari 2008)

Harsutejo: Neraka Rezim Suharto

JUDUL di atas bukanlan bikinan saya, tetapi judul sebuah buku tipis (156 + xi halaman) yang kemudian diikuti sub-judul “Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru” susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007.

Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang p ernah menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II Rumah Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab IV Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak muncul di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para tapol, para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965 sampai 1998, bagian dari sejarah kelam horor.

Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah besar milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi Kalong setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini pula yang berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan kawan dekat dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor kekejamannya, setiap tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas Kalong. Alat penyiksa standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan pari yang dipasangi paku kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri listrik. Setiap tapol baru dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan siksaan alat-alat tersebut, apapun yang diakuinya. Sengatan listrik merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan berakhir. Setiap tapol perempuan diperiksa dengan telanjang bulat, demikian juga dengan interogatornya.

Di Kalong tersohor pula legenda seorang aktivis Gerwani bernama Sri Ambar yang tetap bungkam meski telah disiksa dengan gebukan, setruman, kemudian digantung telanjang bulat di pohon mangga. Bokongnya kemudian ditusuk bayonet oleh seorang tentara penyiksa. Siksaan berlanjut dengan didatangkannya ibu dan dua orang anaknya yang masih kecil (ketiganya juga ditahan) untuk menyaksikannya.

Seorang pemuda tapol yang kuat badannya berumur sekitar 30 tahun disiksa habis-habisan dengan gebukan dan sengatan listrik di markas Zinpur 8. Ia juga digantung selama seminggu di Lenteng Agung, banyak bagian badannya mengucurkan darah karena diiris silet. Luka itu kemudian disiram bensin. Ia pun menjadi sasaran latihan lemparan pisau komando. Pada suatu malam badannya ditembus tiga peluru, karena keterangannya masih diperlukan, ia dibawa ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapatkan transfusi darah sebanyak 10 liter. Dalam keadaan masih sakit, ia berkali-kali diinterogasi, bahkan dengan disetrum. Ia kemudian dilemparkan ke sel Kodim 0505 Jatinegara, salah satu tempat penyiksaan tapol. Dalam sel 5x6 meter itu ia berjubel bersama 200 tapol lainnya.

Di bagian akhir terdapat kesaksian sejumlah aktivis muda dan mahasiswa, di antaranya dari PRD. Seperti kita ketahui sejumlah aktivis diculik rezim Suharto pada pertengahan pertama 1998 sebelum diktator militer itu jatuh. Sejumlah aktivis setelah diculik, semula berada di instansi militer resmi seperti Kodim Jakarta Timur, disiksa dan diinterogasi di instansi militer [rahasia] dalam keadaan mata terus ditutup. Tiba-tiba mereka sudah dibawa ke Polda Metro Jaya. Sejumlah aktivis kemudia n dibebaskan dalam bulan Juni 1998 setelah tumbangnya sang diktator.
Seperti kita ketahui masih ada 13 orang aktivis yang diculik oleh instansi yang sama di masa itu tidak pernah kembali, di antaranya aktivis buruh sekaligus penyair, Wiji Thukul dengan seruannya yang tersohor: HANYA ADA SATU KATA: LAWAN! Ketika itu seorang petinggi militer, Jenderal Syarwan Hamid yang amat ditakuti karena jabatannya, menyatakan bahwa Wiji Thukul telah menantang pemerintah. Rupanya rezim militer yang perkasa itu takut juga dengan seorang penyair miskin kerempeng.
Instansi militer penculik [rahasia] yang terang identitasnya di mata beberapa Kodim dan Polda Metro Jaya sampai saat ini belum diusut. Di mana 13 pemuda bibit bangsa itu telah dibunuh dan dikubur? Adakah HAM hanya untuk kaum koruptor dan tersangka koruptor serta Jenderal Besar (Purn) Suharto, dan tidak untuk para [bekas] tapol dan aktivis yang melawan kediktatoran rezim militer Orba?
Bekasi, 9 Januari 2008 (dikutip dari wwww.apakabar.ws)

Rahasia Pribadi Sang Benazir


KABAR tentang kematian Benazir Bhutto bukan hanya menyisakan duka mendalam bagi pendukungnya di Pakistan. Melainkan juga kepiluan tak terperi bagi seorang terapis kecantikan, Worro Harry Soeharman, 50 tahun, yang tinggal di Raffles Hills, Cibubur, Jakarta Timur. Wanita berjuluk grand master pijat bioenergi ini pernah hampir sebulan dipercaya merawat kecantikan dan kebugaran Benazir di Istana Perdana Menteri Pakistan, April 1996.

Sosok Benazir yang jelita, tegas, dan selalu tampil percaya diri masih terekam kuat dalam memori Worro. "Kepribadian beliau amat kuat dan mengesankan," ujar mantan kepala pelatih perawat kecantikan Martha Tilaar Group itu. "Sedih mendengar beliau meninggal, apalagi dengan cara dibunuh." Worr o merasa roh Benazir masih dekat dengannya, meski jasadnya telah wafat. Lebih-lebih pada saat ia membuka kembali kerudung putih berenda merah muda kesukaan Benazir yang secara spontan dihadiahkan pada Worro ketika pamitan pulang.

Pada saat Worro hendak mengenakan kerudung itu untuk dipotret Gatra, bibirnya spontan minta izin, "Excuse me, Madam!" Serasa Benazir masih berdiri di depannya. Bulu kuduk sekujur tangan dan tengkuk Worro berdiri. "Merinding rasanya," katanya.

Worro mengaku amat terpesona oleh figur Benazir. "Ia sosok negarawati yang mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk Pakistan. Saya tahu persis, dia amat mencintai rakyat dan negaranya," ujar wanita yang memiliki dokumen keluarga sebagai keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V, itu.

Worro merasa amat beruntung dipercaya bekerja di lingkaran dekat tokoh perempuan pertama yang terpilih lewat pemilu demokratis untuk memimpin negara Islam itu. Ia bisa banyak belajar dari keseharian dan kehidupan pribadi Benazir yang tak banyak diketahui khalayak luas. "Beliau berkali-kali mengajarkan pada saya agar menjadi perempuan yang kuat, teguh pendirian, dan punya keyakinan kokoh," kata Worro, mengenang.

"Kata yang paling sering beliau ucapkan, baik dalam pembiacaran via telepon maupun perbincangan langsung, adalah 'exactly' dengan sorot mata tajam. Itu cerminan sikap dasarnya yang punya keyakinan diri kuat," Worro memaparkan.

Sebagai pemimpin negara dengan kehidupan politik dikenal keras, kerap diwarnai aksi pembunuhan pemimpin politik, dan sering terlibat perang urat saraf dengan tetangga, India, karakter Benazir dibentuk menjadi sosok yang teguh. Ia dibesarkan dalam keluarga politisi terkemuka yang menjalani pergolakan politik keras.

Akhir 1970-an, Benazir ikut merasakan imbas politik sebagai putri sulung mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto. Jenderal Zai-ul-Haq, yang menggulingkan Zulfikar, menjebloskan Benazir ke penjara bersama ayah dan ibunya, Nusrat Bhutto. Pada usia 26 tahun (1978), Benazir menyaksikan ayahnya dihukum mati rezim Zia-ul-Haq.

Tujuh tahun kemudian (1985), adik keduanya, Shahnawaz, ditemukan tewas di apartemen di Prancis. Diduga ia diracun akibat sikap kritisnya pada Jenderal Zia. Setelah Zia tewas pada Agustus 1988, Benazir yang tengah hamil sembilan bulan, dengan segala ketegarannya, melakukan perjuangan politik untuk merebut kembali kekuasaan ayahnya yang direnggut Zia.

Sebulan pasca-tumbangnya Zia, Benazir melahirkan putra pertama, Bilawal Bhutto Zardari, akhir September 1988. Keletihan fisik pasca-kelahiran tidak membuat perjuangan Benazir surut. Ia terus berkampanye, hingga memenangkan pemilu terbuka pertama di Pakistan pada 16 November 1988. Benazir dilantik menjadi perdana menteri pada usia 35 tahun, ketika bayi pertamanya belum genap empat bulan.

Prinsip menjadi perempuan kuat yang, antara lain, ditekankan Benazir pada Worro bukanlah sekadar pemanis bibir. Ia telah menjalaninya. Sebelum terjun ke politik, Benazir membekali diri dengan mengambil kuliah bidang perbandingan pemerintahan di Universitas Harvard (1969-1973), Amerika Serikat, dengan yudisium cum laude. Lalu dilanjutkan ke Universitas Oxford, Inggris, mendalami filsafat, politik, dan ekonomi, serta melengkapinya dengan kursus hukum internasional dan diplomasi.

Pada akhir 1977, benih kepemimpinannya mulai terlihat, ketika ia terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ia tercatat sebagai wanita pertama Asia yang memimpin forum debat yang prestisius itu.

Begitu terjun ke gelanggang politik Pakistan, Benazir menjalani pasang surut kehidupan politik. Baru 20 bulan memerintah, pada Agustus 1990, Benazir diturunkan dari kursi perdana menteri. Namun ia berusaha bangkit. Dan, tiga tahun kemudian, Oktober 1993, Benazir terpilih untuk kedua kalinya sebagai perdana menteri.

Lawan politik Benazir pada masa jabatan keduanya bukan hanya "orang lain". Intrik politik juga berlangsung di antara anggota keluarganya. Adik kandungnya, Murtaza Bhutto, memilih garis oposisi terhadap Benazir. Hal ini dipicu ketidaksukaan Murtaza pada perilaku korup suami Benazir, Asif Ali Zardani, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan pada pemerintahan pertama Benazir.

Tidak hanya adik kandung, ibunda Benazir, Nusrat Bhutto, yang memihak Murtaza juga beroposisi terhadap Benazir. Hal ini membuat beban Benazir di penghujung kekuasaan keduanya kian berat. Dua bulan sebelum Benazir jatuh, pada September 1996, Murtaza tewas ditembak polisi. Ditengarai akibat perseteruannya dengan suami Benazir. Peristiwa itu membuat Benazir kian tidak populer hingga akhirnya jatuh pada November 1996, diiringi beragam tuduhan korupsi.

Pada tahun terakhir jabatan kedua Benazir itulah, Worro diundang ke istana Benazir di Islamabad. Ia menyaksikan sendiri bagaimana dampak tekanan sosial politik terhadap kehidupan pribadi dan keluarga Benazir. "Pada waktu itu, sedikit sedikit saya mendengar kabar ada bom meledak," papar Worro. Tingkat stres Benazir amat tinggi. Ia kerap tidak bisa tidur dan mengalami ketegangan otot punggung. Tapi Benazir berusaha tegar menghadapi semua itu.

Salah satunya dengan mendatangkan ahli pijat bioenergi dari Indonesia. Kalimat pertama Benazir ketika pertama menyabut kedatangan Worro di ruang pribadinya pada 7 April 1996, pukul 22.30 waktu setempat, "Worro, saya ingin bisa tidur nyaman." Benazir ketagihan pada layanan Worro ketika berkunjung ke Jakarta, Maret 1996. Ia sampai menulis di sehelai kertas, "Thank you for looking after me. I feel really relaxed and happy and ready to work again." Worro pada saat itu dikenal sebagai pemijat banyak tamu negara.

Tak cukup dilayani di Indonesia, Benazir mengundang Worro ke Pakistan. Pijatan Worro diperlukan untuk mengendurkan ketegangan Benazir dalam menghadapi tekanan politik yang bertubi-tubi. Ia paling suka dipijat otot punggung, kepala, dan kaki.

"Sekuat apa pun tampilan wanita di depan umum, ia tetap seorang wanita yang merindukan pelayanan, disentuh, dan dimanja," kata Worro, yang berperan utama mengendurkan otot, urat saraf, dan menciptakan relaksasi mental Benazir. Semua itu bukan hanya akibat tekanan pekerjaan, melainkan juga karena problem kewanitaan, seperti keluhan pinggang pasca-melahirkan dan gangguan emosi akibat menstruasi.

Tiap hari, Benazir menjalani layanan relaksasi dua sampai tiga jam. Sambil bersantai dipijat kakinya, Benazir masih menyempatkan diri menelepon menterinya, untuk memonitor pekerjaan atau merespons perkembangan terbaru. Kepada Worro, Benazir pernah bercerita bahwa ketika di penjara, ia diwasiati sang ayah agar melanjutkan peran politik ayahnya. Maka, gelanggang politik pun menjadi jalan hidupnya.

Sebagai ibu, Benazir juga selalu mengontrol pendidikan tiga anaknya: Bilawal, Bakhtwar, dan Aseefa --pada saat itu masing-masing berusia delapan, enam, dan empat tahun. "Ia selalu mengecek jadwal les dan ngaji anak-anaknya," kata Worro. Pendidikan anak diarahkan pada kemandirian, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Suatu hari, anak sulungnya, Bilawal, tersandung dan jatuh di salah satu sudut istana. Bilawal langsung memarahi suster yang mengasuhnya. "Mengapa kau tidak beritahu aku tempat itu berbahaya?"

Kebetulan Benazir mendengar dan segera menasihati Bilawal dengan lembut. "Darling, kesalahanmu itu akibat perbuatanmu sendiri yang tidak hati-hati. Kamu harus berani menanggung risiko atas tindakan yang kamu pilih," papar Benazir, sebagaimana disaksikan Worro.

Sekarang Bilawal menginjak usia 19 tahun. Bekal prinsip kepemimpinan yang banyak diarahkan ibunya kini dirasa penting. Minggu lalu, ia terpilih sebagai Ketua Partai Rakyat Pakistan (PPP), menggantikan mendiang ibunya. Tugas politik yang pernah dipesankan Zulfikar pada Benazir kini diteruskan Bilawal.

Setelah menuturkan panjang lebar pengalamannya mendampingi Benazir, Worro tiba-tiba tersentak. Ada sesuatu yang terlupa. "Saya belum memanjatkan doa khusus untuk beliau. Habis salat, saya akan berdoa khusus," ujarnya. Usai wawancara, ia mengambil air wudu, lalu naik ke lantai II rumahnya, untuk menunaikan salat isya dan berdoa buat mendiang pemimpin perempuan yang amat dikaguminya itu.

Asrori S. Karni
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 8 Beredar Kamis, 3 Januari 2008]