Menteri-menteri Israel Serukan Pembunuhan atas Sekjen Hizbullah

Pada momen peringatan Asyura (kesyahidan Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad) di selatan Lebanon, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa organisasinya masih menyimpan sisa-sisa tubuh tentara Israel yang terbunuh dalam Perang Lebanon kedua Agustus 2006.

Nasrallah kepada ribuan massa menyatakan tubuh-tubuh itu adalah bukti kepengecutan militer Israel hingga mereka meninggalkan begitu saja jenazah-jenazah serdadu mereka. Dengan menyimpan tubuh-tubuh tersebut, Nasrallah berharap Israel mau menukarnya dengan tawanan-tawanan Lebanon.

Namun, tawaran itu ditolak. Bahkan, menteri-menteri Israel pada rapat kabinet di Yerusalem (Minggu, 20/o1) menyerukan pembunuhan pemimpin kelompok perlawanan rakyat Lebanon tersebut. “Saya tidak mengerti mengapa dia (Nasrallah) masih bernapas. Kita semestinya sudah menghabisinya sejak lama. Saya rekomendasikan kepada kabinet rencana pembunuhan terhadap orang ini,” kata menteri Yitzhak Cohen seperti dikutip harian Haaretz.

Sementara itu, menteri dalam negeri Meir Sheetrit juga menyerukan hal yang sama seraya menyatakan, “Kita tidak membutuhkan negosiasi dengannnya. Kita harus menghancurkannya.” Menteri lainnya, Ze’ev Boim menyebut Nasrallah sebagai “tikus got” seraya menambahkan, “Kita harus memastikan bahwa orang ini tidak akan melihat matahari lagi.”

Karena Nasrallah telah menempati daftar puncak dari upaya perburuan dan pembunuhan Israel sejak lama, maka adalah wajar jika seruan-seruan itu bukanlah hal baru baginya. Namun, apa yang baru kali ini adalah seruan itu datang dari para anggota kabinet, yang sepertinya dapat memberikan tekanan lebih besar bagi PM Ehud Olmert untuk segera menuntaskan misi pembunuhan tersebut.

Pejabat PBB: Tindakan Israel di Gaza adalah Kejahatan Perang

Serangan Israel yang diklaim menarget sebuah kantor pemerintahan Hamas tetapi ternyata mengenai sebuah pesta pernikahan hingga menimbulkan sejumlah korban sipil adalah sebuah “kejahatan perang”, dan mereka yang bertanggung jawab harus dihukum, demikian diungkapkan seorang pejabat PBB pada Sabtu (19/01) seperti dikutip AFP.

John Dugard, pelapor khusus PBB bagi situasi hak asasi manusia di Palestina itu, juga mengecam berbagai pembunuhan terhadap bangsa Palestina dalam berbagai serangan lainnya, termasuk keputusan Tel Aviv untuk menuntup total perbatasan-perbatasan ke Jalur Gaza.

“Pembunuhan beberapa orang Palestina di Gaza dalam minggu-minggu terakhir dan penutupan semua perbatasan ke Gaza menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat serius mengenai penghargaan Israel terhadap hukum-hukum internasional dan komitmennya kepada proses perdamaian,” tegas Dugard dalam sebuah pernyataan.

“Aksi-aksi (Israel) baru-baru ini melanggar larangan keras atas hukuman kolektif dalam Konvensi Jenewa Keempat,” kata Dugard seraya merujuk kepada pernyataan Komisi Hak Asasi Manusia PBB.

“Itu juga merupakan pelanggaran yang serius terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional bahwa aksi militer harus membedakan antara sasaran militer dengan sasaran sipil.”

Menurut Dugard, Israel pasti mengetahui sasaran sipil yang akan menjadi korban ketika ia meluncurkan rudal-rudalnya.

Penasehat Partai Republik AS: Israel Harus Bom Iran demi Bush

Seorang penasehat politik senior Partai Republik AS, Norman Podhoretz, mengatakan karena secara politik adalah tidak mungkin bagi Bush untuk menyerang Iran, maka tugas tersebut seharusnya disubkontrakkan kepada Israel, demikian dilaporkan Press TV.

Jika Tehran tidak menghentikan program nuklirnya, maka tidak dapat dihindari lagi apabila Israel berniat memicu kekacauan atas Iran, tulis Podhoretz, yang juga dikenal sebagai godfather-nya kelompok neokonservatif Amerika Serikat, dalam artikelnya pada majalah Commentary.

Bahkan, penasehat kandidat presiden dari kubu Republik, Rudy Giuliani, ini yakin bahwa Israel bisa diminta untuk menyerang para tetangga Arab Iran untuk mencegah mereka dari membantu Iran jika Republik Islam itu menguasai teknologi nuklir.

Podhoretz yang mendapatkan medali kehormatan presiden dari Bush itu memandang bahwa laporan intelijen AS yang menyatakan Iran telah menghentikan program senjata nuklir telah membuat Bush secara politik tidak mungkin menunaikan tugasnya untuk menyerang Iran.

Oleh sebab itu, dia berdoa semoga presiden AS setelah Bush mampu menuntaskan misi yang belum terlaksana itu. “Jika tidak, semoga Tuhan menolong kita, maka akan pecahlah sebuah perang nuklir yang tak mungkin dihindari lagi,” tambah politisi gaek berusia 78 tahun itu.

Iran Usulkan Sidang Darurat OKI bagi Aksi Brutal Israel terhadap Warga Sipil Gaza

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki menyerukan kepada Organisasi Konferensi Islam untuk menyelenggarakan pertemuan darurat pada level menlu demi menyikapi kejahatan rezim Zionis di Gaza akhir-akhir ini.

Seperti dilaporkan Tehran Times, seruan itu dikirimkan melalui surat yang diantarkan oleh dutabesar Iran untuk OKI, Mostafa Borujerdi, kepada Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu pada Minggu (20/01). Surat itu juga berisi kecaman terhadap kekerasan dan kejahatan Israel di Gaza.

Sementara itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menghubungi Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi untuk mendiskusikan pentingnya pertemuan darurat itu bagi organisasi yang menaungi 57 negara Muslim tersebut.

Israel sejak Selasa (8/01) semakin meningkatkan operasi di Jalur Gaza yang menyebabkan 36 warga sipil Gaza tewas terbunuh, jumlah terbesar sejak Hamas mengambilalih wilayah yang berbatasan dengan Mesir itu.

Selain itu, Israel juga mengumumkan penutupan total bagi perbatasan-perbatasan ke dan dari Gaza serta menghentikan pasokan bahan bakar sehingga berbagai sarana vital kemanusiaan, seperti rumah sakit, tidak bisa beroperasi.

Pada Sabtu (19/01), Sekjen OKI Ihsanoglu telah mendesak PBB untuk mengintervensi demi menghentikan pembantaian warga sipil di wilayah yang terkucil itu.

Israel Akui Lebih Banyak Bunuh Warga Sipil di Gaza

Dalam laporannya pada rapat kabinet di Yerusalem, Kepala Shin Bet, polisi rahasia Israel, Yuval Diskin, melaporkan pasukan keamanan Israel telah membunuh 810 warga Palestina di Jalur Gaza dari 2006 hingga 2007. Dari jumlah tersebut, 200 orang di antaranya diakui tidak mempunyai kaitan dengan apa yang Israel sebut sebagai ‘organisasi-organisasi teroris’.

Namun, investigasi harian Haaretz menunjukkan bahwa warga Gaza yang terbunuh oleh Israel dalam kurun waktu tersebut berjumlah sekitar 816 orang, dengan 360 orang di antaranya merupakan warga sipil yang tidak berafiliasi dengan milisi-milisi bersenjata.

B’Tselem, organisasi hak asasi manusia Israel, menyebutkan bahwa 152 korban berumur di bawah 18 tahun; dan 48 di bawah umum 14 tahun.