AS izinkan prajuritnya di Irak lintasi perbatasan Iran dan Suriah

Sebuah dokumen rahasia militer AS berkategori B (SECRET) yang diungkap situs wikileak.org menunjukkan bahwa pasukan AS di Irak telah diberi wewenang untuk melintasi perbatasan Iran dan Suriah demi memburu para mantan anggota rezim Saddam Hussein dan teroris.

Dokumen rahasia 2005 yang bertajuk “US Consolidated Rules of Engagement (ROE) for Iraq” itu memuat beberapa pedoman bagaimana melakukan serangan terhadap mesjid; menangkap para imam; melintasi perbatasan (termasuk Iran dan Suriah); menggunakan ranjau dan agen-agen (berupa senjata kimia) pengendali kerusuhan; menetapkan target terhadap para teroris; menghancurkan properti-properti milik pemerintah Irak yang digunakan para teroris; dan bahkan teknik-teknik Kafkaesque untuk menghancurkan laboratorium senjata pemusnah missal berjalan, yang terbukti tidak pernah ada.

Dokumen itu juga berisi penetapan al-Quds (pasukan khusus Iran), milisi al-Mahdi, dan milisi Badr pimpinan Muqtada Sadr sebagai musuh-musuh.

ROE yang diungkap wikileak bertanggal 3 Oktober 2005. Namun situs independen itu meyakini bahwa ROE yang sekarang digunakan, meskipun telah mengalami beberapa modifikasi, tidaklah jauh berbeda dengan yang diungkapnya.

Menurut wikileak, dokumen itu diperolehnya lewat seorang “whistleblower” yang menyebut dirinya “Peryton”. Wikileak telah memverifikasi dokumen tersebut lewat beberapa sumber. Hasilnya dokumen tersebut tidak perlu lagi dipertanyakan keasliannya. Sebelumnya, “whistleblower” yang sama pernah mengirimkan kepada situs tersebut dua dokumen terkait standar prosedur militer di Kamp Delta, fasilitas penjara di Teluk Guantanamo, yang kemudian diakui keasliannya oleh pihak militer AS.

Sementara, seperti dilaporkan New York Times, para pejabat militer AS di Irak, meskipun menolak memastikan keaslian dokumen itu, mengatakan bahwa dokumen itu terlihat autentik. Namun, para pejabat mengecam upaya wikileak mengungkap dokumen itu ke public. “Sementara tidak ingin berkomentar apakah ini dokumen resmi ataukah tidak, kami memandang pengungkapannya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab...karena akan membahayakan personil militer AS di Irak,” kata Adm. Gregory J. Smith, jurubicara komando militer AS di Baghdad.

Wikileak menyatakan bahwa tujuan pengungkapan dokumen itu adalah untuk menunjukkan “perilaku tidak etis” yang dilakukan pemerintah AS.

AS jajaki kemungkinan pompa minyak Irak ke Israel

Amerika Serikat meminta Israel untuk memeriksa kemungkinan memompa minyak dari Irak ke instalasi penyulingan minyak Israel di Haifa. Permintaan datang lewat sebuah telegram satu minggu yang lalu dari seorang pejabat senior Pentagon kepada seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri di Yerusalem.

Kantor Perdana Menteri Israel, yang memandang saluran pipa minyak ke Haifa sebagai sebuah “bonus” dari AS atas dukungan Israel bagi kampanye militer AS di Irak, sebelumnya telah meminta Amerika untuk mengirimkan sebuah telegram resmi, demikian dilaporkan suratkabar Israel Haaretz.

Saluran pipa yang baru itu akan mengambil minyak dari ladang di Kirkuk, dimana sekitar 40 persen minyak Irak diproduksi, dan mengangkutnya via Mosul lalu ke Yordan dan Israel. Telegram AS juga meminta Israel untuk memperkiraan biaya perbaikan saluran pipa Mosul-Haifa yang digunakan sebelum 1948. Namun, selama Perang Arab-Israel, Irak menghentikan aliran minyak ke Haifa dan saluran itu dirusak serta tidak pernah diperbaiki selama bertahun-tahun.

Kementerian Infrastruktur Nasional Israel yang baru-baru ini melakukan riset menunjukkan bahwa pembangunan saluran pipa berdiameter 42-inci antara Kirkuk-Haifa akan menghabiskan biaya sekitar $400,000 per kilometer. Saluran pipa Mosul-Haifa yang lama hanya berdiameter 8 inci.

Menteri Infrastruktur Nasional, Yosef Paritzky, mengatakan bahwa pelabuhan Haifa adalah tujuan yang menarik bagi minyak Irak dan bahwa ia merencanakan untuk mendiskusikan hal ini dengan Menteri Energi AS selama kunjungannya ke Washington bulan depan.

Paritzky menambahkan bahwa keberhasilan rencana ini bergantung kepada persetujuan Yordan, dan bahwa Yordan akan menerima pembayaran karena telah mengizinkan minyak itu melewati wilayahnya.

Sumber-sumber di Yerusalem mengkonfirmasi bahwa Amerika sedang mempelajari kemungkinan membangun saluran pipa baru via Yordan dan Israel. (dan ini juga mencakup saluran pipa via Suriah yang telah tidak digunakan dalam tiga dekade terakhir).