Korban Holocaust: Israel = Nazi

Adri Nieuwhof, The Electronic Intifada, 2 Juni 2009

Hajo Meyer, penulis buku The End of Judaism, dilahirkan di Bielefeld, Jerman, pada 1924. Pada 1939, dia lari ke Belanda untuk menghindari rezim Nazi, sehingga tidak mampu menuntaskan sekolahnya. Satu tahun kemudian, ketika Jerman menduduki Belanda, dia hidup bersembunyi. Namun Meyer ditangkap oleh Gestapo pada Maret 1944 dan dideportasi ke kamp konsentrasi Auschwitz satu minggu kemudian. Dia adalah salah satu orang yang selamat dari Auschwitz.....

Adri Nieuwhof: Berikut salah satu kutipan komentarnya ketika diwawancarai Adri Nieuwhof.

Hajo Meyer
: Saya dapat menulis sebuah daftar panjang dari kesamaan antara Nazi Jerman dan Israel. Perampasan lahan dan rumah, penolakan akses kepada pendidikan dan pekerjaan untuk menghancurkan harapan, semuanya dengan tujuan untuk mengusir orang dari tanah air mereka... "

Kini Giliran Nasrallah

Nicholas Noe - Beirut
Palestine Chronicle

....Kini, ketika Nasrallah tampaknya siap untuk memimpin kemungkinan sebuah koalisi mayoritas baru di Parlemen Lebanon,
arus tanpa henti dari tuduhan dan ancaman telah berubah menjadi sebuah air bah – dimana negara-negara Arab, media Arab, dan pejabat-pejabat penuntutan berada di front terdepan dalam upaya mencap Nasrallah sebagai musuh publik Nomor Satu.

Alasan utamanya, jelas, adalah bahwa Nasrallah dan Hizbullah mampu menimpakan serangkaian kemunduran yang signifikan terhadap kepentingan AS dan khususnya Israel: penarikan mundur Israel Defense Forces (IDF) yang memalukan dari Selatan Lebanon di Mei 2000, kegagalan pemerintah Bush untuk menaklukkan Hizbullah dan Syria dalam sekali tepuk menyusul pembunuhan PM Lebanon Rafik Hariri pada 2005, dan tentu saja, perang Juli 2006 yang didorong secara penuh hasrat oleh AS.

Namun Nasrallah juga menjadi objek fokus dan kecemasan khusus karena, tidak seperti banyak para Islamis lainnya, dia sukses menancapkan sebagian besar prestisenya pada penampilan yang konsisten kepada rasionalitas dalam semua pertempuran penting demi memenangkan "hati dan pikiran".

Sungguh, ketika rakyat Lebanon pergi ke bilik suara, mereka sangat mungkin akan memilih koalisi yang dipimpin Hizbullah dan sekutu-sekutu Kristennya dalam Free Patriotic Movement untuk memimpin negara itu ke depan, alih-alih partai-partai yang benar-benar mendefinisikan diri mereka sebagai "moderat" pro-AS....

Menumpahkan darah kita sendiri untuk menyenangkan Israel

Khalid Amayreh di Ramallah

...Saya tidak mempunyai keraguan bahwa PA (Otoritas Palestina) benar-benar bertanggung jawab atas kematian enam warga Palestina, semuanya adalah korban dari penindasan dan kriminalitas Israel...

Lebih jauh,
keganasan penyiksaan di penjara-penjara dan markas-markas PA tidak menawarkan kesempatan untuk hasil yang berbeda dari episode tragis ini. Kedua pejuang (Hamas yang terbunuh) itu tampaknya memilih lebih baik mati daripada menghadapi prospek untuk disiksa dan dinistakan oleh mereka yang telah menyerahkan semua martabat kemanusiaan demi menyenangkan Jenderal Keith Dayton....

Dengan begitu, alih-alih meminta maaf kepada rakyat Palestina atas episode pembunuhan ini dan segera memecat petugas-petugas yang memberi perintah penembakan terhadap kedua pejuang tersebut, pejabat-pejabat PA dari bawah hingga atas malah lebih senang menyebarkan disinformasi seraya berpikir
bahwa dusta-dusta yang dirancang dengan tergesa-gesa itu akan mencuci bersih kejahatan itu dan membebaskan PA dari berbagai tuduhan di hadapan rakyat Palestina....

Kemudian Abbas sendiri terbelenggu dengan kisah-kisah pembunuhan yang fantastis, dengan mengatakan bahwa “Kami akan menghadapi dengan tangan besi siapa pun yang berupaya menghancurkan kemenangan nasional kita.”

Kemenangan macam mana yang pria ini bicarakan? Apa dia benar-benar menganggap Tepi Barat sebagai sebuah wilayah yang dimerdekakan? Apa dia menganggap bahwa dia dan orang-orang sok pintar pendukung (kesepakatan) Oslo benar-benar menikmati kemerdekaan dan kedaulatan di Ramallah?...

Tidak sedikit pun, operator-operator PA harus diperingatkan agar tidak terus hidup dalam ilusi bodoh mereka tentang keberlanjutan dari kemerdekaan bobrok mereka.

Massa rakyat Palestina sangat mengetahui kebenarannya. Setiap harinya, mereka menyaksikan akibat buruk dari mempunyai sebuah aparat "negara gagal" yang berfungsi sebagai budak bagi militer pendudukan Israel.

Pada akhirnya, rakyat Palestina tidaklah naif. Mereka memang menanggung sesuatu yang tidak bisa mereka pikul, tetapi mereka tidak akan pernah lupa. Pada akhirnya, angin kemarahan akan menyapu habis para pengkhianat..."