Amateur Indonesian Photomodels - Sisca Adrian



Here comes another Amateur Models of Indonesia, her name was Sisca Adrian, she was known on her job as a photomodel for Popular Magazine

Sisca Adrian (born August 20, 1980) is one of Indonesia’s top models and actresses. She’s also a business woman. Sisca partner with her friends set up a travel agent. And these are her photos from “Popular” magazine.

Enjoy this Hot Models from Indonesia Sisca Adfrian

"Revolusi Gucci" di Iran: Konspirasi AS-Israel?

Jika kita percaya bahwa unjuk rasa besar-besaran akhir-akhir ini di Tehran benar-benar murni dilakukan untuk memprotes "kecurangan pemilu", maka ada baiknya kita mencermati slogan-slogan yang digunakan para pemrotes:

Where is my vote? Tertulis dalam bahasa Inggris, para penggerak protes tampaknya sadar benar kepada siapa mereka hendak bicara: bukan pemerintah atau rakyat Iran tapi media Barat.

Death to the dictator, death to Ahmadinejad. Siapa pun rakyat Iran atau orang-orang Barat yang paham sedikit soal sistem kekuasaan di negara Persia itu tahu benar bahwa seorang presiden di Iran adalah figur publik dengan kekuasaan terbatas. Bahkan sang pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei, bukanlah seorang diktator: dia ditunjuk oleh sebuah lembaga negara yang juga memiliki wewenang untuk menggantinya.

Itu belum seberapa jika kita mengamati 7 tuntutan yang disebarluaskan lewat twitter: [1] singkirkan Khamenei dari posisi pemimpin tertinggi sebab dia tidak memenuhi kualifikasi keadilan; [2] singkirkan Ahmadinejad dari posisi presiden karena ia meraihnya secara ilegal; [3] angkat Ayatullah Hossein Ali Montazeri sebagai pemimpin tertinggi hingga sebuah komisi review untuk ghanooneh asasi (konstitusi) dibentuk; [4] sahkan Mir Hossein Mousavi sebagai presiden; [5] reformasi konstitusi; [6] bebaskan semua tahanan politik tanpa syarat; [7] bubarkan organisasi-organisasi rahasia seperti gasht ershad (polisi moral).

Bagaimana kita menjelaskan sebuah tuntutan yang pada mulanya berniat "mengoreksi ketidakwajaran pemilu" kemudian berubah menjadi tuntutan bagi penggantian pemimpin tertinggi serta perubahan konstitusi? Ataukah justru yang terakhir merupakan tujuan sesungguhnya dari hura-hara ini?

Sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, ada baiknya pula kita mencermati beberapa hal fakta berikut:

Fakta pertama, ternyata apa yang dikomplainkan kubu Mousavi kepada 12 anggota Dewan Garda--seperti ditulis Kaveh L. Afrasiabi (mantan anggota tim negosiasi nuklir di bawah pemerintahan Khatami)--alih-alih akan menjelaskan kepada kita apa yang sebenarnya mereka maksudkan dengan "kecurangan pemilu, malah semata berkaitan dengan perilaku-perilaku pra-pemilu yang tidak menjurus kepada apa yang dituduhkan:
  1. klaim bahwa Ahmadinejad menggunakan fasilitas-fasilitas transportasi milik negara untuk berkampanye ke seluruh negeri bukan bukti adanya kecurangan pemilu. Hampir setiap kandidat incumbent di seluruh negara demokrasi juga melakukan hal yang sama, termasuk juga Mohammad Khatami, salah satu pendukung utama Mousavi.
  2. komplain bahwa Ahmadinejad memiliki akses yang tidak proporsional kepada media pemerintah. Ini mungkin kebiasaan buruk, bukan cuma di Iran tapi di banyak negara. Namun pada tahun inilah, pertama kali diadakan debat televisi sebanyak 6 kali dimana setiap kandidat, termasuk Mousavi, mendapatkan tempat di media pemerintah secara gratis untuk menyampaikan visi dan misinya (kesempatan istimewa yang tak akan diperoleh kandidat-kandidat minor presiden AS, seperti Ralph Nader atau Cynthia McKinney).
  3. keluhan tentang adanya sebuah bentuk kekurangan pemilu di beberapa tempat yang mengakibatkan "keterlambatan selama beberapa jam". Ini komplain yang lebih bermakna, tetapi sulit untuk menjurus kepada kecurangan, terutama ketika partisipasi pemilih mencatat rekor tertinggi sekitar 85% dari 46 juta pemilih yang memenuhi syarat.
  4. komplain bahwa di beberapa daerah jumlah suara yang dihitung lebih tinggi daripada jumlah pemilih terdaftar. Tetapi Mousavi abai untuk menyatakan bahwa di sebagian daerah itu, seperti Yazd, ia justru menerima suara yang lebih banyak daripada Ahmadinejad.
  5. komplain bahwa beberapa saksinya tidak diakreditasi oleh Departemen Dalam Negeri sehingga tidak dapat secara independen memonitor pemilu. Namun faktanya, beberapa ribu saksi yang mewakili berbagai kandidat telah diakreditasi dan di antaranya menyertakan ratusan mata dan telinga pendukung Mousavi. (well, tampaknya kubu Mousavi harus bekerja lebih keras daripada sekedar mengeluhkan "remeh-temeh" seperti untuk menuntut diulangnya pemilu).
Fakta pertama mengindikasikan kepada kita bahwa tudingan kecurangan pemilu cuma kuda troya yang ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk memaksakan agenda-agenda yang tersembunyi:

  1. menggunakan pemilu presiden untuk mempertahankan status quo elit-elit korup; apakah boneka mereka Mousavi dinyatakan sebagai pemenang, dan mereka bisa menggunakan posisinya untuk melanjutkan agenda-agenda mereka atau dia kalah dan mereka bisa berteriak tentang pemilu yang dicuri (opsi terakhir terlihat mudah karena faktanya di sebuah negara besar seperti Iran, beberapa ketidakwajaran akan selalu terjadi).
  2. menggunakan pemilu presiden, sebuah posisi dengan kekuasaan terbatas, guna memicu sebuah krisis yang memberi mereka kendali atas posisi yang lebih berkuasa, pemimpin tertinggi.
Mengingat tidak satu bukti kuat pun yang mereka miliki, maka cuma 2 cara yang mereka punya: [1] menggunakan Majelis Ahli untuk menyingkirkan Khamenei; atau [2] memicu pertumpahan darah yang akan dipersalahkan kepada pemerintahan.

Pertanyaan selanjutnya, adakah kubu Mousavi ini diinfiltrasi oleh kepentingan-kepentingan imperium AS-Israel? Fakta berikut akan menjawabnya:

Fakta kedua, jurnalis dan penulis neokonservatif Kenneth Timmerman menulis satu hari sebelum pemilu di Iran bahwa ada pembicaraan tentang "revolusi hijau" (hijau merujuk kepada warna kubu Mousavi) di Teheran. Bagaimana Timmerman tahu kecuali itu adalah sesuatu yang telah direncanakan? Mengapa harus ada "revolusi hijau" yang disiapkan sebelum pemilu, terutama jika Mousavi dan pendukungnya yakin akan kemenangan seperti yang mereka klaim? Ini pastinya terlihat seperti bukti bahwa AS terlibat dalam protes ini.

Timmerman lebih jauh menulis bahwa "The National Endowment for Democracy" telah mengeluarkan jutaan dolar untuk mempromosikan "revolusi warna" (istilah yang merujuk pada revolusi sokongan AS di berbagai negara Eropa Timur). . . Sebagian dari uang itu tampaknya jatuh ke tangan kelompok pro-Mousavi yang mempunyai hubungan dengan LSM-LSM di luar Iran yang didanai The National Endowment for Democracy (NED). LSM Timmerman sendiri, yakni Foundation for Democracy, adalah organisasi yang dibentuk pada 1995 dengan dana hibah dari NED, untuk mempromosikan demokrasi dan HAM standar internasional di Iran.

Jangan salah, meski pemerintah Obama berhaluan neoliberal tetapi arus "neokonservatisme" di pemerintahannya kini sangat jelas diwakili oleh Wapres Joe Biden dan Menlu Madam Clinton.

Lalu apa sasaran AS-Israel menunggangi kubu pro Mousavi. Mereka tidak ingin muluk-muluk. Mereka--setidaknya seperti dinyatakan Kepala Dinas Rahasia Israel (Mossad)-- tahu bahwa protes hari-hari ini tidak akan berlangsung lama; atau bahwa "revolusi" kaum Gucci tak akan mampu menjatuhkan Khamenei dan mengubah konstitusi Republik Islam.

Paul Craig Roberts, bekas asisten Menteri Keuangan AS pada era Ronald Reagan, menulis apa sejatinya tujuan AS dalam kisruh di Iran, "Sebagai orang yang telah melihat semuanya dari dalam pemerintah AS, saya percaya bahwa tujuan pemerintah AS memanipulasi (laporan-laporan) media...adalah untuk mendiskreditkan pemerintah Iran dengan menampilkan pemerintah Iran sebagai penindas rakyat Iran dan penghalang kehendak mereka. Inilah bagaimana pemerintah AS menyiapkan Iran untuk sebuah serangan militer. Dengan bantuan Moussavi, pemerintah AS menciptakan satu lagi "orang-orang tertindas", seperti rakyat Irak di bawah Saddam Hussein, yang membutuhkan Amerika untuk membebaskan mereka...."

Siapa pun yang tampil sebagai pemenang dalam pergulatan ini, AS dan Israel sudah menangguk untung: yakni citra bahwa Republik Islam Iran yang didirikan atas kehendak rakyat (melalui referendum) kini sudah tidak lagi merepresentasikan kehendak rakyat mereka.

Alhasil, di permukaan akan tampak bahwa AS-Israel lebih senang jika Ahmadinejad terpilih kembali. Namun, itu bukan karena Ahmadinejad adalah sasaran empuk untuk diserang dan didemonisasi tetapi karena mereka tahu kemenangan Ahamdinejad akan memicu krisis yang dipicu oleh "revolusi kaum Gucci" yang telah direncanakan.

Apabila roh tidak tenteram

Ibuku hanya terpaku apabila mendengarkan berita sedih itu. "Kami harap Cik Rahmah banyakkan bersabar," nasihat anggota polis yang membawa berita berita sedih kepada keluarga kami pada petang itu, berita kematian bapa saudaraku iaitu adik ibuku. Walaupun umurku baru 12 tahun, namun aku masih ingat segalanya. Ia berlaku dalam tahun 1972. Pakcikku menemui maut dalam satu kecelakaan jalan raya di Jalan Bahar. BEliau menunggang skuter bersama isterinya yang sedang sarat mengandung enam bulan, anak sulung mereka.

Pakcik ku yang kami panggil "Pak Su" baru berusia 33 tahun ketika beliau pergi meninggalkan kami. Masa itu keluarga kami tinggal di Pepsy Road di Pasir Panjang, berdepan dengan Masjid Islah. Apabila malam tiba, keadaan begitu gelap dan sunyi. Yang kedengaran hanyalah bunyi cengkerek dan unggas malam. Hanya sesekali terdengar bunyi kenderaan berlalu - kenderaan yang dimiliki oleh orang kampung tengah yang terletak tidak jauh dari rumahku. Sesekali terdengar bunyi salakan anjing. Semasa hidupnya, pakcikku adalah seorang yang peramah, mesra dan periang. Bergurau dan bersakat dengan kami adik beradik adalah antara kegemaraannya. Beliau juga suka menunggang skuter dengan laju.

Sering ibu dan ayahku menegur cara beliau menunggang skuter. Namun pakcikku tidak menghiraukannya. Pada suatu hari aku terdengar ibuku memarahi pakcikku,"Kau jangan degil, nanti kau mati pun dengan skuter ni!" Mungkin benar kata orang, seseorang yang mati secara mendadak seolah olah terasan kerana tidak dapat berpesan atau meninggalkan wasiat. Mayat dan roh mereka dikatakan seolah olah tidak tenteram. Setelah tiga hari dikebumikan, kami sekeluarga sering didatangi roh arwah pak su. apabila masuk waktu maghrib, kami selalu ternampak semacam imbasan beliau dibilik belakang tempat beliau dimandi dan dikapankan. Adakalanya kami terdengar seperti suara beliau berbual bual, bunyi skuter beliau dan jugak bunyi siulannya.

Yang paling menghairankan kami, walaupun sudah hampir dua minggu berlalu, namun bau pacai dan setangi yang kami gunakan untuk menguruskan mayat beliau masih kuat baunya. Yang masih kuingat, kakak dan kedua dua abangku sering diganggu pak su, kerana semasa hayatnya pak su begitu mesra dengan mereka. Kakaklah yang sering melihat bayangan pak su. Abang abangku pula sering diganggu semasa tidur, dicuit cuit dihidungnya - kebiasaan pak su semamsa hidupnya. Ibuku pulak sering terdengar bualan dan siulan adiknya itu. Isteri almarhum pula sering terngigau-ngigaukan beliau. Beliau sering bermimpikan arwah pak su memesan agar beliau menjaga anak yang bakal dilahirkan itu dengan sempurna. Pernah juga isteri beliau terjaga kerana bermimpikan arwah pak su datang berjumpa dengannya lalu menunjukkan bekas jahitan post mortem pada tubuhnya.

Masih ku ingat ketika itu isteri pak su terjaga pada tengah malam sambil memekik nama pak su dan di ikuti dengan salakan anjing yang mendayu dayu. Sungguh menyeramkan ketika itu. Mungkin benar kata orang, roh orang yang baru mati akan berada didalam rumah selama 40 hari. Kami sering mengaji dan membaca yasin serta berfatihah untuk disedekahkan kepada almarhum. tetapi kami hairan mengapa rohnya seolah olah tidak tenteram. Apa yang menghairankan kami lagi ialah pada setiap hujung minggu ketika abang dan seorang lagi pakcikku menziarahi kubur allahyarham, terdapat lubang dihujung kaki atau dibahagian kepala kubur beliau. Menurut pakcikku yang sorang lagi, lubang tersebut begitu dalam. Beliau cuba menyucuk lubang itu dengan kayu sepanjang 4 kaki dan dilepaskan, batang kayu itu terus jatuh kebawah. Yang lebih menghairankan, apabila lubang dibahagian kakinya ditutup minggu ini, akan muncul pula lubang dibahagian kepalanya pada minggu depan. Begitulah keadaannya berterusan.

Kami pula sering berasa ketakutan - terutama sekali aku dan kakakku. Mentelah lagi salah sorang sahabat karib pak su pula dikatakan terkena "badi" beliau. Entah macam mana, dengan izin Allah swt. masuk minggu ketiga, nenekku (kini sudah arwah) bermimpikan pak su memberitahunya supaya membersihkan bilik bekas beliau dimandi dan dikapankan. Menurut arwah nenekku, pak su memeberitahunya bahawa bilik itu tidak dibersihkan dengan betul. Masih terdapat bekas bekas darah dan air mandi beliau yang bertakung dibawah tikar getah dalam bilik itu. Memang benar seperti kata Allahyarham didalam mimpi arwah nenekku. Keesokkan harinya , kami sekeluarga membersihkan bilik tempat Allahyarham dimandikan dan dikapankan - ternyata masih terdapat bekas bekas darah dan air mandi beliau yang masih lembap dibawah tikar getah itu.

Ayahku terus membakar tikar getah itu dan abunya ditanam. Kami sekeluarga lantas membersihkan bilik itu dengan lebih sempurna lagi. Hairannya, setelah itu kami sekeluarga tidak lagi diganggu. Kini sudah tahun berlalu, anak di dalam kandungan makcikku dulu sudah pun dewasa menjadi seorang anak gadis yang cantik dan manis. Aku juga tidak pernah lupa mendoakan al fatihah untuk allahyarham pak su setipa selepas solat.

Sumber : Internet