Misteri Ali Muhammad

Pada 18 Agustus 2009, Polisi menahan Ali Muhammad, warga negara asing, yang diduga ikut terlibat dalam menyediakan dana untuk membiayai aksi pemboman 17 Juli 2009 di JW Marriott dan Ritz Carlton [1].

Ali Muhammad disebut sebagai warga negara Arab Saudi. Namun, Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, Abdul Rahman Al Hayyat membantah tersangka teroris yang ditangkap Tim Densus 88 itu adalah warga negaranya[2].

Polisi menduga Ali Muhammad adalah anggota Al Qaeda. Namun, hingga kini polisi belum bisa memastikan hal itu. Dilaporkan juga bahwa polisi kesulitan mencari tahu siapa sebenarnya Ali Muhammad. Menurut Mardigu, psikolog hipnoterapis yang kerap dimintakan bantuan oleh Polisi, Ali memiliki defence yang bagus seolah-olah dia sudah menyiapkan skenario jika ditangkap [3].

Dalam jejak rekam Al Qaeda, nama “Ali Muhammad” merujuk kepada “asisten” Osama bin Laden. Menurut Lary Johnson, bekas deputi kepala counter-terrorism di Departemen Luar Negeri AS, Ali Muhammad adalah seorang militan yang memenuhi profil seorang “agen ganda” [4].

Dia berkebangsaan Mesir dan seorang mayor di angkatan darat Mesir tetapi pada 1980-an menjadi warga negara AS setelah menikahi perempuan AS dari Santa Clara, California . Tak lama setelah itu, ia masuk angkatan darat AS dan ditempatkan di unit khusus Special Warfare Center di Fort Bragg, North Carolina sebagai instruktur. Murid-muridnya banyak yang bertugas pada Special Activities Division CIA [5].

Selama perang Afghanistan, Ali Muhammad melatih pejuang mujahidin di perbatasan Afghan-Pakistan. Bahkan Agen Khusus FBI Jack Cloonan menyebutnya sebagai “bin Laden’s first trainer” [6].

Pada 1998 Ali Muhammad ditahan dalam kaitan dengan pemboman kedubes AS di Nairobi dan Tanzania. Pada tahun 2000, dia dinyatakan bersalah. Namun, tidak pernah ada laporan tentang hukumannya. Bahkan Federal Departement of Prisons Inmate tidak memiliki catatan narapidana bernama Ali Muhammad. Seorang jurnalis AS, Patrick Briley pernah menulis laporan bahwa Ali Muhammad sudah dibebaskan atas perintah langsung Departemen Kehakiman pemerintahan Bush di bawah Alberto Gonzales.

Jika benar bahwa “Ali Muhammad” yang ditangkap Densus 88 adalah “Ali Muhammad” yang banyak disebut-sebut itu, maka ia adalah sumber informasi penting untuk mengungkap jaringan terorisme internasional di Indonesia. Siapa pun dia sebenarnya, polisi harus memastikan Ali Muhammad diadili di Indonesia agar jelas apa peran dan kesalahannya dalam aksi pemboman itu. Jangan sampai kasus kontroversial Umar Al Farouq terulang kembali.


[1] “Penyandang dana teroris ditangkap?”, kompas.com, 19 Agustus 2009.

[2] “Al Hayyat: Ali Muhammad bukan warga Arab Saudi”, metronews.com, 23 Agustus 2009.

[3] “Polisi dinilai kesulitan interogasi Ali Muhammad”, detiknews.com, 22 Agustus 2009.

[4] “Egyptian agent worked with Green Berets, bin Laden”, Jerusalem Post, 31 Desember 2001.

[5] “Bin Laden’s man in Silicon Valley”, sfgate.com, 21 September 2001.

[6] Wayne Madsen, “CIA Collusion with “Al Qaeda” financier and attacks planner”, waynemadsenreport.com, 24 Agustus 2009.
[7] “Interview with FBI special agent Jack Cloonan”, Frontline, PBS, 18 Oktober 2005.


Senjata yang disita Filipina buatan Pindad

Pada 21 Agustus 2009, dilaporkan bahwa Coast Guard Filipina mengintersepsi “MV Captain Ufuk”, sebuah kapal kargo dengan registrasi Panama. Kapal tersebut diawaki oleh seorang kapten berkebangsaan Afrika Selatan dan 12 kru, yang seluruhnya merupakan warga negara Georgia.

Dari kapal tersebut, disita 50 pucuk senapan serbu berakurasi tinggi tipe SS1-V1 buatan PT. Pindad Indonesia.

“Captain Ufuk” memasuki Pelabuhan Mariveles, barat daya Manila, tanpa prior notice. Dokumen yang ditemukan di atas kapal menunjukkan kapal berangkat dari Turki dan sempat singgah di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuannya di Batangas City, Filipina.

Pada 28 Agustus 2009, PT. Pindad, melalui Kepala Humas Timbul Sitompul, mengakui bahwa senjata-senjata yang disita tersebut diproduksi pihaknya. Pindad mengklaim bahwa senjata-senjata itu dikirim secara legal, dan tujuannya adalah Mali. Namun, kapal yang mengangkutnya harus singgah di Filipina karena juga membawa senjata laras pendek pesanan organisasi menembak di negara itu.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa senjata-senjata yang disita bermerek Israel, “Galil”. Bahkan saat jumpa pers pertama, Komisioner Bea Cukai Filipina sempat menyebut senjata itu sebagai “versi bajakan” dari senjata “Galil”. “Galil” adalah merek senapan serbu yang didesain oleh Yisrael Galili dan diproduksi oleh Israel Military Industries Ltd (sekarang bernama Israel Weapon Industries Ltd).

Senjata produksi Pindad yang disita bertipe SS1-V1. Baik tipe Galil produksi Israel maupun tipe SS1-V1 produksi Pindad berkaliber 5,56x45mm standar NATO. Pada 2005, Kopassus pernah berniat membeli Galil dari Israel. Namun, niat itu dipersoalkan Komisi I DPR RI. Sejak lama, militer Indonesia memang tercatat sebagai user senapan serbu “Galil” buatan Israel, sehingga terbiasa menggunakan tipe tersebut.

Berkaitan dengan kasus penyitaan di Filipina, pertanyaannya adalah, mengapa impresi pertama aparat Filipina terhadap SS1-V1 buatan Pindad adalah “Galil” buatan Israel. Adakah kesamaan tertentu di antara kedua tipe senjata ini? Ataukah memang ada senjata Israel yang tercampur di dalam peti-peti yang disita?

Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah pesanan sebanyak 100 pucuk, sementara hanya 50 pucuk yang disita. Artinya, ada 50 pucuk lain yang tidak diketahui di mana keberadaannya.