Lampu Merah Terlama Di Indonesia

Lokasi : perlimaan Senen, dari arah Kramat raya menuju Senen.
(280 detik gan.... mantap!!)

ngliatnya aja dah bete.. gmana nunggunya..hiks


Orang-orang yang sabar menunggu



saking bete nunggu ada yang sampe Standarin motornya, (hihi)

Pria Berbulu Beristri Cantik

Yu Zhenhuan adalah cowok China yang memiliki bulu di sekujur tubuhnya. Ia dijuluki sebagai manusia yang paling banyak memiliki bulu di dunia. Secara logika, dengan keterbatasannya itu, mungkin ia akan sulit mendapatkan seorang istri. Faktanya, ia memiliki istri yang cantik.

Foto-foto berikut menunjukkan betapa mesranya Yu Zhenhuan bersama istri tercintanya itu. (indoforum)





Mayat Istri Jadi Pajangan

Sang suami, Jeff Green, 32 tahun, seorang Amerika yg tinggal di Arizona. Istri Jeff meninggal dan membuat sang suami sangat amat menderita. Untuk mengatasi penderitaannya, Jeff lakukan sesuatu yg sungguh di luar kebiasaan. Lucy, demikian nama istrinya yg meninggal, punya penyakit jantung yg membuatnya meninggal di usia 29. Kalimat terakhirnya, "Kita akan ketemu lagi di surga". Tapi kalimat itu tidak cukup menyakinkan Jeff.

Detik detik terakhir penguburan, Jeff memutuskan ia tidak bisa membiarkan Lucy pergi begitu saja. Atas seijin pemerintah, Jeff di perbolehkan membawa mayat istri nya ke rumah. Karena Lucy semasa hidupnya suka humor, Jeff berpikir pasti istri nya tidak keberatan jika di jadikan meja kopi. Jeff lalu memesan meja kaca khusus yg bisa menghentikan proses pembusukan. Harga meja itu US$ 6000.

Asal Usul Danau Toba

            Pada zaman dahulu di suatu desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan lahan pertaniannya untuk keperluan hidupnya.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar.

            Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja.

            Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

             Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.

             Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.

             Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.

             Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.
Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

            Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

             Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

            Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

Sangkuriang

            Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.


Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.
Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

            Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

            Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

          Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Pinokio Si Boneka Kayu

Di suatu kota, ada sebuah toko milik kakek Gepeto pembuat boneka. “Alangkah senangnya kalau boneka manis ini menjadi seorang anak.”
 
Setelah kakek berbisik demikian, terjadi satu keajaiban. “Selamat siang, Papa.” Boneka itu berbicara dan mulai berjalan. Dengan amat gembira, kakek berkata, “Mulai hari ini, engkau anakku. Kau kuberi nama Pinokio.” “Agar kau menjadi anak pintar, besok kau mulai sekolah , ya!”
 
Keesokan paginya, Kakek Gepeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku ABC. “Belajarlah baik-baik dengan buku ini!” “Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat.” “Hati-hati ya!” pesan kakek.

            Tetapi dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, “Drum, dum, dum, dum.” Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku ABC-nya, membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam. Di dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan akan telah dikepung prajurit berpedang. “Lihat! Jahat sekali prajurit itu…” Pinokio naik ke panggung, dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api. “Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua,” kata Pinokio. “Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin. Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang. “Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu,” kata pemilik sandiwara tersebut.

            Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. “Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!”

             Bagaimana cara menambah uang emas ini?” Tanya pinokio. “Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas.” Kemudian Pinokio diantar oleh Rubah dan Kucing, menanam uang emasnya di bawah pohon ajaib. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon, setelah itu mereka pergi.

            Tolong…..” teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang Dewi yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang untuk menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana Dewi telah menunggu. Dewi menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.

            Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!” kata Dewi. “Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit.” Pinokio terus menolak. Akhirnya Dewi menjadi marah, “Plak plak!” Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu. “Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke seolah?” Tanya Dewi. “Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu aku tidak bisa pergi ke sekolah….” Tiba-tiba saja “syuut” hidung Pinokio mulai memanjang. “Pinokio!” Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit.” “Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi.” Pinokio meminta maaf. Dewi tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. “Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!”

            Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta dunia bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada Dewi, setiap hari ia hanya bermain-main saja.

            Pada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantuk di permukaan air. “Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!” teriaknya. Ternyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada Dewi, maka ia mendapat hukuman.

            Setiap hari ia dipecut, dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah. Pemilik sirkus menjadi marah. “Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut.” Kemudian Pinokio dilempar ke laut. “Blup blup blup” Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. “Terima kasih ikan-ikan.” Sebenarnya Dewi melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya.

            Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati “Kali ini setelah aku pulang ke rumah aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa.” Pada saat itu “Hrrr…., seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan. “Haaa…. Tolong.” Pinokio ditelan oleh ikan hiu yang besar itu. “Hap” Di dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.

            Papa!” “Pinokio!” Mereka berdua saling berpelukan. “Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!”

            Ayo, kita keluar dari sini!” “Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi.” “Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa.” Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong kakek Gepeto di punggungnya.

            Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat kakek, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya kakek menjadi sehat kembali. “Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!”

            Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi.” Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang,” Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik.” Dewi muncul, dan merubah Pinokio si boneka menjadi seorang anak manusia.
 

Pesan Moral : 1. Kita harus patuh pada orangtua, dan
                        2. Janganlah terlalu berlebihan dalam bermain-main karena waktu belajar akan menjadi hilang.

Makhluk Halus Menurut Al-Quran Dan As-Sunnah (Bhgn 1)

Oleh:
Tuan Guru Dato' Dr. Haron Din
Darussyifa'

1.0 PENDAHULUAN
Yang dimaksudkan dengan makhluk-makhluk halus itu ialah makhluk-makhluk yang dicipta oleh Allah s.w.t. tanpa berjisim yang pada kebiasaannya tidak dapat dilihat oleh mata atau dirasa dengan tangan. Mereka hidup di alamnya atau alam ghaib. Makhluk-makhluk ini ada asal kejadiannya daripada cahaya, iaitu malaikat, yang sentiasa taat kepada perintah Allah, dan ada yang asal kejadiannya daripada api iaitu yang terdiri daripada jin, iblis, syaitan dan sebagainya. Beriman atau mempercayai tentang adanya makhluk makhluk halus dan hal-hal yang ghaib seperti ini adalah di antara ciri-ciri mukmin yang bertakwa kepada Allah s.w.t. Dalam Surah al-Baqarah ayat 2 hingga 4 tersebut firman Allah s.w.t.:


AI-Quran itu tidak ada keraguan padanya, menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa, iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sembahyang dan menggunakan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. 

Di antara hikmat diciptakan makhluk-makhluk halus ialah:

i. Untuk memperkuat iman seseorang kepada Allah s.w.t., menyakinkan tentang kebesaran dan keagungan llahi. Di samping kejadian manusia yang dapat dilihat dengan mata kasar, Allah s.w.t. berkuasa mencipta
makhluk-makhluk halus yang asal kejadiannya serta hakikat hidupnya begitu berbeza dengan manusia. Semua ini merupakan tanda-tanda keagungan Allah s.w.t.

ii. Agar manusia sentiasa berwaspada terhadap musuh-musuh yang tidak nampak, yang sentiasa berazam dan berusaha untuk menyesatkan manusia.

iii. Untuk menguji iman manusia, setakat mana manusia dapat menggunakan akal fikiran dan anggota tubuh badan dengan bijaksana dan tidak terpesona dengan tipu helah pujukan syaitan.

iv. Hanya dengan adanya dugaan, kekuatan iman seseorang itu akan diketahui.

v. Di samping kewujudan makhluk-makhluk halus yang jahat, seseorang yang beriman akan terus merasa yakin tentang adanya pertolongan Allah. Allah s.w.t. mengadakan para malaikat yang sentiasa meminta
rahmat dari Allah s.w.t. untuk manusia.

Masyarakat Melayu umumnya merujuk perkataan makhluk-makhluk halus itu kepada berbagai-bagai jenis syaitan, iblis,. jin dan lain-lain, tanpa merujuk kepada malaikat. Dalam artikel ini, perkataan makhluk halus dirujuk kepada makhluk-makhluk selain malaikat, kecuali pada bahagian-bahagian tertentu dengan
penerangan khusus mengenainya.

Dalam AI-Quran dinyatakan dengan jelas tentang adanya musuh manusia yang sentiasa menanti-nanti, menunggu mencari peluang untuk menyesatkan manusia, iaitu iblis, syaitan dan kuncu-kuncunya. Dalam peristiwa kejadian Adam, Allah s.w.t. telah memerintahkan iblis supaya sujud menghormati kejadian Allah s.w.t. iaitu Adam. Namun iblis enggan berbuat demikian kerana kesombongannya, yang merasakan bahawa dirinya lebih mulia daripada Adam (al-A'raf:11). Oleh sebab itu Allah s.w.t. telah melaknat iblis dan menghukumkannya kafir. Sujud di sini dinamakan Sujud Tahiyyat bukan sujud kebaktian. Sujud kebaktian hanya kepada Allah s.w.t. tidak kepada yang lain.

Berlatar belakangkan peristiwa tersebut, iblis telah bersumpah di hadapan Allah s.w.t. yang ia akan menghalang manusia daripada beriman dan melakukan perintah-perintah Allah s.w.t. Iblis bersumpah akan menggoda manusia dari setiap penjuru seperti yang termaktub dalam Surah al-A'raaf ayat 16 dan 17:


(Iblis) berkata, kerana Engkau telah menghukum aku sesat, aku benar-benar akan menghalang mereka dari jalanMU yang lurus. Kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan daripada mereka bersyukur.


Dalam perkataan diatas, menurut tatabahasa bahasa Arab, huruf ba di sini menunjukkan Al-ba 'u lil-qasam () iaitu menunjukkan sumpah. Bermaksud bahawa iblis telah bersumpah di hadapan Allah bahawa ia akan menghalang hamba manusia daripada melakukan kebaikan. 

Ada pendapat lain yang mengatakan huruf ba di sini ialah lis-sababiyyah (), menunjukkan sebab. Maksudnya oleh sebab syaitan itu dilaknat dan dihukumkan kafir oleh Allah s.w.t. berpunca daripada Adam, maka iblis bersumpah akan membalas dendam terhadap diri Adam dan keturunannya supaya mereka semua sesat, terlaknat dan terpesong daripada jalan yang diredhai Allah s.w.t. dan neraka bersama iblis.


Dalam ayat ini, Iblis bersumpah akan menghalang manusia daripada tiba ke jalan yang diredhai Allah s.w.t. sehingga mereka semua binasa atau sesat seperti dirinya juga. Iblis jarang menyekat perbuatan baik seseorang itu namun apabila ia telah tiba di peringkat akhir atau di penghujung jalan dalam usahanya untuk memperolehi
keredhaan Allah s.w.t. Iblis dan kuncu-kuncunya akan sentiasa menyekat saluran-saluran yang membolehkan seseorang itu berusaha menuju ke jalan yang diredhai Allah s.w.t.

Iblis bukan setakat menggoda supaya sembahyang seseorang itu tidak khusyuk apabila seseorang itu bangun untuk mengerjakan sembahyang, tetapi iblis akan sentiasa menghalang supaya seseorang itu tidak bangun untuk bersembahyang. Jika seseorang itu sedang tidur iblis akan menguliti manusia supaya terus tidur dan
merasakan bahawa tidur itu lebih baik baginya. Apabila langkah tersebut tidak berjaya iblis dan kuncu-kuncunya akan menggoda manusia ketika ia mengambil wuduk. Apabila ia juga tidak berjaya dan manusia terus bangun bersembahyang, maka iblis dan kuncu-kuncunya akan mengganggu manusia ketika ia
bersembahyang. Dengan hal yang demikian mungkin menyebabkan seseorang itu tidak khusyuk semasa bersembahyang. Akibatnya sembahyang yang dilakukannya itu tidak dapat membentuk peribadi yang baik dan tidak berupaya menghindarkan dirinya apabila melakukan perbuatan jahat dan mungkar.

Ayat seterusnya pula memperlihatkan setakat mana jalan-jalan itu disekat oleh iblis.


Ayat di atas bermaksud bahawa iblis menyekat manusia daripada melakukan perkara-perkara yang diredhai Allah s.w.t. dari empat sudut iaitu dari depan, belakang, kanan dan kiri, tanpa menyebut atas dan bawah. Iblis tidak menyebut yang ia akan menyekat bahagian atas kerana ia tidak berupaya berbuat demikian. Bahagian ini adalah tempat di antara seorang hamba dan rahmat Allah s.w.t. seperti yang disebut oleh Ibn Abbas. Bahagian bawah tidak disebut kerana sifat takabur iblis yang tidak mahu tunduk menyekat dari bahagian bawah. Tindakan iblis dan kuncu-kuncunya lebih berkesan dari bahagian depan dan belakang dan kurang berkesan dari bahagian kanan dan kiri kerana bahagian-bahagian ini dipelihara oleh malaikat.

Tegasnya peranan syaitan ialah menyesatkan manusia sejauh yang boleh (an-Nisa':60). Oleh sebab itu, manusia perlu sentiasa berwaspada dan memahami bahawa makhluk-makhluk ini adalah musuh utama manusia, yang telah bersumpah di hadapan Allah s.w.t. untuk membawa mereka semua ke neraka bersama-samanya, seperti yang tersebut dalam Surah al-Baqarah ayat 168 dan 169:



Dan janganlah kamu mengikut langkah-langkah syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. 


Syaitan itu adalah sebahagian daripada makhluk-makhluk halus. la merupakan salah satu daripada kumpulan jin yang ingkarkan perintah Allah s.w.t. Syaitan adalah daripada keturunan jin yang dijadikan daripada api. Adam pula dijadikan daripada tanah. Allah s.w.t. menjadikan jin dan manusia supaya taat kepada perintah Allah s.w.t. Mereka dikenakan taklif. Kebaikan dan kejahatan mereka dihisab dan diberi balasan. Jin terbahagi kepada dua bahagian iaitu jin Islam dan jin kafir. Termasuk dalam golongan jin kafir ialah iblis syaitan dan sebagainya. Dalam al-Quran disebutkan bahawa makhluk-makhluk halus itu mempunyai sifat dan tabiat yang bermacam-macam. Ada yang cerdik, ada yang bodoh, ada yang lalai dan ada yang lemah fikiran. Ada yang kafir yang berkelakuan sempurna dan sangat baik pendiriannya. Ini disebutkan dalam Surah al-Jinn ayat 11:



Dan janganlah kamu mengikut langkah-langkah syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.


Syaitan itu adalah sebahagian daripada makhluk-makhluk halus. la merupakan salah satu daripada kumpulan jin yang ingkarkan perintah Allah s.w.t. Syaitan adalah daripada keturunan jin yang dijadikan daripada api. Adam pula dijadikan daripada tanah. Allah s.w.t. menjadikan jin dan manusia supaya taat kepada perintah Allah s.w.t. Mereka dikenakan taklif. Kebaikan dan kejahatan mereka dihisab dan diberi balasan. Jin terbahagi kepada dua bahagian iaitu jin Islam dan jin kafir. Termasuk dalam golongan jin kafir ialah iblis syaitan dan sebagainya. Dalam al-Quran disebutkan bahawa makhluk-makhluk halus itu mempunyai sifat dan tabiat yang bermacam-macam. Ada yang cerdik, ada yang bodoh, ada yang lalai dan ada yang lemah fikiran. Ada yang kafir yang berkelakuan sempurna dan sangat baik pendiriannya. Ini disebutkan dalam Surah al-Jinn ayat 11:



Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang salih dan di antara kami ada pula yang tidak demikian. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza.

Tersebut juga dalam al-Quran tentang adanya makhluk-makhluk jin yang beriman kepada Allah s.w.t. sesudah kebangkitan nabi Muhammad seperti yang tersebut dalam Surah al-Jinn ayat 13:



Dan sesungguhnya kami ketika mendengar pertunjuk (al-Quran), kami beriman kepadanya. Maka barang siapa beriman kepada Tuhannya maka ia tidak takut pengurangan pahala dan tidak takut akan penambahan azab.

Pada satu, ketika ada satu golongan jin yang mendengar Rasulullah s.a.w. membaca al-Quran, padahal baginda sendiri tidak mengetahui kehadiran mereka. Peristiwa ini termaktub dalam al-Quran, Surah al-Ahqaaf ayat 29:



Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Quran, maka tatkala mereka hadir, mereka berkata diamlah kamu. Maka tatakala selesai, mereka pun kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan.


Ayat ini bermaksud bahawa Allah s.w.t. telah mendatangkan sekumpulan jin kepada Rasulullah s.a.w. untuk mendengar al-Quran. Ketika mereka mendengar, sebahagian daripada mereka memperingatkan teman-teman yang lain supaya diam dan mendengar al-Quran tadi. Setelah itu mereka pun balik menemui kaum mereka yang belum beriman supaya beriman kepada Allah s.w.t.

Jelasnya bahawa manusia dan jin itu dicipta oleh Allah s.w.t. untuk menyembahnya Mereka diberi akal fikiran dan ikhtiar. Perbuatan baik dan jahat mereka dihisab seperti yang dijelaskan dalam Surah al-A'raf ayat 179:




Dan sesungguhnya Kami telah sediakan bagi jahanam itu beberapa banyak daripada golongan jin dan manusia. Mereka ada hati tetapi mereka tidak mahu berfikir dengannya. Mereka mempunyai mata tetapi mereka tidak mahu memerhatikan dengannya. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak mahu mendengar dengannya. Mereka semua seperti binatang-binatang ternakan bahkan mereka itu lebih sesat, mereka itulah orang yang lalai.



Ayat ini menyatakan bahawa manusia dan jin itu diberi hati (fikiran), mata dan telinga oleh Allah s.w.t. menurut naluri asal kejadian masing-masing. Walaupun demikian banyak di antara mereka yang tidak menggunakan pemberian Allah. s.w.t. itu sebagaimana seharusnya. Mereka tidak menggunakan pemberian Allah s.w.t. untuk jalan yang benar demi untuk pengabadian diri kepada Allah s.w.t. Sikap demikian itu menyebabkan mereka seperti binatang yang tidak dapat membezakan antara yang baik dan buruk. Ditinjau dari sudut lain, mereka sebenarnya sesat begitu jauh, lebih teruk daripada binatang kerana binatang tidak mempunyai akal dan ikhtiar.


Allah s.w.t. menjadikan manusia dan jin untuk menyembahnya demi kebaikan manusia dan jin di dunia dan di akhirat. Allah s.w.t. amat kaya dan tidak mengambil manfaat daripada sifat taabbudi seseorang hambanya seperti yang tersebut dalam Surah adz-Dzaariyyat ayat 56 dan 57:



Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku. Aku tidak mahu daripada mereka sedikit rezeki dan Aku tidak perlukan mereka memberi makan.


Semua makhluk halus pada dasarnya tidak dapat dilihat oleh manusia disebabkan unsur asal kejadiannya berlainan daripada unsur kejadian manusia. Ini merupakan salah satu rahmat Allah s.w.t. kepada manusia. Andainya Allah s.w.t. memperlihatkan jasad jin dan syaitan, umumnya kekuatan manusia akan lemah melihatkan Makhluk halus yang dengan rupa bentuk makhluk yang terlalu berbeza dengan jasad manusia.


Seperti yang dijelaskan bahawa iblis telah bersumpah di hadapan Allah s.w.t. untuk menyesatkan manusia. Dalam keadaan demikian, kita seharusnya memahami bahawa manusia adalah pihak yang sentiasa bersifat defensif (bertahan), manakala makhluk-makhluk halus itu adalah merupakan pihak yang sentiasa bersifat ofensif (menyerang) yang ingin membinasakan manusia. Tidak ada pakatan yang dilakukan oleh manusia secara teratur dan terancang, sama ada bersendirian atau berkelompok yang bertujuan untuk membinasakan sebarang makhluk halus kecuali dalam keadaan tertentu, setelah manusia diganggu oleh makhluk-makhluk halus tadi. Tindakan manusia seperti ini sebenarnya bukan bersifat ofensif. Mereka berbuat demikian semata-mata kerana mengharapkan kesembuhan akibat kejahatan makhluk-makhluk halus tadi. Dari sinilah kita akan dapat melihat kedudukan manusia yang sebenarnya, sering terdedah kepada godaan musuh-musuh Allah s.w.t.


Iblis telah mengakui dan menyedari bahawa ia tidak berupaya hendak membinasakan orang yang ikhlas. Namun demikian, sifat ikhlas itu tidak boleh diperoleh oleh semua orang dengan begitu mudah. Sifat ikhlas merupakan satu natijah daripada gagasan rangkaian iman yang wujud pada diri seseorang. Oleh sebab itu, tidak pelik jika iblis itu tidak dapat menggoda orang yang ikhlas. Bagi mereka yang tidak beriman, iblis dan syaitan adalah pemimpin mereka, tidak kira sama ada iblis dan syaitan itu bersifat manusia ataupun daripada kalangan makhluk-makhluk halus.

Dalam Surah al-A'raaf ayat 27 Allah berfirman:



Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapa kamu dari syurga. Ia menanggalkan dari mereka berdua pakaian untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang kamu tidak boleh lihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi mereka yang tidak beriman.


Jelasnya bahawa makhluk-makhluk ini terbentuk daripada zat halus (athir) yang tidak ada halangan bagi zat itu untuk menyerupai sesuatu yang dikehendaki. la juga boleh menembusi sesuatu, yang tidak disekat atau dihalangi oleh bahan-bahan udara, air dan sebagainya.


Makhluk-makhluk halus boleh berupa kepada bentuk yang mereka ingini dengan izin Allah jua, dan boleh masuk atau keluar dari mana-mana bahagian tanpa sekatan. Pada satu ketika isteri Rasulullah s.a.w. yang bernama Safiyyah menziarahi baginda yang sedang beriktikaf di masjid. Ketika Safiyyah hendak meninggalkan masjid baginda telah mengiringinya sampai ke pintu masjid. Pada waktu yang sama datang dua orang lelaki daripada golongan Ansar Ialu memberi salam. Rasulullah menjawab salam tadi dan berkata: "Sila kamu berdua masuk. Dia ini ialah Safiyyah bin Hay". Mendengar kata Rasulullah, mereka berdua pun mengucap "Subhanallah" . Kemudian Rasulullah bersabda:



Sesungguhnya syaitan itu memasuki tubuh manusia menurut aliran darah. Dan sesungguhnya aku takut syaitan itu akan mencampakkan sesuatu dalam hati kamu berdua.

Peristiwa di atas terjadi pada bulan Ramadan. Mengirut kebiasaannya Rasulullah s.a.w. sejak 21 hingga akhir bulan Ramadan akan berada di masiid siang dan malam untuk beriktikaf. Pada satu malam Safiyyah berkunjung ke masjid kerana sesuatu keperluan. Ketika pulang baginda menghantarnya hingga ke pintu masjid. Dua orang Sahabat yang datang itu berlalu dengan cepat menyingkir diri setelah melihat Rasulullah s.a.w. bersama seorang wanita, yang dirasakan mungkin bukan mahramnya. Pada fikiran Sahabat tadi, dengan berbuat demikian, Rasulullah s.a.w. tidak akan merasa malu bila berjumpa dengan mereka. Oleh sebab itu Rasulullah s.a.w. menerangkan keadaan yang sebenar, menyatakan perempuan yang bersamanya itu ialah isterinya. Baginda khuatir kalau silap faham atau rasa curiga itu akan menimbulkan fitnah besar, lebih-lebih lagi sekiranya hal ini terdengar oleh orang-orang munafik, seperti peristiwa yang telah menimpa Aishah, pada peristiwa HadithuI-ifq.

Walaupun demikian segala jenis makhluk halus tidak boleh menjelma menyerupai Rasulullah s.a.w. Sebuah hadith riwayat Abu Hurairah menyebut bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:



Barangsiapa melihat aku dalam tidur, maka sesungguhnya ia betul telah melihat akan daku kerana syaitan itu tidak akan menjelma menyerupai akan daku.

Sebuah hadis lain riwayat daripada Jabir r.a. telah berkata bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:



Barangsiapa melihat akan daku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah melihat akan daku. Maka sesungguhnya syaitan tidak berupaya menjelma menyerupaiku.

Tentang jenis-jenis makhluk halus ini, Imam At-Tabrani telah meriwayatkan sebuah hadis dengan katanya bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:



Jin itu ada 3 golongan. Satu golongan mempunyai sayap yang boleh terbang di angkasa, satu golongan berupa ular dan satu golongan lagi berpindah dan bertempat.

Abu Darda' telah meriwayatkan secara marfu' hadis yang berbunyi:


Allah menjadikan jin itu 3 golongan. Golongan ular, kala jeengking dan binatang tanah, golongan semacam angin di udara dan satu golongan di atas mereka hisab dan balasan. Dan Allah menciptakan manusia 3 jenis, satu jenis seperti binatang.


Dalam kitab Gharaibu wa 'AjaibiiI-Jinn karangan AI-Qadi Baharuddin menyebutkan tentang adanya sejenis jin yang separuh rupanya seperti manusia, namanya Shaqq, kerjanya menghalangi orang yang musafir bersendirian dan adakalanya membinasakan dia.


Sebuah Hadis riwayat daripada Muaz bin Jabal menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah memberikan tamar sedekah kepadanya untuk dijaga. Tamar yang diletakkan dalam sebuah bilik itu didapati semakin berkurangan setiap hari. Lalu ia mengadu kepada baginda. Rasulullah s.a.w. memberitahu bahawa itu adalah perbuatan syaitan Ialu menyuruhnya menunggu. Pada waktu malam dat.anglah satu lembaga menyerupai gajah. Apabila tiba ke pintu, lembaga itu masuk melalui celah-celah pintu setelah bertukar daripada rupa asalnya. Apabila ditangkap dan diberi amaran untuk dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w., lembaga itu berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Pada keesokan harinya apabila ditanya oleh Rasulullah s.a.w. apakah yang telah dilakukan olehnya terhadap orang tawanannya itu, Muaz berkata bahawa lembaga itu telah dilepaskan setelah ia berjianii tidak akan datang lagi. Rasulullah s.a.w. menjawab bahawa lembaga itu akan datang lagi dan menyuruh Muaz menunggu.


Pada malam yang kedua Muaz telah menunggunya dan menangkap lembaga tadi tetapi melepaskannya apabila in merayu dan berjanji tidak akan datang lagi.

Pada malam ketiga lembaga tadi datang lagi Ialu ditangkap. Akhirnya ia dilepaskan oleh Muaz setelah memberitahu kegunaan dua ayat AI-Quran, iaitu ayat al-Kursi dan ayat di akhir surah al-Baqarah (Aamanarrasul). Jika ayat-ayat ini dibaca dalam sebuah rumah, syaitan tidak akan datang ke rumah tersebut. Ayat kedua yang dimaksudkan ialah Surah al-Baqarah ayat 285:



Sebuah hadis lain yang diriwayatkan dari Ubai bin Kaab, menyatakan bahawasanya ia mempunyai satu bekas berisi tamar dipertaruhkan kepadanya. Tiba-tiba didapati isinya telah susut. Pada satu malam ia telah terjaga, tiba-tiba terlihat bayangan seorang budak. Lalu ia memberi salam kepada budak tadi dan dijawab salamnya. Apabila ditanya siapa dia yang sebenarnya, adakah jin atau manusia. Lembaga itu menjawab mengatakan bahawa ia adalah jin. Ubai bin Kaab meminta supaya lembaga itu menghulurkan tangannya. Apabila dihulurkan, didapati tangan itu seperti tangan anjing begitu juga rambutnya. Bila ditanya adakah jin dijadikan sedemikian rupa. Dijawab, bahawa bentuk jin adalah lebih dahsyat daripada dirinya.


Berdasarkan ringkasan maksud hadis-hadis di atas, menunjukkan bahawa makhluk-makhluk halus berupaya menjelmakan dirinya dalam berbagai-bagai bentuk kecuali rupa Rasulullah s.a.w.

Imam Muslim meriwayatkan bahawa seorang pemuda kaum Ansar telah membunuh ular dalam rumahnya, lalu ular itu mati. Rasulullah s.a.w. bersabda:



Sesungguhnya di Madinah ini terdapat golongan jin yang telah Islam. Maka apabila kamu lihat sesuatu tanda pada mereka, maka berilah amaran tiga hari. Jika ternyata kepada kamu sesudah itu, maka bunuhlah ia kerana sesungguhnya dia itu syaitan.


Sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim daripada Abi Said al-Khudri yang telah menceritakan bahawa pada satu hari ia mempunyai seorang tamu. Tiba-tiba tamu itu melihat ular dan hendak membanuhnya. Abu Said telah melarangnya membunuh ular tadi dan menceritakan suatu cerita yang pernah berlaku di rumahnya.

Di rumah itu ada seorang pemuda yang baru berkahwin. Kami, iaitu golongan daripada Sabahat telah keluar kerana menggali parit (khandak). Pemuda itu menyatakan keuzurannya kepada Rasulullah s.a.w. dan meminta diri untuk pulang. Rasulullah s.a.w. telah membenarkannya untuk pergi selama sehari sahaja. Baginda menyuruhnya membawa senjata kerana takut kalau pemuda itu diganggu oleh Bani Quraizah. Pemuda itu pun mengambil senjatanya Ialu beredar pulang.


Setibanya di rumah, tiba-tiba didapati isterinya sedang berdiri di antara pagar pintu rumahnya dengan pintu besar. Pemuda itu merasa cemburu dan mengacukan lembing hendak menikam isterinya. Isterinya tampil ke pintu, menyuruhnya masuk ke rumah untuk melihat apakah yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu terus masuk ke dalam. Didapati ada seekor ular besar berlegar di dalam hamparan, Ialu ular tersebut dibunuhnya dengan lembing tadi. Kemudian ia pun membawa ular itu keluar dan memacakkan ke tanah. Ketika nyawa ular itu hampir hilang, pokok di hadapan rumahnya bergerak bergoyang-goyang. Pemuda itu meninggal dunia tidak lama selepas ular itu mati.


Kami telah menemui Rasulullah s.a.w. dan menceritakan peristiwa yang berlaku. Kami meminta kepada Rasulullah s.a.w. agar, Allah menghidupkan ular (jin) itu. Rasulullah. s.a.w. telah bersabda:



Sesungguhnya di Madinah ini terdapat golongan jin yang telah Islam. Maka apabila kamu melihat sesuatu tanda pada mereka, maka berilah amaran tiga hari. Jika ternyata kepada kamu sesudah itu, maka bunuhlah ia kerana sesungguhnya dia itu syaitan.



Seperti yang dijelaskan bahawa makhluk-makhluk halus itu ada 3 jenis, iaitu jin, syaitan dan iblis. Di antara jin-jin tersebut, ada yang beragama Islam, Yahudi, Kristian, Majusi dan ada yang menganut bermacam-macam penyembahan dan kepercayaan seperti manusia juga.

Syaitan lebih rendah martabatnya dariada jin dan ifrit kerana hidup mereka semata-mata untuk menganggu dan membinasakan makhluk-makhluk Allah. Makhluk-makhluk halus merupakan makhluk-makhluk yang hidup mempunyai roh yang membolehkan mereka hidup berketurunan. Mereka mempunyai batasan umur
yang telah ditetapkan oleh Allah seperti manusia juga. Jin akan mati apabila tiba ajalnya, tetapi umur syaitan (keturunan iblis) adalah panjang yang hanya akan berakhir dengan tiupan sangakala pertama.

Dalam peristiwa yang menyebabkan iblis dilaknat dan dihukumkan kafir oleh Allah, iblis telah memohon kepada Allah agar umurnya juga keturunannya dipanjangkan seperti yang termaktub dalam Surah al-Hijr ayat 36:



Wahai Tuhanku, (kalau demikian) berilah aku tangguh sampai hari mereka akan dibangkitkan.

Allah telah memperkenankan permohonannya dengan firmannya seperti yang termaktub dalam Surah al-Hijr ayat 37 & 38:



Dia (Allah) berfirman: Maka sesungguhnya engkau adalah dari mereka yang diberi tangguh, sampai hari waktu yang ditentukan.

Jelasnya iblis dan keturunannya, iaitu syaitan tidak akan mati hingga hari kiamat. Ini berbeza dengan had umur jin yang akan mati apabila tiba masanya seperti yang telah ditetapkan oleh Allah.

Bersambung....

Anak Kerang

          Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.” 

Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Wortel, Telur dan Kopi


           Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

           Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku, apa yang kaulihat?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.

          Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?” Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.
“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya.
“Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”
Bagaimana dengan ANDA, sobat?
Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

           Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?

          Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.


Bagaimana caramu sobat menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?

Pohon Apel

           Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
          Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

           Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

           Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu.
“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Jack si Pemalas

            Pada suatu masa, hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Jack dan hidup bersama dengan ibunya. Mereka sangatlah miskin dan ibunya yang sudah tua itu menghidupi mereka dengan berkerja sebagai penenun, tetapi Jack sendiri adalah anak yang sangat malas dan tidak pernah mau melakukan apapun selain berjemur di matahari pada hari yang panas, dan duduk di sudut rumah saat musim dingin. Sehingga dia dipanggil Jack si Pemalas. Ibunya sendiri tidak pernah dapat membuat Jack melakukan sesuatu untuknya, dan akhirnya suatu hari da berkata kepada Jack, bahwa apabila dia tidak mulai bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, ibunya itu tidak akan memperdulikan dia lagi.
            Hal ini merisaukan Jack, dan dia lalu keluar rumah mencari pekerjaan pada hari berikutnya di tetangganya yang petani dan berhasil mendapatkan satu penny (mata uang Inggris); tetapi karena selama ini dia tidak pernah pulang kerumah sambil memegang uang, dia kehilangan uangnya ketika melewati sebuah sungai.
"Anak bodoh," kata ibunya, "kamu seharusnya menaruh uangmu di kantong."
"Saya akan melakukannya lain kali," kata Jack si Pemalas.

            Hari berikutnya, Jack kembali keluar untuk bekerja pada seorang pembuat roti yang tidak memberinya apa-apa kecuali seekor kucing yang besar. Jack lalu mengambil kucing tersebut, dan membawanya dengan hati-hati di tangannya, tetapi kucing tersebut mencakar tangannya sehingga dia harus melepaskan kucing tersebut yang kemudian lari menghilang. Ketika dia pulang kerumah, ibunya berkata kepadanya, "Kamu anak yang bodoh, seharusnya kamu mengikatnya dengan tali dan menariknya untuk mengikutimu."
"Saya akan melakukannya lain kali," kata Jack.

            Pada hari berikutnya, Jack keluar dan bekerja pada seorang penjagal, yang memberikan dia hadiah berupa daging domba yang besar. Jack mengambil daging domba tersebut, mengikatnya dengan tali, dan menyeretnya di tanah sepanjang jalan, sehingga ketika dia tiba dirumah, daging domba tersebut telah rusak sama sekali. Ibunya kali ini tidak berkata apa apa kepadanya, dan pada hari minggu, ibunya mengharuskan dia membawa pulang kubis untuk dimasak nanti.
"Kamu harus membawanya pulang dan memanggulnya di pundakmu."
"Saya akan melakukannya di lain waktu," kata Jack.


Pada hari senin, Jack si Pemalas bekerja pada seorang penjaga ternak, yang memberikan dia seekor keledai sebagai upahnya.Walaupun Jack sangat kuat, dia masih merasa kewalahan untuk menggendong keledai itu di pundaknya, tetapi akhirnya dia memanggul keledai tersebut di pundaknya dan berjalan pelan ke rumah membawa hadiahnya. Di tengah perjalanan dia berjalan di depan sebuah rumah dimana rumah tersebut di huni oleh orang kaya dengan seorang anak gadis satu-satunya, seorang gadis yang sangat cantik, yang tuli dan bisu. Dan gadis tersebut tidak pernah tertawa selama hidupnya. Dokter pernah berkata bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa berbicara sampai seseorang bisa membuatnya tertawa. Ayahnya yang merasa sedih itu berjanji bahwa dia akan menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki yang bisa membuat anak gadisnya tertawa. Disaat itu juga sang gadis kebetulan melihat keluar jendela pada saat Jack lewat di depan rumahnya sambil menggendong keledai di bahunya; dimana keledai tersebut menendang-nendangkan kakinya ke udara secara liar dan meringkik-ringkik dengan keras. Pemandangan itu begitu lucu sehingga sang putri tertawa tergelak-gelak dan saat itu juga memperoleh kemampuannya untuk mendengar dan berbicara. Ayahnya yang begitu bahagia melihat anaknya telah dapat berbicara dan mendengar, memenuhi janjinya dengan menikahkan anak gadisnya itu dengan Jack si Pemalas, yang kemudian menjadi orang yang kaya juga. Mereka kemudian tinggal bersama-sama di sebuah rumah yang besar dengan ibu Jack dan hidup berbahagia hingga akhir hayat mereka.

Asal Usul Kota Banyuwangi

              Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
 
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

              “Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

              Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa. 

              Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya. 

              Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan. 

             “Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang. 

            Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat. 

            Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Puteri Tidur

            Dahulu kala, ada sepasang Raja dan Ratu yang berbahagia, karena setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Ratu melahirkan seorang Puteri.

            Raja dan Ratu mengundang tujuh peri untuk datang dan memberkati Puteri yang baru saja lahir itu. Dalam acara megah yang diselenggarakan sebagai penghormatan kepada para peri itu, masing-masing peri memberikan berkat kepada sang Puteri.

            Peri pertama mengatakan “Kamu akan menjadi Puteri tercantik di dunia.”Peri kedua mengatakan “Kamu akan menjadi seorang Puteri yang periang.”Peri ketiga mengatakan “Kamu akan selalu mendapatkan banyak kasih sayang.”Peri keempat mengatakan “Kamu akan dapat menari dengan sangat anggun.”Peri kelima mengatakan “Kamu akan dapat bernyanyi dengan sangat merdu.”
Peri keenam mengatakan “Kamu akan sangat pintar memainkan alat musik.”

            Tiba-tiba datang peri tua ke tengah acara itu. Ia sangat marah karena tidak diundang. Semua orang memang sudah lama tidak pernah melihat peri tua itu, dan mengira bahwa ia sudah meninggal atau pergi dari kerajaan itu.

            Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya “Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!” dan kemudian peri tua itu pun menghilang.

            Semua orang sangat terkejut. Ratu pun mulai menangis.

            Peri ketujuh mendekati sang Puteri dan memberikan berkatnya “Aku tidak bisa membatalkan kutukan, tapi aku dapat memberikan berkatku supaya Puteri tidak akan mati karena terkena jarum pintal, melainkan hanya tertidur pulas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun, seorang Pangeran tampan akan datang untuk membangunkannya.”

            Raja dan Ratu merasa sedikit lega mendengarnya. Mereka lalu mengeluarkan peraturan baru bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal satu pun. Mereka menyita dan menghancurkan semua alat pintal yang ada di kerajaan itu demi selamatan sang Puteri. Pada suatu hari disaat Puteri berusia 18 tahun, Raja dan Ratu pergi sepanjang hari.

            Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang memintal benang menggunakan alat pintal.  Karena belum pernah melihat alat pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba. 

            Wanita tua itu sebenarnya adalah peri tua jahat yang dulu mengutuknya. Saat sang Puteri mencoba alat pintal itu, ia pun dengan sengaja menusukkan jarum pintal ke tangan sang Puteri.  

            Sang Puteri jatuh tak sadarkan diri dan tertidur karena terkena kutukan. Peri tua jahat tertawa puas dan menghilang dalam kegelapan. 

            Saat Raja dan Ratu kembali, mereka dan seluruh pegawai kerajaan kebingungan mencari sang Puteri. Saat mereka menemukannya, Raja tersadar bahwa kutukan peri tua jahat telah menjadi kenyataan. Sang Puteri lalu dibawa ke kamarnya dan dibaringkan di tempat tidurnya. Raja lalu mengirimkan kabar mengenai peristiwa itu ke peri ketujuh yang baik hati. 

            Peri ketujuh yang baik hati lalu bergegas ke istana. Ia memutuskan untuk menidurkan semua orang di kerajaan itu supaya kelak saat kutukan sang Puteri berakhir mereka semua akan bangun bersama-sama.  

           Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat dan berduri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan, sehingga sangat sulit bagi siapapun untuk menerobosnya. Bahkan puncak-puncak istana pun hanya dapat terlihat ujungnya saja. Karena menjadi sangat tertutup, sang Puteri dan seluruh kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur.  

           Setelah masa seratus tahun berakhir, seorang Pangeran tampan yang kebetulan sedang berburu di dekat wilayah kerajaan itu melihat pucuk-pucuk istana itu. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang kerajaan itu, antara lain tentang istana yang dianggap berhantu, para penyihir, dan cerita-cerita lain yang sangat menyeramkan yang sebenarnya tidak benar.  

            Karena penasaran, saat kembali dari berburu sang Pangeran mencari orang tua yang paling bijaksana dan pintar di kerajaan untuk menanyakan tentang kerajaan tetangga yang penuh misteri itu. 

            Orang tua yang bijaksana itu lalu bercerita bahwa menurut leluhurnya, di dalam istana di kerajaan yang misterius itu terbaring seorang Puteri yang paling cantik di dunia, yang tertidur karena terkena kutukan dari peri tua jahat. Sang Puteri akan terus tidur hingga ada seorang Pangeran yang datang untuk membangunkannya.  

            Pangeran tampan yang pemberani itu lalu bergegas berangkat menuju kerajaan misterius itu. Ia berniat untuk menyelamatkan sang Puteri. Sang Pangeran berjuang menembus semak belukar dan pepohonan untuk dapat mencapai kedalam wilayah kerajaan yang misterius itu. 

            Sesampainya disana, ia melihat banyak sekali orang dan hewan peliharaan yang terbaring dimana-mana. Tetapi mereka tidak mati, sepertinya mereka hanya tertidur sangat nyenyak.  Pangeran lalu masuk ke dalam istana. Disana ia pun melihat seluruh pegawai kerajaan yang tertidur pulas. 

Setelah berjalan-jalan menjelajahi istana itu, sang Pangeran berhasil menemukan sang Puteri di sebuah kamar. Sang Pangeran terpesona oleh kecantikan sang Puteri. Pangeran pun berlutut dan memegang tangan sang Puteri. Saat itulah kutukan berakhir dan sang Puteri membuka matanya. Ia menyambut sang Pangeran yang telah lama ia tunggu dengan bahagia.

Dalam waktu yang bersamaan seluruh penghuni istana dan seluruh kerajaan terbangun. Semak belukar dan pepohonan menghilang. Semua orang kembali mengerjakan urusan mereka masing-masing. Raja dan Ratu juga terbangun dan segera menyambut sang Pangeran dari kerajaan tetangga itu.

            Tak lama kemudian, sang Puteri dan sang Pangeran tampan menikah. Mereka lalu hidup berbahagia selamanya.