Spesies Baru Pohon Hiasan Natal Ditemukan



KOMPAS.com — Buat Anda yang merayakan Natal mungkin akrab dengan tanaman mistletoe, salah satu tanaman yang daunnya banyak dipakai untuk menghias rumah saat Natal. Di negara barat sana, daun pohon itu dimanfaatkan sebagai hiasan dengan merangkainya dan menggantungkannya di depan pintu. Lalu, ada tradisi bahwa siapa saja yang berdiri di dekatnya harus mencium orang yang dikasihinya.
Mistletoe merupakan tanaman parasit yang masuk dalam ordo Santalales. Selama ini ada beberapa jenis tanaman mistletoe yang banyak digunakan. Nah, menjelang Natal kali ini ternyata ada spesies baru mistletoe yang baru saja ditemukan. Spesies baru tersebut ditemukan di wilayah dekat Gunung Mabu, sebelah utara Mozambik, oleh para ilmuwan dari Royal Botanical Garden, Kew, London. Penemuan ini termasuk unik sebab para ilmuwan mengonfirmasi bahwa spesies yang ditemukannya ini baru tepat sebelum Natal.
Nama spesies mistletoe yang ditemukan adalah Helixanthera schizocalyx. Spesies ini dijumpai pertama kali oleh Colin Congdon, seorang ahli kupu-kupu, yang menyadari bahwa spesies tumbuhan ini berbeda dengan yang biasa ditemukan di Malawi dan Tanzania. Hanya lima sampel tumbuhan yang dikoleksi dan kelimanya ditemukan tumbuh di pohon kopi.
Mistletoe biasa tumbuh sebagai parasit dengan menempel di batang pohon elm, pinus, apel, dan ek. Sebagian besar tanaman ini termasuk golongan hemi-parasitic, yang artinya mengambil sebagian nutrisi yang dibutuhkan dari tanaman lain. Sementara itu, terdapat pula mistletoe yang termasuk parasit total, yakni jenis yang termasuk dalam genus Arceuthobium.
Spesies mistletoe memiliki buah berwarna putih dengan biji di dalamnya. Buah ini akan dimakan oleh burung. Efek sampingnya, biji di dalam burung itu akan menyebar ke tempat lain. Ketika biji jatuh di permukaan pohon, mereka akan bertunas dan membentuk perakaran untuk menghisap nutrisi dari pohon inangnya.
Penemuan mistletoe merupakan penemuan terbaik Royal Botanical Garden tahun ini. Penemuan Royal Botanical Garden lainnya adalah spesies anggrek Vietnam, spesies palem-paleman baru dari Madagaskar, iris liar dari Andes, tanaman kanopi raksasa dari Kamerun yang tingginya mencapai 41 meter, dan tanaman yang disebut osigawa di Kenya.

New Species Discovered Christmas Tree Decoration
KOMPAS.com - Create you who celebrate Christmas are probably familiar with mistletoe plants, one plant whose leaves have been used to decorate homes at Christmas. In western countries there, the leaves of the tree is used as a garnish with merangkainya and hung it in front of the door. Then, there is a tradition that anyone who stood by him to kiss his loved ones.
Mistletoe is a parasitic plant that included in the order Santalales. So far, there are several types of mistletoe plants that are widely used. Well, before Christmas this time there was a new species of mistletoe have just discovered. The new species was discovered in the area near Mt Mabu, north of Mozambique, by scientists from the Royal Botanical Gardens, Kew, London. The present invention includes unique because scientists confirmed that the new species was discovered just before Christmas.
The name mistletoe species found were Helixanthera schizocalyx. This species was first encountered by Colin Congdon, an expert on butterflies, who realize that this is different species of plants commonly found in Malawi and Tanzania. Only five samples were collected and fifth plants found growing on coffee trees.
Mistletoe grows as a parasite commonly attached to the elm trees, pine, apple, and oak. Most of these plants belonged to hemi-parasitic, which means taking some of the nutrients it needs from other plants. In the meantime, there is also a total parasitic mistletoe that included, namely the type that are included in the genus Arceuthobium.
Mistletoe species has a white fruit with seed in it. This fruit will be eaten by birds. The side effects, the seeds in the bird will spread to other places. When the seed falls on the surface of the tree, they will germinate and establish roots to suck the nutrients from its host tree.
The discovery of mistletoe is the best invention this year's Royal Botanical Garden. The discovery of the Royal Botanical Garden is another Vietnam orchid species, a new species of palm-paleman from Madagascar, wild iris of the Andes, the giant canopy of plants from Cameroon whose height reached 41 meters, and a plant called osigawa in Kenya.

Simpanse Ternyata Juga Suka Boneka


KOMPAS.com - Tidak hanya manusia yang suka bermain dengan boneka. Hewan seperti simpanse misalnya pun ternyata senang melakukannya. Demikian hasil penelitian ahli primata Richard Wrangham dan koleganya dari Harvard University.
Mereka menemukan bahwa simpanse suka bermain dengan boneka setelah ia melihat sosok simpanse betina di Taman Nasional Kibale Uganda.  Di sana, seekor simpanse betina terlihat  bermain dengan ranting pohon. Tapi, tidak asal memainkan ranting tersebut. Simpanse itu meletakkan ranting pohon di perutnya dan membawanya ke mana pun ia pergi.
Apa hubungannya ranting pohon dengan boneka? Secara fisik memang jauh berbeda, tapi cara sang simpanse memperlakukan ranting pohon mirip dengan cara gadis cilik saat memainkan boneka.
Perilaku simpanse semacam itu baru ditemukan pertama kalinya di alam liar. Karena tertarik, Wrangham dan koleganya pun melakukan pengamatan secara intensif. Mereka menghabiskan 12 jam per hari untuk meneliti, mengikuti jejak sebuah kelompok simpanse beranggotakan 68 ekor simpanse dan merekam perilakunya.
Dalam 40 persen kasus yang ditemui, simpanse meletakkan ranting di lipatan lengan atau lipatan paha. Mereka memainkan ranting itu bak memainkan boneka, selain juga menggunakannya untuk menyibak pepohonan dan menyerang satu sama lain.
Perilaku betina
Lebih dari tiga perempat simpanse yang membawa ranting pohon adalah betina. Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology bulan ini, Wrangham mengatakan bahwa frekuensi betina memainkan ranting pohon 10 kali lebih sering daripada jantan.
Artinya, perilaku tersebut terikat gender, seperti boneka yang umumnya hanya dimainkan perempuan. Dengan adanya perilaku ini, peneliti menegaskan adanya kedekatan evolusioner antara manusia dan simpanse.
Namun, menanggapi hasil penelitian ini, Rebedca Jordan Young, ahli kelamin, gender dan seksualitas dari Barnard College, New York mengatakan, hasil penelitian belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa perilaku tersebut terikat gender. Menurutnya, peneliti tak bisa begitu saja mengatakan perilaku itu terkait gender dan tanpa disertai dengan mekanisme meniru antara simpanse betina dewasa dan muda.





Chimpanzees Apparently Also Like Dolls
KOMPAS.com - not just humans who like to play with dolls. Animals such as chimpanzees for example, also was happy to do it. Thus the results of research primatologist Richard Wrangham and his colleagues from Harvard University.
They found that chimps like to play with dolls after she saw the figure of female chimpanzees in Kibale National Park, Uganda. There, a female chimpanzee seen playing with a tree branch. But, not just play these twigs. Chimpanzees were put tree limbs in her stomach and took him everywhere he went.
What does a tree branch with dolls? Physically, much different, but how to treat the chimpanzee branch similar to the way the little girl while playing dolls. Chimpanzee behavior such newly discovered first time in the wild. Being interested, Wrangham and his colleagues also conduct intensive observations. They spend 12 hours per day to research, follow the trail of a 68-member group of chimpanzees chimpanzees tail and recording behavior.
In 40 percent of the cases found, the chimpanzees put twigs in the folds of the arm or groin. They play it like a twig doll play, as well as use it to uncover the trees and attacking one another.
Female behavior\
More than three-quarters of chimpanzees carrying tree branches are female. In research published in the journal Current Biology this month, Wrangham said that the frequency of females played a tree branch 10 times more frequently than males. That is, the behavior of gender bound, like a doll which is generally only played women. Given this behavior, the researchers confirmed the existence of evolutionary closeness between humans and chimpanzees.
However, responding to the results of this study, Rebedca Jordan Young, a sex, gender and sexuality from Barnard College, New York, said the study results are not strong enough to conclude that the behavior of gender bound. According to him, researchers can not just say that the behavior associated with gender and without any mechanism between chimpanzees imitate adult female and young.

Hutan Kita Terus Digerogoti


Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, tampak dari udara, Jumat (17/12/2010). Keindahan kawasan yang vegetasi hutannya sangat rapat ini serta keragaman hayati di dalamnya beragam itu kini terancam hilang jika alih fungsi hutan terus terjadi.

Oleh Irma Tambunan Sekitar satu jam melintasi bumi Jambi dari ketinggian 3.048 meter di udara, pesawat jenis caravan project milik Susi Air yang kami tumpangi tiba di atas Taman Nasional Kerinci Seblat, wilayah Kabupaten Merangin, Jambi, Jumat (17/12/2010) sore. Semua mata penumpang langsung tertuju pada satu titik di bawah sana: penggundulan dan pembakaran hutan.
Atas instruksi Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Tri Siswo, pesawat segera merendahkan ketinggian jelajahnya menjadi 1.828,8 meter saja sehingga pandangan kami ke bawah semakin jelas. Wajah taman nasional itu terlihat berbeda, menyisakan bukit-bukit gundul berwarna kecoklatan.
Tampak ratusan batang pohon bergeletak di tanah setelah baru ditebangi. Tak jauh dari situ, asap kebakaran mengepul ke langit, menyatu dengan asap dari titik pembakaran lain di sekitarnya. Kami memperkirakan ada lebih dari 20 titik pembakaran lahan di sepanjang kawasan tersebut.
Kita mungkin tidak akan menyangka, bagaimana kawasan hutan yang terjal dan berbukit-bukit serta jauh dari pusat kota ternyata begitu ramai dirambah pendatang dari Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan.
Pada satu kesempatan berbeda, saya mengunjungi kawasan itu melalui jalur darat. Salah seorang teman mengatakan, selama ini belasan angkutan umum ilegal dari Bengkulu dan Sumsel datang melewati ibu kota Merangin, Bangko, setiap harinya untuk membawa perambah masuk. Para perambah inilah yang membuka Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan hutan penyangga menjadi perkebunan kopi.
Sentra kopi
Rentang waktu 10 tahun lebih telah mengubah wajah kawasan ini: menjadi hamparan kebun kopi yang berbuah lebat. Aktivitas ekonomi masyarakat setempat begitu hidup dan bahkan telah mengangkat nama daerah Merangin sebagai salah satu sentra penghasil utama kopi di Sumatera.
Salah satu daerah penghasil kopi, Kecamatan Lembah Masurai, memproduksi kopi kering 8.000 ton tahun 2005 dan terus meningkat menjadi 15.000 ton tahun 2006. Tahun 2007, volume produksi kopi naik dua kali lipat menjadi 30.000 ton seiring kian meluasnya area penanaman. Sementara itu, ada enam kecamatan lainnya yang juga menghasilkan kopi, yaitu Sungai Manau, Lembah Masurai, Tabir Barat, Pangkalan Jambu, Jangkat, dan Sungai Tenang.
Di satu sisi, perekonomian masyarakat setempat begitu hidup. Bersamaan dengan itu, laju perusakan hutan juga kian mengerikan. Sangat ironis, ketika TNKS tengah didaftarkan ke UNESCO untuk masuk sebagai salah satu warisan dunia, kekayaan alamnya justru terus digerogoti.
Tidak hanya untuk pembukaan kebun kopi, perambahan liar juga marak untuk kebun sawit. Itu terlihat, antara lain, di sejumlah titik di Taman Nasional Bukit Duabelas dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Pinggiran taman-taman nasional ini juga jadi lokasi perambahan para pendatang.
Berdasarkan data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, penyusutan hutan di Jambi, yang sebagian besar berada pada sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, terjadi paling drastis dari tahun 1995 hingga 2000. Tutupan hutan menyusut 1 juta hektar dari sebelumnya 2 juta hektar.
Lalu, tahun 2000-2005, penyusutan terus berlangsung sehingga luas hutan tersisa sekitar 700.000 hektar. Pada saat itu, DAS Sungai Batanghari dinyatakan masuk dalam 10 sungai paling kritis di negeri ini.
Demi HTI dan sawit
Menurut Rudi Syaf, Direktur Komunikasi KKI Warsi, faktor terbesar penyebab kerusakan itu adalah pembukaan hutan alam untuk kepentingan tanaman industri (HTI) dan perkebunan sawit. Pembangunan ini membutuhkan pembukaan hutan yang masif. Akibatnya, fungsi kawasan itu untuk menyerap air merosot drastis. Banjir menjadi kerap terjadi pada musim hujan, lalu diikuti bencana kekeringan pada musim kemarau.
Dalam kurun satu setengah tahun terakhir, ada empat lokasi hutan alam di Jambi yang beralih fungsi untuk memenuhi kebutuhan tanaman industri akasia, pertukangan, dan karet. Empat perusahaan yang memperoleh izin HTI adalah PT Lestari Asri Jaya (LAJ) seluas 61.000 hektar, PT Mugi Triman (37.500 hektar), PT Malaka Agro Perkasa (24.485 hektar), dan PT Bukit Kausar (33.310 hektar).
Salah satu kawasan HTI, yaitu yang dikelola PT LAJ, merupakan habitat inti satwa kunci, seperti gajah sumatera, harimau sumatera, dan tapir. Sekitar 90 persen populasi gajah di wilayah tengah Sumatera berada di kawasan ini. Sementara jejak harimau masih kerap ditemui di dalam hutan.
Bersamaan dengan terjadinya konversi hutan alam menjadi tanaman industri, merebak pula konflik antara satwa liar dan penduduk di sembilan desa di tiga kecamatan sekitar hutan yang merupakan ekosistem Bukit Tigapuluh ini. Konflik ini bahkan berdampak dengan tewasnya seorang warga akibat terinjak gajah yang mengamuk saat diusir keluar dari perkebunan setempat.
Saat ini tersisa 220.000 hektar hutan produksi. Itu berarti hutan alam Jambi makin habis apabila areal untuk HTI terus dikonversi. Hutan juga akan kian habis jika aktivitas perambahan liar dibiarkan begitu saja, menjadi persoalan besar di kemudian hari. Sedikit demi sedikit, perambah dan pembalak terus menggerogoti kekayaan hutan alam Jambi.
Tanpa kita sadari, nyaris tak ada lagi hutan yang tersisa. Tidak heran apabila bencana kian menyatu dengan manusia.

Keep Our Forests encroached
About an hour across the earth from a height of 3048 meters Jambi in the air, the aircraft type owned by Susi Air caravan project that we were riding arrives at the top of the National Park Kerinci Seblat, Merangin regency, Jambi, on Friday (12/17/2010) afternoon. All passengers eyes fixed on a point directly below: deforestation and forest burning.
Under the instructions of the Head of the Natural Resources Conservation Center (KSDA) Jambi Tri Siswo, immediately degrading the aircraft altitude of 1828.8 meters home range becomes so our view is becoming increasingly clear downward. The face that looks different national parks, leaving a barren hills lightly browned.
Looks hundreds bergeletak tree trunks on the ground after just cleared. Not far from there, fire smoke billowing into the sky, one with the smoke from burning another point in the vicinity. We estimate there are more than 20 points of land along the combustion region.
We may not be surprised, how steep forested areas and hilly and far from downtown was so crowded encroached upon immigrants from Bengkulu, Lampung and South Sumatra. On a different occasion, I visited the area by land. One friend said, so far dozens of illegal public transport come from Bengkulu and South Sumatra through the capital Merangin, Bangko, every day to bring the browser entry. The browser is what opened the Kerinci Seblat National Park (TNKS) and buffer forests into plantations of coffee.
Coffee Centers Span of 10 years has changed the face of this region: a stretch of lush coffee plantations that bear fruit. Local economic activity so alive and has even picked a name Merangin area as one of the major production centers in Sumatra coffee. One of the coffee producing areas, District Masurai Valley, producing 8,000 tons of dried coffee in 2005 and continued to increase to 15,000 tons in 2006. In 2007, the volume of coffee production doubled to 30,000 tons as the increasingly widespread planting area. Meanwhile, there are six other districts that also produce coffee, the River manau, Masurai Valley, Western Veil, Pangkalan Jambu, ford, and the Quiet River.
On the one hand, the economies of local communities so alive. Simultaneously, the rate of forest destruction is also increasingly dire. Very ironic, when the middle TNKS registered to UNESCO for entry as one of the heritage world, they continue to be undermined its natural wealth. Not only for the opening of the coffee plantations, logging is also rampant encroachment for palm plantations. It looks, among other things, at some point in the Park Hill and Park Hill Twelve Thirty. Periphery of national parks has also become the location of encroachment by settlers. Based on data from the Community Conservation Indonesia (KKI) Warsi, shrinking forests in Jambi, which are mostly located in the watershed (DAS) Batanghari, occurred most dramatically from 1995 to 2000. Shrinking forest cover 1 million hectares from the previous 2 million hectares. Then, from 2000-2005, continuing depreciation so that the remaining forest area of about 700,000 hectares. At the time, otherwise Batanghari River watershed in the top 10 most critical river in the country. For the sake of oil palm plantations and
According to Rudi Syaf, Communications Director KKI Warsi, the biggest factors causing damage to it is the opening of natural forests for the benefit of industrial plants (HTI) and oil palm plantations. This development requires a massive forest clearing. As a result, the region functions to absorb water dropped drastically. Flooding became often occur during the rainy season, followed by drought in the dry season.
Within the last year and a half, there are four locations of natural forests in Jambi the switching function to meet the needs of industrial plants acacia, carpentry, and rubber. Four companies are licensed HTI PT Asri Lestari Jaya (LAJ) covering 61,000 hectares, PT Mugi Triman (37,500 hectares), PT Malacca Agro Perkasa (24,485 ha), and PT Bukit Kausar (33,310 hectares).
One of the plantation area, which is managed by PT LAJ, is a core habitat for key species, such as Sumatran elephants, Sumatran tigers and tapirs. About 90 percent of the population in the central Sumatran elephants in this region. While traces of the tiger is still frequently encountered in the forest.
Along with the conversion of natural forest into plantations, also broke the conflict between wildlife and people in nine villages in three districts around the forest which is the Bukit Tigapuluh this ecosystem. This conflict is even affected by the death of a resident from being walked on a rampage when an elephant kicked out of the local estates.\
Currently, the remaining 220,000 hectares of production forests. That means the natural forests in Jambi increasingly exhausted if the area continues to be converted to plantations. Forest will also increasingly run out if the activity of wild encroachment unpunished, a major problem in the future. Little by little, encroachers and loggers continue to undermine the wealth of natural forests in Jambi.
No we know, hardly any more forest left. No wonder if the increasingly integrated with the human disaster.

Menggapai Mimpi Desa Nila

MENTERI Kelautan dan Perikanan Dr Fadel Muhammad, disaksikan Gubernur Jateng Bibit Waloyo dan Bupati Klaten Sunarno SE, baru-baru ini meluncurkan Program Budidaya Ikan Nila varietas Larasati dan BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) di lahan Pembenihan Budidaya Ikan Air Tawar di Desa Janti, Kecamatan Polanharjo.

Komitmen pemerintah ini diharapkan bukan sekadar perhatian sesaat, namun secara konsisten diikuti langkah-langkah konkret agar ke depannya mampu mendorong ekonomi rakyat lebih menggeliat.

Kabupaten Klaten khususnya bagian utara memiliki sumber air alam yang melimpah. Selain sebagai faktor pendukung utama pertanian dan pasokan air bersih, sumber air alam ini selanjutnya oleh para petani ikan di Kecamatan Polanharjo, Tulung,

Karanganom dan sekitarnya dimanfaatkan secara cerdas guna mengaliri kolam – kolam buatan untuk budidaya perikanan air tawar.

Beberapa varietas ikan dicoba dibudidayakan mulai jenis mujahir, tumbro, bawal, lele serta nila sebagai varietas unggulan
Sampai saat ini hasil yang diraih masyarakat sungguh menggembirakan.

Selain mendorong tingkat pendapatan, menggerakan perekonomian berbasis pemberdayaan, budidaya ikan di Klaten mampu menjadi ikon wilayah Kecamatan Polanharjo dan sekitarnya sebagai sentra produksi ikan air dengan kualitas baik.

Dengan luas baku usaha perikanan 74 hektare, jumlah pembudidaya ikan tercatat 1.849 orang, Kecamatan Polanharjo dan sekitarnya setiap tahunnya mampu menghasilkan 3.726,43 ton ikan siap jual.

suaramerdeka.com,07 Januari 2010.

AYAM LOKAL INDONESIA


          Indonesia merupakan Negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, di antaranya adalah jenis-jenis ayam baik ayam lokal asli Indonesia maupun ayam lokal introduksi yang telah beradaptasi lama di Indonesia. Beberapa rumpun ayam di Indonesia merupakan plasma nutfah/sumber daya genetik yang masih perlu digali potensinya baik sebagai penghasil daging, telur, maupun hobi baik untuk suara, aduan maupun tampilan yang cantik.
          Pengertian ayam kampung adalah ayam-ayam lokal yang tersebar di wilayah Indonesia. Ayam-ayam kampung tersebut adalah hasil domestifikasi (tindakan yang menjinakkan unggas-unggas liar dengan program seleksi yang terarah).
          Secara genetis, ayam kampung yang banyak dipelihara sekarang ini diperkirakan berasal dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius). Perkiraan ini diperkuat adanya warna hijau yang dominan pada bulu ayam di sekitar leher dan warna kemerah-merahan di tubuhnya. Sekarang ini ayam kampung sudah tersebar luas di Indonesia dan di Malaysia.
          Hampir semua ayam kampung yang terdapat di Indonesia mempunyai tubuh yang kompak dan pertumbuhan dagingnya relatif baik. Pertumbuhan bulunya sempurna dan dan variasi warnanya juga cukup banyak                  
          Jenis ayam peliharaan memiliki penampilan yang beragam, dari ciri-ciri morfologis, warna, ukuran, daya roduksi, ketangkasan bertarung, hingga suara kokokannya yang khas. Ayam peliharaan yang terdapat di Indonesia sangat tinggi variasi genetisnya dan beragam penampilan fisiknya. Paparan secara lengkap jenis-jenis ayam kampung atau ayam lokal yang termasuk kelompok Gallus domesticus sebagai berikut:

a.             Ayam Kedu

          Ayam kedu adalah salah satu jenis ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ayam ini banyak ditemukan di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung atau di Desa Kalikoto, Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang. Sekarang penyebaran ayam kedu sudah meluas di luar kedua daerah tersebut. Berdasarkan warna bulunya, ayam kedu dibedakan menjadi empat macam:

1.        Ayam Kedu Hitam. 









Dilihat dari penampilan fisiknya, seolah ayam ini berwarna hitam legam. Namun, jika diamati lebih seksama ternyata bagian kulit, pantat dan jenggernya berwarna merah. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2-2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,5 kg.
Ayam kedu yang berwarna hitam merupakan tipe petelur (Nataamijaya dan Diwyanto, 1994). Ayam kedu merupakan jenis petelur yang baik (Markens dan Mohede, 1941), dari hasil penelitiannya diperoleh bahwa umur mulai bertelur 189 hari, produksi telur pada 12 bulan pertama adalah 123,9 butir dengan rataan bobot telur 50 g. Pada umumnya ayam Kedu mulai bertelur pada umur 6-7 bulan, dengan pemeliharaan secara intensif dapat mulai bertelur pada umur 4-4,5 bulan. Produksi telur selama satu tahun (umur 6-18 bulan) rata-rata 124 butir (Sunarto et al., 2004).
Produktivitas ayam kedu hitam yang diamati selama 20 mg seperti dikemukakan Nataamijaya dan Sitorus (1992) sebagai berikut: produksi telur 71 butir, bobot telur 42,4 butir, fertilitas 80,3%, daya tetas 79,6%, mortalitas 9,8%. Sementara itu produktivitas ayam kedu hitam yang dikemukakan                          
Creswell dan Gunawan (1982) adalah sebagai berikut: umur pertama bertelur 138 hari, umur 166 hari produksi 40%, puncak produksi 75%, produksi telur hen day 58,8%. Produksi telur 215 butir/tahun, produksi telur hen house 54,8%, rataan bobot telur 44,7 g, rataan konsumsi pakan 93 g/ekor dan konversi pakan 3,6. 


2.        Ayam Kedu Cemani.

          Tubuhnya hitam mulus, termasuk paruh, kuku,telapak kaki, lidah dan telak (langit-langit mulut). Daging dan tulangnya juga hitam (Rahmat, 2003). Bentuk fisik tubuhnya tinggi besar. Bobot ayam jantan 3-3,5 kg kg dan ayam betina sekitar 2-2,5 kg.
                 Bobot anak ayam Kedu Cemani umur sehari (DOC) berkisar 28-32 g/ekor, kemudian bobot ayam betina umur 5 bulan berkisar antara 1400-1500 g/ekor. Umur pertama bertelur berkisar 4,6-5 bulan dan produksi telur pada pemeliharaan diumbar dan semi intensif berkisar 56-77 butir/ekor/tahun, sementara yang dipelihara intensif dalam kandang batere dapat mencapai 215 butir/ekor/tahun. Bobot telur ayam berkisar antara 41-49 g/butir. Konsumsi ayam dewasa per hari mencapai 93 g per ekor (Iskandar, 2005). 


3.        Ayam Kedu Putih. 







                Warna bulunya putih mulus. Jengger dan kulit mukanya merah, warna kakinya putih atau kekuningan. Jengger berbentuk (bergerigi) dan posisinya tegak. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,2-1,5 kg.
                 Bentuk badan besar dan berdaging tebal, ayam betina berumur 2 tahun mempunyai bobot rata-rata 2,5 kg dan ayam jantang dengan umur yang sama mempunyai bobot 3-3,5 kg (Sunarto et al., 2004). Hasil penelitian Creswell dan Gunawan (1982) pada pemeliharaan intensif dengan pemeliharaan standard sesuai dengan kebutuhannya, ayam Kedu Putih umur 1 hari (DOC), 4, 8, 12, 16, dan 20 minggu mempunyai bobot badan sebesar 25,5, 151, 550, 875, 1352 dan 1575 g. pada penelitian lainnya dengan kondisi yang sama (standar) menghasilkan bobot badan pada umur 4, 8, 12, 16 dan 20 sebesar 140, 404, 739, 950 dan 1320 g. Produktivitas sifat produksi telur ayam Kedu Putih sebagai berikut: umur pertama bertelur 170 hari, umur 40% produksi 202 hari, puncak produksi 72%, produksi telur Hen Day 54,0%. Produksi telur 197 butir/tahun, produksi telur Hen House 49,6%, rataan bobot telur 39,2 g, rataan konsumsi pakan 82 g/ekor/hari dan konversi pakan 3,8.

4.        Ayam Kedu Merah.

          Warna bulu hitam mulus, tetapi kulit muka berwarna putih dan jenggernya berwarna merah. Sosoknya tinggi besar. Bobot ayam jantan dewasa antara 3-3,5 kg dan bobot ayam betina 2-2,5 kg. menurut fungsinya, jenis ayam ini termasuk dwiguna, yakni sebagai ayam petelur dan ayam pedaging. Uniknya, setelah bertelur selama 40 butir baru menunjukkan tanda-tanda akan mengeram.

b.             Ayam Nunukan




 

          Ayam nunukan adalah salah satu jenis ayam lokal yang berkembang di Pulau Tarakan, Provinsi Kalimantan timur. Ciri fisik ayam ini adalah warna bulunya merah kekuningan, paruh dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuningan, pertumbuhan bulu sayap dan bulu ekor tidak sempurna, jengger dan pialnya (gelambir) berwarna merah. Jenggernya berbentuk wilah, dan bergerigi delapan. Anak ayam yang berumur dibawah 45 hari cenderung berbulu kapas (Disnak Kaltim, 1995).
Berat badan ayam jantan dewasa 3,4-4,2 kg dan ayam betina 1,6–1,9 kg. Ayam nunukan termasuk jenis ayam dwiguna (petelur dan pedaging). Produksi telur per tahun sekitar 120–130 butir atau 40 butir per periode bertelur. Bobot telur antara 40–60 gram/ butir. Creswell dan Gunawan (1982) menyatakan bahwa pada pemeliharaan intensif dengan pakan standar sesuai kebutuhan, ayam Nunukan umur 1 hari (DOC), 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu mempunyai bobot badan berturut-turut 30,2, 168, 482, 843, 1304, dan 1507 g. Produksi telur per tahun sekitar 100-140 butir, bobot telur 45-55 g, prosentase penetasan 61,2% dan dewasa kelamin ayam Nunukan adalah 7 bulan (Disnak Kaltim, 1995). Kualitas telur ayam Nunukan cukup baik yaitu mempunyai bobot telur 47,1 g dan warna kerabang telur cokelat muda keputihan (Wafiatiningsih et al., 1995).

c.              Ayam Pelung




                                                                                                                                                                                                                                                 Ayam pelung banyak berkembang di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Ciri fisik ayam ini adalah tubuh berukuran besar, tegap dan temboloknya menonjol. Selain itu, kakinya panjang dan kokoh serta bagian pahanya berdaging tebal. Kepala ayam jantan memiliki jengger yang cukup besar dan berbantuk wilah, posisinya tegak, bergerigi nyata dan berwarna merah cerah. Jengger ayam betina tidak berkembang dengan baik. Warna bulu ayam pelung kuning bercampur merah dan sedikit semburat hitam. Ayam jantan memiliki suara kokok yang khas sehingga banyak dipelihara sebagai klangenan (binatang kesayangan). Ayam pelung dianggap berkualitas jika posisi leher saat berkokok tegak dan suara kokokannya tinggi terdengar sampai jauh.
          Bobot ayam jantan dewasa antara 3,5–5,5 kg dan ayam betina 2,5-3,5 kg. Produksi telurnya sekitar 39–68 butir pertahun atau 13–17 butir per periode bertelur. Berat telur sekitar 40–50 gram per butir. Ayam bertubuh bongsor ini mulai bertelur pada umur 6–7 bulan.

d.             Ayam Sentul




                                                                                                                                                                                                                                                              Ayam lokal ini berkembang didaerah Ciamis, Jawa Barat. Meskipun asalnya sebagai ayam aduan, sekarang banyak dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur. Berdasarkan warna bulunya, ayam sentul terdiri dari lima varietas, yakni Sentul Kelabu (berwarna abu-abu), Sentul Geni (berwarna abu-abu kemerahan), Sentul Jambe (berwarna merah jingga), Sentul Batu (berwarna abu-abu keputihan), Sentul Debu (berwarna debu), dan Sentul Emas (berwarna abu-abu kekuningan). Warna ayam sentul cukup menarik, polanya mirip sisik naga.
          Ayam sentul mempunyai produksi telur yang banyak. Satu periode peneluran dihasilkan 12-30 butir telur. Prosentase penetasan tinggi yaitu 90%.

e.              Ayam Banten

          Ditilik dari namanya, sudah barang tentu ayam ini berasal dari daerah Banten. Ayam jantan yang berpenampilan prima dipelihara sebagai ayam aduan, sedangkan ayam yang kurang prima dijual sebagai ayam potong. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1,2 kg. produksi telur sekitar 16 butir per periode bertelur.

f.              Ayam Gaok






Ayam lokal ini berasal dari Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Keistimewaannya adalah suara kokoknya yang cukup panjang mirip ayam Pelung. Bentuk fisik ayam Gaok jantan besar, tegap, dan gagah. Ukuran jengger dan pialnya besar dan berwarna merah. Warna kuning kehijauan mendominasi bulu-bulunya, ditambah lagi semburat merah dan hitam pada beberapa bagian. Kaki berwarna kuning.
Berat ayam jantan dewasa sekitar 4 kg dan ayam betina sekitar 4 kg dan ayam betina sekitar 2-2,5 kg. ayam Gaok yang dipelihara secara intensif selama pengamatan 12 minggu dapat menghasilkan produksi telur sebanyak 30,2 butir, bobot telurnya 46,7 g, fertilitas 80,1%, daya tetas 79,4%, mortalitas 15,3% dan bobot badan pada umur 8 minggu sebesar 515,8 g (Nataamijaya dan Sitorus, 1992).

g.             Ayam Ciparage

Ayam lokal ini berkembang di daerah Karawang, Jawa Barat. Ciri fisiknya mirip ayam Bangkok, tetapi ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil. Sosoknya ideal, tinggi tubuh dan ukuran tubuhnya tampak serasi. Jenggernya berwilah. Memiliki pial tunggal yang menjadi satu dengan cuping telinga. Berat ayam jantan dewasa sekitar 2,5 kg dan ayam betina dewasa sekitar 1,5 kg. Jumlah telur rata-rata 14 butir setiap periode bertelur.

h.             Ayam Bali

          Sesuai denan namanya, ayam ini berkembang pasat di Pulau Bali. Pejantannya di pelihara sebagai ayam sabug (aduan). Pertumbuhan bulu badannya cukup sempurna. Penampilan fisiknya tergolong prima, yakni besar, padat dan jika berdiri tegak membentuk sudut 60O. sayangnya bagian lehernya pendek dan kepalanya sedikit kecil. Ukuran jengger relatif kecil dan warnanya merah pucat. Ayam jantan dewasa beratnya sekitar 2,5 kg. jumlah telur rata-rata 14 butir setiap periode bertelur.

 i.               Ayam Wareng




         

Daerah penyebaran ayam lokal ini meliputi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ayam yang suara kokoknya cukup nyaring ini sangat lincah dan dan agak sulit ditangkap. Umur kawinnya tergolong muda, yakni empat  bulan . ukuran kepala dan leher si pejantan kecil. Kakinya ramping dan panjang. Warna bulunya ada tiga yakni hitam, blorok (belang–belang putih dan hitam), dan putih.
          Berat tubuh ayam pejantan dewasa rata-rata 1,5 kg dan ayam betina sekitar 1 kg dan produksi telurnya berkisar 15 butir per periode bertelur. Apabila dipelihara secara intensif produksi telurnya dapat mencapai 24-28 butir per periode bertelur, dikarenakan induk betina tidak memiliki sifat mengeram. Turunan ayam ini dapat direkomendasikan untuk jenis produksi telur seperti ayam Kedu (Kartiko, 1995).

 j.               Ayam Ayunai




 
                                                                                                                             Jenis ayam lokal ini berasal dari Merauke, Papua. Ciri fisiknya sangat khas, yakni bagian kepala dan temboloknya tidak ditumbuhi bulu alias gundul. Bagian lehernya sedikit ditumbuhi bulu, tepatnya di atas tenbolok. Berat tubuh ayam jantan dewasa berkisar 3,4-4 kg dan ayam betina berkisar 1,5-2 kg.
          Ayam Ayunai merupakan jenis petelur dan pedaging. Produksi telur 10-14 butir per periode peneluran. Dalam satu tahun produksi telur sebanyak 40-60 butir. Bobot telur 6-75 g. Prosentase karkas 75-80%. Umur siap kawin 8 bulan (jantan) dan 7 bulan (betina). Umur mulai fase produksi 6 bulan, lama produksi bertelur 30 bulan. Jarak antara masa bertelur 10-14 hari. Masa rontok bulu antar masa bertelur 6 minggu (Diwyanto dan Prijono, 2007).

k.             Ayam Tolaki


                                                                                                                                                                          Sulawesi tenggara adalah daerah asalnya. Warna bulu ayam jantan dewasa mirip ayam hutan merah (Gallus gallus). Bulu pelana dan leher berwarna merah keemasan. Gerakannya lincah dan terkesan liar. Badan tampak langsing, kekar dan berotot, punggung agak panjang, sayap menempel rapat di sisi badan.betuk kepala kecil, bulat, berparuh pendek kuat dan melengkung pada ujungnya. Mata berukuran sedang dan tajam dengan ekspresi berani. Bulu ekor panjang melengkung dan cukup lebat. Bentuk kaki langsing, panjang dan kokoh dengan telapak kaki seimbang. warna bulu pada ayam betina bervariasi mulai warna cokelat dengan kombinasi kuning, hitam serta campuran dari beberapa warna. Warna paruh kuning gelap atau kekuningan. Jengger kecil bergerigi berbentuk pea (single/kacang kapri), cuping telinga dan pial juga kecil dan menempel rapat pada kepala. Leher panjang, tegak dan kokoh terteutup bulu yang menempel  ketat (Nataamijaya et al., 1995).

          Berat ayam dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1.5 kg. Produksi telur rata-rata 20 butir per periode bertelur (Rahmat, 2003).

l.               Ayam Delona

          Jenis ayam petelur ini berasal dari Kecamatan Delangu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tubuhnya langsing dan berbulu putih bersih. Bagian jengger, gelambir, dan kulit mukanya berwarna merah. Warna kakinya putih, kadangkala ada yang kuning keputiih-putihan. Sosoknya sekilas mirip ayam ras petelur leghorn strain hyline.
          Berat ayam jantan dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1 kg. rata-rata produksi telurnya per tahun sebanyak 200 butir. Berat telur yang kerabangnya (cangkang) berwarna cokelat ini antara 40-45 gram per butir.

m.           Ayam Merawang/Bangka





                                                                                                                             Ayam merwang disebut juga ayam Bangka. Nama tersebut didasarkan pada penyebaran dari ayam ini yang terkonsentrasi di kecamatan Merawang di daerah Sumatera bagian selatan khususnya di Pula Bangka.
          Warna bulu dominan ayam Merawang adalah cokelat, merah dan kuning keemasan, dengan bulu-bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam). Warna kulit paruh dan ceker (shank) putih atau kekuningan, sedangkan warna mata kuning. Jengger jantan berukuran besar, tegak, dan bergerigi bagian atasnya dengan ukuran pial juga besar. Bobot badan dewasa jantan sekitar 1,8-2,7 kg dan betinanya sekitar 1,2-1,7 kg. Keunggulan ayam ini adalah sebagai produksi telur dan daging.
          Ayam Merwang mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi. Menurut Iman (2002) bibit ayam Merawang dapat diusahakan sendiri serta perawatannya tidak sulit karena sudah beradaptasi dengan lingkungan Indonesia. Bila dipelihara secara intensif pertumbuhannya relatif cepat. Ayam Merawang betina bertelur pertama kali pada umur 5,5 bulan. Bobot telur berkisar antara 38-45 g. produksi telur dapat mencapai 120-125 butir/ekor/tahun.

Perkembangan Ayam Lokal

          Keunikan dan keanekaragaman ayam lokal dapat disebabkan oleh keanekaragamn genetik yang dimiliki. Pemeliharaan ayam lokal secara tradisional dilingkungan pedesaan hanya dapat menghasilkan produksi telur 60 butir/tahun dengan bobot badan 1,2 kg pada umur 20 minggu. Perbaikan cara pemeliharaan dari tradisional menjadi intensif dapat meningkatkan produksi telur 151 butir/tahun dengan bobot badan pada umur 20 minggu sebesar 1,75 kg. ini berarti bahwa tekanan lingkungan pemeliharaan yang tradisional dapat menekan kemampuan genetik produksi ayam lokal itu sendiri, sehingga dengan perbaikan lingkungan secara optimal memunculkan kemampuan produksi yang optimal pula (Supraptini dan Martoyo, 1977; Creswell dan Gunawan, 1982).
          Tingkat produksi ayam lokal dapat diperbaiki melalui perbaikan sistem pemeliharaan, dan hasil perbaikan tersebut menyebabkan variasi yang sangat besar. Perbaikan sistem pemeliharaan dari tradisional menjadi intensif dapat meningkatkan produksi telur ayam lokal dari sekitar 58-78 butir per tahun menjadi sekitar 120-151 butir per tahun. Hal yang sama dapat terjadi pula pada peningkatan bobot badan pada umur 20 minggu dari sekitar 950-1200 g menjadi 1400-1750 g (Astuti et al., 1980; Wihandoyo et al., 1981; Wiloeto dan Rozani, 1986).

Kinerja ayam kampung petelur dipelihara secara ekstensif, semi intensif dan intensif
Uraian
Cara Pemeliharaan
Ekstensif
Semi Intensif
Intensif
Produksi telur (butir/induk/tahun)
Produksi telur (%)
Frekuensi bertelur (kali/tahun)
Daya tetas telur (%)
Bobot telur (g/butir)
Konsumsi pakan (g/ekor/h)
Konversi pakan
Mortalitas s/d 6 minggu (%)
Mortalitas mulai produktif s/d afkir (%)
47
13
3
74
39-48
< 60
> 10
50-56%
>15
59
29
6
79
39-48
60-68
8-10
34-42
15
146
40
7
84
39-43
80-100
4,9-6,4
<27
<6
Sumber; Diwyanto et al. (1996).

          Potensi ayam lokal adalah sangat besar apabila dikembangkan dengan sungguh-sungguh dan benar sesuai dengan keunikan sifat yang dimilikinya. Misalnya dalam pembentukan galur murni, atau pembentukan bangsa baru ayam lokal. Pengenalan ayam lokal melalui program pemurnian dan pemuliaan sifat unik tertentu yang dimiliki dengan seleksi yang terarah akan memberikan arti ekonomis yang tinggi dalam pemanfaatan ayam lokal.
          Walaupun perkembangan populasinya tidak secepat ayam ras yang dapat di produksi missal, ayam lokal Indonesia tetap berperan menjadi bagian dari penyumbang protein asal unggas seperti bebek, puyuh dan ayam ras. Pertumbuhan ayam lokal tidak lebih dari 15% per tahun. Pasar ayam lokal sangat terbuka lebar, ini ditunjukkan dengan belum terpenuhinya permintaan pasar ayam lokal yang berkisar 25% dari kebutuhan nasional.
          Pengembangan ayam lokal sampai saat ini masih terdapat banyak hambatan. Ketersediaan bibit yang belum mencukupi dari aspek kualitas dan kuantitas, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pakan lokal, kurangnya modal usaha dan terbatasnya akses kepada kelembagaan keuangan menjadikan usaha beternak ini kurang berkembang. Dalam perkembangan ayam ras semua kegiatan mulai dari pembibitan sampai dengan pasca panen hamper semuanya di fasilitasi oleh swasta, tetapi dalam usaha aym lokal ini belum banyak yang melakukannya sebagaimana ayam ras. Oleh karena itu, peran pemerintah sangat diperlukan.


DAFTAR PUSTAKA
Astuti, J. M.,H. Mulyadi dan J. H. P. Sidadolog. 1980. Pengukuran Parameter Genetik Ayam Lokal. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Creswell, DC dan B. Gunawan. 1982. Ayam-Ayam Lokal di Indonesia: Sifat-Sifat Produksi pada Lingkungan yang Baik. Balai Penelitian Ternak.

Disnak. Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 1995. Pengembangan Ayam Buras Nunukan dalam Rangka Mendukung Program Inpres Desa Tertinggal di Kalimantan Timur. Disnak Prop, Dati I Kaltim, Samarinda.

Diwyanto, K dan S. N. Prijono, 2007. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam Lokal Indonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Diwyanto, K., D. Zainuddin, T. Sartika, S. Rahayu, Djufri, C. Arifin dan Cholil. 1996. Model Pengembangan Peternakan Rakyat Terpadu Berorientasi Agribisnis. Komoditi Ternak Buras. Laporan, Dirjennak bekerjasama dengan Balitnak.

Iman, R. 2002. Ayam Merawang Ayam Lokal pedaging dan Petelur. Penebar Swadaya, Bogor.

Iswanto, H. 2002. Ayam Kampung Pedaging. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Iskandar, S. 2005. Strategi Pengembangan Ayam Lokal. Wartazoa, 16(4): 191-197.

Markens dan Mohede. 1941. Sumbangan Pengetahuan Tentang Ayam Kedu (Bijdrage Tot De Kennis Van De Kedoe-Kip) dalam Ned. Ind. Bladen v, Diergeneesk, Vol., 53: 436-457.

Nataamijaya, AG, K. Diwyanto, SN. Jarmani dan haryono. 1995. Konservasi Ayam Buras Langka (Pelung, Nunukan, Gaok, Kedu Putih, Sentul dan Jenis Ayam Buras lainnya). Laporan Penelitian, Balai Penelitian Ternak Bekerjasama dengan Proyek P4NP Badan Litbang Pertanian.

Nataamijaya, AG dan K. Diwyanto. 1994. Konservasi Ayam Buras Langka, Koleksi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Pertanian. Prosiding Review Hasil dan Program Penelitian Plasma Nutfah Pertanian.

Nataamijaya, AG dan P. Sitorus. 1992. Program Konservasi Ayam Buras Langka. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah Pertanian. Badan Litbang, Deptan.

Rahmat, R. 2003. Ayam Buras. Intensifikasi dan Kiat Pengembangan. Kanisius, Yogyakarta.

Sunarto., Hesty N., Delly N., dan Dwi SY. 2004. Petunjuk Pengembangan Ayam buras di BPTU Sembawa, Dep. Tan. Dir Jen, Bina Produksi Peternakan Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam, Sembawa, Palembang.

Wafiatiningsih, I, Sulistyono, dan RA Saptati. 1995. Performans dan Karakteristik Ayam Nunukan. Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian dan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

Kartiko, M. 1995. Ayam Wareng Tangerang, Trubus. Th XXVI, Oktober 1005. Hal: 38-39.

Supraptini, M. S. dan H. Martoyo, 1977. Productivity of Natife Chicken and Rhode Island Red in a Confinement System. Proc. First Poult, Sci and Industry Seminar, Bogor.

Wihandoyo, H. Mulyadi dan Triyuwanto. 1981. Studi Tentang Produktivitas Ayam Kampung yang Dipelihara Rakyat di Pedesaan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wiloeto, D dan H. R. Rozani. 1986. Beberapa Aspek yang Mempengaruhi Produktivitas Ayam Buras dalam Pengembangan Ayam Buras di Jawa Tengah. Temu Tugas Subsektor Peternakan No. 1, Penelitian Ternak Klepu.