Kucing Russian Blue

Jenis kucing Russian Blue adalah jenis kucing alami, bukan berasal dari hasil persilangan dengan kucing jenis lain. Dari namanya banyak orang menduga kalau kucing ini berasal dari Rusia, padahal asal usul kucing ini masih simpang siur. Russian Blue juga dikenal karena karena banyak memiliki nama alias, kucing ini juga disebut Kucing Archangel.

Karakteristik
Kucing Russian Blue memiliki ukuran tubuh medium, berbulu pendek, dan struktur tulang yang bagus. Bulu berwarna kebiruan dengan nuansa silver pada setiap ujung bulu, sehingga memberi kesan bersinar. Bulunya tebal dan memberi kesan mewah. Mata berwarna hijau. Selain itu, kedua sudut bibir Kucing  Russian Blue sedikit mengarah ke atas, sehingga dia tampak ramah dan menunjukkan ekspresi senyum yang manis.

Perawatan kesehatan
Kucing Russian Blue adalah jenis kucing yang jarang terkena penyakit, jika mereka dirawat dan dilatih secara benar dan penuh kasih saying. Kucing ini juga tidak memiliki kelainan genetic.
Yang harus anda perhatikan adalah kucing Russian Blue sangat suka makan, dan oleh sebab itu mereka mudah sekali kegemukan. Anda harus memberi takaran makanan yang seimbang, ber gizi dan tetap, terutama pada Kucing Russian Blue dewasa.
Perawatan tubuh Kucing Russian Blue tidak begitu sulit dan hanya membutuhkan sedikit perhatian. Paling tidak anda harus menggunting cakarnya seminggu atau dua minggu sekali.
Meskipun Kucing Russian Blue sangat suka disisir dan dibelai, namun mereka biasanya menyisir bulu mereka sendiri. Oleh karena itu mereka tidak begitu perlu untuk disisir atau disikat.

Suara
Kucing Russian Blue adalah jenis kucing pendiam. Mereka sering terlihat berjalan di sekeliling rumah tanpa bersuara, atau duduk berjam-jam memandang keluar jendela tanpa mengeluarkan suara.
Sebenarnya, kucing Russian Blue sangat lembut dan tidak bisa terdengar dari jarak lebih dari 1-2 kaki (1 kaki = 30,5 cm). jika mereka bersuara bunyinya seperti “mah” atau churp”.

JURNAL: Karakteristik Mutu dan Kelarutan Kitosan dari Ampas Silase Kepala Udang Windu (Penaeus monodon)

ABSTRAK: Silase merupakan produk cair hasil proses fermentasi rerumputan, ikan ataupun limbahnya yang digunakan sebagai campuran pakan ternak. Selain menghasilkan produk dalam bentuk filtrat, silase kepala udang windu (P. monodon) juga menghasilkan limbah yaitu ampas silase. Ampas ini dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kitosan. Kitosan merupakan senyawa golongan karbohidrat yang dihasilkan dari limbah hasil laut, khususnya golongan udang, kepiting, ketam dan kerang.

Kitosan dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti mencegah pengerutan dalam industri kertas, pulp dan tekstil, untuk memurnikan air minum serta banyak manfaat lainnya. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yaitu pembuatan starter bakteri bentuk cair sebagai sumber bakteri asam laktat dalam pembuatan silase kepala udang dan tahap pembuatan kitosan. Kitosan yang dihasilkan dianalisis mutu serta sifat kelarutannya. Ampas silase terbaik dihasilkan pada perlakuan penambahan karbohidrat berupa tepung tapioka 45 % dengan kadar abu dan kadar protein terendah masing-masing sebesar 22,82% dan 12,98%. Ampas silase dibuat menjadi kitosan dengan penggunaan konsentrasi NaOH (deproteinasi) dan suhu deasetilasi yang berbeda-beda. Perlakuan terbaik adalah penggunaan NaOH 3,5% dan suhu deasetilasi 140oC yang menghasilkan kitosan dengan karakteristik kadar abu 0,17%, kadar air 8,91%, kadar nitrogen 3,03%, derajat desetilasi 84,61% dan rendemen 15,26 %. Kitosan tersebut mempunyai daya larut yang lebih besar apabila dilarutkan asam asetat dengan konsentrasi 1%, 2 %, 3% dan 4% dibandingkan dengan kitosan tanpa proses fermentasi pada bahan bakunya.

Kata kunci : ampas silase, fermentasi, karakteristik mutu, kepala udang windu, kitosan, silase
teks lengkap..

Di Indramayu, Daftar Haji Sekarang Berangkat Lima Tahun Lagi

Masyarakat di Kabupaten Indramayu yang berniat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, harus rela bersabar. Pasalnya, daftar tunggu keberangkatan haji saat ini telah mencapai lima tahun mendatang.

Salah seorang petugas staf Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Sarwono, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (30/12) mengatakan, panjangnya daftar tunggu itu disebabkan keterbatasan kuota jamaah haji yang ditetapkan pemerintah pusat. Dalam dua tahun terakhir, kuota jamaah haji yang diperuntukkan bagi calon jamaah haji asal Kabupaten Indramayu hanya 1.642 orang.

Menurut Sarwono, dengan kuota tersebut, maka jumlah pendaftar calon jamaah haji hingga 2014 telah mencapai sekitar 6.568 orang. Dengan demikian, tak ada peluang bagi calon jamaah haji yang baru mendaftar sekarang untuk bisa berangkat sebelum 2015.

Sarwono menambahkan, untuk keberangkatan pada 2015, jumlah calon jamaah haji yang telah mendaftar rata-rata mencapai 30 orang per hari. Hingga kini, jumlah total pendaftar untuk 2015 telah mencapai sekitar 250 orang. Karenanya Sarwono menghimbau kepada setiap masyarakat yang berniat naik haji untuk sesegera mungkin mendaftar ke kantor Kementrian Agama Kabupaten Indramayu.

Selain itu, Sarwono pun mengungkapkan pihaknya akan memprioritaskan masyarakat yang belum pernah naik haji sebelumnya dan bagi yang sudah pernah, maka akan masuk ke daftar tunggu yang lebih lama lagi. Bukti pernah menunaikan ibadah haji sebenarnya adalah pada keterangan yang tertera di KTP. Namun sayangnya, saat ini banyak masyarakat yang menyembunyikan identitas haji pada KTP masing-masing sehingga masyarakat yang pernah menunaikan ibadah haji pun bisa masuk daftar tunggu lebih awal.

Abdullah, seorang calon jamaah haji asal Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu saat ditemui di Kantor Kementrian Agama, mengaku jika sebenarnya kecewa dengan panjangnya daftar tunggu keberangkatan haji. Namun Abdullah mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah. (tempointeraktif & republika)

Ikada Dharma Ayu Peduli Lingkungan Pantai

Untuk mewujudkan kepeduliannya terhadap ekosistem dan lingkungan pantai di Indramayu, Ikatan Keluarga dan Mahasiswa Dharma Ayu (Ikada) Indramayu yang berdomisili di Kota Bogor Jawa Barat, Rabu (29/12) sore, melakukan kegiatan penanaman 1.500 mangrove dikawasan pantai Karangsong.

Ketua Ikada, Warih Supriyadi didampingi Ketua Pelaksana, Khoirur Roziqin memamparkan, sikap kepedulian itu didasari dikarenakan tingkat abrasi yang terjadi disepanjang kawasan pantai Indramayu cukup parah ditambah dengan adanya global warming, sehingga menyebabkan tingkat permukaan air laut terus meningkat.

Ikada berharap, kegiatan ini tidak hanya dilakukan di pantai Karangsong saja, namun tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga akan dilakukan diwilayah pantai lainnya yang ada di Indramayu. Menurut Warih, Peserta yang ikut kali ini, melibatkan 90 orang terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan asal Indramayu yang berdomisili diberbagai daerah, dan mereka memiliki komitmen yang kuat terhadap lingkungan di Indramayu.

Pelaksanaan penanaman mangrove kali kedua ini melibatkan beberapa unsur seperti lembaga kemasyarakatan, kelompok tani, maupun instansi terkait dalam pengadaan bibit mangrove.

Pada tahun 2009 lalu Ikada juga telah mengadakan kegiatan serupa melalui penanaman 1.000 mangrove di area yang sama, dengan maksud sikap peduli itu dapat bermanfaat bagi daerah. Warih mengatakan, tujuan utama dari kegiatan tersebut, untuk menggerakan jiwa pemuda agar ikut peduli serta melestarikan lingkungan sekitar pantai Indramayu supaya terbebas dari abrasi. (humasindramayu)

IKAN GURAMI SALAH SATU IKAN YANG BERASAL DARI INDONESIA

Ikan gurami adalah salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari Indonesia, tidak heran jenis ikan ini banyak di budidaya oleh masyarakat Indonesia khusunya di wilayah Jawa Barat. Ikan gurami merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), tetapi ikan gurami banyak juga ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Tetapi karena sangat digemari masyarakat, maka ikan ini menyebar ke beberapa pelosok tanah air. Bahkan sejak abad 18, ikan gurami sudah diitroduksi ke negara lain, diantaranya Madagaskar, Mauritius, Sycheles, Australia, Srilangka, Suriname, Guyane, Martinique dan Haiti.

Gurami memiliki bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakan. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat dibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami atau gurameh, orang Sumatra ikan kalau, kala atau kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai mencapai berat 5 kg.

Beberapa kawasan pembudidaya gurami yang dibilang besar diantaranya di Jawa Barat, yaitu di Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut; di Jawa Tengah, yaitu Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga; Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kulonprogo, Bantul dan Sleman; Di Jawa Timur, yaitu Tulungagung, Blitar dan Lumajang, dan propinsi lainnya, yaitu Sumatra Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan.

Di alam, gurami sangat menyenangi perairan yang tenang, seperti rawa, situ, danau dan perairan tenang lainnya. Pada sungai yang berarus deras, gurami jarang ditemui. Ikan gurami menyukai perairan yang bebas arus, itu terbukti ketika gurami sangat mudah dipelihara di kolam-kolam tergenang. Gurami umumnya hidup dan banyak dipelihara di perairan tawar, terutama pada perairan yang tenang dan dalam. Gurami dapat tumbuh dan berkembang pada perairan tropis dan subtropis.

Ikan ini mempunyai daya adaftasi tinggi terhadap lingkungan, tetapi lebih cocok hidup pada ketinggian maksimal 800 m di atas permukaan laut. Selanjutnya keduanya mengatakan, bahwa suhu ideal untuk pertumbuhan gurami antara 24 – 29 O C, derajat keasaman(pH) antara 6,5 – 8, kandungan oksigen terlarut 3 – 5 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk.

Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa, gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak dikembangkan di Jawa Barat, khususnya Bogor. Dibanding gurami jenis lain, porselen lebih unggul dalam menghasilkan telur. Jika induk bastar dalam tiap sarangnya hanya mampu menghasilkan 2000-3000 butir telur, porselen mampu 10.000 butir. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai top of the pop, dan paling banyak diunggulkan.

Sumber :

http://benihikan.net/gurame/habitat-dan-penyebaran-ikan-gurame/

http://ristantra.wordpress.com/2008/09/18/budidaya-ikan-gurame-osphronemus-goramy-lacepede/

SATU DARI KEAJAIBAN ALAM TERDAPAT DI PULAU KOMODO

Pulau Komodo terletak diantara pulau Sumbawa dan Flores. Keadaan alam di pulau ini terbilang kering dan gersang. Namun, hal itulah yang membuat keunikan untuk berwisata dan mengunjungi salah satu hewan purba yang masih hidup. Ketika menginjakan kaki di Pulau Komodo, lapangan terbuka dengan pohon lontar yang menjulang tinggi dengan rangkaian pegunungan melatari daratannya. Kendati gersang dan tandus, tetapi suara-suara dari beberapa hewan liar seperti burung, kuda liar, ataupun komodo menjadi daya tarik tersendiri.

Ke mana pun mata memandang, terlihat bukit-bukit kecil yang didominasi rumput dan semak yang menguning di musim kering. Lazimnya savana, tidak banyak pohon yang tumbuh di sini. Di beberapa bagian menjulang pohon lontar secara bergerombol. Disini kita bisa menikmati alam savana dan tentu saja melihat komodo di alam liar mereka. Komodo disebut-sebut sebagai Naga terakhir yang masih hidup di bumi.

Di kawasan ini Komodo adalah raja rantai makanan karena tidak punya pemangsa. Mereka memangsa apa saja, mulai dari kerbau liar, rusa, termasuk bahkan anak komodo dan komodo dewasa. Lidahnya yang super sensitif bisa menangkap bau darah dari jarak lebih dari satu kilometer. Gayanya menangkap mangsa adalah dengan bermalas-malasan seperti tidak peduli, tapi begitu mangsa mendekat, secepat kilat mereka menyerang. Bila mangsa belum lumpuh dalam serangan pertama, air liurnya yang mengandung bakteri mematikan membuat mangsa yang sudah dilukai lama-lama akan lemah.

Pulau Komodo dan Segitiga Terumbu Karang yang terdapat di perairan Indonesia akan bersaing dengan lebih dari 200 tempat alami lain untuk memperebutkan tujuh posisi keajaiban alam yang baru. Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Yayasan New7Wonders tersebut, 261 nominasi dari 222 negara itu mencakup sejumlah puncak gunung terkenal, danau, serta atraksi alam lain. Keajaiban alam itu harus berupa tempat alami atau monumen alam yang tidak diciptakan atau direkayasa oleh campur tangan manusia demi alasan estetika.

Di Pulau Komodo, selain melihat hewan komodo kita bisa melihat berbagai jenis burung liar seperti kakak tua jambul kuning sampai burung gosong yang berterbangan di alam liar. Selain pesona darat, alam bawah laut Pulau Komodo sangat mempesona. Keanekaragaman hayati dan terumbu karang kepulauan ini sangat kaya. Paling tidak ditemukan lebih dari 1.000 spesies ikan, 385 spesies terumbu karang, 70 spesies sepon dan 16 spesies paus dan lumba-lumba. Tidak heran kalau Pulau Komodo menjadi salah satu lokasi selam terbaik di dunia.

Tidak heran apabila Pulau Komodo terpilih sebagai salah satu finalis keajaiban dunia, karena satu-satunya pulau yang memiliki dan menyisahkan hewan purbakala dan keindahan darat maupun perairannya yang juga mendukung.

Adanya pemilihan New7Wonders adalah suatu hal yang sangat baik. Pemilihan tempat yang dianggap sebagai keajaiban dunia ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap kekayaan alam dan melestarikan alam di negaranya. Badan budaya Perserikatan Bangsa Bangsa, UNESCO, juga terus memperpanjang daftar situs warisan dunia yang kini mencapai 878 lokasi.

Sumber :

http://kematian.biz/article/education/keajaiban-alam-di-pulau-komodo.html

http://tommychaniago.wordpress.com/2010/04/05/jurrasic-park-of-indonesia/

http://www.pacific.net.id/content/view/156/78/lang,en/





KEKAYAAN ALAM DAN BUDAYA YANG LUAR BIASA DI BUMI FLORES

Nama Pulau Flores berasal dari bahasa Portugis, ”Copa de Flores” yang berarti Tanjung Bunga. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Flores sendiri punya nama asli Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular. Pulau yang memiliki luas sekitar 14.300 kilometer persegi ini merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini dibagi menjadi delapan kabupaten. Kabupaten Flores Timur yang beribu kota di Larantuka ada di ujung timur, sementara Kabupaten Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo ada di ujung barat.

Flores memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Sejumlah gunung berapi aktif yang ada di pulau ini membuat wilayah ini cukup subur untuk lahan pertanian. Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende yang memiliki danau kawah tiga warna. Hamparan padang sabana di Nagekeo dan Ngada serta lembah pegunungan di Ruteng menghadirkan pemandangan alam yang mempesona. Dan pada September 2003, di gua Liang Bua di Flores barat, paleoantropologis menemukan tengkorak spesies hominid yang sebelumnya tak diketahui. Penemuan ini dinamakan "manusia Flores" (Homo floresiensis, dijuluki hobbit). Penemuan ini dimuat dalam majalah Nature edisi 28 Oktober 2004. Status temuan ini sekarang masih diperdebatkan, apakah termasuk Homo erectus atau Homo sapiens. Penemuan fosil manusia purba di Liang Bua yang berada di lembah pedalaman Ruteng semakin mengukuhkan Flores sebagai tempat kehidupan sejak ribuan tahun lalu.

Flores memiliki satu dari sekian satwa langka dan dilindungi di dunia yakni Varanus komodoensis atau lebih dikenal dengan Biawak raksasa atau komodo. Raptil ini hidup di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, keduanya terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat. Selain Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Flores juga memiliki satu Taman Nasional lagi yang terletak di Kabupaten Ende, yakni Taman Nasional Kelimutu.

Daya tarik utama Taman Nasional Kelimutu adalah Danau Tiga Warna yang selalu berubah warna air danaunya. Akan tetapi sesungguhnya di dalam Kawasan Taman Nasional Kelimutu itu tumbuh dan berkembang secara alami berbagai jenis spesies tumbuhan dan lumut. Oleh karena itu di awal tahun 2007, pihak pengelola Taman Nasional Kelimutu melai mengadakan identifikasi terhadap kekayaan hayati untuk kemudian dikembangkan menjadi Kebun Raya Kelimutu.

Selain dapat menikmati keajaiban Danau Tiga Warna, juga dapat mengamati keanekaragaman hayati dalam Kebun Raya Kelimutu. Tidak jauh dari wilayah Ruteng terdapat perkampungan tradisional dengan rumah adatnya yang unik dan melihat suasana indah dan alami di Danau Ranamese.

Dan ketika pagi datang kita dapat mendaki Gunung Poco Ranaka (2.140 meter) dengan menggunakan kendaraan bermotor, sambil menikmati pemandangan spektakuler.

Ada juga pertunjukan tarian 'Caci', yaitu pertarungan antara dua lelaki dalam kostum tradisional; yang seorang bersenjata cambuk sebagai penyerang dan seorang lainnya menggunakan perisai untuk bertahan.

Ruteng adalah wilayah yang berudara sejuk, berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh gunung-gunung api.

Di wilayah Bajawa terdapat rumah-rumah tradisional lengkap dengan bebatuan megalitnya. Selain itu barang kerajinan tenun ikat menarik dan unik juga dapat diperoleh di Bena. Jika ingin selingan untuk melihat pantai pasir putih maka Riung adalah tempatnya.

Masih banyak lagi keindahan-keindahan di bumi flores, baik kekayaan alam, flora dan fauna maupun kekayaan budaya, tradisi dan kesenian masyarakatnya. Kita harus menjaga, meningkatkan dan melestarikan apa yang sudah ada, jangan pernah merusaknya agar kelak anak cucu kita dapat melihatnya.



Sumber :

Majalah ASRI

http://liburan.info/content/view/492/43/lang,indonesian/

http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/13/13065510/Flores..Keelokan.yang.Dilupakan

JURNAL: Penggunaan Ekstrak Bahan Alami untuk Menghambat Infestasi Lalat selama Penjemuran Ikan Jambal

ABSTRAK: lkan jambal asin adalah ikan asin kering yang dibuat dengan cara memfermentasikan ikan dalam garam sebelum penjemuran. Untuk mengurangi infestasi lalat selama penjemuran pada pengolahan ikan jambal asin, penelitian penggunaan ekstrak bahan alami sebagai insektisida telah dilakukan.  

Penelitian ini dilakukan 2 tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Pada penelitian pendahuluan, bahan baku yang digunakan adalah ikan manyung (Arius thalassinus) dan bahan alami yang diuji adalah ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) dan daun picung (Pangium edule Reinw) masing-masing dengan konsentrasi 2,5; 7,5; 10,0; 12,5 % (b/v), serta ekstrak bawang putih (Allium sativum ) dengan konsentrasi 1,5; 3,0; 4,5; 6,0; 7,5 % (b/v). lkan yang telah difermentasi dalam garam direndam dalam ekstrak bahan alami selama 30 detik, kemudian dilakukan penjemuran sehingga menjadi ikan jambal asin. Selama penjemuran dan penyimpanan dilakukan pengamatan tingkat infestasi lalat, larva dan pupa.

Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih merupakan bahan yang paling efektif untuk menghambat infestasi lalat sehingga dipilih untuk digunakan pada penelitian utama. Pada penelitian utama, bahan baku yang digunakan adalah ikan patin (Pangasius hypophthalmus). lkan patin yang telah difermentasi direndam dalam ekstrak bawang putih dengan konsentrasi 3, 6 dan 9% (b/v) dengan waktu perendaman 0, 5, 10, dan 15 menit. Pengamatan dilakukan terhadap tingkat infestasi lalat dan karakteristik organoleptik produk ikan jambal asin. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yang memberikan fingkat infestasi lalat terkecil dan dapat diterima panelis adalah perendaman dalam ekstrak bawang putih 9% selama 10 menit.
BUDIDAYA IKAN LELE
( Clarias )


Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit
licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain:  ikan kalang
(Padang),  ikan maut (Gayo, Aceh),  ikan pintet (Kalimantan Selatan),  ikan keling (Makasar),
ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan
nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre
trang  (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula  catfish, siluroid, mudfish  dan  walking
catfish.
Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele
bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari,
ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada
musim penghujan.


2. SENTRA PERIKANAN
Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di Thailand,
India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970 kg/100m2/tahun. Di India
(daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan mencapai 1200 kg/Ha.
3. JENIS
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom  : Animalia
Sub-kingdom  : Metazoa
Phyllum  : Chordata
Sub-phyllum  : Vertebrata
Klas   : Pisces
Sub-klas  : Teleostei
Ordo   : Ostariophysi
Sub-ordo  : Siluroidea
Familia   : Clariidae
Genus   : Clarias

Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:
1) Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan
maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2) Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3) Clarias melanoderma,  yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa
Tengah), wiru (Jawa Barat).
4) Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh
(Kalimantan Selatan).
5)  Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang
(Kalimantan Timur).
6) Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal
dari Afrika.

4. MANFAAT
1) Sebagai bahan makanan
2) Ikan lele dari jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan pajangan atau ikan
hias.
3) Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi
berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan alami ikan lele.
4) Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit
asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele dapat
berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
2) Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya
maksimal 700 m dpl.
3) Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
4) Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber
air dan tidak dekat dengan jalan raya.
5) Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada di
bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
6) Ikan lele dapat hidup pada suhu 200 C, dengan suhu optimal antara 25-280C. Sedangkan
untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-300C dan untuk pemijahan 24-
280 C.
7) Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun
kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.
8) Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri, atau
mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan ikan.
9) Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan
alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
10) Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan hidup,
seperti enceng gondok.
11) Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100 ppm dan
optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60 cm; kebutuhan O2 optimal
pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak;
dan kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.
12) Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
a. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
b. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
c. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
d. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah dipasang.
e. Kedalaman air 30-60 cm.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu
luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk dan ukuran kolam
pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian
dasar dan dinding kolam dibuat permanen. Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan
jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu
kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu
masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air
(plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi.
Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :
- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
- Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
- Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30

6.2. Penyiapan Bibit
1) Menyiapkan Bibit
a. Pemilihan Induk
1. Ciri-ciri induk lele jantan:
- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
- Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
- Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di
belakang anus, dan warna kemerahan.
- Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
- Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan
cairan putih kental (spermatozoa-mani).
- Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.
2. Ciri-ciri induk lele betina
- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
- Warna kulit dada agak terang.
- Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya
agak lebar dan terletak di belakang anus.
- Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
- Perutnya lebih gembung dan lunak.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan
mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).
3. Syarat induk lele yang baik:
- Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
- Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup
di kolam.
- Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan
ukuran panjang 20-5 cm.
- Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.
- Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.
- Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih
dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.
4. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai
berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut
segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.
5. Perawatan induk lele: Sumber:
- Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang
berkadar protein tinggi seperti cincangan daging  bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau
makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan
lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan
atau pemijahan.
- Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan.
- Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan
dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anakanak lele sudah berumur 2 minggu.
- Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera
diobati.
- Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup
5-6 liter/menit.
b. Pemijahan Tradisional
1. Pemijahan di Kolam Pemijahan
Kolam induk:
- Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.
- Luas bervariasi, minimal 50 m2.
- Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30
% dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm,
berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.
- Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok
yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk
keluarnya banih ke kolam pendederan.
- Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC)
ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele.
- Jarak antar sarang peneluran ± 1 m.
- Kolam dikapur merata, lalu tebarkan  pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750
gram/m2.
- Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari.
Kolam Rotifera (cacing bersel tunggal):
- Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk menumbuhkan
makanan alami ikan (rotifera).
- Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon untuk mengalirkan
rotifera.
- Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan tumbuhnya rotifera.
- Luas kolam ± 10 m2.
Pemijahan:
- Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia dan induk jantan
sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas
kolam (pilih salah satu).
- Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama 4 hari.
- Beri/masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan rucah, pellet
dan semacamnya, dengan dosis (jumlah berat makanan) 2-3% dari berat total ikan yang
ditebarkan .
- Biarkan sampai 10 hari.
- Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di
atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan
sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari
berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang,
terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya
baik dan akan bertelur terus sampai umur 5 tahun.
- Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam pendederan dengan cara: air kolam disurutkan
sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa pengeluaran.
- Benih-benih lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan diberi makanan secara
intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan kepadatan 60 -100 ekor/m2.
- Dari seekor induk lele dapat menghasilkan ± 2000 ekor benih lele. Pemijahan induk lele
biasanya terjadi pada sore hari atau malam hari.
2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan
Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:
- Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2m d an tinggi 0,6 m.
- Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40x30 cm tanpa dasar sebagai sarang
pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam
sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi
gelap.
- Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember plastik atau
barang bekas lain yang memungkinkan.
- Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil pemijahan.
- Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40 % atau
KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.
Pemijahan:
- Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi  ± 25 cm.
Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan pada jam 14.00–16.00.
- Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah ± 10 hari, diharapkan
sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam waktu 24 jam telur-telur telah
menetas. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.
- Beri makanan anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut berupa kutu air
atau anak nyamuk dan setelah agak besar dapat diberi cacing dan telur rebus.
3. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal
Penyiapan bak pemijahan secara masal:
- Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2x10 m2 atau 5x10 m2.
- Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, yang
dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap
sarang dibuatkan satu lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.
- Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil
pemijahan.
- Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin,
lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.
Pemijahan:
- Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak 2xjumlah
sarang , induk jantan sama banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-
50 pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1 m.
- Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-60 cm, induk beri
makan secara intensif.
- Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air
dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm.
- Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk sarang pemijahan,
memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari.
- Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telurtelur dalam sarang
pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.
- Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk didederkan di kolam
pendederan.
c. Pemijahan Buatan Sumber:
Cara ini disebut  Induced Breeding  atau  hypophysasi  yakni merangsang ikan lele untuk
kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan hormon ke dalam tubuh ikan.
Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi
hormon gonadotropin:
- Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating
Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan
ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit
karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk melakukan
pengurutan perut (stripping).
- Mendorong nafsu sex (libido)
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
a. Kolam untuk pendederan:
1. Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm, dan tinggi 50 cm. Dinding
kolam dibuat tegak lurus, halus, dan licin, sehingga apabila bergesekan dengan tubuh benih
lele tidak akan melukai. Permukaan lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan
dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di mana
yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi. Pada lantai dipasang pralon dengan diameter
3-5 cm dan panjang 10 m.
2. Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan yang dijepit dengan 2 bingkai
kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam. Di antara 2 bingkai dipasang selembar
kasa nyamuk dari bahan plastik berukuran mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.
3. Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk mengeringkan
kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan dengan pipa plastik yang dapat berfungsi untuk
mengatur ketinggian air kolam. Pipa plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai
gantungan.
4. Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain. Pengambilannya tidak
boleh menggunakan jaring, tetapi dengan mengatur ketinggian pipa plastik.
5. Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm, dengan bentuk dan
konstruksi sama dengan yang sebelumnya.
b. Penjarangan:
1. Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele
berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele dengan kolam tidak
seimbang.
- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :
- Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
 - Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya kanibalisme
(ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar).
- Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali
sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.
2. Cara penjarangan pada benih ikan lele :
- Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
- Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
- Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2
c. Pemberian pakan:
1. Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat makanan dari kantong kuning telur (yolk
sac) yang dibawa sejak menetas.
2. Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton, yaitu Daphnia dan
Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut diberikan dengan dosis 70% x
biomassa setiap hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Makanan ditebar disekitar tempat
pemasukan air. Kira-kira 2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir, benih lele
harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung yang berkadar protein 50%.
Sedikit dari tepung tersebut diberikan kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian
zooplankton. Makanan yang berupa teoung dapat terbuat dari campuran kuning telur,
tepung udang dan sedikit bubur nestum.
3. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
4. Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x biomassa setiap hari.
5. Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.
6. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
7. Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung.
d. Pengepakan dan pengangkutan benih
1. Cara tertutup:
- Kantong plastik yang kuat diisi air bersih dan benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara
dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan ke dalam air sampai volume udara
dalam plastik 1/3–1/4 bagian. Ujung plastik segera diikat rapat.
- Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya tidak mudah pecah.
2. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:
- Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air tidak keruh oleh
kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
- Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian benih dimasukkan sedikit demi sedikit.
Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran 10 cm dapat diangkut dengan kepadatan
maksimal 10.000/m3 atau 10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang
teduh.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan
a. Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk
menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih
lele.
b. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700
gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan amonium
nitrat 15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.
c. Semprotkan larutan Migro Tambak merata pada dasar tambak (dosis yang
dibutuhkan adalah 20ml/100m)
d. Kolam diisi kembali dengan air segar, mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selama
satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau kehijauan yang
menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami
lele. Saat pemasukan air berikan kembali Migro Tambak dengan dosis 0,02 ppm (2
liter per hektar), campur dengan air secukupnya Kemudian langsung tebar merata
pada permukaan kolam.
e. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.
2) Pemberian Pakan
a. Makanan Alami Ikan Lele
1. Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air.
2. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp
(gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), Ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
3. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
b. Makanan Tambahan
1. Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa sisa-sisa makanan
keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.
2. Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung, dan bekicot
(2:1:1).
c. Makanan Buatan (Pellet)
1. Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil kacang kedele=20,00; tepung
terigu=10,50; bungkil kacang tanah=18,00; tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00;
dedak=9,00; vitamin=1,00; mineral=0,500;
2. Proses pembuatan:
Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan seperti pasta, dicetak dan
dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%. Penambahan lemak dapat diberikan
dalam bentuk minyak yang dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran
minyak juga dapat memperlambat pellet tenggelam.
3. Cara pemberian pakan:
• Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat umur 6 minggu dan diberikan pada ikan
lele 10-15 menit sebelum pemberian makanan yang berbentuk tepung.
• Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung diberi makanan yang
berbentuk pellet. Saat pemberian pakan tambahan, campurkan Migro Suplemen
merata pada pakan, dosis pemberiannya adalah 10ml Migro Suplemen
dicampur air secukupnya (jangan terlalu banyak) Kemudian aduk merata pada
3kg pakan buatan. Dianjurkan diberikan pada setiap pemberian pakan.
• Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu tinggi dapat
mengurangi nafsu makan lele.
3) Pemberian Vaksinasi
Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:
a. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2
minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 ppm selama
10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.
b. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan
terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
c. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam
larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.
4) Pemeliharaan Kolam/Tambak
a. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk
memberantas hama dan bibit penyakit.
b. Agar kualitas air selalu baik, berikan Migro Tambak dengan dosis 0,02ppm (2
liter per hektar) setiap 2 minggu sekali.
c. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan
pengapuran dengan dosis 200 gram/m2 selama satu minggu. Tepung kapur (CaO)
ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai
tanah dasar kolam retak-retak.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama dan Penyakit
a. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu
kehidupan lele.
b. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain:
berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
c. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang
hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang
hama. Penyakit parasit adalah penyakit  yang disebabkan oleh organisme tingkat
rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla, bentuk
bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang),
dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala:
iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap
di permukaan air.  Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih,
termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine
dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2)
Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
2. Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut
bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di
permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan
Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang
kondisinya lemah.  Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas,
pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang,
sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang
seperti kapas.  Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada
Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte
Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid,
mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan
yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik
berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh
pada dasar atau dinding kolam.  Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan
kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada
campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1
gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang
setelah 3 hari.
5. Penyakit Cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus
menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala:
insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya
pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15
menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam
larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan
NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10
menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.  Gejala:
pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan
anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar
dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

7.2. Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian
kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang
suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
8. PANEN
8.1. Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
1) Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat
dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
2) Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan
dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan
akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
3) Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
4) Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus,
tangan, lambit, tangguh atau jaring.
5) Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
6) Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan
pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
7) Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari
tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
8) Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
8.2. Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
1) Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-
200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.
2) Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus
(PK) dengan cara yang sama.
3) Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari
langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.

9. PASCAPANEN
1) Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan
sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau
kayu.
2) Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat
menyebabkan daging terasa pahit.
3) Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam
masakan.