Extensive Fish Care

Extensive Fish Care


Author:

Jody Siena

Fish care is extensive, since it depends on the type of fish you have. If you have damsels, which are saltwater fish then you should have a large reef tank, or marine tank. Damsels are resilient, which the fish are capable of withstanding harsh water conditions. In addition, the fish do not fuss over what they eat. Damsels however are not in distress; rather the fish can be aggressive. It is recommended that you put no more than two damsels in the same tank. If you add, more damsels or different fish prepare to lose money. If you intend to add other types of fish, make sure the creatures are aggressive also. Otherwise, purchase a new tank to store less aggressive, or delicate fish.

If you haven’t purchased saltwater fish at this time, look for the yellow tail damsels, blue damsels, and so on, since these fish are less aggressive. The Domino and 3-striped damsels are much more aggressive. Most people purchase damsels, since the fish are easiest to take care of, as well the fish are not as costly as other types of fish.

If you have other types of fish, you want to maintain the tank, making sure that the waters hardness is balanced. Waters alkali is concentrated and measured in terms of pH. It depends on the amount of magnesium and calcium dissolved in fish water, as to how hard the water is measured. Carbonates, hydroxides, bicarbonates, borates, and silicates dissolved in water determine the alkalinity balance. You want to purchase test kits to balance hardness in fish water. Test kits include a measuring device, which expresses pH, alkinity, and hardness of water in PPM. (Parts per million) For instance, hard water is measured at 100, yet it can reach as high as 200 in hardness and alkalinity. Since, fish require a degree of hard water it is advised that you purchase a pH buffer, as well as a test kit.

If you have mollies, the fish can get used to salt water. However, freshwater fish typically desire unadulterated water. Mollie fish are inexpensive fish as well. The fish then can live in higher or lower pH balanced waters. To adapt the fish to saltwater, you want to start out by keeping the fish bagged in water and slowly drenching the fish over an 8-hour period in saltwater. You want to remove water from the bags before it overflows. Once you adapt the mollies to saltwater, you can prepare them for tank water. However, it is recommended that you avoid mixing the mollies with aggressive fish, such as the 3-striped damsels, etc.

Akin to the damsels, is the clown fish. The clownfish are also resilient. However, these fish find it difficult to adapt to new environments. Since clownfish are very protective, yet the fish typically battle other clown fish. Like damsels and other saltwater fish, the fish prefer reef tanks. Reef tanks include underwater ridges, which houses rocks and coral within the body of water. The water top is right below or slightly above the surface.

How to care for shrimp?

Shrimp (NO I didn’t call you a shrimp) fish include a variety of fish which each differ slightly in their need for care. The clean shrimps have a white strip on red down the center of their back. This fish is one of the fewer shrimps to have, since maintenance is relatively a low demand. You should keep the clean fish in a low capacity fish tank. That is, do not add more than 4 fish to a single tank. Sometimes make fish choices is not easy, especially since thousands are available.

Article Source: http://www.articlesbase.com/pets-articles/extensive-fish-care-817440.html

About the Author

Find tips about aquarium sharks and facts about sharks at the Types Of Sharks website.

Askes dan Korpri Salurkan Beasiswa

Sebagai bentuk kepedulian terhadap para pegawai negeri sipil (PNS) yang telah lama mengabdi dan membutuhkan bantuan dalam melanjutkan pendidikan anak-anaknya. PT. Askes bersama dengan Korpri Kabupaten Indramayu menyalurkan beasiswa bagi 12 PNS yang ada di Kabupaten Indramayu Senin (3/1) di alun-alun Indramayu dalam suatu apel pagi.

Menurut Asisten Manajer PT. Askes Indramayu Dr. Gerry Adhikusuma pemberian bantuan beasiswa ini merupakan bentuk kepedulian dari Askes kepada anggotanya dan merupakan program nasional. Penerima bantuan ini diberikan kepada putra putri anggota Korpri peserta Askes dari golongan I dan II yang sedang menempuh pendidikan di SLTA dan perguruan tinggi. Untuk Kabupaten Indramayu PNS yang menerima bantuan sebanyak 12 orang dengan besarnya bantuan untuk tingkat SLTA Rp.3.000.000,- dan perguruan tinggi sebesar 6.000.000,-.

Untuk tingkat SLTA diberikan kepada Fery Wahyu Pratama anak dari Endang Sri (UPTD Pendidikan Kec. Gantar), Hasbi Ashsiddiqy anak dari Hasanudin (Kantor Kecamatan Gabuswetan), Anis Ro'iyatunisa anak dari Rofi'I (Kantor Kecamatan Lohbener), dan Egha Rahmawati anak dari Saenih (Badan Penanaman Modal dan Perijinan).

Sementara untuk tingkat perguruan tinggi diberikan kepada Sarah Mauren anak dari Darsono Budiyana (Dinas Kesehatan), Alfiyah anak dari Sonhaji (Sekretariat DPRD), Arni Angguni anak dari Sudono (Staf Kodim 0616), Iip Latifah anak dari Sukiman ( PSDA Tamben). Kemudian diberikan juga kepada Hendra Ekan anak dari Surakman (BKD), Linda Arta Sarie anak dari Sutirah (Kantor Kecamatan Karangampel), Popi Indriani anak dari Tarsih (UPTD Pendidikan Kec. Gantar), dan Alif Nurjanah anak dari Wastana (RSUD).

Penyerahan beasiswa dilakukan oleh wakil bupati Indramayu Drs. H. Supendi, M.Si yang diikuti oleh pejabat PT Askes. (humasindramayu)

JURNAL: Analisis Usaha Tani Budidaya Ikan Nila dalam Kolam di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) faktor-faktor produksi yang mempengaruhi tingkat produksi usaha budidaya ikan nila dalam kolam dan (2) efisiensi penggunaan faktor produksi oleh petani ikan nila dalam kolam. Penelitian ini dilakukan di daerah Kabupaten Banjar. Dalam pengambilan contoh digunakan metode simple random sampling.

Data yang dianalisis dikumpulkan dari 100 orang responden, terdiri dari 50 orang petani kolam ikan nila dengan sumber air irigasi dan 50 orang petani kolam ikan nila dengan sumber air non irigasi. Model analisis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis efisiensi alokatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat produksi adalah luas kolam, jumlah benih, jumlah pakan dan tingkat mortalitas; (2) hasil analisis fungsi produksi juga menunjukkan bahwa secara teknis petani yang menggunakan air dari sumber irigasi lebih efisien dibandingkan petani yang menggunakan sumber air non irigasi; (3) hasil analisis efisiensi alokatif menunjukkan bahwa untuk mencapai keuntungan maksimum petani harus menambah luas kolam, mengurangi jumlah benih dan mengurangi jumlah penggunaan pakan.

Kata kunci : faktor produksi, harga faktor produksi, efisiensi alokatif, pemaksimuman keuntungan
teks lengkap..

Sekda : “ Kementrian Agama Harus Bersih dan Berwibawa”

Ketika menjadi Pembina dalam upacara puncak peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementrian Agama Republik Indonesia Kabupaten Indramayu, Senin (3/1) di wisma haji Indramayu, Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu Drs. Cecep Nana Suryana T. M.Si menyampaikan, seluruh aparatur Kementrian Agama harus bekerja keras dan bersama-sama memperkuat kesadaran kolektif untuk mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan etika kerja yang sehat sehingga Kementrian Agama menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa.

Selain itu, menurut Sekda, aparatur Kementrian Agama juga harus bersih dari tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Serta memiliki integritas yang bersih jujur, professional dan berwibawa berlandaskan nilai-nilai keikhlasan. Hal yang juga penting bagi aparatur Kementrian Agama adalah harus memiliki sifat melayani dan memberi teladan secara sungguh-sungguh kepada masyarakat.

Sekda menambahkan, Kementrian Agama memiliki peran penting saat ini yaitu dalam peningkatan pemahaman dan pengamalan agama, pembinaan kerukunan antar umat beragama, peningkatan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, serta mengawal akhlak dan moral bangsa.

Disamping itu, peran Kementrian Agama ke depan semakin penting dan strategis karena sesuai dengan rekomendasi National Summit 2009 dimana yang menjadi isu utama pembangunan agama yakni peningkatan wawasan keagamaan yang dinamis, penguatan peran agama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa, serta peningkatan kerukunan umat beragama dalam memnabgun kerukunan nasional.

Dalam upacara puncak itu tampak hadir sejumlah pejabat di lingkungan Kantor Kementrian Agama Kabupaten Indramayu, dan pada kesempatan itu pula diserahkan penghargaan kepada para pemenang dalam berbagai lomba yang digelar dalam memperingati HAB, serta dimeriahkan pula oleh penampilan marching band. (humasindramayu)

Lagu Kerinci Talak Tigo

'TALAK TIGO'

Sakitnyo badan pueh kutahan
Karnonyo kayo buingan tangan
Tiap la ahi kito bubalah
piring nga ado habih la pecah
........
Reff.
Pegi la dalak seribu cinto
Untuk pungganti cintonyo adik
Bialah minin ditalak tigo
Pado hidup.......

"TALAK TIGO" merupakan album kerinci perdana yang di ciptakan oleh Erwin Diamin, SP lagu ini dibawakan oleh artis propinsi Jambi Eva Qhin Chay. Lagu ini mengisahkan kekecewaan seorang istri kepada suaminya yang suka berjudi dan ringan tangan, rasa cintalah lah yang membuatnya bertahan namun kesabaran itu ada
batasnya..... karena rasa yang tidak pernah dihargai sedikit pun melahirkan pemberontakan kepada ketidakadilan yang dilakukan oleh suaminya..... maka talak tigo lah yang pada akhirnya terbersit di pikiran istri - istri yang yang cintanya tidak pernah dihargai oleh suami - suaminya.... kehidupan sendiri lebih dipilihnya untuk dapat mengobati luka bathin nya dari pada harus tersiksa lahir dan bathin.....

Cinta memang penuh mesteri....


Jika anda tertarik untuk mendapatkan Album Kerinci "Talak Tigo" anda bisa mendapatkan di toko - toko kaset terdekat atau dapat di pesan melalui blog ini......

BUDIDAYA CABE KERITING / CURLY CHILI CULTIVATION

CABE KERITING

Cabai keriting memang tanaman komersial karena hasilnya mudah dipasarkan. Agar produksinya tinggi tanaman itu butuh cara dan saat budidaya yang tepat. Untuk itu diperlukan benih bermutu dan varietas yang jelas daya produksinya, umur produktif sekitar 6 bulan, setelah itu harus diremajakan.

Cabai keriting dapat dibudidayakan dengan produksi yang baik mulai dari ketinggian 0 – 1.300 meter dpl. Lahannya bertanah gembur, subur, dengan pH tanah 5-7. Suhu udara 16-32oC. kelembapan udara tinggi, tapi jangan sampai terlalu basah.

Sebelum ditanam di lapangan, benih cabai perlu disemai terlebih dahulu di tempat khusus. Perlakuan ini penting untuk mencegah pemborosan benih dan mendapatkan bibit yang memenuhi persyaratan.
Setelah bibit berumur 1-1,5 bulan sejak benih disemai, bibit siap dipindahkan ke lapangan. Umur satu bulan tanaman cabai berdaun 4-5 helai. Bibit itu diseleksi, hanya tanaman yang sehat dan pertumbuhannya seragam saja yang dipilih untuk ditanam.

Tempat tanamnya  adalah areal lahan yang tanahnya sudah diolah dengan baik dan dibentuk bedengan atau guludan. Jarak tanam 50 cm x 50 cm jika tanahnya kurus, atau 50 cm x 70 cm kalau tanahnya subur.
Sebelum bibit ditanam perlu dibuatkan lubang tanam terlebih dahulu. Setiap lubang tanam diberi pupuk dasar 0,5 kg pupuk kandang atau kompos ditambah satu sendok makan (15 gram) pupuk NPK atau campuran urea, TSP dan KCl dengan perbandingan 1 : 2 : 3.

Pemakaian pupuk susulan sangat tergantung dari kesuburan tanah dan varietas cabai yang ditanam, yang berlangsung 2-5 kali sepanjang umur tanaman. Pemupukan susulan pertama biasanya dilakukan ketika tanaman berumur 15-21 hari setelah bibit ditanam sebanyak 5 gram per tanaman berupa campuran urea dan TSP (2 : 1), dan pemupukan susulan kedua dilakukan setelah tanaman berumur 30-40 hari dengan dosis dan jenis pupuk yang sama.

Bersamaan dengan pemupukan susulan itu dilakukan penyiangan gulma kalau penanaman cabainya tidak menggunakan mulsa plastik sebagai penutup permukaan bedengannya.
Penyiraman yang teratur dua kali sehari, pagi dan sore, perlu dilakukan pada musim kemarau kalau di lahan tidak terdapat pengairan teknis.

Setelah berumur 2,5 bulan biasanya tanaman sudah menghasilkan buah, dan bisa dilakukan panen pertama. Panen berikutnya 7 hari sekali dengan hasil yang semakin meningkat. Jika rata-rata 6 bulan, dalam satu musim bisa dipetik sampai 18 kali dengan hasil panen total 10-20 ton per hektar. Tingginya hasil sangat tergantung dari jarak tanam, varietas tanaman yang ditanam, dan pemeliharaannya.

Pemeliharaan tanaman yang ceroboh bisa mengakibatkan gagal panen atau hasil panennya kurang sekali karena terserang penyakit.  Gejala penyakit pada cabai keriting dengan gejala bagian ujung dan tengahnya berkerut dan disekelilingnya terdapat warna hijau agak kehitaman. Penyakit ini biasa disebut penyakit busuk buah cabai yang mudah menular. Penyakit busuk kering buah cabai itu lazim disebut antraknosa. Penyebabnya cendawan renik Colletotrichum capsici atau Gloeosporium piperatum.

Cabai yang terserang penyakit itu bisa rusak berat. Sehingga hasilnya tidak bisa dipanen sama sekali. Gejala serangannya ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik hitam berlekuk pada buah. Di tepi bintiknya terdapat lingkaran kering. Kalau penyakit dibiarkan, buah cabai akan menjadi coklat kehitaman karena busuk. Kalau tidak busuk, buah cabai akan mengkerut kering.

Penyakit itu sulit dikendalikan jika sudah mulai berjangkit. Sebaiknya penyakit tersebut sudah ditangkal sejak masih berupa benih. Benih yang dipakai direndam dulu dalam larutan fungisida atau air hangat bersuhu 30-45oC selama 10-15 menit.

Setelah bibit cabai ditanam di lapangan, diperlukan kontrol yang cermat selama pertumbuhannya. Jika terdapat tanaman yang menunjukkan gejala terkena serangan penyakit itu, sebaiknya segera dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular pada tanaman yang lain. Penggunaan fungisida bisa diterapkan, asalkan tanaman belum terserang berat.
Sumber : TRUBUS – TH XXV – JULI 1994

Curly chili

Chili curly commercial crops because the results are easily marketed. For high production of plants that need a way and at the proper cultivation. It required quality seeds and varieties of clear power production, productive life of about 6 months, after which it must be rejuvenated.

Curly chili can be cultivated with good production from a height of 0-1300 feet above sea level. Landless farm loose, fertile soil with a pH of 5-7. Air temperature 16-32oC. high humidity, but do not get too wet.

Before being planted in the field, sowing the seeds chili needs to advance in a special place. This treatment is essential to prevent the waste of seed and get seeds that meet the requirements.

After the seedlings aged from 1 to 1.5 months from sowing seeds, seedlings are ready to move into the field. One month old pepper plant leaves 4-5 strands. Seedlings were selected, only the plants healthy and uniform growth are selected for planting.

Place the cropping area of land is whose land has been properly processed and shaped beds or guludan. Plant spacing 50 cm x 50 cm if the soil thin, or 50 cm x 70 cm if the soil fertile.

Before seeds are planted need to be made in advance of planting holes. Each planting hole was given 0.5 kg of basal fertilizer manure or compost plus one tablespoon (15 grams) of NPK fertilizer or a mixture of urea, TSP and KCl with a ratio of 1: 2: 3.

The use of supplementary fertilizer depends on soil fertility and varieties of peppers grown, which takes place 2-5 times throughout the lifetime of the plant. The first supplementary fertilization is usually done when the plant was 15-21 days after seeds are planted about 5 grams per plant a mixture of urea and TSP (2: 1), and the second supplementary fertilization after planting and 30-40 days with a dose of the same type of fertilizer .

Along with the subsequent fertilizing, weeding is done when planting cabainya not use plastic mulch as cover bedengannya surface

Regular watering twice a day, morning and afternoon, need to be done during the dry season in the land if there is no technical irrigation.

After 2.5 months old plants usually already bearing fruit, and can be harvested first. The next harvest in 7 days once the results are increasing. If an average of 6 months, in a season can be picked up to 18 times with a total yield 10-20 tons per hectare. The high results depends on the distance of planting, crop varieties planted, and maintenance.

Maintenance of plants that could lead to crop failure careless or less once their harvest of esophageal disease. Symptoms of the disease on pepper curls with symptoms of the tip and middle wrinkled and there is around it rather blackish green color. The disease is commonly called chili pepper fruit rot disease which is contagious. Dry rot disease of hot pepper was commonly called antraknosa. The cause microscopic fungus Colletotrichum capsici or Gloeosporium piperatum.

Chillies are developing the disease can be severely damaged. So the results can not be harvested at all. Symptoms of attack is characterized by the formation of grooved black spots on the fruit.At the edge of the circle there are dry spots. If the disease is left, chilies will be blackish brown due to decay. If it is not rotten, dried chilies will shrink.

The disease is difficult to control if an outbreak has begun. Should be resisted since the disease was still a seed. The seed used was soaked in a fungicide solution or warm water temperature 30-45oC for 10-15 minutes.

After the chili seeds are planted in the field, careful control is needed for growth. If there are plants that show symptoms of the disease attacks, should be immediately withdrawn and destroyed so as not to spread in other crops. The use of fungicides can be applied, provided that the plant has not been seriously attacked.
Source: Trubus - TH XXV - JULY 1994

JURNAL: Modifikasi Media Marine Broth pada Produksi Inhibitor Protease dari Bakteri Acinetobacter baumanni yang Hidup Bersimbiosis dengan Sponge Plakortis nigra

ABSTRAK: Enzim protease memiliki peranan penting dalam proses metabolisme bakteri patogen. Protease bakteri tersebut dapat dihambat aktivitasnya oleh inhibitor protease. Iinhibitor protease dapat diproduksi dari bakteri Acinetobacter baumanni yang hidup bersimbiosis dengan sponge laut (Plakortis nigra). Agar produksi inhibitor protease dapat lebih optimal maka perlu diketahui komposisi media marine broth yang baik.

Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah modifikasi konsentrasi peptone (0,5% dan 1%) dan modifikasi konsentrasi yeast extract (0,1%; 0,5% dan 1%). Peningkatan konsentrasi yeast extract memperpanjang waktu propagasi bakteri A. baumanni dan memperlambat awal produksi inhibitor. Peningkatan konsentrasi pepton cenderung menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik. Aktivitas penghambatan inhibitor protease tertinggi terjadi pada media dengan kombinasi konsentrasi pepton dan yeast extract masing-masing 0,5%.

Kata kunci: inhibitor protease, Acinetobacter, simbiosis sponge, produksi
teks lengkap..

JURNAL: Penyerapan dan Akumulasi Radionuklida Cr-51 dalam Air oleh Ikan Mas (Cyprinus carpio)

ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui akumulasi dan distribusi Cr-51 pada ikan mas. Percobaan dilakukan dalam kolam bervolume 800 L yang berisi media air kran sebanyak 500 L. Penentuan distribusi Cr-51 dalam tubuh ikan dilakukan dengan menggunakan radionuklida Cr-51 yang mempunyai konsentrasi 18,057 Bq/ml.

Pengambilan contoh 3 ikan dan air pada kolam perlakuan dengan penambahan radionuklida Cr-51 untuk dianalisis dilakukan setelah 5, 12, 15, 20, 26, 29, 30, 35, 40, 47, 50, 55, 61 dan 65 hari percobaan dan pengambilan contoh 3 ikan dan air pada kolam kontrol tanpa penambahan radionuklida Cr-51 untuk dianalisis dilakukan setelah 12, 20, 29, 35, 47, 55, 65 hari percobaan. Sampel 3 ikan dibedah dan ditimbang berat basahnya kemudian dikeringkan dengan oven selama 5 jam pada suhu 1500C, setelah sampel ikan kering lalu ditimbang. Kandungan konsentrasi Cr-51 dalam sampel ikan dan air diukur dengan detektor Germanium murni yang dihubungkan dengan penganalisis saluran ganda (MCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cr-51 terserap lebih besar pada bagian organ dalam ikan mas dengan nilai konsentrasi Cr-51 sebesar 273,614 Bq/gram dan memiliki nilai faktor transfer sebesar 175,52 ml/gram berat kering. Kematian ikan mas 26 % pada media terkontaminasi radionuklida Cr-51 terjadi setelah 15-30 hari penelitian berlangsung.

Kata Kunci: radionuklida Cr-51, ikan mas, akumulasi, konsentrasi, faktor transfer

Budidaya Udang Vaname

Budidaya Udang Vaname

Udang Vaname (Penaeus vannamei) di Indonesia merupakan jenis udang introduksi dari kawasan sub-tropis sekitar perairan negara Meksiko, Amerika Latin. Meskipun asal udang vaname dari kawasan sub-tropis, dalam pengembangannya dapat pula dibudidayakan di kawasan tropis secara massal dengan penerapan teknologi dari sederhana hingga intensif.



Bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya, udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti adaptasi tinggi terhadap lingkungan suhu rendah, perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi), laju pertumbuhan yang relatif cepat pada bulan I dan II dan kelansungan hidup tinggi. Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut, jenis udang ini sangat potensi dan prospektif pengembangannya.



KONSTRUKSI TAMBAK

Teknologi yang diperkenalkan melalui leaflet ini adalah Semi Intensif. Dalam budidaya udang semi intensif, sistem budidaya yang diterapkan sebaiknya memakai sistem “ resirkulasi” dengan rasio luas tambak 40% : 60% antara petak tandon dengan petak pemeliharaan. Konstruksi tambak terutama tanggul/pematang harus kuat, kedap air (tidak rembes dan bocor), tidak mudah longsor, pintu masuk dan keluar terpisah, bentuk caren melintang di tengah dasar tambak.







Gambar 1. Tata Letak Tambak












Jenis dan fungsi petakan dan saluran tambak yang diperlukan dalam budidaya udang semi intensif dengan sistem resirkulasi tertutup yaitu :

- Petak tambak karantina yang berfungsi sebagai petak isolasi air media, baik air baru ataupun air lama (air resirkulasi);

- Saluran suplai air yang menampung air dengan baku mutu air standar, yang didistribusikan ke petak-petak pembesaran;

- Petak pembesaran dipergunakan sebagai petak pemeliharaan udang hingga panen;

- Saluran pembuangan yang berasal dari petak pembesaran, berfungsi sebagai saluran pengendapan lumpur/limbah.;

- Petak tandon (bio filter/ bio screen) petak tambak yang dipelihara organisme jenis ikan multispeies dan ikan (bioscreen/biofilter) guna untuk memangsa hama penular penyakit udang;

- Petak unit pengolah limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran (limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak;

- Elevasi dasar tambak petak pembesaran udang terhadap saluran pembuangan (air surut terendah) yang standar dan ideal akan mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu.

- Central drain; adalah sistem pembuangan air yang dibuat /diletakan di titik konsentrasi pengumpulan kotoran, yaitu pada bagian tengah petak pembesaran udang;

- Pintu monik; adalah model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu dan cor semen. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air;

- Pematang dan dasar tambak; Dimensi pematang yang ideal (dibuat dari tanah) untuk tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 – 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 – 9,0 m dan tinggi antara 1,5 – 2,0 m, kemiringan/slope 45 – 60 derajat.



PENGELOLAAN TAMBAK

Pengelolaan tambak meliputi : pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran dan pemasukan air. Pengeringan dasar tambak dapat dilakukan selama 7-10 hari sampai tanah dasar tambak retak-retak, kemudian dilakukan pembalikan tanah. Jika pH tanah kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis seperti pada tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemasukan air.








Tabel 1. Dosis kapur berdasarkan pH tanah









PEMELIHARAAN UDANG

Penyiapan Media Air Tahapan pada proses penyiapan media air adalah :

• Sterilisasi media air : dengan aplikasi kaporit 30 ppm dan saponin 10-12 ppm

• Pengisian air : dilakukan hingga ketinggian mencapai 0,8-1,0 m

• Pemupukan awal : pupuk organik 300-500 kg/ha

• Adaptasi media air : tingkat kecerahan air awal berkisar 40-45 cm.



Pemilihan dan Penebaran Benih

Ciri-ciri benur yang sehat :

• Ukuran seragam

• Gerakan lincah dan menantang arus

• Respon terhadap gerakan

• Putih transparan, kaki bersih, isi usus tidak putus, adaptif terhadap perubahan salinitas dan bebas virus

Padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang vaname dengan teknologi semi intensif adalah 15 – 40 ekor per meter persegi atau 150.000 – 400.000 ekor/ha.



Masa Pemeliharaan Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan adalah :

• Pengaturan dan pemberian pakan

• Manajemen plankton

• Pengelolaan air



Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

• Kesehatan dan kondisi udang

• Pertambahan berat harian

• Tingkat kelangsungan hidup, serta

• Biomass



PENGELOLAAN KESEHATAN UDANG

Pengamatan dan monitoring kesehatan udang di tambak dilakukan melalui pengamatan secara visual terhadap nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh.

Ciri-ciri udang yang kurang sehat adalah :

• Terdapat bakteri Zoothammium sp pada insang dan tubuh

• Karapas (kepala) dan kulit abdomen (badan) berlumut

• Ekor gerepes, insang kotor, antena putus

• Daging udang keropos, warna tubuh dan ekor kemerahan.



Pengamatan Rutin

Pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat

Ciri-ciri udang sehat adalah :

• Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat

• Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan

• Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas

• Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap

• Kotoran tidak mengapung

• Ujung ekor tidak geripis

• Ekor dan kaki jalan tidak menguncup

• Insang jernih atau putih serta bersih

• Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit

• Air pemeliharaan diusahakan bebas kontaminasi virus dengan kaporit atau pengendapan dan filtrasi dengan biofilter

• Pemeliharaan fitoplankton sebagai penyerap racun melalui aplikasi pupuk urea

• Pengamatan secara rutin terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air

• Lakukan disiplin kaidah, aturan dan prinsip utama budidaya udang yang berwawasan lingkungan





Gambar 2. Manajeman pemeliharaan












PEMANENAN HASIL DAN ANALISA USAHA

Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan >100 hari atau size udang telah mencapai 50 ekor/kg. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jala atau ditangkap melalui pintu air dengan mengeringkan tambak.

Analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dalam satu musim tanam seluas 1 ha, dengan padat penebaran 40 ekor per meter persegi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 50.000.000,-Lebih jelasnya contoh analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dengan luas total unit 2 ha dengan petak pembesaran 1 ha dapat dilihat pada tabel 2..




Tabel 2.









Dari contoh analisa usaha pembesaran udang vaname semi intensif di atas, maka besarnya nilai B/C dapat dihitung sebagai berikut : B /C Ratio = Jumlah Penerimaan : Total Biaya = 148.400.000 : 96.277.900 = 1,54 Dengan nilai B/C Ratio dari analisa usaha di atas sebesar 1,5 artinya bahwa kondisi usaha pembesaran udang vaname semi intensif tersebut sangat baik sekali diusahakan/diteruskan

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

JURNAL: Pemanfaatan Akar Wangi sebagi Adsorben untuk Menurunkan Kandungan Pb dalam Larutan Pb Asetat

ABSTRAK: Pencemaran ion-ion logam berat dalam air harus mendapat perhatian yang serius, karena bila terserap dan terakumulasi dalam tubuh manusia dapat mengganggu kesehatan dan pada beberapa kasus menyebabkan kematian. Konsentrasi logam berat yang tinggi pada badan air sungai juga dapat menyebabkan kematian pada spesies ikan. Toksisitas Pb pada anak-anak dalam massa kecil dan berlangsung terus menerus menyebabkan neurotoksik (keracunan pada saraf) dan kelainan tingkah laku. Akar wangi mengandung bahan yang dapat digunakan sebagai adsorben yaitu lignin dan selulosa. 

Untuk mengetahui kemampuan akar wangi sebagai adsorben dalam menurunkan Pb, dilakukan penelitian batch dan kontinyu. Penelitian batch dilakukan menggunakan jar test dengan variasi konsentrasi larutan Pb awal (5, 10, 20 mg/l), massa adsorben dan ukuran adsorben (8/12, 12/16 dan 16/30 mesh). Penelitian batch dimaksudkan untuk mendapatkan x/m dengan pendekatan isoterm freundlich dan langmuir. Data dari proses batch digunakan untuk menentukan ukuran adsorben optimum dan ketinggian adsorben pada penelitian kontinyu menggunakan kolom adsorbsi. Penelitian kontinyu dilakukan dengan variasi konsentrasi Pb (5, 10, 20 mg/l) dan ketinggian adsorben. Penelitian kontinyu dimaksudkan untuk mendapatkan konstanta kinetika adsorbsi dan untuk desain kolom adsorbsi dengan pendekatan scale-up.

Efisiensi penyisihan paling optimum yang diperoleh pada proses batch adalah 80,19% pada konsentrasi larutan Pb awal 5 mg/l, massa adsorben 2 gram dengan ukuran 16/30 mesh. Proses adsorbsi lebih mendekati persamaan isoterm langmuir. Efisiensi penyisihan optimum pada proses kontinyu adalah 93,81% pada perlakuan awal, dengan ketinggian adsorben 15 cm dan konsentrasi larutan Pb awal 5 mg/l.

Kata Kunci : Akar wangi, Adsorben, Pb

JURNAL: Pengaruh Penambahan Pankreas Ayam pada Pelet sebagai Pengganti Enzim Buatan terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh enzim yang berasal dari pankreas ayam terhadap kecernaan pakan, pertumbuhan benih ikan gurami, dan dosis pankreas ayam yang memberikan pertumbuhan terbaik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan dan Laboratorium Kimia Universitas Djuanda mulai bulan Mei sampai Oktober 2008. Pankreas ayam sebagai bahan buangan dapat dimanfaatkan sebgai enzim untuk mencerna pakan buatan sebelum diberikan kepada benih ikan yang ketersediaan endoenzimnya masih sedikit. Pakan buatan yang telah dicerna ini dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pakan alami yang ketersediaannya terbatas.

Percobaan menggunakan rancangan lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis pankreas dalam pakan, yaitu A(0%), B(3%), C(6%), dan D(9%). Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 50x30x30 cm3, diisi 35 liter air dan 125 ekor benih ikan gurami berukuran rata-rata 0,07gram/ekor. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 09.00 dan 16.00 WIB secara ad libitum. Parameter yang diukur adalah laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kecernaan pakan, retensi protein, dan kelangsungan hidup.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan dosis pankreas memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup, tetapi memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap efisiensi pakan, kecernaan pakan, dan retensi protein. Hasil tertinggi dari efisiensi pakan, kecernaan pakan, dan retensi protein diperoleh pada perlakuan C(6%), yaitu masing-masing 42,31%; 76,85%; dan 76,29%. Uji lanjut dengan beda nyata terkecil terhadap efisiensi pakan dan retensi portein menunjukkan bahwa perlakuan A, B, dan D adalah sama dan berbeda dengan perlakuan C. Pada kecernaan pakan, perlakuan yang memberikan hasil yang sama adalah perlakuan A sama dengan perlakuan B dan pelakuan C sama dengan perlakuan D, tetapi perlakuan A dan B berbeda dengan perlakuan C dan D. Pemberian pakan yang ditambahkan pankreas 6% memberikan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan, efisiensi pakan, kecernaan pakan, retensi protein, dan kelangsungan hidup benih ikan gurami berumur 30-70 hari.

Kata kunci : pankreas ayam, pakan ayam, pertumbuhan benih ikan gurami
TEKS LENGKAP..

JURNAL: Cookies Berkadar Serat Tinggi Substitusi Tepung Ampas Rumput Laut dari Pengolahan Agar-Agar Kertas

ABSTRAK: Permintaan terhadap produk makanan kesehatan seperti makanan bebas gula (sugar-free food), makanan rendah kalori (low calorie food) dan makanan kaya serat (high fibre food) meningkat dengan pesat. Kecenderungan ini didasarkan atas perannya dalam pencegahan penyakit hipertensi, diabetes, kanker usus, dan penyakit degeneratif lainnya.

Berbagai sumber bahan berserat tinggi seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, dan gum sekarang menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk makanan tersebut. Oleh karena itu pemanfaatan tepung ampas rumput laut dari pengolahan agar-agar kertas menjadi cookies berkadar serat tinggi menjadi sangat penting untuk dilakukan. Tahap pembuatan cookies meliputi pembentukan cream, penambahan tepung terigu dan tepung serat makanan dari ampas rumput laut pengolahan agar-agar kertas dengan konsentrasi 0 % sebagai kontrol, 10 %, 20 %, 30 %, 40 % dan 50 % dari 100 gram tepung terigu, pencampuran (mixing), pencetakan, pemanggangan dalam oven selama 15 menit dengan suhu 180oC. Hasil uji sensori memperlihatkan bahwa penambahan berbagai konsentrasi tepung ampas rumput laut memberikan perbedaan yang nyata terhadap penerimaan cookies, dengan nilai kesukaan tertinggi pada penambahan tepung ampas rumput laut sebesar 10% dan 20% serta nilai kesukaan antara biasa sampai suka. Sedangkan hasil analisis kimia dari produk cookies yang disukai tersebut memperlihatkan bahwa cookies yang dihasilkan memiliki kandungan air sebesar 3,82-4,52%; protein 9,32-9,19%; lemak 23,19-21,90%; kadar abu 2,72-2,91%; nilai serat kasar 1,44-1,58% dan nilai serat makanan 5,98-6,02%. Secara keseluruhan, makin tinggi konsentrasi tepung ampas rumput laut yang ditambahkan, makin tinggi pula nilai serat kasar dan serat makanan, namun hasil tersebut berdampak terhadap mutu sensori (nilai kesukaan) dan nilai gizi yang lain dari produk cookies yang dibuat.

Kata Kunci : rumput laut, agar-agar, serat makanan (dietary fiber), cookies
teks lengkap..

KERUGIAN DARI STIMULASI OTAK TENGAH

Sedikit penjelasan mengenai bagian dan fungsi otak, berikut penjelasannya.

Belahan otak kiri punya fungsi tersendiri. Fungsinya meliputi berpikir: analisis, logika, urutan, detail, angka/tulisan, kata-kata, dll. Sementara belahan otak kanan meliputi fungsi berpikir: kreatif/imajinatif, emosi/perasaan, acak, menyeluruh, gambar, irama/musik, dll. Contoh penggunaan kedua belahan otak itu secara bersamaan adalah ketika seorang ibu mengajarkan nama-nama hari kepada anaknya. Sang ibu tidak hanya menyebut Senin, Selasa, …, Minggu secara datar dengan kata-kata (otak kiri saja) namun sekaligus menyanyikannya dengan irama (otak kanan). Akibatnya, kedua belahan otak digunakan seimbang. Hasilnya, proses belajar menjadi lebih mudah.

Metode lain misalnya, metode asosiasi yang membuat visualisasi (otak kanan) terhadap pelajaran yang akan diingat atau belajar dengan menggunakan mind map. Pembelajaran (kecerdasan) bukan hanya melibatkan bagian otak tertentu saja. Pembelajaran sejati melibatkan sebagian besar otak.

Banyak keuntungan dan manfaat yang dapat kita ambil dalam stimulasi otak tengah, tetapi beberapa penelitian juga menyebutkan ada dampak atau kerugian dalm pemakaian stimulasi otak tengah. Berikut beberapa penelitian dari para ahli.

Sebaliknya penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.

Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.

Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita lebih terperangah lagi, karena ternyata induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik persyarafan jantung.

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran (kecerdasan) bukan hanya melibatkan bagian otak tertentu saja. Tetapi pembelajaran sejati melibatkan sebagian besar otak. Penelitian internasional juga membuktikan bahwa otak tengah mempunyai peranan dalam penyusunan memori yang baru bersama dengan organ hipokampus yang dirangsang oleh kadar dopamin otak. Organ penyusun sistem limbic seperti amigdala, hipokampus, hipotalamus jelas berperan penting dalam penyusunan dan recalling memori. Sistem limbic merupakan sistem control emosi dan hormon sehingga proses belajar dapat dilakukan secara simultan.

Sumber :

Majalah Bahana, Juli 2010

http://pembodohanotak.wordpress.com/2010/08/01/aktivasi-otak-tengah-tak-ada-dasar-ilmiah/

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17522

http://minmerry.com/2010/04/03/genius-karena-aktivasi-otak-tengah-mitos-science-atau-pseudoscience.html/comment-page-1

KEUNTUNGAN DARI STIMULASI OTAK TENGAH

Sebelum kita mengetahui keuntungan dari stimulasi otak tengah, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai otak tengah dan bagian-bagiannya. Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu.

Otak tengah (midbrain) secara anatomi adalah bagian penghubung otak depan dengan otak belakang. Otak tengah adalah perlintasan arus elektrik dan zat-zat neurokimiawi dari batang otak menuju otak besar. Gangguan pada daerah ini bisa mengakibatkan terganggunya kesadaran. Fungsi-fungsi kecerdasan otak berpusat pada otak besar dan dibantu otak kecil (yang dikenal dengan nama saras kortiko serebelar).

Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahmya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.

Ada tujuh bagian otak manusia yang vital dan berperan penting dalam kecerdasan yaitu:

1. Prefrontal (otak depan bawah)

2. Kemampuan bahasa dan logika (otak kiri)

3. Seni yang melibatkan perasaan (otak kanan)

4. Ide kreatif (otak kanan)

5. Emosi (limbik & Amigdala)

6. Konsolidasi memori (hipokampus)

7. Otak kecil (serebelum)

Kemudian berdasarkan ilmu Neuro-Anatomi, otak terdiri atas beberapa bagian, yaitu :

1. Otak depan atau forebrain (prosencepalon) terdiri atas bagian besar otak.

2. Otak tengah atau midbrain (mesencephalon), bagian ini relatif pendek dan menjadi penghu-bung antara otak depan dengan hindbrain.

3. Otak belakang atau hindbrain(rhomdencepalon).

Selanjutnya saya akan membahas mengenai keuntungan dari stimulasi otak tengah, berikut penjelasannya.

Orang tua berperan besar untuk dapat membantu anak mengembangkan potensi otak tengah mereka. Seorang anak dengan otak tengah yang kuat, diharapkan dapat mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara lebih maksimal sehingga mereka dapat masuk kategori jenius. Bukan hanya dalam otak kiri (IQ, intelektual) , atau otak kanan (emosional, EQ) tetapi juga dalam ‘Loving Inteligence’. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang lain seperti sang pencipta mengasihi dia.

Otak tengah dapat meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kreatifitas, lebih cerdik, lebih berbakat, hormone lebih seimbang, membentuk karakter positif, emosi lebih stabil, lebih berprestasi, dan sebagainya. Berikut beberapa penjabaran mengenai keuntungan dari stimulasi otak tengah.

Otak tengah dapat meningkatkan daya ingat, dapat membuat seseorang mampu belajar banyak dalam tempo yang lebih singkat. Jika dia belajar dengan waktu yang sama dengan orang lain, dia akan mendapat lebih banyak. Peningkatan daya ingat ini berhubungan langsung dengan semakin meluasnya jaringan pada sel otak seseorang.

Meningkatkan kemampuan inovasi dan kreativitas, inovatif adalah mampu menemukan dan menciptakan hal-hal baru. Kemampuan inovasi dan kreatifitas yang tinggi dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk/sesuatu yang baru dan juga dapat dipergunakan untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang baru.

Meningkatnya konsentrasi dapat meningkatkan daya tangkap seseorang. Setelah otak tengahnya teraktivasi, seseorang bisa menangkap hal-hal yang rumit dengan lebih baik dan lebih mudah mengerti atau memahami sesuatu. Serta meningkatkan kemampuan fisik dalam berolah raga, adalah bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Banyak anak merasakan peningkatan dalam pengontrolan gerakan tubuh setelah otak tengah mereka diaktivasi, terutama ketika berolahraga yang membutuhkan ketelitian tinggi. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang senang berolahrega tetapi juga oleh mereka yang senang dengan tarian dan gerakan tubuh lainnya. Gerakan yang banyak membutuhkan koordinasi mata dengan bagian tubuh yang lain akan banyak sekali ditingkatkan dengan aktifnya otak tengah.

Bahkan otak tengah dapat meningkatkan daya intuisi, yaitu kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tanpa masukan atau tanpa menggunakan alasan apapun. Jika kita mendapatkan intuisi kita tidak tahu dari mana asalnya. Otak kanan seringkali dianggap sebagai bagian otak yang bertanggung jawab atas intuisi yang muncul di kepala kita. Otak tengah dapat menggabungkan kemampuan logis otak kiri dan kemampuan intuisi otak kanan menjadi suatu intuisi yang sangat tepat. Seorang anak yang telah diaktifkan otak tengahnya akan mempunyai kemampuan intuisi yang lebih baik. Dengan latihan yang cukup lama dan intensitas yang cukup, ia dapat memprediksi.

Sumber:

Buku Dahsyatnya Otak Tengah – Hartono Sangkanparan

http://ibsbrain.wordpress.com/2010/04/03/

http://gmc-aktivasiotaktengah.com/manfaat-aktivasi-otak-tengah

http://alirsyadpwt.com/content/cerdas-dengan-aktivasi-otak-tengah

http://www.hariansumutpos.com/2009/12/20911/genius-dengan-aktivasi-otak-tengah.html

Tips Memelihara Kelinci

Sekedar berbagi pengalaman aja tentang memelihara kelinci buat pemula. Supaya jangan kejadian lagi setelah beli satu dua hari langsung mati. Kesian, nggak tega ngeliatnya. Kemaren beli kelinci mati melulu sampe 5 ekor. Setelah itu baru berhasil hidup. Sekarang udah gede. Nah, ini tipsnya:

1. Anak kelinci jangan dikasih minum. Karena dia perutnya belum kuat. Kalo dikasi minum pasti mati deh besoknya. Setelah umur 3-4 bulan baru dia bisa minum air.

2. Jangan kasih wortel atau sayuran yang terlalu banyak mengandung air. Alasannya sama seperti nomer satu.

3. Yah jangan sampe kedinginan lah. Apalagi kehujanan. Soale itu kelinci yang dijual di pinggir-pinggir jalan, biasanya umurnya masih kecil banget. Harusnya masih diasuh sama induknya. Jadi butuh kandang yang hangat.

4. Kasih aja kangkung segar, jangan ditumis loh :)) Atau kulit jagung muda. Tapi yang paling gampang kangkung aja. Secukupnya, jangan kebanyakan.

5. Pengalaman kemaren, beli makanan kelinci di karfur berupa pelet, harganya mahal banget, bisa 50rb sekilo. Akhirnya kita kasih pelet ikan koi, yang warnanya merah jambu. Harganya cuman 10.000 perak aja. Udah gitu, dia lebih seneng pelet ikan koi ini daripada pelet kelinci yg di karfur. Belinya sih di tukang ikan hias. Nanti deh fotonya saya attached.

6. Kalo masih ada halaman. Kasih kesempatan dia ngelayap. Jadi pagi2 banget kasih makan kangkung dulu. Setelah dia kenyang, baru diumbar keluar. Biarin dia makan rumput2 liar di halaman. Dengan begini dia jadi gesit dan cepet sehat. Sebab kelinci yang dijual di pinggir jalan kadang udah sakit karena kelamaan dipajang. Setelah sore baru dikandangin.

7. Jangan kebanyakan dipegang2 atau digendong2. Itu kan kelinci hidup, bukan boneka. Kalo mau digendong2 mending beli boneka aja. Atau gendong anak tetangga aja.

8. Kandangnya sebaiknya yg bawahnya kawat. Biar kotoran dan pipisnya langsung jatuh. Nggak membasahi kandang. sehingga kandangnya tetep kering, nggak lembab.

9. Kalo beli anak kelinci sebaiknya yg kira2 ukurannya seumuran. kalo ada yg terlalu bongsor, nanti temennya keinjek-injek bisa mati.

10. Kalo beli yah jangan banyak2. Satu atau dua aja dulu. Nanti kalo udah bisa miaranya, baru mau nambah juga boleh.

11. Ati2 sama tikus wirok, alias tikus bandung yang kalo di kota gedenya bisa segede kucing kampung. Plus ati2 sama kucing. Dua2nya bisa melahap anak kelinci kita dengan gembira.

12. Yang hobi tanaman hias, siap2 tanamannya pada bondol semua.

13. Apalagi yah... kayaknya cukup deh. Oh ada satu lagi, kalo kira2 nggak sanggup memelihara, yah jangan beli. Kalo mati, kesian. Mereka kan makhluk hidup juga.

Siput Laut Ini Bisa Pancarkan Cahaya


Siput Hinea brasiliana memancarkan cahaya hijau saat menghadapi predator.

KOMPAS.com - Beberapa jenis hewan punya cara alami yang unik untuk mengindar dari predator. Misalnya cumi-cumi yang menyemprotkan cairan hitam mengandung zat yang tak disukai pemangsanya atau sigung yang mengeluarkan kentut sangat berbau.
Cara unik menghindari mangsa juga dimiliki spesies siput yang bernama Hinea brasiliana. Hewan laut ini bisa mengeluarkan cahaya dari cangkangnya. Cahaya yang bisa dipancarkan secara tiba-tiba itu mungkin untuk mengejutkan predator yang akan menyerangnya sehingga siput punya waktu untuk berlindung ke dalam cangkang.
Keunikan spesies itu diteliti oleh dua orang ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography di UC San Diego, Dimitri Deheyn dan Nerida Wilson. Lewat hasil risetnya, peneliti menemukan bahwa cara siput mengemisikan cahaya warna hijau dengan cara yang unik saat menghadapi predator seperti gerakan kepiting dan udang yang berenang.
Peneliti mengatakan, biasanya cahaya diproduksi oleh siput dengan cara mengemisikannya secara terfokus. Namun, siput ini mengemisikan cahaya dengan menyebarkannya secara unik lewat sel cangkang. Hal tersebut membuat ukuran tubuhnya terlihat lebih besar. Temuan tersebut dipublikasikan di Proceeding of the Royal Society B.
Wilson mengatakan, "Sangat jarang siput dasar laut bisa mengeluarkan cahaya. Lebih mengejutkan lagi ketika tahu siput ini bisa menggunakan cangkang untuk mengoptimalkan cahayanya yang diproduksinya."
Ia juga menemukan bahwa warna cangkang yang kekuningan tidak mematikan warna cahaya yang diproduksi siput, yakni hijau. Justru, cangkang berperan dalam mendispersikan cahaya warna hijau tersebut.
Deheyn mengatakan, adaptasi siput dalam menggunakan cangkang ini sangat menarik bagi penelitian optik dan bioengineering. Memahami karakteristik cangkang bisa membantu ilmuwan mengembangkan material tertentu yang berfungsi sama.
"Kapasitas difusi cahaya yang kami lihat pada siput ini lebih besar dari materi sejenis lainnya. Fokus selanjutnya adalah memahami mengapa cangkang punya kapasitas tersebut. Ini berpotensi untuk mengembangkan material dengan performa optik yang lebih baik," kata Deheyn.



Can This Sea Snail emit light
Snail Hinea brasiliana emit green light in the face of predators.
KOMPAS.com - Some kind of animal has a unique natural way to mengindar from predators. For example, a squid that squirts black fluid containing undesirable predators or skunk who issued a very smelly fart.
How to avoid prey also possessed unique snail species named Hinea brasiliana. Marine animals can give off light of its shell. Emitted light can suddenly it possible to shock predators that will attack it so that the snails have time to take refuge into the shell.
The uniqueness of the species was investigated by two scientists from the Scripps Institution of Oceanography at UC San Diego, Dimitri Deheyn and Nerida Wilson.
Through his research, the researchers found that the way a snail emits green light in unique ways when faced with predators such as crabs and shrimp movement of swimming.
The researchers say, usually light produced by the snail mengemisikannya in a focused manner. However, these snails emit light with a unique pass through the cell shell. It makes her look bigger size. The findings were published in the Proceedings of the Royal Society B.
Wilson says, "It is very rare snail sea floor give off light. More surprising when knowing this snail can use the shell to optimize the light they produce."
He also found that the yellowish color of the shell which does not kill snails produced light color, namely green. Indeed, the shell plays a role in dispersing the light green color.
Deheyn says, adaptation snails in the shell is very interesting for optical and bioengineering research. Understanding the characteristics of the shell could help scientists develop specific materials that function the same.
"The capacity of diffusion of light that we see in this snail is bigger than other similar materials. The focus next is to understand why the shells have such capacity. It has the potential to develop a material with better optical performance," said Deheyn.

Budidaya Penggemukkan Reptil Tokek Dalam Waktu 6 Bulan

Budidaya Penggemukkan Reptil Tokek Dalam Waktu 6 Bulan Bisa mencapai 4,2 Ons Dari Bibit 1,5 Ons
Salah satu cara menanggapi tokek mahal atau tokek raksasa 64 kg adalah dengan cara budidaya penggemukkan tokek dari bibit 1,5 ons dipastikan dalam waktu 6 bulan sudah bisa mencaPai 4,2 ons. Kenapa harus 4,2 ons karena pada berat itulah tokek sangat diburu dan dihargai mahal. Lalu timbul pertanyaan apa

BUDIDAYAKAN CUMI-CUMI


REFERENSI :

Kabar gembira bagi para nelayan yang biasa menangkap cumi-cumi di laut. Kini, tak perlu lagi mengalami masa paceklik sejak ditemukannya teknik membudidayakan cumi-cumi.

Indonesia memang sudah terkenal dengan basil lautnya dan merupakan salah satu produsen komoditas perikanan yang memasok produksinya ke berbagai mancanegara. Salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang juga merupakan produk ekspor andalan negara kita adalah cumi-cumi. Itu ditandai dengan nilai ekspor binatang laut yang dikelompokkan ke dalam hewan yang memiliki kaki di kepala ini (keluarga chephalopoda) selama lima tahun terakhir terus meningkat.

Selama ini Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa merupakan negara tujuan utama ekspor biota laut yang memiliki nama latin lepiotenhis lessoniana. Di banyak negara cumi-cumi selain dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai jenis makanan, juga digunakan sebagai umpan untuk memancing ikan di laut.

Eskpor cumi-cumi yang pada tahun 2001 mencapai 13 ribu ton lebib (senilai US$ 22 ribu) nilai produksi ekspornya menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada tabun 2005. Tahun lalu jumlahnya berlipat menjadi 25 ribu ton lebih (senilai lebih dari US$ 42 ribu). Peningkatan nilai ekspor ini ternyata masih jauh lebih kecil dari kebutuhan cumi-cumi di pasar dunia.

Di Amerika tahun lalu saja membutuhkan 640 ribu ton cumi-cumi. Di saat yang sama Jepang membutuhkan 580 ribu ton, sementara produksi dalam negerinya hanya mampu menghasilkan sekitar 200 ribu ton saja. Sebagai informasi barga cumi-cumi di negara sakura ini kini mencapai US$ 2,5 per kilogram. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa peluang ekspor cumi-cumi masih terbuka lebar dan cukup menjanjikan.

Meski hasil ekspor cumi-cumi memperlibatkan tren yang terus membaik setiap tahunnya, bukan berarti selama ini tidak ada kendala yang dihadapi oleh para nelayan dalam berburu cumi-cumi. Hampir seluruh hasil ekspor cumi-cumi Indonesia saat ini masih mengandalkan hasil tangkap dari laut. Artinya pasokan nelayan sangat tergantung dari musim. Seperti misalnya di selat Alas (selat yang menghubungkan antara pulau Lombok dan sumbawa) pada periode Oktober – April merupakan masa panen cumi-cumi, tiap bulannya tangkapan para nelayan rata-rata bisa mencapai lebih dari 100 ton. Sebaliknya selama April – September merupakan saat paceklik cumi-cumi, pada saat paceklik para nelayan ini tentu saja pendapatannya akan menurun bahkan bisa saja terjadi sama sekali tidak ada pemasukan dari basil tangkap cumi-cumi ini.

Selain itu, keberadaan cumi-cumi ini juga sangat tergantung dari kondisi ekosistem terumbu karang. Terumbu karang bagi cumi-cumi merupakan tempat untuk bertelur dan mencari makanan. Sayangnya kondisi terumbu karang di perairan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan total luas terumbu karang Indonesia mencapai 60 ribu kilometer persegi, sementara yang kondisinya dianggap masih baik kurang dari 6%. Sisanya yang 94 % tentu saja sangat buruk keadaannya. Melihat fenomena ini maka bisa diprediksikan bahwa dalam beberapa tahun lagi populasi cumi-cumi akan mulai berkurang. Hal ini tentu saja juga akan mengakibatkan penurunan produksi ekspor cumi-cumi.

Populasi cumi-cumi semakin hari kian terancam keberadaanya, mengingat kini makin meningkat intensitas pencemaran dan kerusakan lingkungan di laut. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap ekosistem laut terutama cumi-cumi yang tergolong hewan yang amat peka terhadap pencemaran. Sedikit saja terjadi perbedaan kualitas air akanmenghindar dari kawasan perairan tersebut.

Melihat ancaman yang serius dari keberadaan cumi-cumi ini, Mulyono S. Baskoro, Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, melakukan penelitian untuk mengembangkan teknik budidaya cumi-cumi. Baskoro pun kini mulai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini dalam menemukan teknik membudidayakan cumi-cumi.

Dalam memulai penelitian budidaya cumi-cumi ini, Baskoro memang dihadang berbagai kendala. Diantaranya disebabkan oleh perilaku hewan itu sendiri yaitu belum mau dikawin paksa. Maksudnya hewan ini tetap saja hanya mau bertelur di habitat aslinya. Untuk mengatasi hal ini, Baskoro menemukan sebuah cara yang cukup cerdik, yakni dengan menyediakan tempat khusus untuk induk cumi-cumi bertelur yang disebut atraktor. Atraktor ini dipasang di habitat aslinya. Setelah sang induk bertelur baru telur-telur tersebut dipindahkan ke keramba jaring apung untuk ditetaskan. Lewat cara ini, Baskoro tidak memaksakan induk cumi-cumi untuk bertelur di luar habitatnya.

Atraktor ini sebenarnya merupakan alat sejenis rumpon dengan desain menyerupai bentuk seperti kelopak bunga. Berdiameter 120 cm dan tinggi 35 cm. Untuk membuat alat ini sangatlah mudah. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat alat ini pun gampang diperoleh di mana saja. Seperti kawat, tambang dan lembaran plastik hitam yang berfungsi untuk menutup bagian atas rumpon ini. “Untuk membuat satu unit atraktor hanya membutuhkan biaya Rp 300 ribu,” ujar Baskoro.

Pakannya Tak Terlalu Sulit
Alat ini memang dibuat sedemikian rupa agar cumi-cumi betah berada di dalam sarang buatan ini. Di dalam atraktor ini ditempatkan serabut-serabut dari tali agar mirip tumbuhan laut, tempat cumi-cumi biasa meletakkan telurnya. Di bagian atas atraktor ditutup dengan plastik hitam agar kondisi di dalam rumpon ini gelap tak tersentuh cahaya matahari. Ini sengaja dilakukan sebab biota laut yang satu ini memang tergolong hewan yang aktif di saat malam hari.

Meskipun terlihat sederhana namun untuk penelitian membuat sarang bagi induk cumi-cumi ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baskoro telah melakukan penelitian penggunaan atraktor ini sejak empat tahun yang lalu. Penelitian untuk budidaya cumi-cumi dan penemuan atraktor ini sejatinya memang dilakukan Baskoro untuk menolong para nelayan cumi-cumi. “Ide awal membuat alat ini adalah agar para nelayan tidak kekurangan pasokan cumi-cumi di saat musim paceklik,” ujarnya.

Untuk mempergunakan alat ini, Baskoro menganjurkan agar seyogyanya diletakkan di dasar perairan – sekitar 5 – 7 meter dari permukaan laut – yang memang telah di ketahui menjadi habitat cumi-cumi. Yakni di dasar perairan sekitar terumbu karang dengan kondisi perairan yang jernih dan arus yang tidak terlalu kuat. Biasanya bila melihat tempat yang “nyaman dan asyik” cumi-cumi dewasa akan segera kawin di dalam sarang buatan ini. Idealnya penempatan atraktor ini dilakukan pada saat musim panen cumi-cumi.

Setelah satu bulan diletakkan baru terlihat ada telur cumi-cumi yang diletakkan induknya di alat tersebut. Kemudian selanjutnya telur-telur itu dipindahkan ke lokasi jaring apung untuk ditetaskan. Lokasi jaring apung ini sebaiknya jangan terlalu jauh dengan lokasi penempatan atraktor. Hal ini, selain tidak efisien juga akan menambah resiko rusaknya telur saat dipindahkan. Sekitar dua minggu setelah dipindahkan baru telur-telur itu akan menetas. Empat bulan kemudian setelah di pelihara di jaring apung dengan padat penebaran sekitar 50 ekor per meter3 cumi-cumi ini siap dipanen.

Seekor induk cumi-cumi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 500 butir telur. Pembudidaya cumi-cumi seyogyanya memiliki 10 unit atraktor. Artinya saat masa panen cumi-cumi tiap bulannya mampu mengumpulkan telur cumi sebanyak 5000 buah. “Lewat teknik ini tingkat keberhasilan-nya hingga panen mencapai 85%,” kata Baskoro. Artinya saat panen dari 5000 telur itu akan menghasilkan 4250 ekor cumi-cumi dengan berat sekitar 425 kg. Di tingkat petani harga cumi-cumi saat ini mencapai sekitar Rp 22 ribu per kilogramnya. Jadi dengan produksi sebanyak itu pembudidaya akan mendapatkan pendapatan Rp 9,3 juta.

Mengenai pakan, cumi-cumi tergolong mudah dalam pemberian pakan. Hewan ini tergolong hewan pemakan daging (karnivora) oleh sebab itu semua biota laut yang bisa masuk mulutnya akan dimakan. Seperti kerang, ikan dan hewan laut lainnya. Untuk pemeliharaan juga tidak terlalu sulit. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada pakan yang tersisa di jaring apung. Ini akan mengundang hewan laut lainnya (ikan atau kepiting) untuk mengambil sisa pakan tersebut di dalam jaring. Jika ini terjadi ada kemungkinan jaring akan putus, akibatnya cumi-cumi bisa kabur ke laut bebas.

Satu lagi yang harus menjadi perhatian serius bagi pembudidaya cumi-cumi adalah soal pemilihan lokasi jaring apung, lokasinya harus jauh dari kegiatan industri dan keramaian. Sebab sedikit saja terjadi pencemaran di perairan tersebut maka sudah dapat dipastikan seluruh cumi-cumi peliharaannya akan mati sia-sia. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan pembudidaya itu sendiri.

Sumber :
Malajah Demersal Agustus 2006
http://ikanmania.wordpress.com

BUDIDAYAKAN CUMI-CUMI


REFERENSI :

Kabar gembira bagi para nelayan yang biasa menangkap cumi-cumi di laut. Kini, tak perlu lagi mengalami masa paceklik sejak ditemukannya teknik membudidayakan cumi-cumi.

Indonesia memang sudah terkenal dengan basil lautnya dan merupakan salah satu produsen komoditas perikanan yang memasok produksinya ke berbagai mancanegara. Salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang juga merupakan produk ekspor andalan negara kita adalah cumi-cumi. Itu ditandai dengan nilai ekspor binatang laut yang dikelompokkan ke dalam hewan yang memiliki kaki di kepala ini (keluarga chephalopoda) selama lima tahun terakhir terus meningkat.

Selama ini Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa merupakan negara tujuan utama ekspor biota laut yang memiliki nama latin lepiotenhis lessoniana. Di banyak negara cumi-cumi selain dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai jenis makanan, juga digunakan sebagai umpan untuk memancing ikan di laut.

Eskpor cumi-cumi yang pada tahun 2001 mencapai 13 ribu ton lebib (senilai US$ 22 ribu) nilai produksi ekspornya menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada tabun 2005. Tahun lalu jumlahnya berlipat menjadi 25 ribu ton lebih (senilai lebih dari US$ 42 ribu). Peningkatan nilai ekspor ini ternyata masih jauh lebih kecil dari kebutuhan cumi-cumi di pasar dunia.

Di Amerika tahun lalu saja membutuhkan 640 ribu ton cumi-cumi. Di saat yang sama Jepang membutuhkan 580 ribu ton, sementara produksi dalam negerinya hanya mampu menghasilkan sekitar 200 ribu ton saja. Sebagai informasi barga cumi-cumi di negara sakura ini kini mencapai US$ 2,5 per kilogram. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa peluang ekspor cumi-cumi masih terbuka lebar dan cukup menjanjikan.

Meski hasil ekspor cumi-cumi memperlibatkan tren yang terus membaik setiap tahunnya, bukan berarti selama ini tidak ada kendala yang dihadapi oleh para nelayan dalam berburu cumi-cumi. Hampir seluruh hasil ekspor cumi-cumi Indonesia saat ini masih mengandalkan hasil tangkap dari laut. Artinya pasokan nelayan sangat tergantung dari musim. Seperti misalnya di selat Alas (selat yang menghubungkan antara pulau Lombok dan sumbawa) pada periode Oktober – April merupakan masa panen cumi-cumi, tiap bulannya tangkapan para nelayan rata-rata bisa mencapai lebih dari 100 ton. Sebaliknya selama April – September merupakan saat paceklik cumi-cumi, pada saat paceklik para nelayan ini tentu saja pendapatannya akan menurun bahkan bisa saja terjadi sama sekali tidak ada pemasukan dari basil tangkap cumi-cumi ini.

Selain itu, keberadaan cumi-cumi ini juga sangat tergantung dari kondisi ekosistem terumbu karang. Terumbu karang bagi cumi-cumi merupakan tempat untuk bertelur dan mencari makanan. Sayangnya kondisi terumbu karang di perairan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan total luas terumbu karang Indonesia mencapai 60 ribu kilometer persegi, sementara yang kondisinya dianggap masih baik kurang dari 6%. Sisanya yang 94 % tentu saja sangat buruk keadaannya. Melihat fenomena ini maka bisa diprediksikan bahwa dalam beberapa tahun lagi populasi cumi-cumi akan mulai berkurang. Hal ini tentu saja juga akan mengakibatkan penurunan produksi ekspor cumi-cumi.

Populasi cumi-cumi semakin hari kian terancam keberadaanya, mengingat kini makin meningkat intensitas pencemaran dan kerusakan lingkungan di laut. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap ekosistem laut terutama cumi-cumi yang tergolong hewan yang amat peka terhadap pencemaran. Sedikit saja terjadi perbedaan kualitas air akanmenghindar dari kawasan perairan tersebut.

Melihat ancaman yang serius dari keberadaan cumi-cumi ini, Mulyono S. Baskoro, Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, melakukan penelitian untuk mengembangkan teknik budidaya cumi-cumi. Baskoro pun kini mulai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini dalam menemukan teknik membudidayakan cumi-cumi.

Dalam memulai penelitian budidaya cumi-cumi ini, Baskoro memang dihadang berbagai kendala. Diantaranya disebabkan oleh perilaku hewan itu sendiri yaitu belum mau dikawin paksa. Maksudnya hewan ini tetap saja hanya mau bertelur di habitat aslinya. Untuk mengatasi hal ini, Baskoro menemukan sebuah cara yang cukup cerdik, yakni dengan menyediakan tempat khusus untuk induk cumi-cumi bertelur yang disebut atraktor. Atraktor ini dipasang di habitat aslinya. Setelah sang induk bertelur baru telur-telur tersebut dipindahkan ke keramba jaring apung untuk ditetaskan. Lewat cara ini, Baskoro tidak memaksakan induk cumi-cumi untuk bertelur di luar habitatnya.

Atraktor ini sebenarnya merupakan alat sejenis rumpon dengan desain menyerupai bentuk seperti kelopak bunga. Berdiameter 120 cm dan tinggi 35 cm. Untuk membuat alat ini sangatlah mudah. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat alat ini pun gampang diperoleh di mana saja. Seperti kawat, tambang dan lembaran plastik hitam yang berfungsi untuk menutup bagian atas rumpon ini. “Untuk membuat satu unit atraktor hanya membutuhkan biaya Rp 300 ribu,” ujar Baskoro.

Pakannya Tak Terlalu Sulit
Alat ini memang dibuat sedemikian rupa agar cumi-cumi betah berada di dalam sarang buatan ini. Di dalam atraktor ini ditempatkan serabut-serabut dari tali agar mirip tumbuhan laut, tempat cumi-cumi biasa meletakkan telurnya. Di bagian atas atraktor ditutup dengan plastik hitam agar kondisi di dalam rumpon ini gelap tak tersentuh cahaya matahari. Ini sengaja dilakukan sebab biota laut yang satu ini memang tergolong hewan yang aktif di saat malam hari.

Meskipun terlihat sederhana namun untuk penelitian membuat sarang bagi induk cumi-cumi ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baskoro telah melakukan penelitian penggunaan atraktor ini sejak empat tahun yang lalu. Penelitian untuk budidaya cumi-cumi dan penemuan atraktor ini sejatinya memang dilakukan Baskoro untuk menolong para nelayan cumi-cumi. “Ide awal membuat alat ini adalah agar para nelayan tidak kekurangan pasokan cumi-cumi di saat musim paceklik,” ujarnya.

Untuk mempergunakan alat ini, Baskoro menganjurkan agar seyogyanya diletakkan di dasar perairan – sekitar 5 – 7 meter dari permukaan laut – yang memang telah di ketahui menjadi habitat cumi-cumi. Yakni di dasar perairan sekitar terumbu karang dengan kondisi perairan yang jernih dan arus yang tidak terlalu kuat. Biasanya bila melihat tempat yang “nyaman dan asyik” cumi-cumi dewasa akan segera kawin di dalam sarang buatan ini. Idealnya penempatan atraktor ini dilakukan pada saat musim panen cumi-cumi.

Setelah satu bulan diletakkan baru terlihat ada telur cumi-cumi yang diletakkan induknya di alat tersebut. Kemudian selanjutnya telur-telur itu dipindahkan ke lokasi jaring apung untuk ditetaskan. Lokasi jaring apung ini sebaiknya jangan terlalu jauh dengan lokasi penempatan atraktor. Hal ini, selain tidak efisien juga akan menambah resiko rusaknya telur saat dipindahkan. Sekitar dua minggu setelah dipindahkan baru telur-telur itu akan menetas. Empat bulan kemudian setelah di pelihara di jaring apung dengan padat penebaran sekitar 50 ekor per meter3 cumi-cumi ini siap dipanen.

Seekor induk cumi-cumi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 500 butir telur. Pembudidaya cumi-cumi seyogyanya memiliki 10 unit atraktor. Artinya saat masa panen cumi-cumi tiap bulannya mampu mengumpulkan telur cumi sebanyak 5000 buah. “Lewat teknik ini tingkat keberhasilan-nya hingga panen mencapai 85%,” kata Baskoro. Artinya saat panen dari 5000 telur itu akan menghasilkan 4250 ekor cumi-cumi dengan berat sekitar 425 kg. Di tingkat petani harga cumi-cumi saat ini mencapai sekitar Rp 22 ribu per kilogramnya. Jadi dengan produksi sebanyak itu pembudidaya akan mendapatkan pendapatan Rp 9,3 juta.

Mengenai pakan, cumi-cumi tergolong mudah dalam pemberian pakan. Hewan ini tergolong hewan pemakan daging (karnivora) oleh sebab itu semua biota laut yang bisa masuk mulutnya akan dimakan. Seperti kerang, ikan dan hewan laut lainnya. Untuk pemeliharaan juga tidak terlalu sulit. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada pakan yang tersisa di jaring apung. Ini akan mengundang hewan laut lainnya (ikan atau kepiting) untuk mengambil sisa pakan tersebut di dalam jaring. Jika ini terjadi ada kemungkinan jaring akan putus, akibatnya cumi-cumi bisa kabur ke laut bebas.

Satu lagi yang harus menjadi perhatian serius bagi pembudidaya cumi-cumi adalah soal pemilihan lokasi jaring apung, lokasinya harus jauh dari kegiatan industri dan keramaian. Sebab sedikit saja terjadi pencemaran di perairan tersebut maka sudah dapat dipastikan seluruh cumi-cumi peliharaannya akan mati sia-sia. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan pembudidaya itu sendiri.

Sumber :
Malajah Demersal Agustus 2006
http://ikanmania.wordpress.com