JURNAL: Penularan Koi Herpes Virus (KHV) Pada Ikan Koi (Cyprinus carpio) Dengan Berbagai Infeksi Buatan

ABSTRAK: Ikan koi adalah salah satu strain ikan mas yang merupakan jenis ikan hias. Warna dan coraknya sangat menarik, sehingga banyak diminati oleh pasar. Budidaya ikan koi sangat menjanjikan apabila ditekuni dengan baik, karena peluang pasar dari ikan ini terbuka lebar dan sangat diminati konsumen. Namun hal ini juga dipengaruhi oleh kualitas koi yang dihasilkan. Salah satu penyakit yang sangat mempengaruhi dan merugikan usaha budidaya ikan koi adalah Koi Herpes Virus (KHV). KHV sering menyerang budidaya koi dan ikan mas di Indonesia dan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi pembudidaya ikan, karena infeksi ini dapat menyebabkan kematian massal dan serentak pada ikan budidaya. 

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat mortalitas ikan koi pada berbagai penularan. Sehingga dengan mengetahui penularan yang paling berpengaruh, diharapkan para pembudidaya dapat melakukan tindakan pencegahan. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Terdapat empat perlakuan dalam penelitian ini, yaitu penularan KHV dengan cara injeksi sebagai kontrol positif, penularan melalui kohabitasi, penularan melalui pakan dan penularan melalui air media. Dilakukan pemeliharaan selama 14 hari dan diamati mortalitasnya. Parameter utama dari penelitian ini adalah mortalitas koi yang telah diberi perlakuan yang didukung dengan pemeriksaan PCR untuk mengetahui apakah koi tersebut mati karena terinfeksi KHV atau bukan. Parameter penunjang yang digunakan adalah kualitas air yang meliputi suhu, pH dan DO.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa koi yang diinfeksi KHV dengan cara injeksi (kontrol positif) memiliki tingkat mortalitas paling tinggi, yaitu 100%. Perlakuan penularan melalui kohabitasi dan air media juga menunjukkan tingkat mortalitas yang tinggi, yaitu 80% dan 95%. Sedangkan penularan melalui pakan menghasilkan tingkat mortalitas yang lebih rendah yaitu 35%. Dari hasil analisis DNA melalui uji PCR diketahui bahwa koi yang mati tersebut positif terinfeksi KHV. Kualitas air merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan. Suhu berkisar antara 25 - 28 ºC, pH berkisar antara 6,5 – 7 dan oksigen terlarut berkisar antara 8 – 10 promil. 

Keyword: Koi Herpes Virus (KHV), ikan koi infeksi buatan
teks lengkap..

JURNAL: Validasi Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) untuk Penentuan Kadar Residu Kloramfenikol dalam Jaringan Ikan Mas (Cyprinus carpio)

ABSTRAK:Telah dikembangkan metode penentuan kadar residu kloramfenikol dalam ikan mas (Cypri carpio) dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Pengembangan metode analisa dilakukan dengan menggunakan kolom Lichrosper C-18 5 μm (125 x 4 mm), laju alir 1-2 mL/menit, detektor ultraviolet pada 279 nm, dan fase gerak air:metanol (75:25).

Hasil penelitian menunjukkan waktu retensi kloramfenikol adalah 10 menit, kurva kalibrasinya menunjukkan hubungan yang linier dengan rentang konsentrasi 0-25 bpj, koefisien korelasi r = 0,9999, persamaan regresi y = 12387,35x + 1177,12, batas deteksi 0,24 bpj, batas kuantitasi 0,80 bpj, dan perolehan kembali adalah 85,54%.

Kata kunci: residu kloramfenikol, ikan mas, Cypri carpio, kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
teks lengkap..

JURNAL: Penapisan Awal Komponen Bioaktiv dari Kijing Taiwan (Anodonta woodiana Lea.) sebagai Senyawa Antioksidan

ABSTRAK: Kijing Taiwan meupakan kekerangan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit, membersihkan racun dalam tubuh, memperlancar sirkulasi darah, menambah energi, dan memperkuat daya tahan tubuh. Berbagai khasiat yang terdapat pada kijing Taiwan mendorong penelitian tentang kandungan bioaktif sebagai antioksidan yang terdapat di dalamnya. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan utama.

Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan jenis pelarut yang efektif dapat mengekstrak senyawa antioksidan kijing Taiwan. Metode ekstraksi yang dilakukan adalah ekstraksi bertingkat untuk memisahkan ekstrak berdasarkan sifat kepolarannya. Pengujian antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH). Penelitian utama dilakukan untuk menentukan waktu maserasi paling optimal untuk mendapatkan ekstrak dengan sifat antioksidan paling tinggi. Pengujian ini dilanjutkan dengan menghitung bilangan peroksida emulsi minyak dan uji fitokimia. Jenis pelarut terbaik berdasarkan penelitian pendahuluan adalah metanol nilai IC50 sebesar 201,52 ppm. Hasil uji ekstrak dengan pelarut n-heksan dan etil asetat menghasilkan senyawa yang tidak bersifat  sebagai antioksidan. Tahap penelitian utama dilakukan maserasi dengan pelarut metanol selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Hasil uji efek antioksidan paling tinggi diperoleh dari maserasi selama 72 jam dengan nilai IC50 sebesar 166,64 ppm. Pengujian penghitungan bilangan peroksida dilakukan menggunakan ekstrak dari hasil terbaik, yaitu maserasi kijing Taiwan dengan metanol selama 72 jam. Bilangan peroksida yang dihasilkan adalah sebesar 2,38 Meq/kg bahan. Bilangan peroksida yang terbentuk masih di bawah ambang batas ketengikan minyak, yaitu 3 Meq/kg bahan. Uji fitokimia terhadap ekstrak kijing Taiwan menunjukkan hasil positif pada uji alkaloid dan flavonoid, tetapi negatif pada uji steroid.

Kata kunci: antioksidan, ekstraksi bertingkat, kijing Taiwan
teks lengkap..

Ide Bisnis | Bisnis Sepatu Menembus Dua Krisis

Suprayitno adalah produsen sepatu kecil-kecilan di kawasan Perbanas, Kuningan, Jakarta Selatan. Siapa sangka usahanya itu masih dapat bertahan meski telah mengalami dua kali krisis ekonomi yang menghantam institusi keuangan raksasa di seluruh dunia.

Malah, krisis ekonomi global yang saat ini sedang terjadi dan hampir membuat negara adidaya seperti Amerika Serikat ambruk lantaran hampir semua bank besar miliknya ambruk, dinilai oleh Suprayitno tidak memberi dampak yang terlalu signifikan bagi usahanya.

Saat krisis 98, Suprayitno yang memulai bisnis sepatu sejak tahun 1984 ini mengaku kesulitan untuk bertahan dibisnis ini.

"Krisis sekarang tidak separah waktu tahun 1998. Waktu itu langsung jatuh. Dari biasanya 300-400 pasang per hari, pesanannya langsung menurun menjadi 2-3 pasang sehari. Walaupun sedikit kita tetap layani agar bisa bertahan," kenang Ayah dari lima anak ini saat berbincang dengan detikFinance.

Pengalaman tersebut, lanjut Suprayitno, telah membuat dirinya yakin kalau krisis ini bisa dilaluinya karena meskipun krisis namun pesanan sepatu terus mengalir.

"Sehari itu bisa dua puluh pasang, dan kadang ada borongan bisa sampai ratusan pasang. Yang penting kualitas kita tetap terjaga dan kita bisa memuaskan konsumen," ungkap  pria asal Surabaya ini.

Sudah puluhan tahun Suprayitno dan  menggantungkan hidupnya sebagai pengusaha sepatu buatan sendiri (home made shoes). Sejak tahun 1984, Suprayitno memulai usaha ini secara kebetulan."Pertamanya cuma iseng-iseng saja. Dulu saya dan istri saya jualan empek-empek dan asinan. Lalu ada tukang sepatu keliling yang menawarkan sepatu model injekan. Sepatu itu kemudian dipajang di warung, ternyata banyak mahasiswa yang beli dan pesan," ungkap suprayitno

Melihat potensi tersebut, maka insting bisnis bapak dari lima anak ini berjalan. Pada tahun 1986 Suprayitno memutuskan merekrut tenaga ahli untuk membuat sepatu itu sendiri, yang kemudian bersedia menerima pesanan sepatu dengan beragam model.

"Dua tahun kemudian saya mulai bikin sendiri. Saya cari tukang pola dan tukang jahit sepatu. Waktu itu modal awalnya cuma Rp 25 ribu," jelasnya.

Langkah Suprayitno ini kemudian diikuti oleh para pengrajin sepatu lainnya yang membangun toko tidak jauh dari toko kecil bernama Pernas miliknya. Di Jakarta, sepatu buatan para pengrajin ini dikenal dengan dengan sepatu Perbanas karena lokasi toko mereka yang berada di Kampus STIE Perbanas.

Awalnya pasar yang menjadi target para pengrajin tersebut adalah mahasiswa, namun saat ini sepatu buatan Suprayitno dan kawan-kawan juga diminati oleh karyawan. "Sekarang pembelinya tidak hanya mahasiswa tapi pegawai," katanya.

Suprayitno menjelaskan harga jual sepatu yang diproduksinya bervariatif. Untuk sepatu yang dibuat dari kulit berkisar Rp 110.000 hingga 600.000, sedangkan yang dibuat dari bahan sintetis harganya lebih murah yaitu sekitar Rp 75.000-225.000.

"Harganya tergantung bahan digunakan, model dan ukuran kaki. Semakin besar ukuran kaki kan bahan yang digunakan semakin banyak," ungkapnya.

Untuk mengurangi resiko dalam menjalan bisnisnya, Suprayitno mengaku sengaja tidak menyediakan stok sepatu di tokonya. Ia hanya melayani sepatu pesanan. "Habis kalau yang mencari stok, cuma satu dua orang."

Namun, suprayitno tidak memungkiri banyak juga pembeli yang tidak mengambil pesanannya dan ia mengaku kesulitan untuk menjualnya. "Habis bagaimana lagi dijual susah, model lain, warna lain, ukuran juga lain. Kemarin saja ada 5 karung sepatu yang tidak diambil, alhasil saya dibagi-bagikan saja ke pegawai saya," ungkapnya.

Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Kopi Luwak

Pemerintah boleh bangga dengan kehebatan Kopi Luwak Indonesia yang mampu 'menghipnotis' para pecinta kopi di seluruh dunia seperti di ajang World Expo Shanghai China 2010. Namun kondisi ini justru berlawanan dengan nasib para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat.

Setidaknya sepanjang tahun 2010 ini, para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat mengeluh sulitnya menjual produk kopi luwak-nya. Hal ini diakui oleh beberapa produsen kopi yang ditemui detikFinance di kawasan Way Mengaku Liwa beberapa waktu lalu.

Misalnya saja Sapri pemilik Ratu/Central Luwak yang mengaku saat ini kwintalan biji mentah (gelondongan) kopi luwaknya belum terjual padahal ia harus mendapatkan dana segar untuk memutar bisnis kopi luwaknya. Maklum saja, sekarang sudah bukan lagi musim kopi namun Sapri harus tetap memelihara puluhan ekor musang atau luwaknya dengan biaya pakan yang lumayan menguras kantong.

"Sekarang sebagian musang yang kurus-kurus  kita lepaskan ke hutan, yang saya punya hanya tinggal 30 ekor," katanya saat ditemui detikFinance di kediamannya, Lampung Barat, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan permasalahan utama yang saat ini melilit para produsen kopi luwak di Liwa adalah masalah sertifikasi keaslian produk kopi yang belum jelas juntrungannya. Berbagai upaya oleh produsen untuk meminta bantuan pemerintah termasuk pemda Lampung Barat dan Lampung masih nihil alias belum mendapat respon.

"Padahal kalau ada permintaan skala besar apalagi untuk ekspor. Pembeli mensyaratkan adanya sertifikasi standar internasional untuk memastikan keaslian kopi luwak," jelas Sapri.

Menurut Sapri, kondisi semacam ini tidak jarang rencana order dalam jumlah besar harus gagal di tengah jalan, cuma gara-gara alasan tidak ada sertifikat yang menjamin keaslian kopi luwak.

"Pemerintah yang diatas kita ini, selalu beralasan kami tidak berwenang. Mereka nggak kasih solusi soal sertifikasi ini," tegas Sapri.

Dikatakannya saat ini gaung kopi luwak yang pesonanya sudah begitu luar biasa di masyarakat justru tak menyentuh kesinambungan bisnis kopi luwak di Liwa. Seharusnya, lanjut Sapri, dengan pamor kopi luwak yang sudah terkenal seantero dunia, para produsen bisa merasakan geliat penjualan produk mereka.

"Gaungnya kopi luwak ini memang besar, tapi untuk urusan kesinambungan permintaannya belum terlihat," katanya.

Sehingga kata dia sekarang ini para produsen untuk meyakinkan pembeli mengenai keaslian produk kopi luwaknya dengan cara membawa pembeli ke tempat penangkaran dan menyaksikan langsung proses produksinya.

"Akhirnya kalau mau nunjukin keaslian, ya pantat si luwak itu lah sebagai sertifikatnya," ucapnya tertawa.

Selain masalah sertifikat keaslian, para produsen kopi luwak juga sempat dihadapkan soal halal atau haram dari produk kopi luwak. Meski sekarang ini sudah terjawab sebagai produk halal, sebelumnya penjualan kopi luwak sempat merosot karena isu ini.

Bahkan masalah dikotomi antara kopi luwak hasil penangkaran dengan kopi luwak alam bebas masih saja terjadi. Menurutnya sebagai produsen kopi luwak, produk kopi luwak hasil penangkaran justru lebih terjamin kebersihannya.

Sedangkan kopi luwak hasil pengumpulan kotoran luwak di alam bebas  justru masih diragukan kebersihannya, maklum saja di alam bebas luwak biasanya memakan segala macam makanan termasuk bangkai-bangkai binatang.

"Menurut kami kopi luwak liar rasanya tidak jelas. Para pengumpul petani yang misalnya seminggu hanya dapat 1 Kg, lalu kalau ada permintaan 10 Kg ya terpaksa nyadur (memalsukan)," katanya.

Sapri akhirnya berkesimpulan bahwa pasar kopi luwak saat ini benar-benar masih gelap dari sisi kontinyuitas pembeli skala besar, soal standar keaslian, termasuk perdebatan soal kualitas  kopi luwak penangkaran dengan kopi luwak hasil penangkaran.

Bahkan soal harga pun mengalami hal yang sama, di Liwa sendiri harga kopi luwak dihargai sangat variatif,  ada produsen yang menjual Rp 500.000 per Kg, ada juga  Rp 600-800.000 per kg, atau bahkan ada yang sampai Rp 1 juta per Kg.

"Jadi kopi luwak ini pasarnya gelap sehitam kopinya," ujarnya tertawa.

Hal-hal semacam ini akhirnya berimbas pada para produsen kopi luwak skala kecil di Liwa  yang memiliki penangkaran luwak dibawah 5 ekor. Tak jarang para produsen skala kecil ini menutup usahanya alias bangkrut dan menjual luwak-luwaknya ke produsen yang lebih besar termasuk dirinya.

"Kalau tahun kemarin itu yang coba-coba (bisnis kopi luwak) saya hitung-hitung lebih dari 30 orang, sekarang gulung tikar, yang efektif hanya kami bertiga (Sapri, Gunawan dan Sukardi)," katanya.

Ia mengakui saat ini komoditas kopi luwak masih menjadi konsumsi kalangan tertentu saja karena harganya yang mahal, sehingga tak mengherankan dengan pangsanya kecil namun porsinya diperebutkan banyak produsen, hasilnya nasib produsen kopi luwak seperti sekarang ini.

Sama halnya dengan Sapri, Sukardi salah satu produsen kopi luwak terbesar di kawasan Liwa dengan bendera Kupi Musong mengatakan hampir setiap hari ada 3-5 orang tamu yang datang ke rumahnya yang tertarik dengan kopi luwak.

Bahkan sudah banyak sekali sampel-sampel kopi luwaknya yang sudah ia kirim ke calon pembeli, namun lagi-lagi pembeli skala besar dengan itensitas kontinyu tak kunjung datang.

Sukardi  juga mengaku masih belum bisa menjawab adanya fenomena bahwa begitu termasyurnya kopi luwak namun yang membeli dalam skala besar dan terus menerus masih nihil. Sukardi menuturkan ia menduga hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya spekulan kopi, yang menginginkan kopi luwak tetap eksklusif di pasaran.

"Kopi luwak ini masih langka, hanya daerah tertentu saja yang memiliki kopi luwak," kata Sukardi.

Ia berharap ada upaya penelitian terhadap produk kopi luwak Lampung Barat terutama dari sisi kualitas bahkan khasiat obat yang selama ini belum diteliti secara ilmiah. Jika  ini dilakukan akan semakin menambah kepercayaan pasar terhadap kopi luwak.

"Misalnya lebih bagus mana kopi luwak kandang, atau kopi luwak hasil hutan, itu yang belum diuji," katanya.

Setali tiga uang dengan Sapri, ia juga mengharapkan agar pemerintah membuat sertifikasi keaslian kopi luwak. Dengan demikian hal ini bisa menjawab adanya keraguan pasar dan menjamin kelangsungan bisnis produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat.

"Sekarang ini saya bingung banyak orang mencari tapi nggak ada yang membeli dalam jumlah besar dan kontinyu," katanya.

Sukardi pun menuturkan ada saja kemungkinan yang terjadi dari masalah pemasaran kopi luwak saat ini. Maklum saja pemasaran kopi luwak masih terbatas dan rentan mengundang spekulan kopi luwak terutama dari para broker.

"Apa kualitasnya rendah? tapi sampai sekarang nggak ada yang komplain. Apa terlalu banyak broker, apa permainan orang kopi. Sekarang kan pemain kopi luwak banyak, biar ekslusif kopi dibuang di laut habis semua biar mahal lagi. Kan dari ceritanya pemain kopi nggak banyak," katanya.

Namun terlepas dari itu semua, ia menambahkan saat ini kemampuan produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat bisa mencapai 2 ton kopi per bulan ditopang oleh 20-an produsen kopi luwak. Jika proses pemasaran berjalan dan ditopang oleh permintaan yang kontinyu, maka kopi luwak di Lampung Barat akan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.

Sukardi yang memiliki 40 luwak di penangkaran rumahnya harus berpuas diri dengan hanya menjual ritelan kopi bubuk dengan omset hanya Rp 40 juta per bulan. Sementara produk kopi mentah dalam bentuk kotoran luwak (brenjelan) masih banyak tersisa hingga 3 kwintal sampai saat ini.

"Untuk jualan kopi bubuk saya ada pembeli dari Taiwan yang rutin membeli 10 Kg per minggu," katanya.

Ia juga mengeluhkan biaya operasional pemeliharaan luwak yang tinggi, maklum saja saat ini sudah tak musim kopi. Sementara penjualan kopi setiap hari belum menentu.

"Pengeluaran untuk 40 ekor musang per harinya sangat besar termasuk makanannya dan perawatannya," katanya.

Sukardi menuturkan peran pemerintah terutama pemerintah daerah masih sebatas membantu dari sisi promosi kopi luwak, dengan mengikutsertakan para produsen di ajang pameran.

"Kalau pemasaran dan pemodalan  belum," katanya

Sukardi menuturkan dengan segala macam persoalannya, intinya saat ini produsen kopi luwak Lampung Barat masih kesulitan menjual produknya. Bahkan berimbas pada upaya banting harga dari para produsen kopi luwak agar tetap menjaga perputaran uangnya (cashflow).

"Sekarang ini kita kasih harga mahal susah, kasih harga murah orang ragu dan mencibir," katanya.

Seperti diketahui booming produksi kopi Luwak di Liwa Lampung Barat setidaknya sudah mulai ramai pada tahun 2007. Pada waktu itu kopi Luwak mulai dikembangkan secara intensif dengan pola penangkaran.

Kopi luwak itu sendiri telah dikenal pada zaman kolonial Belanda sampai era tahun 1950-an. Pada masa itu sudah diketahui bahwa Luwak merupakan binatang yang gemar memakan buah kopi yang sudah matang dan para petani sering memunguti kotoran buah kopi luwak di alam bebas.

Petani memiliki keyakinan kopi-kopi tersebut merupakan biji kopi terbaik dan sudah melalui proses fermentasi di dalam lambung luwak secara alami sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas.


Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Budidaya Rumput Laut


Mungkin tidak banyak yang tahu, Indonesia adalah negara penghasil rumput laut nomor satu di dunia. Luas daerah pesisir pantai di tanah air merupakan lahan subur untuk perkembangan rumput laut.

Sayangnya, rumput laut Indonesia itu lebih diminati oleh orang-orang di luar negeri ketimbang dalam negeri. Hal itu terlihat dari banyaknya varian olahan rumput laut mulai dari untuk masakan khas Jepang seperti Sushi, bahan baku kertas di Korea Selatan dan bahan baku kosmetik di sejumlah negara.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Petani & Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli), Arman Arfah dalam kurun waktu tahun 2009, produksi rumput laut nasional mencapai jumlah 160 ribu ton, 45 persen diantaranya disuplai dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

"Dengan luas itu, setiap tahun, para petani rumput laut bisa memanen sebanyak 5 sampai 6 kali, dari jenis Gracilaria 80 persen pasarnya di tanah air dan jenis Eucemacottoni, 80 persen untuk pasar luar negeri," ungkap Arman yang ditemui detikFinance dalam jumpa persnya terkait rencana pelaksanaan makan rumput laut massal, pada 29-30 Oktober 2010 mendatang, di kafe Gigi, jalan Pengayoman, Makassar.

Setiap 1 hektar hamparan laut pesisir yang menjadi tempat budidaya rumput laut, petaninya bisa memanen sekitar 1 ton. Hasil olahan rumput laut jenis Glacilaria ini menjadi bahan baku untuk makanan dan minuman, sementara jenis Eucemacottoni, bisa pula menjadi bahan baku kosmetik, obat-obatan dan kertas.

Arman menyebutkan, rumput laut jenis Glacilaria di bursa komoditi nasional, harganya bisa mencapai Rp 6 ribu sampai Rp 8 ribu perkilogram. Sedangkan jenis Eucemacottoni harganya rata-rata Rp 11 ribu sampai Rp 13 ribu perkilogram.

Namun demikian, Aspperli menyayangkan komoditi ini masih jauh dari perhatian pemerintah. Sekitar 15 ribu petani rumput laut di tanah air, lanjut Arman, belum bisa sepenuhnya lepas dari jerat utang para lintah darat dan pedagang tengkulak. Sektor perbankan tanah air belum melirik potensi penghasilan petani rumput laut. Selain itu, penyuluhan tata cara mengolah rumput laut yang berkualitas tinggi juga harus diperhatikan oleh pemerintah.

Aspperli berharap, lanjut Arman, komoditi rumput laut mampu menyokong kemandirian ekonomi bangsa, dengan membudidayakan, memproduksi dan mengelola sendiri hasil rumput laut hingga bisa dikonsumsi masyarakat Indonesia. Selain dapat menyejahterakan petani rumput laut, jika tingkat konsumsi rumput laut masyarakat sudah meningkat, lapangan kerja akan terbuka lebar di sektor industri pengolahan rumput laut.

"Kalau pemerintah masih menganggap hanya persoalan surplus beras yang perlu diperhatikan, sementara potensi rumput laut dikesampingkan, biar Aspperli yang bertugas mengkampanyekan pada masyarakat agar gemar mengonsumsi rumput laut," pungkas Arman.


Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Budidaya Ikan Mas Koki Yang Membawa Hoki

Ikan mas koki merupakan salah satu jenis ikan hias yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Dengan bentuk badannya yang khas, yakni bulat, sirip lebar, dan beberapa ada yang memiliki jambul, kita bisa dengan mudah mengenalinya. Ikan mas koki ini banyak dikembangkan di negara Cina dan Jepang, namun ada juga yang berasal dari Belanda, yakni ikan mas koki jenis Oranda yang nama aslinya adalah Hollanda. Untuk wilayah Indonesia sendiri, ikan mas koki ini banyak dibudidayakan di Kabupaten Magelang. Sedangkan untuk wilayah Yogyakarta, Tim BinisUKM sempat mengunjungi tempat budidaya ikan mas koki milik Sunaryadi. Bapak berusia 38 tahun ini sudah 4 tahun membudidayakan ikan mas koki di rumahnya. Bertempat di Gedungkiwo MJ 1/1071 RT. 58 RW. 12 Mantrijeron Yogyakarta, Yadi-panggilan akrabnya-memiliki koleksi 5 jenis ikan mas koki, yakni jenis Mutiara, Ranchu, Butterfly, Oranda, dan Ryukin.



Sejak tahun 1998, Yadi memang sudah berkecimpung dalam usaha budidaya ikan hias. Ia lebih memilih budidaya ikan hias karena biaya operasionalnya yang lebih ringan dari pada budidaya ikan  konsumsi. Pada tahun 1998, ia membudidayakan ikan hias jenis Beta atau lebih dikenal dengan ikan cupang. Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai menambah koleksi ikan hiasnya dengan memelihara ikan guppy selain ikan beta. Pada tahun 2006, ia pun mulai mencoba membudidayakan ikan mas koki. Awalnya ia belajar membudidayakan ikan mas koki dari rekan-rekannya yang biasa mengadakan kontes ikan mas koki di wilayah Yogyakarta. Dari situ, ia mendapat banyak pengetahuan tentang ikan mas koki, ditambah pengalamannya memperlakukan beberapa jenis ikan hias, ia pun berani mencoba membudidayakan ikan mas koki yang menurut banyak orang sulit untuk dibudidayakan.
Berkat ketekunan dan kesabarannya, ia pun bisa membudidayakan ikan mas koki tersebut, bahkan ikan mas koki yang ia miliki pertama kali masih hidup hingga sekarang. Langkah yang ia lakukan selanjutnya adalah memasarkan ikan mas koki hasil budidayanya. Awalnya ia menawarkan ke pedagang-pedagang ikan hias, dan diakuinya itu sebagai satu perjuangan yang biasa ketika memulai usaha. Hingga akhirnya saat ini ia justru kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. Selain lahan untuk budidaya yang masih kurang, pembudidaya ikan mas koki di Yogyakarta juga masih sangat jarang, tak ayal banyak pesanan yang terpaksa ditunda, dan beberapa pelanggan setianya biasanya pun bersabar untuk mendapatkan ikan mas koki milik bapak satu putra ini.
Kini, di rumahnya yang sederhana, Yadi biasa menerima orderan ikan mas koki untuk para pedagang ikan dengan kisaran order 500-1.000 ekor. Selain itu, ia juga memiliki pelanggan dari kalangan penggemar ikan mas koki ini. Untuk kalangan penggemar, biasanya Yadi menjual ikan mas koki miliknya yang berkualitas Great A atau kualitas terbaik dengan rata-rata harga 100 ribu rupiah per ekor. Untuk ikan mas koki dengan kualifikasi Great A ini biasanya memang digunakan untuk kontes, bahkan ia pernah menjual ikan mas kokinya yang menang kontes dengan harga 1 juta rupiah. Karena terkendala modal untuk mengembangkan usahanya, saat ini Yadi mengaku baru bisa mendapatkan omset rata-rata 2 juta rupiah per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 1,5 juta rupiah. Perawatan yang tidak terlalu rumit, tingkat reproduksi yang tinggi, dan biaya operasional yang rendah inilah yang menjadi alasan utama Yadi untuk focus mengembangkan usaha ikan  mas koki miliknya, meskipun ia masih membudidayakan ikan hias jenis yang lain, namun diakui bahwa ikan mas koki ini lebih menjanjikan. Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Komponen Bangunan Rumah Sederhana

Sebuah istilah yang sudah akrab ditelinga kita"Tak Kenal Maka Tak Sayang" tapi untuk tulisan ini barang kali yang lebih tepat adalah"Tak Kenal Maka Tak Paham".
Secara singkat akan kami kenalkan komponen utama struktur banguanan sederhana atau rumah. Sekali lagi komponen struktur bangunan. Komponen struktur bangunan merupakan komponen utama yang menopang bangunan tersebut terhadap gaya-gaya yang bekerja sehingga bangunan tadi tetap berdiri sesuai dengan peruntukanya. Diantara gaya utama (atau bisa juga disebut beban)adalah gaya grafitasi dan gaya gempa. Disini kita membatasi hanya 4 komponen utama struktur bagunan, jelas disana masih terdapat banyak komponen struktur bangunan lainnya. Tujuanya adalah menyamakan presepsi tentang beberapa pembahasan yang akan kami tuliskan ke depan (biiidznillah). Karna tulisan ini ditujukan untuk siapa saja dan kami berusaha membawakanya dengan bahasa yang mudah dengan maksud supaya semua orang paham bahkan seorang yang sangat awam tentang hal-hal yang berhubugan dengan konstruksi.

Komponen tersebut adalah (lihat gambar 1)
1.Sloof  (ditujukan oleh warna merah)
2.Kolom (ditunjukan warna abu-abu tua)
3.Balok (warna hijau)
4.Plat lantai (warna biru)


Catatan : Boleh jadi penyebutan berbeda-beda tergantung oleh tempat dan siapa yang menyebutnya. Akan tetapi kita sepakati dalam tulisan terutama di blog RumahdanGriya penamaanya seperti di atas. Bahkan istilah ini sudah baku dalam dunia konstruksi

Mantan Bupati Indramayu Tersangka Korupsi

Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Bupati Indramayu Irianto M. S. Syafiuddin sebagai tersangka tindak pidana korupsi terkait dengan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Indramayu pada 2006 lalu.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Babul Khoir Harahap, Rabu (5/1) mengatakan, sebelum menetapkan Irianto sebagai tersangka, Kejagung telah menetapkan tiga orang tersangka terkait pembebasan lahan untuk pembangunan PLTU tersebut.

Ketiga orang itu adalah Agung Rijoto sebagai pemilik hak guna usaha Nomor 1/1999 selaku kuasa PT Wihata Karya Agung, mantan Sekretaris Panitia Pengadaan Tanah Untuk Negara (P2TUN) Kbupaten Indramayu Daddy Haryadi dan mantan Wakil Ketua P2TUN Moh. Ichwan.

Babul menambahkan, Irianto MS Syafiuddin atau akrab dipanggil Yance yang kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, ditetapkan tersangka melalui surat perintah penyidikan direktur penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejagung Nomor Print-205/F.2/Fd.1/12/2010 tanggal 13 Desember 2010, dengan dugaan korupsi pembebasan lahan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) I Indramayu yang merugikan keuangan negara Rp42 miliar.

Menurut Babul, Irianto ditetapkan sebagai tersangka karena saat pengerjaan proyek itu, dirinya menjabat sebagai Bupati Indramayu. Yance terancam hukuman 20 tahun sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 yang diperbaharui dengan UU Nomor 21 tahun 2000 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Di Pengadilan Negeri Indramayu sendiri sudah melakukan sidang terhadap Daddy sejak 13 Desember tahun lalu dalam proyek pembangunan PLTU 1 tersebut. Daddy dalam dakwaannya diduga melakukan mark-up dalam pengadaan tanah untuk projek PLTU senilai Rp42 miliar. Daddy dijerat dengan Pasal 2 dan 3 dan 55 Undang-Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. (bisnis.com/Ant)

Kementerian Agama Kabupaten Indramayu Konsisten Laksanakan Lima Program

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, akan tetap konsisten menjunjung tinggi lima program strategis kementerian ini. Selain itu, juga akan memaksimalkan pembinaan secara internal dan eksternal yang merujuk pada Peraturan Pemerintah No 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Hal itu diutarakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu H Yayat Hidayat dalam wawancara dengan Suara Karya di ruang kerjanya kemarin. H Yayat Hidayat menempati posisi Kepala Kemenag Kabupaten Indramayu sejak 27 Desember 2010 setelah sebelumnya menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama Cianjur.

Menurut Yayat Hidayat, lima program strategis tersebut yang pertama adalah meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan beragama. Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Ketiga, peningkatan kerukunan umat beragama. Keempat, untuk peningkatan pelayanan haji. Kelima, untuk menata kelola pemerintahan yang baik.

Yayat juga mengutarakan perlunya pembinaan secara internal semaksimal mungkin tentang disiplin kerja pegawai Kementerian Agama yang ia pimpin. Juga peningkatan pemahaman dan pemaksimalan tugas pokok dan fungsi para pegawai. Sedangkan untuk pembinaan secara eksternal, yaitu untuk meningkatkan kerja sama dengan instansi lintas sektoral, terutama untuk ikut mengawal program agama dan keagaman yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Sementara itu, Kasi Penamas (Pendidikan Agama pada Masyarakat Pemberdayaan Masjid) Kantor Kementerian Agama Indramayu H Abu Hanifah mengutarakan bahwa pelaksanaan Hari Amal Bakti (HAB) tahun 2011 telah dilakukan awal tahun. (suarakarya)

MENGENAL BIOLOGI, PERKEMBANGAN DAN EKOLOGI BENIH


Kemampuan menghasilkan biji untuk regenerasi telah berkembang sejak masa gymnosperma kuno sekitar 300 juta tahun yang lalu. Tumbuhan berbiji memiliki kelebihan dibandingkan dengan tumbuhan bersepora yang primitive, dimana calon lembaganya ditutupi oleh lapisan pelindung dan dilengkapi dengan cadangan makanan yang akan digunakan pada saat perumbuhan awal anak muda. Perkembangan angiosperma (Sekitar 100 juta tahun yang lalu) yang memiliki pelindung tambahan pada perkembangan embrio, lebih menjamin keberhasilan tumbuhan berbiji sebagai pembentuk kelompok utama pada lingkungannya (Bold et All1980). Namun demikian jumlah tumbuhan bersepora seperti jenis paku-pakuan dan lumut masih sangat besar, meskipun memiliki ukuran fisik yang relative kecil. Selain pohon paku-pakuan, yang memiliki peran sangat kecil dalam bidang kehutanan, semua tumbuhan kehutanan, semua tumbuhan hutan adalah tumbuhan berbiji.
Peran utama benih adalah melindungi embrio yang akan tumbuh pada satu lingkungan yang baru dan menyediakan bahan makanan bagi embrio selama masa perkecambanhan dan pemapanan. Karena tumbuhan berbiji tumbuh pada kondisi lingkungan yang sangat beragam dan berinteraksi dengan organisme hidup lainnya, maka selama lebih dari 1000 tahun yang mengalami proses evolusi menjadi banyak jenis dan dengan bentuk biji yang beragam. Mulai dari benih anggrek dan Eucalyptus yang sangat kecil dengan hitungan gram sampai pada jenis kelapa raksasa (Lodoicea maldivica) dengan berat beberapa kilogram; dari yang lunak, benih lembutseperti pada jenis-jenis mangrove yang mirip bahan vegetatif sampai dengan benih yang sangat keras seperti pada beberapa jenis Loguminosae yang tahan terhadap kekeringan, api dan tekanan mekanis serta dapat tetap hidup selama berabad-abad.
Istilah biji berlaku pada suatu oval yang telah membesar dan berkembang, biasanya setelah mengalami perubahan. Penanganan benih dimulai pada saat benih atau buah diambil dari pohon atau dikumpulkan diatas tanah, pada saat benih tersebut telah atau hamper masak, namun banyak pengumpulan benih tersebut telah atau hamper masak. Naun, banyak pengumpulan benih dilakukan sebelum benih masak yang akan berpengaruh terhadap produksi, kualitas dan penanganan benih.
Selanjutnya, beberapa tipe benih memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan dimana benih tersebut tumbuh, dan biasanya penanganannya tidak sulit. Beberapa tipe benih lainnya telah beradaptasi terhadap lingkungan tertentu, sehingga rentan terhadap perubahan-perubahan fisik dalam penanganan, mulai dari pengumpulan sampai dengan penaburan.
Dengan jenis-jenis dengan masa berbuah yang tidak menentu, benih yang sangat rentan terhadap pemangsa, mudah busuk, sulit diekstraksi, berkecambanh selama masa penyimpanan atau berbagai kesulitan lain dalam penanganannya, diperlukan pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan faktortersebut. Beberapa masalah praktis dalam penanganan benih, sangat mudah dipecahkan apabila diketahui bahwa benih merupakan unit regenerasi yang mengalami proses evolusi sebagai respons terhadap lingkungan.


KNOW BIOLOGY, DEVELOPMENT AND ECOLOGY SEED
The ability to produce seed for regeneration has evolved since the days of ancient gymnosperms about 300 million years ago. Plant seeds has advantages compared with the primitive bersepora plant, where the candidate institution is covered by a protective coating and comes with a reserve of food which will be used at the time of initial change young children. The development of angiosperms (About 100 million years ago) who have more protection in embryonic development, better ensure the success of seed plants as forming the main group on the environment (Bold et All1980). However, the number of plant species bersepora like ferns and mosses are still very large, despite its relatively small physical size. In addition to tree ferns, which has a very small role in the field of forestry, all forestry plants, all forest plants are seed plants.
The primary role is to protect the seed embryo that would grow in a new environment and provide food for the embryo during the germination. Because the seed plants growing on a wide range of environmental conditions and interact with other living organisms, so for more than 1000 years old who experienced the process of evolution into many types and with varying forms of seed. Starting from seed orchid and Eucalyptus are very small with a count of gram to the giant coconut type (Lodoicea maldivica) weighing several kilograms, from the soft, seed such soft on mangrove species that are similar vegetative material until the seed is very hard as in some Loguminosae types that are resistant to drought, fire and mechanical pressure and can stay alive for centuries.
The term applies to an oval seeds that have been enlarged and developed, usually after experiencing a change. Seed handling begins when the seed or fruit taken from trees or gathered on the ground, when the seeds are already or nearly ripe, but a lot of seed collection have been or nearly ripe. But, many seed collection carried out before the ripe seeds that will affect the production, quality and handling of seed.
Furthermore, some types of seeds have a high tolerance to the environment in which those seeds grow, and usually not difficult to handle. Some other seed types have been adapted to specific environments, so vulnerable to physical changes in the handling, from collection to dissemination.
With the types of the fruiting period of uncertainty, the seeds are very vulnerable to predators, perishable, difficult extraction, germinate during storage or other difficulties in handling, it takes understanding on matters relating to these factors. Some practical problems in the handling of seed, is very easily solved if it is known that the seed is a regeneration unit that experienced the process of evolution in response to the environment.

Mengenal Sejarah Evolusi Harimau



Secara geografis, penyebaran harimau nyaris menjangkau seluruh asia, yaitu dari Turki timur sampai laut Okhotsk. Dalam kurun waktu 50 tahun belakangan ini, wilayah hidup mereka telah banyak berkurang. Namun, harimau masih dapat dijumpai di beberapa macam jenis hutan termasuk hutan kering (dry deciduous), Hutan lembab (mouist deciduous), hutna semi hijau ( semi evergreen), hutan hijau basah ( wet evergreen), sungai, rawa-rawa dan hutan bakau. Mereka juga dapat dijumpai di hutan-hutan bertanaman coniferous di East Rusia, di habitat berumput tinggi di Himalaya Selatan, serta dihutan-hutan tropis yang ada di Sumatra dan Malaysia. Harimau-harimau tersebut menunjukan toleransi yang sama terhadap variasi ketinggian, temperature dan curah hujan.
Harimau yang dijumpai di beberapa jenis hutan dan iklim ini menunjukan bahwa habitat pada hakikatnya bukanlah element penting dalam sejarah evolusi harimau. Namun keragaman garis tigris dari macan Phantera ini memungkinkan besar karena mereka mengikuti penyebaran cervid dan bovid di Asia tenggara pada jaman Pleistocence. (flerov 1960; Geist 1971). Sebagaimana halnya dengan evolusi ungulate berukuran besar (Misalnya: Axis, Rusa, Cervus, Bos) yang menciptakan Wilayah baru bagi hewan pemangsa berbadan besar yang hidup di pinggir hutan.
Pleistocence merupakan jaman es (glaciation) dan iklimnya berfluktuas secara ekstrim, sedikitnya empat masa glacial muncul berseling dengan masa interglacial yang lebih hangat. Suhu dingin yang berkaitan dengan jaman es diperkirakan palign berat menimpa daerah garis lintang utara; sedangkan didaerah tropis, efek yang paling jelas adalah perubahan tinggi permukaan air laut.
Pada masa glacial air membeku seperti es, permukaan laut menurun sehingga menghasilkan daratan kering baru yang luas. Pada saat iklim menjadi hangat, lapisan-lapisan es meleleh dan menaikan permukaan air laut dan kembali menaikan jembatan darat. Di asia tenggara pulau-pulau yang berada di dasar Selat sunda – antara lain: Sumatra, Jawa dan Borneo-secara bergantian tergabung karena es yang terbentuk kemudian terpisah lagi saat es meleleh. Bagi binatang mamalia besar; Pleistocence merupakan jaman yang penuh dengan kekacauan. Tingkat spesiasi dan kepunahan meningkat empat kali lipat dibanding dengan jaman tersier, dan bebebrapa grup mamalia mengalami ledakan penyebaran (kurten 1971; Geist 1983)
Rusa berkembang biak dengan baik selama jaman Pleistocence. Dari pusat perkembangan mereka di Asia jenis keturunan cervids yang hidup di hutan dan berbadan kecil ini mirip dengan muntjac yang ada sekarang, mereka menyebar dan menempati berbagai jenis wilayah. Ukuran tubuh dan kompleksitas anler meningkat sebagai cervids yang dibedakan kedalam habitat di pinggiran hutan dan padang rumput. Gigi geraham Hypsodont yang panjang pada hewan Chital, Babi rusa (Hogdeer) dan Barangsingha, berkembang pada saat spesies-spesies ini berubah menjadi hewan pemakan rumput di pinggiran hutan, atau lebih di khususkan lagi pemakan rumput di savana dan tanah berawa-rawa (Geist, 1983), meskipun demikian pada masa sekarang ini, sebagian besar dari 14 spesies cervid atau lebih membawa sifat bawaan turunan untuk tetap tinggal di hutan dan mendiami habitat hutan padat, daerah hutan terbuka atau pinggiran hutan.
Keluarga Bovid Juga dibedakan menjadi aneka jenis spesies yang luas di benua Asia saja, terdapat sekitar 50 genera. Awal masa Pleistocence ditandai dengan munculnya bovine, lembu, bison dan buffalo (banteng) (Kurten, 1971). Dengan mendiami habitat yang lebih terbuka, bovids ini berkembang dengan memiliki gigi yang besar (High Crowned teeth), yag mana lebih kuat untuk mengunyah rumput silika  (silica-laden-grasses). Kelompok lembu liar di masa kini berjumlah tiga spesies yang dapat dijumpai di india dan asia tenggara. Banteng adalah hewan yang hidup di hutan kering terbuka dan lapangan yang ada di tengah hutan (glades); kouprey; sekarang hampir puna, ia hanya dapat dijumpai di hutan kering terbuka, sedangkan Gaur lebih menyukai habitat hutan yang lebih padat, mereka keluar dimalam hari untuk memakan rumput di tanah terbuka dan juga dilapangan yang ada di tengah hutan (glades) (Wharton 1957)
Penelitian terhadap penyebaran cervid di Asia Selatan menunjukan bahwa curah hujan tahunan yang kurang dari 500 mm adalah kondisi yang secara umum terlalu kering untuk sebagian cervid. Pada keragaman dan jumlah Cervid akan berkurang jika kondisi alamnya terlalu basah. Dalam hutan tropis di Asia Selatan terrestrial biomass hewan berkuku (unglate) akan berkembang jika curah hujan tahunan mencapai sekitar 1900 mm. Sedangkan jika curah hujannya diatas 1900 mm/tahun maka akan memutuskan hubungan positif antara curah hujan dengan unglate biomass. Hutan tropis sejati memungkinkan produktifitas primer yang kecil pada tingkat dasar dan biomassa binatang mamalia didominasi oleh aboral herbivores seperti hewan primates. Sebagai contoh Taman Nasional Gunung Lauser di Sumatra yang secara tipikal menerima curah hujan lebih dari 2000 mm selama setahun, memiliki enam spesies primata namun hanya sedikit dihuni oleh unglate (contoh: sambar, babi hutan, muntjac) yang muncul dengan tingkat kepadatan yang sangat rendah.
Daerah yang memiliki jumlah unglate biomass terbanyak di Asia selatan adalah daerah dimana tanah rumput dan hutan membentuk suatu mozaik dan interdigitasi beberapa jenis tumbuhan yang berbeda sehingga mendukung kekayaan komunitas unglate. Perubahan aliran sungai, peristiwa kebakaran dan gangguan antrophogenic lain sangat mempengaruhi perkembangan jumlah habitat pinggiran yang disukai beberapa spesies unglate. Demikian pula dengan jumlah populasi harimau yang sangat tergantung pada jumlah biomasa mangsa yang tersedia.



History Evolution Tiger
Geographically, the spread of the tiger almost reach throughout Asia, from eastern Turkey to the Sea of Okhotsk. In the next 50 years, the area of their lives have been greatly reduced. However, tigers can still be found in several different types of forest including dry forest (dry deciduous), moist forest (deciduous mouist), forest green semi (semi-evergreen) forest, wet green (wet evergreen), rivers, marshes and mangrove forests . They can also be found in coniferous forests in the East bertanaman Russia, at a high grassy habitats in southern Himalayas, and the forest-tropical forests in Sumatra and Malaysia. The tigers are showing the same tolerance towards variations in altitude, temperature and rainfall.
Tigers are found in some forest types and climatic conditions indicates that the habitat is not intrinsically important element in the history of the evolution of the tiger. But the diversity of tiger tigris line Phantera great because it allows them to follow the spread of cervid and bovid in southeast Asia in the era of Pleistocence. (Flerov 1960; Geist 1971). As with the evolution of a large ungulate (example: Axis, Rusa, Cervus, Bos) that creates a new area for large-bodied predators that live on the edge of the forest.
Pleistocence an ice age (glaciation) and the extreme climate berfluktuas, at least four glacial period appears alternate with warmer interglacial period. Cold temperatures associated with ice ages estimated palign heavily on northern latitudes, whereas tropical, the most obvious effect is the change in sea surface height.
During the glacial water freezes as ice, sea level dropped so as to produce a broad new dry land. When the climate becomes warmer, ice sheets melt and raise sea levels and back up the land bridge. In southeast asia islands at the bottom of the Straits of Sunda - among others: Sumatra, Java and Borneo, in turn incorporated because the ice is formed and then separated again when the ice melts. For large mammals; Pleistocence an era filled with chaos. Speciation and extinction levels increased fourfold compared with the tertiary era, and bebebrapa mammal group experienced explosive spread (kurten 1971; Geist 1983)
Deer breed well during the era Pleistocence. From their development centers in Asia are living cervids breed in the forest and being small is similar to the existing muntjac, they spread out and occupy different types of areas. Body size and complexity increases as cervids anler differentiated into habitat on the outskirts of forests and grasslands. Molar long Hypsodont Chital in animals, pig deer (Hogdeer) and Barangsingha, developed at the time of these species has changed into animals grazing on the outskirts of the forest, or more in dedicated again grazing in the savannah and marshy land (Geist, 1983), however at the present time, most of the 14 species of cervid or more derivatives carry inherent properties to remain in the forest and inhabit dense forest habitats, open woodland areas or forest edges.
Family Bovid also differentiated into various types of species are widespread on the continent of Asia alone, there are about 50 genera. Initial period marked by the emergence of bovine Pleistocence, cattle, bison and buffalo (bison) (Kurten, 1971). With inhabit more open habitats, this bovids grew to a large tooth (High Crowned teeth), which is stronger yag to chew grass silica (silica-laden-grasses). Group of wild cattle in the present of three species can be found in India and southeast asia. Banteng are animals that live in dry open woods and fields that exist in the middle of the forest (glades); kouprey; now almost Puna, he can only be found in open dry forest, while Gaur prefer a more dense forest habitats, they come out at night to eat grass in open land and also the field in the middle of the forest (glades) (Wharton 1957)
Research on the spread of cervid in South Asia showed that the annual rainfall of less than 500 mm is a condition that is generally too dry for most cervid. On the diversity and number of Cervid will be reduced if the natural conditions are too wet. In tropical forests in South Asia terrestrial hoofed animal biomass (unglate) will develop if the annual rainfall reaches about 1900 mm. Whereas if rainfall is above 1900 mm / year it will decide a positive relationship between rainfall with unglate biomass. True tropical forests allow small primary productivity at the level of basic and animal biomass is dominated by the aboral mammalian herbivores like animals Primates. For example Lauser Mountain National Park in Sumatra, which typically receives more rainfall than 2000 mm a year, has six species of primates, but only slightly inhabited by unglate (example: sambar, wild boar, muntjac), which appears with a very low density levels.
The area has a number unglate largest biomass in south Asia is an area where grass and forest land form a mosaic and interdigitasi several different types of plants that support community wealth unglate. Changes in river flow, the fire and other antrophogenic disorders influence the development of the outskirts of the preferred habitat of several species unglate. Similarly, the total tiger population is highly dependent on the amount of available prey biomass.