Dongeng Seekor Nyamuk

   Di suatu negeri antah-berantah bertahtalah seorang raja yang arif bijaksana. Raja itu hidup bersama permaisuri dan putra-putrinya. Rakyat sangat mencintainya. Istananya terbuka setiap waktu untuk dikunjungi siapa saja. Ua mau mendengar pendapat dan pengaduan rakyatnya. Anak-anak pun boleh bermain-main di halaman sekitar istana.

Di negeri itu hidup juga seorang janda dengan seorang anaknya yang senang bermain di sekitar istana. Setiap pergi ke istana, ia selalu membawa binatang kesayangannya, seekor nyamuk. Leher nyamuk itu diikat dengan tali dan ujung tali dipegangnya. Nyamuk akan berjalan mengikuti ke mana pun anak itu pergi.


Pada suatu sore, anak itu sedang bermain di sekitar halaman istana. Karena asyik bermain, ia lupa hari sudah mulai gelap. Raja yang baik itu mengingatkannya dan menyuruhnya pulang.

“Orang tuamu pasti gelisah menantimu,” kata raja.
“Baik, Tuanku,” sahutnya, “karena hamba harus cepat-cepat pulang, nyamuk ini hamba titipkan di istana.”
“Ikatkan saja di tiang dekat tangga,” sahut raja.

Keesokan harinya, anak itu datang ke istana. Ia amat terkejut melihat nyamuknya sedang dipatuk dan ditelan seekor ayam jantan. Sedih hatinya karena nyamuk yang amat disayanginya hilang. Ia mengadukan peristiwa itu kepada raja karena ayam jantan itu milik raja.

“Ambillah ayam jantan itu sebagai ganti,” kata raja.

Anak itu mengucapkan terima kasih kepada raja. Kaki ayam jantan itu pun diikat dengan tali dan dibawa ke mana saja. Sore itu ia kembali bermain-main di sekitar istana. Ayam jantannya dilepas begitu saja sehingga bebas berkeliaran ke sana kemari. Ayam jantan itu melihat perempuan-perempuan pembantu raja sedang menumbuk padi di belakang istana, berlarilah dia ke sana. Dia mematuk padi yang berhamburan di atas tikar di samping lesung, bahkan berkali-kali dia berusaha menyerobot padi yang ada di lubang lesung.


Para pembantu raja mengusir ayam jantan itu agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Akan tetapi, tak lama kemudian ayam itu datang lagi dan dengan rakusnya berusaha mematuk padi dalam lesung.

Mereka menghalau ayam itu dengan alu yang mereka pegang. Seorang di antara mereka bukan hanya menghalau, tetapi memukulkan alu dan mengenai kepala ayam itu. Ayam itu menggelepargelepar kesakitan. Darah segar mengalir dari kepala. Tidak lama kemudian, matilah ayam itu.


Alangkah sedih hati anak itu melihat ayam kesayangannya mati. Ia datang menghadap raja memohon keadilan. “Ambillah alu itu sebagai ganti ayam jantanmu yang mati!” kata raja kepadanya.

Anak itu bersimpuh di hadapan raja dan menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati raja.

“Hamba titipkan alu itu di sini karena di rumah ibu hamba tidak ada tempat untuk menyimpannya,” pintanya.
“Sandarkanlah alu itu di pohon nangka,” kata raja. Pohon nangka itu rimbun daunnya dan lebat buahnya.

Keesokan harinya, ketika hari sudah senja, ia bermaksud mengambil alu itu untuk dibawa pulang. Akan tetapi, alu itu ternyata patah dan tergeletak di tanah. Di sampingnya terguling sebuah nangka amat besar dan semerbak baunya.


“Nangka ini rupanya penyebab patahnya aluku,” katanya, “aku akan meminta nangka ini sebagai ganti aluku kepada raja!”
Raja tersenyum mendengar permintaan itu. “Ambillah nangka itu kalau engkau suka,” kata raja.
“Tetapi, hari sudah mulai gelap!” kata anak itu. “Hamba harus cepat tiba di rumah. Kalau terlambat, ibu akan marah kepada hamba. Hamba titipkan nangka ini di istana.”
“Boleh saja,” ujar raja, “letakkan nangka itu di samping pintu dapur!”

Bau nangka yang sedap itu tercium ke seluruh istana. Salah seorang putri raja juga mencium bau nangka itu. Seleranya pun timbul.

“Aku mau memakan nangka itu!” kata putri berusaha mencari dimana nangka itu berada. “Kaiau nangka itu masih tergantung di dahan, aku akan memanjat untuk mengambilnya!”


Tentu saja putri raja tidak perlu bersusah payah memanjat pohon nangka karena nangka itu ada di samping pintu dapur. Ia segera mengambil pisau dan nangka itu pun dibelah serta dimakan sepuas-puasnya.

Kita tentu dapat menerka kejadian selanjutnya. Anak itu menuntut ganti rugi kepada raja. Pada mulanya raja bingung, tetapi dengan lapang dada beliau bertitah, “Ketika nyamukmu dipatuk ayam jantan, ayam jantan itu menjadi gantinya. Ketika ayam jantan mati karena alu, kuserahkan alu itu kepadamu. Demikian pula ketika alumu patah tertimpa nangka, nangka itu menjadi milikmu. Sekarang, karena putriku menghabiskan nangkamu, tidak ada jalan lain selain menyerahkan putriku kepadamu.”

Putri raja sebaya dengan anak itu. Akan tetapi, mereka belum dewasa sehingga tidak mungkin segera dinikahkan. Ketika dewasa, keduanya dinikahkan. Raja merayakan pesta secara meriah. Setelah raja meninggal, anak itu menggantikan mertuanya naik takhta. Ibunya juga diajak untuk tinggal di istana.



Download filenya disini



Sejarah Budidaya Udang di Indonesia

Oleh: Alie Purnomo 
Sebelum tahun 60'an udang tambak hanya hasil sampingan dari produksi bandeng. Setelah masyarakat umum merasakan lezatnya daging udang yang manis tanpa duri, berduyun-duyun mereka antri memesan udang goreng/bakar madu di restauran seafood atau warteg pinggir jalan. Namun jarang orang tahu mengapa sekarang udang meraja lela di pasar-pasar. Tulisan ini akan mencerahkan perspektif Anda.

 
Budidaya udang  adalah kegiatan pemeliharaan/pembesaran udang secara khusus dengan penebaran benur ditambak air payau yang terdapat di hamparan pesisir. Sampai dengan tahun 60-an hanya ada 4 negara di dunia yang memiliki areal tambak cukup luaas, yaitu Filipina, Indonesia, Taiwan dan Thailand. Masing-masing dengan luas 166.000, 165.000, 27.600 dan 20.000 Ha (Ling, 1970). Di Indonesia sendiri sampai dengan tahun 60-an masih terpusat di Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh.
          Tambak tersebut dibangun di wilayah lahan pasang surut (Zona Internidal) karena untuk pengairannya tergantung penuh pada pergerakan air pasang surut. Komoditi budidaya hanyalah ikan banding (ditambah ikan belanak di Taiwan dan Ikan Kakap di Thailand). Adapun udang yang terdapat didalam tambak hanya berasal dari alam yang masuk sendiri kedalam tambak bersama arus air pasang tinggi.
            Hasil udang yang diperoleh pemilik tambak dianggap hanya sebagai hasil sampingan (hasil panen utama adalah bandengnya) dan menjadi hak pendega, yaitu karyawan yang mengurus tambak.
            Penebaran benur (benih udang) secara khusus kedalam tambak untuk dipelihara secara terkendali baru dimulai setelah petambak Sulawesi Selatan diajari untuk mengenal benur udang dan membudidayakannya didalam tambak.
            Guna menyimak perkembangna budidaya udang di Indonesia secara utuh, Bapak Alie Pornomo (Alm) telah memberikan catatan secara kronologis yang pernah disampaikan saat Simposium Akuakultur Tahun 2001 di Semarang. Berikut uraiannya:

Sejarah Budidaya Tambak Udang di Indonesia

s/d 1964       : Era Pra budidaya Udang di Tambak
                             Sampai dengan awal Tahun 1964 tambak di Indonesia hanya digunakan untuk budidaya ikan banding.
1964-1970           : Pengenalan Benur dan Budidaya Udang Teknologi Tradisional/Ekstensif
Pengenalan morofologi benur alam (terutama udang windu P. monodon dan udang putih P. marguiensis), teknik merawat dan pengangkutan serta pembesarannya didalam tambak (teknologi ekstensif secara mono atau polikultur dengan bandeng) di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Jeneponto, pangkep dan Pinrang) (Poernomo, 1968).
Pendederan dan aklimatisasi benur didalam keramba jarring apung didalam tambak atau didalam bak-bak semen didarat berkembang pesat di daerah pertambakan di Sulawesi Selatan yang jauh dari sumber benur (Pangkep, Maros, Barru). Setelah tahun 70-an pembudidayaan udang windu teknologi ekstensif berkembang ke Jawa, Kalimantan (Balikpapan) dan Sumatera (Aceh). Khususnya di Banda Aceh, disamping budidaya udang windu juga dibudidayakan udang putih (P. indicus) karena kelimpahan benur alam jenis udang ini diperairan pantai aceh (Poernomo, 1979).
Budidaya udang windu teknologi ekstensif dengan kepdatan tebar 20.000-30.000 ekor benur/Ha (monokultur) tanpa pakan dapat menghasilkan 3-4 kwintal/Ha/siklus size 30 (hanya mengandalkan pakan alami dengan pemupukan. Disini masih banyak petani menerapkan polikultur dengan banding.
1970                             : Dibangun hatchery udang pertama dan RCU Jepara
Setelah penelitian berhasil memijahkan induk udang matang telur dari laut, dibangun hatchery pertama di Makassar (Berita Buana, 1970 Harian Kami, 1970) dan menyusul dibangunnya hatchery ke-2 di Jepara, Jawa Tengah akhir tahun 1970. Mengingat besarnya potensi budidaya udang di Indonesia pada masa mendatang maka penulis waktu itu menyarankan kepada Pemerintah untuk dibangun RCU (Reseacrh Center Udang) di lokasi yang sama di Jepara yang kemudian disebut BPAP (Balai Pengembangan Budidaya Air Payau) dan pada tahun 2003 berubah menjadi BBPBAP (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau) untuk mendukung percepatan pembangunan budidaya udang di Indonesia.
1974                             : Perintisan Budidaya Udang Teknologi Intensif
Pengembangan budidaya udang teknologi intensif dan semi intensif dengan menggunakan kincir dan pakan pellet dimulai di RCU Jepara.
1974                             : Proyek Pengembangan Tambak USAID di Aceh
Terjadi malapetaka pertambakan di Aceh sebagai akibat dari gerakan pembatan jalur mangrove didalam areal pertambakan yang diinstruksikan oleh ahli-ahli (staf pengajar  Auburn University) dalam proyek bantuan USAID tersebut. Alasan utama para ahli tersebut adalah produktivitas tambak Aceh rendah disebabkan karena pohon bakau yang ditanam di sepanjang tanggul dan saluran menghabiskan unsur hara dari pupuk yang diaplikasikan untuk menumbuhkan makanan alami didalam tambak.
Rupanya staf ahli tersebut khilaf karena tidak menyimak 3 hal yang lebih penting yaitu:
·    Jalur mangrove tersebut sangat vital fungsinya sebagai wind breaker bagi wilayah pertambakan di Aceh karena anginnya sangat luar biasa besarnya.
·    Tidak menyadari bahwa mangrove bakau sebenarnya diperlukan untuk memperbaiki lingkungan wilayah tambak karena fungsinya antara lain menyerap zat-zat polutan dan mengandung bakteri yang bermanfaat bagi keseimbangan lingkungan.
·    Sebegitu jauh belum ada penelitian khusus tentang seberapa hebat akar bakau menyerap unsure hara dari pupuk yang diaplikasikan dibagian tengah atau pelataran tambak waktu air dangkal.
1975                                  : Teknologi Ablasi Mata untuk Pematangan Telur Induk Udang Diketemukan
Penelitian di RCU Jepara berhasil mematangkan telur induk udang dengan teknik ablasi mata (alikunki dkk, 2975 dan Poernomo, Hamami, 1983). Taiwan dan Filipina setalah membaca bulletin RCU, 1975 atau mengetahui keberhasilan Jepara tersebut langsung menanganinya dengan sangat intensif (di Tungkang Marine Laboratory (TML), Taiwan dan Seafdec, Filipina), sehingga mereka berhasil mengkomersilkan lebih dahulu teknologi tersebut. Dari perjalanan tersebut Alie Pornomo dimintai oleh Dr. Liao, Dir TML penulis yang pada waktu (1983) kebetulan berada di Taiwan, diminta untuk mengajarkan teknik ablasi pada staf peneliti Tungkang Marine Laboratory, Tungkang Taiwan.
1979-1980    : Dibangun Hatchery Swasta Pertama
Hathery udang swasta petama (PT Benur Unggul) dibangun di Desa Temporah/Banyuglugur Besuki, Jawa Timur disusul oleh hatchery swasta di Sinjai Sulawesi Selatan dan Kepulauan Seribu, Jakarta.
 1980          : Perbaikan Teknologi Ablasi Mata
Perbaikan teknologi ablasi mata induk dari laut untuk produksi benur udang windu dengan perbaikan mutu pakan, lingkungan di Suba Balai Penelitian Perikanan Laut Ancol (Poernomo, Hamami, 1983) dan BBAP Jepara.
1982-1983    : Teknologi Reklamasi Tanah Sulfat Masam
Teknologi perbaikan atau reklamasi tanah sulfat masam (pyrite) yang menjadi kendala tambak udang ditemukan dam dimasyarakatkan (Poernomo dan Singh, 1982; Singh dan Poernomo, 1983; Poernomo, 1983; Kompas, 1982; dan Suara Merdeka, 1982).
Tambak yang dibangun di lahan zona intertidal umumnya mengandungi senyawa pyrit antara 0,5-2% dan pada daerah tertentu dapat mencapai >5%. Lahan tambak dengan kandungan pyrit tinggi seperti di daerah Bone Palopo, Malili, Mamuju (Sulawesi Selatan) dan Kalimantan Timur yang belum direklamasi produktivitasnya sangat rendah.
1984-1985    : Komersialisasi Budidaya Udang Intensif
Pengembangan budidaya udang teknologi intensif dimulai di Jawa Timur yang terpusat di Banyuwangi dan Situbondo (Jawa Timur) di Tangerang dan Serang (Jawa Barat) serta Denpasar (Bali) yang mencapai puncaknya pada tahun 1987-1990. Diluar Jawa, kecuali Bali dan Lampung (DCD, 1989) pada waktu itu belum ada tambak udang intensif. 
1985           : Tambak TIR dibangun
Oleh pemerintah dibangun Tambak Pandu Inti Rakyat (TIR) krawang seluas 250 Ha di desa Cipucuk, Kab. Krawang, lengkap dengan cold storage, pabrik pakan dan pelatihan teknisi. Tambak pola TIR yang lain juga dibangun oleh swasta di Desa Jawai, Kab. Sambas (Kal Bar), di Teluk Waworada, Kab. Bima (NTB), Desa Pejarakan Buleleng (Bali), di Muara Sungai Bodri Kendal (Jateng), Takesung (Kal Sel), di Seram (Maluku), Tanjung Arus, Bulongan (Kal Tim). Tambak-tambak tersebut yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta umumnya kurang berhasil karena masalah manajemen usaha dan manajemen budidaya.
Tambak TIR Raksasa (PT Dipasena Citra Darmaja/PT DCD) seluas >5.000 Ha mulai dibangun Th 1989 di Desa Mesuji/Rawa Jitu, Kab. Lampung Utara, kemudian menyusul tambak TIR.
PT Bratasena seluas 10.000 Ha dibangun di Muara Way Seputih, Kec. Seputih Surabaya Kab. Lampung Tengah.
Unit ke-3 tambak raksasa non TIR (PT Wahyuni Mandira) seluas >10.000 Ha mulai dibangun pada tahun 1999 disebelah utara sungai Mesuji, Propinsi Sumatera Selatan.
Ketiga unit tambak raksasa tersebut terletak dalam satu hamparan pantai yang bertetangga dalam lingkup garis pantai sekitar 100 km. Namun karena desain tata letak ruang dan konstruksinya sudah mengikuti prasyarat kaidah budidaya, maka secara teknis, produktivitas tambak-tambak tersebut cukup stabil.
Kasus yang menimpa PT Dipasena yang berakhir dengan penyerahan penuh tambak-tambak tersebut kepada plasma terletak pada masalah manajemen social. Tetapi dampak negative dari kuasainya penuh tambak-tambak tersebut oleh petambak mantan plasma, produktivitasnya menurun sangat drastis, penyebabnya antara lain karena tidak ada yang bertanggung jawab merawat saluran primer dan sekunder, kemampuan  permodalan, dan koordinasi antar petambak. Seharusnya paling tidak saluran primer harus bias di urus oleh pemerintah, karena petambak jelas tidak akan mampu merawatnya apalagi dalam kondisi hamparan tambak raksasa.
1986              : Diketemukan Virus MBV
Pada tahun 1986 pertama kali ditemukan virus MBV di tambak Desa Kedungpeluk, Sidoarjo Jawa Timur (Nash dkk, 1987). Penyakit virus menyebar dan mencapai puncaknya tahun 1990-1992 ditambak-tambak udanng intensif yang berakibat pada kegagalan masal tambak udang.
Puncak terjangkitnya MBV dan kegagaln panen terutama karena pengelolaan budidaya yang jauh menyimpang dari kaidah budidaya udang (obral penggunaan obat-obatan dari Taiwan yang merusak lingkungan), pembuangan limbah tambak tanpa aturan, dan kontruksi/tata letak tambak yang tumpang tindih, ditambah lagi oleh meningkatnya polusi eksternal (Poernomo, 1989). Setelah agak mereda beberapa waktu penyakit virus merambak/mencuat lagi pada tahun 1999.
1986              : Pakan Udang
Mulai diproduksi padakan udang (pellet) oleh PT. Comfeed Indonesia 1986-1987 untuk mendukung budidaya udang teknologi intensif di tambak. Setelah itu menyusul Charoen Pokphand (1989) dan beberapa perusahaan pakan udang yang lain seperti Bama, Karka, MAS, Bukaka, Mabar dll. Namun untuk memenuhi kebutuhan budidaya udang teknologi intensif yang berkembang begitu cepat waktu itu masih mengimpor pakan terutama dari Taiwan.
1986              : Pembenihan Bandeng di Hatchery
Penelitian berhasil mengembangkan teknologi pembenihan bandeng di Hatchery (Poernomo dkk, 1986). Keberhasilan pembenihan banding di hatchery di Indonesia patut dihargai karena Philipina yang jauh lebih dahulu merintis penelitian dibidang ini sampai sekarang belum berhasil. Pemijahan pertama induk banding yang dilakukan di Balai Penelitian Perikanan Pantai Gondol (Bali) berasal dari pembesaran nener alam yang dikerjakan di RCU Jepara. Induk-induk tersebut berumur ssekitar 6 Tahun. Teknologi ini berkembang sangat pesat dan mantap sehingga mendorong timbulnya di ratusan (500 pemilik/96 unit) backyard hatchery bandeng terutama  di Desa Gondol, Kec. Gerogak, Buleleng Bali, yang dimulai tahun 1994 dan mencapai puncaknya pada tahun 1999. Kecukupan suplly nener bandeng berperan sangat penting untuk mendukung usaha produksi banding umpan di tambak. Produsen banding umpan yang terpusat di daerah pertambakan Cemara dan Sungai Buntu, Kab. Kerawang (Jawa Barat) Desa Betoyo Guci, Manyar Kab. Gresik, Kec. Duduk, Deket Glagah di Kab. Lamongan Jawa Timur. Produksi bandeng umpan ini merupakan usaha yang sangat penting untuk mendukung usaha penangkapan tuna. Dari Gresik, Lamongan saja yang dipasarkan ke Benoa mencapai 12-15 truk per hari umpan hidup dan 3-4 kontainer 40 ft perbulan umpan beku.
1989-1995       : Backyard Hatchery Udang
Puncak perkembangan backyard hatchery yang dimulai di sekitar Jepara pada taun 1989 dan mencapai puncaknya tahun 1995 terus berkembang ke daerah-daerah lain seperti Pangandaran, Desa Batu Hiu (Jabar), Galesong (Kab Takalar), desa Kupa (Kab. Barru, Sulsel), Kuala Raja dan Ketapang Maneh (Aceh), Pantai Cermin (Sumatera Utara), Kalianda (Lampung Selatan) dan terakhir sekitar tahun 2000a di Tarakan.
1990              : Tambak Plastik Biocreet
Dibangun tambak plastik Biocreet di lahan pasir di Desa Citarate, Jampang Kulon, Kab Sukabumi (Widigdo, 1993). Dioperasikan secara bertahap yang mencapai 14 petak @2400 m2 pada tahun 1994 (PT Citarate).
Menyusul unit kedua tambak biocreet di lahan pasir Pantai Pandan Simo, Yogya Selatan yang pada tahun 2000 telah tersedia 40 petak @3600 m2 (PT Indokor). Remcana unit ketiga tambak biocreet dengan desain yang telah disempurnakan (tambak ramah lingkungan) seluas 40 Ha akan dibangun di Pantai Glagah, Desa Karang Wuni, Kec. Temon Kab. Kulon Progo. Namun tidak dteruskan karena Bupati mendadak akan membangun Pelabuhan umum ditempat yang sama (Poernomo, 2001).
Sebenarnya pembangunan tambak plastik biocreet ini sangat cocok dalam rangka pendayagunaan lahan kritis berpasir di hamparan pasir. Jadi tambak di lahan kritis ini untuk kedepan harus tetap dikembangkan mengingat makin terbatasnya lahan-lahan produktif.
1993-1994       : Cold Storage Udang Berguguran
Cold Storage udang berguguran (sisa 30%) yang masih bertahan, karena kekurangan bahan baku yang berbarengan dengan turunnya harga udang.
1993-1995       : Teknologi Resirkulasi dan Tandon Diperkenalkan
Teknologi ini berkembang sangat lambat karena banyak petani belum terlalu yakin, akan kegunaan teknologi ini. Disamping itu, pertimbangan yang lain adalah petani tidak mau mengorbankan lahan untuk kepentingan  pembuatan tandon, serta modal yang harus mulai dikeluarkan. Tetapi setelah mengalami kegagalan panen yang beruntun, barulah teknologi ini mulai diserap oleh petambak dan ternyata hasilnya meyakinkan kalau dilaksanakan secara benar.
1993-2004       : Teknologi Probiotik
Dengan banyaknya kegagalan budidaya udang yang bertubi-tubi sejak tahun 1990-an (Taiwan sudah collapsed sejak tahun 1986/87), penelitian dan percobaan lapang tentang penggunaan probiotik mulai ditangani secara intensif sejak tahun 1992. Sebenarnya penggunaan probiotik secara sporadis ditambak udang intensif di Indonesia sudah mulai sejak tahun 1988 (contoh ARGON), namun sejauh itu tidak ada kejelasan baik mengenai isi yang terkandung didalamnya maupun cara aplikasi yang benar, sehingga dampaknyapun tidak menentu dan hasil yang diharapkan masih belum meyakinkan dikalangan petambak.
Percobaan secara konsisten terhadap satu jenis produk yang mengandung mikroba Bacillus spp dan bakteri belerang fotosintetic ditambak udang intensif dengan memperhatikan serta menjaga habitat mikroba tersebut secara baik selama siklus pembesaran udang terbukti dapat memberikan hasil yang mantap dan menguntungkan.
Dengan hasil-hasil yang stabil mantap, teknologi probiotik ini meningkat terus aplikasinya di daerah Lampung dan bahkan mulai meluas ke Sumatera Utara sejak tahun 2001. Pada akhir tahun 2003 mulai diaplikasikan di Jawa Timur dan Bali kemudian ke Sulawesi Selatan dan bahkan Bengkulu.
Teknologi ini sangat baik untuk merevitalisasi budidaya udang intensif di tambak-tambak udang yang telah terbengkalai dengan keberhasilan >75%.
Dengan kepadatan tebar (udang windu) 40-50 PL/m2, dicapai hasil 3,5-4 ton/0,5 Ha/siklus dan untuk udang vanname dengan kepadatan tebar 170 PL/m2 menghasilkan 12 ton/0,5 Ha/siklus, size 65-70. Kasus percobaan size 50 dengan padat penebaran

Yance Tegaskan Kasus yang Menerpanya Fitnah

Mantan Bupati Indramayu, Irianto MS Syafiuddin atau akrab disapa Yance meyakinkan kasus yang menerpanya saat ini fitnah belaka.

Klarifikasi mantan orang nomor satu di Indramayu tersebut disampaikan melalui short message service (SMS) yang disebarkannya kepada sejumlah kader dan tokoh Partai Golkar Se-Jabar.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun INILAH.COM, dalam pesan singkatnya Yance meminta Partai Golkar Jabar tetap tenang karena selama dia menjabat Bupati Indramayu tidak ada uang haram yang dimakannya, termasuk kasus PLTU.

Berikut kutipan SMS yang berhasil dihimpun INILAH.COM.

"Kluarga besar PG Jbr hrs tenang & prcaya trhadap apa yg sdh sy lakukan slama 10 thn memimpin Kab Indramayu-tdk ada uang haram yg sy makan dlm pmbebasan tanah utk kpentingan pembangunan proyek PLTU Sumur Adem-kcuali honor panitia 375 rb (blum dipotong pajak) slma 6 bln-nuansa & tendensi politik sngat kntal trhadap PG jbr trutama pd diri sy-ada yg sakit hati, iri & tdk senang atas kamjuan karir diri sy yg pd akhirnya akan berujung dgn kebesaran PG Jbr-utk itu sy ingin buktikn bhw sy TDK BERSALAH- Allah maha besar & maha benar....MAJULAH TRUS JGN TAKUT dg FITNAH- IRI DENGKI & HASUT- kita brsama besarkn PG Jbr-trima ksih-(yance)."

Yance ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembebasan tanah PLTU di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Penetapan Yance dilakukan setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penyelidikan terhadap kasus yang berpotensi merugikan negara Rp42 miliar tersebut. (inilah)

2011, Pemkab Indramayu Gulirkan Beasiswa Santri

Tekad Pemkab Indramayu untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu bukan hanya isapan jempol belaka, pasalnya setelah sukses mengirimkan putra-putri yang berprestasi dari keluarga tidak mampu di beberapa perguruan tinggi ternama. Dalam waktu dekat Pemkab juga akan menggulirkan program beasiswa santri.

Menurut Kabag Agama dan Kesra Setda Indramayu Drs H Mujahid DN, SPd, MSi melalui Kasubag Pendidikan dan Kebudayaan H Abdul Mutholib, SPd, program beasiswa santri tujuannya untuk mencetak SDM berwawasan pesantren serta menunjang Visi Indramayu Remaja jilid II pada kontek religius.

Untuk mendukung hal dimaksud, pada tahun anggaran 2011 ini Pemkab Indramayu bekerjasama dengan MUI setempat akan mengirimkan 315 anak lulusan SD/MI dari keluarga tidak mampu, yang tersebar di 315 desa/keluarahan yang ada di Kabupaten Indramayu untuk menimba ilmu agama maupun ilmu umum (MTs/SMP) di beberapa Ponpes diluar Kabupaten Indramayu selama tiga tahun. Sementara untuk mendukung biaya hidupnya, Pemkab mengusulkan masing-masing santri dalam setiap bulannya akan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp300 ribu.

Abdul Mutholib berharap, dengan digulirkannya program beasiswa santri maka di setiap desa/keluarahan diharapkan akan tercipta SDM yang menguasai ilmu dan teknologi (Iptek) yang dibarengi dengan penguatan iman dan taqwa (Imtaq).

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Indramayu H Taufik Hidayat, SH ketika ditemui pada saat kunjungan ke Ponpes Darul Maarif Legok Lohbener beberapa waktu lalu, ia sangat mendukung program beasiswa santri, karena menurutnya program dimaksud selain sejalan dengan Visi Indramayu Remaja jilid II pada kontek riligius juga merupakan upaya untuk menghindari krisis para ulama dan para kyai di desa. Untuk menghindari krisis para ulama para kyai di desa. (pelita)

Arah dan Perkembangan Kehutanan Tropis dan Subtropis Serta Pengaruhnya terhadap kebutuhan Benih.








Luas hutan di kebanyakan negara tropis menurun pada tingkat yang membahayakan. Menurut perhitungan terakhir,FAO (1997) melaporkan bahwa selain India, yang mengalami penignkatan kecil, hampir semua negara tropis telah kehilangan hutannya selama periode 1990-1995.
Kerusakan hutan tertinggi terjadi di Amerika Tengah dan Asia Tenggara dengan kisaran antara 1,2-1,7 % per tahun. Di Afrika Barat rata-rata sekitar 1% per tahun, sementara kebanyakan lain di Afrika dan Amerika Selatan, berkisar antara 0,5 -0,8% setiap tahunnya. Di beberapa negara seperti di Filipina dan di Amerika Tengah, kerusakan hutan tergolong tinggi yaitu antar 3-3,5%. Di banyak negara lainnya, tingkat kerusakan menurun selama puluhan tahun terakhir hanya karena hutan yang dapat ditebang semakin berkurang.
Kebanyakan negara menyadari akan bahaya hilangnya hutan dan program penghutanan kembali secara besar-besaran telah dicanangkan oleh seluruh negara tropis yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan, perusahaan swasta dan proyek-proyek lainnya. Akan tetapi, sebagaimana gambaran tersebut diatas kegiatan penanaman hutan jarang sekali dapat berpacu dengan penebangan hutan, termasuk mengganti yang telah hilang dimasa silam.
Kerusakan hutan berpengaruh terhadap negara dan rakyatnya dalam banyak bentuk. Kerusakan produksi kayu mempengaruhi kehidupan sehari-hari jutaan rakyat di daerah pedesaan dan perkotaan. Kekurangan kayu pertukangan berpengaruh terhadap kegiatan pembangunan rumah kekurangan kayu bakar mempengaruhi kebiasaan memasak. Kerusakan kondisi lingkungan seringkali sangat berkaitan erat dengan kerusakan hutan. Kemunduran kualitas tanah, peningkatan kadar garam pada mata air, banjir yang terkadang terjadi dan lain-lain, dalam jangka menengah atau panjang akan berpengaruh terhadap jutaan rakyat daerah tropis saat ini.
Bahan-bahan pengganti kayu bakar, seperti minyak, batubara dan gas, yang dapat mengatasi kerusakan hutan di negara maju selama satu abad terakhir, belum terjangkau oleh kebanyakan masyarakat terpencil di negara berkembang. Selain itu, alternatif keperluan bahan kontruksi dan kebutuhan rumah tangga (beton, pelastik dan lain-lain) juga diluar kemampuan masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, hanya satu jawaban untuk permasalahan itu; pohon-pohon dan hutan-hutan harus ditanam. Untuk mengembalikan hutan yang rusak dan untuk memperbaiki lahan yang mundur kualitasnya karena hal tersebut diatas, merupakan suatu tantangan yang berat dan membutuhkan sejumlah besar tanaman, yang akhirnya akan meningkatkan kebutuhan benih.
Penghutanan kembali bukan lagi merupakan tugas Departeman Kehutanan saja. Selama ini teknik penanaman hutan telah perubahan berkaitan dengan cakupan kebutuhan yang lebih luas. Kebanyakan kegiatan penanaman separuh abad ini dan sekitar tahun 1980 dipusatkan pada tanam industri dalam sekala besar, dan terfokus pada jenis yang mudah penanamannya seperti pinus, ekaliptus, jati dan mahoni, yang sekarang telah berubah kebidang yang lebih luas.Hutan masyarakat atau perhutanan sosial dengan komponen agroforesty, tanaman pelindung, tanaman keras di desa dan lain-lain, pada saat ini merupakan bagian utama dari komponen alami pada pengelolaan lahan tropis. Selanjutnya, rehabilitasi lahan dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan penanaman hutan seringkali merupakan bagian penting dari kebijakan kehutanan suatu negara.
Penanaman hutan tidak mungkin dapat menghasilakan keragaman tumbuhan dan margasatwa yang telah punah. Tetapi penanaman dalam sekala besar secara langsung masih dibutuhkan untuk menyediakan kayu industri yang penting, dan secara tidak langsung untuk melepaskan tekanan terhadap hutan alam yang tertinggal. Juga pada hutan tanaman industri, terjadi pergeseran dalam kebijakan kehutanan pada kebanyakan negara. Selama dekade terakhir, banyak negara telah menekankan pada penggunaan jenis lokal dalam pembuatan hutan tanaman yang sebelumnya di dominasi oleh jenis eksotik. Kecendrungan ini dan seiring dengan kegiatan penanaman yang luas tersebut, telah meningkatkan permintaan akan keragaman jenis yang lebih besar, termasuk jenis lokal yang penting dan kurang dikenal.
Areal penanaman, seleksi jenis dan tipe penanaman adalah faktor yang berpengaruh terhadap kebutuhan benih yang akan berpengaruh pula terhadap suplai benih. Secara simultan dengan adanya suplai benih, teknologi yang tepat pada jenis-jenis baru harus dikembangkan.




Direction and Development of Tropical and Subtropical Forest And Its Effect on Seed needs.

Forest area in most tropical countries declined at a dangerous level. According to the latest calculation, FAO (1997) reported that in addition to India, who suffered minor improvement , nearly all tropical countries have been losing its forests over the period 1990-1995.
The highest forest damage occurred in Central America and Southeast Asia with a range between 1.2 to 1.7% per year. In West Africa an average of about 1% per year, while most others in Africa and South America, ranging between 0.5 -0.8% annually. In some countries like the Philippines and in Central America, the destruction of forests is high that is between 3 to 3.5%. In many other countries, the level of damage decreased over the last decades only because the forest can be logged on the wane.
Most countries recognize the dangers of loss of forest and reforestation programs on a large scale has been endorsed by all tropical countries conducted by the Department of Forestry, private companies and other projects. However, as mentioned above description rarely forest planting activities can race against deforestation, including the change that has been lost in the past.
Damage to forests affect the country and its people in many forms. Damage to timber production affect the daily lives of millions of people in rural and urban areas. Construction timber shortages affect housing construction activity firewood shortage affects cooking habits. Damage to the environmental conditions are often very closely related to forest destruction. Deterioration of soil quality, increasing salinity in the spring, the floods which sometimes happens and others, in the medium or long term will affect the millions of people of the tropics today.
Materials firewood substitute, such as oil, coal and gas, which can overcome the destruction of forests in developed countries during the last century, has not been reached by the most remote communities in developing countries. In addition, alternative materials for construction and household needs (concrete, plastic and others) are also beyond the capacity of rural communities. Therefore, only one answer to that problem; the trees and forests should be planted. To restore the damaged forest and land backward to improve quality because those things, is a tough challenge and requires a large number of plants, which ultimately will increase the need for seed.
Reforestation is no longer a task Forestry Department only. During this forest planting techniques have been changes in relation to a broader range of needs. Most planting half of this century and around 1980 focused on the growing industry in large scale, and focused on an easy-type plantings, such as pine, eucalyptus, teak and mahogany, which has now been changed into the broader field. Forest community or social forestry components agroforesty, cover crops, cash crops in the village and others, is now the main part of a natural component of tropical land management. Furthermore, land rehabilitation and watershed management with the planting of forests are often an important part of a country's forestry policy.
Planting forests can not possibly resulting in the diversity of plants and wildlife that have become extinct. But planting in large scale direct is still needed to provide an important timber industry, and indirectly to release the pressure on natural forests are left. Also in industrial plantations, there was a shift in forestry policy in most countries. Over the last decade, many countries have been emphasizing the use of local species in the manufacture of plantation forests that were previously dominated by exotic species. This tendency and in line with the extensive planting activities, has increased the demand for a greater diversity of species, including important local species and less known.
The area of planting, species selection and planting types are factors that influence the need for seeds to be influential also on seed supply. Simultaneously with the supply of seeds, the right technology at the new types must be developed.


Budidaya Polikultur (Udang Windu, Bandeng dan Gracilaria)

Budidaya Polikultur (Udang Windu, Bandeng dan Gracilaria)

Banyaknya lahan tambak yang ”idle” (terbengkalai) di hampir semua daerah pesisir indonesian dan khususnya pantura jawa, sebagai indikasi tidak produktifnya tambak. Faktor penyebab tambak ”idle” tersebut diantaranya adalah para petambak masih traumatik dengan adanya beberapa kasus penyakit udang dan terissu degradasi lingkungan baik perairan eksternal maupun internal tambak. Hal ini membuat sebagian besar petambak menunggu alternatif sistem/model pemeliharaan yang sesuai untuk diterapkan.

Diharapkan agar komoditas udang masih tetap eksis budidayakan di tambak dan tambak tetap produktif salah satu alternatif trobosan dalam revitalisasi tambak dan menghidupkan tambak-tambak kembali tetap produktif adalah melalui budidaya pembesaran multispesies dalam satu sistem pemeliharaan dengan pararel dan resirkulasi.

Budidaya polikultur udang, bandeng, rumput laut di tambak merupakan penggabungan teknologi monokultur udang, bandeng dan rumput laut. Namun, secara ekologi perairan, gabungan ketiga komoditas dalam satu sistem budidaya saling memberikan pengaruh positif. Dalam hal ini, glacilaria dapat menyerap racun dan limbah organik sehingga menstabilkan lingkungan dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh udang dan bandeng.


selengkapnya.................................




sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Massa Desak Kejari Indramayu Tuntaskan Kasus Yance

Ratusan warga gabungan 13 elemen masyarakat Indramayu melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Kejaksaan Negeri Indramayu, Kamis (6/1/2011) mendesak penuntasan kasus Yance.

Mantan Bupati Indramayu, Irianto MS Syaifuddin atau akrab disapa Yance ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembebasan tanah PLTU di Desa Sumuraden, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Penetapan Yance dilakukan setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penyelidikan terhadap kasus yang berpotensi merugikan negara Rp42 miliar tersebut.

Massa medesak dugaan kasus korupsi Yance diusut hingga tuntas. Massa yang datang sejak pukul 09.00 WIB tersebut berorasi secara bergantian. Selain meminta penuntasan kasus korupsi tersebut, 13 elemen juga mendukung langkah Kejaksaan Agung untuk membeberkan kasus ini secara gamblang.

Salah seorang perwakilan pendemo, Tubagus Candra mengungkapkan, kasus dugaan korupsi dana PLTU harus benar-benar diusut tuntas. Hal ini agar masyarakat Indramayu bisa mengetahui secara gamblang.

Sementara itu mantan Bupati Indramayu, Irianto MS Syafiuddin saat hendak dikonfirmasi belum bisa ditemui. Bahkan keberadaan Yance hingga kini masih simpang siur. Namun menurut sumber yang enggan disebut identitasnya, kuat dugaan Yance tengah berada di Bandung.

Warga Sujud Syukur

Mendengar bekas bupatinya ditetapkan sebagai tersangka, ratusan warga Indramayu sujud syukur. Irianto MS Syaifuddin atau yang akrab disapa Yance ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi pembelian tanah untuk lahan PLTU Sumur Adem.

Ratusan massa itu mendukung kejaksaan untuk menuntaskan kasus tersebut. Massa dari Gerakan Anti Korupsi dan Pro Demokrasi itu datang ke gedung DPRD Indramayu. Namun di gedung dewan tersebut mereka tak ditemui siapa-siapa. Selanjutnya mereka kemudian bergerak menuju kantor Kejaksaan Negeri Indramayu dan Pengadilan Negeri Indramayu untuk melakukan orasi. (inilah,tempo)

GURAT TANGIS DI SENYUM MARINI BAGIAN 1

Bgian I

Gerimis kian deras menghantam jalanan yang aku tapaki… dengan mengayun langkah yang sedikit berlari aku berusaha mengindari terpaan butir – butiran air yang dijatuhkan dari langit, dalam hati aku sedikit mengeluh: “ duh…. Mengapa harus kau basahi bumi ini sementara aku harus bergayut dengan waktu untuk bisa mencapai tempat tugas dalam waktu singkat”… Huf….!!!! Dengan sedikit terhuyung aku berusaha menahan keseimbangan tubuh ku agar tidak sampai mencium genangan air yang ada di depan ku, tanpa sadar kaki menghantam batu yang ada di depan ku, “ya allah…” ampun ku dalam hati, hujan yang kau turunkan adalah nikmat mu yang tak terhingga, mengapa aku menyesalinya….? Dengan sedikit kegalauan di dalam hati aku terus berlari- lari kecil menembus rintik hujan yang semakin deras…. Seketika aku mengadahkan wajah ku menatap langit di atas sana…. Nampak awan hitam pekat yang membawa hujan akan segera turun dengan lebat, aku berusaha secepat mungkin untuk bisa mencapai pangkalan ojek agar aku bisa lebih cepat sampai ke kantor kecamatan, karena pada hari pertama aku masuk kantor aku tidak ingin terlambat, Ojek inilah yang digunakan warga sini sebagai alat transportasi karena ini lah kenderaan umum satu – satunya yang ada di tempat tugas ku yang baru, aku sengaja memilih pindah di desa untuk mengabdikan hidupku bagi petani – petani yang ada di desa. Aku sudah membulatkan tekad untuk mengabdikan sebagian kehidupanku untuk bisa membantu mereka dalam melakukan usahataninya agar kehidupannya bisa lebih baik. Aku tidak perlu kesenangan hidup di kota yang selalu memberikan kehidupan seperti fatamargana. “Kepergian ku ini tulus Ria” sanggahku ketika teman akrab ku Ria menahan langkahku untuk tetap mengabdi di desa . “Tekadku sudah bulat, bukan karena kekecewaan ku kepada Mas andi, tidak Ria…. Aku harus berangkat”, tanpa bisa berkata apa – apa lagi Ria terpaksa melepas kepergianku untuk menuju tempat tugas ku yang baru, namun dalam hati yang paling dalam dan tanpa bisa aku pungkiri, kepergian ini adalah untuk mengobati luka yang mendalam karena kekecewaan terhadap mas andi yang telah tega menghianati cinta yang telah di bina selama ini, masih tergiang di telinga ketika mas andi menyampaikan : “Bukan zaman nya Siti Nurbaya..... tapi ada hal yang paling tidak mungkin adalah menolak keingginan orang tua dan membuat hati mereka terluka....”. seketika mata ku terbelalak mendengar kata - kata mas andi, aku tak sanggup lagi untuk menopang tubuhku, kata - kata nya bagai kan dentuman keras yang menghantam ulu hati yang paling dalam dan aku tak sanggup lagi berada di dekatnya, aku berusaha sekuat tenaga menyeret langkah kaki ku untuk menjauh dari mas andi, aku tidak perduli lagi dengan teriakan mas andi memanggil namaku, aku berlari dan terus berlari, aku tidak sanggup mendengar ucapan – ucapannya lagi, semudah itukah memalingkan cinta …?

Namun aku tersadar dari lamunan ketika deraian air hujan yang dilimpahkan dari langit semakin besar dan deras, aku berusaha mencari perlindungan agar tubuh ku ini tidak sampai basah sampai di kantor. Seketika mataku melalak kegirangan melihat ada sebuah warung di ujung persimpangan jalan yang aku tempuh, aku berusaha secepat mungkin menuju arah warung tersebut dengan mengayun kan langkah dengan lebih kencang mengikuti irama hujan yang terus turun membasahi permukaan jalanan. Aku mencari tempat perlindungan yang agak sedikit aman agar tubuh dan pakain ku tidak terkena sambaran air hujan. Dari balik dinding warung sayup – sayup aku dengar alunan lagu yang di putar oleh penjaga warung, Namun seketika jantung ku jadi berdenyut lebih kencang mendengar alunan bait demi bait dari lagu itu, lagu itu….. begitu menghentak jiwa sadar ku… “Lagu itu…!!!!!” jerit ku dalam hati…..(bersambung)

JURNAL: Toksisitas Air Limbah Deterjen terhadap Ikan Mas (Cyprinus carprio)

ABSTRAK: Air limbah deterjen dari rumah tangga merupakan salah satu komponen yang dapat menimbulkan efek yang buruk terhadap biota air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik air limbah deterjen yang terpapar pada ikan mas (Cyprinus carprio) dan menentukan nlai LC50 dari deterjen tersebut. 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu melakukan uji temuan awal, uji definitif dengan variasi konsentrasi air limbah deterjen : 0 mg/L, 10 mg/L, 20 mg/L, 30 mg/L, 40 mg/L, dan 50 mg/L dengan tiga kali seri. Total ikan mas (berat per ekor = 30 gr) yang digunakan ialah 10 x 6 x 3 = 180 ekor. Data dianalisis dengan menggunakan metode Litchfield-Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa deterjen mempunyai sifat sebagai toksikan terhadap ikan dan konsentrasi deterjen yang tinggi memperbesar toksisitasnya. Konsentrasi air limbah deterjen untuk LC50 96 jam adalah sebesar 36 mg/L.

Kata kunci : Toksisitas, toksikan, air limbah deterjen, ikan mas
teks lengkap..

JURNAL: Analisis Cemaran Logam Berat Pb, Cu, dan Cd pada Ikan Air Tawar dengan Metode Spektrometri Nyala Serapan Atom (SSA)

ABSTRAK: Telah dilakukan analisis logam berat Pb, Cu dan Cddalam cuplikan ikan air tawar dengan metode spektrometri nyala serapan atom (SSA). Preparasi awalcuplikan dilakukan dengan ikan dicuci, diambil daging, dikeringkan, ditumbuk dan disaring hingga lolos100 mesh, dilarutkan dengan teknik teflon bom digesti sampai diperoleh larutan cuplikan yang siap untukdianalisis. 
 
Parameter analisis dengan SSA meliputi kondisi optimum analisis, kurva kalibrasi unsur, rentangkonsentrasi terpakai, kelayakan alat uji dan validasi metode uji. Diperoleh kadar Pb dan Cu dalam tiga jenisikan (ikan mas, nila, dan lele) dari kolam air tawar yang berbeda (selokan Mataram, sungai Winongo,sungai Cebongan, sungai Bedog) tidak ada perbedaan yang signifikan. Sedangkan kadar Cd dalam cuplikantiga jenis ikan berada di bawah batas deteksi. Alat uji SSA masih layak sebagai alat uji dengan perolehanakurasi 0,65 % dan presisi 0,019 ppm berada di bawah batas yang dipersyaratkan 1 % dan 0,04 ppm.

Kata kunci : logam berat, metode nyala AAS, ikan air tawar
teks lengkap..

JURNAL: Studi Pembuatan Pakan Ikan dari Campuran Ampas Tahu, Ampas Ikan, Darah SAPI Potong dan Daun Keladi yang Disesuaikan dengan Standar Mutu Pakan Ikan

ABSTRAK: Telah dilakukan penelitian mengenai pembuatan pakan ikan berupa pelet dari bahan baku campuran ampas tahu, ampas ikan , darah sapi, dan daun keladi. Pelet ikan yang diperoleh dari pencampuran 25 g tepung ampas tahu, 25 g tepung ikan, 25 g tepung daun, 20 g tepung darah, dan 5 g tepung tapioka sebagai perekat.

Campuran diolah dan dicetak dengan diameter 3 mm berbentuk silinder lalu dikeringkan dalam oven 60 0C, di mana pelet yang diperoleh dapat mengapung di atas permukaan air  10 menit. Dilakukan karakterisasi terhadap pelet ikan yang diperoleh meliputi kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat, kadar serat kasar, dan kadar mineral. Hasil karakterisasi dari pelet ikan dapat disimpulkan sebagai berikut: kadar protein 31,1925%, lemak 6,0102%, gula reduksi 4,4033%, serat kasar 4,8290%, kadar Ca 0,16%, Na 0,0029%, Mg 0,0076%, dan Fe 0,0285%.

Kata kunci: Pakan Ikan, Pelet, Hidrolisa
teks lengkap..

Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

Desain geometris bisa juga Anda terapkan di taman. Kalau tidak sebagai hardscapeya softscape .

Taman mestinya merupakan area yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Untuk membuatnya menjadi seperti itu, taman harus dibuat asri. Dan yang mananya asri itu tak selalu identik dengan taman yang rimbun berbunga-bunga. Taman dengan konsep yang kompak pun bisa menjadi asri.

Padu hunian, taman sepantasnya memiliki komposisi proporsional antara elemen hardscape dan elemen softscape. Sebuah komposisi disebut nyaman, jika kedua elemen hardscape dan softscape itu saling memberikan kekuatan. Hardscape yang terlalu dominan dapat menigkatkan kesan kaku di taman. Sedangkan softscape yang terlalu banyak justrudapat menghilangkan kesan teritori bangunan yang membatasi ruang taman.

Taman di rumah M. Ibnu Sina ini contohnya. Olahan taman yang didesain oleh tim SUBvisionary relatif simpel. Tak banyak tanaman yang mengisi ruang-ruang taman di area depan rumah. Cukup rumput gajah mini, lidah mertua (Sansevieria sp ), danAdenium di area pojok kiri rumah. Softscape yang simpel, tetap terlihat cantik dengan permainan bentuk geometri lantai pijakan berukuran 40cmx40cm yang terbuat dari koral sikat. Pijakan-pijakan berbentuk kotak berjajar ini mengisi bagian tengah "padang" rumput. Kehadirannya memberikan kekuatan ruang pada taman.

Di taman ini, keberadaan jenis tanaman sederhana yang relatif mudah didapatkan terlihat istimewa. Hardscape berupa olahan dinding bata beton yang ditata secara simetris seolah membantu keberadaan sosok tanaman. Di sini, bata beton dibuat sebagai dinding pembatas taman. Susunannya pun mengambil unsur geometri. Ada celah antarbata sekitar 5cm lebar yang sekaligus seakan menjadi dekorasi dinding. Cahaya lampu sorot diarahkan ke dinding bata beton ini. Suasana sore dan malam pun taman tetap dapat dinikmati keindahannya.


http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Taman-dan-tanaman/Inspirasi-taman/Dinding-Bata-Beton-Membuat-Taman-Menjadi-Asri

Persiapan Negosiasi Ala Bill Gates

Tips Bisnis
PDF Cetak E-mail
Rabu, 05 Januari 2011 15:31
bill_gates_1Di tahun 1980, Bill Gates baru berusia 24 tahun dan hendak mengadakan negosiasi dengan perusahaan raksasa IBM. Saat itu Microsoft hanyalah perusahaan kecil dengan aset sekitar 7 juta dolar AS. Apabila dibandingkan IBM, Microsoft bukanlah tandingan yang sepadan. Kala itu, IBM berhasil menikmati angka penjualan yang fantastis yaitu sebesar 30 miliar dolar AS per tahun.

“Big Blue”, begitu IBM mendapat julukan, berniat untuk memperoleh hasil karya Microsoft untuk melapangkan jalannya mengembangkan komputer personal. IBM menganggap Microsoft -yang lebih kecil- dapat dijadikan sebagai sebuah batu loncatan untuk mempermulus usaha tersebut.

Saat perundingan dilaksanakan, Gates selaku pucuk pimpinan Microsoft dengan sangat cerdik mempersiapkan strategi dalam menghadapi IBM. IBM berkeinginan untuk membeli sebuah sistem operasi dari Microsoft senilai 175.000 dolar AS. Gates, yang menyadari bahwa IBM akan menggunakan kode program Microsoft dalam berbagai mesin kelak, menolak mentah-mentah tawaran IBM.

Tak hanya menolak, Gates juga berhasil membujuk IBM untuk masuk dalam ‘perangkap’ yang dibuatnya sendiri. Gates bersikukuh memegang kepemilikan atas MS DOS, dan lebih memilih untuk menunggu pemasukan royalti. Selain itu, Gates juga mempertahankan haknya untuk memberikan lisensi penggunaan MS DOS kepada pihak lain selain IBM. Hasil negosiasi ini terbukti sangat merugikan IBM dalam berbagai aspek, terutama keuangan.

Tentu Anda penasaran apa yang dilakukan Bill Gates hingga ia mampu menaklukkan raksasa industri komputer IBM dalam sebuah negosiasi. Inilah 3 prinsip negosiasi yang Gates gunakan saat itu, dan yang sebaiknya Anda gunakan juga mulai sekarang:

Prinsip 1: Tetapkan tujuan dan atur pikiranTanyakan pada diri sendiri sebelum memulai sebuah negosiasi, “Apa yang saya inginkan dan raih dari perundingan ini?” Tuliskan tujuan dan pikiran Anda di atas selembar kertas, dan bawalah selama perundingan.

Prinsip 2: Tetapkan batasan

Tentukan batasan Anda. Pikirkan tentang tawaran terbaik apa yang bisa Anda terima di dalam negosiasi tersebut. Kemudian pikirkan tentang tawaran terburuk yang bisa muncul dari pihak yang dihadapi. Batasan paling minimum seperti apakah yang bisa Anda terima? Hal maksimal apakah yang hendak Anda capai? Dengan mengetahui batasan-batasan penting ini sebelum memasuki arena perundingan, lebih kecil kemungkinan Anda untuk terhanyut dengan tawaran pihak lawan dan menyerahkan terlalu banyak hal untuk mendapatkan terlalu sedikit hal.

Prinsip 3: 'Baca' pikiran pihak lawan

Hal apa yang pihak lawan inginkan dari negosiasi tersebut? Apakah target minimal atau maksimalnya? Patut dicamkan juga bahwa hal yang menurut kita sepele bisa dianggap lawan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Anda bisa pertimbangkan untuk mengorbankan hal-hal yang kurang vital tersebut untuk mencapai hal yang lebih krusial dari pihak lawan.

Ketiga prinsip di atas memang bukan aturan baku yang mutlak dan bersifat mengikat. Namun, dengan melaksanakannya kita akan lebih berpeluang untuk memenangkan pertarungan di meja perundingan.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis.html?start=318

662 perawat jenazah mendapatkan tunjangan

Rembang-Sebanyak 622 perawat jenazah di kabupaten Rembang hari kamis menerima tunjangan berupa uang dari pemkab Rembang. Tunjangan secara simbolis diserahkan oleh wakil Bupati H Abdul Hafidz di pendopo kabupaten.


Wakil Bupati dalam pesannya mengatakan, tunjangan tersebut walaupun nilainya masih kecil merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah dalam meningkatkan semangat Perawat jenazah dalam melaksanakan pengabdiannya di tengah-tengah masyarakat.


Pemerintah daerah sangat menghargai dan mengucapkan banyak terima kasih kepada lembaga-lembaga keagamaan di kabupaten Rembang yang beberapa waktu lalu telah banyak membantu dalam penyelenggaraan diklat Perawatan Jenazah.


Hal ini tidak lain adalah merupakan salah satu langkah strategis untuk memberikan pembekalan tehnis bagi para perawat jenazah untuk meningkatkan ketrampilannya, sesuai dengan ketentuan dan aturan yang diperbolehkan dalam agama.


Sementara itu Kasubag pendidikan mental spiritual bagian kesra setda Rembang Arif Romadhan menyampaikan, Tunjangan diberikan kepada 662 perawat jenazah untuk bulan Juli hingga Desember 2010. dengan total per-orang menerima Rp 300.000,-.


Budidaya Ikan Gurame/ Gurami

BUDIDAYA IKAN GURAME
( Osphronemus gouramy )

Gurame merupakan jenis  ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar,
bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuningkuningan/keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga  Anabantidae,
keturunan  Helostoma dan bangsa  Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari
perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia,
Thailands, Ceylon dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat
dibanding ikan air tawar jenis lain.
Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami, Gurameh, orang Sumatra  ikan
kalau, kala, kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris
menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai
mencapai berat 5 kg.


2. SENTRA PERIKANAN
Daerah di Indonesia yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan
Jawa. Sedangkan di luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.
3. JENIS
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
Klas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)
Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya:  gurami angsa,
gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak
dikembangkan di Jawa Barat, khususnya Bogor. Dibanding gurame jenis lain,
porselen lebih unggul dalam menghasilkan telur. Jika induk bastar dalam tiap
sarangnya hanya mampu menghasilkan 2000-3000 butir telur, porselen mampu
10.000 butir. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai  top of the pop, dan
paling banyak diunggulkan.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat
menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat
pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian 50-400 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam
tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia
beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang
mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan
gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air
yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan
secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara
lain:
a. Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan
kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam
tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm
dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
b. Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan
kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi
(tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100
cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur
berupa injuk atau ranting-ranting.
c. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,
pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
d. Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah
penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
e. Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan
Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
a. Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2)
b. Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian
bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.
c. Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air.
Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan
air.
d. Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi.
Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan
tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam
dibuat miring ke arah pintu keluar air.
e. Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu
masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
f. Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang
disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu,
agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta
menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
gurame antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Induk
Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
a. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
b. Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
c. Ukuran kepala relatif kecil
d. Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
e. Gerakan normal dan lincah.
f. Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
g. Berumur antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a. Betina
- Dahi meninjol.
- Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.
- Dagu putih kecoklatan.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b. Jantan
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang keputihan.
- Dagu kuning.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2) Pemeliharaan Induk
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m2) disimpan dalam
kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan.
Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan
sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa
dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan
takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.
3) Pembenihan
Bila proses pematangan gonada (kandung telur dan sperma) di kolam
penampungan sudah mencapai puncaknya, induk segera dimasukkan dalam
kolam pemijahan. Adapun cara pemijjahan ikan gurame adalah sebagai
berikut:
a. Kolam dikeringkan terlebih dahulu selama 5 hari, perbaiki tanggul dan
dasar kolam.
b. Lakukan pengapuran dan pemupukan. Pemupukan dasar dengan pupuk
kandang dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan biarkan selama 3 hari.
c. Tanami dasar kolam dengan tanaman ganggang buntut anjng
d. Isikan air yang telah dicampur dengan pupuk buatan TSP sebantak 500
gram/100 meter persegi, biarkan selama 1 minggu kemudian isikan air
hingga kedalaman 75 cm.
e. Untuk kolam seluas 100 meter persegi bisa disebar induk sebanyak 30
ekor betina dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung, 1-2 hari
induk betina akan melepaskan telur-telurnya ke dalam sarang yang
kemudian disemproti sperma oleh si jantan sehingga terjadi pembuahan
sel telur. 20-30 hari kemudian, induk-induk yang terpelihara baik akan
berpijah lagi dan beberapa hari kemudian telur akan menetas.
4) Pemeliharaan Bibit
Benih-benih yang telah berumur 1-2 bulan sejak menetas dapat dibesarkan
pada kolam pendederan atau disawah sebagai penyelang. Dalam
pelaksanaan pendederan adalah melakukan pengeringan kolam atau sawah,
pemupukan, perbaikan pematang dan pemasangan saringan atau perbaikan
pipa-pipa pada pintu pemasukan atau pengeluaran air.
Setelah persiapan selesai, benih ditebarkan dengan kepadatan 30
ekor/meter persegi dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan.
Makanan yang dapat diberikan selama pemeliharaan adalah rayap atau
daun-daunan yang telah dilunakkan dengan dosis 20-30% berat badan ratarata. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas
diberikan 1 kali seminggu dengan takaran 1 blek minyak tanah untuk 100
ekor benih. Lamanya pendederan sekitar 1-2 bulan.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
a) Polikultur
Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau
lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame
yang cukup lambat.
b) Monokultur
Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus
berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm)
diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi
2) Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada
umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan,
dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan.
Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada
saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk
tiap 100 m2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai
ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari.
Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk
buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100
m2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap
dasar dan sudut kolam.
3) Pemberian Pakan
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun
di daerah yang agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan
alternatif yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun
pepaya, keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun,
labu dan dadap.
Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi
dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk-induk
gurame yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali
setahun berturut-turut selama 5 tahun.
4) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan
pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih
disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang
disebut penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit.
Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya
gas-gas beracun berupa asam belerang atau amoniak; kerusakan akibat
penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan. Penanggulangannya
adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku ikan-ikan tersebut.
Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk
mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban
gerakannya.
Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri,
virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan terkena penyakit
yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:
1) Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama
di bagian dada, perut dan pangkal sirip.
2) Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi
pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu
3) Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri.
Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan
dan melakukan penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala
stadium mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan
pinset.
Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya,
dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
1) Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)
a. Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak
penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.
b. Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
c. Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60
menit dengan diawasi terus menerus.
d. Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari
kemudian.
2) Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan
2-3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan
tersebut dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu
disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.
3) Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit
mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya: (1) siapkan wadah yang diisi air
bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai
rata; (2) ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat
ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja. (3) Setelah itu
segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya
dipindahkan kembali ke dalam kolam; (4) pengobatan ulang dapat dilakukan
3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.
7.2. Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan
liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan
sepat. Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung
pemangsa.
8. PANEN
8.1. Penangkapan
Pemanenan benih dapat dilakukan setelah benih berumur 1 bulan.  Caranya
dengan menyurutkan air sedikit demi sedikit sementara saluran air masuk
diperkecil.  Pasanglah jaring lembut di pintu pengeluaran untuk menampung
benih atau bisa juga dengan membuat parit di tengah kolam menuju ke lubang
pengeluaran.  Bibit yang terawat baik bisa mencapai bobot 0,3 gram/ekor pada
saat dipanen.
Pemanenan hasil pembesaran ikan gurame sangat tersantung dari ukuran yang
diminta konsumen. Umumnya pemanenan dilakukan setelah ikan berumur 2-3
tahun, ikan yang berumur 2 tahun mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berat
0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35
cm dan berat badan 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat
mencapai 40 cm dan berat 1.5 kg/ekor. Adapun cara penangkapan:
disurutkan sedikit demi sedikit, penangkapan dilakukan pada pagi hari. Hindari
cara penangkapan yang dapat menyebabkan ikan terluka.
8.2. Pembersihan
Setelah air kolam surut, benih digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok
dan dimasukkan ke dalam keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya
gurame saja yang tertangkap, sehingga sebelum ikan dimasukkan ke kolam
pemberokan, harus diseleksi dan dibersihkan terlebih dahulu. Pembersihan
benih dilakukan selama 1 hari. tujuannya agar ikan tidak mabuk sewaktu
diangkut ke pasar. Lamanya pembersihan disesuaikan dengan besarnya benih.
9. PASCAPANEN
1) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
3) Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan pascapanen
benih adalah sebagai berikut:
1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air
sumur yang telah diaerasi semalam.
3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.
4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap
keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar
5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
b. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu
lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan
ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos
yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat
diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam
10 liter air bersih).
2) Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik
terjadi perlahan-lahan.
3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan  tetrasiklin selama 1-2
menit.
4) Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat
juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin
sebanyak 4% selama 3-5 menit.
5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya ikan gurame untuk 6 empang selama 1 bulan di
daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya produksi
a. Sewa lahan 6 empang @ Rp. 80.000,-/bulan Rp.     480.000,-
b. Benih per empang 4000 ekor @Rp 150,- Rp.  3.600.000,-
c. Pakan
- Postal per empang 7 karung @ Rp 10.000,- Rp.     420.000,-
- Rambo per empang 5 karung @ Rp 2.500,- Rp.       75.000,-
d. Obat
- Super tetra per empang 2 tablet @ Rp 1.000,- Rp        12.000,-
e. Tenaga kerja 2 OH @ Rp 20.000,- Rp.       40.000,-
f. Lain-lain (pemeliharaan) Rp.     460.700,-
Jumlah biaya produksi Rp.  5.089.700,-
2) Penerimaan per empang 4000 ekor @ Rp. 400,- Rp.  9.600.000,-
3) Keuntungan Rp.  4.510.300,-
4) Parameter kelayakan usaha
B/C Rasio =  1,89
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan gurame, mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi.
disamping rasanya yang lezat dan empuk, ikan ini pun digemari banyak orang.
Sudah menjadi tradisi dalam setiap kendurian, ikan gurame selalu menjadi
syarat utama hidangan. Disamping rasanya itu, perawatannya pun tidak terlalu
sulit dan tidak memakan banyak biaya, sehingga banyak petani ikan yang mulai
menggemari, membudidayakan ikan ini, karena harga dari setiap bibitnya yang
murah dapat menghasilkan keuntungan 3 kali lipat dari harga bibit. Harga dari
ikan gurame di pasaran sangat bervariasi tergantung dari bobot ikan tersebut.
Ikan gurame dengan berat 1,5 kg dapat mencapai harga Rp 6.000-Rp 8.000
tergantung keadaan pada saat itu.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 12/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
11. DAFTAR PUSTAKA
1) RUSDI, Taufiq.  Usaha budidaya Ikan Gurame.  Jakarta : CV. simplek, 1987
2) SITANGGANG, M.  Budidaya Gurame.  Jakarta : Penerbit Swadaya, 1999
3) ____________. Kumpulan Gurame  Kliping Ikan.  Jakarta : trubus, 1997
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Jakarta, Maret 2000
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Editor : Kemal Prihatman
KEMBALI KE MENU