BUDIDAYA CABAI MERAH



Cabai merupakan tanaman perdu dari family terung-terungan (Solanaceae). Keluarga ini diduga memliki sekitar 90 genus dan sekitar 2.000 spesies yang terdiri dari tumbuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Dari banyaknya spesies tersebut, hampir dapat dikatakan sebagian besar merupakan tumbuhan negeri tropis. Namun, secara ekonomis yang dapat atau sudah dimanfaatkan baru beberapa spesies saja. Di antaranya yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah kentang, tomat, dan tembakau.
Tanaman cabai sendiri diperkirakan ada sekitar 20 spesies yang sebagiab besarnya tumbuh di tempat asalnya, Amerika. Di antaranya yang sudah akrab dengan kehidupan manusia baru beberapa spesies saja, yaitu cabai besar, cabai kecil, C. baccatum, C. pubescens, C. Chinese. 

Buah cabai dapat dimanfaatkan untuk banyak keperluan, baik yang berhubungan dengan kegiatan masak-memasak, maupun untuk keperluan lain seperti untuk bahan ramuan obat tradisional. Konon buah cabai dapat bermanfaat untuk membantu kerja pencernaan dalam tubuh manusia.

Untuk peluang bisnis cabai sendiri pasti menguntungkan. Kekurangan produksi itulah yang merupakan peluang pasar dalam negeri yang dapat digarap. Bila kekurangan ini dikonversikan ke areal tanam maka Indonesia masih memerlukan lahan tanam sekurang-kurangnya 60 ribu hektar seandainya hasil panen per hektar sebagaimana dicatat oleh Departemen Pertanian adalah sebesar 4,28 ton per hektar. Namun, bila memakai patokan angka produksi rata-rata dari Biro Pusat Statistik yang besarnya sekitar 2 ton per hektar maka Indonesia masih memerlukan lahan tanam sekurang-kurangnya 130 ribu hektar (data th. 2000)
Oleh karena itulah dapat dimaklumi kalau Indonesia masih mengimpor dalam bentuk segar maupun kering atau bubuk dan masih mengadakan pembibitan untuk perluasan penanamanya. Namun, ini pun berarti peluang pasar cabai dalam negeri masih terbuka lebar. Dengan kata lain, tanaman cabai masih memberikan harapan untuk dijadikan lading bisnis di sektor pertanian.
 
Telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan cabai besar ialah cabai merah, cabai hijau, cabai dieng, dan paprika. Cabai merah sendiri terdiri dari cabai merah biasa, cabai keriting, cabai Taiwan. Cabai merah yang banyak ditanam petani antara lain cabai merah jawa dan cabai semarang. Cabai merah jawa ini merupakan jenis cabai lokal.
  

A.    Penentuan Lokasi Budi Daya Cabai Merah

Sebelum melangkah lebih maju, ada beberapa hal yang perlu diingat tentang lokasi pembudidayaan cabai merah ini.
  • Cabai merah umunya dapat ditanam didaerah rendah maupun pegunugan.
  • Penanaman cabai ini sebaiknya dilakukan pada akhir musim penghujan atau menjelang musim kemarau (sekitar Maret-April)
  • Umumnya cabai tidak tahan terhadap genangan air hujan atau air siraman. Genangan air dapat menyebabkan akar tanaman mudak busuk. Bahkan genangan air dapat membuat tanaman menderita layu daun, gugur bunga, atau gugur buah. Oleh karena itu, tanah perlu diolah agar mudah menyerap air sehingga air tidak mudah tergenang
  • Pembudidayaan cabai di lahan bertanah liat akan memberikan hasil yang kurang memuaskan disbanding dengan tanah lempung. Situasi tanah ini tidak boleh luput dari perhatian kita.
  
B.      Penentuan Jarak Tanaman Cabai Merah

Jarak tanaman cabai merah ditentukan berdasarkan jenisnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, jarak yang lebar akan lebih baik untuk kesehatan tanaman. Bila jarak terlalu sempit, situasi disekitar tanaman akan lembap. Nah, di situasi ini lah, akan datangnya jamur dan kutu yang akan mempengaruhi produksi buah tanaman cabai merah yang kita tanam.

Jarak tanaman cabai merah yang umunya digunakan petani adalah 50-60 cm untuk jarak antarlubang dan 60-70 cm untuk jarak antarbarisan. Jarak tanaman cabai merah tersebut ternyata membuat tanaman cabai banyak diserang penyakit keriting daun dan layu daun. Oleh karena itulah, jarak tanam cabai sebaiknya dibuat lebih lebar lagi, misalnya sekitar 100x100 cm

Sebernarnya lebar jarak antar tanaman berdampak positif untuk tanaman karena tidak berebut makanan, air, dan juga tidak saling menutupi untuk mendapatkan sinar matahari.
  

                                            100 cm 











C.    Penanaman Bibit Cabai Merah
Bibit cabai merah yang siap tanam merupakan bibit yang sudah berumur 1-1,5 bulan setelah penyemaian benih cabai merah. Bila pembenihan dilakukan sekitar bulan Januari-Februari maka pelaksanaan penanamannya akan jatuh pada bulan Maret-April.
Sebelum penanamanm keranjang atau kantong plastic tempat pembibitan harus dibuang terlebih dahulu. Setelah itu, tanah dan bibit cabai merah ditanam di lubang tanam yang sudah disiapkan sebelumnya. Saat pembuangan keranjang atau polibag perlu dijaga agar akar tanamannya tidak rusak. Untuk itu perlakuan di dekat lubang tanam agar bibit cabai merah dapat langsung dimasukan ke dalam lubang tanam.
Bila penanaman dilakukan dengan cara monokultur dan jarak tanam 50-60 cm x 60-70 cm maka jumlah tanaman pada lahan 1 ha akan terdapat sekitar 25.000-30.000 tanaman. Tapi perlu diingat, akan lebih rawan terkena jamur dan kutu dan juga perolehan makanan masing-masing tanaman akan berpengaruh pada buahnya, jika semakin sempit jarak antar tanaman.
Setelah tanaman dimasukan ke dalam lubang tanam tanah bekas galiannya dimasukan meyusul  ke dalam lubang sambil diuruk hingga batas pangkal batang atau menutupi tanah bekas pembibitan. Selanjutnya bagian tanah di sekitar tanaman ditekan-tekan atau diinjak-injak yang arahnya ke bagian akar agar tanah menjadi sedikit lebih pada. Cara ini bertujuan agar tanaman tidak mudah goyang
Waktu penanaman sebailknya dilakukan pada sore hari . Setelah penanaman, penyiraman dapat langsung diberikan. Oleh karena tanaman baru saja ditanam maka kondisinya masih lemah. Untuk itu, pelindung tanaman sangat diperlukan agar tanaman tidak terkena sengatan sinar matahari secara langsung serta terhindar dari terpaan air hujan dan angin kencang. Pelindung atau naungan ini dapat dibuat secara sederhana dengan memanfaatkan pelapah daun pisang kering, daun kelapa atau lainnya. Pelindung ini cukup ditopang dengan tiang bamboo kecil atau ranting kayu asalkan cukup kuat untuk menahan guyuran air hujan atau terpaan angin kencang. Agar kelembapan tanah dapat terjaga, di atas tanah sebaiknya diberikan kayu untuk penyanggah batang cabai agar kuat.
So, itu lah cara perawatan untuk cabai merah, sorry untuk cara pemupukan dan pemanenan nanti saya update lagi di postingan baru. .and selamat mencoba haha :D
Budidaya Cabai Merah


TRIK MENANAM CABAI MERAH DI MUSIM HUJAN / PLANTING TRICKS HOT PEPPER RAINY SEASON

TRIK MENANAM CABAI MERAH DI MUSIM HUJAN
Menanam cabai dimusim hujan berarti menanggung resiko gagal karena gangguan penyakit. Tetapi jika berhasil, harga cabai yang tinggi bakal memberikan keuntungan besar bagi petani. Dengan  pemilihan lokasi, varietas, dan teknologi budidaya, keberhasilan itu gampang diraih.
Sebenarnya resiko kegagalan menanam cabai merah di musim hujan,  tinggi. Hujan yang terus menerus akan meningkatkan kelembapan di sekitar areal penanaman. Hal ini akan mengundang ‘kedatangan’ cendawan atau bakteri yang berbahaya bagi tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu diperhatikan beberapa “kiat khusus”.

LOKASI DAN VARIETAS
Kiat pertama ialah mempersiapkan media semai. Ini penting karena musim hujan sangat sulit mendapatkan tanah yang kering. Demikian pula turus dan gelagar penopang tanaman harus tersedia sebelum penanaman dimulai.
Selain itu jumlah tenaga kerja yang diperlukan lebih banyak daripada biasa. Misalnya, pemasangan mulsa hitam perak harus selesai sebelum sore hari, karena kemungkinan besar hujan akan turun. Pekerjaan ini jangan sampai ditunda, karena bibit harus secepatnya dipindahkan. Jangan menunggu sampai umur bibit semakin bertambah, sehingga terlambat pindah tanam. Umur bibit siap pindah akan menentukan produksi buah. Untuk cabai merah hibrida, bibit harus dipindahkan 17-21 hari setelah tanam di dataran rendah dan 23-28 hari setelah tanam di dataran tinggi.
Persediaan pestisida, terutama fungisida dan perekat harus lebih banyak daripada musim kemarau. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan serangan jamur dan bakteri akibat kelembapan tinggi di sekitar tanaman.
Pemilihan lokasi penanaman akan menentukan keberhasilan pertumbuhan selanjutnya. Lokasi bekas penanaman padi, kacang-kacangan, jagung, kubis bisa jadi alternative. Yang penting jangan memilih bekas tanaman family Solanaccae seperti tomat, kentang dan terung.
Selain syarat di atas, tanah tersebut harus kaya bahan organic, pH 5,5-6,5, gembur dan sedikit mengandung tanah liat, sehingga drainase akan berjalan baik. Bila tidak, tanah akan sulit membuang air. Akibatnya perakaran tanaman akan tergenang dan menjadi busuk. Pemilihan varietas juga langkah awal yang penting untuk menunjang keberhasilan budidaya cabai merah di musim hujan. Pilihlah varietas  yang tahan penyakit. Pada cabai hibrida contohnya varietas hot beauty dan hero. Varietas tersebut terkenal mempunyai toleransi tinggi yang disebabkan oleh virus.

PEMBIBITAN
Saat pembibitan, sebaiknya jumlah benih yang akan disemai lebih banyak 1-2 pak daripada biasanya. Kelebihan benih disemai selang satu minggu setelah penyemaian selesai. Tujuannya sebagai cadangan penyulaman.
Benih yang disemai ditanam di polybag ukuran 5 cm x 7 cm, berisi media pupuk kandang, pasir dan pestisida. Polybag-polybag tersebut diletakkan di rak-rak pesemaian setinggi 1,2 m. jarak antar tanah dengan rak bagian bawah 40 cm. maksudnya agar benih cabai tidak terkena percikan hujan.
Penyakit yang biasa menyerang bibit adalah rebah batang atau dumping off akibat serangan cendawan Pythium aphanidermatum. Untuk mengatasinya, semprotkan fungisida berbahan aktif promakarb hidroklorida dengan konsentrasi 0,5-1,0 ml/l saat daun sejati bibit telah muncul (12-14 hari setelah tanam).
Menjelang pindah tanam, bibit disortir. Hanya bibit sehat dan seragam yang layak untuk ditanam.

POPULASI TANAMAN
Bibit selanjutnya ditanam di bedengan. Ukuran bedengan disesuaikan dengan kondisi saat musim hujan. Lebar bedengan 100-110 cm, lebar parit 60-70 cm, panjang bedengan kurang dari 12 m. hal ini mempermudah pemeliharaan tanaman dan pembuangan air yang berlebihan. Tinggi bedengan minimal 50 cm, agar akar tidak tergenang saat hujan. Juga supaya air hujan terbuang tuntas.
Bedengan perlu ditutup mulsa hitam plastic hitam perak. Tujuannya untuk mengurangi penguapan air dalam tanah dan menghindari percikan air hujan yang dapat mengakibatkan datangnya cendawan. Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan sesudah hujan, untuk memudahkan penancapan bambu pada pinggiran mulsa. Pemasangan mulsa harus selesai saat itu juga, jangan tertunda.
Jumlah bedengan tergantung luas lahan. Yang pasti, populasi tanaman tidak lebih dari 17.000 tanaman per hektar. Populasi yang terlalu padat akan merangsang datangnya hama dan penyakit. Jarak tanam yang digunakan 60 cm x 65 cm dengan system tanaman zig-zag atau 65 cm x 70 cm dengan system tanam berhadap-hadapan antar baris tanaman.
Apabila lahan berbentuk terasering, penanaman sebaiknya dimulai dari hamparan paling bawah. Tujuannya bila tanaman yang berumur tua terserang penyakit, ia tidak akan menulari tanaman yang lebih muda lewat pengairan.
Selanjutnya, untuk mencegah robohnya tanaman akibat hujan dan tiupan angin, dipasang ajir rangkap dua. Ajir dihubungkan dengan palang bambu yang tipis. Dapat pula tali yang kuat.
Selain itu, seminggu setelah tanam, tunas-tunas yang tumbuh harus dirempel atau dipangkas sampai terbentuk cabang. Bila tidak dipangkas, daun-daun di bagian bawah akan sangat rimbun, sehingga akan ‘mengundang’ cendawan.

PEMUPUKAN
Untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit digunakan pupuk kandang matang 0,75-1,0 kg pertanaman dan 80-100 gr campuran pupuk kimia, dengan perbandingan ZA : Urea : TSP : KCl sebesar 2 : 1 : 1,5 : 1,5.
Pemupukan susulan dilakukan saat tanaman berumur 12-14 hari setelah tanam, dengan pupuk daun N seperti Kemira Green atau Complesal Special Tonic. Pemberian ini cukup sekali saja, sedangkan pupuk daun unsur P dan K tinggi diberikan sekali pada umur 40 hari setelah tanam, seperti Kemira Red atau Complesal Super Tonic.
Disamping pupuk N, pupuk mikro juga diberikan lewat daun. Tujuannya untuk mencegah kerontokan buah dan meningkatkan ketahanan tanaman. Jenis pupuk mikro ini adalah multimicro yang diberikan dua kali, yaitu saat umur 25 dan 53 hari setelah tanam.
Pemupukan nitrogen (ZA dan urea) yang terlalu tinggi atau terlalu sering, mengakibatkan tanaman terlalu subur sehingga banyak terbentuk daun. Pembentukan buah berkurang, batang menjadi sukulen. Hal ini membuat tanaman peka terhadap penyakit dan mudah patah bila tertimpa curah hujan.

HAMA DAN PENYAKIT
Perawatan penting lain ialah memantau serangan hama dan penyakit. Di musim hujan, serangan penyakit jauh lebih berbahaya daripada serangan hama. Biasanya serangan muncul saat tanaman mulai berbuah (pada 40 hari setelah tanam). Penyakit yang biasa menyerang terutama layu Fusarium (Fusarium oxysporum), dan layu bakteri (Psedomonas solanaceae). Untuk mengatasinya, tanaman yang terserang dicabut dan tanaman disekitarnya disiram larutan formalin atau KMnO4 dengan konsentrasi 0,2 %.
Hama yang biasa menyerang adalah lalat buah (Dacus dorsalis). Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif deltamerin 0,2-0,4 ml/l, triazofoz 1-2 ml/l. dapat pula digunakan perangkap dengan sex pheromone yang terbuat dari bahan aktif metil eugenol.
Pada saat tanaman berbuah lebat, antraknosa atau “patek” (Colletotrichum capsici) sering menyerang tanaman cabai ini. Untuk mengatasinya, gunakan fungisida berbahan aktif karbendazim 1-2 gr/l secara bergantian dengan fungisida kontak lainnya. Selain antraknosa, penyakit bercak bakteri (Xanthomonas campestris) juga mengganas di musim hujan. Cirinya, pada daun terdapat bercak-bercak kebasahan seperti ada bekas minyak. Daun-daun yang terserang secepat mungkin dipetik untuk menghindari penyebaran penyakit ini. Selain itu dapat dapat pula digunakan fungisida berbahan aktif tembaga oksiklorida dengan konsentrasi 2-3 gr/l.
Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan ialah membersihkan gulma-gulma di sekitar parit antar bedengan, untukmengurangi kelembapan tanaman serta menghindari gulma sebagai inang hama dan penyakit. Daun-daun yang terserang dipetik dan dimusnahkan, agar tidak menyebar ke tanaman sehat. Tanaman yang terserang penyakit harus segera dicabut dan dibakar. Daerah sekitar tanaman terserang diisolasi dengan perlakuan khusus sesuai macam serangan penyakit.
Sumber : TRUBUS – TH XXV – JUNI 1994

PLANTING TRICKS HOT PEPPER RAINY SEASON

Planting peppers rainy season means to bear the risk of failure due to disease. But if successful, the high price of chili peppers will provide huge profits for farmers. With site selection, varieties, and cultivation technology, it is easy to achieve success.Actually, the risk of failure to grow chili peppers in the wet season, high. Rain will continue to increase humidity around the planting area. This will invite the 'arrival' of fungi or bacteria that are harmful to plants. To overcome this, needs to be some "special tricks".

LOCATION AND VARIETIESThe first tips is to prepare the seedling media. This is important because the rainy season is very difficult to find dry land. Similarly pillar and girder cantilever plants must be available before planting begins.In addition, the amount of labor required more than usual. For example, the installation of a silver black mulch should be completed before late afternoon, as most likely it will rain. This work should not be delayed, because the seeds must be immediately removed. Do not wait until the age of seedlings growing, so too late transplanting. Age of seedlings ready to move will determine the production of fruit. For hybrids of red chili, seeds should be removed 17-21 days after planting in the lowlands and 23-28 days after planting in the highlands.Inventories of pesticides, especially fungicides and adhesive should be greater than the dry season. This is to anticipate possible attacks by fungi and bacteria due to high humidity around the plant.Selection of planting site will determine the success of further growth. Location of former cultivation of rice, beans, corn, cabbage could be the alternative. The important thing is not to choose former Solanaccae family plants such as tomatoes, potatoes and eggplant.In addition to the above conditions, the soil should be rich in organic matter, pH 5.5 to 6.5, slightly crumbly and contains clay, so drainage will run fine. If not, the ground will be difficult to remove water. As a result, plant roots will be flooded and become rotten.The selection of varieties is also an important first step to support the success of chili cultivation in the rainy season. Select disease resistant varieties. In the example of hybrid varieties of hot peppers beauty and hero. Varieties are known to have a high tolerance caused by a virus.NurseriesWhen breeding, should the number of sowing seeds that will pack more than the usual 1-2. Excess hose sowing seeds one week after seeding is completed. The goal as a backup stitching.The sowing of seeds planted in polybags of size 5 cm x 7 cm, containing media manure, sand and pesticides. Polybag, polybags was placed on nursery shelves as high as 1.2 m. distance between the bottom shelf of land with 40 cm. meant for chili seeds not exposed to splashing rain.The disease usually attacks the seedlings were horizontal rod or dumping off the attack of fungi Pythium aphanidermatum. To fix this, spray fungicides contain active promakarb hydrochloride with a concentration of 0.5 to 1.0 ml / l when seedlings have true leaves appear (12-14 days after planting).By transplanting the seedlings sorted. Only healthy and uniform seeds viable for planting.

PLANT POPULATIONSeedlings planted in beds. The size beds adapted to conditions during the rainy season. 100-110 cm wide beds, 60-70 cm wide trench, the length of beds less than 12 m. it is easier for plant maintenance and disposal of excess water. Seedbed at least 50 cm high, so the roots are not flooded when it rains. Also so that rain water is wasted completely.Beds need to shut down black plastic mulch silver black. The goal is to reduce the evaporation of water in the soil and avoid splashing rain water which can lead to the arrival of the fungus.Installation of mulch should be done after the rain, to facilitate penancapan bamboo on the outskirts of mulch. Installation of mulch should be completed right away, do not delay.The number of beds depending on the area of land. To be sure, the plant population is not more than 17,000 plants per hectare. The population is too dense will stimulate the arrival of pests and diseases. Plant spacing 60 cm x 65 cm with a zig-zag plant systems or 65 cm x 70 cm with cropping system vis-a-vis inter-row crops.If the land-shaped terraces, planting should be started from the stretch of bottom. The goal when the old-old plants to disease, he would not infect the younger crop through irrigation.Furthermore, to prevent the collapse of crop due to rain and wind, fitted double stake. Marker associated with a thin bamboo bars. It can also be a strong rope.In addition, a week after planting, the shoots that grow must dirempel or pruned to form branches. If not trimmed, the leaves at the bottom will be very dense, so it would 'invite' fungi.

FERTILIZATIONTo improve plant resistance against pests and diseases are used cooked from 0.75 to 1.0 kg manure cropping and 80-100 grams of a mixture of chemical fertilizers, with a ratio of ZA: Urea: TSP: KCl, at 2: 1: 1.5: 1 , 5.Fertilization supplement performed after planting 12-14 days after planting, with leaf N fertilizer such as Kemira Green or Complesal Special Tonic. Giving it just once, whereas foliar fertilizer elements of high P and K are given once at age 40 days after planting, such as Red or Complesal Kemira Super Tonic.In addition to N fertilizers, micro fertilizers are also provided through the leaves. The goal is to prevent loss of fruit and increase plant resistance. This is the type of fertilizer micro multimicro given twice, at the age of 25 and 53 days after planting.Nitrogen fertilization (ZA and urea) are too high or too frequently, resulting in a plant is too fertile, so many leaves are formed.Formation of reduced fruit, a succulent stems. This makes the plants susceptible to disease and easily broken when hit by rainfall.

PEST AND DISEASEAnother important treatment is to monitor pests and diseases. In the rainy season, the disease attacks much more dangerous than the pest attack. Usually the attacks occur when plants begin to bear fruit (at 40 days after planting). Diseases that usually attack mainly Fusarium wilt (Fusarium oxysporum) and bacterial wilt (Psedomonas solanaceae). To overcome this, the affected plants are revoked and the surrounding plants watered with a solution of formalin or KMnO4 concentration of 0.2%.Pests that usually attack the fruit fly (Dacus dorsalis). Control of these pests can be done by spraying insecticides contain active deltamerin from 0.2 to 0.4 ml / l, triazofoz 1-2 ml / l. can also be used with sex pheromone traps made of the active ingredient methyl eugenol.At the time of fruiting plants bushy, antraknosa or "yaws" (Colletotrichum capsici) often attack the chilli plant. To fix this, use fungicides contain active karbendazim 1-2 g / l alternately with fungicides other contacts. Antraknosa addition, bacterial spot disease (Xanthomonas campestris) also raged in the rainy season. Characteristics, in the leaves there are patches of wetness like no traces of oil. The leaves are attacked as soon as possible learned to avoid the spread of this disease. Moreover, it can also be used to contain active fungicide copper oxychloride with concentration 2-3 g / l.Preventive measures that can be done is to clean up weeds-weeds in the vicinity of the trench between the beds, untukmengurangi moisture and prevent weed plant as a host of pests and diseases. The leaves are plucked attacked and destroyed, so as not to spread to healthy plants. Diseased plants that should be immediately removed and burned. The area around affected plants were isolated with special treatment according to disease types.Source: Trubus - TH XXV - June 1994

Taman Rumah Tak Sekadar untuk Menciptakan Keindahan

Taman Rumah Tak Sekadar untuk Menciptakan Keindahan

Tumbuh-tumbuhan memiliki manfaat yang tak terkira bagi kehidupan. Antara lain dapat menghasilkan oksigen, menyimpan air, menyediakan kebutuhan pangan, dan berfungsi dalam proses daur ulang. Karena itu, sangat besar peran tanaman dan pohon dalam mengurangi efek global warming. (pemanasan global).

Umumnya taman dibuat bersandar pada segi visual dan estetika untuk membantu menonjolkan tampilan rumah. Tanaman pengisinya biasanya mahal. Kalangan yang mampu mengha­dirkan taman ini kebanyakan dari golongan menengah atas, dan yang memiliki lahan luas. Kita yang memiliki lahan terbatas, umum­nya memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Jadi, tak ada lagi sisa untuk taman.

Sekarang, pola pikir itu mulai bergeser. Kata Nirwono Yoga, seorang arsitek lansekap, taman tak cukup sekadar luas dan le­bat, tapi harus ada makna ekologis di dalamnya. Membuat taman pun tidak harus di lahan yang luas, di lahan terbatas pun bisa. Bahkan jika kita kreatif, sekecil apapun lahan yang tak dijadikan ruang, bisa menjadi area hijau.

Apa itu makna ekologis? “Intinya adalah taman dengan makna hijau yang berkelanjutan. Misalnya, taman itu bisa berfungsi membantu mendaur ulang dan meresapkan air melalui sumur biopori. Pohonnya produktif, dengan sayuran atau buah-buahan. Tamannya mengundang burung, kupu-kupu, dan kumbang, sehingga proses alam bisa berlangsung,” ujar Nirwono, yang telah membuat sejumlah buku ini.

Desain dari Awal

Membuat taman memang tak hanya untuk menampilkan keindahan karena yang terpenting adalah fungsinya bagi kehidup­an. Bagi rumah-rumah di lahan kecil, untuk menyiasati keterbatasan lahan, bisa dengan membuat taman di atas atap (roof garden) atau taman vertikal.
Agar fungsi ekologis terpenuhi, taman kecil itu pun bisa dimanfaatkan sebagai “apotek hidup” atau kebun sayuran. Di sini, makna dan fungsi ekonomis bagi penghuni bisa tercapai.

Pekarangan tempat bermain anak atau carport tidak lagi ditutup penuh oleh perkerasan, seperti lapisan semen atau keramik. Perkerasan tersebut hanya dipasang pada bagian roda kendaraan, selebihnya tanah yang ditaburi koral, misalnya. Boleh juga perkerasan itu diganti dengan grass block agar resapan di area rumah makin besar. Upaya-upaya tersebut dapat menciptakan bangunan tinggal yang lebih menyokong Bumi.

Sayangnya, kita masih belum terbiasa untuk merancang taman dari awal pembangunan rumah. Kita biasanya membuat taman di “area terbuang”; lahan kosong sisa ruang-ruang yang telah terbangun. Taman dibuat ala kadarnya --yang penting ada taman. Kita masih menganggap, tanpa taman pun rumah tak bermasalah.

Lagi-lagi keterbatasan lahan yang jadi sebab. Walaupun sebenarnya perencanaan taman dari awal akan memecahkan persoalan yang menjadi hambatan karena keterbatasan lahan itu. Dengan desain yang baik, taman bisa diletakkan di ruang-ruang penting keluarga.
Contoh mudah adalah mendesain ruang tamu atau ruang keluarga yang semiterbuka menghadap ke taman. Kita juga bisa meletakkan teras belakang dan ruang makan sebagai bagian dari taman.

Kerjasama dengan Arsitek

Seperti diuraikan di atas, sangat penting merancang taman bersamaan dengan mendesain bangunan. Untuk merealisasikannya, pada tahap awal, arsitek bangunan, arsitek lansekap atau konsultan taman, dan pemilik rumah, bisa berdialog bersama. Pembicaraan antarketiga pihak itu untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang kebutuhan bangunan dan taman.

Sebagai contoh, rumah didesain dengan banyak bukaan --jendela dan pintu-- diperlukan pohon yang rindang untuk menghalau terik matahari. Jadi, kurang tepat jika taman diisi dengan tanaman berbunga yang rendah.

Biasanya, karena komunikasi antara arsitek bangunan dan arsitek lansekap tidak ada, selera pemilik yang dominan. Masalah akan muncul jika pemilik rumah tidak memahami kebutuhan bangunan dan kondisi alam. Untuk kondisi tadi, jika sang pemilik penyuka taman berbunga, terjadilah ketidaktepatan pemanfaatan taman.

Membuat desain rumah dan taman bersamaan dari awal, yang melibatkan arsitek bangunan dan lansekap, apalagi di­tambah desainer interior, termasuk pemilik, bisa menghasilkan solusi-solusi desain yang jauh lebih baik. Perancangan dan komunikasi antara pihak-pihak tadi akan menghasilkan rancangan yang tepat. Bangunan dan taman jadi saling mendukung dan memiliki makna lebih bagi kenyamanan, termasuk ekologi, ekonomi, dan lingkungan.

Foto: iDEA/Dean Martin Saerang

http://www.ideaonline.co.id/

Membuat Taman dari Kumpulan Tanaman Obat


Membuat Taman dari Kumpulan Tanaman Obat

Taman apotik hidup sudah lama dikenal di Indonesia. Taman dengan konsep apotik hidup ini pun juga bisa tampil indah. Yang penting, pandai-pandailah menata.

Siapa bilang tanaman obat tidak bisa menghias taman rumah anda. Justru dengan menanam tanaman obat di taman anda mendapatkan keuntungan ganda yaitu khasiat obat dan penghias taman. Ada beberapa tanaman yang memiliki bentuk yang indah dan berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Beberapa di antaranya yaitu:

  • Lidah Buaya . Bentuk daunnya runcing, berkumpul dan menyebar dari satu titik. Lidah buaya berkhasiat untuk menyuburkan rambut dan meredakan batuk.
  • Kumis Kucing . Kumis kucing memiliki bunga dengan bentuk yang cukup menarik. Bisa anda letakkan di taman anda. Kumis kucing dapat digunakan untuk meredakan sakit pinggang.
  • Puring . Puring adalah tanaman hias yang menarik karena memiliki daun yang berwarna-warni. Daun yang berwarna hijau dapat menghangatkan perut.
  • Melati . Bunga melati memiliki daun yang banyak dan bentuk bunga kecil-kecil. Yang menarik ketika di letakkan di taman anda adalah semerbak wanginya. Daunnya memiliki khasiat menyembuhkan sesak nafas dan sakit kepala. Sedangkan bunganya dapat digunakan untuk mengobati radang mata.
  • Bunga Matahari . Biji bunga matahari mengandung senyawa berkhasiat untuk menurunkan demam.
  • Bunga Mawar . Bunga mawar wanginya harum karena mengandung minyak atsiri di dalamnya. Minyak atsiri berkhasiat untuk mengobati gigitan serangga berbisa, gabag (morbili), dan jerawat.
  • Bunga Sepatu . Berkhasiat mengobati bronchitis, gonorhoea (kencing nanah), haid tidak teratur, obat sakit panas, demam pada anak-anak, sariawan, batuk, gondok, dan sakit kepala.
  • Bakung putih. Bakung putih memiliki bunga berwarna putih. Bunga ini memiliki khasiat dapat menyembuhkan penyakit frambusia

Tetap indah sekaligus bermanfaat. Menarik Bukan. Aplikasikan pada taman rumah anda. Dan tidak perlu khawatir tak punya obat ketika sewaktu-waktu ada anggota keluarga yang sakit. Karena obat nya sudah ada di taman anda.

Selamat mencoba!

Colorful Koi Carp

Colorful Koi Carp


Author:

Don Miller

From their humble beginnings as fish food for Chinese rice farmers, these colorful Koi carp were brought to Japan in the 17th century, not only to be cultivated for cheap nutritious food for their own rice farmers, but also for their aesthetic appeal.

The colorful Koi carp are the domesticated varieties of the common carp. In fact, the word Koi comes from the Japanese word meaning “carp” which was where they were bred for the first time around the 1820’s.

Now Koi are considered to be one of the most popular fresh-water pond fish,, and can be found gracing the waters of millions of outdoor ponds all over the world.

They are not only loved for their variety of colors but also for the longevity of their lives. The longest living Koi ever recorded in history died at the rip old age of two hundred twenty-six.

Koi come in a huge variety of patterns and colors including, red, orange, yellow, black, white, silver or even blue or green. There are potentially thousands of different types of Koi, with about 20 different popular versions. Koi are popular because of their beautiful colors and designs.

Although Koi is simply a carp, modern specimens are products of selective breeding over many generations. Outside elements such as the environment that they live in and the diet they eat can also affect the color of Koi.

It is easy to understand the patience and skill it took for the first Japanese breeders to develop such a magnificent fish.

Koi are extremely social with other breeds of fish as long as they are not small enough to be eaten by these opportunistic

feeders. In a smaller pond Koi may seem to school together, but in larger areas they tend to split up into small groups.

Most fish owners understand that most fish will only grow to the size of their enclosure. However, because Koi can grow to be a large fish, they require and thrive in ponds that are about five hundred gallons or more.

It is important to keep the number of fish in a pond relative to the amount of water that the pond holds. The depth and size of the pond is extremely important.

A pond that contains a depth of at least four feet provides enough room for the colorful Koi to thrive. The health of the fish depends a lot upon the amount of space that Koi fish owners provide their fish with.

Koi can be kept outside in the winter. As the winter temperatures begin to drop, the colorful Koi fish will begin their winter hibernation, and their digestive systems will slow almost to a halt.

However, undigested food in their stomachs can grow rancid and could cause the fish to become sick. Because of this, Koi should not be feed in weather less the fifty degrees Fahrenheit.

Outdoor ponds can be relaxing when the sounds of the rippling water flows through the yard but, no pond is complete without a gorgeous ornamental fish like the Colorful Koi

Many Koi owners consider themselves lucky to be able to have these fish touch their lives and brighten up their worlds.

Article Source: http://www.articlesbase.com/pets-articles/colorful-koi-carp-984808.html

About the Author

Don Miller has been breeding Koi for over 25 years. If you found the article on Koi Care of interest, you will also find further information and articles at the Koi Guide website
http://www.go-to1.com/koi

Kebo Iwa



   Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya saja mereka belum mempunyai anak. Bagi penduduk Bali pada masa itu, manusia yang belum mempunyai keturunan adalah manusia yang siasia hidupnya.

Suatu hari mereka pergi ke Pura Desa. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan. Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki.

Bayi tersebut hendak disusui oleh ibunya, namun jarinya terus menunjuk ke arah sebuah nasi kukus. Bahwa nantinya anak ini akan menjadi tokoh besar, sudah nampak tanda- tandanya sejak dini.

Bayi itu menangis merengek seolah meminta sesuatu. Sang Ibu kasian mendengar rengekan sang bayi , Ibu kemudian mengambil nasi kukus tersebut dan mencoba untuk memberikannya pada bayi. Ibu bergumam dalam hatinya : Apakah anak ini ingin merasakan nasi kukusan ini? Umurnya belum cukup untuk makan nasi?”

Tak dinyana ternyata bayi tersebut memakan nasi kukus tersebut dengan lahapnya. Ibu bayi tersebut menampakkan keterkejutan yang sangat. Ketika baru lahir, anak tersebut sudah bisa untuk memakan nasi… Ibu:” Astaga, Kau telah berikan anak yang luar biasa, ya Hyang Widi…

Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makin banyak dan makin banyak.

Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.

Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.

Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya. Bahan-bahan pangan tersebut diolah oleh Kebo Iwa di Pantai Payan, yang bersebelahan dengan Pantai Soka.

Danau Beratan merupakan tempat dimana , Kebo Iwa biasanya membersihkan, walaupun jaraknya cukup jauh namun dengan tubuh besarnya jarak tidak menjadi masalah baginya, dia bisa mencapai setiap tempat yang diinginkannya di wilayah Bali dengan waktu singkat.

Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dariDanau beratan, Tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang.

Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar sebagai karunia dari Sang Hyang Widi dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar oleh Kebo Iwa.

Pada abad 11 Masehi, sebuah karya pahat yang sangat megah dan indah dibuat di dinding Gunung Kawi, Tampaksiring. Kebo Iwa yang memahat dinding gunung dengan indahnya, hanya dengan menggunakan kuku dari jari tangannya saja. Karya pahat tersebut dibuat hanya dalam waktu semalam suntuk, menggunakan kuku dari jari tangan Kebo Iwa.

Pahatan tersebut diperuntukkan memberikan penghormatan kepada Raja Udayana, Raja Anak Wungsu ,Permaisuri dan perdana menteri raja yang disemayamkan disana. Raja Anak Wungsu adalah raja yang berhasil mempersatukan Bali.

Salah satu hal yang paling istimewa dari Kebo Iwa adalah kemampuannya untuk membuat sumur mata air. Kebo Iwa dengan segenap kekuatan menusukkan jari tangannya ke dalam tanah. Dengan kekuatan jari tangannya yang dahsyat, dia mampu mengadakan sebuah sumur mata air, hanya dengan menusukkan jari telunjuknya ke dalam tanah.

Beragam kemampuan yang luar biasa tersebut, menyebabkan timbulnya daya tarik tersendiri dari pribadi seorang Kebo Iwa. Dan kekuatan luar biasa itu, menyebabkan seorang raja yang berkuasa keturunan terakhir
dari Dinasti Warma Dewa, bernama Sri Astasura Bumi Banten… menginginkan Kebo Iwa untuk menjadi salah satu patihnya di wilayah Blahbatuh…Yang juga dikenal dengan sebutan Raja Bedahulu. (‘Beda’ diartikan sebagai kekuatan yang berbeda). Kebo Iwa diangkat menjadi Patih kerajaan dan saat itu dia mengucapkan Janji bahwa selama Kebo Iwa masih bernafas Bali tidak akan pernah dikuasi.

Dengan dukungan dari patih Kebo Iwa yang luar biasa kuat, Sri Astasura Bumi Banten menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan mau ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit yang berkehendak untuk menaklukkan kerajaan di Bali.

Adapun kerajaan Majapahit waktu itu dipimpin oleh Raja Tri Bhuwana Tungga Dewi, dengan patihnya yang paling terkenal dengan terkenal dengan Sumpah Palapanya (sumpah untuk tidak menikmati kenikmatan dunia bila seluruh wilayah nusantara belum dipersatukan di bawah panji Majapahit) yang bernama Gajah Mada.

Karena kehebatannya, Kebo Iwa dapat menahan serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukkan Bali. Semua kapal-kapal perang Majapahit ditenggelamkan selagi berada di Selat Bali.

Maha Patih Majapahit pun mengatur siasat. Dalam siasat yang diatur, Gajah Mada memberikan pujian kepada Baginda Sri Astasura Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa tanpa menimbulkan kecurigaan. Lantas, Raja Majapahit membujuk Patih kebo Iwa untuk melakukan perjalanan ke Majapahit guna menikahi wanita terhormat nan jelita pilihan raja yang berasal dari Lemah Tulis.

Menanggapi tawaran dari Majapahit, Patih Kebo Iwa yang setia terhadap rajanya, memohon petunjuk dan persetujuan dari baginda Sri Astasura Bumi Banten. Sang Raja menyetujuinya tanpa rasa curiga.Sebelum pergi ke Majapahit, Patih Kebo Iwa terlebih dahulu melakukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhi permintaan Kebo Iwa, mengakibatkan meningkatnya kekuatan dan kesaktian menjadi sangat luar biasa.

Kedatangan Patih Kebo Iwa ke tanah Majapahit menyebabkan para tentara, baik yang belum pernah melihatnya maupun yang pernah takluk atas kekuatannya, menjadi terperangah, kagum, bercampur rasa ngeri dan waspada, Tentara Majapahit, menampakkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka terpusat ke satu tujuan yang sama. Beberapa diantara mereka nampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya; “Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa ! Mengerikan !”.

Patih Gajah Mada menyambut kedatangan Patih Kebo Iwa: “Salam, Patih yang tangguh ! Selamat datang di Kerajaan Majapahit” Patih Kebo Iwa yang menimpali salam dari Patih Gajah Mada. Kebo Iwa : “Terima Kasih Patih, kiranya anda bersedia untuk langsung menjelaskan maksud dari Baginda Tri Bhuwana Tungga Dewi yang meminta saya untuk datang ke Majapahit.

Gajah Mada : “Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Patih kebo Iwa, baginda Raja mengharapkan kedatangan patih guna menjalin suatu tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di Bali dan juga berharap agar patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan baginda yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang tangguh seperti anda”.

Gajah Mada menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya: “Akan tetapi sebelumnya, akan sangat berati apabila Patih kerajaan. Kebo Iwa berkenan membuat sumur air di sana yang nantinya akan dipersembahkan untuk wanita calon pendamping anda. Lebih lagi, sumur itu nantinya juga akan dimanfaatkan oleh rakyat kerajaan Majapahit yang saat ini sedang kekurangan air. Kiranya patih berkenan mengabulkan permohonan ini.

Patih Kebo Iwa memiliki jiwa besar dan lurus hatinya, akhirnya diapun meluluskan permintaan tersebut.Nampak Patih Kebo Iwa yang sedang mempertimbangkan permintaan tersebut. Kemudian memutuskan untuk memenuhi permintaan tersebut. Kebo Iwa (berpikir sejenak) kemudian dia berkata: “Baiklah, biarlah kekuatanku ini kupergunakan untuk sesuatu yang menghadirkan berkat bagi orang banyak”.

Tanpa banyak cakap lagi, Patih Kebo Iwa segera melakukan aktivitasnya untuk menciptakan sebuah sumur air. Sebelum memulai pekerjaannya, tidak lupa Patih Kebo Iwa meminta pedoman dari Sang Hyang Widi. Kebo Iwa : (dalam hati) Ya yang Kuasa, segala yang akan saya lakukan semoga menggambarkan kebesaran namaMu.Kebo Iwa mulai menggali sumur di tempat yang telah ditunjuk.

Dalam waktu yang cukup singkat, sumur telah tergali cukup dalam. Namun belum ada mata air yang keluar. Di atas lubang sumur yang digali oleh Patih Kebo Iwa, para prajurit Majapahit terlihat berkerumun, nampak mereka memusatkan pehatian pada Patih Gajah Mada. Seakan mereka menantikan sesuatu perintah…Tiba-tiba Gajah Mada berteriak: “Timbun dia dengan batu………!!!!” Seketika itu juga, para prajurit menimbun kembali lubang sumur yang sedang dibuat, dengan Patih Kebo Iwa berada di dalamnya.

Para prajurit menimbun lubang sumur dengan batu hasil galian itu sendiri, nampak Kebo Iwa sangat terkejut dan berusaha menahan jatuhnya batu. Dalam waktu yang singkat, lubang sumur itupun tertutup rapat. Mengubur
seorang pahlawan besar didalamnya. Patih Gajah Mada yang berbicara kepada para parjuritnya.Gajah Mada : “Sungguh amat disayangkan seorang pahlawan besar seperti dia harus mengalami ini. Namun, hal ini terpaksa harus dilakukan, agar nusantara ini dapat dipersatukan. Dengan ini kerajaan Bali akan menjadi bagian dari Majapahit”.

Tiba-tiba timbunan batu melesat ke segala penjuru, menghantam prajurit Majapahit. Terdengar teriakan membahana dari dalam sumur. Kebo Iwa : (berteriak) “Belum ! Bali masih tetap merdeka, karena nafasku masih berhembus !!. Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan.

Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur. Kebo Iwa : “Dan pembalasan adalah apa yang kutuntut dari sebuah pengkhianatan !” Patih Kebo Iwa menyerang Patih Gajah Mada kemarahan dan dendam mewarnai pertempuran. Akibat amarah dan dendam yang dirasakan oleh Patih Kebo Iwa, pertempuran berlangsung sengit selama beberapa waktu.

Disela-sela saling serang Gajah Mada berteriak:”Untuk memersatukan dan memperkuat nusantara, segenap kerajaan hendaklah dipersatukan terlebih dahulu. Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai seorang penghalang !”.

Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan
olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini.

Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ? Masih dalam keadaan bertempur, secara sengaja Patih Kebo Iwa melontarkan pernyataan yang intinya mengenai hal untuk mengalahkan kesaktiannya.

Kebo Iwa : “Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.

Pernyataan Patih Kebo Iwa rupanya membuat terkesiap Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada menunjukkan reaksi keheranan yang amat sangat atas perkataan Patih Kebo Iwa.

Gajah Mada yang mengerti atas keinginan Kebo Iwa, nampak menghantamkan jurusnya ke batu kapur, batu itupun luluh lantakmenjadi serpihan bubuk.

Patih Gajah Mada menyapukan bubuk tersebut ke arah Patih Kebo Iwa dengan ilmunya, bubuk kapur menyelimuti tubuh sang patih Nampak Patih Kebo Iwa, sesak napasnya oleh karena bubuk kapur tersebut.

Kiranya bubuk kapur tersebut membuat olah pernapasan Patih Kebo Iwa menjadi terganggu, hal tersebut mengakibatkan kesaktian tubuh Patih Kebo Iwa menjadi lenyap.Patih Gajah Mada melesat ke arah Patih Kebo Iwa,menusukkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwa.

Dan sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali. Patih Kebo Iwa : “Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya…biarlah nusantara yang kuat bersatu hasil yang pantas atas harga hidupku”.

Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada : “Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.

Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut, napas terakhirpun pergilah sudah, meninggalkan raga seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali… dan pertiwi pun meredup melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.

Dengan meninggalnya Kebo Iwa, Bali pun dapat ditaklukkan Majapahit. Berakhirlah riwayat orang besar yang berjasa pada Pulau Bali.




Download filenya disini


Si Kelingking


Si Kelingking adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah kampung di daerah Jambi, Indonesia. Ia dipanggil Kelingking karena ukuran tubuhnya hanya sebesar jari kelingking. Walaupun demikian, ia mempunyai istri seorang putri raja yang cantik jelita. Bagaimana si Kelingking dapat mempersunting seorang putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Si Kelingking berikut ini. Alkisah, di sebuah dusun di Negeri Jambi, ada sepasang suami-istri yang miskin. Mereka sudah puluhan tahun membina rumah tangga, namun belum dikaruniai anak. Segala usaha telah mereka lakukan untuk mewujudkan keinginan mereka, namun belum juga membuahkan hasil. 


Sepasang suami-istri itu benar-benar dilanda keputusasaan. Suatu ketika, dalam keadaan putus asa mereka berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. “Ya Tuhan Yang Maha Tahu segala yang ada di dalam hati manusia. Telah lama kami menikah, tetapi belum juga mendapatkan seorang anak. Karuniankanlah kepada kami seorang anak! Walaupun hanya sebesar kelingking, kami akan rela menerimanya,” pinta sepasang suami-istri itu. Beberapa bulan kemudian, sang Istri mengandung. Mulanya sang Suami tidak percaya akan hal itu, karena tidak ada tanda-tanda kehamilan pada istrinya. Di samping karena umur istrinya sudah tua, perut istrinya pun tidak terlihat ada perubahan. Meski demikian, sebagai seorang wanita, sang Istri benar-benar yakin jika dirinya sedang hamil. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutnya. Ia pun berusaha meyakinkan suaminya dengan mengingatkan kembali pada doa yang telah diucapkan dulu. “Apakah Abang lupa pada doa Abang dulu. Bukankah Abang pernah memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberikan seorang anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Istri mengingatkan.  


Mendengar pertanyaan itu, sang Suami pun termenung dan mengingat-ingat kembali doa yang pernah dia ucapkan dulu. “O iya, kamu benar, istriku! Sekarang Abang percaya bahwa kamu memang benar-benar hamil. Pantas saja perutmu tidak kelihatan membesar, karena bayi di dalam rahimmu hanya sebesar kelingking,” kata sang Suami sambil mengelus-elus perut istrinya. Waktu terus berjalan. Tak terasa usia kandungan istrinya telah genap sembilan bulan. Pada suatu malam, sang Istri benar-benar melahirkan seorang bayi laki-laki sebesar kelingking. Betapa bahagianya sepasang suami-istri itu, karena telah memperoleh seorang anak yang sudah lama mereka idam-idamkan. Mereka pun memberinya nama Kelingking. Mereka mengasuhnya dengan penuh kasih sayang hingga menjadi dewasa. Hanya saja, tubuhnya masih sebesar kelingking. Pada suatu hari, Negeri Jambi didatangi Nenek Gergasi. Ia adalah hantu pemakan manusia dan apa saja yang hidup. 


Kedatangan Nenek Gergasi itu membuat penduduk Negeri Jambi menjadi resah, termasuk keluarga Kelingking. Tak seorang pun warga yang berani pergi ke ladang mencari nafkah. Melihat keadaan itu, Raja Negeri Jambi pun segera memerintahkan seluruh warganya untuk mengungsi. “Anakku! Ayo bersiap-siaplah! Kita harus pindah dari tempat ini untuk mencari tempat lain yang lebih aman,” ajak ayah Kelingking. Mendengar ajakan ayahnya itu, Kelingking terdiam dan termenung sejenak. Ia berpikir mencari cara untuk mengusir Nenek Gergasi itu. Setelah menemukan caranya, Kelingking pun berkata kepada ayahnya, “Tidak, Ayah! Aku tidak mau pergi mengungsi.” “Apakah kamu tidak takut ditelan oleh Nenek Gergasi itu?” tanya ayahnya. “Ayah dan Emak jangan khawatir. Aku akan mengusir Nenek Gergasi itu dari negeri ini,” jawab si Kelingking. “Bagaimana cara kamu mengusirnya, sedangkan tubuhmu kecil begitu?” tanya emaknya. “Justru karena itulah, aku bisa mengusirnya,” jawab si Kelingking. “Apa maksudmu, Anakku?” tanya emaknya bingung. “Begini Ayah, Emak. Tubuhku ini hanya sebesar kelingking. Jadi, aku mudah bersembunyi dan tidak akan terlihat oleh hantu itu. Aku mohon kepada Ayah agar membuatkan aku lubang untuk tempat bersembunyi. Dari dalam lubang itu, aku akan menakut-nakuti hantu itu. Jika hantu itu telah mati, akan aku beritakan kepada Ayah dan Emak serta semua penduduk,” kata Kelingking.


  Sang Ayah pun memenuhi permintaan Kelingking. Ia membuat sebuah lubang kecil di dekat tiang rumah paling depan. Setelah itu, ayah dan emak Kelingking pun berangkat mengungsi bersama warga lainnya. Maka tinggallah sendiri si Kelingking di dusun itu. Ia pun segera masuk ke dalam lubang untuk bersembunyi. Ketika hari menjelang sore, Nenek Gergasi pun datang hendak memakan manusia. Alangkah marahnya ketika ia melihat kampung itu sangat sepi. Rumah-rumah penduduk tampak kosong. Begitu pula dengan kandang-kandang ternak. “Hai, manusia, kambing, kerbau, dan ayam, di mana kalian? Aku datang ingin menelan kalian semua. Aku sudah lapar!” seru Nenek Gergasi dengan geram. Kelingking yang mendengar teriakan itu pun menyahut dari dalam lubang. “Aku di sini, Nenek Tua.” Nenek Gergasi sangat heran mendengar suara manusia, tapi tidak kelihatan manusianya. Ia pun mencoba berteriak memanggil manusia. Betapa terkejutnya ia ketika teriakannya dijawab oleh sebuah suara yang lebih keras lagi. Hantu itu pun mulai ketakutan. Ia mengira ada manusia yang sangat sakti di kampung itu. Beberapa saat kemudian, si Kelingking menggertaknya dari dalam lubang persembunyiannya. “Kemarilah Nenek Geragasi. Aku juga lapar. Dagingmu pasti enak dan lezat!” Mendengar suara gertakan itu, Nenek Gergasi langsung lari tungganglanggang dan terjerumus ke dalam jurang dan mati seketika. Si Kelingking pun segera keluar dari dalam lubang tempat persembunyiannya. 


Dengan perasaan lega, ia pun segera menyampaikan berita gembira itu kepada kedua orangtuanya dan para warga, kemudian mengajak mereka kembali ke perkampungan untuk melaksanakan keseharian seperti biasanya. Mereka pun sangat kagum pada kesaktian Kelingking. Berita tentang keberhasilan Kelingking mengusir Nenek Gergasi itu sampai ke telinga Raja. Kelingking pun dipanggil untuk segera menghadap sang Raja. Kelingking ditemani oleh ayah dan emaknya. “Hai, Kelingking! Benarkah kamu yang telah mengusir Nenek Gergasi itu?” tanya sang Raja. “Benar, Tuanku! Untuk apa hamba berbohong,” jawab si Kelingking sambil memberi hormat. “Baiklah, Kelingking. Aku percaya pada omonganmu. Tapi, ingat! Jika hantu pemakan manusia itu datang lagi, maka tahu sendiri akibatnya. Kamu akan kujadikan makanan tikus putih peliharaan putriku,” acam sang Raja. “Ampun, Tuanku! Jika hamba terbukti berbohong, hamba siap menerima hukuman itu. Tapi, kalau hamba terbukti tidak berbohong, Tuanku berkenan mengangkat hamba menjadi Panglima di istana ini,” pinta Kelingking. Walaupun permintaan Kelingking itu sangatlah berat, sang Raja menyanggupinya dengan pertimbangan bahwa mengusir hantu Nenek Gergasi tidaklah mudah. Setelah itu, Kelingking bersama kedua orangtuanya memohon diri untuk kembali ke rumahnya. 


Dalam perjalanan pulang, ayah dan emaknya selalui dihantui rasa cemas dan takut kalau-kalau Nenek Gergasi kembali lagi. Hal itu berarti nyawa anaknya akan terancam. Sesampainya di rumah, mereka pun meminta kepada Kelingking agar menceritakan bagaimana ia berhasil mengusir hantu itu. Kelingking pun menceritakan semua peristiwa itu dari awal kedatangan hantu itu hingga lari tungganglanggang. “Apakah kamu yakin Nenek Gergasi tidak akan kembali lagi ke sini?” tanya ayahnya. Mendengar pertanyaan itu, Kelingking terdiam. Hatinya tiba-tiba dihinggapi rasa ragu. Jangan-jangan hantu itu kembali lagi. Rupanya, si Kelingking tidak mengetahui bahwa Nenek Gergasi itu telah mati karena terjerumus ke dalam jurang. Seminggu telah berlalu, Nenek Gergasi tidak pernah muncul lagi. Namun, hal itu belum membuat hati Kelingking tenang. Suatu hari, ketika pulang dari ladang bersama ayahnya, ia menemukan mayat Nenek Gergasi di jurang. Maka yakinlah ia bahwa Nenek Gergasi telah mati dan tidak akan lagi mengganggu penduduk Negeri Jambi. Keesokan harinya, Kelingking bersama kedua orangtuanya segera menghadap raja untuk membuktikan bahwa ia benar-benar tidak berbohong. Dengan kesaksian kedua orangtuanya, sang Raja pun percaya dan memenuhi janjinya, yakni mengangkat Kelingking menjadi Panglima.


  Setelah beberapa bulan menjadi Panglima, Kelingking merasa perlu seorang pendamping hidup. Ia pun menyampaikan keinginannya itu kepada kedua orangtuanya. “Ayah, Emak! Kini aku sudah dewasa. Aku menginginkan seorang istri. Maukah Ayah dan Emak pergi melamar putri Raja yang cantik itu untukku?” pinta Kelingking. Alangkah terkejutnya kedua orangtuanya mendengar permintaan Kelingking itu. “Ah, kamu ini ada-ada saja Kelingking! Tidak mungkin Baginda Raja mau menerima lamaranmu. Awak kecil, selera gedang (besar),” sindir ayahnya. “Tapi, kita belum mencobanya, Ayah! Siapa tahu sang Putri mau menerima lamaranku,” kata Kelingking. Mulanya kedua orangtuanya enggan memenuhi permintaan Kelingking. Tapi, setelah didesak, akhirnya mereka pun terpaksa menghadap dan siap menerima caci maki dari Raja. Ternyata benar, ketika menghadap, mereka mendapat cacian dari Raja. “Dasar anakmu si Kelingking itu tidak tahu diuntung! Dikasih sejengkal, minta sedepa. Sudah diangkat menjadi Panglima, minta nikah pula!” bentak sang Raja. Mendengar bentakan itu, kedua orangtua Kelingking tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun pulang tanpa membawa hasil. Mendengar berita itu, Kelingking tidak berputus asa. Ia meminta agar mereka kembali lagi menghadap Raja, namun hasilnya pun tetap nihil. Akhirnya, Kelingking memutuskan pergi menghadap bersama ibunya. 


 Sesampainya di istana, mereka tetap disambut oleh keluarga istana. Sang Putri pun hadir dalam pertemuan itu. Kelingking menyampaikan langsung lamarannya kepada Raja. “Ampun, Tuanku! Izinkanlah hamba menikahi putri Tuanku,” pinta Kelingking kepada sang Raja. Mengetahui bahwa ayahandanya pasti akan marah kepada Kelingking, sang Putri pun mendahului ayahnya berbicara. “Ampun, Ayahanda! Perkenankanlah Ananda menerima lamaran si Kelingking. Ananda bersedia menerima Kelingking apa adanya,” sahut sang Putri. “Nanti engkau menyesal, Putriku. Masih banyak pemuda sempurna dan gagah di negeri ini. Apa yang kamu harapkan dari pemuda sekecil Kelingking itu,” ujar sang Raja. “Ampun, Ayahanda! Memang banyak pemuda gagah di negeri ini, tapi apa jasanya kepada kerajaan? Sementara si Kelingking, meskipun tubuhnya kecil, tapi ia telah berjasa mengusir dan membunuh hantu Nenek Gergasi,” tandas sang Putri. Mendengar pernyataan putrinya, sang Raja tidak berkutik. Ia baru menyadari bahwa ternyata si Kelingking telah berjasa kepada kerajaan dan seluruh penduduk di negeri itu. Akhirnya, sang Raja pun menerima lamaran si Kelingking.  


Seminggu kemudian. Pesta pernikahan Kelingking dengan sang Putri dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan tari. Tamu undangan berdatangan dari berbagai penjuru Negeri. Dari kejauhan, tampak hanya sang Putri yang duduk sendirian di pelaminan. Si Kelingking tidak kelihatan karena tubuhnya terlalu kecil. Di antara tamu undangan, ada yang berbisik-bisik membicarakan tentang kedua mempelai tersebut. “Kenapa sang Putri mau menikah dengan si Kelingking? Bagaimana ia bisa mendapatkan keturunan, sementara suaminya hanya sebesar kelingking?” tanya seorang tamu undangan. “Entahlah! Tapi, yang jelas, sang Putri menikah dengan si Kelingking bukan karena ingin mendapatkan keturunan, tapi ia ingin membalas jasa kepada si Kelingking,” jawab seorang tamu undangan lainnya. Usai pesta pernikahan putrinya, sang Raja memberikan sebagian wilayah kekuasaannya, pasukan pengawal, dan tenaga kerja kepada si Kelingking untuk membangun kerajaan sendiri. Setelah istananya jadi, Kelingking bersama istrinya memimpin kerajaan kecil itu. 


Meski hidup dalam kemewahan, istri Kelingking tetap menderita batin, karena si Kelingking tidak pernah mengurus kerajaan dan sering pergi secara diam-diam tanpa memberitahukan istrinya. Namun, anehnya, setiap Kelingking pergi, tidak lama kemudian seorang pemuda gagah menunggang kuda putih datang ke kediaman istrinya. “Ke mana suamimu si Kelingking?” tanya pemuda gagah itu. “Suamiku sedang bepergian. Kamu siapa hai orang muda?” tanya sang Putri. “Maaf, bolehkah saya masuk ke dalam?” pinta pemuda itu. “Jangan, orang muda! Tidak baik menurut adat,” cegat sang Putri. Pemuda itu pun tidak mau memaksakan kehendaknya. Dia pun berpamitan dan pergi entah ke mana. Melihat gelagat aneh pemuda itu, sang Putri pun mulai curiga. Pada malam berikutnya, ia berpura-pura tidur. Si Kelingking yang mengira istrinya sudah tidur pulas pergi secara diam-diam. Namun, ia tidak menyadari jika ternyata istrinya membututinya dari belakang. Sesampainya di tepi sungai, si Kelingking pun langsung membuka pakaian dan menyembunyikannya di balik semak-semak. 


Kemudian ia masuk berendam ke dalam sungai seraya berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebentar setelah membaca doa, tiba-tiba seorang pemuda gagah berkuda putih muncul dari dalam sungai. Alangkah, terkejutnya sang Putri menyaksikan peristiwa itu. “Hai, bukankah pemuda itu yang sering datang menemuiku?” gumam sang Putri. Menyaksikan peristiwa itu, sadarlah sang Putri bahwa pemuda gagah itu adalah suaminya, si Kelingking. Dengan cepat, ia pun segera mengambil pakaian si Kelingking lalu membawanya pulang dan segera membakarnya. Tidak berapa lama setelah sang Putri berada di rumah, pemuda berkuda itu datang lagi menemuinya lalu berpamitan seperti biasanya. Namun, ketika sang Putri akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba pemuda gagah itu kembali lagi menemuinya. “Maafkan Kanda, Istriku! Percayalah pada Kanda, Dinda! Kanda ini adalah si Kelingking. Kanda sudah tidak bisa lagi menjadi si Kelingking. Pakaian Kanda hilang di semak-semak. Selama ini Kanda hanya ingin menguji kesetiaan Dinda kepada Kanda. Ternyata, Dinda adalah istri yang setia kepada suami. Izinkanlah Kanda masuk, Dinda!” pinta pemuda gagah itu. Dengan perasaan senang dan gembira, sang Putri pun mempersilahkan pemuda itu masuk ke dalam rumah, karena ia tahu bahwa pemuda gagah itu adalah suaminya, si Kelingking. Setelah itu, sang Putri pun bercerita kepada suaminya. “Maafkan Dinda, Kanda! Dindalah yang mengambil pakaian Kanda di semak-semak dan sudah Kanda bakar. Dinda bermaksud melakukan semua ini karena Dinda ingin melihat Kanda seperti ini, gagah dan tampan,” kata sang Putri.  


Kelingking pun merasa senang melihat istrinya bahagia karena mempunyai suami yang gagah dan tampan. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Si Kelingking memimpin negerinya dengan arif dan bijaksana, dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera.




 

Download filenya disini