Belasan Hektar Sawah Di Indramayu Terendam

Hujan yang mengguyur wilayah Pantura Kabupaten Indramayu, selama empat hari berturut turut mengakibatkan belasan hektar sawah terendam banjir.

Kepala Desa Sukra Wetan Warim, Kamis (13/1) mengatakan, hujan selama empat hari terus mengguyur daerah Pantura Indramayu, sehingga menyebabkan sekitar 12 hektar sawah di desanya terendam banjir, padahal padi belum lama ditanam.

Menurut Warim, petani sering mendapat gangguan terutama masalah air. Pada musim kemarau kekeringan sementara saat musim hujan banjir melanda kawasan pertanian di Indramayu.

Warim mengatakan, cara pompanisasi memang dapat menyurutkan air banjir namun jika hujan terus menurus tidak dapat mereka lakukan. Semenjak musim tanam hingga sekarang curah hujan masih tetap tinggi, padahal berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya Januari tepat tanam.

Hal yang sama dikatakan Castem salah seorang petani di Indramayu bagian barat. Castem mengeluhkan hujan yang terus mengguyur lahan pertanian karena tanaman padi yang berusia di bawah satu bulan tidak tahan genangan air dan jika terus terendam banjir biasanya tanaman padi akan membusuk, sehingga petani sering merugi meski ada kesempatan mereka untuk tanam kembali.

Sementara itu, sejumlah petani di Desa Karang Tumaritis Kecamatan Haurgeulis terhidar dari kegagalan masa tanam, karena rata-rata petani setempat telah mengubah tanaman dari padi ke jeruk mipis.

Kepala desa setempat Marno menerangkan, tanaman jeruk mipis cukup menguntungkan petani, selain harga jeruk mipis dipasaran stabil sekitar Rp 6000 per kilogram, tanaman tersebut tahan berbagai serangan hama, meski terendam banjir tanaman jeruk mipis kuat.

Menurut Marno, lahan pertanian jeruk mipis di daerahnya saat ini sekitar 200 hektare. Sebelumnya petani menanam padi, namun kini mereka beralih menekuni dan terus mengembangkan tanaman jeruk mipis tersebut karena pemasarannya sangat mudah. (ant)

Ide Bisnis | Bisnis DOC (Day Old Chicken) Ayam Kampung

Peluang Bisnis DOC (Day Old Chicken) Ayam Kampung . Karena tingginya pencarian berkaitan dengan “peluang usaha ayam kampung” maka pada kesempatan ini di bahas tentang bisnis doc ayam kampung . Saat ini suplai bibit ayam kampung berkualitas bagi para peternak ayam kampong masih jauh dari cukup. D

OC ayam kampung umumnya diperoleh secara kolektif dari sejumlah peternak di berbagai daerah yang berbeda. Akibatnya, mutu ayam kampung menjadi tidak terjamin serta tidak seragam.
Padahal dari segi harga, ayam kampung relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan ayam negeri. Begitu pula DOC ayam kampung, harganya konstan sekitar Rp. 3.500 setiap ekor. Sementara harga DOC ayam ras berkisar Rp. 2.500 – Rp. 3.000 per ekor. Belum lagi lantaran citarasa dagingnya lebih enak lagi rendah kolestrol, permintaan daging ayam kampung lebih banyak ketimbang ayam negeri. Oleh karena itu meski biaya pakan melambung, peternak ayam kampung tetap menikmati untung. Apalagi ayam kampung doyan pakan racikan.
Menurut Laurent Arifin, peternak ayam kampung di Serang, Jawa Barat , induk ayam kampung tetap produktif jika diberi menu pakan oplosan broiler stater sebanyak 50 %, layer stater 30 %, serta dedak sebanyak 20 %. Sementara Hidayat Sugiarto, rekan kerja Laurent menjelaskan, ayam kampung memiliki daya tahan tubuh lebih kuat bila dibandingkan dengan ayam negeri. Sehingga biaya obat – obatan bisa ditekan. Meski dari segi perputaran modal, usaha pembesaran anak ayam kampung potong lebih cepat, dalam jangka panjang bisnis DOCnya lebih menguntungkan. Selain itu, resiko usahanya relatif lebih kecil.

MEMULAI BISNIS DOC AYAM KAMPUNG
Untuk memulai bisnis DOC ayam kampung, Laurent menyarankan calon peternak memiliki induk minimal 1.000 ekor, serta fasilitas pendukung yang terdiri dari kandang seluas 200 – 250m2 dan mesin tetas berkapasitas 1.000  butir. Harga induk ayam kampung berkualitas baik berkisar Rp. 35.000 – Rp. 45.000. Sementara mesin tetas bisa dibeli seharga Rp. 15 juta – Rp. 16 juta. Sebaiknya indukan dipelihara dari sejak DOC sebab bila membeli ayam dewasa kemudian dipelihara dalam satu kandang akan saling bertarung. Selain bisa mencegah biaya inverstasi indukan.
Diperlukan ketelitian untuk  memilih bibit yang akan dijadikan indukan. Paling tidak harus diketahui ayam kampung tulen. Ciri – cirinya, menurut Laurent, warna bulunya tidak seragam. Begitu pula kulit, daging dan telurnya. Induk berkaki kuning lebih banyak diminati daripada induk dengan warna kaki abu – abu dan putih. Banyak masyarakat menganggap, ayam kampung berkaki kuning mampu mengeluarkan kaldu lebih banyak ketimbang ayam kampung yang lain.

TIPS USAHA DOC Ayam Kampung
STABILKAN SUHU PENETASAN

  • Semua telur yang akan ditetaskan wajib dibersihkan, misalnya menggunakan lap basah. Sekecil apapun  kotoran yang menempel bisa mengakibatkan telur gagal menetas.
  • Setelah bersih, telur dikeringkan anginkan dan disimpan dalam ruang teduh. Sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu. Setelah jumlahnya mencukupi dimasukkan ke dalam mesin penetas
  • Suhu dalam mesin dipertahankan 37.8 ‘C Meleset 0.2 ‘C saja, telur urung menetas.
  • Pada hari ke – 10, telur diteropong untuk menyeleksi yang rusak
  • Anak ayam (DOC) menetas pada hari ke – 21. kemudian disortir dan diberi vaksin merek dan ND
  • DOC siap dipasarkan dengan cara dimasukkan ke dalam boks kardus bervariasi. DOC mampu “puasa” selama 48 jam.
SORTASI DOC
Ada beberapa cara tepat memilih anakan yang berkualitas antara lain :

  • Pusar anak ayam harus bersih, tanpa noda hitam. DOC bernoda di bagian pusarnya bisa dipatikan tidak berumur panjang.
  • Anak ayam sehat bertabiat lincah serta berbulu tak kusut. Warna bulu DOC ayam kampung beragam , putih, hitam, coklat, dan lurik.

ANALISIS USAHA DOC AYAM KAMPUNG

Periode : 1 bulan
Jumlah induk :
A. BIAYA INVESTASI
1.      Pembuatan kandang (6 periode)                                             Rp.   5.000.000
2.      1.500 DOC (jantan dan betina) @Rp. 3.500 (24 periode)             Rp.   5.250.000
3.      Mesin penetasan (12 periode)                                                 Rp. 15.000.000
4.      Peralatan lain (6 periode)                                                       Rp.   3.000.000
TOTAL INVESTASI                                                                                         Rp. 28.250.000 
B. BIAYA TETAP
1.      Penyusutan kandang (Rp. 5.000.000 : 6)                                Rp.      833.333
2.      Penyusutan induk (Rp. 3.500.000 : 6)                                    Rp.      583.333
3.      Penyusutan mesin tetas (Rp. 15.000.000 : 12)                        Rp.    1.250.000
4.      Penyusutan perlengkapan lain (Rp. 3.000.000 : 6)                   Rp.       500.000
TOTAL BIAYA TETAP                                                                                 Rp.    3.166.666
C. BIAYA TIDAK  TETAP
1.      Pakan (selama 6 bulan)                                                           Rp.    2.000.000
2.      Biaya lain (vaksin & obat)                                                        Rp.       500.000
TOTAL BIAYA TIDAK TETAP                                                                            Rp.    2.500.000 
D. BIAYA PRODUKSI
Biaya tetap + biaya tidak tetap
Rp. 3.166.666 + Rp. 2.500.000                                                           Rp.   5.666.666
E. HASIL USAHA
Penjualan DOC                                                                                 Rp. 22.848.000
Asumsi : Dari 800 ekor ayam betina , 80 % (640 ekor) akan bertelur. Induk betina produktif pada usia 4 – 12 bulan dan bakal menghasilkan 7.680 butir. Persentase penetasan 85 % , jadi DOC yang dihasilkan 6.528 ekor. Harga DOC Rp. 3.500 per ekor. Omzet sekali penetasan
Rp. 2284.000
F. KEUNTUNGAN
Hasil usaha – Biaya produksi
(Rp. 22.848.000 – Rp. 5.666.666)            =                                          Rp. 17.181.334
Jangka waktu balik modal :
(Biaya investasi + Biaya produksi) : (keuntungan x periode)
(Rp. 28.250.000 + Rp. 5.666.666)  : (Rp. 17.181.334 x 1 ) = 0,5 periode


GAMBARAN OMZET

Untuk menghasilkan DOC yang maksimal, dalam satu kandang diisi penjantan dan indukan dengan perbandingan 1 : 4. Satu ekor penjantan mengawini empat ekor betina. Dengan asumsi jumlah ayam 1.000 ekor, berarti 200 ekor jantan mengwini 800 ekor betina.
Sekitar (640 induk betina) akan bertelur. Masa produktif induk betina pada usia 4 – 12 bulan. Kalau seekor induk mampu menghasilkan telur 8 – 12 butir / bulan, total produksi telur 7.680 butir (640 x 12). Persentase menetas sekitar 85 % . Sehingga dihasilkan 6.528 ekor DOC. Kalau harga DOC ayam kampung Rp. 3.500 / ekor, omzet sekali penetasan sebesar Rp. 22.848.000.
Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Ide Bisnis | Bisnis Tahu Plus Plus

Ternyata yang ada “plus plus” tidak cuman istilah di pijet saja . Bisnis Tahu pun bisa plus – plus juga . Biasanya tahu yang kita kenal selama ini adalah berbahan dasar kedelai . Itupun sebenarnya kandungan protein di tahu sudah lumayan bagus , namun peluang bisnis dan peluang usaha tidak boleh lepas dari yang namanya inovasi product . Nah berangkat dari

ide inovasi ini . Product tahu bisa di inovasi dengan berbagai cara . Mulai dari bentuk , dahulu kotak , segitiga dan bulat hingga komposisi dan rasa.
Namun inovasi akan lebih menarik jika digabung dengan ide inovasi membuat tahu yang di campur dengan sayur. Selain Rasa yang lebih enak , kandungan gizi juga lebih tinggi . Terutama untuk kadungan vitamin dan mineral . Karena seperti yg kita ketahui sayur banyak mengandung vitamin . Tujuannya meningkatkan “drajat ” tahu menjadi makanan yang bergizi dan berkelas . Tahu ini juga bisa mempunyai warna dan bentuk yang menarik sehinga disuka untuk pasar anak – anak.

Cara Membuatnya :
1. Pilih Kedelai berkualitas bagus .
2. Pilih sayuran ( wortel , jagung dll ) yang masih bagus dan segar .
3. Kedelai di cuci dan di rendam selama 3 jam , Lalu di giling menjadi bubur kedelai , selanjutnta di pres untuk mendapat sari kedelai berupa protein .
4. Protein digumpalkan lalu di campur dengan sayuran yang telah dicacah halus. Kemudian di pres kembali . Kemudian masukan dalam cetakan dan terbentuklah tahu.
5. Tahu di potong dan direndam dalam air garam . Tahu siap di kemas dan dipasarkan .
Bagi yang berminat mecoba peluang bisnis tahu plus ini . 
Silahkan menghubungi :Ketua pelaksana program kreatif  Tahu Sayuran Andhi Faizal , Mahasiswa IPB bogor sebagai pemegang hak cipta program kreatif ini .

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Ide Bisnis | Budidaya Ikan Betutu

Budidaya Ikan Betutu . Kenapa ikan betutu ? Karena pembesaran ikan betutu butuh waktu lebih lama di banding ikan pada umumnya . Para petani enggan membudidayakan, sehingga pasokan saat ini tidak bisa massal . Untuk saat ini kebutuhan pasokan ikan betutu lumayan banyak lantaran sekarang orang sudah banyak merasakan kelembutan daging ikan ini. Terutama kebutuhan pasokan ke singapura . Sehingga menjadikan budidaya ini menjadi

peluang bisnis yang patut di coba .
Kalo ada yang pernah melihat tayangan di metrotvnews.com , singapura saat ini membutuhkan 100 ton / minggu dengan harga Rp 300.000 / Kg . Sehingga untuk peluang usaha masih terbuka lebar . Pembesaran ikan betutu butuh waktu sekitar 8 – 12 bulan . Di pasar lokal untuk bibit ikan betutu 1 – 3 cm di bandrol Rp 500 / ekor . Ukuran 10 – 15 cm ( usia 2.5 bulan ) rp 50.000 / Kg . Sedangkan ikan betutu siap konsumsi berusia minimal 4 bulan dihargai Rp 100.000 – 135.000 / Kg .
Ikan betutu cenderung pendiam sehingga tidak membutuhkan kolam yg besar , karena justru menghambat pertumbuhan lantaran kesulitan menangkap mangsa . Proporsi jumlah ikan dalam tiap meter kolam adalah 10 – 15 ekor dewasa. Sedangkan kolam berukuran 1 m2 cukup untuk menampung bibit ukuran ( 1 -3 cm ) sebanyak 1000 – 2000 ekor . Kedalaman air yang ideal 25 – 30 cm .
Penyakit dan Obatnya
Penyakit yang sering menyerang ikan betutu adalah penyakit kulit berlendir dan luka . Cara pengobatannya dengan merendam ikan ke dalam larutan air garam selama 1 – 2 menit . Atau kalium permanganat PK dengan konsentrasi 3 -4 tetes setiap 5 liter air . Perendaman PK dilakukan selama 30 detik . Penyakit ini timbul karena kualitas air dan kelebihan pakan yang membusuk .
Pakan jangan Tergantung pelet

  • Bibit ikan betutu ukuran 1 – 3 cm di beri pakan jentik nyamuk dan cacing sutera
  • Ikan betutu yang berukuran lebih besar diberi pakan keong mas , udang dan ikan kecil . Pelet hanya sebagai pakan alternatif .
  • Pemberian pakan dilakukan sekali pada sore hari . Atau saat menjelang malam .
  • Pergantian menu dilakukan saat ikan berusia 2 -3 bulan , atau saat ikan sudah berukuran panjang 10 – 15 cm .
ANALISA USAHA BUDIDAYA IKAN BETUTU

BIAYA INVESTASI
Pembuatan Kolam ( 3m x 3m )Rp3,000,000
Pompa AirRp1,500,000
TOTALRp4,500,000
BIAYA PRODUKSI
55 ekor benih betutu@ Rp 500Rp27,500
500Kg pakan Runcah @ Rp 1000Rp500,000
TransportasiRp500,000
TOTAL BIAYA PRODUKSIRp1,027,500
PENYUSUTAN
Kolam Rp 3000000/24Rp125,000
Pompa AirRp41,500
TOTAL PENYUSUTANRp166,500
PEDAPATAN
20 Kg ikan betutu @ 135000Rp2,700,000
KEUNTUNGAN
Pendapatan – ( Biaya Produksi +Rp1,506,000
Biaya Penyusutan )
BEP2.9 tahun
Diasumsikan kolam berukuran 3 mx 3m diisi 55 ekor ikan betutu . Dengan angka mortalitas 5% . Semoga ulasan peluang usaha / peluang bisnis ini bermanfaat menjadi sumber inspirasi anda dalam memulai usaha.
Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Ide Bisnis | Bisnis Leri Drink Minuman Sehat Berenergi

Leri Drink Minuman Sehat Berenergi. Ini adalah salah satu inovasi Peluang Usaha minuman , Mungkin anda sudah pernah dengar yang namanya Air Leri ? yang pasti bukan nama orang . Air Leri adalah air bekas cucian beras yang biasanya hanya dibuang begitu saja seperti layaknya limbah. Tapi taukah anda kalo air leri merupakan sumber energi  karbohidrat berupa pati yang kadarnya mencapai 85-90%  , selain itu terdapat zat lain seperti protein , pentosa, selulosa, hemiselulosa dan gula .  Sehingga sangat sayang jika tidak di manfaatkan .


Air Leri ini bisa di buat menjadi minuman kemasan dengan menambah bahan – bahan lain seperti agar – agar , melon , biji selasih dan sirup . Tujuan utama inovasi usaha ini adalah memanfaatkan limbah cucian beras sebagai sumber gizi , dan menyehatkan . Berikut Cara mengolah air Leri ini menjadi minuman yang bermanfaat :
1. Air Bekas cucian beras di rebus dengan gula pasir hingga mendidih
2. Sambil menunggu air rebusan dingin , buat isi campurannya . Buat agar – agar , di cetak dan di potong – potong . Anda juga menggunakan melon sebagai pelengkap , Melon bisa di parut begitu juga biji selasih .
3. Setelah air rebusan leri dan gula dingin , masukan agar – agar , parutan melon dan biji selasih . Minuman siap di kemas dan di edarkan .
Apakah di daerah anda sudah ada minuman jenis ini ?
Jika anda berminat mencoba peluang usaha / peluang bisnis ini bisa menhubungi Muhammad Andi Rahman . Mahasiswa IPB bogor . Telpon : 081387564949 , email : andi23[@]yahoo.com

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Ide Bisnis | Bisnis Budidaya Cabe

Saat ini cabe menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabe, semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara. Sehingga budidaya sayur ini menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor.


Tanaman yang berasal dari daerah tropis di benuaAmerika ini, sekarang banyak dibudidayakan di Indonesia. Potensi bisnis cabe yang cukup menguntungkan, menarik minat para petani di daerah dataran tinggi, dataran rendah, hingga daerah pesisir pantai untuk membudidayakan sayuran ini. Beberapa daerah penghasil cabe di Indonesia antara lain Banten, Cianjur, Tasik, Brebes, Medan, Padang, Tapanuli Utara, Lombok, serta beberapa daerah lainnya.
Jenis cabe juga cukup bervariasi, beberapa jenis dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, rasa pedasnya dan warna buahnya. Di Indonesia sendiri jenis cabe yang banyak dibudidayakan antara lain cabe keriting, cabe besar, cabe rawit, dan cabe paprika. Sebab menyesuaikan permintaan konsumen, yang banyak menggunakan jenis cabe tersebut sebagai penyedap masakan.
Selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan, cabe juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan seperti saos cabe, sambel cabe, pasta cabe, bubuk cabe, cabe kering, dan bumbu instant. Bahkan produk-produk tersebut sudah berhasil di ekspor ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan India.
Untuk menghasilkan cabe yang berkualitas, diperlukan proses pembibitan dan perawatan yang tepat pada saat budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada budidaya cabe, agar tidak mengalami kerugian antara lain sebagai berikut :
1. Pemilihan lahan yang sesuai. Tanaman cabe cocok ditanam di daerah yang disinari matahari 10-12 jam per hari, memiliki suhu 24-28° celcius, memiliki kelembapan 80% dan cocok tumbuh ditanah lempung berpasir yang banyak mengandung unsur hara, serta memiliki pH antara 6 sampai 7.
2. Musim tanam yang tepat. Jika harga cabe sedang anjlok, sebaiknya ganti dengan tanaman lain. Hal ini untuk mencegah kerugian akibat anjloknya harga, saat pasokan cabe melimpah.
3. Pilihlah jenis cabe yang banyak diminati konsumen, namun harga bibitnya tidak terlalu mahal. Dengan begitu biaya produksi juga dapat ditekan, agar tidak merugi.
4. Yang terakhir yaitu proses perawatan yang tepat. Lakukan penyemprotan pestisida cair dengan dosis 0,5-1 gram/liter ke lahan sebelum bibit ditanam, ini untuk mencegah serangan jamur dan patogen lain. Selain itu setelah 10 hari ditanam, tambahkan pupuk setiap seminggu sekali. Dan lakukan berselang-seling dengan pemberian pestisida.
Jika perawatan maksimal diberikan selama proses budidaya cabe berlangsung, maka peluang sukses meraup untung dari bisnis cabe dapat Anda nikmati.
Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Bisnis Bumbu Masakan Dan Tepung Kentucky

Pernahkah terlintas di benak Anda untuk membangun bisnis usaha bumbu masakan? Jika belum, sebaiknya Anda belajar dari seorang Budi Sutrisno (36). Lelaki asal kota lumpia Semarang ini sejak satu setengah tahun yang lalu menggeluti usaha di bidang pembuatan bumbu masakan dan tepung kentucky. Bagi sebagian orang, menggeluti usaha bumbu masakan skala home industry seperti Pak Budi merupakan sesuatu yang baru. Selama ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi bumbu-bumbu masakan instant buatan pabrik yang sudah familiar di lidah dan sudah banyak dikenal.


Tergugah dari banyaknya bumbu-bumbu masakan dan tepung Kentucky yang mengandung bahan kimia. Pak Budi beserta istri kemudian mulai membuat tepung Kentucky dengan 100 % bahan alami. Dengan basic ilmu kuliner yang dimilikinya, Pak budi mulai membuat dan menganalisa tepung Kentucky yang bebas dari bahan-bahan kimia. Ditemui di rumahnya di Jalan Timoho Asri 4 / B2C Yogyakarta (11/1), Pak Budi menjelaskan bahwa produk yang dihasilkannya memang bertujuan untuk kesehatan. “Misalnya orang yang menderita sakit maag akut kemudian mengkonsumsi bumbu kuliner yang ada bahan kimianya, pasti tambah parah sakitnya, tetapi kalau dengan bumbu produksi kami yang bebas bahan kimia aman untuk dikonsumsi penderita maag”, begitu keterangan Pak budi.
Saat ini Pak Budi beserta istri membangun usaha dengan nama Dua Pinang. Produk yang menjadi andalan Dua Pinang sendiri ada empat macam, yaitu Ayam Goreng Bumbu Kuning; Bumbu Kering Sehat dan Alami untuk bumbu capcay, sup, dan berbagai masakan, Tepung kremes (bahan alami), dan Tepung Kentucky (lebih kering dan krispi 8 jam). Produk-produk buatan Dua Pinang tersebut saat ini sudah mulai banyak dijumpai di pasar dan beberapa supermarket di wilayah Jogja, Solo, hingga Semarang. Meskipun pada awal pemasaranya sempat mengalami kendala, terutama mengenalkan kepada masyarakat tentang keunggulan produknya, namun Pak Budi beserta istri lantas tidak patah arang hingga saat ini usaha yang mereka rintis sudah mulai diterima masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga.
Dengan harga yang terjangkau yaitu berkisar Rp. 2.000,00 hingga Rp. 8.000,00 per produknya, Dua Pinang yakin akan semakin banyak masyarakat yang menerima produk mereka. Hal tersebut semakin dikuatkan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan dan mulai mengurangi makanan yang mengandung bahan-bahan kimia di dalamnya.
Selain membangun usaha produksi bumbu-bumbu masakan dan tepung Kentucky tersebut, Pak Budi juga memiliki usaha kursus kuliner atau culinary training center. Dengan basic kuliner yang dimilikinya, Pak Budi membuka kursus kuliner dengan food product yang ditawarkan ada 50 jenis masakan. Berbagai jenis masakan dari mulai masakan lokal, nasional, chinese food, bahkan masakan-masakan asing dikuasai dengan baik oleh Pak Budi. Hal tersebut lantas membuat Pak Budi merintis juga berdirinya kursus kuliner yang memang sudah berjalan beberapa tahun. Masakan seperti mie Jakarta, bakso berbagai macam jenis, ayam bakar, siomay, pempek, nugget, steak, martabak, soto, donut, bubur ayam, pizza, bakpia pathuk, burger, dan masih banyak lagi menjadi andalan kursus kuliner Pak Budi. “Untuk biaya training berkisar Rp. 150.000,00 s.d. Rp. 200.000,00 dengan jaminan pasti bisa karena kami mengajarkan praktik secara langsung sampai bisa”, tambah Pak Budi.
Banyak ‘murid’ Pak Budi yang pernah kursus di tempatnya saat ini sudah membangun bisnis kuliner di berbagai daerah. Hal tersebut kemudian memberikan inspirasi Pak Budi untuk membangun sebuah sekolah kuliner yang praktis, yaitu yang mengajarkan secara langsung peserta didik dengan skill kuliner hingga bisa. Namun, karena masih banyak pertimbangan di dalamnya, saat ini Dua Pinang masih fokus di kursus kuliner dan produk-produk bumbu kulinernya. Serta Pak Budi juga berpesan untuk masyarakat yang ingin membuat bumbu produk lainnya, Dua Pinang juga siap untuk membuatkan sesuai pesanan. Untuk kontak bisa menghubungi Budi Sutrisno di (0274) 789 0323/ 081 5651 5995.
Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Anjing Labrador Retriever

Anjing Labrador Retriever adalah salah satu dari sekian banyak jenis anjing yang saat ini paling popular. Hal tersebut dibuktikan dengan menempati ranking pertama sebagai anjing top breed 2003 di dunia, dan sudah empat tahun anjing Labrador Retriever bertahan di peringkat tertinggi tersebut. Sehingga tidak mengherankan jikalau petinggi di beberapa Negara begitu menggemari Labrador Retriever.

Anjing Labrador Retriever atau juga di panggil lab, bukanlah anjing berasal dari daerah Labrador, tetapi dari Newfoundland. Di Newfoundland, anjing ini dikenal sebagai anjing St. John. Anjing ini dipakai sebagai oleh para nelayan setempat untuk menarik jala ke pantai, atau untuk menarik tali pengaman dari kapal satu ke kapal lainnya, dan menariknya ke pantai. Selama bertahun-tahun, anjing Lebrador Retriever dipakai oleh kalangan nelayan dan merupakan salah satu jenis trah anjing yang suka sekali dengan air.

Anjing ini pertama kali diperkenalkan di inggris di tahun 1980-an. Nama Labrador yang sampai saat ini msih dipakai oleh trah anjing ini, sebenarnya adalah nama pemberian dari Earl of Malmesbury di tahun 1887, setelah menyaksikan kehebatan anjing ini bekerja di daerah barair.

Kebiasaan
Anjing Labrador Retriever sangat cocok untuk anjing teman bermain, karena pembawaannya yang bersahabat dan jinak. Mereka juga sangat suka bermain dengan anak-anak kecil, dan rasanya kurang begitu cocok jika dipergunakan sebagai anjing penjaga, karena pembawaannya itu, tetapi cocok jika dipergunakan sebagai anjing pengawas yang penuh kewaspadaan. anjing ini akan menyalak jika ada sesuatu yang mencurigakan dan postur tubuhnya cukup besar untuk menghalangi orang-orang tak dikenal.

Penampilan Umum
Bertubuh kekar, aktif, tengkorak lebar, dada dan rusuk lebar dan dalam, bagian pinggang dan tubuh bagian belakang lebar dan kekar. Berwarna hitam pada anjing yang berbulu hitam dan kuning, dan coklat pada anjing yang berbulu coklat. Hidung berwarna pink atau kekurangan akan menyentuh bagian terdalam mata.

Karakteristik
Bertemperamen baik, sangat tangkas, hidung ekselen dan mulut soft; suka di air, mudah beradaptasi dan teman yang setia.


Baca Juga:
Anjing American Pitbull Terrier
Anjing Mastiff
Anjing Boxer
Anjing Golden Ritriever
Anjing Siberian Husky

GURAT TANGIS DISENYUM MARINI BAGIAN 2

BAGIAN 2

Lagu itu kembali mengingatkan aku dengan mas andi., lagu itu pula yang menjadikan memorial yang paling indah bersama mas andi….
“ya Allah….! Mengapa disetiap langkahku kenangan dengan mas andi selalu membayangi hari – hariku, semakin aku berusaha lari menjauh dari kenangan itu malah semakin kuat dia membelenggu ku,
“mengapa ya Allah ?...... cobaan ini terlalu berat aku hadapi” Keluh ku dalam hati, aku sepertinya tidak rela atas cobaan hidup yang dilimpahkan kepadaku.
“neng… masuk aja neng… nampak nya hujan lebat segera turun” sapa seorang ibu yang sudah separuh baya, umurnya kira – kira sudah hampir 50 tahun, sebab jelas nampak dari gurat ketuaan di pipinya. Seketika itu aku tersadar dari lamunanku.
“ya buk..! terima kasih, Tidak apa – apa di sini saja Buk, sebentar lagi nampaknya hujan akan segera reda” tolak ku secara halus terhadap permintaan ibu tersebut. Mungkin ibu tersebut adalah pemilik warung atau mungkin juga hanya sebagai penjaga warung, “pikirku”..
Kemudian Aku mengalihkan pandangan ku ke rintik – rintik hujan yang turun ke bumi dan kedua tanganku semakin mendekapkan tas dan semakin kuat memeluknya di dadaku, aku mencoba mencari kehangatan dari dekapan kedua tanganku dan memang sekidit memberikan rasa nyaman dengan cuaca desa yang memang terasa dingin, lalu kutarik kembali tangan kanan ku dari dekapan dadaku dan ku ulurkan tangan ku untuk mengukur rintik – rintik hujan yang turun ke permukaan bumi. Memang benar…, intensitas dari deraian hujan yang dilimpahkan tidak sebesar tadi dan malah sekarang sudah semakin kecil – kecil, hampir mirip seperti deraian debu, aku mengucapkan syukur dalam hati berarti sebentar lagi nampaknya hujan akan betul – betul segera reda. Aku sedikit bersorak dalam hati.
“Turun di mana dek..?”, Tanya abang tukang ojek ke pada ku.
“Oya…! Di depan sana, dikit lagi bang” jawabku dan tidak lama aku telah sampai ketujuan ku yaitu kantor dimana tempat aku bertugas. Aku mengeluarkan dua lembaran uang seribu dan aku serahkan kepada abang tukang ojek tersebut.
“terima kasih bang” ujarku dan seketika abang tukang ojek tersebut kembali mengemudikan motor dan semakin menjauh dari tempat aku berdiri. Akupun segera berlalu menuju tempat kantor ku berada dan dengan sedikit mengeluarkan tenaga aku harus berjalan kaki lagi ke tempat dimana kantor ku, tapi tidak apa – apa mungkin ini juga sangat baik buat kesehatan ku, sebab selama ini hal tersebut jarang aku lakukan di kota dimana tempat aku tinggal dan dibesarkan, dalam berberapa hitungan detik aku telah sampai ke depan pagar kantorku, dan seketika kaki terhenti. Aku terdiam sejenak, aku pandangi kantor ku yang baru, seperti sebuah bangunan yang tidak begitu besar dan hampir seperti bukan bangunan sebuah kantor tapi mirip seperti bangunan sebuah rumah kuno.”Disinilah aku akan mengabdi, disinilah aku akan memulai kehidupanku yang baru, disinilah aku akan memulai menata hati ku kembali yang pernah hancur berkeping – keping seperti deraian kaca yang dilemparkan ke batu dan hampir tidak berbentuk lagi, disinilah aku akan memulai mengobati luka itu, sanggupkah aku menghadapi semua ini ? mampukah aku menjalaninya ? mampukah aku…. ?” seribu Tanya dan harapan berkecamuk dalam dadaku, dan aku sendiri tidak mampu lagi untuk menjawabnya.
“Assamualaikum buk” sapa seseorang dari belakang ku, aku sedikit terkejut, suara tersebut adalah suara seorang laki – laki dan dengan seketika aku mambalikkan tubuh ku mencari dari arah mana suara itu berada menyapaku, dan aku sedikit terkejut seketika aku lihat raut wajah yang menyapaku, dan aku sedikit gugup membalas sapaan itu.
“Wa wa'alaikum salam” jawab ku gugup, karena aku tidak menyangka sama sekali kalu secara tiba – tiba ada seseorang telah berada dibelakangku. Ganteng pula,”pujiku dalam hati.
“Ibu baru bertugas disini ya” Tanya nya lagi, dan aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaannya. Seketika aku lihat dia mengulurkan tangannya kepadaku,dan seketika itu pula aku kembali menjadi gugup melihat uluran tangannya kepadaku. Aku menyambut tangannya, “ Tono” katanya menyebut namanya, “Oya… aku marini” jawabku sedikit singkat menjawab pertanyaan nya, maaf kataku kepadanya sambil aku menarik tanganku dari genggaman tangannya, aku merasa ada desiran halus yang seketika menjalari urat syaraf ku. Duh……… ada apa dengan desiran itu..! (bersambung)
lihat cerberku di cerpen.net

CARA PEMBENIHAN IKAN BETUTU

Induk ikan Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor.Pasalnya ada korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000 – 30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus

PROSPEK USAHA BUDIDAYA IKAN BETUTU (IKAN MALES)

BENIH merupakan bagian utama dalam budidaya ikan. Pada tingkatan yang sederhana benih ikan dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam, sedang pada tingkat yang lebih maju dapat diperoleh dari hasil pembenihan ikan milik petani (swasta) maupun dari Balai Benih Ikan (BBI).Lain halnya ikan Betutu/bakut (Oxyeleotris marmorata) atau marbled goby alias ikan bodoh/malas yang terbilang ikan konsumsi

TEKNIK BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR DAN CARA CEPAT MEMPERSINGKAT WAKTU PANEN

Mengulas sedikit tentang Segmen Pembenihan dan pembesaran lobster air tawar sebelum masuk pada teknik budidaya lobster air tawar. Pada prinsipnya pembenihan dan pembesaran adalah satu kesatuan yang dapat dibudidayakan karena tujuan akhir dari budidaya lobster air tawar adalah menciptakan lobster air tawar konsumsi. Karena lobster air tawar sangatlah mudah dan tidak harus memiliki keahlian khusus

BUDIDAYA UDANG GALAH

1. PENDAHULUAN
Udang galah merupakan komoditi ikan air twara yang dapat dipasarkan baik untuk  kebutuhan dalam maupun luar negeri. Ukurannya mlai 100 gr s.d. 200 gr per ekor.  Bahkan udang yang tertangkap diperairan umum dapat mencapai 300 gr per ekor. Udang galah dapat dipelihara di kolam-kolam oleh para pembydidaya udang, baik  secara polikultur maupun monokultur dengan biaya  yang cukup rendah

HUBUNGAN PERILAKU KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN PAPARAN ABU TERBANG PADA PEKERJA PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di CILACAP

Tugas Proposal Penelitian

HUBUNGAN PERILAKU KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN PAPARAN ABU TERBANG PADA PEKERJA PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di CILACAP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Era industrialisasi di Indonesia dewasa ini mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat. Dengan adanya perkembangan yang pesat ini akan mendukung meningkatnya penggunaan peralatan kerja, mesin kerja serta bahan - bahan yang digunakan dalam proses produksi. (Simanjuntak, 1991). Keberadaan industrialisasi ini mendatangkan beberapa keuntungan sekaligus kerugian. Keuntungan tersebut adalah :
(1). Dengan industrialisasi akan meningkatkan devisa negara,
(2). Meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja serta
(3). Meningkatkan taraf hidup rakyat.
Sedangkan kerugian yang biasa ditimbulkan diantaranya adalah : Gangguan terhadap lingkungan dan Gangguan terhadap tenaga kerja. Gangguan - gangguan terhadap lingkungan dapat dilihat dengan timbulnya pencemaran. Pencemaran yang berasal dari limbah-limbah industri dapat berupa sampah padat maupun limbah cair dan pencemaran udara yang disebabkan oleh gas-gas buangan, debu, abu terbang maupun sisa hasil pembakaran (Heryuni, 1991).
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali. Upaya K3 diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan pekerjaan. Dalam pelaksanaan K3 sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu manusia, bahan, dan metode yang digunakan, yang artinya ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mencapai penerapan K3 yang efektif dan efisien. Sebagai bagian dari ilmu Kesehatan Kerja, penerapan K3 dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu adanya organisasi kerja, administrasi K3, pendidikan dan pelatihan, penerapan prosedur dan peraturan di tempat kerja, dan pengendalian lingkungan kerja. Dalam Ilmu Kesehatan Kerja, faktor lingkungan kerja merupakan salah satu faktor terbesar dalam mempengaruhi kesehatan pekerja, namun demikian tidak bisa meninggalkan faktor lainnya yaitu perilaku.
Perilaku seseorang dalam melaksanakan dan menerapkan K3 sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektivitas keberhasilan K3. Demikian juga yang terjadi pada pekerja PLTU (pembangkit listrik tenaga uap), dimana tingkat kepatuhan terhadap peraturan dan pengarahan K3 akan mempengaruhi perilaku terhadap penerapan prinsip K3 dalam melakukan pekerjaannya. Dampak abu terbang terhadap pernafasan belum dilakukan penelitian, terutama pada populasi pekerja yang mempunyai risiko tinggi terpapar abu terbang akibat kerja, seperti pekerja yang bekerja pada perusahaan Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Tinggi rendahnya kadar abu terbang dalam pernafasan merupakan indikator biologis adanya pajanan partikel halus (abu terbang). (Setyawati L, 1996)
Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, minat, emosi, kehendak, berfikir, motivasi, persepsi, sikap, reaksi dan sebagainya (Azwar S, 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat atau individu, yaitu :
a. faktor dasar (predisposing factor),
mencakup pengetahuan, sikap, kebiasaan, kepercayaan, norma sosial dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu di dalam masyarakat yang terwujud dalam motivasi;
b. faktor pendukung (enabling factor), mencakup sumber daya atau potensi masyarakat, terwujud dalam tersedianya alat dan fasilitas serta peraturan;
c. faktor pendorong (reinforcing factor), mencakup sikap dan perilaku dari orang lain yang terwujud dalam dukungan sosial. (Green, 2000)
Perilaku manusia dapat disimpulkan sebagai refleksi kejiwaan untuk memberikan respon terhadap situasi di luar dirinya. Perilaku kesehatan manuasia atau individu dipengaruhi oleh faktor dasar yaitu faktor yang menjelaskan alasan atau motivasi seseorang untuk berperilaku, faktor pendukung adalah faktor yang merupakan pendukung untuk berperilaku dan faktor pendorong yaitu faktor lingkungan yang dominan dalam pembentukan perilaku. Tenaga kerja yang berperilaku sehat akan menghidari risiko terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.
Abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) merupakan limbah padat yang dikeluarkan oleh PLTU berbahan bakar batu bara. Menurut laporan teknik PT PLN (Persero) (1997), di Indonesia produksi limbah abu terbang dan abu dasar dari PLTU diperkirakan akan mencapai 2 juta ton pada tahun 2006, dan meningkat menjadi hampir 3,3 juta ton pada tahun 2007. Khusus untuk PLTU Cilacap, sejak tahun 2004 hingga 2010 diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton per tahun. Jika limbah abu ini tidak ditangani akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Salah satu kemungkinan penanganannya adalah dengan memanfaatkan abu terbang ini untuk bahan baku pembuatan refraktori. Menurut Hwang (1991), komponen mineral utama abu terbang adalah aluminosilikat, besi oksida, silikat densitas rendah, dan sisa karbon, serta kemungkinan adanya mineral mullite.
Berdasarkan pengetahuan yang diketahui kadar abu tebang rata-rata di PLTU Cilacap Jawa Tengah sebesar lebih dari 4,35 mgr/m3. Sedangkan menurut surat edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor : SE.01/MEN/1997 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja adalah 2 mg/m3 udara. Dengan hasil ini maka kadar abu terbang rata-rata di PLTU Cilacap telah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Jika hal ini dibiarkan saja maka dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan kerja. Adapun salah satu gangguan kesehatan tenaga kerja yang diakibatkan oleh pemaparan abu terbang, adalah terjadinya penurunan fungsi paru yang merupakan salah satu penyakit akibat kerja.

Dengan demikian usulan penelitian ini dibuat agar dapat meneliti para pekerja PLTU Cilacap. Melihat masih tingginya angka kesakitan dan kecelakaan akibat kerja pada pekerja PLTU di Cilacap, maka peneliti tertarik untuk melihat hubungan perilaku keselamatan dan kesehatan kerja paparan abu terbang pada pekerja PLTU di Cilacap.


B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakan diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai barikut: “Apakah terdapat hubungan antara perilaku keselamatan dan kesehatan kerja dengan paparan abu terbang pada pekerja PLTU di Cilacap?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara perilaku keselamatan dan kesehatan kerja dengan paparan abu terbang pada pekerja PLTU di Cilacap.
2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui presentase paparan terhadap abu terbang pada pekerja PLTU
2. Mengetahui perkembangan pemakaian APD (alat pelindumg diri) yang dilakukan pekerja sebagai kewajiban pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja dalam perusahaan.

D. Manfaat
1. Bagi Keilmuan
Penelitian ini diharapkan dapat member sumbangan atau konstribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya, khususnya dibidang kesehatan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan informasi pengembangan pemakaian APD (alat pelindung diri)
3. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan member informasi yang benar tentang penanganan penggunaan APD terhadap paparan abu terbang pada pekerja PLTU.



4. Bagi Peneliti
Menambah pengetaahuan dan pengalaman dalam penulisan karya tulis ilmiah dan sebagai salah satu pengalaman belajar di Universitas Jendral Soedirman Jurusan Kesehatan Masyarakat.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja & lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan. Serta arti dan tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan & kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya & Budaya, tertuju kepada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali. Upaya K3 diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan pekerjaan. Dalam pelaksanaan K3 sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu manusia, bahan, dan metode yang digunakan, yang artinya ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mencapai penerapan K3 yang efektif dan efisien. Sebagai bagian dari iImu Kesehatan Kerja, penerapan K3 dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu adanya organisasi kerja, administrasi K3, pendidikan dan pelatihan, penerapan prosedur dan peraturan di tempat kerja, dan pengendalian lingkungan kerja.
Dalam ilmu kesehatan kerja, faktor lingkungan kerja merupakan salah satu faktor terbesar dalam mempengaruhi kesehatan pekerja, namun demikian tidak bisa meninggalkan faktor lainnya yaitu perilaku. Perilaku seseorang dalam melaksanakan dan menerapkan K3 sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektivitas keberhasilan K3. Demikian juga yang terjadi pada pekerja PLTU Cilacap, dimana tingkat kepatuhan terhadap peraturan dan pengarahan K3 akan mempengaruhi perilaku terhadap penerapan prinsip K3 dalam melakukan pekerjaannya. (Setyawati L, 1996).
Apabila K3 tidak diterapkan pada perusahaan atau perindustrian maka akan terjadi kecelakaan di tempat kerja, yang dapat berdampak pada pekerja dan perusahaan atau perindustrian. Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan dan manusia.Gangguan yang diderita tenaga kerja adalah gangguan kesehatan yang dapat diakibatkan karena terkena penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau sering disebut penyakit akibat kerja, yaitu suatu penyakit, kelainan atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh dan atau diderita ketika melakukan pekerjaan (Suma'mur, 1997). Selain itu juga bisa terjadi kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu menjalankan pekerjaan atau dalam perjalanan dari dan ke tempat kerja Penyakit akibat kerja ini juga dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja (Soejarsono, 1994).
Berdasarkan pengetahuan yang diketahui kadar abu tebang rata-rata di PLTU Cilacap Jawa Tengah sebesar lebih dari 4,35 mgr/m3. Sedangkan menurut surat edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor : SE.01/MEN/1997 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja adalah 2 mg/m3 udara. Dengan hasil ini maka kadar debu udara rata-rata di PLTU Cilacap telah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Jika hal ini dibiarkan saja maka dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan kerja. Adapun salah satu gangguan kesehatan tenaga kerja yang diakibatkan oleh pemaparan abu terbang, adalah terjadinya penurunan fungsi paru yang merupakan salah satu penyakit akibat kerja.

B. Faktor – faktor Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan dan manusia. Faktor-faktor bahaya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja antara lain adalah :
(1). Faktor fisik, misalnya: penerangan, suara, radiasi, suhu, kelembaban dan tekanan udara.
(2). Faktor kimia, misalnya : gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan, abu terbang dan benda padat.
(3). Faktor biologi, misalnya : virus dan bakteri baik dari golongan tumbuhan atau hewan.
(4). Faktor ergonomi atau fisiologis, misalnya : konstruksi mesin, sikap dan cara kerja. Dan
(5). Faktor mental - psikologis, misalnya : suasana kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha (Suma'mur, 1994).
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, minat, emosi, kehendak, berfikir, motivasi, persepsi, sikap, reaksi dan sebagainya (Azwar S.,2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat atau individu, yaitu :
a. faktor dasar (predisposing factor),
mencakup pengetahuan, sikap, kebiasaan, kepercayaan, norma sosial dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu di dalam masyarakat yang terwujud dalam motivasi.
b. faktor pendukung (enabling factor), mencakup sumber daya atau potensi masyarakat, terwujud dalam tersedianya alat dan fasilitas serta peraturan.
c. faktor pendorong (reinforcing factor), mencakup sikap dan perilaku dari orang lain yang terwujud dalam dukungan sosial. (Green, 2000).

C. Hasil Survei Pendahuluan

Berdasarkan hasil survei pendahuluan diketahui kadar debu udara rata-rata di PLTU Cilacap mencapai lebih dari 4,35 mgr/m3.. Sedangkan menurut surat edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor : SE.01/MEN/1997 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja adalah 2 mg/m3 udara. Dengan hasil ini maka kadar abu terbang udara rata-rata di PLTU CIlacap telah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Jika hal ini dibiarkan saja maka dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan kerja. Adapun salah satu gangguan kesehatan tenaga kerja yang diakibatkan oleh pemaparan abu terbang, adalah terjadinya penurunan fungsi paru yang merupakan salah satu penyakit akibat kerja.

D. Gangguan dan Kecelakaan

Gangguan yang diderita tenaga kerja adalah gangguan kesehatan yang dapat diakibatkan karena terkena penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau sering disebut penyakit akibat kerja, yaitu suatu penyakit, kelainan atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh dan atau diderita ketika melakukan pekerjaan (Suma'mur, 1997). Selain itu juga bisa terjadi kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu menjalankan pekerjaan atau dalam perjalanan dari dan ke tempat kerja. Penyakit akibat kerja ini juga dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja (Soejarsono, 1994).
Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan dan manusia. Faktor-faktor bahaya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja antara lain adalah :
(1). Faktor fisik
penerangan, suara, radiasi, suhu, kelembaban dan tekanan udara.
(2). Faktor kimia
gas, uap, abu terbang, kabut, asap, awan, cairan dan benda padat.
(3). Faktor biologi
virus dan bakteri baik dari golongan tumbuhan atau hewan.
(4). Faktor ergonomi atau fisiologis
konstruksi mesin, sikap dan cara kerja. Dan


(5). Faktor mental – psikologis
suasana kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha (Suma’mur, 1994)

E. Upaya Penanganan

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan serta memperkecil kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru pada pekerja, dapat dilakukan dengan pengendalian teknis terhadap sumber bahaya, dan jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, maka dapat dilakukan pengendalian secara administratif. Salah satu caranya adalah dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD). Pemakaian APD ini merupakan alternative terakhir dari berbagai macam metode pengendalian. Penangulangan dengan APD ini dapat dilakukan dengan cara pemberian dan penggunaan masker, helm proyek, jaket dan sarung tangan pada pekerja. Namun kendala yang sering muncul adalah keengganan sebagian besar tenaga kerja untuk memakai masker, helm proyek, jaket dan sarung tangan pada waktu bekerja, meskipun mereka telah diberi pembinaan tentang manfaat masker. Dan hal ini akan menyebabkan penimbunan abu terbang dalam paru dalam waktu yang lama (Wijaya, 1993).


F. Kerangka Teori




Gambar 1. Modifikasi Teori Perilaku Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003)







BAB III
METODE PENELITIAN


A. Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional. Pendekatan yang digunakan adalah cross sectional dengan mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko pemakaian masker dengan efek fungsi paru, yang diobservasi pada satu saat.
Metodelogi Penelitian yang digunakan adalah metodelogi penelitian kualitatif karena data yang dihasilkan adalah data deskriptif. Data deskriptif yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami peristiwa tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, mengenai umur, pengetahuan, sikap (kesukaan), asupan gizi, pendidikan, sosial ekonomi, motivasi, ketersediaan fasilitas, keterjangkauan jarak dengan sumber penyakit. Peneliti berusaha mendeskripsikan secara terperinci fenomena yang sedang diteliti sehingga data yang dikumpulkan berupa ucapan, tulisan, perilaku yang dapat diamati secara langsung.

B. Subyek Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah para pekerja PLTU Cilacap. Subyek dipilih karena perilaku para pekerja yang tidak mematuhi pemakaian APD pada waktu bekerja dan pada saat berada di tempat kerja, padahal perilaku tersebut dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan mengancam kesehatan dan keselamatan manusia. Salah satu permasalahan kesehatan yang diakibatkan oleh kelalaian pemakaina APD ( masker, dll ) yaitu terpaparnya abu terbang pada pekerja.


C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dilakukan di PLTU Cilacap.

D. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang dikumpulkan dan diperoleh secara langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian. Sumber data ini dicatat melalui catatan tertulis atau perekaman video audio tape, pengambilan foto, atau film. Sumber data langsung dari informan yang sudah ditentukan.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau yang dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber yang telah ada. Sumber data berupa sumber tertulis yan dibagi atas sumber buku dan makalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.

E. Cara Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi ini dilakukan untuk melihat dan mengamati semua tindakan yang dilakukan informan setiap harinya pada waktu bekerja, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara ini tidak dilakukan dengan struktur yang ketat, tetapi dengan pertanyaaan yang semakin mendalam, sehingga informasi yang dikumpulkan cukup mendalam. Cara ini akan mampu menggali kejujuran subjek penelitian untuk memberikan informasi yang sebenarnya tentang dampak yang pekerja rasakan karena dampak paparan abu pembakaran batubara PLTU Cilacap. Proses wawancara dilakukan dengan cara : peneliti menemui subjek penelitian, kemudian peneliti terlebih dahulu mengkonfirmasikan maksud peneliti, menentukan waktu wawancara dan kesediaan untuk menjadi subjek penelitian yang akan direkam saat wawancara berlangsung, sehingga diharapkan data yang didapatkan lebih jelas.
3. Analisis Dokumen ( Content Analysis )
Analisis dokumen adalah teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen yang ada di media masa, buku, dan kepustakaan lainnya.

F. Metode Analisis
Analisis data yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
G. Validitas Data
Validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan cara melakukan pengambilan data, dengan memanfaatkan sumber pada pengumpulan data sebelumnya ( Meleong, 1990 ). Triangulasi dapat dilakukan antara lain dengan :
a. Mencocokan data hasil pengamatan dengan situasi penelitian dengan apa yang dikatakan dengan informan.
b. Mencocokan hasil wawwancara dengan isi dokumen berhubungan.
c. Mencocockan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
d. Mencocokan informasi yang diberikan informan dengan informasi yang diberikan oleh orang terdekatnya atau pendapat para ahli.



H. Jadwal Penelitian



















DAFTAR PUSTAKA


Abidin Zaenal. dkk. 2008. Hubungan Perilaku Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Jurnal sekolah tinggi teknologi niklir. Batan.

Azwar, S. 2005. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. edisi kedua. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Suce Betty, N. dkk. 2008. Pengaruh Kedisiplinan Pemakaian Masker Tterhadap Penurunan Fungsi Paru Pada Tenaga Kerja. Jurnal kesehatan lingkungan fakultas ilmu kesehatan UMS. Surakarta.

Green, L. W. Kreuter 2000. Health Promotion Planning, An Educational and Environmental Approach, 2nd Edition, Mayfield Publishing Company. California

Heryuni. 1991. Pemeriksaan Kadar Debu dalam Udara Lingkungan Kerja : Pusat Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Jurnal Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Vol. XXVI, No. 2

Hwang, J.Y. 1991. Beneficial Use of Fly Ash, Technical Report, Michigan Technologycal University. http://www.ceramicbulletin.org. diakses pada tanggal 1 Juni 2010.

Hwang, J.Y dan Huang, X. 1995, “Refractory Material Produced from Beneficiated Fly Ash”, Proceedings 11th International Symposium on Use and Management of Coal-Combustion By Products, Orlando, January, Vol.1, pp.32-1-13.

Mleong, Lexy. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Rosda Karya. Bandung.

PT PLN (Persero) dan PT Kema Teknologi Indonesia. 1997. “Pengelolaan Abu Terbang dan Abu Dasar Pembangkit Listrik Dengan Bahan Bakar Batu bara di Indonesia”, Laporan Teknik. Diakses pada tanggal 1 Juni 2010.


Setiawati L. 1996. ”Kesehatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja”. Pelatihan Keahlian Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Bagi Guru-guru SMK DIY.


Simanjuntak. 1991. Kelestarian Usaha dan Pengembangan Potensi Ekonomi dari Investasi Melalui Perlindungan Tenaga Kerja. PUSPERKES dan DEPNAKER RI, Jakarta.


Soejarsono, 1994, Petuniuk Praktikum Fungsi Paru dengan Spirometer. Program D3 Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta.

Suma'mur, P. K. 1997. Byssinosis : Pusat Hiperkes Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Jurnal Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Volume XII, No. 3 dan 4.


Wijaya C. 1993. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Buku Kedokteran Indonesia, Jakarta.