Cara Memandikan Anjing

Seluruh badan anjing disiram air hangat dengan suhu 40 derjad celcius. Mandikan dengan menggunakan shampoo anjing berkualitas baik. Belailah bulu anjing anda dengan lembut. Pada saat ini, yang harus anda perhatikan yaitu jangan sampai shampoo masuk kedalam mata atau telinga anjing. Kalau seluruh tubuh banyak sabunnya, pantatnya harus ditekan menggunakan air panas dan sisemprot, dan gunakan kain yang lembut untuk menggosokkan sampai bersih. Lalu telinganya ditiup, supaya anjing mengibaskan tubuhnya, lalu pakai handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
Setelah itu kita bisa memakai hair dryer, supaya bulunya benar-benar kering, dan memakai obat mata untuk membersihkan matanya. Bersihkan kotoran dan air yang ada didalam telinga, dengan memakai jepit yang diberi kapas. Kalau didalam telinga masih ada sedikit air, biasanya bisa menyebabkan infeksi telinga, biarpun didalam telinga jangan sampai ada bulu, tetapi juga tidak bisa dicabut sampai habis. Bulu yang ada di ujung kaki harus digunting sampai bersih, juga bulu yang ada diantara jari kaki. Menurut jenis anjing, anda harus membersihkan kumis dan bulu yang ada di ujung telinga. Untuk menggunting kuku, anda memakai kikir kuku, supaya bulu yang lancip menjadi bulat. Bulu diseluruh tubuh harus disisir  sampai rapi. Untuk anjing berbulu panjang seperti Shih Tzu, bulu diatas kepalanya boleh diikat menjadi satu dengan pita, lalu ditaburi minyak wangi.
Kalau anda ingin membersihkan kotoran yang ada di gigi, sebaiknya dilakukan pada waktu sebelum mandi. Kalau anjing anda sedang tidak bersemangat, tubuhnya kelihatannya kurang sehat atau sesudah melahirkan, jangan memaksanya untuk mandi. Tetapi, jika bulunya sudah benar-benar kotor, sehingga kurang sedap dipandang, anda bisa menggunakan handuk yang dibasahi air panas dan diperas. Gunakan handuk hangat ini untuk mengelap tubuhnya sampai bersih. Selamat Mencoba.

Batuk Bukanlah Suatu Penyakit

Batuk ternyata merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang ada di dalam tubuh terutama yang ada dalam saluran pernafasan karena adanya lendir, makanan, debu asap dan sebagainya. Tetapi batuk bukan berarti sebuah masalah yang tidak serius, ada juga yang merupakan gejala penyakit yang serius.
Batuk dapat di bedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya di kelompokkan berdasarkan waktu, yaitu:
  • Batuk akut yaitu batuk yang di alami setidaknya kurang dari 14 hari, dan dalam satu episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang.
  • Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB) dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari). Pertusis yaitu batuk kronis yang dikarenakan oleh suatu kuman yakni Bordetella Pertussis. Pertussis dapat dicegah dengan Imunitas DPT.
Penyebab batuk diantaranya:
  1. Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala influenza.
  2. Infeksi saluran pernafasan (ISPA).
  3. Alergi.
  4. Tersedak akibat minum susu.
  5. Menghirup asap rokok dari orang sekitar.
  6. Benda asing yang masuk kesaluran penafasan.
  7. Asma atau Tuberculosis.
  8. Batuk Psikogenik. Batuk ini biasanya di akibatkan karena emosi psikologis.
Jenis obat batuk.
Penanganan batuk harus di sesuaikan dengan penyebabnya, apakah karena alergi, infeksi visrus atau kelainan fisiologis lain. untuk pertolongan pertama, pemberian obat bebas boleh-boleh saja.
Beberapa zat yang biasanya terdapat dalam obat batuk di antaranya adalah antitusif untuk menekan batuk dan dekongestan (melegakan saluran pernafasan), pengencer lendir atau kombinasi. Dekongestan berfungsi untuk melebarkan saluran pernafasan atas dengan jalan mengurangi oedema (pembengkakan saluran pernafasan di hidung).
Salah satu jenis obat batuk yang sudah populer sejak dulu adalah obat batuk hitam (OBH). Untuk batuk ringan, OBH atau obat batuk putih generik bisa di gunakan, sementara beberapa obat batuk yang di jual bebas sebenarnya tidak di anjurkan untuk anak-anak, khususnya obat batuk yang sudah di tambah dengan berbagai inovasi.

Beberapa obat batuk yang dapat di beli tanpa resep dokter diantaranya yang mengandung:
  • Guaifenesin (Cohistan Expectorant, Probat, Bisolvon Extra, Actifed Expectorant dll). Yang harus di ingat adalah jika memimum obat-obatan yang banyak mengandung Guaifenesin adalah di harus minum banyak air.
  • Dekongestan seperti Pseudoephedrine ( Disudrin, Actifed Expectorant, Clarinase, Actifed, Triaminic, Rhinos SR dll). Obat-obatan yang banyak mengandung Pseudoephedrine dapat di gunakan untuk menghentikan pilek encer (meler) dan postnasal drip.
Sumber: Dari berbagai sumber








Kanker Prostat

Kanker Prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam Kelenjar Prostat. Kelenjar Prostat terdapat di bawah kandung kemih pria. Fungsi utama prostat adalah memproduksi cairan yang melindungi dan menyalurkan sperma. Prostat seringkali membesar secara bertahap setelah usia 50 tahun. Pada usia 70 tahun, 80% pria memiliki prostat yang membesar. Banyak pria lansia yang mengalami masalah buang air kecil karena pembesaran prostat (non-kanker). Pada beberapa pria, pembesaran ini diikuti oleh tumbuhnya kanker. Kanker Prostat terjadi ketika sel-sel prostat tumbuh lebih cepat daripada kondisi normal sehingga membentuk benjolan atau tumor yang memiliki keganasan. Kanker ini paling umum pada pria, terutama mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Penyebab Kanker Prostat:
  1. Usia yang semakin menua.
  2. Riwayat keluarga dan faktor keturunan.
  3. Suku bangsa. ( Pria Asia memiliki risiko lebih rendah dibandingkan pria kulit hitam atau kulit putih.)
  4. Paparan logam cadmium.
Gejala Kanker Prostat:
  1. Air seni yang tidak lancar.
  2. Penundaan. ( Air seni yang tidak segera keluar disaat anda akan kencing, jadi harus menunggu beberapa saat sebelum anda kencing. )
  3. Tetesan. ( Sedikit air seni mungkin menetes dan menodai celana dalam Anda tidak lama setelah Anda selesai kencing di toilet. )
  4. Frekuensi atau Intensitas kencing anda lebih sering dari pada biasanya.
  5. Urgensi atau anda sering merasakan kebelet kencing dengan tiba-tiba.
  6. Setiap kali setelah kencing anda masih merasa bahwa kencing anda masih belum tuntas.
  7. Gejala lain seperti sakit atau air seni berdarah hanya terjadi pada kanker prostat stadium lanjut.
Faktor-faktor yang bisa mengurangi resiko terkena Kanker Prostat:
  1. Memperbaiki keadaan kesehatan umum, Jaga agar berat badan Anda berada pada berat ideal untuk tinggi Anda. Jika Anda menderita obesitas maka temui ahli gizi untuk mengatur diet yang seimbang. Kombinasikan juga dengan kegiatan olahraga.
  2. Minum banyak air. Air sangatlah esensial untuk kesehatan karena membantu mengurangi racun-racun dari dalam tubuh. Konsumsi air yang ideal setiap hari adalah 6 sampai 8 gelas sehari. Kopi dan teh tidak termasuk dalam konsumsi air.
  3. Kurangi minum alkohol.
  4. Makan makanan yang banyak mengandung likopen, contohnya tomat dan buah bit.
  5. Makan makanan yang mengandung asam lemak omega-3 seperti kacang kedelai dan produknya seperti tofu, atau susu kacang kedelai, salmon, tuna dan sarden.
  6. Makan makanan yang mengandung beta karoten seperti wortel.
  7. Kurangi konsumsi daging-dagingan dan lemak.
  8. Pastikan Anda mendapat cukup asupan selenium dan vitamin E.
  9. Terakhir, kurangi stres dan depresi. Carilah kesibukan atau olahraga demi membantu menenangkan pikiran.
Sumber: Dari berbagai sumber

    Tips Membangun Kolam Impian

    Jika kita ingin memiliki sebuah kolam ikan yang indah, didalam taman, langkah pertama yang harus diambil adalah memilih tempat yang tepat dan cocok untuk dibangun sebuah kolam ikan. Desain kolam itu sendiri bervariasi, tergantung selera diri kita dan bagaimana persepsi tentang kolam impian yang akan kita bangun. Tetapi sebelum para arsitek kolam membangun kolam impian kita, mereka juga harus memikirkan  tentang kebutuhan biologis ikan dan tanaman, yang nantinya menjadi penghuni kolam tersebut. Kebutuhan biologis ini, seharusnya menjadi per ioritas utama, sebelum kita membangun sebuah kolam yang indah, asri dan menakjubkan. Adapun kebutuhan biologis bagi ikan dan tanaman tersebut adalah:

    Suplai Oksigen
    Oksigen sangat esensial bagi perkembangan organisme yang ada di dalam kolam. Menggunakan alat udara dan penjernih air, seperti filter dan pompa air, bisa meningkatkan kadar oksigen dalam kolam. Selain itu, disarankan untuk menanam tanaman yang bisa menghasilkan oksigen, dari hasil fotosintesa, seperti Hornwort atau Canadian Pondweed.

    Kualitas Air
    Kualitas air yang bagus, juga peranan yang penting untuk sebuah impian yang indah. Secara biologis, air bersih dan bening penting bagi organism didalam kolam, juga bagi ikan dan tanaman. Air yang tidak bersih dan tercemar, akan menyebabkan penyakit pada ikan dan menganggu pertumbuhan tanaman. Kualitas air kolam yang baik, berpengaruh pada kesehatan ikan dan tumbuhan itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kualitas air kolam yang bagus, kita harus melakukan beberapa tindakan, diantaranya adalah pembenahan filter untuk kolam, mengontrol aerasi (udara) kolam, mengganti (menguras) air kolam dalam jangka waktu tertentu, mengurangi pemberian pakan berlebihan, mencegah polusi pada air kolam, dan juga melakukan pengontrolan secara rutin terhadap kolam.

    Temperatur Air
    Pada sat temperatur air kolam meningkat, akan menyebabkan ikan dan organism yang ada didalam kolam menjadi sangat enerjik, dan menyebabkan kebutuhan akan oksigen juga meningkat. Jika hal ini terjadi, sebaiknya kita memberikan suplai oksigen lebih banyak kedalam kolam. Pada saat temperatur rendah, akan mengakibatkan stres pada ikan, yang bisa berakibat penyakit bahkan kematian. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan kedalaman minimum kolam kita. Untuk ikan koi, kedalaman minimum adalah 45 cm, dan untuk jenis ikan robusta kedalaman minimal yang dibutuhkan adalah 90 cm.


    Baca Juga:
    Ikan Olympus Phonix

    Kembalinya Si Suara Merdu, Rossa Purnama

    Rossa Purnama, dengan nama asli Rosdiana dilahirkan dan dibesarkan di Subang, Jawa Barat. 

    Diperjalanan karirnya, dari kecil Rossa memang sudah berbakat menyanyi. Karirnya diawali dari tahun 1986 dengan mengikuti ajang Festival Dangdut Se-Indonesia dan mendapat juara I sekaligus juara umumnya.

    Kemudian tahun 1997 Rossa mengeluarkan album perdana "Biduan Janda Anak Dua" yang diproduksi DD Record. Selanjutnya mengeluarkan single duet dengan Jaja Miharja " Daun Kering Bisa Basah" produksi Gajah Mada Record, dan masih banyak album kompilasi lainnya.

    Atas dukungan musisi papan atas Tops Lasido, dkk, kini Rossa Purnama mengeluarkan Album ke-2 bertajuk "Penabur Cinta"

    Tops Lasido sang pemilik lagu mengungkapkan dirinya yakin dan optimis lagu "Penabur Cinta" ini akan beruntung dengan dinyanyikan Rosa , karena suara yang khas dan merdu. Tops Lasido berharap lagunya bisa diminati masyarakat luas karena lagu ini lebih bagus dari lagu- lagu sebelumnya yang ia ciptakan juga, seperti : Keangkuhan, Dingin, Harta Dan Rurga, dll. 

    Penasaran dengan lagu dangdut terbaru Rossa Purnama - Penabur Cinta, silahkan anda download disini

    Foto hewan hewan yang mampu menyamarkan diri pada lingkungan ( Kamuflase )



    Kamuflase yaitu proses penyamaran suatu organisme untuk menyamarkan diri pada lingkungannya. Pada saat kamuflase hewan sangat sulit dicari karena warna mereka sangat mirip pada lingkungannya.

    Banyak orang menyamakan arti kamuflase dan mimikri , padahal salah. Sebenarnya mimikri itu bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain.

    Proses kamuflase dilakukan hewan pada saat ia terancam dari musuhnya atau memang dari asalnya mereka telah berkamuflase.

    Dalam peperangan di masa lampau kamuflase tidak banyak digunakan. Pasukan-pasukan di abad ke-19 cenderung mengenakan warna-warna yang cerah dan berani, serta rancangan-rancangan yang mencolok. Semua ini dimaksudkan untuk membuat lawan kecil hati, meruntuhkan mental dan nyali, menarik rekrut, memperkuat ikatan dalam kesatuan atau mempermudah identifikasi satuan dalam kabut perang.

    Berikut foto foto hewan pada saat berkamuflase :

    http://img600.imageshack.us/img600/7701/article00cd9b2b2000005d.jpg
    Seekor ngengat pada pohon birch




    Belalang



    Tokek


    Seekor Flounder



    Gurita Biru


    Update terakhir tanggal 22 Januari 2011

    sumber : wikipedia, dailymail, google

    Tak Mau Ketinggalan Zaman, Iis Dahlia Gaet Tompi

    Agar tak ketinggalan zaman penyanyi dangdut Iis Dahlia mengaku akan menggandeng penyanyi jazz Tompi.

    Pelantun lagu-lagu Melayu lawas ini mengakui karier bermusiknya tak lagi secemerlang dulu lantaran sudah banyak pedangdut muda yang lebih segar dan bisa mengikuti selera pasar.

    Untuk itu dirinya siap memoles musik dangdutnya sehingga memiliki keunikan. Memang, lagu dangdut tak bias lepas dari cengkok suara khas pedangdut berdarah indramayu ini. Artis yang juga istri pilot tersebut akan membawakan jenis dangdut pop yang terdengar menarik.

    Artis Kelahiran Bongas – Indramayu, Jawa Barat, 29 Mei 1972 ini juga mengaku, tak ingin musik dangdut yang monoton.

    Iis Dahlia Mimpikan Konser Tunggal Dangdut
    Sementara itu, penampilan Titi DJ dalam 'Swara Sang Dewi' benar-benar memukau Iis Dahlia. Pedangdut senior tanah air itu mengaku merasa sangat puas dengan apa yang disajikan dalam konser yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (21/1), tersebut.

    Dan hal itu memotivasinya untuk bisa menggelar konser yang sama, konser tunggal dangdut suatu hari nanti.

    Tak hanya konser Titi, Iis juga telah berencana untuk menonton konser penyanyi belia bertaraf internasional, Justin Bieber. (poskota-kapanlagi)

    Agrobisnis Pertanian Buah Naga

    Disadari atau tidak, peluangagrobisnis pertanian selalu terbuka lebar. Mengingat kebutuhan akan produk pertanian akan selau meningkat setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya populasi dan kebutuhan penduduk. Jadi, peluang bisnis di sektor ini cukup menjanjikan dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

    Salah satu peluang agrobisnis pertanian yang cukup menjanjikan adalah agrobisnis buah naga. Buaheksotik ini mulai dilirik oleh pelaku usaha karena harga jualnya yang tinggi, perawatannya yang gampang dan peluang pasar yang masih terbuka lebar.

    Cukup banyak peluang agrobisnis pertanian buah naga yang cukup potensial. Diantaranya yaitu; bisnis buah segar, bisnis bibit, pasar ekspor, agrowisata dan bisnis produk olahan.

    Bisnis Buah Segar

    Bisnis buah naga segar cukup menjanjikan. Permintaan pasar lokal selalu ada setiap harinya, meskipun tidak terlalu besar. Biasanya permintaan akan meningkat menjelang perayaan imlek.

    Buah naga oleh masyarakat keturunan (etnis tionghoa) biasanya digunakan sebagai buah persembahan kepada para dewa pada perayaan imlek. Sehingga menjelang perayaan imlek permintaan akan buah naga cendrung meningkat hingga 30 s/d 40% dari biasanya.

    Harga buah naga segar juga terhitung cukup mahal, berkisar antara Rp. 24.000,- hingga Rp. 30.000,- per kilogram. Satu kilogram buah nagabiasanya berisi 2-3 buah naga.

    Bisnis Bibit

    Budidaya buah naga masih tergolong baru di Indonesia. Namun demikian, minat pekebun untuk mengembangkan komoditas ini cukup tinggi. Bahkan mulai meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya, banyak diantara mereka yang terkendala oleh persediaan bibit.

    Ini menunjukkan bahwa peluang agrobisnis pertanian bibit buah naga juga memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Tren permintaannya cendrung meningkat setiap tahun. Bibit buah naga juga tidak terbilang murah. Biasanya bibit dihargai per cm ruas batang. Harganya rata-rata Rp. 2.000 s/d Rp. 6.000,- per cm.

    Pasar Ekspor

    Selain peluang pasar dalam negeri, peluang pasar ekspor juga terbentang luas bagi para pekebun buah naga. Berdasarkan data di internet produksi buah naga taiwan baru mampu memenuhi 30% dari kebutuhan pasar Asia. Ini peluang pasar yang cukup besar untuk dipenuhi. Di samping itu, pasar Eropa dan Amerika juga masih terbuka lebar.

    Agrowisata

    Tanaman buah naga memiliki perawakan yang cukup unik khas tanaman padang pasir. Tanaman kaktus raksasa ini sangat menarik jika terlihat dalam satu hamparan. Buah yang muncul pada ruas batang dengan warna mencolok, menambah keindahan pada barisan tanaman tersebut.

    Selain itu, tanaman ini masih asing di telinga dan mata sebagian orang indonesia. Sehingga sering menimbulkan rasa penasaran dan ingin tahu dari sebagian mereka. Tidak dipungkiri bahwa minat sebagian orang Indonesia masih tergolong besar untuk melakukan studi wisata ke perkebunan buah naga. Sehingga hamparan perkebunan buah naga sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata.

    Bisnis Produk Olahan

    Peluang agrobisnis buah naga tidak hanya terbatas pada bibit dan buah segar. Masih banyak peluang usaha yang ditawarkan oleh komoditi ini. Diantaranya yang masih jarang dilirik adalah usaha produk olahan dengan bahan dasar buah naga segar. Produk olahan tersebut misalnya sirup, jus buah naga, dan produk lain yang mngkin bisa diciptakan dari buah naga segar.

    Nah menarik sekali bukan? Anda tertarik mengembangkan agrobisnis buah naga?

    KEUNTUNGAN DARI TANAMAN ROSELA

    Berikut ini adalah artikel tentang laba dari tanaman perkebunan rosela, saya mengumpulkannya dan membuat menjadi suatu kliping hasil dari penelusurah oleh mbah google. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang sedang membutuhkan informasi tentang rosela ini. –

    Artikel Rosela 1 -

    Judul: Rosela Laba di Balik Kesegarannya

    Sumber: Trubus

    Selama empat tahun Bambang Irwanto bersusah-payah memperbanyak benih rosela asal Sudan. Jerih payah itu kini berbalas manis. Setiap bulan ia berhasil menjual rata-rata 750 kg rosela kering. Dengan harga jual Rp500.000 per kg, setidaknya Rp225-juta mengalir ke rekeningnya setiap bulan. Bambang menjualnya dalam bentuk kemasan berisi 40 g. Harga jual per kemasan di tingkat konsumen Rp20.000 atau Rp500.000 per kg. Ia memasarkan dengan sistem keagenan. Para agen memperoleh diskon 40% dari harga jual. Setelah dikurangi potongan harga agen dan biaya produksi lain, Bambang meraup untung 15% atau Rp75.000 per kg. Dengan jumlah penjualan rata-rata 750 kg rosela kering per bulan, laba bersih yang dikutip Bambang Rp56-juta per bulan.

    Meraih pendapatan sebesar itu tak sedikit pun terlintas dalam benak Bambang pada 4 tahun silam. Maklum, ketika itu ia hanya mengenal carcade-sebutan rosela di Timur Tengah-sebagai pelengkap pengobatan. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai herbalis itu mengenal rosela dari salah seorang kolega di Sudan. Benih asal Sudan itu diperbanyak di lahan 1.000 m2 miliknya di Gunungkidul, Yogyakarta. Laba tinggi Kian bertambahnya pengguna rosela membawa secercah harapan bagi Bambang. Di benaknya lantas terbersit untuk berbisnis rosela. Pada 2005, ia getol mengajak pekebun yang bersedia menanam rosela yang kelak menjadi pemasok.

    Dari sekian banyak yang ditemui, Bambang hanya berhasil menghimpun beberapa pekebun karena belum paham budidaya intensif. Padahal berkebun rosela menjanjikan keuntungan menggiurkan. Dari sehektar lahan, pekebun memanen 2-2,5 ton segar. Setelah dikeringkan, diperoleh 200-250 kg. Dengan harga beli di tingkat pekebun Rp175.000- Rp200.000 per kg, pekebun meraup omzet Rp35-juta-Rp50-juta per 6 bulan atau Rp5,8-juta-Rp8,3-juta per bulan. Sedangkan biaya penanaman hanya Rp5-juta/ha/musim tanam atau Rp833.000 per bulan. Artinya, pekebun bisa meraup laba bersih Rp5-juta-Rp7,5-juta per bulan. Keuntungan setinggi itu tentu saja menggiurkan. Akhirnya, hingga 2006, 50 orang pekebun bergabung menjadi plasma dengan areal tanam 100 ha.

    Manisnya berbisnis rosela tak hanya dirasakan Bambang. Kus Yulianto, di Yogyakarta, turut mencecap laba dari rosela. Ia memproduksi rosela kering yang diolah menjadi rosela celup. Namun, yang dibudidayakan adalah cranberry. Meski bernama latin sama-Hibiscus sabdarifa-sosok kelopak cranberry berbeda. Bentuk kelopak menyerupai kotak, tidak menguncup seperti rosela yang kerap dibudidayakan di Indonesia. Benih cranberry diperoleh ketika mengunjungi pameran Floriade di Rotterdam, Belanda. Setiap bulan, Kus Yulianto setidaknya menjual 5.000 dus cranberry isi 20 g. Harga per kotak Rp30.000. Total omzet yang diraup mencapai Rp150-juta per bulan. Setelah dikurangi biaya produksi, Kus memperoleh laba bersih Rp50-juta per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Kus menanam cranberry di lahan 6-7 ha. Lokasi kebun tersebar di Purwodadi dan Trenggalek, Jawa Timur. Menjanjikan Prospek bisnis rosela cukup menjanjikan, kata Bambang. Itu terlihat dari permintaan yang terus melonjak. Bahkan ia terpaksa menepis permintaan seorang pengusaha asal Jakarta yang meminta pasokan 15 ton rosela kering per tahun. Permintaan itu membuat Bambang kewalahan. Kapasitas produksi saya baru 5 ton rosela kering per tahun, katanya. Pada 2007, Bambang berencana menambah kapasitas produksi hingga 15 ton/tahun.

    Permintaan rosela celup meningkat dari bulan ke bulan, kata Kus Yulianto. Jumlah permintaan ketika pertama kali memproduksi hanya 500 dus. Bulan berikutnya meningkat menjadi 1.000 dus, 2.000 dus, dan 3.000 dus. Sekarang dibatasi 5.000 dus per bulan, kata pria kelahiran Kediri 40 tahun silam itu. Kus juga terpaksa menolak permintaan dari Jakarta yang meminta 5.000 dus per bulan. Permintaan lain: Bob Sadino (10.000 dus per minggu) dan Yunani (1 kontainer per bulan), juga ditolak. Peluang itulah yang mendorong Kus untuk memperluas penanaman. Awal 2006 ia menambah lahan 10 ha. Medio 2006, bertambah lagi 40 ha. Lokasi kebun meluas ke berbagai daerah seperti Tulungagung, Kediri, Jember, dan Banyuwangi. Harga beli ke pekebun pun melonjak tajam. Pada 2005, harga rosela kering yang semula Rp20.000 per kg, kini Rp100.000. Permintaan impor salah seorang kolega di Arab Saudi juga mendorong KH Abdussalam Masduqie, di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menggeluti rosela. Rekan saya minta dikirim 1 kontainer rosela celup per bulan, kata Abdussalam. Pada November 2005, mantan anggota DPRD Jawa Timur itu pun mulai memproduksi rosela celup. Untuk memenuhi pasokan bahan baku, ia menanam rosela di kebun miliknya di Bangil dan Nongkojajar. Anggota famili Malvaceae itu ditumpangsarikan dengan mangga dan apel. Hasil panen kemudian diolah dan dikemas mirip teh celup. Karena baru memulai, ia tidak mengolahnya sendiri tetapi bekerjasama dengan produsen teh celup di Bangil. Rosela celup dikemas dalam dus berisi 25 kantong. Masing-masing kantong berisi 2 g atau setara 50 g per dus. Setiap bulan Abdussalam menjual 800 dus. Dengan harga jual Rp12.500 per dus, omzetnya Rp10-juta per bulan. Dari jumlah itu, laba bersihnya Rp1.500 per dus atau Rp1,2-juta per bulan. Pendapatan saya masih kecil. Jadi hanya untuk sampingan saja, ujarnya. Meski begitu, Abdussalam berencana akan membuat pabrik pengolahan sendiri dan juga memperluas areal tanam rosela. Kendala Berniaga rosela tak selamanya menyegarkan. Keliru dalam pengolahan kerap menjadi batu sandungan. Itu dirasakan betul oleh Kus Yulianto. Pada 2004 ia sempat berhenti menjual rosela dalam bentuk kemasan. Banyak yang komplain. Pengolahan kami belum sempurna, kata Cuk Himawan, rekan kerja Kus Yulianto. Oleh sebab itu, ia bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonsesia (UPT BPPTK LIPI), Yogyakarta, untuk memperbaiki teknik pengolahan dan budidaya. Membuka jejaring pasar rosela pun tak semudah membalikkan tangan. Pengetahuan masyarakat yang masih awam tentang rosela membuat pemasaran tersendat. Hendri Sutrisno, ditributor salah satu merek rosela di Jakarta, mesti tekun mengikuti pameran-pameran untuk menciptakan pasar. Pasokan rosela yang terbatas membuat Ir Eri Pramono, produsen rosela di Surabaya, Jawa Timur, lebih memilih impor ketimbang membina plasma. Sulit mengajak pekebun agar menanam rosela karena masih asing. Kecuali bila diiming-imingi keuntungan tinggi, katanya. Oleh sebab itu, Eri mengimpor rosela dari Timur-Tengah. Beragam kerikil tajam itu tak menyurutkan langkah para produsen. Saya yakin, dengan memberi penjelasan kepada konsumen tentang manfaat rosela, peluang pasar akan tetap terbuka, kata Bambang. -

    • Artikel Rosela 2 -
    • Judul: Dari Ladang hingga Secangkir Rosela
    • Sumber: Trubus

    Inilah ritual Abdussalam Masduqie menjelang petang. Sambil duduk santai di serambi depan rumah, ia membuka stoples berisi kelopak rosela kering. Tiga kelopak rosela yang dipetik di halaman dimasukkan ke dalam gelas. Ia menyeduhnya dengan air hangat dan menambahkan 2 sendok teh gula. Setelah dingin, teh rosela-sebutan air seduhan rosela-itu ia teguk hingga tandas. Rasa penat setelah seharian beraktivitas pun lepas sudah.

    Kebiasaan itu ia lakukan sejak 2002. Kegemarannya menikmati teh rosela bermula ketika mengunjungi sebuah kedai di Hongkong. Di sana ia memesan segelas teh rosela. Saya suka dengan rasa kecut dan aromanya yang segar, katanya. Itulah sebabnya ketika kembali ke tanahair ia menanam rosela di halaman rumah. Bibit rosela diperoleh dari seorang pedagang tanaman hias yang lewat di depan rumahnya di Kersikan, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Ketika itu si pedagang menjajakan 2 pot kerabat kembang sepatu itu. Ia pun memborong keduanya.

    Dari setiap tanaman, Abdussalam memanen 50-100 kelopak rosela. Ia mencuci kelopak hasil panen itu dengan air bersih, lalu membelah dan mengeluarkan bijinya. Kelopak itu kemudian dijemur 3 hari hingga benar-benar kering. Rosela pun siap diseduh dan dinikmati. Begitulah cara Abdussalam mengolah rosela.

    Sebetulnya kelopak rosela dapat dinikmati langsung tanpa diolah. Namun, lantaran rasanya yang masam, konsumen enggan menikmati rosela segar. Kalau diseduh bisa ditambahkan gula. Jadi rasanya lebih enak, kata Abdussalam. Tanaman buah yang dapat dikonsumsi langsung dan berasa segar seperti rosela adalah buah nasi-nasi. Disebut demikian karena buah itu mungil dan berwarna putih. Karena sekali berbuah banyak dan bergerombol seperti tumpukan nasi, tanaman itu disebut nasi-nasi. Trubus menemukan buah itu di salah satu hutan di Provinsi Bangka Belitung.
    Celup

    Mulanya Abdussalam tak melirik bisnis rosela. Saya hanya mengkonsumsi sendiri, katanya. Namun, lama-kelamaan pesanan mengalir dari rekan-rekannya. Mereka menyukai teh rosela setelah saya suguhi ketika bertamu, kata aktivis sebuah organisasi di Bangil itu.

    Sejak itulah Abdussalam menanam rosela di lahan 0,5 ha di dekat rumahnya di Bangil. Benih rosela diperoleh dari biji yang ia kumpulkan. Dengan jarak 1 m x 1 m, total populasi 5.000 tanaman. Bila setiap tanaman menghasilkan 2-3 kg per 6 bulan atau 300-500 g per bulan, total hasil panen mencapai 1,5-2,5 ton per 6 bulan atau 250-400 kg per bulan.

    Kali ini rosela tidak hanya dikeringkan dari kelopak utuh. Lantaran tuntutan konsumen, rosela kering itu diolah mirip teh celup. Konsumen inginnya praktis, katanya. Rosela kering dihancurkan hingga berbentuk serbuk dan dikemas mirip teh celup. Namun, cara pengeringan sama: dijemur. Saat musim hujan Abdussalam justru kewalahan. Bila kemarau, rosela cukup dijemur 3 hari, ketika hujan 7 hari. Akibatnya, produksi rosela terhambat lantaran pasokan rosela kering seret. Padahal, pesanan pelanggan deras mengalir.
    Oven

    Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Abdussalam memesan 100 kg rosela kering dari seorang pemasok di Jawa Tengah. Sayang, maksud hati meraup untung, Abdussalam malah merugi. Dari 100 kg rosela kering yang dipesan, hanya 25 kg yang lolos sortir untuk bahan baku rosela celup. Padahal, harga beli rosela kering itu mencapai Rp100.000 per kg. Artinya, mantan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan itu rugi hingga Rp7,5-juta.

    Rosela kering dari pemasok itu dikeringkan dengan oven. Namun, kualitasnya tak sesuai harapan. Warna kelopak kecokelatan. Ketika diseduh, air seduhannya pun berwarna sama. Bahkan, rasa kecut yang menjadi khas teh rosela hilang. Sedangkan rosela hasil pengeringan dengan sinar matahari tetap berwarna merah. Begitu juga bila diseduh air panas, warna air seduhan tetap merah dan kecutnya tetap terasa. Sejak itulah Abdussalam enggan mengeringkan rosela dengan oven meski musim hujan sekalipun.

    Menurut Ir Eri Pramono, manager pemasaran PT Demaco Indotama, produsen rosela celup di Surabaya, pengeringan dengan oven tak selamanya menghasilkan teh rosela berkualitas jelek. Agar tidak gosong, pengeringan dilakukan bertahap, katanya. Hal senada dilontarkan Kus Yulianto, produsen rosela celup di Sleman, Yogyakarta.

    Menurut Dr Astu Unadi MEng, perekayasa Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, pengeringan dengan oven sah-sah saja dilakukan. Namun, karena rosela mengandung vitamin C, pemanasan tidak boleh lebih dari 100oC agar tidak hilang.

    • Artikel 3
    • Judul : Cara Mengolah Rosela siap Makan

    Olahan Rosela
    1. Cuci kelopak hasil panen dengan air bersih.
    2. Belah kelopak rosela dan keluarkan bijinya.
    3. Tempatkan kelopak yang telah dikupas di nampan atau alas yang bersih, lalu kering-anginkan selama kurang lebih sehari hingga layu.
    4. Masukkan kelopak rosela ke dalam oven hingga temperatur maksimal 800C selama 45 menit.
    5. Keluarkan rosela dari oven lalu tiriskan hingga dingin. Periksa tingkat kekeringan dengan meremasnya. Jika kelopak tidak hancur, berarti rosela belum kering. Oleh sebab itu, masukkan kembali rosela ke dalam oven dengan suhu dan waktu sama. Setelah pengeringan kedua selesai, periksa kembali dengan cara sama. Jika sudah hancur, berarti rosela sudah benar-benar kering dan siap olah.
    6. Masukkan rosela kering ke dalam mesin penghancur sehingga berbentuk serbuk.
    7. Setelah digiling, keringkan kembali serbuk rosela dengan suhu 700C selama 3 jam untuk menghilangkan kadar air akibat lembap saat disimpan. Agar serbuk rosela tahan lama, kadar air maksimal 4%.
    8. Kemas serbuk rosela ke dalam kantong celup masing-masing berisi 2,5 g serbuk rosela.
    9. Agar higienis, masukkan setiap kantong celup ke dalam plastik berukuran 5 cm x 7 cm, lalu rekatkan hingga kedap.
    10. Kemas kantong-kantong rosela celup ke dalam kotak karton. Rosela celup pun siap dinikmati konsumen.


    Kasus thiwul yang diduga penyebab kematian enam anggota keluarga Jamhamid di Mayong, Jepara beberapa waktu lalu (Berita pada harian Suara Merdeka, Jateng) dapat menimbulkan implikasi yang luas. Salah informasi dapat berimbas pada salah persepsi khalayak tentang thiwul dapat mengamcam ketahanan pangan masyarakat tingkat rumah tangga dan menghambat implementasi Perpres No. 22/ 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. Hal yang paling tidak diharapkan adalah jika thiwul divonis sebagai makanan yang tidak aman, sehingga harus dihindarkan dari menu masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta bagian Selatan.  
    Penyebab tewasnya saudara kita itu sejauh ini masih diselidiki. Dugaan sementara akibat senyawa toksik HCN yang merupakan racun alami ketela tertentu, tetapi tidak menutup kemungkinan toksin yang dihasilkan mikroflora liar atau bakteri yang tumbuh dari bahan baku yang kurang baik, atau bisa pula karena kontaminasi racun eksternal. Jangan kambinghitamkan thiwul dan kemiskinan. Sebab keracunan dapat terjadi dari makanan apa saja. Yang paling perlu diperhatikan sesungguhnya adalah, kualitas bahan baku dan proses yang memenuhi standar keamanan yang baik.
    Diketahui thiwul adalah makanan tradisional yang berbahan baku utama tepung gaplek. Gaplek berasal dari singkong (Manihot utilissima sp) dari varietas apapun yang diawetkan melalui tahapan pembuangan kulit (pengupasan) dan pengeringan hingga kadar air maksimal 14%. Beberapa perbaikan proses dilakukan melalui  pengecilan ukuran menjadi chip dan sawut serta proses fermentasi sebelum pengeringan. Dengan proses fermentasi akan diperoleh produk yang disebut cassava fermented flour atau yang lebih populer disebut tepung mocal (modified cassava flour) yang memiliki sifat –sifat fisik tepung dan sifat organoleptik produk yang jauh lebih baik.
     Thiwul dibuat melalui tahapan proses penggilingan dan pengayakan sehingga diperoleh tepung gaplek, selanjutnya pada tepung gaplek ditambahkan sedikit air untuk membantu pembentukan granulasi (butiran-butiran). Pada tahapan ini dapat ditambahan bahan pangan lain, seperti tepung kacang tunggak, gude, terigu, gula, bahkan bahan tambahan pangan (food additive) seperti perisa (flavoring) dan pengawet, sebelum kemudian dikukus (steaming). Thiwul selanjutnya disajikan sebagai makanan pokok sebagaimana nasi atau makanan kudapan (makanan selingan).
    Tujuan penambahan bahan pangan lain (diluar gaplek) adalah untuk meningkatkan nilai gizi dan penciptaan citarasa thiwul yang memenuhi selera konsumen. Sebagai perbandingan thiwul tradisional (tanpa penambahan bahan pangan lain) nilai nutrisinya rendah, yakni untuk tiap 100 gram thiwul mengandung rata-rata 1,5 % protein, 0,7 % lemak, 80 % karbohidrat dan 4-10 % gula, dengan memodifikasi dengan menambah bahan pangan lain semisal kacang-kacangan mampu meningkatkan nilai protein hingga 5 %, lemak 1-5 %, dan karbohidrat turun menjadi 76-80%, sementara nilai nutrisi nasi putih rata-rata 3,1% protein, 0,1 % lemak dan 65-70% karbohidrat. Jelas thiwul makanan yang cukup baik, apalagi bila difortifikasi dengan berbagai unsur mineral mikro dan vitamin sebagaimana diproduksi PT. Sinar Sukses Sentosa (SSS) di Gunung Kidul, Yogyakarta atau PT. Cahaya Sejahtera Sentosa (di Jatim), maka thiwul layak disebut makanan bergizi. Jika thiwul dibuat melalui tahapan sebagaimana uraian di atas, niscaya kejadian yang menimpa saudara kita di Jepara tidak pernah terjadi dan thiwul adalah makanan yang sehat serta memenuhi sebagai sumber kalori.
    Potret Sadar Keragaman Pangan
                    Banyak sudah penulis yang mengaitkan keracunan thiwul dengan kemiskinan suatu masyarakat, sebagaimana ditulis saudara Saratri W., (SM, 7/1/2011) dan Joko Priyono, (SM, 11/1/2011). Logika yang dibangun jelas, bahwa tidak mungkin orang berkecukupan secara ekonomi mengonsumsi thiwul sebagai makanan pokok.  Tetapi pada kesempatan ini penulis mengambil sisi positip di atas bahwa, thiwul sebagai bagian dari kekayaan menu nusantara yang harus dipertahankan. Lebih jauh penulis berpendapat mengonsumsi thiwul sebagai tindakan cerdas yang merupakan bagian dari strategi rumah tangga dalam rangka membangun pola makanan yang bergizi, beragam dan berimbang (B3) menuju pola pangan harapan (PPH) yang ideal. Juga berharap sebagai strategi masyarakat (Negara) membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan, tidak bergantung pada satu jenis makanan utama (beras). Ini sekaligus sebagai implementasi Perpres No. 22/2009. Mengapa?
                Data survey sosial ekonomi nasional (Susenas-2008) menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia - dengan indikator skor PPH- masih jauh dari harapan. Data Susenas (2008), menunjukkan skor PPH nasional sebesar 81,9 dengan nilai asupan energi sebesar 2.038 kkal/kapita-hari. Namun data terbaru (2009) menunjukkan skor PPH Nasional merosot menjadi 75,7 dengan asupan energy sebesar 1.927 kkal/kapita-hari. Sementara pencapaitan di Jawa Tengah nilai PPH 83,70 (2009) dengan nilai asupan 2.300 kkal/kapita-hari.  Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat belum mencerminkan aspek keragaman sumber kalori, sebagaimana pola konsumsi yang direkomendasikan oleh Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) dengan asupan energi penduduk sebesar 2.000 kkal/kapita/hari, yang proporsi pemenuhannya berasal dari makanan jenis padi-padian sebesar 50 % dari angka kecukupan gizi (%AKG), umbi-umbian 6%, pangan hewani 12 %, minyak dan lemak 10%, buah dan biji berminyak 3%, kacang-kacangan 5%, gula 5%, sayuran dan buah 6%, serta bumbu-bumbuan 3 %. Nilai PPH berasal dari nilai % AKG dikalikan skor, yang nilainya berbeda untuk tiap kelompok makanan sumber energy. Thiwul dalam hal ini dimasukkan sebagai makanan sumber kalori karbohidrat dari kelompok umbi-umbian.
                Pola konsumsi masyarakat Jawa Tengah berdasarkan penelitian Sumardi (2008) masih didominasi kelompok padi-padian sebagai sumber kalori (63%) dan makanan berpati (6,4%). Konsumsi pangan hewani masih rendah (4-6%), demikian juga kelompok kacang-kacangan (4,6%) dan sayur serta buah-buahan (3,9%). Yang perlu dicermati dari kelompok biji-bijian adalah konsumsi terigu yang meningkat tajam dari waktu ke waktu dan sudah mencapai 18,2 kg/kapita-hari. Ini tidak lain akibat budaya mengonsumsi mi instan dan roti-rotian yang terus mengakar kuat di tengah masyarakat.
    Perlu dibangun kesadaran pentingnya berpola konsumsi yang sehat, yang menekankan aspek keragaman sumber bahan pangan, namun pada sisi lain juga pangan yang bernilai gizi yang baik dan berimbang (proporsional). Thiwul sebagai salah satu jenis makanan tradisional berkontribusi pada aspek keragaman sumber pangan, terlebih thiwul yang dibuat dengan penambahan bahan lain seperti kacang-kacangan dan disajikan secara modern. Mengonsumsi thiwul harus dipandang sebagai kesadaran untuk berpola konsumsi yang sehat, bukan suatu keterpaksaan atau ketiadaan bahan pangan lain. Maka teruslah konsumsi makanan selingan ini tanpa rasa malu dan takut keracunan.
    (Penyumbang artikel : Rohadi, Pengajar pada Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Semarang (USM). Anggota Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP3K) Jateng Bidang Agroindustri)

    Kasus thiwul yang diduga penyebab kematian enam anggota keluarga Jamhamid di Mayong, Jepara beberapa waktu lalu (Berita pada harian Suara Merdeka, Jateng) dapat menimbulkan implikasi yang luas. Salah informasi dapat berimbas pada salah persepsi khalayak tentang thiwul dapat mengamcam ketahanan pangan masyarakat tingkat rumah tangga dan menghambat implementasi Perpres No. 22/ 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. Hal yang paling tidak diharapkan adalah jika thiwul divonis sebagai makanan yang tidak aman, sehingga harus dihindarkan dari menu masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta bagian Selatan.  
    Penyebab tewasnya saudara kita itu sejauh ini masih diselidiki. Dugaan sementara akibat senyawa toksik HCN yang merupakan racun alami ketela tertentu, tetapi tidak menutup kemungkinan toksin yang dihasilkan mikroflora liar atau bakteri yang tumbuh dari bahan baku yang kurang baik, atau bisa pula karena kontaminasi racun eksternal. Jangan kambinghitamkan thiwul dan kemiskinan. Sebab keracunan dapat terjadi dari makanan apa saja. Yang paling perlu diperhatikan sesungguhnya adalah, kualitas bahan baku dan proses yang memenuhi standar keamanan yang baik.
    Diketahui thiwul adalah makanan tradisional yang berbahan baku utama tepung gaplek. Gaplek berasal dari singkong (Manihot utilissima sp) dari varietas apapun yang diawetkan melalui tahapan pembuangan kulit (pengupasan) dan pengeringan hingga kadar air maksimal 14%. Beberapa perbaikan proses dilakukan melalui  pengecilan ukuran menjadi chip dan sawut serta proses fermentasi sebelum pengeringan. Dengan proses fermentasi akan diperoleh produk yang disebut cassava fermented flour atau yang lebih populer disebut tepung mocal (modified cassava flour) yang memiliki sifat –sifat fisik tepung dan sifat organoleptik produk yang jauh lebih baik.
     Thiwul dibuat melalui tahapan proses penggilingan dan pengayakan sehingga diperoleh tepung gaplek, selanjutnya pada tepung gaplek ditambahkan sedikit air untuk membantu pembentukan granulasi (butiran-butiran). Pada tahapan ini dapat ditambahan bahan pangan lain, seperti tepung kacang tunggak, gude, terigu, gula, bahkan bahan tambahan pangan (food additive) seperti perisa (flavoring) dan pengawet, sebelum kemudian dikukus (steaming). Thiwul selanjutnya disajikan sebagai makanan pokok sebagaimana nasi atau makanan kudapan (makanan selingan).
    Tujuan penambahan bahan pangan lain (diluar gaplek) adalah untuk meningkatkan nilai gizi dan penciptaan citarasa thiwul yang memenuhi selera konsumen. Sebagai perbandingan thiwul tradisional (tanpa penambahan bahan pangan lain) nilai nutrisinya rendah, yakni untuk tiap 100 gram thiwul mengandung rata-rata 1,5 % protein, 0,7 % lemak, 80 % karbohidrat dan 4-10 % gula, dengan memodifikasi dengan menambah bahan pangan lain semisal kacang-kacangan mampu meningkatkan nilai protein hingga 5 %, lemak 1-5 %, dan karbohidrat turun menjadi 76-80%, sementara nilai nutrisi nasi putih rata-rata 3,1% protein, 0,1 % lemak dan 65-70% karbohidrat. Jelas thiwul makanan yang cukup baik, apalagi bila difortifikasi dengan berbagai unsur mineral mikro dan vitamin sebagaimana diproduksi PT. Sinar Sukses Sentosa (SSS) di Gunung Kidul, Yogyakarta atau PT. Cahaya Sejahtera Sentosa (di Jatim), maka thiwul layak disebut makanan bergizi. Jika thiwul dibuat melalui tahapan sebagaimana uraian di atas, niscaya kejadian yang menimpa saudara kita di Jepara tidak pernah terjadi dan thiwul adalah makanan yang sehat serta memenuhi sebagai sumber kalori.
    Potret Sadar Keragaman Pangan
                    Banyak sudah penulis yang mengaitkan keracunan thiwul dengan kemiskinan suatu masyarakat, sebagaimana ditulis saudara Saratri W., (SM, 7/1/2011) dan Joko Priyono, (SM, 11/1/2011). Logika yang dibangun jelas, bahwa tidak mungkin orang berkecukupan secara ekonomi mengonsumsi thiwul sebagai makanan pokok.  Tetapi pada kesempatan ini penulis mengambil sisi positip di atas bahwa, thiwul sebagai bagian dari kekayaan menu nusantara yang harus dipertahankan. Lebih jauh penulis berpendapat mengonsumsi thiwul sebagai tindakan cerdas yang merupakan bagian dari strategi rumah tangga dalam rangka membangun pola makanan yang bergizi, beragam dan berimbang (B3) menuju pola pangan harapan (PPH) yang ideal. Juga berharap sebagai strategi masyarakat (Negara) membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan, tidak bergantung pada satu jenis makanan utama (beras). Ini sekaligus sebagai implementasi Perpres No. 22/2009. Mengapa?
                Data survey sosial ekonomi nasional (Susenas-2008) menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia - dengan indikator skor PPH- masih jauh dari harapan. Data Susenas (2008), menunjukkan skor PPH nasional sebesar 81,9 dengan nilai asupan energi sebesar 2.038 kkal/kapita-hari. Namun data terbaru (2009) menunjukkan skor PPH Nasional merosot menjadi 75,7 dengan asupan energy sebesar 1.927 kkal/kapita-hari. Sementara pencapaitan di Jawa Tengah nilai PPH 83,70 (2009) dengan nilai asupan 2.300 kkal/kapita-hari.  Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat belum mencerminkan aspek keragaman sumber kalori, sebagaimana pola konsumsi yang direkomendasikan oleh Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) dengan asupan energi penduduk sebesar 2.000 kkal/kapita/hari, yang proporsi pemenuhannya berasal dari makanan jenis padi-padian sebesar 50 % dari angka kecukupan gizi (%AKG), umbi-umbian 6%, pangan hewani 12 %, minyak dan lemak 10%, buah dan biji berminyak 3%, kacang-kacangan 5%, gula 5%, sayuran dan buah 6%, serta bumbu-bumbuan 3 %. Nilai PPH berasal dari nilai % AKG dikalikan skor, yang nilainya berbeda untuk tiap kelompok makanan sumber energy. Thiwul dalam hal ini dimasukkan sebagai makanan sumber kalori karbohidrat dari kelompok umbi-umbian.
                Pola konsumsi masyarakat Jawa Tengah berdasarkan penelitian Sumardi (2008) masih didominasi kelompok padi-padian sebagai sumber kalori (63%) dan makanan berpati (6,4%). Konsumsi pangan hewani masih rendah (4-6%), demikian juga kelompok kacang-kacangan (4,6%) dan sayur serta buah-buahan (3,9%). Yang perlu dicermati dari kelompok biji-bijian adalah konsumsi terigu yang meningkat tajam dari waktu ke waktu dan sudah mencapai 18,2 kg/kapita-hari. Ini tidak lain akibat budaya mengonsumsi mi instan dan roti-rotian yang terus mengakar kuat di tengah masyarakat.
    Perlu dibangun kesadaran pentingnya berpola konsumsi yang sehat, yang menekankan aspek keragaman sumber bahan pangan, namun pada sisi lain juga pangan yang bernilai gizi yang baik dan berimbang (proporsional). Thiwul sebagai salah satu jenis makanan tradisional berkontribusi pada aspek keragaman sumber pangan, terlebih thiwul yang dibuat dengan penambahan bahan lain seperti kacang-kacangan dan disajikan secara modern. Mengonsumsi thiwul harus dipandang sebagai kesadaran untuk berpola konsumsi yang sehat, bukan suatu keterpaksaan atau ketiadaan bahan pangan lain. Maka teruslah konsumsi makanan selingan ini tanpa rasa malu dan takut keracunan.
    (Penyumbang artikel : Rohadi, Pengajar pada Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Semarang (USM). Anggota Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP3K) Jateng Bidang Agroindustri)

    PENGURUS WANITA ISLAM KAB. HSS DILANTIK

    Pelantikan Pengurus Daerah Wanita Islam Kabupaten Hulu Sungai Selatan periode 2011-2014 berlangsung di Pendopo Wakil Bupati HSS, Jum’at (21/1). Pelantikan tersebut di saksikan oleh Wakil Bupati HSS H.Ardiansyah,S.Hut, Ketua Gabungan Organisasi Wanita HSS beserta jajarannya, Ketua Organisasi Wanita se Kab HSS.

    Acara diawali dengan pembacaan surat keputusan oleh Sekretaris Pengurus Wilayah Wanita Islam Propinsi Kalsel Hj.Saidah Nafisah. Kemudian dilakukan pelantikan langsung oleh Ketua Umum Wilayah Wanita Islam Propinsi Kalsel Hj.Masriah.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati HSS H.Ardiansyah,S.Hut menyatakan bahwa organisasi wanita sangat berperan dalam mendampingi bapak-bapak karena wanita sangat penting dalam menunjang semangat dan dukungan tugas suami sehingga bisa menjalankan tugas dengan baik dalam upaya membina keluarga.

    Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati berharap kepada Pengurus Daerah Wanita Islam agar dapat melaksanakan amanah sebagaimana kata-kata pelantikan. Dan dengan bertambahnya satu organisasi Wanita Islam akan menambah khasanah baru dalam perkembangan organisasi di HSS. Kemudian Wakil Bupati mengajak agar sama-sama meluruskan niat bahwa organisasi adalah ladang untuk memberikan sumbang sih.

    Ketua Umum Wilayah Wanita Islam Propinsi Kalsel Hj.Masriah mengutarakan pelantikam tersebut bertujuan untuk membentuk organisasi muslimah yang beriman dan bertaqwa, memahami dan melaksanakan ajaran islam di dalam kehidupan. Wanita Islam juga ikut mensejahterakan masyarakat Indonesia baik dari segi materi dan juga mendukung peran pemerintah dalam memperbaiki nasib bangsa serta ikut menciptakan Wanita Indonesia yang bermoral, beradab dan terampil. Ketua Umum Wilayah Wanita Islam Propinsi Kalsel mengatakan bahwa Wanita Islam juga mengadakan dakwah keliling dan juga mempunyai Taman Kanak-Kanak. Dikatakannya di lingkup Banjarmasin sudah ada 5 Taman Kanak-Kanak dan nantinya akan bermunculan Taman Kanak-Kanak di Daerah. (siska_hms)

    Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu di Pulau Belitung

    Abstrak : Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka-Belitung, merupakan salah satu wilayah perairan di Indonesia bagian barat yang mempunyai potensi untuk pengembangan marikultur, khususnya untuk budidaya ikan dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Pada tahun 2003 telah dilakukan penelitian potensi lokasi untuk KJA dan uji-coba pembesaran benih ikan kerapu tikus hasil hatcheri di Gondol-Bali.

    Uji Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Metode Difusi Cakram Kertas

    RINGKASAN : Udang merupakan komoditas andalan sektor perikanan yang menghasilkan limbah yang cukup banyak. Limbah tersebut berpotensi menjadi pencemar lingkungan. Namun disisi lain, limbah udang yang banyak mengandung kitin tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kitosan. Salah satu pemanfaatan kitosan adalah sebagai antibakteri.

    Muatan positif kitosan diperkirakan dapat berinteraksi dengan permukaan sel bakteri yang bermuatan negatif, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme yang dekat dengan kehidupan manusia. Sifat patogen pada beberapa bakteri dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Pengujian kemampuan antibakteri kitosan terhadap bakteri patogen Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, dilakukan dengan mengukur luas zona hambat dan dilanjutkan dengan menentukan KHM (konsentrasi hambat minimum).

    Pembuatan kitosan dari kulit udang windu (Penaeus monodon) dilakukan melalui proses demineralisasi menggunakan HCl 1N, deproteinasi menggunakan NaOH 3,5%, depigmentasi menggunakan H2O2 3% dan deasetilasi menggunakan NaOH 50%. Penentuan DD dilakukan dengan analisis FTIR. Dalam pengujian antibakteri ini, kitosan dilarutkan dalam asam asetat, kemudian dilakukan uji antibakteri dengan metode difusi cakram kertas. Zona bening yang terbentuk disekitar cakram diukur diameternya.

    Berdasarkan penelitian, kitosan yang dihasilkan mempunyai derajat deasetilasi (DD) sebesar 60,74%. Pengujian antibakteri kitosan memberikan zona hambat (daerah bening), yang menunjukkan bahwa kitosan mempunyai kemampuan sebagai antibakteri. Konsentrasi hambatan minimum (KHM) kitosan terhadap bakteri uji adalah 0,125% dengan luas zona hambat untuk Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus secara berturut-turut adalah 1,5386cm2; 0,1962cm2; 1,6504cm2 dan 1,1876cm2. Perbandingan rata-rata luas zona hambat larutan kitosan 1% terhadap antibiotik tetrasiklin 0,01% pada bakteri Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus berturut-turut adalah 1,6 kali; 0,4 kali; 0,5 kali dan 1,9 kali. Jadi, urutan keefektifan larutan kitosan 1% dalam menghambat pertumbuhan bakteri jika dibandingkan dengan antibiotik tetrasiklin 0,01% secara berturut-turut adalah Staphylococcus aureus, Bacillus substilis, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli.