Kenapa manusia mengantuk setelah makan?


Kebanyakan orang merasa mengantuk setelah makan, apalagi kalau makan kenyang sekali. Penjelasan yang paling masuk akal yang saya tahu sampai saat ini adalah mengantuk setelah makan berkaitan dengan proses respirasi tubuh manusia.

Ketika seseorang sedang makan, banyak otot tubuh yang melakukan relaksasi. Tidak mungkin Anda bisa makan ketika baru berhenti lari keliling lapangan bola. Ketika Anda ngos-ngosan setelah lari, pasti secara otomatis otak akan memerintahkan tubuh untuk tenang terlebih dulu sebelum makan. Kalau tidak percaya coba saja Anda lari keliling lapangan bola sampai ngos-ngosan. Lalu ketika berhenti lari langsung makan nasi. Saya jamin Anda akan kesulitan makan. Pasti ada jeda waktu untuk Anda menarik nafas, menengangkan degup jantung yang kencang. Hal tersebut sama dengan mengapa Anda tidak bisa menikmati makan atau malah tidak terlalu berselera makan ketika Anda cemas dan deg-degan.

Nah selama Anda makan, otak akan mengontrol seluruh aktivitas tubuh supaya berada dalam keadaan tenang, jantung berdenyut teratur dengan ritme pelan, nafas menjadi lebih teratur dan halus. Ketika aktivitas makan selesai, tubuh masih dalam keadaan yang sama, denyut jantung teratur, tubuh berelaksasi, nafas teratur halus. Akibatnya suplai oksigen ke otak menjadi berkurang. Gak percaya? Buktikan ketika Anda selesai makan dan menguap. Menguap adalah salah satu mekanisme tubuh yang mencari pasokan oksigen tambahan, karena otak menganggap suplai oksigen dari nafas hidung saja tidak cukup.

Nah itulah mengapa kita cenderung mengantuk setelah makan. Singkatnya karena tubuh berada dalam keadaan rileks (tidak mungkin kan setelah makan Anda jingkrak-jingkrak – kecuali mau sakit perut ). Tubuh yang rileks menyebabkan mekanisme respirasi/nafas menjadi lebih rendah daripada ketika manusia beraktivitas. Nafas yang lebih rendah/halus menyebabkan otak kekurangan oksigen. Otak yang kekurangan asupan oksigen memicu kantuk untuk datang menyerang.

Mungkin ini ada hubungannya mengapa orang-orang tua suka menganjurkan anak-anaknya untuk berjalan-jalan ringan setelah makan. Kalau dihubungkan dengan pembahasan di atas, dengan jalan-jalan ringan tubuh akan kembali beraktivitas dan meningkatkan kembali ritme respirasi tubuh. Sayangnya saya malas jalan setelah makan, mau tidak mau tubuh saya tambah gendut…ha..ha..ha..karena kebiasaan tidur setelah makan .

Asal Mula Bukit Catu (bali)

    Alkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa tersebut tinggal seorang petani bernama Pak Jurna dan istrinya. Mereka menginginkan hasil panen padinya lebih banyak dari pada hasil panen sebelumnya. "Hem, sebaiknya pada musim tanam padi sekarang ini kita berkaul," usul Pak Jurna pada istrinya. "Berkaul apa, pak?" sahut Bu Jurna. "Begini, jika hasil panen padi nanti meningkat kita buat sebuah tumpeng nasi besar, ujar Pak Jurna penuh harap. Ibu Jurna setuju. 

     Ternyata hasil panen padi Pak Jurna meningkat. Sesuai dengan kaul yang telah diucapkan, lantas Pak Jurna dan istrinya membuat sebuah tumpeng nasi besar. Selain itu diadakan pesta makan dan minum. Namun Pak Jurna dan istrinya belum puas dengan hasil panen yang mereka peroleh. Mereka ingin berkaul lagi dimusim padi berikutnya. "Sekarang kita berkaul lagi. Jika hasil panen padi nanti lebih meningkat, kita akan membuat tiga tumpeng nasi besar-besar," ujar Pak Jurna yang didukung istrinya. Mereka pun ingin mengadakan pesta yang lebih meriah daripada pesta sebelumnya. 

   Ternyata benar-benar terjadi. Hasil panen padi lebih meningkat lagi. Pak Jurna dan istrinya segera melaksanakan kaulnya. Sebagian sisa panen dibelikan hewan ternak oleh Pak Jurna. Tapi mereka masih belum puas. Pak Jurna dan istrinya berkaul lagi akan membuat lima tumpeng besar jika hasil panen dan ternaknya menjadi lebih banyak. Panen berikutnya melimpah ruah dan ternaknya semakin banyak. "Suatu anugerah dari Sang Dewata, apa yang kita mohon berhasil," ucap Pak Jurna datar. 

   Di suatu pagi yang cerah, Pak Juran pergi ke sawah. Sewaktu tiba di pinggir lahan persawahan, ia melihat sesuatu yang aneh. "Onggokan tanah sebesar catu?" tanyanya dalam hati. "Perasaanku onggokan tanah ini kemarin belum ada," gumam pak Juran sambil mengingat-ingat. Catu adalah alat penakar beras dari tempurung kelapa. Setelah mengamati onggokan tanah itu, pak Jurna segera melanjutkan perjalanan mengelilingi sawahnya. Setelah itu, ia pulang ke rumah. Setibanya di rumah, pak Jurna bercerita pada istrinya tentang apa yang dilihatnya tadi. Ia segera mengusulkan agar membuat catu nasi seperti yang dilihat di sawah. Ibu Jurna mendukung rencana suaminya. "Begini, pak. Kita buat beberapa catu nasi. Dengan begitu, panenan kita akan berlimpah ruah, sehingga dapat melebihi panenan orang lain," usul Bu Jurna.
Hasil panen berlimpah ruah. Lumbung padi penuh. Para tetangga Pak Jurna takjub melihat hasil panen yang tiada bandingnya itu. "Pak Jurna itu petani ulung," kata seorang lelaki setengah baya kepada teman-temannya. "Bukan petani ulung tetapi petani beruntung," timpal salah satu temannya sambil tersenyum. Pak Jurna dan istrinya membuat beberap catu nasi. Pesta pora segera dilaksanakan sangat meriah. Beberapa catu nasi segera dibawa ke tempat sebuah catu yang berupa onggokan tanah berada. Namun, Pak Jurna sangat terkejut melihat catu tersebut bertambah besar. 
 "Baik, aku akan membuat catu nasi seperti catu tanah yang semakin besar ini," tekad Pak Jurna bernada sombong. Pak Jurna segera pulang ke rumah dan memerintahkan istrinya agar membuat sebuah catu nasi yang lebih besar. 

    Sebuah catu nasi yang dimaksud telah siap dibawa ke sawah. Sambil bersenandung dan diiringi gemerciknya air sawah, Pak Jurna membawa catu nasi besar. Namun setelah tiba ditempat, Pak Jurna terperanjat. "Astaga! Catu semakin besar dan tinggi!" pekiknya. "Tak apalah. Aku masih mempunyai simpanan beras yang dapat dibuat sebesar catu ini," ujar Pak Jurna tinggi hati. Begitulah yang terjadi. Setiap Pak Jurna membuat catu nasi lebih besar, onggokan tanah yang berupa catu bertambah besar dan semakin tinggi. Lama kelamaan catu tanah tersebut menjadi sebuah bukit. Pak Jurna dan istrinya pasrah. Mereka sudah tidak sanggup lagi membuat catu nasi. Lantas apa yang terjadi? Pak Jurna jatuh miskin karena ulah dan kesombongannya sendiri. Akhirnya, onggokan tanah yang telah berubah menjadi bukit itu dinamai Bukit Catu.




Download filenya disini

25 TKI Indramayu Di Tunisia Tidak Terdaftar Jalur Resmi

INDRAMAYU - Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa penduduk di wilayah Indramayu menerima kiriman dana dari kerabat yang bekerja di luar negeri sebesar ratusan miliar rupiah per tahun. Namun, banyak warga Indramayu yang bekerja di luar negeri tanpa melalui jalur resmi, alias memakai calo.

Dalam acara penyambutan 32 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diungsikan dari Tunsia di Kementrian Luar Negeri, Jakarta, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamud mengungkapkan, pihaknya tidak menyangka bahwa ada warga Indramayu yang bekerja di Tunisia, negara Afrika Utara yang sedang dilanda konflik. Karena 25 orang TKI Indramayu tersebut tidak pernah terdaftar lewat jalur resmi.

Kamud mengatakan bahwa sebagian besar warga Indramayu yang bekerja di luar negeri tidak melalui prosedur legal. Pada 2009, menurut Kamud, terdapat 4.619 warganya yang bekerja di luar negeri dan pada 2010 terdapat 2.985 orang. Diduga, mereka yang bekerja ke luar negeri secara tidak resmi lebih banyak lagi.

Banyaknya warga yang bekerja secara tidak resmi ke luar negeri bisa dilihat dari uang yang masuk ke kabupaten Indramayu. Kamud mengatakan bahwa setiap tahunnya, uang yang dikirimkan dari luar negeri ke Indramayu melalui berbagai jasa pengiriman uang jumlahnya sangat fantastis, bahkan hingga ratusan miliar. Informasi itu berdasarkan data dari jasa-jasa pengiriman uang dari luar negeri yang tersebar di Indramayu.

Ini menandakan jumlah pekerja Indramayu di luar negeri lebih besar berkali-kali lipat dari yang terdaftar di pemerintah kabupaten.

Salah seorang warga asal Indramayu yang dipulangkan dari Tunisia, Juju Juhariah, mengaku menggunakan jasa calo atau sponsor karena lebih cepat memberangkatkannya ke luar negeri ketimbang melalui prosedur yang berbelit-belit.

Seperti para tenaga kerja lainnya yang dipulangkan, Juju bekerja di sektor informal kepada salah seorang anggota keluarga Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Ketika revolusi rakyat mulai bergolak dan menuntut presiden untuk turun, Ben Ali kabur keluar negeri diikuti oleh sebagian besar anggota keluarganya.

Karena mereka kehilangan majikan yang menampung dan membiayainya, maka Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ibukota Tunisia, Tunis, memulangkan mereka kembali ke tanah air.

Pihak Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai surat izin kerja dan izin tinggal, serta tanpa dilindungi kontrak kerja yang jelas karena pengiriman dari Indonesia dilakukan tidak melalui prosedur yang ditetapkan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). (vivanews)

Merawat Vagina

Vagina atau puki adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan uterus ke bagian luar tubuh pada manusia (wanita), yang merupakan bagian akhir dari oviduct. Vagina merupakan alat reproduksi pada wanita atau betina, seperti halnya penis pada pria atau jantan. Vagina menghasilkan berbagai macam sekresi seperti keringat, sebum, dan sekresi dari kelenjar Bartholin dan Skene pada vulva, cairan endometrial, dan oviductal (yang berubah sesuai dengan siklus haid), cervical mucus, sel exfoliated, dan sekresi pada dinding vagina itu sendiri, yang dapat meningkatkan gairah seksual. Vagina pada semua wanita mengeluarkan pyridine, squalene, urea, asam asetat, asam laktat, alkohol kompleks (termasuk kolesterol), glikol (termasuk propylene glikol) keton, dan aldehid-aldehid. Tapi suatu asam kimia lebih detil dalam pengeluaran vagina membagi wanita dalam dua kelompok. Semua wanita menghasilkan asam asetat, tapi sepertiga dari itu juga menghasilkan rangkaian pendek asam aliphatic. Rangkaian pendek asam aliphatic, yang termasuk asetik, propionic, isovaleric, isobutryc, propanoic, dan asam butanoic. Semua asam tersebut merupakan tingkat tajam dari zat kimia yang dihasilkan oleh spesies primata yang lain sebagai sinyal peraba/penciuman seksual. Walau tidak ada satupun yang pernah membuktikan peranan asam-asam tersebut dalam aturan hubungan pada manusia, beberapa peneliti lebih menganggap ini sebagai copullins dan pheromones pada manusia.

Vagina merupakan organ reproduksi pada wanita yang sangat rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan batas antara uretra dengan anus sangat dekat, sehingga kuman penyakit seperti jamur, bakteri, parasit, maupun virus mudah masuk ke liang vagina. Untuk itu, wanita harus rajin merawat kebersihan wilayah pribadinya atau vagina ini. Infeksi juga terjadi karena terganggunya kesimbangan ekosistem di vagina. Ekosistem vagina merupakan lingkaran kehidupan yang dipengaruhi oleh dua unsur utama, yaitu estrogen dan bakteri Lactobacillus atau bakteri baik. Di sini estrogen berperan dalam menentukan kadar zat gula sebagai simpanan energi dalam sel tubuh (glikogen). Glikogen merupakan nutrisi dari Lactobacillus, yang akan dimetabolisme untuk pertumbuhannya. Sisa metabolisme kemudian menghasilkan asam laktat, yang menentukan suasana asam di dalam vagina, dengan potential Hydrogen (pH) berkisar 3,8 - 4,2. Dengan tingkat keasaman ini, Lactobacillus akan subur dan bakteri patogen (jahat) akan mati. Di dalam vagina terdapat berbagai macam bakteri, 5% patogen, 95% Lactobacillus. Dalam kondisi ekosistem vagina seimbang, bakteri patogen tidak akan mengganggu. Bila keseimbangan itu terganggu, misalnya tingkat keasaman menurun, pertahanan alamiah juga akan turun, dan rentan mengalami infeksi. Ketidakseimbangan ekosistem vagina disebabkan banyak faktor. Di antaranya kontrasepsi oral, penyakit diabetes mellitus, antibiotika, darah haid, cairan sperma, penyemprotan cairan ke dalam vagina (douching), dan gangguan hormon seperti saat pubertas, kehamilan atau menopause.

Dalam setiap perubahan abnormal pada vagina bisa menjadi pertanda awal adanya masalah vagina. Perubahan frekuensi buang air kecil, sensasi terbakar pada saat buang air kecil dan vagina mengeluarkan bau serta cairan, merupakan tanda-tanda paling penting dari masalah vagina. Kondisi abnormal vagina secara signifikan mempengaruhi kesehatan reproduksi dan seksual. Untuk itu, dengan selalu menjaga kesehatan dan kebersihan vagina dapat mencegah terjadinya masalah pada vagina. Khusus bagi perempuan, berikut ini beberapa tip untuk menjaga kesehatan dan kebersihan vagina anda yang harus diketahui :
  1. Selalu gunakan celana dalam berbahan katun.
  2. Hindari penggunaan bahan kimia untuk daerah vagina.
  3. Hindari hubungan seksual bila Anda mengalami tanda-tanda infeksi vagina.
  4. Jangan menggaruk organ intim.
  5. Banyak makan sayur dan buah untuk mencegah infeksi vagina.
  6. Jaga kebersihan selama menstruasi.
  7. Basuh vagina dengan air besih dan mengalir.
  8. Jangan gunakan jelly atau minyak berparfum untuk pelumas vagina.
  9. Keringkan setelah buang air kecil atau besar.
Walau pun ukuran vagina bermacam-macam pada setiap wanita, namun ukuran panjangnya berkisar 6 sampai 7,5 cm (2,5 - 3 inchi) meliputi dinding anterior, dan 9 cm (3,5 inchi) untuk panjang yang meliputi dinding posterior. Di saat rangsangan seksual, ukuran panjang dan lebar vagina akan meningkat. Keelastisan vagina dapat membantu proses dalam berhubungan seksual, dan selain itu membantu saat proses kelahiran.

Sumber: Dari berbagai sumber

Merawat Penis

Penis dalam pengartiannya dapat di sebut "ekor", akar katanya sama dengan phallus, yang memiliki arti alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Pemakaian istilah "penis" praktis selalu dalam konteks biologi atau kedokteran. Istilah falus atau phallus dipakai dalam konteks budaya, khususnya mengenai penggambaran penis yang menegang atau ereksi. Lingga (lingam) adalah salah satu penggambaran falus. Dalam literatur keagamaan (islam), kata zakar lebih sering dipakai. Karena dalam banyak masyarakat organ ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka, berbagai eufemisme dipakai untuk menyatakannya, seperti "burung", "pisang", dick, atau cock (bahasa Inggris).

Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi) sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis manusia adalah bagian dari sistem reproduksi laki-laki (jantan) sekaligus bagian dari sistem ekskresi. Selain penis, organ reproduksi laki-laki mencakup pula epididimis (pelir) yang terlindung dalam scrotum (kantung pelir atau buah zakar) ditambah beberapa kelenjar dan saluran. Penis manusia tersusun dari dua bagian utama, yaitu pangkal/akar (radix) dan tubuh (corpus). Pangkal penis terletak di dalam badan, terdiri dari gelembung penis (bulbus penis) dan sepasang crus penis di kedua sisinya. Permukaan kulit yang melindungi pangkal penis biasanya memiliki rambut kemaluan. Tubuh penis memiliki dua sisi permukaan: dorsal (bagian yang tampak dari depan jika penis "istirahat") dan ventral atau uretral (mengarah ke dalam/testis).

Penis terbagi menjadi 3 ruangan, 2 ruangan terbesar berada di sebelah atas yang kenal dengan nama Corpora Cavernosa, dan 1 bagian yang lebih kecil berada di bagian bawah yang didalamnya terdapat saluran air seni dan sperma, jaringan ini disebut dengan Corpus Spongisum. Kedua jaringan penis ini (Corpora Cavernosa dan Corpus Spongium) merupakan jaringan penopang ereksi. Ketika penis mengalami ereksi, otak melepas sebuah hormon yang akan memicu darah untuk mengalir ke penis dan memenuhi jaringan penopang ereksi. Pembuluh-pembuluh darah yang berada di Corpora Cavernosa terisi hingga maksimum, membuat penis mengalami ereksi. Corpora Cavernosa sendiri terbentuk oleh sel-sel lapisan tisu, yang berfungsi menyerap darah saat ereksi terjadi.
 
Penis yang sehat akan berfungsi sebagaimana mestinya yaitu sebagai alat pembuangan urine dan alat reproduksi, agar mendapatkan penis yang sehat perlu dilakukan berbagai langkah-langkah yang tepat untuk menghindari berbagai kemungkinan penis tidak bisa berfungsi untuk itu ikuti petunjuk dibawah ini:
  1. Periksa kesehatan penis anda jika terjadi gangguan pada fungsi alat kelamin Anda misalnya ada benjolan, jangan menganggap remeh benjolan yang terjadi segera lakukan tindakan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, periksa, dan yakin bahwa benjolan ini adalah hal yang biasa dan akan segera hilang dalam waktu yang tidak lama seperti benjolan karena timbunan lemak-lemak kecil seperti jerawat kering.
  2. Selalu mencuci alat kelamin anda setelah buang air kecil untuk menghidari sisa kotoran ketika kencing.
  3. Ketika mandi bersihkan pangkal kepala penis dibelakang lekukan batang penis, biasanya disana banyak sisa kotoran yang menempel.
  4. Gunakan celana dalam yang nyaman dan mudah menyerap keringat.
  5. Gunakan ramuan untuk merawat alat vital anda dengan produk yang sudah terpercaya.
  6. Cukur rambut disekitar penis agar tidak menjadi sarang kotoran yang menyebabkan bau keringat dan menimbulkan daki.
  7. Jangan melakukan teraphy menggunakan cara instant dengan menggunakan layanan pembesar penis yang tidak terpercaya.
  8. Jangan memasukan alat vital Anda ketempat yang kotor atau menggunakan peralatan yang membahayakan.
  9. Jangan melakukan hubungan seks secara bergantian lebih dari satu pasangan.
Pada pertumbuhan normal, penis dan kantung pelir mulai mengalami perkembangan pada saat pubertas (akil baligh dalam istilah keagamaan Islam). Hormon testosteron berperan dalam perkembangan ini. Proses inilah yang akan menentukan ukuran penis. Berdasarkan pengamatan terhadap ribuan contoh laki-laki berusia 17-18 tahun tidak ditemukan perbedaan rata-rata panjang penis antara usia 17 dan 19 tahun, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan penis berhenti pada sekitar usia 17 tahun atau bahkan lebih awal.

Sumber: Dari berbagai sumber

Cat Look-Alike

Its fascinating to see how cats and human or other animals look similar, no matter how they are photographed!.. Enjoy these images.. :)































































































Sources :



http://cheezburger.com

http://totallylookslike.icanhascheezburger.com/2008/11/page/3/

http://pixdaus.com/single.php?id=246759

http://www.threadless.com/profile/711980/B_7/blog/547824/Tenuous_Animal_Celebrity_Look_alikes





JURNAL : Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.)

ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknologi fermentasi terhadap kualitas bungkil inti sawit dan untuk melihat pengaruhnya dalam pakan terhadap pertumbuhan dan daya cerna ikan mas (Cyprinus carpio L.). Penelitian ini dibagi dalam dua tahap. Tahap I bertujuan untuk melihat pengaruh optimasi jumlah inokulum dan waktu inkubasi pada fermentasi padat menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium.

Parameter yang diukur meliputi analisis proksimat pada BIS sebelum dan sesudah fermentasi, lignin, dan glukosa. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial pola 3 x 3 dengan tiga kali duplikasi. Pada penelitian tahap II diujikan 5 jenis pakan perlakuan dengan konsentrasi bungkil inti sawit fermentasi (BISF) berbeda, yaitu pakan A (0% BISF dan 100% tepung ikan), pakan B (5% BISF dan 95% tepung ikan), pakan C (10% BISF dan 90% tepung ikan), pakan D (15% BISF dan 85% tepung ikan), dan pakan E (20% BISF dan 80% tepung ikan) dan sebagai kontrol (pakan K) digunakan pakan komersial. Pengujian dilakukan terhadap benih ikan mas umur 8 minggu dengan berat awal rata-rata 14,78±0,41 g. Kepadatan tebar benih sebanyak 5 individu/akuarium dengan strategi pemberian pakan dilakukan dua kali sehari sebanyak 5% dari berat badan ikan selama 21 hari periode kultur. Parameter yang diukur meliputi berat badan, lajupertumbuhan,efisiensi pakan, efisiensi daya cerna, kesintasan, dan kualitas air (DO, suhu, pH, dan amonium.

Dari hasil penelitian tahap I, proses fermentasi diketahui dapat meningkatkan kandungan nutrisi BIS. Hasil terbaik ditemukan pada perlakuan dosis inokulum 5% dengan waktu inkubasi 14 hari, yaitu sebagai berikut: protein meningkat dari 12,49±0,69% menjadi 31,75±0,79%, lemak menurun dari 16,53±1,50 % menjadi 6,37±1,47%, karbohidrat menurun dari 36,26±1,08% menjadi 29,81±1,04%, kadar abu meningkat dari 4,18±0,14% menjadi 5,39±0,39%, serat kasar menurun dari 25,93±1,56% menjadi 13,37±0,39% dan kadar lignin menurun dari 165,58 ± 6,44mgL-1 menjadi 109,04±4,92mgL-1.

Dari penelitian tahap kedua diperoleh pakan perlakuan yang memberikan penampilan terbaik pada ikan mas adalah pakan D dengan hasil sebagai berikut: berat badan pada hari ke-21sebesar 19,03±1,36g, laju pertumbuhan sebesar 0,0131ghari-1, efisiensi pakan sebesar 21,42±0,17%, efisiensi daya cerna sebesar 86,81%, dan nilai kesintasan sebesar 73,33±23,09%. Secara statistik, semua parameter yang diukur pada pakan D masih lebih baik dari pada pakan perlakuan yang lain. Parameter kualitas air yang diukur masih berada dalam kisaran nilai yang disarankan untuk budidaya ikan mas.

Hasil analisis ekonomi dalam pembuatan pakan menggunakan tepung BIS fermentasi sebanyak 15% tepung ikan sebesar 15% menunjukkan nilai yang menguntungkan (R/C = 1,19). Sehingga biaya pengeluaran pakan untuk periode produksi 1 tahun dapat dikurangi sebesar Rp. 1.845.225,- Hal ini dapat disimpulkan bahwa fermentasi padat dapat meningkatkan nilai nutrisi BIS. Dan selanjutnya penggunaan 15% BIS fermentasi untuk mensubstitusi tepung ikan dalam pakan berpotensi untuk digunakan dalam budidaya ikan mas.

Kata kunci: Phanerochaete chrysosporium, bungkil inti sawit, pakan buatan, Cyprinus carpio, pertumbuhan, efisiensi pakan, daya cerna, kesintasan
teks lengkap >>

JURNAL : Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)

ABSTRAK : Kanibalisme dipelajari dengan menggunakan udang kali (M. lanchesteri) yang dipelihara pada akuarium berukuran 40x25x20 cm3. Penelitian terbagi atas dua tahap yakni uji pendahuluan dan uji perlakuan. Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui ukuran dan nisbah kelamin serta membuat standarisasi kepadatan ideal dan waktu aktif udang kali.

Hasil menunjukkan bahwa udang kali memiliki rataan panjang 41.12±1.17 mm untuk individu betina membawa telur (BT), 36.19±1.52 mm untuk betina tidak membawa telur (B), dan 35.82±1.19 mm untuk jantan (J). Nisbah kelamin adalah 1:1:1 untuk tiga kombinasi BT, B dan J tersebut. Hasil uji pendahuluan juga menunjukkan bahwa M. lanchesteri adalah hewan krepuskular yang sebagian besar aktivitasnya terjadi pada pukul 04.00-05.00 dan 17.00-18.00. Kepadatan ideal untuk udang berukuran 35-42 mm adalah 200 ekor/m2. Perilaku yang berhubungan dengan kanibalisme dapat dikategorikan sebagai pasangan aksi reaksi, dengan urutan frekuensi dari tinggi ke rendah adalah sebagai berikut: perilaku mendekati dan menghindar dengan bergeser, perilaku mendekati dan menghindar dengan berenang, perilaku menyerang dan menyerang balik, serta perilaku mengkanibal.dan tidak bereaksi. Nilai kelulushidupan BT lebih tinggi dari pada B dan J (BT: B= 100%: 50% dan BT: J= 100%: 46,66%), sedangkan nilai kelulushidupan B dan J tidak berbeda secara nyata. Kematian udang 100% disebabkan oleh kanibalisme, dan 83,33-100% individu yang mati tersebut sedang berganti kulit (molting). Dalam penelitian ini BT berperan lebih dominan dalam kanibalisme dan memiliki nilai kelulushidupan yang lebih tinggi dibanding B dan J karena BT tidak pernah mengalami molting dan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk mengurangi kanibalisme adalah memberi makan udang pada waktu aktif dan memelihara udang pada kepadatan idealnya yakni 200 ekor/m2.

Untuk menguji apakah hasil yang diperoleh dapat diterapkan pada spesies udang lain, dilakukan pengujian pada post larva udang galah berumur satu bulan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perilaku post larva udang galah berbeda nyata dalam hal perilaku menyerang, memangsa dan tidak bereaksi tetapi tidak berbeda nyata untuk uritan perilaku lainnya. Disimpulkan bahwa hasil penelitian ini dapat diterapkan untuk pengelolaan post larva udang galah berumur satu bulan.


Kata kunci: Perilaku, Kanibalisme, Macrobrachium lanchesteri, Macrobrachium rosenbergii
teks lengkap >>

Prospek Budidaya Ternak Burung Lovebird

Segmen pasar burung love bird di Madiun dan sekitarnya, menggeliat dalam beberapa bulan terakhir ini. Namun di balik itu, muncul kekhawatiran booming produksi dan harganya jatuh ke titik terendah.
Pengamatan di Pasar Burung Srijaya Madiun, misalnya, hampir setiap ekor love bird yang terpajang di kios ludes dilamar penggemar. Padahal, jika menilik harga yang ditawarkan, bisa dibilang selangit.

Cara Merawat Love Bird

Cara menbedakan Lovebird jantan dengan Lovebird betina. Secara fisik dan warna, burung tersebut susah untuk diketahui jenis kelaminnya.
Cara yang paling gampang adalah dengan meraba kedua capit udang yang terletak dibawah duburnya. Jika keras, rapat dan lancip, biasanya jantan. Sedangkan burung betina capit udangnya lembek, lebar dan tumpul. Ciri lain adalah, Lovebird betina jika sudah birahi

Azolla si Pupuk Hidup

Azolla si Pupuk Hidup

Oleh : Ratna M. Noer



Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak 15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.


Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak 70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari 0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.



Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

Seorang petani di Kyushu, Jepang T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap 3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi). Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China).

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama. Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern)

Sumber : http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/01/26/azolla-si-pupuk-hidup/

Budidaya Lovebird - Jenis-jenis Burung Lovebird


LOVE BIRD adalah spesies terkecil dari burung beo. Burung Lovebirds sebagian besar ditemukan di Afrika kecuali untuk lovebirds Grey, yang hanya ditemukan di Madagaskar. Ilmiah lovebirds dikenal sebagai Agapornis.

Ada sembilan jenis spesies lovebirds, antara lain :






* Nyasa Lovebird – lovebirds ini ditemukan di beberapa daerah di Zambia, Malawi dan Rhodesia. Sayap yang berwarna hijau tua,

Argulosis - penyakit ikan

Argulosis


Penyebab : Argulus sp.
Bio-Ekologi Patogen :
• Parasit ini dikenal sebagai "kutu ikan" dan penghisap darah, berbentuk datar. dan lebih nampak seperti piring.
• Melukai tubuh ikan dengan bantuan enzim cytolytic, selain pada kulit, kutu ini juga sering dijumpai di bawah tutup insang ikan.
• Hampir semua jenis ikan air tawar rentan terhadap infeksi parasit ini.
• Pada intensitas serangan yang tinggi. ikan dewasapun dapat mengalami kematian karena kekurangan darah.


Gejala Klinis :
• Secara visual parasit ini tampak seperti kutu yang menempel pada tubuh ikan. disertai dengan pendarahan di sekitar tempat gigitannya.
• Iritasi kulit, hilang keseimbangan, berenang zig-zag, melompat ke permukaan air dan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras yang ada di sekitarnya.


Diagnosa :
• Secara visual terlihat adanya parasit yang menempel pada tubuh ikan


Pengendalian:
• Pengeringan dasar kolam yang diikuti dengan pengapuran.
• Perendaman dapat dilakukan dengan:
✓ Larutan Dylox pada dosis 0,25 ppm selama 24 jam atau lebih di kolam.
✓ Larutan Amonium Klorida (NH4CI) pada dosis 1,0 -1,5% selama 15 menit, atau garam dapur pada dosis 1,25% selama 15 menit.
✓ Larutan Dichlorvos 0,2 mg/L selama 24 jam atau lebih, setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut
✓ Garam dapur 500 – 1000 ppm selama 24 jam atau lebih, diulang setiap minggu selama 4 kali pemberian
✓ Potassium permanganate (PK) 2-5 mg/L selama 24 jam atau lebih.


sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010

No Green Tonik, Yes Cottonii Organik

No Green Tonik, Yes Cottonii Organik

Sumber: Boedi SJ (JasuDa Net)


Green Tonik (GT) sempat menjadi polemik dan konflik sosial petani di Kabupaten Sikka. Petani yang mencoba GT, begitu nama bekennya sangat takjub. Pemakaian GT memacu pertumbuhan rumput laut cottonii di kawasan Teluk Maumere. Dalam waktu tiga atau empat minggu, pertumbuhan cottonii dua kali lipat dari pertumbuhan normal. Kecepatan tumbuh dan panen lebih cepat. Petani lebih mendapatkan hasil. Waktu tanam yang biasanya enam sampai tujuh minggu dipersingkat tiga atau empat minggu saja. Luar biasa!


Lima tahun lalu, beberapa petani seperti di Dambila, Permaan telah mulai memakai GT. Setiap pertemuan dan pelatihan petani, GT selalu menjadi bahan diskusi yang berakhir dengan perdebatan. GT seperti yang tertera dalam labelnya adalah pupuk cair (non organic) untuk semua jenis tanaman, mengandung unsur makro: N Total (0,59%), P2O5 (0,57%), K2O (1,570%), SO4 (0.11%), CaO (0,073%), MgO (0,009%) dan unsur mikro : Fe (27,70 ppm), Cu (0,011 ppm), Zn (0,58 ppm), B (0,74 ppm) dan Mo (1.926 ppm). Kehebatan GT waktu itu bisa jadi mirip dengan kasus GT (Gayus Tambunan) saat ini. Setiap hari petani beradu argumentasi dan ngerumpi tentang GT.

Pertama kali memfasilitasi pertemuan dan pelatihan petani tahun 2006, saya lebih banyak mendengar dari petani. Petani yang pro GT menjelaskan kelebihan GT. Pertumbuhan dan panen lebih cepat. Tidak perlu masa tanam empat puluh lima hari sehingga bisa meningkatkan produksi. Pihak yang kontra GT menanggapi sebaliknya. GT merusak mutu cottonii Maumere karena harus panen lebih cepat. Jika tidak dipanen umur dua puluh satu sampai tiga puluh hari, cottonii langsung rontok.

Pengaruh GT menyebabkan cottonii cepat besar. Super cottonii, begitu mereka memberi nama. Sayang, super cottonii harus dipanen sebelum waktunya karena mudah rontok. Jika tidak cepat panen, petani tidak mendapatkan hasil karena cepat rontok. Beda dengan cottonii organik yang tidak memakai GT dan tumbuh alami memerlukan waktu empat puluh lima hari untuk mendapatkan besar yang sama dengan super cottonii. Namun cottonii organik tidak cepat rontok. Yang lebih penting lagi kadar karaginan (tepung rumput laut) sudah terbentuk optimal.

Hanawi, petani yang menjadi guru saya dalam budidaya cottonii menjelaskan hasil pengujian sederhana. Dia pernah minta super cottonii 10 kg dari petani yang menggunakan GT, kemudian dikeringkan dan dibandingkan hasilnya dengan cottonii organik. Perbandingan berat kering dan basah super cottonii rasionya lebih kecil. Sampel 10 kg super cottonii basah menghasilkan kurang dari 1 kg super cottonii kering sedangkan cottonii organik dengan perlakuan yang sama bisa mendapatkan hasil kering lebih dari 1 kg. Kurang lebihnya ada beda sekitar 0.5 kg. Meskipun tak ada catatan, saya percaya pada Hanawi. Dia juga menjelaskan, cottonii organik yang kering lebih ulet dan tidak getas dibandingkan super cottonii.
Saya mendapatkan titik terang dan mengambil kesimpulan pada akhir pertemuan untuk tidak menggunakan GT. Pasti kualitas cottonii kering yang menggunakan GT tidak sebaik cottonii organik. Kadar karaginan yang terkandung dalam super cottonii pasti rendah karena harus panen sebelum waktunya. Sayang waktu itu tidak mendapatkan pupuk GT dan sampel super cottonii kering. Hanawi sudah mencoba mencarikan sebotol GT dari toko dan petani yang memakai GT. Sepertinya mereka menutup diri dan main sembunyi karena khawatir kalau hasil testnya negative.

Pengujian dan laboratory test harus dilakukan. Perlu waktu dan biaya tentunya. Namun secara logika berpikir sederhana, GT tidak ada manfaatnya. Pertama perlakuan pemupukan jelas tidak berguna. Hasil kering super cottonii lebih rendah dari pada cottonii organik. Perendaman memerlukan waktu kerja tambahan dan kerja tidak efisien. Yang lebih penting lagi, kualitas super cottonii bisa menjadi bumerang cottonii Maumere yang sudah terkenal jika hasil test ternyata kadar karaginannya rendah.

GT sudah menjadi obat kuatnya cottonii. Petani melakukan prosesi perendaman bibit cottonii dalam drum dan bak-bak perendaman berisi larutan GT. Setiap pertemuan, saya selalu mendapatkan pertanyaan apakah petani boleh menggunakan GT. Lima kali pertemuan sejak tahun 2006 – 2007, jawaban selalu sama No Green Tonik, Yes Cottonii Organik. Beberapa petani, terutama dari desa Koja Doi sependapat dan melakukan kampanye anti GT. Apalagi setelah mereka melihat suburnya lumut yang tumbuh di lokasi budidaya super cottonii. Satu bukti pencemaran telah terjadi di lokasi tanam.

Sayang, distributor pupuk dan para petani yang ingin mendapatkan keuntungan sesaat tidak dapat dibendung. Para pedagang mendapat insentif dari distributor yang tak kalah gencar berkampanye manfaat GT. Seperti halnya kampanye politik, pencitraan GT berhasil. Super cottonii lebih disukai petani. Lumut yang tumbuh di lokasi tanam dibiarkan dan tak dibersihkan. Suatu saat cottonii akan mati dan lokasi tanam tak menumbuhkan cottonii lagi.

Pengalaman adalah guru terbaik, setelah hampir tiga tahun tidak menghasilkan cottonii, kini Koja Doi dan teluk Maumere bangkit lagi. Cottonii mulai tumbuh dan semua petani berharap mendapatkan manfaat dari budidaya cottonii. Semoga saja teluk Maumere tidak tercemar lagi. No Green Tonik, Yes Cottonii Organik.


Sumber : http://www.jasuda.net/index_mbr.php?page=berita_detail&recordID=415

No Green Tonik, Yes Cottonii Organik

No Green Tonik, Yes Cottonii Organik

Sumber: Boedi SJ (JasuDa Net)


Green Tonik (GT) sempat menjadi polemik dan konflik sosial petani di Kabupaten Sikka. Petani yang mencoba GT, begitu nama bekennya sangat takjub. Pemakaian GT memacu pertumbuhan rumput laut cottonii di kawasan Teluk Maumere. Dalam waktu tiga atau empat minggu, pertumbuhan cottonii dua kali lipat dari pertumbuhan normal. Kecepatan tumbuh dan panen lebih cepat. Petani lebih mendapatkan hasil. Waktu tanam yang biasanya enam sampai tujuh minggu dipersingkat tiga atau empat minggu saja. Luar biasa!


Lima tahun lalu, beberapa petani seperti di Dambila, Permaan telah mulai memakai GT. Setiap pertemuan dan pelatihan petani, GT selalu menjadi bahan diskusi yang berakhir dengan perdebatan. GT seperti yang tertera dalam labelnya adalah pupuk cair (non organic) untuk semua jenis tanaman, mengandung unsur makro: N Total (0,59%), P2O5 (0,57%), K2O (1,570%), SO4 (0.11%), CaO (0,073%), MgO (0,009%) dan unsur mikro : Fe (27,70 ppm), Cu (0,011 ppm), Zn (0,58 ppm), B (0,74 ppm) dan Mo (1.926 ppm). Kehebatan GT waktu itu bisa jadi mirip dengan kasus GT (Gayus Tambunan) saat ini. Setiap hari petani beradu argumentasi dan ngerumpi tentang GT.

Pertama kali memfasilitasi pertemuan dan pelatihan petani tahun 2006, saya lebih banyak mendengar dari petani. Petani yang pro GT menjelaskan kelebihan GT. Pertumbuhan dan panen lebih cepat. Tidak perlu masa tanam empat puluh lima hari sehingga bisa meningkatkan produksi. Pihak yang kontra GT menanggapi sebaliknya. GT merusak mutu cottonii Maumere karena harus panen lebih cepat. Jika tidak dipanen umur dua puluh satu sampai tiga puluh hari, cottonii langsung rontok.

Pengaruh GT menyebabkan cottonii cepat besar. Super cottonii, begitu mereka memberi nama. Sayang, super cottonii harus dipanen sebelum waktunya karena mudah rontok. Jika tidak cepat panen, petani tidak mendapatkan hasil karena cepat rontok. Beda dengan cottonii organik yang tidak memakai GT dan tumbuh alami memerlukan waktu empat puluh lima hari untuk mendapatkan besar yang sama dengan super cottonii. Namun cottonii organik tidak cepat rontok. Yang lebih penting lagi kadar karaginan (tepung rumput laut) sudah terbentuk optimal.

Hanawi, petani yang menjadi guru saya dalam budidaya cottonii menjelaskan hasil pengujian sederhana. Dia pernah minta super cottonii 10 kg dari petani yang menggunakan GT, kemudian dikeringkan dan dibandingkan hasilnya dengan cottonii organik. Perbandingan berat kering dan basah super cottonii rasionya lebih kecil. Sampel 10 kg super cottonii basah menghasilkan kurang dari 1 kg super cottonii kering sedangkan cottonii organik dengan perlakuan yang sama bisa mendapatkan hasil kering lebih dari 1 kg. Kurang lebihnya ada beda sekitar 0.5 kg. Meskipun tak ada catatan, saya percaya pada Hanawi. Dia juga menjelaskan, cottonii organik yang kering lebih ulet dan tidak getas dibandingkan super cottonii.
Saya mendapatkan titik terang dan mengambil kesimpulan pada akhir pertemuan untuk tidak menggunakan GT. Pasti kualitas cottonii kering yang menggunakan GT tidak sebaik cottonii organik. Kadar karaginan yang terkandung dalam super cottonii pasti rendah karena harus panen sebelum waktunya. Sayang waktu itu tidak mendapatkan pupuk GT dan sampel super cottonii kering. Hanawi sudah mencoba mencarikan sebotol GT dari toko dan petani yang memakai GT. Sepertinya mereka menutup diri dan main sembunyi karena khawatir kalau hasil testnya negative.

Pengujian dan laboratory test harus dilakukan. Perlu waktu dan biaya tentunya. Namun secara logika berpikir sederhana, GT tidak ada manfaatnya. Pertama perlakuan pemupukan jelas tidak berguna. Hasil kering super cottonii lebih rendah dari pada cottonii organik. Perendaman memerlukan waktu kerja tambahan dan kerja tidak efisien. Yang lebih penting lagi, kualitas super cottonii bisa menjadi bumerang cottonii Maumere yang sudah terkenal jika hasil test ternyata kadar karaginannya rendah.

GT sudah menjadi obat kuatnya cottonii. Petani melakukan prosesi perendaman bibit cottonii dalam drum dan bak-bak perendaman berisi larutan GT. Setiap pertemuan, saya selalu mendapatkan pertanyaan apakah petani boleh menggunakan GT. Lima kali pertemuan sejak tahun 2006 – 2007, jawaban selalu sama No Green Tonik, Yes Cottonii Organik. Beberapa petani, terutama dari desa Koja Doi sependapat dan melakukan kampanye anti GT. Apalagi setelah mereka melihat suburnya lumut yang tumbuh di lokasi budidaya super cottonii. Satu bukti pencemaran telah terjadi di lokasi tanam.

Sayang, distributor pupuk dan para petani yang ingin mendapatkan keuntungan sesaat tidak dapat dibendung. Para pedagang mendapat insentif dari distributor yang tak kalah gencar berkampanye manfaat GT. Seperti halnya kampanye politik, pencitraan GT berhasil. Super cottonii lebih disukai petani. Lumut yang tumbuh di lokasi tanam dibiarkan dan tak dibersihkan. Suatu saat cottonii akan mati dan lokasi tanam tak menumbuhkan cottonii lagi.

Pengalaman adalah guru terbaik, setelah hampir tiga tahun tidak menghasilkan cottonii, kini Koja Doi dan teluk Maumere bangkit lagi. Cottonii mulai tumbuh dan semua petani berharap mendapatkan manfaat dari budidaya cottonii. Semoga saja teluk Maumere tidak tercemar lagi. No Green Tonik, Yes Cottonii Organik.


Sumber : http://www.jasuda.net/index_mbr.php?page=berita_detail&recordID=415