HUKUM 10 RIBU JAM

Apa persamaan yang dimiliki para pemain kelas dunia,baik pemain musik, pencipta lagu, penulis, bahkan pelaku kriminal? Hukum 10 Ribu Jam!

Angka ajaib 10 Ribu jam adalah rata-rata waktu yang dihabiskan untuk berlatih dalam pencapaian kelas dunia. Banyak buku yang mempopulerkan Hukum 10 Ribu Jam, namun istilah itu pertama kali dikemukakan oleh Anders Ericsson, seorang psikolog yang meneliti keberhasilan para pemain biola di Berlin Academy of Music. 

Dia menemukan bahwa para pemain biola yang penampilannya terbaik berlatih paling banyak dibanding kelompok terbaik kedua , dan seterusnya kelompok kedua berlatih lebih banyak daripada yang terendah.  

Mozart, diperkirakan, pada usianya yang ke-6 telah berlatih musik selama 3500 jam dibawah bimbingan ayah kandungnya. Demikian pula pecatur prodigy Bobby Fischer berlatih keras selama 9 tahun sebelum meraih level grandmaster di usia 17.

Sepuluh ribu jam sama dengan berlatih 3 jam sehari selama 10 tahun. Waktu yang nampaknya cukup lama, oleh karena itu langkah pertama sangat penting: temukan apa yang anak/anda sukai.

TIKUS KOTA DAN TIKUS DESA (AESOP FABEL)

Pada suatu hari seekor tikus kota pergi mengunjungi sepupunya di desa. Tikus desa kasar namun ia mencintai sepupu kotanya dan  menyambutnya dengan hangat. Ia menawarkan kacang, daging, keju dan  roti. Hanya itu yang dimilikinya namun ia menyajikannya dengan tulus.

Tikus kota berkata, “Aku tak mengerti, bagaimana kau bisa hidup seperti ini, dengan makanan sederhana ini. Tentu saja kau tidak dapat mengharapkan yang lebih baik di desa. Ikutlah dengan ku ke kota dan akan kutunjukkan padamu bagaimana menjalani hidup. Seminggu saja kau tinggal di kota, kau akan heran bagaimana kau bisa bertahan hidup di desa selama ini.”

Tak lama kemudian kedua tikus berangkat ke kota. Mereka pun tiba di rumah tikus kota malam itu. “Kau pasti ingin makan dan minum setelah perjalanan panjang tadi, “ kata tikus kota. Ia mengajak tikus desa ke sebuah ruang makan besar. Di sana ada sisa-sisa makanan pesta dan kedua tikus segera makan dengan lahap. Tiba-tiba terdengar geraman dan gonggongan.

“Apa itu?” tanya tikus desa ketakutan.

“Oh, itu hanya anjing-anjing di rumah ini.”

“Hanya?” kata tikus desa, “Aku tak suka makan malam diiringi musik,”

Pada saat itu pintu terbuka dan masuklah dua ekor anjing besar. Kedua tikus pun lari.

“Selamat tinggal, sepupuku,” kata tikus desa

“Kau baru tiba, sudah mau pergi?” jawab tikus kota.

“Ya,” kata tikus desa, “Lebih baik makan roti dan kacang dengan tenang daripada makan kue yang mewah tapi selalu ketakutan.”