Petani yang Serakah (Cerita Rakyat Turki)


Dahulu kala hiduplah seorang petani. Ia selalu ingin mendapatkan banyak uang. Pada musim semi, ia berseru kepada Tuhan, “Jika hari cerah, aku akan menuai gandum.” 
Pada hari berikutnya, matahari bersinar dengan cerah, sang petani pun menuai sebagian gandumnya.

Setelah itu ia berseru kepada Tuhan lagi, “Seandainya hari ini hujan, pasti baik untuk gandumku.” Esok harinya turun hujan.

Petani itu berkata, ”Jika hujannya lebih lebat, gandumku pasti lebih cepat tumbuh.” Pada hari berikutnya hujan kembali turun.

Musim panas tiba, ia memanen gandumnya dan menumpuknya menjadi satu. Petani berkata, “Tuhan, seandainya Kau memberiku lebih banyak hujan lagi, panenku pasti jauh lebih besar.” 

“Mengapa Engkau tidak memberiku lebih banyak hujan sehingga aku mendapat lebih banyak gandum?” tambahnya dengan kesal.

Tuhan kemudian menurunkan hujan yang sangat lebat sehingga seluruh gandum sang petani hanyut terbawa air.

Monyet dan Buaya (Cerita Rakyat India)


Dahulu kala  hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.


Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian  sungai dan beristirahat di bawah pohon.  Sang monyet yang ramah menyapanya, “Halo.” 


“Halo,” jawab buaya. “Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.”


“Aku tidak tahu dimana ada ikan  Namun aku mempunyai  banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!” kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.


Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Ia suka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya. 


Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat.  Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.


Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan  keluarganya.”Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu.”


Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes. 


“Suamiku,” kata isteri buaya, “ajaklah monyet kemari untuk makan malam.  Lalu kita makan dia. Pasti dagungnya lezat dan manis.”


Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, “Monyet satu-satunya temanku, “ katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.


Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. “Suamiku,” katanya, “Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh.”

Buaya kebingungan, di satu sisi monyet adalah sahabatnya yang baik hati. Namun di sisi lain, bila isterinya tidak memakan jantung monyet, mungkin ia akan meninggal.
Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa monyet kepada isterinya untuk dijadikan obat.


“Teman,” kata buaya kepada monyet.  “Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.Ikutlah denganku ke rumah kami.” 

Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun ia berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. “Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir,” kata buaya. 


Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.


Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,”Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya.”


Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. “Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya.”


 Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan segera naik ke dahan pohon. 


“Temanku yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini lagi.”   

Monyet pun membalikkan badannya, tak mau lagi melihat sang buaya.


Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi. 


Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya.

Gambar: http://www.downloadcheapapp.com/appimg2/66692/monkey-and-the-crocodile-screenshot-4.jpg

Pertanyaan-pertanyaan Seputar Kematian Osama bin Laden

Tewasnya Osama bin Laden (OBL), pada Minggu (1/5) kemarin, menyisakan sejumlah pertanyaan. Russ Baker, jurnalis investigatif AS, menyusun pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut.

Apakah OBL sengaja ditembak? Bukankah semua orang yang ada di rumah itu sedang tidur pada pukul 1:00 dini hari waktu setempat.

Mengapa sejumlah kecil orang yang ada di rumah tidak disingkirkan dengan teknologi gas atau setrum?

Bagaimanakah kebijakan AS tentang cara menangani istilah “hidup atau mati”?

Mengapa mereka (pejabat-pejabat AS) pertama-tama memberitahu kita bahwa OBL “menolak” menyerah dan karenanya harus ditembak mati? Tentu saja SEAL dan para komandan mereka tahu apa yang terjadi pada saat itu—dan juga mengomunikasikan sebelum Obama berpidato. Lantas, bagaimana ceritanya bisa kacau seperti ini?

Mengapa pejabat-pejabat AS awalnya memberitahu kita bahwa OBL menggunakan wanita sebagai “perisai manusia” ketika itu ternyata tidak benar?

Mengapakah dia harus dilemparkan ke laut? Mengapa mereka tidak mengatakan saja bahwa OBL dikuburkan di dalam tanah, sesuai hukum Islam, di lokasi yang dirahasiakan—sehingga tubuhnya bisa digali sewaktu-waktu demi kepentingan forensik tambahan yang dianggap perlu di kemudian hari?

Bagaimana dengan timing-nya? Datang pada malam Minggu, di penghujung pernikahan kerajaan (William-Kate), tak lama setelah sejumlah peristiwa media lainnya (seperti rilis akte kelahiran Obama), semua waktunya sesuai dengan timing peluncuran kampanye pemilihan kembali Obama?

Dapatkah mereka yang dulu kritis kepada Bush menerapkan standar dan skeptisisme yang sama kepada Obama, atau adakah kini segalanya menjadi partisan dan mementingkan diri sendiri?

Apakah kita, setelah semua kebohongan selama bertahun-tahun ini, tiba-tiba menerima apa pun yang pemerintah AS katakan sebagai kebenaran?

Sumber: shvoong.com