Payudara Dewi Persik Tembus Pandang

Dewi Persik (Depe) kembali bikin sensasi. Kali ini, foto Depe menggunakan kain tipis yang basah sehingga payudaranya terlihat jelas tersebar.

Foto-foto sensual yang beredar di dunia maya itu sebenarnya salah satu adegan di film Pacar Hantu Perawan. Di salah satu foto, mantan istri Saipul Jamil itu melakukan adegan mandi. Selain itu, ada juga foto Depe menggunakan baju tipis dengan pakaian dalam terlihat jelas.

Film Pacar Hantu Perawan adalah film yang dibintangi Depe bersama bintang porno asal Norwegia, Vicky Vette dan model seksi asal Filipina, Misa Campo. Film ini harusnya dirilis tanggal 7 Juli 2011 lalu. Namun, dengan alasan menjelang bulan puasa, film yang diproduseri KK Dheeraj itu ditunda penayangannya hingga lebaran usai.

Bagi Depe, ini bukanlah pertama kali foto syurnya tersebar. Sebelumnya, foto-foto topless janda Aldi Taher itu pernah tersebar di dunia maya. Foto yang diakui Depe itu diambil saat menjalani syuting video klip di studio Ahmad Dhani di kawasan Pondok Indah.

Sedangkan bagi sang produser, KK Dheeraj, ini juga bukan pertama kali film produksinya menuai sensasi terkait foto syur. Sebelumnya, foto-foto adegan mandi Aida Saskia di film Pelukan Janda Hantu Gerondong beredar luas di internet.

Laga Premier Harry Potter Terakhir, Emma Watson Menangis

Penayangan premier serial film Harry Potter terakhir, Harry Potter And The Deathly Hallows-Part 2, dibanjiri fans yang tak sabar menanti bintang idolanya beraksi di karpet merah.

Terlihat Emma Watson (21) tampil glamour di premier yang digelar di Trafalgar Square, London, Inggris, dalam balutan gaun abu-abu menjuntai hingga lantai yang membuatnya bak putri di negeri dongeng. Tapi senyumnya tidak berlangsung lama karena saat tersebut adalah momen terakhir dia berdiri di karpet merah untuk mempromosikan film Harry Potter And The Deathly Hallows-Part 2.

Aktris berambut pendek tersebut mengenang Daniel Radcliffe dan Rupert Grint sebagai lawan mainnya, serta berterima kasih kepada ribuan penggemar yang telah menyempatkan hadir.

Saat giliran Rupert berbicara, Emma tidak mampu menahan airmata. Dia menangis haru. Kemudian produser David Heyman menaruh kepala Emma di bahunya. Demikian dikutip Dailymail, Sabtu (9/7/2011).

David Heyman memeluk Emma dan memberinya sebuah ciuman kasih sayang di kening, membuktikan betapa dekat para pemain dan anggota kru.

Sebelum adegan yang emosional itu, pemeran Harry Potter Daniel Radcliffe necis berdiri di karpet merah mengenakan jas abu-abu. Dia tampak kewalahan menghadapi respons ribuan penggemar.

"Saya tidak berpikir akhir cerita terjadi malam ini karena setiap orang dan setiap yang akan melihat film ini akan membawa cerita ini dengan mereka melalui sisa hidupnya. Sebuah ucapan terima kasih untuk kalian semua karena memberikan saya pekerjaan, dan Jo yang memberi saya pekerjaan," ujar Daniel.

"Setiap kesempatan yang saya dapatkan. Saya sangat beruntung memulai pekerjaan (akting) saat berusia 11 tahun," imbuhnya.

Rupert Grint juga tak kalah emosional. Dia berterima kasih kepada penulis Harry Potter JK Rowling.

"Sulit untuk benar-benar percaya semua ini berakhir. Ini sangat luar biasa," kata Rupert.(ang)

Memberikan Pujian Kepada Anak



Semua orang senang dipuji. Bagi anak-anak, pujian merupakan kunci menuju emosi yang sehat. Pujian juga merupakan motivator yang sangat baik agar anak berusaha lebih keras dan tidak mudah menyerah. Pujian yang tepat juga membuat anak nyaman dengan dirinya sendiri,  meningkatkan kepercayaan dan harga diri anak-anak.

Jika anda secara konsisten memberikan pujian kepada anak, lambat laun anak akan meningkatkan perilaku mereka. Perhatian yang positif akan membuat anak merasa diperhatikan dan dicintai.

Walaupun pujian mempunyai dampak yang positif bagi anak-anak, memberikan terlalu banyak pujian justru akan memberikan dampak yang negatif. Penelitian menunjukkan bahwa memuji anak atas kecerdasannya akan membuat anak kurang termotivasi di sekolah karena anak menganggap segala sesuatu mudah dipelajari. Pada saat mereka menghadapi sesuatu yang sulit dipelajari, mereka mungkin akan kewalahan dan menyerah, atau memilih mempelajari hal-hal yang lebih mudah mereka pelajari.

Lebih jauh mengenai memberikan pujian kepada anak-anak:
  • Anak-anak berusia tujuh tahun ke atas sangat peka terhadap pujian yang tidak tulus. Jika mereka banyak menerima pujian yang tidak tulus, mereka cenderung tidak percaya kepada pujian baik yang tulus maupun yang tidak. Lakukan kontak mata dengan anak anda ketika anda memberikan pujian sehingga mereka dapat melihat ekspresi anda dan melihat bahwa anda tulus dengan pujian yang anda berikan.
  • Anak-anak yang terlalu banyak dipuji atau hanya dipuji karena kecerdasannya cenderung berbohong mengenai nilai-nilai pelajaran mereka di sekolah atau menyontek dan berbuat curang untuk memperoleh nilai yang bagus untuk menjaga citra mereka sebagai anak yang pintar.
  • Memuji anak atas usaha yang mereka lakukan, dan bukan atas kecerdasan mereka membuat mereka lebih termotivasi belajar, bahkan mendorong mereka mempelajari hal-hal yang lebih sulit. Jika anak anda mempelajari sesuatu yang baru, usahakan jangan memuji dengan mengatakan, “Pintar!” Sebaliknya bila ia mempelajari sesuatu yang terlalu mudah, anda dapat mengatakan, “Wah, ini terlalu mudah untukmu, jadi  kurang asyik. Ayo kita cari sesuatu yang lebih menyenangkan!”


Pujian Efektif
Anda  juga dapat memberikan pujian yang efektif kepada anak-anak. Pujian efektif lebih kuat daripada pujian biasa, seperti “Bagus!” atau “Hebat!” dan mendorong anak untuk melakukan tindakan-tindakan positif. Pujian efektif ini mencakup tiga langkah:
  1. Menunjukkan persetujuanLangkah pertama meliputi kata-kata dan tindakan yang mununjukkan bahwa anda puas atau senang dengan perilaku anak. Mengatakan “Hebat!” sambil mengacungkan jempol atau memeluk anak anda akan menambah kegembiraan pada saat itu.  Anda menunjukkan betapa senangnya anda dengan apa yang dilakukan anak. Pada gilirannya, anak anda menjadi lebih puas dengan dirinya sendiri.
  2. Menjelaskan tindakan yang positif. Langkah ini memastikan anak memahami tindakan apa yang pantas mendapat pujian anda. Berikan pujian pada apa yang anda lihat atau dengar. Ini akan memotivasi anak mengulangi tindakan yang sama. Misalnya, “Terima kasih ya, kamu tadi membantu mama menyapu teras.” Komentar yang singkat dan langsung akan lebih mudah dimengerti.
  3. Memberikan alasan kepada anak untuk melakukan tindakan yang positif.
    Langkah ketiga meliputi hubungan tindakan anak  dengan konsekuensi atau hasil yang diperolehnya.
    Misalnya: “Bila kamu mengerjakan PR sepulang sekolah, kamu punya lebih banyak waktu main di luar.” atau “Bila nanti kamu pulang tepat waktu, mama lebih percaya kepadamu dan lain kali mama akan ijinkan kamu untuk pergi lagi”

Sumber:

Cerita Sedih Tentang Ayah - Cerita cerita Sedih

Cerita Sedih Tentang Ayah - Cerita cerita Sedih - sajian berikut ini memang sengaja kami berikan untuk anda semua untuk sekedar belajar melihat lebih jelas lagi kehidupan sebenarnya di dunia yang penuh sandiwara ini.

Cerita Sedih :

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..
Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan
keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya
momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia
bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak
dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak
mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk
memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke
kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
'Horeee, Iya bisa terbang'. Begitulah dia
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak
jarang berteriak, 'Iya sayaaang,' jika sudah
terdengar suara 'Prang'. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat
dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya
terpental. Dan dia cuma bilang 'Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma?'

18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi
jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.
'Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain
bola!' tapi aku tidak suka dia menangis terus minta
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku
bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang
sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola
itu. 'Horee, Iya jadi pemain bola.'

17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak
akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak
tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku
tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola
sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan 'Iyaaaa'. Sebuah
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah
konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata
'Coba kalau kamu tak belikan ia bola!'

15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya
mulai banyak dibe! ntak. Aku hanya bisa membelainya. Dan
bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk
mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan
dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia
memang pergi ke Malaysia .

13 tahun yang lalu,
Setahun sejak keper! gian Kania, keuangan rumahku sedikit
membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar
kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk
SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa
melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan
pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku
miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku
harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup
tegar.

10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.
Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu
sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
'Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.' Mungkin
itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar
dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
'Sabar ya, Nak!' hiburku.
'Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak
diganggu!' pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku
maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah
semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak
pernah menunjukkan
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di
bangku SMP.!

7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku,
kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar
kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika
aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang
membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi
TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini
yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai
habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah
itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha
kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak
kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku
baik-baik saja.

4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga
tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di
rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan
laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan
sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu
adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah
ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu
hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa
salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat
tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti
setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin
untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih
pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian
pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia
diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis,
aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin
membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta
bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari
maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku
hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia
memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.
Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai
balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis
sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya
tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
Wahai Allah kuatkan aku.

Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia .
Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya.
Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku
masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

'Bapak, Iya Takut!' aku memeluknya lebih erat
lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
'Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?'
'Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya
tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia
jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan
, Pak!' Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib
anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa
apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku
dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,
tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di
Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita
itu.

2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan
hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah
datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass'
Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.
Setelah yakin suda! h mati, jenazah anakku diturunkan
mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air
mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
'Kania?'
'Mas Har, kau ... !'
'Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!'
'Iya? Dia..dia . Iya?' serunya getir menunjuk
jenazah anakku.
'Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola
jika sudah besar.'
'Tidak ... tidaaak ... ' Kania berlari ke arah
jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit
histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia
diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya 'Terima kasih
Mama.' Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah
tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku.
Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir
kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan
di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang
mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, 'Iya
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.' Kamu tahu Kania,
kali ini yang pecah adalah hatiku.

Sumber : TRUE STORY