Beginilah Bagian Belakang Patung Presiden Amerika di Rushmount








@Surgaberita - Pasti kalian sudah tahu patung pahatan presiden-presiden di amerika yang sangat indah dan sangat bersejarah, Tempat itu juag menjadi salah satu tempat wisata favorit di amerika.


Anda mungkin sudah biasa melihatnya dari depan, tapi Bagaimana tampaknya dari belakang
Yuk, Check it out :





Ariel Bebas, Boyband Tewas!



@Surgaberita- Ariel Peterpan baru akan menghirup udara segar 3 minggu lagi, namun berbagai tanggapan sudah muncul di masyarakat. Salah satu tanggapan yang paling menarik adalah besarnya harapan publik musik Indonesia agar hadirnya Ariel dapat mengangkat kualitas musik Indonesia saat ini.

Setahun terakhir panggung musik Indonesia lebih banyak didominasi oleh gelombang boyband maupun girlband yang sebagian besar terinspirasi dengan Kpop. Dengan konsep grup vokal dipadu wajah yang menarik hati, mereka begitu merajai industri musik Indonesia.

Sebagian memuja mereka, sebagian lagi menyayangkan fenomena ini. Mereka dianggap terlalu mudah muncul ke permukaan tanpa persiapan yang cukup. Maka tak salah bila banyak penggemar musik Indonesia berharap kembalinya Ariel akan mampu 'memukul mundur' generasi boyband dan girlband.

"ariel bebas boyband tewas," tulis pengguna Twitter @IrvanElnino. Komentar senada juga diungkapkan oleh member sebuah forum di internet. "semoga dengan bebasnya ariel, band2 alay tergusur!"

Tak hanya itu, beberapa pembaca berita KapanLagi.com® pun menyempatkan diri untuk menuliskan pendapatnya di kolom komentar. Sebagian besar menyatakan ketidaksabarannya menunggu hari kebebasan sang idola, sebagian lainnya juga mengaitkan kebebasan Ariel dengan dominasi boyband.

"Tak lama lagi kiamat industri musik Indonesia akan berakhir. Ayo Ariel, pukul mundur para boyband! Ini Indonesia, bukan Korea!" tulis pembaca KapanLagi.com®.

Ariel sendiri mengaku tidak tahu banyak tentang perkembangan musik di Indonesia selama ia berada di dalam penjara. "Tidak terlalu. Ya yang saya lihat banyak hal yang sedang dilalui oleh industri musik Indonesia, dan semua itu seperti proses pendewasaan," ujar Ariel melalui labelnya, Musica.

Sangat menarik untuk ditunggu apa yang akan disuguhkan Ariel bersama Peterpan nanti. Mampukah Ariel mengulang masa kejayaannya? Mari kita tunggu bersama.

Sumber : Kapanlagi.com

Beginilah Jadinya jika Baru Belajar naik Harley Davidson tapi udah sombong

@SurgaBerita - Buat anak-anak muda yang suka bergaya di motor. Nih contoh orang yang suka bergaya di motor dan akibatnya. Udah gayanya keren ! Tapi lihat aja nih Akibatnya.
Beginilah Jadinya jika Baru Belajar naik Harley Davidson tapi udah sombong , Check it out :




Tag : Beginilah Jadinya jika Baru Belajar naik Harley Davidson tapi udah sombong

10 Penampakan Aneh di Google Earth




@SurgaBerita - Sejak pertama kali kemunculannya, Google Earth termasuk aplikasi web populer. Banyak orang kemudian penasaran menemukan berbagai penampakan aneh di layanan peta berbasis satelit ini.

Memang banyak ditemukan pemandangan unik di Google Earth. Beberapa belum terjelaskan, beberapa lagi akhirnya diketahui penjelasannya.

1. Badlands Guardians


Dijuluki sebagai Badlands Guardian oleh para penduduk lokal, penampakan alam di Alberta, Kanada ini memang terlihat mengagumkan. Jika dilihat seksama, wujudnya mirip dengan seorang manusia tampak dari samping memakai topi ala suku Indian. Satu lagi, ia terlihat memakai earphone di telinganya.

2. Kelinci raksasa


Di wilayah Prata Nevoso, Italia, terlihat dari udara penampakan kelinci raksasa berwarna merah jambu. Tentunya bukan kelinci hidup. Benda aneh ini ternyata dibangun oleh sekelompok seniman dari Vienna.

3. Crop Circles


Barangkali ini adalah salah satu crop circles paling menarik di Google Earth. Letaknya di Nevada, Amerika Serikat. Tidak dijelaskan siapa pembuatnya dan apa tujuannya. Ada banyak memang crop circles yang tertangkap Google Earth.

4. Oprah raksasa


Seorang petani di Arizona, Amerika Serikat, tampaknya kagum berat dengan pembawa acara tenar Oprah Winfrey. Dia membuat gambar sangat mirip Oprah raksasa di tanah pertaniannya. Niat banget ya?

5. Parkir di tembok


Sebuah pemandangan aneh terlihat di Westenbergstraat, Belanda. Terlihat sebuah mobil tampak parkir di sisi sebuah gedung melawan gaya  gravitasi bumi. Kekurangan lahan parkir?

6. Perang dunia lagi?


Pemandangan pesawat terbang sedang mengangkasa sering tertangkap di Google Earth. Namun satu ini cukup unik karena yang  terjepret adalah pesawat yang digunakan dalam perang dunia ke 2. Pesawat ini melayang di Huntingdon, Inggris. Mau perang lagikah?


7. Kapal oleng


Kapal besar yang berada di Basrah, Irak ini terlihat tidak sebagaimana mestinya. Entah kenapa si kapal posisinya miring seperti itu. Mungkin karena terhantam badai atau sebab lainnya.

8. Pesawat jet parkir


Beberapa pemandangan di Google Earth memang susah dijelaskan. Seperti bagaimana pesawat jet tempur ini kelihatannya diparkir di sebuah perumahan di kota Paris?

9. 'Kuburan' pesawat


Begitu banyak pesawat diparkir di satu tempat yang tertangkap kamera Google Earth ini. Belakangan diketahui tempat yang berlokasi di Arizona ini adalah tempat untuk mengumpulkan pesawat usang yang sudah tidak lagi terpakai.

10. Pangkalan militer rahasia


Sebuah konstruksi aneh ditemukan di gurun pasir di China. Awalnya banyak orang bertanya-tanya apakah sebenarnya konstruksi berukuran raksasa ini. Namun kemudian, ditemukan ada pesawat jet parkir di sana sehingga kemungkinan ini adalah pangkalan militer rahasia China.
(sumber:Detikinet)
Tag : 10 Penampakan Aneh di Google Earth

Letusan Supervolcano Toba Musnahkan Sebagian Besar Manusia Purba

Supervolcano Toba telah meletus eksplosif beberapa kali selama 1,2 juta tahun terakhir. Sejauh yang terbesar dan paling merusak ini terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu. Setidaknya 2.800 kilometer kubik material vulkanik dikeluarkan selama letusan super, jauh lebih dahsyat dari letusan gunung Krakatau dan Pinatubo.


Letusan Gunung Toba yang melontarkan jutaan metrik ton debu volkanik, sulfur, dan partikel-partikel lain ke atmosfir pada 74 ribu tahun yang lalu disebut-sebut menyebabkan penggelapan langit, penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia.



Perbandingan Letusan Gunung Toba dan Gunung Lainnya

Ternyata, dari penelitian terbaru, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba lebih ringan dan reda relatif lebih cepat dibanding perkiraan yang dibuat oleh pada arkeolog dan klimatolog sebelumnya. Manusia yang mengalami bencana letusan Toba itu diperkirakan berhasil melewatinya dengan selamat.


Penurunan Suhu Glabal Akibat Abu Vulkanik

Meski dari sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa letusan Toba yang kini meninggalkan danau volkanik terbesar di dunia itu menggelapkan dan membekukan dunia, menggunakan data letusan gunung Pinatubo, Filipina tahun 1991, Stephen Self, volkanologis dari Open University, Milton Keynes, Inggris dan Michael Rampino, paleobiologis dari New York University, menyatakan bahwa efek pendinginan suhu akibat letusan Toba hanya mencapai 3 sampai 5 derajat saja.

Letusan gunung berapi Pinatubo di Filipina ini termasuk letusan terbesar di abad 20 dengan skala 6 VEI.

Berdasarkan data yang didapat dari situs arkeologi di India, tim antropolog University of Oxford, Inggris, yang dipimpin oleh Michael Petraglia menyebutkan bahwa manusia yang tinggal tidak jauh dari zona letusan justru malah berhasil melewati bencana tersebut dengan mudah.

Untuk mencari titik terang, tim peneliti yang dipimpin oleh Claudia Timmreck, dari Max-Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman membuat pemodelan yang mampu menggambarkan lebih realistis (meski metode ini juga memiliki beberapa kekurangan) apa yang terjadi saat Toba meletus.

 
Peneliti fokus ke bagaimana partikel sulfate aerosol yang terbentuk di stratosfir akibat letusan sulfur dioksida yang mengandung gas mendinginkan atmosfir dengan cara memantulkan sinar matahari. Dari data yang didapat, dan disesuaikan dengan asumsi yang sudah dibuat sebelumnya, diketahui bahwa Toba mengirimkan sekitar 850 juta metrik ton sulfur ke atmosfir. Angka ini 100 kali lebih banyak dibanding setoran gunung Pinatubo ke atmosfir. Dari simulasi juga diketahui bahwa dampak Toba memang hanya menurunkan suhu sebanyak 3 sampai 5 derajat Celcius di seluruh dunia. Akan tetapi, konsentrasi sulfur tidaklah padat dan segera hilang dari stratosfir selama 2 sampai 3 tahun saja. Perubahan temperatur secara ekstrim yang terjadi di Afrika dan India hanya berlangsung selama 1 sampai 2 tahun. Di kawasan ini, di tahun pertama suhu turun 10 derajat dan 5 derajat di tahun kedua.


Penggalian Timbunan Abu Vulkanik Toba di India Sedalam 6 Meter

Menurut Timmreck, seperti dikutip dari ScienceMag, 25 November 2010, Toba juga tidak memusnahkan flora dan fauna. Namun Timmreck mengakui, kehidupan di masa-masa tersebut memang sulit.

Michael Petraglia berpendapat, Toba memang bukanlah penyebab utama anjloknya jumlah populasi manusia di era tersebut. Akan tetapi Toba membuat situasi menjadi makin parah. Langkah selanjutnya, kata Petraglia, peneliti masih harus melanjutkan hasil temuan simulasi tersebut dengan observasi langsung di kawasan sekitar Toba untuk mengetahui secara lebih akurat dampak lingkungan yang terjadi. 


Sumber : VivaNews

Sensasi Makan Dilayani Para Ninja

Restoran Jepang di Tribeca, New York, menjadikan ninja sebagai pelayan dilestorannya. Pelayanan unik mengundang decak kagum pengunjungnya. Menu-menu masakan Jepang yang disajikan dalam restoran ini berpadu dengan pelayanan ekstra oleh ninja-ninja terampil. 
 
 
Pengunjung dibuat takjub dengan atraksi pelayan restoran yang bergaya ala ninja itu. Bukan hanya dari segi kostum, pelayan juga menghidangkan makanan dengan trik kobaran api. Pengunjung dibuat kaget ketika tiba-tiba ninja tergantung di langi-langit mengeluarkan pedang sambil memberikan makanan yang dipesan.
Tak hanya di situ, jika memesan sup, ninja ini akan langsung memasak di atas meja pengunjung. Mereka akan mencincang daun bawang dengan terampil, dan memasak dengan suhu 800 Celsius langsung di meja.
 
 
Juru kamera yang memotret aksi tersebut, Jay, mengatakan restoran ini telah membuat gebrakan di bidang kuliner New York. "Jika Anda masuk ke lift yang gelap, anda akan disambut dua orang dengan pakaian ninja disamping anda. Mereka akan menyapa ‘Hallo’, tapi pasti anda akan berkeriak karena kaget,” ujar dia seperti dikutip Daily Mail. 

Jay benar-benar memunji keunikan restoran ini. "Ketika saya mengambil foto, ada seorang wanita yang benar-benar terkejut ketika seorang ninja menggantung dari langit-langit tiba-tiba menunjukkan pedangnya, itu sangat lucu," ungkap Jay.


Sumber : Autoblogsaya

Wanita Ini Dilarang Tertidur, Karena Tidur Dapat Membunuhnya

Emma Chell menderita congenital central hypoventilation syndrome (CCHS)
Saat mengantuk, naik kereta atau menonton film yang membosankan bisa saja membuat orang tertidur tanpa sengaja. Tapi hal ini tidak boleh terjadi pada Emma Chell, karena ketiduran bisa membunuhnya.

Emma adalah satu satu dari 200 orang di dunia yang menderita congenital central hypoventilation syndrome (CCHS). Sindrom langka ini membuat Emma berhenti bernapas setiap kali tertidur, yang berarti tertidur bisa kapan saja membunuhnya.

Congenital central hypoventilation syndrome (CCHS) atau Ondine's curse membuat penderitanya 'lupa' bernapas setiap kali tertidur karena kesalahan dalam refleks saraf yang mengontrol pernapasan.

CCHS bisa merupakan penyakit bawaan sejak lahir atau dikembangkan karena trauma tulang belakang parah, seperti kerusakan pada batang otak, stroke atau komplikasi bedah saraf. Orang dengan CCHS umumnya memerlukan trakeostomi dan ventilasi mekanik untuk bertahan hidup.

Hidup dengan kondisi CCHS membuat Emma tidak boleh tertidur di meja, menginap di rumah teman atau tertidur di kendaraan. Satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan menggunakan masker ventilator khusus yang bisa membantunya untuk bernapas saat tidur.

"Ini menjadi suatu kesadaran sekarang karena saya memiliki kondisi ini seumur hidup. Saya tidak pernah bisa tertidur secara tidak sengaja karena itu bisa membunuh saya. Jika mengantuk di siang hari, saya akan berjalan-jalan dan mencoba menyegarkan diri," jelas Emma Chell (24 tahun), seperti dilansir Dailymail, Jumat (30/9/2011).

Emma mengatakan tidur malam yang baik benar-benar penting baginya dan ia tidak boleh minum alkohol tanpa didampingi ayah dan ibunya, karena mereka takut Emma mabuk dan pingsan.

Emma menghabiskan dua tahun pertama hidupnya di rumah sakit sementara dokter mencoba mencari tahu mengapa ia tiba-tiba berhenti bernapas.

Hanya 1 dari 200.000 anak lahir dengan kondisi CCHS, tetapi hanya sekitar 200 orang di dunia saat ini yang hidup kondisi langka ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Emma adalah salah satu dari 30 penderita CCHS yang ada di Inggris.

"Kehamilan saya sepenuhnya normal sampai saat ia dilahirkan. Dia segera menjadi biru dan dibawa ke unit neo-natal. Pada awalnya, para dokter hanya ingin memantau, tetapi mereka menemukan bahwa setiap kali ia tidur, ia akan berhenti bernapas, kadar oksigennya akan turun dan mereka harus membangunkannya lagi," kenang Carole (51 tahun), ibunda Emma yang tinggal di Cheadle, Staffordshire.

Menurut Carole, tidak ada dokter atau perawat yang pernah melihat kondisi seperti itu sebelumnya. Akhirnya, Prof Peter Fleming, profesor pediatri di Bristol Children's Hospital mendiagnosis Emma dengan salah satu kasus pertama Inggris dari CCHS.

Emma menjalani operasi trakeostomi untuk memasukkan pipa napas ke lehernya, tetapi dokter masih terlalu takut untuk membiarkan dia pulang bersama orangtuanya. Emma harus menunggu hingga berumur 2 tahun hingga dokter memperbolehkannya pulang ke rumah.

Akhirnya, Carole dan suaminya David (56 tahun) dilatih untuk menggunakan mesin ventilasi dan monitor oksigen yang memungkinkan Emma tidur.

Dengan kondisi yang begitu langka, para dokter tidak tahu apa yang akan terjadi atau apakah harapan hidup masih ada. Emma harus menggunakan ventilasi hampir 24 jam sehari sehingga tidak ada cara untuk tak membiarkannya pulang.
Sumber :  Autoblogsaya

Misteri Letusan Supervolcano Gunung Toba

Gunung Toba adalah gunung api raksasa (super volcano) yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.
Letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan maha dahsyat Gunung Toba ini, maka Gunung Tambora tidaklah ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan dengan letusan Gunung Kratakau yang kalah jauh dengan Gunung Tambora.

Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano


Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano
Jadi, misalkan letusan gunung St. Helen di Washington USA yang meletus tahun 1980 mempunyai angka letusan pada skala 1, maka gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 berskala 18, atau 18 kali lebih besar (1:18).


Letusan gunung St. Helen , 8 Mei 1980


Sedangkan jika dibandingkan dengan skala gunung Tambora, letusan gunung St. Helen sangat jauh karena gunung Tambora yang meletus tahun 1815 berskala 80, atau 80 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen (1:80).

Apalagi jika letusan gunung St. Helen dibandingkan dengan letusan gunung Toba yang terakhir, sekitar 74-75 ribu tahun lalu tersebut sangatlah drastis besaran skalanya yaitu 2800, atau 2800 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen! Alias satu banding 2800 (1:2800)
Letusan Gunung Tambora adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah diketahui oleh peradaban manusia (baca artikel: Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika).

Dan letusan Gunung Krakatau adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah tercatat di era zaman modern. Sedangkan letusan Gunung Toba sama sekali tak tercatat di dalam buku, namun terlihat bukti-bukti ilmiahnya dimasa kini.

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung.
Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.

Letusan supervolcano Yellowstone yang terkenal dahsyat masih kalah dengan letusan supervolcano Toba



Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat.
Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan.

Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Perbandingan jarak lontaran batu vulkanik antara letusan gunung Krakatau, Tambora dan Toba


Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran.

Lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun


Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini.

Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu.
Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.
  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.

Terlihat pemandangan kaldera gunung Toba yang kini bernama Danau Toba dan ditengahnya terdapat pulau Samosir yang terbentuk karena adanya gaya up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.



Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama.
Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus.
Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi.
Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.
Toba "Supervolcano" Lake and Samosir Island

Sedangkan nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba ini.
Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan.

Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar (yang sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara).

Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa manusia tidak musnah karena letusan Toba.
Para ilmuwan sangat meyakini bahwa semua supervolcano yang ada di dunia termasuk Gunung Toba pasti akan meletus kembali. Namun tidak ada yang dapat memastikan dengan akurat kapan meletus kembali. Yang ada hanyalah perkiraan.

Letusannya bisa saja terjadi esok hari atau ribuan tahun lagi. Yang jelas suatu saat danau Toba yang tercipta akibat hasil dari letusan gunung Toba pasti akan meletus kembali.


Sumber :  Indocropcircles

Ilmuwan Temukan Cara Tunda Zaman Es Lanjutan

Para ilmuwan berhasil menemukan ‘senjata’ baru yang mampu digunakan menunda zaman es lanjutan di Bumi. Apa itu?

Berdasarkan data sejarah periode interglasial hangat, tim ilmuwan internasional menyatakan, Bumi akan mengalami zaman es lagi pada 1.500 tahun mendatang.
Namun, hal ini bisa ditunda lebih lama lagi menggunakan emisi manusia atau gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO2).

Hamparan Es Kutub Utara
Hamparan Es Kutub Utara


Jika konsentrasi CO2 berada di tingkat ‘alami’ siklus glacial, maka zaman es bisa ditunda. “Saya rasa bukan hal realistis melihat glasiasi dalam waktu dekat,” kata Lawrence Mysak dari McGill University seperti dikutip UPI.


Ada beberapa anggapan, zaman es ini merupakan hal baik namun Luke Skinner dari Cambridge University mengatakan, itu merupakan pendangan jangka pendek.
“Ini menjadi diskusi filosofikal menarik, ‘apakah kita lebih baik dalam hangat atau glasiasi?,’” katanya.

Namun terdapat hal terlewatkan karena saat ini iklim terus memanas dan menambah CO2 pada iklim hangat sangat berbeda dengan menambahnya di iklim dingin, lanjutnya.
“Tingkat perubahan dengan CO2 pada dasarnya belum pernah terjadi sebelumnya dan ada konsekuensi besar jika kita tak mampu mengatasinya,” tutupnya.

SUmber : Inilah.com

Akuarium Tertinggi di Dunia, AquaDom

Ada-ada saja ide seseorang untuk membuat hal yang luar biasa. Anda mungkin pernah masuk ke dalam akuarium raksasa seperti yang ada di Dunia Fantasi, Jakarta, namun, sudah pernahkah anda melihat akuarium yang sangat tinggi bahkan akuarium tertinggi di dunia? Wow!! Bisa dibayangkan bagaimana kita akan melihatnya, mungkin sampai leher kita pegal, hihihihi 
akuarium tertinggi ini dibangun di negara Jerman, tepatnya di kota Berlin. Nama akuarium ini AquaDom, ini bukan cerita aja tetapi kenyataan lho. Tingginya 25 meter, dan dipenuhi dengan ikan-ikan bervariasi, benar-benar indah. Kompleks dibangunnya AquaDom ini (di sekitarnya) ada hotel, restoran, kantor dan kehidupan laut. Benar-benar menarik wisatawan.
 

Luar Biasa ! Ilmuwan Jepang Ciptakan Otak Transparan


Ilmuwan Jepang berhasil menciptakan otak transparan. Dengan menggunakan larutan bernama Sca le, ilmuwan itu megubah otak putih tikus yang semula berwarna keruh menjadi sebening kristal. Otak transparan yang diciptakan bisa membantu ilmuwan melihat penanda fluorescent yang disisipkan pada tikus putih. Medical imaging memasuki era baru dengan penciptaan otak transparan ini.


"Penelitian kami saat ini memang fokus pada otak tikus, namun aplikasinya tak terbatas pada tikus maupun otak," kata Atsushi Miyawaki, peneliti RIKEN Brain Institute Jepang yang menciptakan otak transparan ini. "Kami bisa mengembangkan pemakaian Sca le untuk organ lain seperti jantung, otot dan ginjal serta pada jaringan dari primata dan sampel biopsi manusia," lanjut Miyawaki seperti dikutip National Geographic.

otak
Sca le merupakan larutan yang terbuat dari bahan yang relatif sederhana. Komposisinya adalah urea (senyawa utama pada urin), gliserol (senyawa yang juga terdapat pada sabun) dan deterjen yang disebut Triton X. Untuk membuat otak transparan, organ otak direndam selama 2 minggu dalam larutan ini.

Tak seperti larutan lain yang juga digunakan untuk membantu melihat otak, Sca le tak menghilangkan penanda fluorescent. Selama ini, penanda fluorescent dipakai untuk membantu fluorescent imaging. Teknik fluorescent imaging sendiri digunakan untuk memetakan arsitektur otak, mulai jaringan saraf, pembuluh darah dan struktur lain.

Otak transparan yang diciptakan bisa membantu pemetaan arsitektur otak. Lebih luasnya, organ transparan bisa membantu pencitraan awal sebelum melakukan pencitraan yang lebih mahal seperti CT Scan dan MRI. Aplikasi untuk penanganan penyakit, dokter bisa menganalisa apakah perawatan yang diberikan benar-benar berdampak pada organ target. Ini hal yang belum bisa dilakukan sebelumnya dalam dunia medis.

Meski banyak manfaatnya, larutan Sca le tidak akan digunakan segera secara luas. Miyawaki mengatakan, Sca le saat ini masih terlalu toksik untuk digunakan. "Saat ini kami sedang mencari kandidat reagen lain yang memungkinkan kita mempelajari jaringan hidup dengan cara yang sama dengan transparansi yang lebih rendah," jelas Miyawaki. Penemuan Miyawaki dipublikasikan di Jurnal Nature Neuroscience.