Selamat Jalan Elfa Secioria...

Elfa Secioria merupakan salah satu musisi yang tidak pernah terseret ke dalam arus industri. Sepanjang karirnya, Elfa tetap pada idealismenya menghasilkan karya-karya musik yang berkualitas.

Elfa Secioria Hasbullah lahir di Garut, Jawa Barat pada 20 Februari 1959. Sejak usia 5 tahun, Elfa kecil mulai bermain piano. Bakat Elfa turun dari sang ayah, Hasbullah Ridwan, anggota polisi yang juga aktif sebagai musisi jazz.

Setelah belajar komposisi musik secara formal dan informal, Elfa yang saat itu berusia 19 tahun membentuk vokal grup. Vokal grup itu pun berhasil menjadi jawara di beberapa festival di luar negeri.

Prestasi Elfa semakin melesat pada tahun 80-an. Lewat 'Detik tak Bertepi' yang dinyanyikan Christine Panjaitan, Elfa meraih penghargaan The Best Arranger dan the Best Song di ajang ASEAN Song Festival.

Elfa pun mendirikan sekolah musik Elfa's Music School. Pada 1978, Elfa membentuk Elfa's Singers yang sekarang beranggotakan Agus Wisman, Yana Julio, Lita Zen dan Uci Nurul. Tony Sianipar, Rita Effendy atau bahkan Titi DJ pernah bergabung dengan vokal grup itu.

Sampai saat ini, Elfa's Singers dan Elfa's Music School tetap rutin mengikuti festival-festival musik di luar negeri.

Elfa juga pernah sukses saat berkolaborasi dengan Harvey Malaiholo. Bersama Harvey, ia merilis 'Gempita dalam Nada'. Lagu tersebut juga mengantarkan Harvei meraih The Best Performer di ajang Golden Kite Festival di Malaysia pada 1984.

Setiap penyanyi Indonesia pasti ingin mendapatkan sentuhan dari Elfa. Bunga Citra Lestari pun sempat berlatih vokal dengan Elfa, begitu pun dengan Andien dan banyak lagi.

Pada Sabtu (8/1/2011), dunia musik Indonesia pun berkabung. Bang Eel menghembuskan nafas terakhirnya di usianya yang ke-51.

Selamat jalan Elfa Secioria, kami akan terus mengenang karya-karyamu. (detik)

Elfa Secioria Meninggal Dunia

Satu lagi dunia musik telah kehilangan sang maestro Elfa Secioria, beliau sangat berjasa dalam mengembangkan musik Indonesia. Elfa Secioria yang akrab disapa Bang Eel ini menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (8/1/2011) pukul lima sore tadi.

Beliau wafat saat berada di Rumah Sakit Pertamina, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Jenazah rencananya akan langsung dibawa ke rumah duka di Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat.

Ucapan bela sungkawa terlihat menghiasi laman Twitter, seperti Sherina Munaf yang merasa ikut terpukul dengan kepergian mentornya itu. Sherina menulis:”Telah meninggal guru, mentor, musisi jenius, inspirator, om Elfa Secioria. Too shocked. Words fail me”.

Juga ada komposer Addie MS, yang turut kehilangan sosok yang dia sebut Bang Eel sebagai musisi besar.

Di akun Twitternya, Addie menulis "Kita kehilangan musisi besar...Elfa Secioria... Semoga Elfa menemukan 'musik' yang lebih indah di sisi Allah. Selamat jalan, sahabat.

Selain Sherina dan Addie MS, ada juga artis lainnya seperti Tompi, Titi Sjuman, Glenn Fredly juga ratusan orang lainnya turut memberikan ungkapan duka citanya melalui situs tersebut. (okezone)

Ide Bisnis | Bisnis Pannerie Violin Made In Bogor

Bogor tak hanya dikenal sebagai kota hujan. Bogor juga dikenal sebagai pusat kerajinan tangan (handycraft). Banyak produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis kerajinan dihasilkan di kota  tales ini.
Dampak tekanan krisis finansial yang melanda dunia bukan hanya dialami oleh para pelaku usaha skala besar, namun juga dialami oleh pelaku UMKM termasuk sektor mikro kerajinan tangan di Kota Bogor.

Sebut saja Irpansah, salah satu perajin pembuat biola asal Bogor mengaku beberapa bulan terakhir permintaan produksi biolanya mengalami sepi order. Meski tidak terkait langsung, ia memperkirakan para pemesan biola ciptaanya mulai mengerem permintaanya karena mengutamakan kebutuhan prioritas.

Selama ini Irpan banyak mendapat pesanan dari berbagai individu peminat alat musik zaman Barok ini dan beberapa lembaga pendidikan musik termasuk sekolah-sekolah. Peminat biolanya pun sudah menyebar ke berbagai pelosok Indonesia seperti Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

"Sekarang ini memang permintaan turun, terutama permintaan dari pembeli massal, yah sekarang hanya meladeni pembeli perorangan saja," kata Irpan kepada detikFinance.

Namun ia tetap optimistis permintaan terhadap biola akan tetap ada, karena ia meyakini daya tarik alat musik satu ini akan selalu menghanyutkan hati para peminatnya, paling tidak sebagai koleksi atau souvenir.

"Sebentar lagi ada showroom musik yang sudah melakukan penjajakan permintaan massal biola, saya harap bisa segera jalan," harapnya.

Dengan dibantu oleh beberapa karyawannya, ia berhasil menciptakan beberapa biola dengan segala ukuran mulai dari 1/4, 1/2, 3/4, dan 4/4/ (standar). Hasil produksinya pun terbilang lumayan, per bulannya ia berhasil memproduksi belasan bahkan puluhan unit biola.

Semua biola yang ia buat adalah biola buatan tangan (handmade), sentuhan mesin hanyalah pada bagian awal pembentukan pola sedangkan proses dan finishing semuanya menggunakan tangan kreatif Irpan.

Selama 3 bulan terakhir ini, produksi dan penjualannya relatif sepi, ia hanya mampu memproduksi dan mejual dibawah 10 unit per bulan, kondisi ini sangat jauh dari bulan-bulan sebelumnya, dimana ia mampu menjajakan biolanya hingga puluhan unit.

"Bulan-bulan ini pemesanan masih bisa dihitung dengan jari," keluhnya.

Selain mengalami sepi order, usahanya mengalami permodalan yang minim, terlebih lagi untuk modal kerja. Tak jarang Irpan kesulitan modal kerja pada saat-saat terjadi permintaan massal. Maklum biasanya para pemesan hanya memberikan uang muka relatif kecil dibandingkan dengan harga jualnya. 

Untuk itu, ia mengharapkan adanya investor atau uluran tangan dari pemerintah untuk bisa menyuntikan modal bagi usahanya yang terbilang langka dan unik ini.

Berambisi Jadi Stradivarius Ala Indonesia

Irpan panggilan akrab Irpansah memulai usaha kerajinan biola sejak tahun 2002 lalu, sebagai seorang tamatan SMA, mencari pekerjaan sedemikian sulit baginya. Akhirnya ia memutuskan berjualan kaki lima, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mustapa yang juga pengusaha kerajinan UMKM.

Irpan dipercaya menjadi asisten usaha kerajinan tangan alat-alat musik di Bogor termasuk membuat biola. Dalam perkembangan selanjutnya ia memutuskan untuk memilih banting setir dengan membuat bendera sendiri dan mengembangkan usaha kerajinan biola di desanya.

Melalui bengkel sederhana di rumahnya di kawasan kaki Gunung Salak Bogor, ia mulai membuat terobosan dengan membuat biola-biola berkualitas dengan kayu-kayu pilihan, semua biola buatannya diberi nama Pannerie Violin.

Walhasil biola ciptaannya mulai banyak dilirik orang, mulai dari teman, sampai turis asing pun sempat membeli beberapa biola buatannya. Biola yang ia buat pun bervariatif baik dari sisi warna, model, ukuran dan bentuk-bentuk unik yang biasa sebagai pesanan khusus.

"Pada pameran beberapa waktu lalu, sempat ada turis asing asal Australia yang memborong biola buatan saya, akhirnya biola saya "diekspor" juga tuh," selorohnya dengan bangga.

Sosok pembuat biola legenda Antonio Stradivarius asal Italia, begitu melekat bagi Irpan. Sampai-sampai semua referensi soal empunya pembuat biola ini ia kumpulkan sebagai sarana menambah wawasan.

Belakangan ini, Ia juga sedang mengembangkan pembuatan celo (biola bass besar) yang juga bagian dari keluarga musik gesek Eropa. Walhasil, melalui perantara temannya, ia berhasil menarik salah satu kelompok personil musik DEBU untuk memesan celo buatannya.

"Personel debu itu pesan celo kecil buat hadiah ulang tahun anaknya," ujar Irpan.

Irpan mengatakan, yang terpenting adalah kepuasan dirinya sebagai seorang perajin kecil dan seorang pemuda desa di kaki Gunung Salak, yang hasil karyanya telah dibeli dan dihargai orang banyak.

Pernah suatu hari, Irpan menceritakan betapa sayangnya, ia melepas biola kesayangannya untuk dijual oleh seorang pembeli di sebuah pameran karena ia menggangap biola itu buatan pertamanya dan menjadi master karyanya. Bahkan ia juga mengaku belum pede menjual karyanya ke orang lain.

"Pertama kali saya buat biola, ada pembeli menawar dan akhirnya saya jual, saat itu perasaan saya merasa sayang sekaligus nggak pede untuk menjualnya, akhirnya saya jual juga," kenangnya.

Maklum, selama ini para pembuat biola di Indonesia jumlahnya relatif sangat sedikit dan masih bisa dihitung dengan jari dan umumnya mereka otodidak tanpa pendidikan khusus, padahal alat musik yang satu ini terbilang sulit untuk membuatnya. Tak heran kampus-kampus di Eropa dan AS membuka kelas khusus atau fakultas dengan program studi khusus membuat biola dengan biaya mahal.

"Biola alat musik yang sukar dibuat butuh ketekunan untuk membuat biola bersuara indah, saya sebagai pemuda desa sangat senang biola saya dihargai orang," katanya.

Selain memproduksi biola, Irpan dan beberapa karyawannya melayani berbagai perbaikan alat musik khususnya alat musik gesek biola yang rusak.

Ngomong-ngomong soal harga, harga biola buatan Irpan berkisar antara Rp 800.000 sampai Rp 2 juta (khusus untuk jenis celo). Sampai sekarang ia belum memiliki showroom khusus untuk biola buatannya, namun ia berencana akan membuka gerai di pusat perbelanjaan UMKM di Tanah Abang.

"Saya lebih berpromosi pada ajang pameran seperti Inacraft, SME'sCo dan dari mulut ke mulut," jelasnya.

Berminat mendapatkan biola Irpan? Silakan menghubungi
Irpansah
Jl Raya Gunung Salak Endah
Kampung Babakan RT 02/02
Desa Gunung Bunder 1
Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Rumahan Celana Jins

Juki (29) mengeluarkan puluhan celana jins dari kardus. Dengan cekatan, satu persatu celana dimasukan pada selongsong ban dalam yang sudah diisi angin. Jins pun mengembang dan tangan Juki menyambutnya dengan memberi pewarna merah.

"Ini untuk aksesoris celana jins biar warna-warni. Saya dapat upah Rp 500/celana," kata Juki disalah satu bengkel pewarna jins di daerah Sukabumi Selatan, Jakarta Barat.

Setelah diwarnai menggunakan kuas secara manual, celana itu dicuci melalui beberapa tahap. Sesudahnya, celana jins itu siap dipasarkan usai dikeringkan dan dipak ke dalam kardus.

"Lumayan. Nggak pernah seret orderan. Selalu ada saja," imbuh Juki ketika disinggung dampak krisis ekonomi terhadap permintaan pengerjaannya.

Meski demikian, order setelah krisis memang menurun signifikan. Bila sebelumnya dapat membawa pulang Rp 200.000/hari/orang, kini hanya separuhnya. Hal itu disebabkan upah per potong celana diturunkan dari Rp 700/celana menjadi Rp 500/celana.

"Yang penting nggak sampai di PHK. Tetap kerja," kata Juki.

Di kawasan Sukabumi Selatan, terdapat sedikitnya 48 usaha serupa. Jenis usaha industri rumahan seperti ini kerapkali kebal dihantam krisis ekonomi global. Sebab, modal yag dipergunakan tidaklah sebombastis industri besar.

"Kita ngandelin duit yang ada saja. Jadi nggak bergantung sama pihak lain," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Londry Sukabumi Selatan, Rozali.

Saat kiris sepuluh tahun lalu, banyak industri garmen berskala besar gulung tikar. Tetapi tidak demikian dengan industri rumahan di kawasan tersebut.Kuncinya, selain modal sendiri, pangsa pasar celana tersebut dari pinggir jalan sampai di mal dan pasar modern lainnya.

"Harus kreatif. Kalau nggak begitu kita sudah bubar dari dulu-dulu," tukas Rozali.




Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Sablon Saat Pesta Demokrasi

Saiful (48) tampak sibuk dengan alat sablon presnya. Ia membuka payung berwarna putih, lalu menaruhnya diatas alat sablon pres.

Diletakkannya gambar partai dan foto caleg sang pemesan lalu dijepit diantara alat sablon untuk beberapa detik. Tampak asap keluar dari sentuhan logam panas alat sablon dengan kain berbahan parasit untuk payung. Lalu jadilah sebuah payung cantik bergambar lambang partai dan foto sang caleg.

"Masih ada enam ribu lagi di belakang yang belum disablon Mas",ujar Saiful kepada detikcom sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Hari ini Saiful memang sedang sibuk karena kebanjiran order. Salah satu partai politik memesan sepuluh ribu payung untuk kampanye di Irian Jaya.

Order tersebut dia terima lima hari yang lalu, tapi pesanan payung baru dia terima tadi pagi. Padahal dua hari lagi sang empunya payung datang untuk mengambil pesanan.

Tak jauh dari kios Saiful, di suatu lorong sempit tampak lelaki muda sedang asyik dengan alat bordirnya. Toni (20) sedang menyelesaikan order 500 topi bordir berlambang partai. Ia dibantu 2 orang temannya hari ini baru saja menerima order lumayan dari salah seorang tim sukses.

Di tempat lain tampak para pesuruh mengangkut karung-karung berisi kaos milik partai besar. Tidak kurang dari sepuluh karung besar diangkut oleh para pekerja dari tempat parkir menuju kios majikannya di lantai 2.

Di kios belakang juga tampak kesibukan yang tidak jauh berbeda. Nurdin begitu sibuknya dengan kaos yang ia sablon lambang partai politik.

Begitulah kesibukan yang terekam saat kita mengunjungi Pasar Senen di Jakarta Pusat. Di lantai dua pasar itu memang terkenal sebagai pusat penjualan atribut partai politik. Sudah bisa ditebak jika menjelang pemilu seperti ini merupakan berkah bagi para penggelut bisnis musiman seperti ini.

Menurut Saiful order mulai rame sejak Januari tahun ini. Karena sejak sebulan ini kiosnya sibuk mengerjakan pesanan mulai dari kaos, payung, topi, rompi dan sebagainya.

"Sejak sebulan sudah mulai ramai. Ada yang pesan topi, kaos, payung.  Macem-macem dah", ujarnya.

Hal serupa juga dialami Pak Sobari, salah satu pemilik kios yang kebanjiran order. "Alhamdulillah, sudah ramai lagi Mas. Maklum mau pemilu, jadi banyak yang pesan", ujar dia.

Dari pengakuan para pemilik kios, setiap kali menjelang pemilu order yang mereka terima sangat banyak. Bahkan tak jarang mereka harus melempar order ke tempat lain karena sudah penuh. Namun ketika ditanya soal kenaikan omzet yang mereka dapat menjelang pesta akbar ini mereka tidak mau mengatakan.

"Pokoknya lumayan Mas. Kita syukuri saja. Alhamdulillah", ujar Sobari.

Dari pengakuan Saiful untuk sebuah payung dirinya menjual dengan harga Rp 35 ribu. Tapi jika pesanan di atas 200, harga bisa turun menjadi 34 ribu. Sedangkan untuk pesanan yang saat ini ia terima sebanyak 10 ribu sablon payung, harganya menjadi Rp 28 ribu satu payung. Untuk kaos harga terendah Rp 20 ribu.




Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Kue Keranjang

Perayaan Imlek dengan kue keranjang tak pernah terlewatkan. Kue keranjang bukan cuma sekedar kue tapi juga persembahan untuk Dewa Dapur yang turun dari langit pada saat tahun baru China.

Bagi banyak keturunan Tionghoa, nama kue keranjang mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga. Kue bulat ini bercita rasa manis diharapkan bisa memberikan dorongan kepada Dewa, agar laporan yang dibawanya ke langit yang baik-baik saja.

Menurut kepercayaan orang-orang Tionghoa kue keranjang digunakan untuk persembahan Dewa Dapur yang turun dari langit pada saat tahun baru, bertugas melaporkan hal baik dan buruk selama tutup buku pergantian tahun.

Dalam perkembangannya, kue ini sudah menjadi ajang untuk bersilahrurahmi atau menjaga hubungan dengan saling mengirim kue keranjang menjelang perayaan Imlek kepada sanak saudara maupun rekanan bisnis.

Meski hanya ramai menjelang Imlek, bisnis kue keranjang tak pernah lekang. Sebut saja Siti Lauw atau Ouw Thio Nio atau yang biasa disapa Nyonya Lauw mengawali bisnis pembuatan kue keranjang sejak tahun 1962 lalu.

Tidak ada yang menyangka kalau bisnis kue keranjangnya tetap langgeng dan bertahan di lidah para pelanggannya hingga sekarang.

"Saya pun tidak sengaja, dengan memulai membuat dodol hanya 4 liter per hari pada waktu itu, lalu berkembang membuat kue keranjang sampai sekarang, permintaannya pun terus bertambah," kata Lauw saat ditemui detikFinance, di kediamannya yang juga menjadi pabrik kuenya, di Tangerang, Banten.

Diakuinya, bisnis kue keranjang adalah bisnis musiman saja, yang permintaanya sangat tinggi menjelang Imlek. Meskipun hanya musiman keuntungannya luar biasa. Ia menyiasati produksinya pada hari di luar Imlek dengan membuat aneka dodol berbagai cita rasa.

"Orang-orang sudan banyak pesan sebelum 1 bulan perayaan Imlek, sekarang ini puncak permintaannya," jelasnya.

Saat ditanya apa yang menjadi kunci suksesnya, ia hanya mengatakan bahwa untuk tidak ditinggalkan pelanggan. Lauw tetap mempertahankan proses pembuatan kue keranjang secara tradisional mulai dari penumbukan tepung ketan, pengayakan, pengadonan, pencampuran gula dan adonan, sampai proses masak yang menggunakan kayu bakar dan pengepakan yang masih menggunakan pelepah daun pisang masih ia pertahankan hingga sekarang. "Kue keranjang bisa dikukus sampai berjam-jam sampai 12 jam, kita pertahankan," katanya.

Tak heran setiap tahunnya ia bisa memanen rezeki dari kue keranjang dengan omset hingga puluhan bahkan ratusan juta menjelang imlek. Namun pendapatan sebesar itu ia harus bagi-bagikan kepada 100 lebih karyawan dadakannya yang umumnya ibu-ibu disekitar kediamannya.

"Para pekerja disini sudah turun temurun, dulu saya pakai ibunya, sekarang saya pakai anaknya," ujarnya dengan polos.

Sebagai perbandingan saja, pada hari biasa ia hanya memproduksi dodol yang hanya dibuat tidak lebih dari 30 liter per hari yang biasa dipesan untuk pesta kawinan dan lainnya. Sedangkan untuk kue keranjang ia buat jika ada pesanan saja. Untuk tahun baru imlek kali ia mengakui pesanan kue keranjang terus meningkat, bahkan ia memperkirakan bahan baku tepung yang gunakan bisa mencapai 20 ton.

Kue keranjang buatannya tidak hanya diminati dikawasan Tangerang dan Jakarta saja, namun sudah merambah ke kota lainnya seperti Bandung, Karawang dan Bekasi. Bahkan permintaan diluar kota-kota tadi cukup tinggi, namun ia mengaku cukup kewalahan meladeninya. "Umumnya, yang beli itu orang jauh-jauh, kalau sekitar sini jarang yah," selorohnya.

Harga kue keranjang yang ia jual cukup kompetitif yaitu berkisar Rp 17.000 per kilonya (dua buah potong) sedangkan untuk jenis dodol dengan rasa santan dijual Rp 29.000 per kilo, dodol dengan cita rasa duren dihargai Rp 35.000 per kilo sedangkan rasa wijen Rp 34.000 per kilo.

Lauw yang kini berusia 84 tahun, telah menyerahkan semua urusan usaha kue dodol dan keranjangnya pada anak-anaknya yang sudah memasuki generasi ketiga, mulai dari produksi pemasaran, pengiriman dan pengembangan usaha dan lain-lain. "Yah saya hanya tinggal lihat-lihat saja," ujar dengan terbata-bata.

Umar Sanjaya salah satu putra tertuanya mengakui bisnis kue tradisional termasuk dodol dan keranjang cukup berprospek. Namun selama ini pihaknya terkendala oleh standarisasi mutu dan pengembangan kualitas terutama bagaimana mempertahankan usia kue basah bisa bertahan lama.

"Sampai saat ini kita belum terpikir untuk ekspor, karena kue semacam ini daya tahannya tidak lama, memang permintaan selalu ada," jelasnya.

Umar menambahkan meski sekarang ini terjadi krisis, permintaan kue keranjang justru meningkat bahkan setiap tahun ia mencatat tren permintaannya terus naik. Ia pun tidak tahu pasti apa penyebab kenaikan permintaan ini.

"Saya pikir nggak pengaruh yah, karena ini termasuk dalam kebutuhan tradisi," imbuhnya.

Perajian Kue Keranjang dan Dodol Nyonya Lauw beralamat di:
JL Lio Baru/Bouraq Gang SPG No 55 RT 01/02 Kampung Sirnagalih, Karangsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten Telepon : 021-5524587 dan 021-71095035.

Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Kulit Hewan

Usia senja bukanlah hambatan untuk memulai usaha. Setelah malang melintang menjadi orang gajian selama berpuluh-puluh tahun, Darwansyah Tanjung menemukan usaha pengolahan kulit hewan yang ternyata untungnya tidak sesenja usianya.

Pria asal Cimahi menemukan pilihan hidupnya sebagai pengusaha setelah diusia 50-an tahun. Dirinya kini menjadi perajin pengolah kulit hewan seperti ular, biawak, kerbau, buaya, sapi yang diolah menjadi berbagai macam aneka produk menarik.

Berawal dari hanya sebatas menjual produk-produk jaket non kulit, kemudian berkembang menjadi perusahaan pembuat produk aneka kulit seperti jaket, sepatu, topi, tas, ikat pinggang kulit yang cukup diperhitungkan di pasar dalam negeri maupun pasar ekspor.

"Tidak ada kata terlambat, usaha itu kayak air yah, dari bermula ada yang menanyakan barang jaket kulit, lalu saya sediakan, sampai sekarang berlanjut," jelasnya.

Mau tau rahasianya? Menurutnya syarat menjadi seorang pengusaha ada dua yaitu berani mencoba dan berani mencoba lagi. Modal uang baginya adalah nomor dua, kepercayaan diri bagi seorang pengusaha mutlak tertanam.

"Yang penting pede, berani coba. Saya ini mantan karyawan PT DI (Dirgantara Indonesia), awalnya nggak ngerti soal menyoal kulit, tapi saya mau menyoba," ujarnya.

Memulai usahanya sejak 5 tahun lalu, Darwansyah hanya bermodalkan uang kurang dari Rp 20 juta dari kantong sendiri. Lambat laun modalnya berputar kencang sehingga uang miliaran rupiah pun selalu mampir di kantungnya setiap tahun. Selama kurun waktu itu juga ia telah menyebar produk kulitnya ke berbagai negara tujuan ekspor seperti Malaysia, Australia, Amerika dan Prancis.

Mantan pegawai Mercedez Bens ini juga sempat belajar membuat produk kulit dari temannya. Rupanya bekal bekerja di PT DI di bagian direktorat teknologi (design) membuat dirinya mudah menguasai teknik membuat produk kulit.

Untuk bahan baku kulit, ia dengan mudah mendapatkan pasokannya baik dari teman maupun langganan di beberapa tempat di Sumatera. Harga bahan bakunya pun bervariasi misalnya untuk kulit ular sanca bisa diperolehnya dengan harga Rp 300.000 per meter. Dari sekian jenis kulit, harga kulit buaya lah yang paling mahal, yaitu menembus angka Rp 200.000 per inci.

Darwansyah dengan bangga mengatakan, dimasa awal usahanya ia langsung dapat orderan untuk 600 potong jaket kulit TNI, ini tidak terlepas dari jasa temannya yang menawarkan orderan.

Walaupun sudah tenar dimana-mana, ia mengakui memasarkan produk kulit berbasis ekspor dengan merek sendiri, selama ini tidak mudah. Umumnya para pembeli (buyer) asing menginginkan label asing dan meminta pencantuman negara tujuan ekspor bukan Indonesia. Meskipun saat ini ia memiliki merek sendiri yang diberinama Dong Jung.

"Mereka (pembeli asing) inginnya merek mereka yang dipakai, saya sanggupi karena apa boleh buat kita butuh uang," pungkasnya.

Produk yang dijualnya umumnya relatif menempati produk kelas atas, setidaknya dapat dilihat dari harga satu pasang sepatu kulitnya bisa mencapai US$ 500 per pasang, atau harga termurah mulai dari Rp 600.000 sampai Rp 5 juta. "Yang terakhir mereka pesan 1000 sampai 2000 pasang sepatu, tapi mungkin karena krisis ditunda," ujarnya.

Bicara keuntungan dari bisnis ini, cukup menjanjikan, pasalnya setiap produk yang dibuat, ia mampu mengantongi margin bersih 30% sampai 100%.

"Karena harga produk kulit asli itu gelap, berapa pun harganya orang akan beli, kalau dia suka," ungkapnya.

Ia mampu membukukan penjualan Rp 200 juta per bulannya, atau menembus miliaran rupiah per tahun. Namun sayangnya dengan jumlah produksi yang terbatas itu, ia masih keteteran untuk meladeni permintaan produk kulit khususnya sepatu.

"Sekarang ada pesanan dari Jakarta minta stand di Pasar Raya Grande ukuran 40 sampai 60 meter, tapi saya belum sanggupi," ucapnya.

Terinspirasi dengan usaha Darwansyah, bisa hubungi:
DONG JUNG (Darwansyah Tanjung)
Alamat: Jl. Kompleks Nata Endah Blok N 12, Cihanjuang Cimahi Jawa Barat.


Sumber : detik.com

Ide Bisnis | Bisnis Warung Komby Yang Unik

Krisis ekonomi kerap membikin takut seseorang untuk memulai bisnis. Namun dua lelaku muda ini nekat membuka usaha di saat ekonomi sedang muram.

Kenekatan keduanya membuahkan hasil, meski baru seumur jagung Warung Komby kini diminati banyak pelanggan.

Bukti Warung Komby disukai terlihat dari seratus orang lebih memenuhi duapuluh empat meja beralaskan tikar di depan bengkel Auto Fit di kawasan Kalimalang. Mereka bukan menunggu mobil diperbaiki tapi mereka sedang menikmati makanan yang mereka pesan.

Apa rahasinya si Warung Komby mulai banyak penggemar? Ternyata si pemilik memberikan sesuatu yang unik mengkolaborasikan modern dan tradisional. Rasa makanan yang enak, harga terjangkau dan ada fasilitas internet gratis.

Pukul 17.00-23.30 WIB adalah waktunya halaman bengkel yang biasa digunakan untuk memperbaiki mobil  disulap menjadi rumah makan bernama Warung Komby.

Warung Komby merupakan rumah makan yang baru dibuka 10 Januari 2009. Usaha ini didirikan oleh Yosep bersama dengan sahabatnya Martin. Nama Warung Komby pun merupakan kepanjangan dari Warung KOlaborasi Martin Bareng Yosep.

Memulai usaha di kala krisis merupakan pilihan berani yang dilakukan dua pria ini. Apalagi modal yang dikeluarkannya tak sedikit yaitu sebesar Rp 200 juta.

"Kami berpikir kalau krisis ini tidak boleh membuat kita takut. Peluang selalu ada, selama kita mau mencari sesuatu yang unik dan baru," ujar Yosep saat berbincang dengan detikFinance.

Ternyata keputusan yang diambil keduanya tidak salah. Meskipun terhitung baru, tidak sampai tiga bulan omsetnya hampir mencapai Rp 5 juta per hari, bahkan diakhir pekan omsetnya bisa dua kali lipatnya.

Hal ini berkat konsep unik yang mereka pilih yaitu mengkolaborasikan modern dan tradisional. Kolaborasi ini ditunjukan dengan pembeli boleh mengambil makan secara prasmanan, setelahnya mereka makan dengan lesehan di atas meja beralaskan tikar, piring yang digunakanpun terbuat dari anyaman rotan.

Begitupun dengan menu-menu makanan yang disajikan di sebuah mobil VW Komby ini sangat bervariasi mulai dari tempe, tahu, udang, cumi, paru, usus, ati ampela, daging ayam sampai  bebek yang bisa dipenyet, di goreng, di bakar atau kremes tergantung selera.

Minuman tradisional juga menghiasi daftar menu Warung seluas 20X40 meter ini. Mulai dari wedang jahe dingin, teh merah, teh jowo dan teh gila, soda gembira, es kopi tumpuk, wedang uwuh serta Cocosod (Cocopandan Soda). Dari segi harga, tidak akan menguras kantong mulai dari Rp  1.500-15.000

"Makanan yang paling laris disini  bebek bakar madu dan udang kremes. Kalau untuk minuman wedang jahe dan wedang wong," tutur Yosep.

Harga boleh murah, tapi kalau soal rasa jangan ditanya. Teguh salah seorang pelanggan Warung Komby mengakui kelezatan masakan di tempat ini.

"Disini makan nasi sama tempe saja sudah enak," kata Teguh yang mengaku hampir setiap pekan datang mengunjungi tempat ini.

Bagi Yosep dan Martin pelanggan merupakan aset mereka yang harus dilayani dengan baik. "Our costumer is the king. Bahkan kami menerima usulan, saran dan kritik dari pelanggan dan berusaha terus memperbaiki pelayan kami  sebab menurut kami, mereka adalah aset kami," ungkapnya.

Fasilitas lain bisa diperoleh pengunjung yaitu pelanggan bisa menggunakan Wi Fi secara gratis, sambil menikmati live music. Pada malam minggu, Yosep dan Martin membagi-bagikan mainan tradisional seperti layangan dan klotokan kepada anak-anak yang datang bersama orang tuanya.

"Dan bagi pengunjung di hari Senin hingga Jumat, mereka diberikan diskon hingga 20 persen," ungkap Yosep seraya berpromosi.

Saat ditanya kendala apa yang dihadapi saat menjalani bisnis barunya, sambil tersenyum Yosep menyebut faktor cuaca menjadi satu-satu kendala baginya. 

"Cuma satu musuhnya yaitu hujan. Kalau gerimis ya bubar, maklum kan ini tidak beratap hehehe," jawabnya sambil terkekeh.

Warung Komby
Jalan Raya Kalimalang Blok E No. 34 A, Jakarta Timur.
Buka setiap hari pukul 17.00-23.30 Wib.



Sumber : detik.com